April 28, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 9 - 1


Kim Chang Jib di kirim untuk misi ke Dinasti Qing tahun 1712 dan kembali pada tahun 1717. Kepulangannya disambut oleh pejabat Negara seperti Lee Gun Myung, Jo Tae Chae dan Lee Yi Myung. Dari semuanya, terlihat Heo Baek Ki disana dan dia terlihat tak senang pada kepulangan Kim Chang Jib. 




Setelah turun dari tandu, Kim Chang Jib memberikan penghormatan pertamanya kearah istana. Kemudian, Yi Myung dan kawan-kawan menghampirinya. Mereka memegang tangan Chang Jib dan mengucapkan rasa senangnya karena Chang Jib sudah kembali. 


Heo Baek Ki membisikkan sesuatu pada anak buahnya dan kemudian pergi dari tempat itu. Dan ternyata di belakang Baek Ki, ada In Jwa bersama Dam Seo dan Moo Myung. Mereka juga melihat kepulangan Chang Jib. 


“Macan tua datang sendiri ke liang lahatnya,” ucap In Jwa pada kedua muridnya.


Di dalam istana Kim Chang Jib memberikan penghormatannya pada Raja Sukjong dan juga Putra Mahkota Yoon. Melihat Chang Jib, Raja tertawa kecil dan berkomentar kalau Chang Jib terlihat semakin tua.


‘Sudah berapa tahun?”

“Enam tahun, Yang Mulia,” jawab Chang Jib dan Raja mempersilahkan Chang Jib untuk memilih sendiri tempat yang ingin dia tempati. Chang Jib kemudian berdiri di bagian pejabat Negara yang mendukung Pangeran Yeoning. Yo Myung dan pejabat lain langsung berterima kasih pada Chang Jib karena memilih kubu mereka. Di kubu yang mendukung Putra Mahkota ada Jo Il Soo dan dia terlihat tak senang melihat Chang Jib berdiri di sana. 


Tiba-tiba Putra Makhota batuk dan mengeluarkan darah. Semua orang melihat ke arahnya, kecuali Pangeran Yeoning. 


Di kamar, Putra Mahkota langsung meminum obatnya. Il Soo dan pejabat lain ingin menjenguk Putra Mahkota, tapi tak diperbolehkan dayang yang berjaga di depan kamar Putra Mahkota, karena memang itu adalah permintaan Putra Mahkota sendiri. 

“Apa ada orang diluar?” tanya Putra Mahkota Yoon dari dalam kamar dan tak lama kemudian In Jwa datang menghadap padanya. 


“Saat ibuku diasingkan, kau bagaikan sebuah gunung. Aku pikir kau akan bisa menyelamatkanku, karena itu kuraih uluran tanganmu,” ucap Putra Mahkota dan In Jwa jadi bertanya apa sekarang Putra Mahkota tidak percaya lagi padanya. 

Mendengar pertanyaan In Jwa, Putra Mahkota teringat kembali dengan pertanyaan Pangeran Yeoning tentang siapa In Jwa, “Apa tujuan dan ambisinya? Kau tahu betapa dalam kekuasaannya di kerajaan? Kau tahu semua itu?”


Putra Mahkota mengaku kalau dia berkata seperti itu bukan karena dia tidak percaya, tapi untuk memastikan. In Jwa mengingatkan kembali apa yang pernah dia katakana dulu, kalau yang sebenarnya dia inginkan hanyalah hati Putra Mahkota. 

“Kau mengendalikan para menteri dan keuangan di rumah judi. Tapi kau bilang hanya ingin melindungiku tanpa pamrih. Apa aku harus percaya? Tak usah kau tutupi lagi,” ungkap Putra Mahkota.


“Aku ingin takhta. Aku membutuhkan penguasa. Takhta yang bebas dari kepentingan golongan ataupun 4 kelas social. Anda harus duduk di takhta itu dan menjadi penguasa yang membawa kedamaian di Joseon.”

“Jadi pada akhirnya kau ingin duduk di singgasana?”

“Pangeran, aku ingin anda menjadi raja hebat yang namanya di kenang dalam sejarah.”


“Apa itu benar?” tanya Putra Mahkota lagi ingin memastikan dan In Jwa menjawab dengan anggukan. Putra Mahkota Yoon pun tersenyum puas dengan jawaban In Jwa, namun tiba-tiba dia batuk lagi dan mengeluarkan darah. Melihat itu, In Jwa bergegas mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Putra Mahkota. 

“Dibawahku ada para menteri yang bagaikan mancan. Diatasku ada ayah yang 100 kali lebih menakutkan dari macan. Sulit sekali untuk bernafas,” aku Putra Mahkota Yoon dan menahan batuknya. Melihat Putra Mahkota seperti itu, ekspresi In Jwa terlihat khawatir. 


Putra Mahkota keluar kamar dan didepan kamarnya ada pedang tertancap. Mengetahui hal itu, Chang Jib bertanya-tanya pembunuh edan seperti apa yang memberikan pemberitahuan seperti itu. Chang Jib sendiri sekarang sedang melakukan rapat bersama mentri dari fraksinya. Yi Myung berkata kalau fraksi Soron sepertinya akan mulai bergerak karena Chang Jib sudah kembali. Namun Chang Jib menebak kalau pemberitahuan itu bukan ulah dari fraksi Soron.


Chang Jib teringat kembali saat dia baru sampai di depan istana. Saat itu dia melihat In Jwa ada disana.

“Sepertinya ada tikus di istana ini,” ucap Chang Jib dan yang lain terlihat kaget.


Che Gun mengangkat pedangnya dan berniat membunuh Raja. Mengetahui hal tersebut, Dae Gil bertanya, “Apa yang akan terjadi kalau aku menghentikanmu?” dan Che Gun menjawab salah satu diantara mereka akan mati. 

“Jadi, guru akan membunuh jaga? Guru akan menjadi pengkhianat?” 

“Seperti halnya dirimu, aku juga punya alasan. Minggir. Entah jadi pembunuh ataupun pengkhianat, aku tetaplah gurumu,” jawab Che Gun dan menyuruh Dae Gil untuk tak menunggunya karena dia akan pulang malam. 


Setelah Che Gun pergi, Dae Gil langsung mencari sesuatu yang bisa di jadikan cara menghentikan niat sang guru. Di dalam sebuah peti kecil, Jung Gi menemukan denah istana. Setelah melihat denah istana, Dae Gil membuka kembali selebaran yang bertuliskan kalau Che Gun adalah seorang buronan.

“Aku tak ingin kehilangan lagi, orang yang penting bagiku. Akan kuselamatkan. Guru akan kuselamatkan,” ucap Dae Gil dalam hati sambil berlari kencang mengejar sang guru.


Dam Seo menghadap In Jwa dan mengatakan kalau dia sudah siap untuk membunuh Raja. Sebelum Dam Seo pergi, In Jwa memberinya saran untuk memanfaatkan kegaduhan karena ancaman pembunuhan itu. 

“Pasti akan ada celah dalam usaha melindungi Raja. Dam Seo, kau tinggal memanfaatkan celah itu,” ucap In Jwa dan Dam Seo mengerti. “Berhubung kau sudah menarik pedang… jangan mundur lagi.”


Di luar, Moo Myung memberitahu Dam Seo untuk tidak melakukan semuanya secara gegabah, dia harus melakukan sesuai latihan mereka selama ini. Dam Seo mengerti dan pergi.

“Dasar, aku tak paham jalan pikiran tuan sama sekali. Moo Myung-a, apa kau paham?” tanya Jin Ki saat melihat Dam Seo pergi. 

“Jika seseorang menginginkan sesuatu… dia harus melepaskan sesuatu yang lain sebagai gantinya. Meski itu rasa sakit dari tulang yang patah,” ucap In Jwa menjawab pertanyaan Jin Ki.


Chang Jib menemui In Jwa di rumahnya. Saat ditanya apa alasan Chang Jib datang, dia hanya menjawab kalau ada bau aneh di rumah In Jwa.

“Sudah sejak kapan?” tanya Chang Jib

“Apa maksud anda?” tanya In Jwa pura-pura tak mengerti dan Chang Jib memperjelas pertanyaannya, dia bertanya sejak kapan In Jwa bersembunyi di belakang Putra Mahkota dan mengendalikan fraksi Soron. In Jwa menjawab tidak tahu dan bertanya apa Chang Jib ingin menangkap dirinya. 

“Kau pikir aku tak sanggup menangkap ikan kecil?”

“Bagaimana anda tahu aku ini ikan kecil atau pelayan monster tua?”

“Kau tidak sadar ladangmu itu tanah berbatu dank au terus berladang disana.”

“Sudah bertahun-tahun lading itu kurawat. Aku tanami benih dan kusiram. Sekarang, saatnya aku panen,” jawab In Jwa dan Chang Jib akan menunggu sejauh mana In Jwa bertindak, karena In Jwa tak punya koneksi keluarga ataupun jabatan. Mereka berdua memang berbicara dengan nada pelan, namun sorot mata mereka terlihat pancaran permusuhan. 


Dengan mengguakan baju militer dan tanda pengenalnya, Che Gun diperbolehkan masuk istana.


Di dalam istana Pangeran Yeoning terlihat gusar teringat pernyataan, “Keluar dan buang cangkangmu itu. Ayunkan pedang itu sesukamu,” dari Raja. Pangeran Yeoning kemudian menarik pedang pemberian raja dari sarungnya. 


“Pada petang nanti… tutup empat gerbang utama dan pintu masuk lainnya. Bagi semua penduduk, mulai pagi hari. Semua perjalanan di larang. Bagi yang tidak patuh, harus menunjukkan identitas dan akan dihukum. Malam ini…. Jangan ada provokasi apapun!” ucap Pangeran Yeoning memimpin penjagaan untuk sang Raja dan semua prajurit di kerahkan untuk berjaga-jaga. Setelah Pangeran memberi perintah, Sa Mo kemudian muncul dan memberitahunya untuk mengadap raja. 



“Nyawa ayahmu… ada di tanganmu,” ucap Raja dengan bangga saat Pangeran Yeoning menghadap.

“Tapi, ayahanda.... mengapa ayahanda begitu?” tanya Pangeran Yeoning yang bingung kenapa Raja terlihat sangat tenang. 

“Apakah kau pikir aku duduk di singgasana ini secara kebetulan? Apa yang ingin kau katakan? Bagaimana kalau kita buat taruhan?” tanya Raja dan Pangeran Yeoning masih tak mengerti dengan maksud Raja mengajaknya taruhan. Raja kemudian menunjukkan stempel kerajaan yang di letakkan di depannya. 


“Segera tangkap si pembunuh.... dan ini semua akan menjadi milikmu. Tapi jika kau gagal, aku akan mati dan tidak akan lagi duduk disini. Putra Mahkota yang akan memakai mahkota. Lalu, kau harus pergi dari sini,” ucap raja sambil berjalan mendekati Pangeran Yeoning. 

“Ayahanda.... Ayahanda, hamba tidak berani bertaruh denga Ayahanda. Tapi hamba akan menangkap si pembunuh,” jawab Pangeran Yeoning dengan mata  berkaca-kaca. 

“Haruskah aku katakan? Bagaimana cara mendapatkan tahta ini?” tanya Raja dan kita sekarang sudah melihat Pangeran Yeoning keluar dari ruangan Raja. Namun di luar, Pangeran Yeoning teringat kembali pada apa yang Raja katakan.

“Jika kau bisa membuka kedok dari si pembunuh, mereka adalah orang-orang yang pernah berada disisiku. Orang yang tidak tahu diuntung. Mereka biasanya orang seperti itu. pikirkan tentang hal ini dengan seksama.”

Pangeran Yeoning kemudian mengajak Sang Gil untuk mengikutinya. 


Di luar gerbang istana, Dae Gil sudah datang dan untuk mencari cela masuk ke dalam istana, dia membuka denah istana yang dia dapat di rumah Che Gun. 


Pangeran Yeoning memberitahu ibunya kalau dia sekarang sedang ditugaskan menjadi pemimpin pangawal. Tugas yang diberikan khusus oleh sang Raja untuk menghentikan pembunuhan malam ini. 

“Yeoning... ini ujian. Baginda Raja sedang mengujimu,” ucap Selir Sukbin dan Pangeran Yeoning tahu akan hal itu. 

“Itulah sebabnya hamba harus menunjukkan semua ini sekarang kepada Baginda Raja dan juga para menteri istana,” jawab Pangeran Yeoning dengan yakin dan Selir Sukbin bertanya apa ada orang yang pangeran curigai. 

Mendengar pertanyaan sang ibu, Pangeran Yeoning pun teringat pada Dam Seo. Namun pada ibunya dia menjawab tidak mencurigai siapa-siapa. Pangeran Yeoning kemudian memanggil Sang Gil dan memerintahkannya untuk menjaga Selir Sukbin malam ini.


Semua menteri berkumpul. Salah satu dari mereka bertanya begaimana jika sesuatu terjadi pada Raja. 

“Seorang menteri seharusnya tidak berbicara seperti itu,” jawab Choi Yi Seok dan merasa kalau situasinya jadi terasa aneh. 

“Si pembunuh Raja. Tapi kenapa tenggorokanku terasa sakit?” ucap Il Soo.


“Apakah itu tidak aneh? Putra Mahkota hanya diam saja. Yeoning menjadi Komandan dan akan melindungi Raja,” ucap Chang Jib yang kemudian mulai menyadari kalau Raja mendukung Pangeran Yeoning.


Dae Gil masih berada di luar istana,dia belum mendapatkan cara untuk masuk ke istana. Disaat dia mengintai pintu masuk istana, tiba-tiba dia ketahuan prajurit yang sedang patroli. Tak ada pilihan lain, Dae Gil pun lari dan bersembunyi. 


Di tempat persembunyiannya, Dae Gil tak sengaja bertemu dengan Dam Seo yang sudah bersiap-siap dengan pakaian serba hitamnya. Mereka berdua sama-sama terkejut saat bertemu. 

“Baek Dae Gil,” ucap Dam Seo kaget dan Dae Gil langsung menutup mulut Dam Seo, agar prajurit tidak mendengar dan menemukan mereka. Setelah prajurit pergi, Dae Gil melepaskan tangannya dan bertanya apa yang Dam Seo lakukan di tempat itu. 


“Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu. Maafkan aku,” ucap Dam Seo dan hendak pergi, namun di tahan oleh Dae Gil. 

Saling menatap satu sama lain, membuat mereka teringat pada pertemuan pertama mereka dan moment-moment  yang pernah mereka lewati bersama. Sampai akhirnya mereka bertemu kembali setelah Dae Gil jatuh dari jurang. 


“Selama kau masih berada disisi orang yang sudah membunuh ayahku... Dam Seo, kau menakutkan juga. Aku akan kembali. Aku akan kembali mengatakan kalau aku akan menikah, Dam Seo,” ucap Dae Gil saat Dam Seo berhasil menyelamatkan dia dari penangkapan di rumah judi. 

“Kau bilang kau ingin membunuh Sonsengnim Lee In Jwa kan? Aku tahu bagaimana perasaanmu. Perasaan kita sama. Aku membenci seseorang dan ingin membunuhnya. Malam ini, satu-satunya kesempatanku. Jadi.... berpura-puralah kalau kau tidak tahu apa-apa,” ucap Dam Seo dan Dae Gil bertanya bagaimana kalau dia tidak bisa berpura-pura tak tahu. 

“Mengapa? Sekarang... aku bukan wanita yang akan kau ajak menikah,” ucap Dam Seo dan Dae Gil langsung melepaskan tangan Dam Seo. Dam Seo pergi dan Dae Gil teringat kembali pada gurunya. 


Pangeran Yeoning sedang berjalan dan seseorang memberi hormat padanya. Pangeran hanya membalas hormat orang tersebut, namun beberapa langkah berjalan, dia langsung berhenti dan berbalik melihat orang yang memberi hormat padanya tadi. Tapi karena tak melihat sesuatu yang mencurigakan, Pangeran Yeoning pun melanjutkan perjalanan. 


Siapa sebenarnya sosok pria yang memberi hormat pada Pangeran Yeoning tadi? Ternyata dia adalah Che Gun. Dia berhasil melenggang dengan santai di dalam istana tanpa ada yang mencurigai dirinya. Di tempat yang tersembunyi, Che Gun berganti pakaian dengan pakaian yang serba dan menggunakan penutup wajah. Che Gun sudah siap untuk membunuh Raja.


Dam Seo mengendap-endap dan saat hendak melompati pagar untuk masuk kedalam istana. Dae Gil muncul dan bertanya apa orang yang ingin Dam Seo bunuh adalah Raja. Dam Seo membenarkan dan Dae Gil mengajak Dam Seo untuk pergi bersama. Pada Dam Seo, Dae Gil hanya berkata kalau dia mau mencari seseorang di dalam istana. Tak punya pilihan lain, Dam Seo pun menyetujui ajakan Dae Gil.

Dae Gil membantu Dam Seo memanjat pagar dan saat giliran Dae Gil yang akan melompat pagar, tiba-tiba rombongan prajurit kembali muncul dan langsung  mengejar Dae Gil. Dari bali pagar, Dam Seo bisa mendengar kalau Dae Gil sedang di kejar prajurit, namun dia tak menghiraukannya.


Si pembunuh mungkin akan membuat gangguan di pintu masuk Gyeyang. Dia akan mengalukan perhatian para penjaga. Kau harus masuk ke Hongah,” pesan In Jwa yang diingat Dam Seo. 


Dae Gil berlari sekuat tenaga dan bersembunyi. Setelah para prajurit pergi, Dae Gil langsung keluar dari persembunyian dan kembali mencari tahu tempat masuk istana yang aman. Karena tidak ada cara lain yang bisa digunakan, jadi Dae Gil pun melakukan cara yang sama dengan Dam Seo yaitu melompati pagar istana. Namun dia lagi-lagi ketahuan, karena sudah kepalang tanggung, Dae Gil pun langsung melompat masuk ke dalam istana.

Karena Dae Gil yang terus-terusan terlihat oleh prajurit, semua prajuritpun menyangka kalau dialah pembunuh raja. Che Gun sendiri saat itu sedang bersembuyi saat melihat prajurit terus berlarian mencari Dae Gil. 


Pangeran Yeoning pergi ke bagian pintu masuk dan bertanya kenapa patroli disana tidak begitu ketat, karena hanya ada dua orang yang berjaga disana. Pangeran kemudian pergi ke tempat pelatihan dan disana sepi, tidak ada prajurit sama sekali. Dia berlari ke tempat lain lagi dan disana juga kosong.

“Semua orang berada disisi timur. Mereka semua pergi ke pintu masuk Gyeyang jadi sisi barat istana kosong. Pintu masuk Gyeyang hanya sebagai pancingan. Jalur si pembunuh adalah...”


Pangeran Yeoning teringat kembali saat Dam Seo melihat-lihat sekeliling istana dan kemudian menyadari sesuatu. Pangeran segera lari menuju suatu tempat. 


Di ruangannya, sang raja hanya duduk menunggu sambil menggerak-gerakan jarinya. Hal yang sama juga sedang di lakukan In Jwa di ruangannya sendiri. 


Dam Seo berjalan di tempat sepi dan tiba-tiba muncul Pangeran Yeoning. “Berharap dan berharap lagi... kalau orang itu bukan kau. Dam Seo,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo membuka penutup wajahnya. 

Apa yang akan di lakukan pangeran Yeoning terhadap Dam Seo? Apakah Dam Seo berhasil membunuh Raja Sukjong ataukah Che Gun yang berhasil membunuhnya? Dan apakah Dae Gil berhasil mencegah Che Gun dan Dam Seo melakukannya? Tunggu ya kelanjutan ceritanya di part selanjutnya.

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 9 – 2

3 comments :