April 23, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 7 - 2


Pangeran Yeoning keluar dengan langkah gontai dan dalam hati bertanya-tanya apa tak ada yang bisa dia lakukan. Dia pangeran negeri ini, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang ingin dia lakukan, tak bisa kerjakan.



Pangeran Yeoning kemudian menghadap sang ayah dan di depan ayahnya, dia menangis. Melihat pangeran Yeoning menangis, Raja pun berkata kalau akhirnya Pangeran sudah dewasa.


Dam Seo menemui In Jwa dan bertanya keadaannya. In Jwa lalu bertanya apa yang terjadi setelah penggerebekan itu.

“Setelah insiden itu, Baek Dae Gil pulang ke rumahnya. Si Iblis sudah dilepaskan dan sudah kembali ke Kanghwa-do. Tempat perjudian akan kembali beroperasi besok,” jawab Dam Seo dan In Jwa menyuruhnya istirahat karena sudah melakukan pekerjaan yang bagus.


Setelah Dam Seo keluar, In Jwa memerintahkan Moo Myung untuk terus mengawasi Baek Dae Gil. In Jwa ingin tahu, siapa yang dia temui dan apa yang dia lakukan.


Selir Sukbin mengaku pada dayangnya, kalau dia sangat ingin tahu mengenai anak pertamanya. Karena yang dia dengar dari pangeran Yeoning, Baek Man Geum sudah mati di bunuh In Jwa. Dayang itu kemudian menemui Sang Gil dan memintanya untuk menemui Selir Sukbin.


Selir Sukbin dan Sang Gil saling berhadapan dengan pembatas kain transparan. Tak mau langsung bertanya tentang anaknya Man Geum, Selir Sukbin bertanya tentang apa yang Pangeran Yeoning lakukan terlebih dahulu. Sang Gil sempat bingung menjawabnya, setelah Selir Sukbin berjanji akan merahasiakannya dari Pangeran Yeoning, Sang Gil pun mau membuka suara.

Sang Gil memberitahu kalau dia dan Pangeran Yeoning pergi ke tempat perjudian untuk menangkap Lee In Jwa dan berhasil. Bahkan anggota keamanan, euigeumbu dan balai inspektus jendral ikut dalam proses penangkapan. Namun, yang terjadi sekarang malah semua orang yang ditangkap sudah dibebaskan.

“Lalu, apakah dia bertemu dengan Raha dan menangis? Karena ketidakadilan itu? Dan menjadi kesal?” tanya Selir Sukbin yang akhirnya tahu kenapa Pangeran Yeoning menangis di depan Raja. Selir Sukbin kemudian mengubah topik dan menanyakan tentang penjudi yang bernama Man Geum.


“Tubuh Baek Man Geum tidak ditemukan. Tapi putranya ingin membalas dendam. Dia terus melawan Lee In Jwa….”

“Kau kayakan putranya?” potong Selir Sukbin dengan nada kaget.


“Ya, namanya Baek Dae Gil,” jawab Sang Gil dan bertanya apa Selir Sukbin mengenalnya. Namun tak dijawab, Selir Sukbin terlihat sedih bercampur senang mendengar anaknya masih hidup dan diberinama Baek Dae Gil.


Baek Dae Gil sedang bersama Tuan Nam dan dia  menceritakan tentang kehebatan In Jwa. Dae Gil sangat penasaran, bagaimana bisa In Jwa melakukan semua itu, dia selalu tepat dalam memilih kartu. Tuan Nam tak tahu jawaban pastinya, dia hanya mengira-ngira dengan mengatakan kalau In Jwa sudah membuat berat setiap kartu berbeda.

“Jika itu membuat kertas tipisnya berbeda. Bagaimana cara dia membedakannya?” tanya Dae Gil.

“Soal itu… bukan sembarang orang bisa melakukan itu. Sarjana Baek Myun, Lee In Jwa… kau juga sudah pernah bertemu, jadi kau bisa tahu. Tatapan matanya bukan tatapan mata manusia biasa,” ucap Tuan Nam dan Dae Gil teringat bagaimana In Jwa memilih kartu. Saat itu In Jwa tak langsung mengambil satu kartu, dia merasakan mengambil kartu lain terlebih dahulu, sebelum mengambil satu kartu yang dia inginkan. Saat itu In Jwa juga mengaku kalau selama ini, dia tak pernah melakukan tipuan.

“Lee In Jwa? Kakek…. Bagaimana kau tahu kalau dia sarjana Baek Myun?” tanya Dae Gil saat menyadari kalau Tuan Nam mengenal In Jwa.

“Lee In Jwa? Apa? Aku tidak mengenal orang itu,” jawab Tuan Nam menghindar, namun Dae Gil menuntut untuk mengetahui semuanya, jadi mau tak mau Tuan Nam pun menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan In Jwa.

“Aku memiliki hubungan yang tidak menyenangkan dengannya. Pertama, dia adalah orang yang sudah melukai satu mataku. Kedua, Sarjana Baek Myun adalah Lee In Jwa.”


Flashback!

Tuan Nam sedang bermain kartu dengan seseorang yang menggunakan topeng.
“Dia salah satu dari lima pemain kartu terhebat di delapan kota di Joseon. Saat itu, nama panggilanku “Jin dari Selatan”. Aku benar-benar penjudi handal. Tapi di depan dia, aku tidak punya kesempatan untuk menang dan selalu kalah.”

Setelah mengalahkan Tuan Nam, pria bertopeng itu membuka topengnya dan ternyata dia adalah In Jwa.
Flashback End


Dae Gil lalu bertanya kenapa In Jwa membunuh Man Geum. Tuan Nam, menjawab kalau dia tak tahu pasti ceritanya, dia hanya memberitahu Dae Gil tentang malam dimana In Jwa hendak memanah Dae Gil dan Selir Sukbin.

“Tapi… aku tahu satu hal. Dia bilang sesuatu yang aneh pada Man Geum saat itu.”

Saat itu In Jwa berkata pada Man Geum untuk mengingat satu hal. Kalau anak itu hidup sampai dewasa, maka Man Geum akan dibunuh gara-gara anak itu.

Dae Gil bertanya kenapa Tuan Nam dan ayahnya tidak memberitahu tentang hal tersebut dan Tuan Nam menjawab kalau semua itu karena mereka sangat mengkhawatirkan Dae Gil. Dengan maksud menyelamatkan Dae Gil, mereka pun menutup rapat-ratap tentang hal tersebut.

Dae Gil kemudian teringat pada Che Gun yang hebat dan bisa membunuh seekor harimau dengan sekali tebas.

“Kakek…. Dengarkan aku baik-baik…”


Dae Gil kemudian sudah membawa sebuah tas dan hendak pergi.

“Aku akan menjadi seseorang yang kuat. Aku akan menjadi dua kali lebih kuat dari sarjana Baek Myun. Lalu aku akan kembali,” sambung Dae Gil dan kali ini Tuan Nam mengizinkan Dae Gil pergi.


Untuk memastikan apakah keputusan Dae Gil pergi adalah benar, tuan Nam melempar dadunya dan kedua dadu menunjukkan tulisan “Daebak”. Tuan Nam terkejut dan kemudian tertawa puas.

“Dia sedang diatas angin sekarang,” ucap Tuan Nam senang.



Dae Gil menyusuri hutan dan kemudian istirahat di tepi sungai yang berbatu. Dia mengeluarkan kartu 10 dan 1 yang berhasil In Jwa pilih. Melihat kedua kartu itu, Dae Gil teringat ejekan In Jwa yang menyebutnya sebagai seekor bayi harimau dan tak bisa melawan tajamnya gigi seekor serigala yang lapar.



In Jwa sekarang sedang bersama Hwang Gu dan bertanya apa dia sudah mencari tahu mengenai hal yang In Jwa perintahkan. Hwang Gu kemudian memberikan sebuah lukisan seorang pria.


"Dia adalah seniman beladiri Hwang Jin Ki. Dia yang terbaik, saat bicara soal seni bela diri. Seperti yang kau tahu, dia sudah dituduh berkhianat dan sudah ditahan oleh Euigeumbu. Dia satu-satunya orang yang paling layak untuk menjadi anak buahmu, tuan. Terlebih lagi…. Dia memiliki hubungan yang tidak menyenangkan dengan pendekar pedang kekaisaran.”


Pendekar pedang kekaisaran yang Hwang Gu maksud sekarang sedang makan sendiri di depan gubuknya. Dia adalah Kim Che Gun. Tepat disaat itu Dae Gil sampai disana dan langsung melepas tasnya. Tanpa berkata apapun, Dae Gil langsung berlutut di depan Che Gun.

“Siapa kau?” tanya Che Gun.

“Aku, Baek Dae Gil yang akan menjadi pemain kartu terhebat di Joseon. Aku ingin kau menjadi guruku.”


“Kenapa orang yang ingin mejadi pemain kartu terhebat menginginkan aku menjadi gurunya? Aku rasa kau sudah salah orang. Sebaiknya kau pergi,” jawab Che Gun.

“Aku akan mati hari ini,” ucap Dae Gil dan Che Gun bertanya apa urusannya dengan dia. Dae Gil menjawab kalau hal itu akan menjadi urusannya karena dia akan menjadi murid Che Gun.

“Satu-satunya muridmu ini akan pergi dan mati hari ini. Terserah padamu apakah kau ingin menyelamatkanku atau tidak, guru,” ucap Dae Gil dan langsung berjalan pergi.Che Gun hanya bergumam kalau Dae Gil adalah orang yang aneh dan kemudian melanjutkan makannya. Namun tiba-tiba dia berhenti seolah-olah memikirkan sesuatu.


Kemana Dae Gil pergi, ternyata dia pergi ke tempat si Iblis. Dia kesana untuk membebaskan semua orang yang diperbudak oleh si Iblis. Orang yang terakhir di bangunkan adalah Seol Rim dan pada Seol Im, Dae Gil berkata kalau malam ini adalah kesempatan terakhir untuk mereka semua kabur.

Dae Gil menyuruh mereka semua lari dan Dae Gil sendiri akan menghentikan si iblis dan anak buahnya agar tak mengejar.

“Kenapa kau lakukan ini?” tanya Seol Rim.

“Kau harus pulang ke kampong halamanmu,” jawab Dae Gil.


Semua budak belari keluar kamar dan sebelum mereka berhasil keluar gerbang, si Iblis muncul dan bertanya apa yang mereka semua lakukan. Si iblis lalu membahas tentang penangkapan yang sebelumnya terjadi dan dia menyalahkan Dae Gil atas apa yang terjadi.

“Apa yang kalian lakukan? Tangkap dia!” teriak si iblis dan semua anak buahnya langsung maju untuk menangkap Dae Gil dan menghalangi para budak untuk melarikan diri.

Seperti yang sudah dia janjikan, Dae Gil langsung menghalangi anak buah si iblis dan menyuruh semua budak lari. Menggunakan kayu yang diberi api, Dae Gil menghalau mereka semua. Awalnya, semua budak enggan pergi karena tak tega meninggalkan Dae Gil sendiri, tapi karena Dae Gil terus berteriak menyuruh mereka pergi, jadi mereka pun pergi.


Setelah semuanya pergi, Dae Gil langsung menutup gerbang dan semua anak buah si iblis memukulinya. Di luar semuanya berlari menyelamatkan diri. Seol Rim menoleh ke belakang, dia tak tega meninggalkan Dae Gil sendirian. Namun dia langsung di tarik oleh temannya, agar tak masuk kembali ke tempat itu.


Dae Gil dipukuli sampai babak belur dan tak berdaya. “Ban Poon ( gila ) apa tidurmu nyenyak?” tanya si ibli.

“Dae Gil…”

“Apa?”

“Bukan Ban Poon. Namaku Dae Gil…,” ucap Dae Gil lemah.

“Baiklah, Baek Dae Gil. Lagipula, jika aku katakana pada mereka untuk bekerja, mereka akan bekerja. Saat aku memberikan makanan, mereka akan makan. Saat aku minta mereka menggonggong, mereka menggonggong dan menggigit saat aku bilang gigit. Kehidupan seperti itulah yang harus mereka jalani. Memang kau ini siapa, berusaha untuk bertanggung jawab atas kehidupan mereka? Apa kau ini raja atau apa?” tanya si iblis.

“Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau memperlakukan manusia seperti binatang? Memangnya kau ini siapa?” tanya Dae Gil balik dan si iblis menjawab kalau memang seperti itulah kehidupan di dunia ini. Orang yang tidak punya apa-apa akan diinjak-injak dan orang yang punya akan menginjak-injak.

“Kau tau…. Semua orang akan mati karena dirimu. Mereka itu akan ketangkap karena dirimu dan mereka akan mati,” ucap si iblis dan tepat disaat itu anak buahnya masuk membawa Seol Rim.

Pada Dae Gil, Seol Rim meminta maaf karena menyia-nyiakan pengorbanan Dae Gil. Ternyata Seol Rim memang tak lari, karena tak bisa meninggalkan Dae Gil sendiri. Si iblis lalu meminta celurit dan mendekatkan ke leher Seol Rim.

“Jangan lakukan itu,” pinta Dae Gil.


“Kenapa? Kau tak tahan melihatnya?” tanya si Iblis dan Dae Gil dengan geram berjanji akan membunuh si Iblis. “Ahh, anak ini…. Nyalimu besar sekali! Apa yang membuatmu begitu yakin? Baik… hanya waktu yang menentukan apakah aku mati atau kau yang mati. Ucapkan selamat tinggal sekarang. Gadis ini akan mati karena dirimu. Kau mengerti itu?” ucap si Iblis dan Dae Gil langsung berteriak meminta tolong.


“Tolonglah…. Tolong aku. Aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu. Aku akan membayarnya 100 atau 1.000 kali. Jangan hanya berdiri disana dan bantu aku! Tolong bantu aku!” teriak Dae Gil dan itu membuat si Iblis kebingungan dengan sikapnya. Dia tidak tahu Dae Gil sedang minta bantuan pada siapa.

“Lihat, Seol Rim… ini adalah bagian dari sebuah bisnis,” ucap si Iblis dan siap membunuh Seol Rim, namun tiba-tiba tangannya terkena lemparan batu oleh seseorang. Bukan hanya si Iblis saja yang kena batu, anak buahnya juga kena.


Siapa yang melakukan? Ternyata dia adalah Kim Che Gun. “Aku agak sibuk, kemarilah,” ucap Che Gun dan si Iblis menyuruh semua anak buahnya menyerang Che Gun. Namun Che Gun dengan mudah mengalahkan mereka. Melihat Che Gun sudah datang membantu dirinya, Dae Gil pun terlihat lega.


“Kau sudah sengaja datang ke rumahku, bukan? Agar aku datang kesini,” tanya Che Gun dan Dae Gil hanya tertawa kecil. Anak buah si Iblis bangkit kembali dan bersiap menangkap Che Gun.

“Lihat serangga-serangga ini. Mereka tidak akan terbasmi hanya karena kau melawan mereka sendirian,” ucap Che Gun.


“Tidak.. aku tidak sendirian,” jawab Dae Gil dan tepat disaat itu semua budak si Iblis kembali dengan membawa senjata berladang mereka. Kalah jumlah, si Iblis dan anak buahnya pun dengan mudah di lumpuhkan oleh mereka. Ketika semua budak menyerang si Iblis dan anak buahnya, Seol Rim langsung bangun dan pergi.

“Seekor cacing akan menggeliat jika kau menginjaknya. Saat seekor tikus sudah tersudut, mereka bilang tikus bisa menggigit kucing. Namun…. Bagaimana dengan perasaan rakyat di negeri ini?” ucap Dae Gil.


Seol Rim keluar dari rumah si Iblis dengan membawa semua kontrak budak yang membelenggu mereka selama ini. Melihat itu si Iblis meminta Seol Rim mengembalikannya, tapi tentu saja Seol Rim tak mau melakukanya.


“Kim Bok Dol,” baca Seol Rim saat membuka kontrak budak yang pertama.

“Ya!” jawab seorang kakek dengan menangis.

“Kakek… kembalilah dan temui nenek sekarang,” ucap Seol Rim dan kemudian membakar kertas kontrak tersebut. Si Iblis hendak menghentikannya, namun tak bisa karena dia di tahan dengan alat pembajak garam.


Seol Rim membaca satu persatu nama yang ada di dalam kontrak, kemudian membakarnya. Sampai dia menemukan kertas kontrak miliknya sendiri. Melihat kontrak yang bertuliskan namanya, Seol Rim menangis. Dae Gil tersenyum lega melihat Seol Rim akhirnya bebas dari tahanan si Iblis.


“Lihat? Kita sekarang bebas… bebas…,” ucap Seol Rim dan Si Iblis hendak menghampiri Seol Rim, namun sebelum dia sampai sana, si kakek seorang wanita memukulnya sampai pingsan. “Ayo kita semua… kembali ke rumah sekarang. Ayo kita pulang!” ucap Seol Rim dan disambut suka cita oleh semuanya.


Seol Rim kemudian mengambil kayu di tempat perapian dan membakar rumah Si Iblis. Saat matanya bertemu dengan mata Dae Gil, mereka sama-sama tersenyum lega.


Mereka semua keluar dari tempat penampungan budak milik si Iblis. Saat berhadapan dengan Dae Gil, Seol Rim tiba-tiba memeluknya.

“Kita… pasti akan bertemu lagi. Pasti!” ucap Seol Rim dengan yakin dan kemudian berjalan pergi.



“Kau bilang kau ingin menjadi muridku kan?” tanya Che Gun saat berdiri di samping Dae Gil. Tanpa menunggu jawaban, Che Gun langsung menyuruh Dae Gil mengikutinya. Melihat sikap Che Gun yang seperti itu, Dae Gil hanya tertawa kecil. Tanpa mereka semua sadari, ternyata sedari tadi Moo Myung ada di sekitar tempat itu dan melihat apa yang terjadi.


In Jwa sedang berkumpul bersama Hwang Gu, Dam Seo dan Moo Myung. Sepertinya, Moo Myung juga sudah melaporkan semua yang dia ketahui mengenai Dae Gil.

“Pendekar Pedang Kekaisaran yang kau sebutkan itu Kim Che Gun?” ucap In Jwa dan Hwang Gu berkomentar kalau semuanya jadi menarik. In Jwa lalu bertanya apa yang Pangeran Yeoning inginkan.

“Dia sedang mengumpulkan sebanyak mungkin informasinya. Bahkan hal terkecil yang berkaitan dengan guru,” jawab Dam Seo.


Pangeran Yeoning mencari informasi tentang In Jwa di buku-buku yang ada bersama semua orang yang berdiri di pihaknya. Karena tak menemukan apa-apa, dia terlihat begitu frustasi.

“Apa cuma ini yang kita ketahui soal Lee In Jwa?” tanya Pangeran Yeoning pada Sang Gil.

“Kita sudah punya semua catatan dan silsilah keluarganya. Kenapa anda membutuhkan ini?”

“Aku perlu tahu. Aku perlu tahu siapa sebenarnya orang yang sedang aku buru. Dimana dia dilahirkan dan dimana dia dibesarkan? Siapa ayahnya dan apakah dia punya istri dan anak? Aku perlu tahu semuanya soal dia. Sampai akhirnya, apakah aku bisa menangkapnya,” ucap Pangeran Yeoning.


Dae Gil sudah berada di rumah Che Gun dan sudah mendapatkan pelatihan. Dae Gil dilatih berdiri dengan menekuk kakinya dan kedua tangannya diberi beban. Jika Dae Gil merubah posisinya, Che Gun langsung memukul perut Dae Gil dengan rotan.

“Baik… berat badanku akan langsung turun. Bukankah seharusnya aku makan sekarang?” tanya Dae Gil.


“Makan sekarang? Kau ini…,” jawab Che Gun dan memukul kepala Dae Gil. “Mulai sekarang, kau bisa panggil aku “Guru” dan harus sopan, mengerti?” ucap Cha Gun dan hendak memberi Dae Gil makan. Namun sebelum makanan itu masuk ke dalam mulut Dae Gil, tiba-tiba Che Gun menedang kaki Dae Gil sehingga membuat Dae Gil terjatuh. Che Gun melakukan itu, karena ada celurit melayang ke arah Dae Gil.


Siapa yang melempar celurit itu? Ternyata dia adalah Si Iblis. “Kau sudah salah orang,” ucap si Iblis yang ingin membalas dendam pada Dae Gil.

“Aigoo, seharusnya aku hanya melihat dan tidak ikut campur,” keluh Che Gun.

“Aku adalah Iblis. Aku makan manusia dan aku ini Iblis,” ucap si Iblis dan hendak menyerang.


Beberapa saat kemudian, kita sudah melihat si Iblis digantung di pohon yang berada di tengah hutan. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Che Gun.

“Apa ini? Turunkan aku,” pinta si iblis.

“Kau bilang kau iblis pemangsa manusia. Kau punya teman disini, jadi bermainlah dengan mereka,” ucap Che Gun dan tepat disaat itu terdengar suara harimau. Tentu saja itu tambah membuat Si Iblis takut.

“Wuaa! Dia pasti sudah sangat lapar,” ucap Che Gun yang sengaja menakut-nakuti Si Iblis. Dae Gil yang tak tahu kalau Che Gun sedang menakut-nakuti si Iblis malah bertanya kenapa.


“Harimau betina itu mati karena dirimu. Hanya ada satu yang betina di sekitar sini, jadi dia pasti sangat lapar, bukan kah begitu?” teriak Che Gun dan memberi kode kedipan mata pada Dae Gil agar membantunya menakut-nakuti si Iblis.


“Oooh…,” ucap Dae Gil yang mulai mengerti dan ikut menakut-nakuti. Si Iblis berteriak minta diturunkan, namun bukannya melakukan permintaan Si Iblis, Dae Gil dan Che Gun malah berbalik dan hendak pergi.

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 8

No comments :

Post a Comment