April 21, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 7 - 1

~Sebelum Dae Gil dan In Jwa bermain kartu ~


Pangeran Yeoning mendengar diskusi In Jwa bersama para menteri dan mereka berniat melengserkan Raja dari tahtanya. Sebagai anak dan mengerti hukum, tentu saja Pangeran Yeoning marah dan langsung melabrak mereka. Dengan tenang In Jwa bertanya apa pangeran tahu yang dikatakan Mengzi?

“Raja adalah kapal, rakyat adalah air. Airlah yang membuat kapal mampu mengambang ataupun terbalik. Raja bisa terbakar dan mati,” jelas In Jwa dan dia juga mengatakan kalau mereka semua di ruangan itu sedang membicarakan tentang ajaran Menzi. Pangeran Yeoning ingin membantah karena dia sudah mendengar semuanya, namun In Jwa langsung memotong dengan bertanya apa  Pangeran kebetulan datang saat mereka sedang berdiskusi atau memang sengaja memata-matai mereka?

Salah satu menteri berkata kalau Pangeran Yeoning sudah salah paham dan mengajaknya ikut bergabung dengan mereka. Tentu saja Pangeran Yeoning tidak mau dan dengan tegas dia mengingatkan mereka semua kalau mereka sudah menginjak wilayah yang berbahaya.



Di luar ruangan, Sang Gil bertanya apa Pangeran Yeoning akan diam saja pada kelakuan In Jwa dan beberapa menteri itu. Pangeran menjawab kalau sekarang belum saatnya untuk menangkap mereka, Pangeran Yeoning butuh saksi yang kuat untuk menangkap mereka. 


Selir Sukbin memarahi Pangeran Yeoning atas apa yang dia lakukan. Sebelumnya dia sudah mengingatkan Pangeran untuk tidak berurusan dengan In Jwa, tapi sekarang pangeran malah berbuat nekad seperti itu. 

“Ibu.. dia sembunyi dibelakang putra mahkota dan mempermainkan Raja. Dia tak segan membunuh demi kepentingannya,” jelas Pangeran Yeoning. “Tidak ada saksi, aku juga tidak tahu motifnya. Dia sudah membunuh penjudi bernama Baek Man Geum.”

Mendengar kabar Baek Man Geum sudah dibunuh, membuat Selir Sukbin gemetar. Namun saat Pangeran Yeoning bertanya apa sang ibu mengenal Man Geum, tentu saja Selir Sukbin menjawab tidak. Selir Sukbin lalu berpesan agar Pangeran Yeoning berhati-hati, karena tidak akan mudah menangkap Lee In Jwa. 


Pangeran Yeoning kemudian mengadakan rapat dan dia semakin yakin menangkap In Jwa setelah mendapat bantuan dari 12 orang dari kepolisian, 20 dari Euigeumbu dan 10 orang dari kantor pengawas. Pangeran Yeoning pun berencana menangkap In Jwa malam itu juga. 


Ternyata itulah alasan yang membuat Pangeran Yeoning berada di tempat perjudian dengan menyamar. Dari atas dia melihat Dae Gil yang begitu bersemangatnya ingin tangan In Jwa di potong. Karena Hong Mae tak sanggup memotong tangan In Jwa, jadi Si Iblis lah yang melakukannya. 

“Baek Dae Gil,” ucap In Jwa sambil menatap kemata Dae Gil.

“Apa yang kau lakukan? Potonglaaaaaaaaaaah!” teriak Dae Gil.


Kapan di ayunkan dan sebelum kapak itu mengenai tangan In Jwa, Dam Seo dengan cepat menghalanginya. Dam Seo berkata kalau mereka harus menunggu sebentar karena In Jwa akan memberi penjelasan. 


In Jwa tertawa dan menyebut Dae Gil adalah anak jalanan yang hanya punya modal nekad. Dia pun menjelaskan kalau hari itu, dia tidak menggunakan tipuan apapun. Lagipula In Jwa bukanlah tipe orang yang suka menggunakan trik dalam berjudi. 


“Kemungkinan kau sudah menjatuhkannya di lengan bajuku saat kau menarik kerah bajuku. Tapi kau sudah membuat kesalahan dengan menjatuhkannya. Jadi aku akan memaafkanmu,” ucap In Jwa. Namun Dae Gil masih belum mengakui kesalahannya, dia masih berlagak tak bersalah. Untuk membuktikan kalau dirinya tak bersalah, In Jwa pun memperlihatkan keahliannya dalam memilih kartu.


Dengan mata tertutup, In Jwa memilih kartu dan pilihannya tepat, dia mengambil kartu 10. Masih tak yakin dengan kemampuan In Jwa, Dae Gil meminta In Jwa memilih lagi dan kali ini dia ingin In Jwa mengambil kartu nomor 1. In Jwa memilih kembali dan menakjubkan, lagi-lagi pilihan In Jwa benar. Dia benar-benar mendapatkan kartu nomor 1. Semua terperangah melihat kepiawaian In Jwa dalam memilih kartu. 


In Jwa membuka penutup matanya dan bertanya apa semua itu sudah cukup membuktikan kalau dia tadi tidak bermain curang. Dae Gil shock dan bertanya bagaimana bisa In Jwa melakukan semua itu. Namun In Jwa tak memberitahu, dia memberikan semua kartu pada Dae Gil dan menyuruh Dae Gil untuk memeriksanya sendiri.

“Kau sudah hampir menemukannya. Kau memilih angka 9 dan sudah mendekati angka yang kau inginkan. Kau sudah menipu dan itu bukan dirimu, serta menempatkanku di situasi yang sulit. Jika kau lebih memperhatikanku lagi, kau bisa menangkapku. Tapi takdirmu dan kemampuanmu hanya bisa sejauh ini. Pada akhirnya, kau tidak akan mengetahui alasan mengapa ayahmu mati,” ucap In Jwa dan Dae Gil berkata kalau semuanya belum berakhir. 


Dae Gil kemudian mengingatkan taruhan mereka, kalau Dae Gil kembali dalam keadaan hidup, maka In Jwa akan meminta maaf di depan makam Man Geum. Namun In Jwa tak mau melakukannya, karena Dae Gil masih hidup sampai sekarang adalah berkat dirinya. 

In Jwa mengaku kalau dia memang sengaja membiarkan Dae Gil hidup dengan cara menusuk perut Dae Gil. Karena, jika In Jwa benar-benar ingin Dae Gil mati, maka dia tidak akan menusuk bagian perut, melainkan bagian jantung atau juga menggorok leher Dae Gil. Tentu, Dae Gil mendengar semua itu.

“Tak peduli seberapa kuatnya kau menancapkan cakarmu, seekor bayi harimau hanyalah seekor bayi. Kau belum menjadi harimau. Kau bahkan tidak bisa melawan tajamnya gigi seekor serigala yang lapar. Kau hanya seekor bayi harimau,” ejek In Jwa dan tersenyum senang.


“Hentikan semuanya!” teriak Pangeran Yeoning yang akhirnya menampakkan diri. Dia datang bersama para parajurit yang di perintahkan untuk menangkap semua orang yang ada di ruangan itu. Hong Mae dan si iblis berniat melarikan diri bersama anak buahnya. Ditengah kepanikan semua orang, Dae Gil masih terpaku di belakang In Jwa.

“Ayah, apa aku kalah? Apa aku kalah lagi?” gumam Dae Gil dan kemudian berteriak memanggil nama Lee In Jwa! 


In Jwa sendiri hanya menoleh dan melihat Dae Gil di pukul dan diikat oleh prajurit. Dia kemudian menyuruh Dam Seo untuk membawa Dae Gil keluar. Atas perintah In Jwa, Dam Seo pun menyingkirkan prajurit yang menahan Dae Gil dan membawa Dae Gil keluar. 


In Jwa sendiri hanya diam dan membiarkan para prajurit menangkapnya. Sang Gil dan Pangeran Yeoning melihat Dam Seo membawa kabur Dae Gil. Sang Gil hendak menangkap mereka namun Pangeran mencegahnya. Dia membiarkan Dam Seo dan Dae Gil bebas. 


Dam Seo berlari dan membawa Dae Gil ke tempat yang lebih aman. Dam Seo melihat Dae Gil terluka di kepala bagian belakang dan dia hendak menutupi lukanya dengan sapu tangan, namun di tolak oleh Dae Gil. 

“Jangan pura-pura peduli,” sergah Dae Gil kesal dan menangkap tangan Dam Seo. “Selama kau masih membela orang yang membunuh ayahku… Dam Seo, kau juga bukan manusia.”

“Kau benar. Bagimu, mungkin aku bukan manusia. Maafkan aku,” ucap Dam Seo dan Dae Gil menarik kembali pernyataan tentang keinginannya menikah dengan Dam Seo. 


“Bahkan jika aku mati dan bahkan jika kau melawanku dengan pedang. Aku akan melakukannya. Entah itu 100 atau 1.000 kali, aku tetap akan melawan Lee In Jwa. Jadi, jangan coba halangi aku,” ucap Dae Gil dan pergi.


Semua orang yang ada di tempat perjudian di tangkap dan diikat, mereka dijaga oleh Sang Gil. Sedangkan In Jwa dan Pangeran Yeoning sudah berada di sebuah ruangan terpisah. Pangeran Yeoning sedang menginterogasi In Jwa. Masih dengan gaya santainya, In Jwa memberitahu Pangeran Yeoning, walaupun dengan menggunakan saksi sebanyak itu, apa yang akan terjadi tidak akan sesuai dengan keinginan Pangeran. Namun Pangeran Yeoning masih sangat optimis bisa memenjarakan dan memberi hukuman mati pada In Jwa dengan menggunakan semua bukti kejahatan illegal yang In Jwa lakukan. 


“Haruskah aku menyelidiki kematian ayah Baek Dae Gil juga?” tanya Pangeran yang ingin membuat In Jwa takut. Namun In Jwa malah tertawa dan berkata kalau hal yang perlu Pangeran Yeoning lalukan hanyalah menikah diri In Jwa dengan pisau, karena satu-satunya kesempatan bagi Pangeran Yeoning untuk membunuh In Jwa adalah saat itu juga. Namun Pangeran Yeoning tak mau karena dia ingin menghabisi In Jwa dengan undang-undang yang berlaku. 


Dae Gil pulang dan melihat Tuan Nam sedang mengadakan upacara pemakaman dirinya. Dia berdoa agar para leluhurnya menerima arwah Dae Gil, jika memang dia sudah meninggal dan jika belum, Tuan Nam berharap para dewa terus melindunginya. 

“Melindungi aku? Yang benar saja! Aku sudah bangkit dari kematianku,” gumam Dae Gil yang saat itu sudah berdiri di samping Tuan Nam.


“Aku sudah terlalu tua jadi suka mendengar sesuatu,” ucap Tuan Nam dan kemudian menyadari kalau suara yang dia dengar benar-benar nyata. Tuan Nam menoleh ke samping dan melihat Dae Gil dalam keadaan sehat walafiat. Tuan Nam menangis, memeluk, mencubit pipi dan mencium Dae Gil. 


Tuan Nam kemudian menghidangkan makanan yang dijadikan persembahan tadi untuk Dae Gil. Dae Gil kemudian mengaku kalau dia sangat ingin membalas dendam dan mengalahkan In Jwa. 


Di kantor polisi, semua orang yang ditangkap dari tempat perjudian di siksa. Tak lama kemudian Pangeran Yeoning muncul untuk melihat proses pemeriksaan. Setelah melihat disekelilingnya, Pangeran Yeoning tak melihat In Jwa dan diapun bertanya dimana In Jwa. Kepala polisi menjawab kalau sekarang In Jwa sedang bersama Euigeumbu. 


Tak lama kemudian seorang prajurit datang dan membisikkan sesuatu pada Kepala Polisi, setelah mendengar bisikan itu, Kepala Polisi itupun langsung membebaskan Hong Mae dan si Iblis berikut anak buah mereka. Pangeran Yeoning kebingungan dan shock. Dia terlihat sangat marah. 


Pangeran Yeoning menemui seorang menteri dan menteri itu menjelaskan kalau Euigeumbu sendiri yang sudah membebaskan In Jwa dan yang lainnya, jadi Pangeran Yeoning tidak bisa meneruskan penyelidikannya. Pangeran Yeoning semakin dibuat shock saat mendapat info kalau bagian balai Inspektu Jendral bekerja sama dengan In Jwa, padahal Pangeran Yeoning juga bekerja di balai isnpektur Jendral, tapi dia tak tahu apa-apa tentang itu. 

Pangeran Yeoning lalu bertanya dimana catatan keuangannya dan menteri itu menunjukkan semuanya. Namun sayang catatan yang di simpan di kantor, semuanya sudah direkayasa. Bahkan tak ada satupun catatan yang benar. Ternyata pejabat yang bekerja di bidang hukum, semuanya sudah di suap oleh In Jwa dan apa yang mereka kerjakan semuanya hanya bohong belaka. 


Dengan penuh emosi, Pangeran Yeoning pergi ke balai Inspektur Jendral dan disana In Jwa sedang minum teh bersama para Menteri. Pangeran Yeoning lalu bertanya, bagaimana bisa seorang Jendral minum bersama penjahat. 

“Penjahat? Pangeran, siapa penjahatnya?” jawab salah satu orang yang ikut duduk bersama In Jwa dan orang satunya mengajak Pangeran Yeoning untuk bergabung bersama mereka. Dengan muka sok baiknya, salah satu menteri berkata kalau Pangeran Yeoning sudah melakukan kesalahan besar hari ini.

“Kesalahan?” tanya Pangeran Yeoning shock. “Kau katakan kalau menangkap dia adalah sebuah kesalahan?”

“Bukan begitu, menangkap orang yang tidak bersalah tanpa saksi, kesalahan yang pertama. Kau sudah melakukan tindakan yang seharusnya dilakukai Balai Inspektur Jendral. Melibatkan tempat perjudian yang tidak ada hubungannya, kesalahan yang kedua melampaui kewenanganmu dengan menggunakan keamanan dan euigeumbu, kesalahan yang ketiga.. yang jelas adalah… keadaannya sementara ini menjadi kacau,” jelas menteri.

“Menteri…. Apa yang baru saja kau katakana?” tanya Pangeran Yeoning dengan marah dan menteri itu lalu bertanya apa Pangeran Yeoning sudah meminta izin pada Putra Mahkota sebelum melakukan semua itu, karena Pangeran Yeoning menangkap guru dari Putra Mahkota. 

In Jwa lalu meminta kedua menteri itu keluar karena ada banyak hal yang ingin dia bicarakan bersama Pangeran Yeoning. Saat hanya berdua, Pangeran Yeoning tanpa basa basi bertanya berapa uang yang sudah In Jwa berikan pada kedua menteri itu. Masih dengan sikap santainya, In Jwa menuangkan hendak menuangkan minuman untuk Pangeran, tapi langsung di tepis oleh pangeran. 


Pangeran bertanya lagi sejauh mana kejahatan yang In Jwa lakukan dan In Jwa balik bertanya apa Pangeran benar-benar berpikir kalau In Jwa lah dalang di balik semua kejahatan yang terjadi. Sebelum Pangeran menjawab, tiba-tiba terdengar suara kedua menteri yang menggunjingkan Pangeran Yeoning. Mereka berkata kalau Pangeran Yeoning tidak punya rasa takut, padahal dia hanya anak dari palayan air. Namun Pangeran Yeoning tidak akan pernah bisa menghindari fakta kalau dia hanyalah anak dari seorang selir. 


Pangeran Yeoning  terlihat kesal dan marah. In Jwa kemudian memberitahu Pangeran Yeoning kalau tak peduli seberapa pintarnya dia, dia tidak bisa berpolitik. Pangeran Yeoning emosi dan saking emosinya dia langsung menarik pedang dan menghunuskannya ke arah In Jwa. 


“Anda ingin menegakkan aturan, tapi pada akhirnya anda menghunuskan pedang. Anda tidak berbeda dari raja-raja sebelumnya,” ucap In Jwa.

“Apa yang kau katakan?”


In Jwa berbalik dan bertanya kenapa Pangeran Yeoning tidak menusuknya. “Hamba akan berdiri disini,” ucap In Jwa dan tangan Pangeran Yeoning mulai gemetar. “Hamba akan melihatnya. Anda akan menusuk hamba, fraksi Soron dan Putra Mahkota... dan akhirnya anda bisa duduk tenang di tahta?’ ucap In Jwa.

“TUTUP MULUTMU!!!!!” teriak pangeran Yeoning dan menebaskan pedangnya. Namun hanya mengenai topi bagian depannya saja. 

“Hamba akan pergi. Pangeran Yeoning,” ucap In Jwa dan meninggalkan Pangeran Yeoning yang terlihat shock. Dia shock atas apa yang dia lakukan. 


Pangeran Yeoning di panggil oleh Putra Mahkota dan  Pangeran Yeoning dituntut memohon pengampunan karena sudah menangkap In Jwa. 

“Putra Mahkota... berapa banyak yang anda ketahui?” tanya Pangeran Yeoning dan Putra Mahkota bertanya tentang apa. 

“Tentang siapa dia dan apa ambisinya. Apa tujuannya? Apakah anda tahu semuanya... dia berada diistana ini? Apakah anda menyadari hal itu? Lee In Jwa...”

“Dia.... temanku. Apalagi yang perlu aku ketahui dari itu?” jawab Putra Mahkota Yoon santai dan teringat dengan janji In Jwa yang akan melindunginya.


Flashback!
In Jwa berjanji akan melindungi Putra Mahkota dan juga bertanya apa yang bisa putra mahkota Yoon berikan pada In Jwa sebagai gantinya. Saat itu Putra Mahkota Yon menjawab akan memberikan semuanya, termasuk tahta yang dia dapatkan. Namun saat itu, In Jwa berkata kalau Putra Mahkota saja yang duduk di tahta, sedangkan In Jwa hanya akan menjadi hambanya saja dan akan terus mengabdikan diri. 
Flashback End


Putra Mahkota memberitahu Pangeran Yeoning kalau In Jwa adalah tangan kanan dan tangan kirinya, juga orang yang sudah memiliki hati Putra Mahkota Yoon. Pangeran Yeoning shock dan Putra Mahkota pun memaafkan dia untuk kali ini. 

“Aku tidak perduli apa yang dilakukan oleh Lee In Jwa, abaikan dan biarkan saja. Itulah yang bisa kau lakukan untukku. Ini demi istana dan negara ini serta Joseon. Seharusnya, kita tidak terlibat di dalamnnya, Yeoning,” ucap Putra Mahkota Yoon.

Bersambung ke sinopsis Jackpot Episode 7 -2

1 comment :

  1. This is undoubtedly the best drama I've ever seen. And the cast is just perfect! I want each series to revisit again and again! I can't wait the next series! Jang Geun Sok played the role perfectly, I love it!

    ReplyDelete