April 17, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 5 - 2


“Pikirkan baik-baik dan segera kau putuskan. Pilihan ini bisa mengakhiri hidupku. Itu berarti salah satu anggota tubuhmu akan hilang. Kau mau pilih bagian tubuh yang mana?” ucap In Jwa dan menyuruh Dae Gil memilih tangan mana yang ada buah baduk-nya. Namun Dae Gil tak mau, dia hanya ingin membunuh In Jwa. Dia mengangkat kembali busur panahnya, tapi In Jwa dengan cepat menarik dan membanting Dae Gil ke tanah. 

In Jwa kembali menyuruh Dae Gil memilih dan keinginan Dae Gil masih sama. Dia tak mau membuang waktu untuk bermain-main, yang dia inginkan hanya membunuh In Jwa. Karena Dae Gil memang tak punya kemampuan untuk berkelahi, In Jwa pun dengan mudah menangkap tangan Dae Gil dan memelintirnya.



Dae Gil kesal dan dengan berani dia meludahi In Jwa. Tentu saja hal itu membuat In Jwa marah dan langsung menendang kaki Dae Gil sampai Dae Gil terjatuh ke tanah. In Jwa mengatakan kalau dia sudah banyak membaca buku tentang seni bela diri dan politik, tapi apa yang sudah Dae Gil, dia belum melakukan apapun. 


Dae Gil tak perduli dengan apa yang In Jwa katakan, karena dia tak perduli dengan apa yang In Jwa lakukan selama ini. Yang ingin Dae Gil lakukan hanyalah membunuh In Jwa. Dae Gil mengarahkan kembali panahnya. Dengan ekpresi marah In Jwa menarik anak panah dan mendorong Dae Gil sampai terjatuh ke tanah. Dam Seo terlihat tak tega melihat Dae Gil diperlakukan seperti itu, namun dia tak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya.


“Dendam untuk seorang ayah.... keluargaku sudah tewas. Aku sudah melihat dengan kedua mataku sendiri. Bahkan bukan hari ini atau 15 menit atau bahkan kedua-duanya. Aku tidak pernah lupa untuk membalas dendam!” teriak In Jwa dan menancapkan anak panah ke dada Dae Gil.


Dae Gil pun terjatuh ke tanah kembali. In Jwa mengingatkan Dae Gil kembali, kalau dia sudah memperingatkan untuk datang sebagai harimau besar kecuali Dae Gil ingin kehilangan kedua kakinya. Jadi kalau Dae Gil tak mau kehilangan kakinya, jadi dia harus segera pergi. 


In Jwa berjalan pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar tawa Dae Gil. “Apa kau punya alasan sehingga tidak bisa membunuhku? Entah kau yang mati atau aku yang akan mati hari ini. Salah satu dari kita akan mati. Itu pasti akan terjadi!” teriak Dae Gil dan berlari menghampiri In Jwa.

Dengan cepat In Jwa mencekik leher Dae Gil dan kemudian mendorongnya. Saat Dae Gil terbaring di tanah, In Jwa mengangkat kaki Dae Gil dan mematahkannya. Karena Dae Gil sudah tak berdaya lagi, In Jwa menyuruh Dam Seo dan Moo Myung untuk membawa Dae Gil pergi. Masih tak ingin menyerah, Dae Gil melepaskan diri dari pegangan Dam Seo dan Moo Myung. 


Dengan kaki dan tangan yang sudah patah, Dae Gil hanya bisa telungkup di tanah. “ Aku sudah menempatkan hidupku dalam bahaya dan berada di tempat ini 100x. Mari kita selesaikan semua sekarang. Karena aku tidak akan kembali lagi. Apakah tubuhku akan hancur atau cacat... Jika aku bisa melihat pisau menancap di lehermu. Aku akan pergi. Kalau begitu.... jika kau ingin membunuhku. Ayo, bunuh aku sekarang. Ayo lakukan!” ucap Dae Gil dan permintaannya itu dikabulkan oleh In Jwa. 


Di atas tebing, Dae Gil sudah diikat di sebuah pohon dan In Jwa bersiap untuk memanahnya. In Jwa kemudian mengaku kalau dulu dia juga pernah memanah Dae Gil, namun Dae Gil selalu selamat. Pertama saat In Jwa menyuruh anak buahnya dan saat itu Dae Gil hanya terluka saja. Yang kedua In Jwa memanah sendiri dan saat itu Dae Gil kembali selamat karena dewi keberuntungannya. 


“Aku sangat penasaran, apa yang akan terjadi hari ini?” ucap In Jwa dan melepaskan anak panahanya. Anak panah In Jwa tepat mengenai dada Dae Gil dan seketika Dae Gil langsung tak sadarkan diri. 


Moo Myung memeriksa dan ternyata Dae Gil masih hidup. Saat di periksa bagian dada Dae Gil, ternyata yang menyelamatkan Dae Gil adalah koin 1 nyang yang dia simpan disana. Melihat koin 1 nyang itu, In Jwa pun ingat kalau dialah yang mengembalikan 1 nyang tersebut. In Jwa tertawa dan berkata kalau ternyata dialah yang sudah menyelamatkan nyawa Dae Gil. 



In Jwa duduk didepan Dae Gil dan berkata kalau koin itu adalah garis hidup Dae Gil. Dengan kesal In Jwa memasukkan koin ke dalam mulut Dae Gil dan memaksa Dae Gil menelannya. 


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Moo Myung dan In Jwa menjawab kalau Dae Gil akan di jatuhkan dari atas tebing. Dam Seo berusaha menghentikan rencana In Jwa, namun In Jwa tetap pada keputusannya. Karena dia ingin mengetahui sejauh mana keberuntungan yang Dae Gil punya. 


Bukannya takut dengan rencana In Jwa, Dae Gil malah membuat taruhan dengan In Jwa dengan kehidapan Baek Dae Gil sebagai taruhannya. 

“Tubuhku yang penuh luka. Jika aku jatuh ke dalam jurang ini, 100% aku pasti mati. Tapi kalau aku hidup... kau harus mewujudkan keinginanku,” ucap Dae Gil dan keinginan yang dia mau adalah In Jwa pergi ke makam Man Geum lalu bersujud dan meminta maaf. In Jwa setuju dengan tawaran Dae Gil dan agar lebih menantang In Jwa akan menusuk Dae Gil sekali lagi. 


Dae Gil berdiri dan berjalan ke pinggir tebing. Dam Seo menghampiri dan meminta Dae Gil untuk memohon maaf pada In Jwa agar In Jwa membiarkan Dae Gil tetap hidup.   

“Aku akan hidup kembali. Kau bisa mengandalkanku,” jawab Dae Gil dan melanjutkan langkahnya menuju ujung tebing. In Jwa menghampiri Dae Gil dengan membawa pisau dan langsung menusuk perut Dae Gil. Dae Gil muntah darah dan jatuh ke pundak In Jwa.


“Aku akan menunggumu. Kau akan menjadi harimau yang besar dan kembalilah,” ucap In Jwa dan menarik kembali pisaunya. 


Saat Dae Gil akan terjatuh, Dam Seo berlari mendekat dan hendak menangkapnya, namun semua itu sudah terlambat. Dam Seo langsung turun kebawah, namun dia tak menemukan Dae Gil, yang dia temukan hanya sepatunya saja. 


Tuan Nam masih berada di rumah Man Geum saat dia keluar rumah, dia melihat sepatu milik Dae Gil tergeletak di teras rumah. Mendapat sepatu Dae Gil dengan cara seperti itu, Tuan Nam pun menangis karena mengira Dae Gil sudah mati. 


In Jwa memanggi Dam Seo dan berkata kalau Dae Gil pasti masih hidup. Namun Dam Seo berkata kalau itu tidak akan mungkin melihat kondisi Dae Gil yang terluka parah sebelum jatuh dari tebing. 

“Jika bukan karena aku, dia tidak akan mati. Tanpa izinku, dia tidak bisa mati dan tidak akan pernah mati. Dam Seo, kau tidak perlu merasa bersalah mengenai hal itu,” ucap In Jwa dengan yakin.


“Sarjana, kau benar-benar percaya jika dia masih hidup?” tanya Dam Seo dan In Jwa menjawab kalau mereka akan mengetahui semuanya setelah mereka menunggu dan melihatnya sendiri. 


Siang hari tempat perjudian Hong Mae penuh dengan orang dan saat malam hari tempat itu menjadi sepi. Di tengah kegelapan malam, tiba-tiba muncul seseorang bertopeng masuk ke sana dan mencari sesuatu. Dia membuka semua peti yang ada di tempat itu, namun peti sudah berada dalam kondisi kosong. 


Tepat disaat itu, muncul seseorang dan menyerang orang bertopeng dengan pedang. Orang yang baru datang itu kemudian membuka jendela, agar sinar masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Orang yang baru datang tadi ternyata Dam Seo.

“Kenapa kau datang terlambat? Yang Mulia, Yeoning...,” ucap Dam Seo. Karena sudah ketahuan, Pangeran Yeoning pun membuka topengnya dan bertanya apa Dae Seo memang sudah menunggunya. Tak menjawab, Dam Seo balik bertanya tentang apa yang sebenarnya Pangeran Yeoning cari di tempat itu. 


“Emas, uang dan buku sudah dibersihkan,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo tak mengerti maksud ucapannya. Pangeran Yeoning bertanya dimana Dam Seo menyembunyikan semua uang hasil judi. Namun Dam Seo menjawab tak tahu dimana uang-uang itu di simpan, tapi dia merasa tersinggung.


“Jika kau adalah pangeran dari negeri ini. Apakah itu memungkin kan bagimu untuk memasukki tempat lain tanpa izin?” ucap Dam Seo dan menyuruh Pangeran keluar karena penginapannya mau tutup. 


Dam Seo sekarang menghadap pada In Jwa dan memberitahukan tentang kedatangan pangeran Yeoning. Mendengar itu, In Jwa bergumam kalau pangeran Yeoning datang lebih cepat dari perkiraannya.

“Suatu yang buruk cenderung tepat waktu,” ucap Hwanggoo Yeomeom dan In Jwa membenarkan. 

“Anak harimau perlahan-lahan mulai menunjukkan cakarnya. Kalau begitu, mata harus dibalas denngan mata dan gigi harus dibalas dengan gigi,” ucap In Jwa dan kemudian menyuruh Dam Seo untuk datang menemui Sukbin. 


Dam Seo sekarang sudah didandani layaknya seorang perempuan pada umumnya. Dia terlihat sangat cantik mengenakan handbok berwarna putih yang dipadukan dengan warna pink.


Di istananya, Selir Sukbin diberitahu seorang dayang kalau ada seorang dukun dari Wolhyanggak yang sangat hebat. Selir Sukbin mengakui kehebatan dukun itu, karena dia sudah melihatnya sendiri, bagaimana kehebatan dukun itu dalam meramal. Selain hebat, dukun itu juga sangat menakutkan. 


Tepat disaat itu, Hwanggoo Yeomeom dan Dam Seo menghadap Selir Sukbin. Hwanggo Yeomeom kemudian duduk di hadapan Selir Sukbin dan Selir Sukbin mengaku kalau ada sesuatu yang ingin dia bicarakan secara pribadi dengan Hwanggoo Yeomeom. 

“Siapa dia?” tanya Selir Sukbin saat melihat ke arah Dam Seo.


“Dia salah satu dari pengikutku,” jawab Hwanggoo Yeomeom dan Dam Seo pun memperkenalkan dirinya. Karena Selir Sukbin ingin bicara secara pribadi, Hwanggoo Yeomeom pun menyuruh Dam Seo untuk menunggu di luar. 


Di luar istana Selir Sukbin, Dam Seo celingukan dan kemudian berjalan menuju suatu tempat. Tepat disaat itu Pangeran Yeoning muncul di belakang dan dia melihat Dam Seo. Tak langsung mengikuti Dam Seo, Pangeran Yeoning bertanya pada di dayang, tentang siapa yang sedang di temui Selir Sukbin dan si dayang menjawab kalau itu adalah dukun dari Wolhyanggak. Mengetahui kalau sang ibu bertemu dengan Hwang Gu, Pangeran pun bertanya-tanya kenapa.


Kita beralih pada Selir Sukbin yang memberikan sebuah amplop yang berisi tanggal lahir seorang anak laki-laki. Hwang Gu membuka amplop dan tanggal lahir anak itu adalah 13 Oktober di tahun ayam pada tengah malam. Yang ingin Selir Suk bin tahu adalah apakah anak itu masih hidup sampai sekarang. 

“Yang Mulai, hidup dan mati tidak selalu mengikuti nasib,” ucap Hwang Gu dan mulai kesurupan.


Dam Seo pergi ke istana Pangeran Yeoning dan itu berdasarkan perintah dari In Jwa. Di kamar Yeoning, Dam Seo langsung mencari sesuatu dan diapun menemukan tempat rahasia di lantai, namun tak ada apa-apa disana.


Tepat disaat itu Pangeran Yeoning muncul dan menebak kalau Dam Seo pasti sedang mencari jadwal pemeriksaan. Dan sekarang buku yang berisi jadwal pemeriksaan itu sudah berada di tangan Yeoning.

“Disaat malam... kau memperlakukanku seperti seekor tikus. Sekarang semuanya terbaLik dan ekspresimu mudah ditebak,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo terlihat takut sampai dia berjalan mundur.

“Hamba mengunjungi Sukbin, Yang Mulia. Hamba sedang menenangkan pikiran sejenak,” jawab Dam Seo dan Pangeran Yeoning bisa menebak kalau Dam Seo sedang berbohong. Dam Seo hendak pergi namun Pangeran menghalanginya. 


“Kau harus hentikan sekarang... selagi kau bisa,” ucap Pangeran dan menyuruh Dam Seo untuk tidak menempatkan hidupnya dalam bahaya dan hidup norma seperti wanita pada umumnya. Namun Dam Seo tak menanggapi ucapan Pangeran, dia lebih memilih jalan keluar. 


Langkah Dam Seo terhenti saat mendengar Pangeran Yeoning berkata kalau dia juga tidak suka. “Kemanapun aku pergi, aku bisa mendengar dan merasakan semua mata para menteri mengarah padaku.  Ayahku tahu setiap hal kecil tentangku. Pelayan dan bahkan ibuku. Itu membuatku merasa jijik.  Kalau saja aku bisa, akan aku buang semua itu dan akan pergi jauh,” aku Pangeran dan berkata kalau Dam Seo bisa melakukan hal itu. Dia bisa membuang semua yang dia lakukan sekarang dan pergi jauh. 

“Aku bergerak dan mengikuti kata hatiku,” jawab Dam Seo.

“Tidak.. Di saat seperti ini, kata hatimu hanya akan menyakitimu,” jawab Pangeran Yeoning.


Apa yang kau ketahui? Mana mungkin kau bisa tahu?” ucap Dam Seo dalam hati.



Tepat disaat itu dari luar, Sang Gil bertanya apa pangeran Yeoning ada di dalam ruangannya. Karena dia ingin datang menghadap. Sang Gil membuka pintu dan ruangan Pangeran Yeoning kosong, kemana Pangeran Yeoning dan Dam Seo? Sekarang mereka berdua sedang bersembunyi. 


Tak menemuikan Pangeran Yeoning, Sang Gil pun keluar lagi dan saat itulah Dam Seo baru menyadari kalau sedari tadi Pangeran Yeoning memegang tangannya. Dengan cepat Dam Seo menarik tangannya dan hal itu membuat mereka berdua jadi merasa canggung. 



Pangeran Yeoning mengajak Dam Seo keluar dari persembunyian, namun baru beberapa langkah Sang Gil masuk kembali dan reflek Pangeran Yeoning berbalik memeluk Dam Seo yang berada tepat dibelakangnya. Berpelukan di tempat sempit, tambah membuat mereka berdua sama-sama canggung.


Sang Gil merasa ada seeorang di balik tirai dan dia hendak berjalan kesana untuk mengecek. Tapi sebelum sampai disana, dia menabrak meja belajar Pangeran Yeoning dan hal itu membuatnya langsung pergi tanpa menyecek dibalik tirai. 


Setelah Sang Gil pergi, Dam Seo langsung mendorong Pangeran Yeoning dan menamparnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Dam Seo kesal.


“Aku mengesampingkan kedudukanku dan menyembunyikanmu. Apa akan ada imbalannya untukku? Kenapa? Haruskah aku memanggil dia kembali untukmu? Haruskah aku katakan padnaya kalau aku telah mencuri di kamarku sendiri?” tanya Pangeran Yeoning kesal dan hendak memanggil Sang Gil, namun Dam Seo langsung menutup mulut pangeran denga tangannya. 

“Dan jangan salah paham. Kau bahkan bukanlah tipeku,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo tak bisa berkata apa-apa untuk menjawabnya.


Di luar Sang Gil berteriak pada semua prajurit kalau Pangeran Yeoning hilang dan mereka semua harus mencarinya. Pangeran Yeoning pun keluar dan dengan nada marah dia bertanya kenapa Sang Gil membuat keributan di luar padahal dia sedang tidur. Tentu saja Sang Gil merasa terkejut melihat Pangeran keluar dari ruangannya, karena tadi dia masuk ke dalam tidak ada siapa-siapa. 


Agar Dam Seo bisa keluar dengan aman, pangeran meminta Sang Gil untuk mengambilkannya minum. Setelah Sang Gil pergi, Dam Seo keluar dan pangeran langsung menariknya pergi. 


“Jika kau seperti ini, itu akan menyebabkan kediaman ibuku menjadi buruk,” ucap Pangeran Yeoning dan Dam Seo memintanya untuk melupakan apa yang sudah dia lakukan. Pangeran Yeoning kemudian memberikan jadwal pemeriksaan yang Dam Seo cari. Saat ditanya kenapa Pangeran memberikan buku itu, dia menjawab kalau dia hanya ingin mereka berdua bisa saling mengenal satu sama lain dan mengetahui apa yang mereka inginkan, tahu apa tujuan mereka atau apa yang mereka sukai. 


“Pergilah... penginapanku akan segera tutup,” ucap pangeran Yeoning sama seperti yang Dam Seo ucapan malam tadi.


Hwang Gu memberitahu In Jwa tentang apa yang Selir Sukbin ingin ketahui. Selir Sukbin ingin mengetahui tentang Dae Gil.

“Nasib yang buruk. Dia adalah raja yang terlahir dengan gagang tiga pedang,” ucap Hwang Gu.

“Lalu... dia lahir dengan rasi bintang seorang raja?” tanya In Jwa.

“Dia terlahir denga takdir yang begitu kuat. Jika dia beruntung, dia bisa menjadi raja. Jika dia bertemu dengan nasib buruk, bahkan angin dan cahaya akan...,”

Hwang Gu meniup api lilin.”... menyebabkan nasib buruk yang akan berakhir di tebing itu.”


“Lalu bagaimana? Apakah dia masih hidup?” tanya In Jwa dan Dam Seo terlihat penasaran juga dengan jawaban dari Hwang Gu.

“Dia hampir tidak bisa bertahan, tapi dia masih bernafas,” jawab Hwang Gu dan In Jwa bertanya apa yang Hwang Gu pikirkan dan apa yang dia lihat.


Hwang Gu lalu menunduk dan dia mulai kesurupan. Di tengah kesurupannya, dia melihat sosok laki-laki yang membawa pedang.

“Takdirnya.... takdirnya... di bibir tebing jurang, takdir menjadi seorang raja... dia telah bertemu dengan takdir baiknya,” ucap Hwang Gu.

“Apa maksudmu takdir baik? Apa dia memiliki kekuatan?” tanya In Jwa dan Hwang Gu mengiyakan.

Kita kemudian diperlihatkan pada seorang pendekar berjalan menyusuri lumpur pantai dan pendekar itu adalah Kim Che Gun.

Dia bisa membelah gunung dan laut. Dia akan menjadi pendekar terbaik di negeri ini. Dia telah bertemu dengan seorang pendekar kekaiasaran,” ucap Hwang Gu.


Kemana Che Gun pergi? Ternyata dia menghampiri Dae Gil yang sudah di kubur di dalam timbunan lumpur. Dae Gil lapar dan berusaha memakan hewan yang melintas di depannya. Karena Dae Gil tak bisa menggapai hewan itu, Che Gun pun membantunya makan dan juga memberinya minum. 

“Matamu seperti mata harimau. Siapa kau?” tanya Che Gun.


“Maukah kau taruhan? Apakah kau bisa bertahan hidup atau mati?” ucap Dae Gil dan tertawa.

Bersambung ke Jakcpot episode 6

No comments :

Post a Comment