April 15, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 5 - 1


“Gae Ddong-a... maksudku Gae Dil... anakku, tidak peduli apa yang dikatakan orang. Kau adalah anakku. Anak Baek Man Geum, Dae Gil,” ucap Man Geum saat detik-detik terakhirnya.



Dae Gil tersadar dan langsung mencari ayahnya. Namun sekarang dia sudah berada di tengah sungai bersama Nam Dokkebi dan Nam Dokkebi berkata kalau semuanya sudah terlambat. Dae Gil menghampiri Nam Dokkebi dan bertanya dimana ayahnya. Dia tak bisa pergi tanpa sang ayah. Lagi-lagi Nam Dokkebi berkata kalau semuanya sudah terlambat karena sekarang sudah lewat 2 jam.  


Dae Gil shock dan menangis menyadari kalau mereka sudah meninggalkan Man Geum dengan kondisi tubuh di panah sampai 2 jam. Dalam kondisi seperti itu, akan mustahil sekali bagi Man Geum untuk bertahan hidup. 


Dalam perjalanan pulang, Dam Seo menuntut In Jwa untuk menceritakan semuanya. Dia ingin tahu kenapa In Jwa membunuh Man Geum. Awalnya In Jwa tak mau menjawab, tapi karena Dam Seo memaksa ingin tahu, jadi In Jwa pun berkata kalau Baek Man Geum adalah orang yang seharusnya sudah mati 20 tahun yang lalu sebagai korban untuk satu tujuan.

Namun Dam Seo tak percaya, In Jwa membunuh Man Geum hanya karena alasan seperti itu. Moo Myung meminta Dam Seo berhenti, tapi bukannya berhenti menuntut untuk tahu, Dam Seo malah menarik pedang milik Moo Myung dan mengarahkan ke lehernya sendiri. 


“Katakan.... dengan mengambil darah dari orang yang tidak berdosa dan memanfaatkannya. Orang yang lebih buruk dari bintang dan layak untuk mati. Tidak harus seperti itu untuk mendapatkan darah ke tangan mereka?” teriak Dam Seo dan masih mengarahkan pedang ke lehernya. 

“Apakah kau marah padaku? Maka kau akan mengarahkan pedang ke lehermu sendiri. Mengapa kau memilih untuk melukai diri sendiri?” tanya In Jwa dan kemudian menyuruh Dam Seo untuk membunuh dirinya tanpa ragu. 


Dam Seo pun langsung mengarahkan pedangnya pada In Jwa. Dia kemudian mengayunkan pedang ke arah lehernya sendiri lagi. Namun sebelum Dam Seo melukai dirinya sendiri, In Jwa langsung menahan pedang itu dengan tangannya sendiri. 

“Apa yang kau lakukan?” ucap In Jwa marah.

“Ceritakan semuanya. Kenapa harus ayahnya?” tanya Dam Seo dengan mata berkaca-kaca dan akhirnya In Jwa memberitahu Dam Seo kalau Baek Dae Gil adalah anak pertama raja dari Choi Sukbin. 


“Kau bisa mengatakan dia adalah kartu tersembunyi yang bisa dipergunakan untuk melawan Raja dan Yeoning,” tambah In Jwa. Namun Dam Seo masih tak bisa membenarkan mereka membunuh Man Geum, karena Man Geum tidak bersalah. 

“Bagaimana kau bisa begitu naif? Seharusnya kau sadar. Apa kau pikri sikap kekanak-kanakan bisa melawan Yeoning? Tidak ada yang bisa membuat seseorang lebih kuat daripada menderita.”

“Jika hanya untuk alasan itu, hidup dan keyakinan...bisakah dibuang?” tanya Dam Seo dan dengan nada marah, In Jwa bertanya keyakinan seperti apa yang Dam Seo percaya.


“Apa yang membuatku ingin membunuh Baek Man Geum? Dan mengapa... bisakah kau tidak menentangku? Apakah kau tidak tahu kalau hati yang lemah ini akan menyakitimu dan aku juga?” ucap In Jwa dan mengambil pedang Dam Seo.


Dam Seo terduduk lemas dan bertanya apa yang dia lakukan selama ini masih kurang. Dia mengaku kalau dia bisa bertahan selama ini karena rasa benci. Dam Seo juga masih bertanya-tanya apa alasan In Jwa melakukan semua ini dan apa yang In Jwa yakini.


In Jwa duduk di depan Dam Seo dan menyentuh wajahnya. “Dam Seo, kau putriku. Kau hidupku dan kau adalah segalanya untukku. Itulah alasanku. Itulah keyakinanku,” ucap In Jwa.


Dae Gil dan Nam Dokkebi sudah menepi. Dae Gil masih merasa sangat shock dan sedih dengan kepergian Man Geum, sampai-sampai dia masuk ke sungai dan mengutuk orang yang sudah membunuh ayahnya. 


Dae Gil membuka mata dan dia mendapati dirinya berbaring di bebatuan pinggir sungai. Dia kemudian melihat luka diperutnya yang ternyata sudah diobati oleh Nam Dokkebi.


Dae Gi dan Nam Dokkebi kembali ke rumah. Dae Gil langsung mengambil celurit dan berkata kalau dia akan membalas dendam pada orang yang sudah membunuh ayahnya. Nam Dokkebi berusaha menghentikan Gae Dil, namun rasa dendam Dae Gil sudah tak bisa ditahan lagi. 

“Kakek... jangan mencariku,” ucap Dae Gil dan pergi dengan emosi.


Di tempat perjudian, Hong Mae sedang mengawasi semua orang yang sedang berjudi. Tepat disaat itu Pangeran Yeoning  datang bersama pengawalnya dan Hong Mae pun langsung menghampirinya.

“Hari ini kau membawa seorang pria bukan seorang wanita. Siapa kau ini sebenarnya? Kau muncul ketika bulan purnama bersinar dan mengambil semua uangku? Kau tidak terlihat seperti memiliki hutang,”ucap Hong Mae dan Pangeran Yeoning  bertanya apa dia sudah melakukan hal yang salah. Hong Mae menjawab tidak ada, dia mengaku kalau dia ingin tahu apa Pangeran Yeoning  pandai bermain kartu dan Pangeran Yeoning  menjawab kalau dia bermain kartu hanya sebatas bersenang-senang, karena dia hanya seorang sarjana yang biasanya membaca buku. 

Namun Hong Mae tidak percaya dengan apa yang Pangeran Yeoning  katakan, dia merasa pangeran bukanlah orang biasa. Dia kemudian menyuruh Gamoolchi untuk mengantarkan Pangeran ke meja judi.


Turun ke meja judi, mata Pangeran Yeoning  melihat ke segala arah. “Dimana... kemana? Semua uang itu...,”tanya Pangeran dalam hati.


Tiba-tiba terdengar keributan dan saat Pangeran Yeoning  menoleh, ternyata itu adalah Dae Gil yang datang dan menyandera Hong Mae. Dengan menggunakan celurit, Dae Gil mengancam Hong Mae dan bertanya dimana orang yang sudah membunuh ayahnya. Hong Mae pun menjawab kalau orang itu adalah, “Sarjana Baek Myun”. Karena Dae Gil tak tahu siapa Sarjana Baek Myun, jadi dia meminta Hong Mae untuk mengantarkannya. 

Karena tak mau nyawanya melayang, Hong Mae pun mengantarkan Dae Gil, lagi pula dia tak perduli, siapa yang akan mati diantara Dae Gil dan orang yang disebut “Sarjana Baek Myun.” Melihat adegan Hong Mae disandera, Pangeran Yeoning  tersenyum.


Di rumah Lee In Jwa sedang bermain baduk bersama Moo Myung. In Jwa ternyata sedang menunggu kedatangan Dae Gil, karena dia sudah bisa menebak kalau Dae Gil pasti akan datang padanya untuk membalas dendam. Tepat disaat itu, Dae Gil muncul bersama Hong Mae dan Hong Mae langsung meminta agar In Jwa menolongnya. Hmmm... ternyata orang yang disebut sebagai “Sarjana Baek Myun” adalah Lee In Jwa. 


Melihat In Jwa, Dae Gil pun ingat kalau orang itu adalah orang yang sudah memberikan uang 1 nyang-nya. Tak mau salah orang, Dae Gil bertanya pada Hong Mae, apakah In Jwa betul-betul orang yang sudah membunuh ayah Dae Gil dan Hong Mae menjawab kalau dia tak melihatnya sendiri, tapi dia sangat yakin kalau yang mambunuh Man Geum adalah In Jwa.


Dae Gil melepaskan Hong Mae dan maju menemui In Jwa. Saat Dae Gil bertanya kebenaran tentang In Jwa yang sudah membunuh Man Geum, In Jwa dengan santai membenarkan. 

“Kenapa kau membunuhnya? Kenapa kau melakukannya? Apa yang dia lakukan sehingga kau membunuhnya?” tanya Dae Gil emosi.


“Jika kau tahu, Baek Man Geum bisa bangkit dari kematian?” ucap In Jwa menyindir karena melihat tingkah Dae Gil yang begitu sangat marah atas kematian Man Geum.  Dae Gilpun  langsung menyuruh In Jwa untuk tidak berbicara sembarangan tentang Man Geum. In Jwa lalu memberitahu Dae Gil kalau jasad Man Geum sudah dikuburkan dibelakang rumahnya, jadi Dae Gil seharusnya pergi kesana dan berdoa untuk Man Geum.


In Jwa beranjak dari duduknya dan menyuruh Dae Gil kembali lagi sebagai harimau yang besar jika ingin membalas dendam atas kematian Man Geum. Dan In Jwa akan menunggu sampai waktu itu tiba. 

Kemarahan Dae Gil sudah tak bisa dibendung lagi, dia hendak menghampiri In Jwa dengan celuritnya namun  ditahan oleh Dam Seo. 


“Maaf.. aku tidak bisa berpura-pura tak mengenalmu,” ucap Dam Seo dan kemudian menghajar Dae Gil. Dam Seo kemudian memberikan pedangnya pada Dae Gil, “Jika kau ingin membalas dendam, ambillah pedang itu.”


Dae Gil mengambil pedang  dan mengarahkannya pada Dam Seo. Namun Dam Seo mengelak dan kemudian melumpuhkan Dae Gil dengan cepat. Yang In Jwa punya hanyalah rasa dendam, dia tak punya keahlian bela diri. Jangankan berhadapan dengan In Jwa, untuk mengalahkan Dam Seo saja Dae Gil tak bisa. 

“Sekarang, bahkan kau tidak bisa menyentuh ujung pakaianku, apalagi pada sarjana,” ucap Dam Seo dan Dae Gil bangkit kembali. Namun tiba-tiba seseorang memukul kepala Dae Gil sehingga membuatnya pingsan. 


Yang memukul Dae Gil adalah Hong Mae. Dengan marah dia terus memukuli Dae Gil yang sudah tak sadarkan diri. Hong Mae merasa marah dan geram pada Dae Gil, karena tadi dia sudah menyandera dirinya. Tak tega melihat Dae Gil terus dipukuli oleh Hong Mae, Dam Seo pun menyuruhnya berhenti. Namun Hong Mae tidak mau, karena dia takut kalau orang seperti Dae Gil dibiarkan hidup, suatu saat dia akan datang lagi pada Hong Mae dan membunuhnya. Jadi, sebelum hal itu terjadi, Hong Mae ingin membunuh Dae Gil sekarang juga. 


Hong Mae hendak memukul Dae Gil lagi dengan kayu, namun tiba-tiba seseorang menangkap tangannya dan orang itu adalah Pangeran Yeoning. Saat ditanya apa alasan Pangeran datang ke tempat itu, Sang Pangeran menjawab kalau dia datang karena tertarik pada Dam Seo. Pangeran lalu sejenak melihat kea rah Dae Gil. 

“Kenapa kau tidak hentikan sekarang? Bulan bersinar terang dan ini malam yang indah,” ucap Pangeran pada Hong Mae. Kesal karena tak bisa membunuh Dae Gil malam itu juga, Hong Mae menendang dan meludahi Dae Gil lalu berjalan pergi. Setelah itu Pangeran memerintahkan pengawalnya untuk membawa Dae Gil. 


Pangeran Yeoning  kemudian menemui In Jwa. Saat ditanya apa yang membawa Pangeran datang, pangeran pun menjawab kalau dia mendengar ada harimau yang tinggal di daerah pegunungan, tapi sepertinya dia sudah datang ke tempat yang salah. Karena di tempat itu, tidak ada harimau yang ada hanya kucing liar. 


In Jwa lalu bertanya apa Pangeran Yeongnim bisa membunuh harimau itu jika dia menemukannya dan Pangeran menjawab tidak bisa.

“Ketika pagi datang, dia akan berada di tempat perjudian dan setelah matahari terbenam sebagai gisaeng di Wolhyanggak. Siapa sebenarnya dia?” tanya Pangeran pada In Jwa tentang Dam Seo yang memang saat itu sedang bersama mereka. In Jwa menjawab kalau Dam Seo adalah seorang gisaeng yang bisa mengendalikan para istri pejabat tinggi, selain itu Dam Seo juga seorang sarjana. Pangeran Yeoning berpendapat kalau Dam Seo bisa masuk ke istana dengan kepintarannya itu.  Mendengar hal itu, Dam Seo hanya melirik dengan tatapan tidak senang.

“Kenapa? Apakah dia memiliki dendam pada Raja?” tanya Pangeran Yeoning  dan In Jwa menjawab kalau semua itu hanyalah lelucon. 

“Apanya yang lelucon? Di tahun anjing, keluargamu hancur. Bahkan jika kau menyimpan dendam terhadap raja, itu bukan sesuatu yang aneh. Apa aku salah?” tanya Pangeran.


Apa-apaan ini? Apa kau mencoba untuk memprovokasiku?” tanya In Jwa dalam hati.


Aku memberitahumu agar menunjukkan kekuatan yang kau miliki. Kekuatan yang selama ini kau sembunyikan,” jawab Pangeran Yeoning  dalam hati. Mereka berdua seolah-olah berbicara dengan pandangan mata yang sama-sama tajam.

Kau hanyalah seorang pangeran. Apa yang bisa kau lakukan padaku?

Setidaknya… aku bisa memotong lidahmu itu.


Pangeran Yeongnim  membawa Dae Gil ke seorang tabib dan si tabib berkata kalau Dae Gil terluka parah, sebuah keajaiban Dae Gil masih hidup sampai sekarang. 

“Jika dia bangun, jangan katakana padanya tentang aku,” ucap Pangeran Yeoning  pada si tabib dan kemudian pergi.


Paginya, Pangeran Yeoning  dan Putra Mahkota Yoon menemui Raja. Pangeran Yeoning kemudian memberikan sebuah dokumen pada sang Raja untuk diperiksa. Setelah melihat isi dokumen yang Pangeran Yeoning bawa, Raja kemudian bertanya apa Pangeran tahu kenapa harimau yang sudah kehilangan induknya bisa mati begitu mudah dan jawabanya karena anak harimau itu terlalu gegabah. Mendengar pernyataan itu, Pangeran Yeoning langsung meminta maaf.

“Aku pernah menceritakannya pada kalian berdua, dulu. Itu tentang binatang dan hujan. Apa kalian ingat cerita itu?” tanya Raja.

“Apa yang anda maksud, binatang dengan 100 mata dan 1.000 telinga?” jawab Putra Mahkota Yoon.


“Benar, semua orang melihat binatang yang sangat aneh. Jadi bukannya bersyukur karena turun hujan, tapi orang-orang selalu takut tentang hal itu. Ada orang-orang yang melempar batu. Ada juga orang-orang yang menusuk menggunakan besi. Jadi, binatang itu tidak bisa lagi bertahan pada saat hujan turun. Mereka keluar dan menelan mereka. Membunuh binatang sama artinya langit akan mengering. Membiarkan binatang hidup, mereka takut munculnya masalah di masa depan. Apa yang mereka lakukan kepada binatang itu?” tanya Raja.


“Karena untuk kebaikan binatang itu… aku akan menenangkannya dan membuangnya ke laut,” jawab Putra Mahkota Yoon dengan tenang.

“Dan kau?” tanya Raja pada Pangeran Yeoning.


“Ayahanda… binatang itu tidak bisa tenang atau dibunuh.  Selain itu… hal itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saja,” jawab Pangeran Yeoning dan Raja bertanya kenapa. “Binatang itu...,” Pangeran membungkukkan tubuhnya, “….. adalah anda, Ayahanda.”

Raja langsung melempar dokumen yang Pangeran Yeoning bawa, “Mulai hari ini, kau akan mulai bekerja di Kantor Inspektur Jendral,” ucap Raja.

“Hamba akan melakukan yang terbaik dan mewujudkan keinginanmu,” jawab Pangeran Yeoning dengan penuh semangat.


Pangeran kemudian menemui ibunya dan Ibunya terlihat tak setuju pangeran bekerja di Kantor Inspektur Jendral. Pangeran Yeoning sadar kalau apa yang dia lakukan tidak benar, tapi dia tak bisa menghindarinya. Jadi dia meminta sang ibu untuk tidak berbicara dengan raja kecuali hanya untuk menyapa dan sang ibu mengerti.

“Siang dan malam berhubungan dengan alcohol dan perempuan. Menjadi pria hidung belang yang tidak memiliki masa lalu atau masa depan. Aku tahu.. aku mendengar dengan banyak telinga. 100… 1000 kali! Aku mencoba untuk menjadi seperti itu. Tapia pa yang sudah berubah? Apa yang sudah aku dapatkan? Aku hanya sebagai anak nakal dan manja. Apa sebenarnya yang akan aku dapatkan dari semua itu?”


“Yeoning… itulah satu-satunya cara agar kau berhasil,” jawab Selir SUkbin.

“Tidak. Aku sudah dewasa sekarang. Aku sudah dewasa. Ini pilihanku… aku akan sendirian sekarang,” ucap Pangeran Yeoning dan pergi. Dayang Selir Sukbin kemudian masuk dan membawa berita untuk Selir Sukbin.  


Gae Dil sudah sadarkan diri dan dia mendengar ada seseorang yang datang di luar sana. Orang yang datang adalah Selir Sukbin, dia datang untuk melihat pasien yang pangeran Yeoning bawa. Selir Sukbin kemudian masuk ke ruang perawatan dan disana sudah tak ada siapa-siapa. 


Setelah Selir Sukbin keluar ruangan, Dae Gil pun keluar dari persembunyiannya. Dari celah, Dae Gil melihat Selir Sukbin berjalan pergi, namun dia hanya melihat bagian belakangnya saja.  


Dae Gil bersama Nam Dokkebi pergi mencari makam Man  Geum berdasarkan apa  yang In Jwa katakana. Dengan langkah tertatih-tatih, akhirnya Dae Gil menemukan makan Man Geum.


“Ayah…. Ayah, aku disini. Ini aku… anakmu… Gae Ddong. Ini anakmu, Gae Ddong,” ucap Dae Gil dan menangis. 


Dae Gil kemudian menuangkan arak dan minum di depan makam sang ayah.  “Ayah, kau ingat? Ketika kau, kakek dan aku mendatangi 8 kota untuk berjudi ayam. Saat itu sangatlah menyenangkan. Apakah kau tidak berpikir begitu ayah?” ucap Gae Dil dan tak bisa berkata-kata lagi.



Gae Dil sekarang sudah berada di rumah. Dia menyiapkan banyak makanan untuk dirinya dan juga Nam Dokkebi. Melihat ekspresi muramnya Dae Gil, Nam Dokkebi tak jadi mengangkat sendok. 

“Tunggu dulu, apa kah ini suatu pemakaman yang dipersiapkan untukmu? Hei, kau pikir kau bisa mempersiapkan makanan ini untuk pemakamanmu? Dan kau menatapku seolah-olah kau akan segera mati. Aku tidak bisa makan makanan ini sekarang. Aku tidak bisa makan makanan ini!” ucap Nam Dokkebi dan Dae Gil menghentikan makannya. Dia kemudian memberikan penghormatan terakhirnya pada Nam Dokkebi. 


“Kakek…. Kau makan bersamaku… dan tinggal dirumahku sampai sekarang. Kau menerima semua sifat-sifatku. Kau selalu ada untukku dan menghiburku. Terima kasih. Namun… hatiku disini… aku merasa sedih dan aku tidak bisa hidup seperti ini. Ini sangat tidak adil dan aku sangat marah. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar,” ucap Dae Gil dan menangis. Dengan tatapan kebencian dia berkata kalau dia tidak perduli kalau dia harus mati. Mau itu In Jwa atau dia yang mati, Dae Gil akan tetap membalas dendam, karena semua itu akan berakhir jika salah satu diantara mereka sudah mati. 

Nam Dokkebi tak bisa menahan Dae Gil pergi, walaupun dia sangat tak ingin Dae Gil mengorbankan dirinya seperti itu. 


Dengan tubuh yang masih penuh dengan luka, Dae Gil kembali pergi ke rumah In Jwa dan kali ini dia membawa busur dan anak panah. Karena teriakan Dae Gil, semua orang yang menghuni di rumah In Jwa keluar semua. 


Tanpa basa basi, Dae Gil langsung mengarahkan panahnya pada  In Jwa dan itu reflek membuat Moo Myung dan Dam Seo menghunuskan pedang mereka. Namun In Jwa menyuruh mereka berdua untuk menurunkan pedang mereka. 


“Jika kau ingin membunuhku, jangan ragu. Aku akan memberimu kesempatan. Lakukan sekarang,” ucap In Jwa dan bersiap untuk dipanah. Namun anak panah yang Dae Gil lepaskan meleset.

“Bukan begitu cara memanah. Kau harus berdiri dengan kaki selebar bahu dan seimbang. Ketika kau menarik busurnya. Kau harus menggunakan bahumu, bukan lenganmu. Dan juga, dahimu, bibirmu, lidahmu dan perasaanmu. Kau harus focus untuk menyerang targetmu,” ucap In Jwa.


“Tutup mulutmu. Aku tidak butuh ceramahmu!” teriak Dae Gil dan berjalan maju sambil melepaskan anak panahnya. Untuk panah yang kedua ini, Dae Gil berhasil melukai pipi In Jwa. 


“Kalau kau sudah siap,” ucap In Jwa dan mendekati Dae Gil. Dae Gil pun kembali mengarahkan panahnya pada In Jwa. “Aku akan memberikan satu kesempatan lagi. Bunuh aku dengan panah itu. Tapi kali ini kau harus mempertaruhkan kehidupanmu. Apa kau sudah siap melakukannya?”


In Jwa melempar buah baduk dan menangkapnya. Dia kemudian meminta Dae Gil untuk menebak ditangan mana baduk tersebut. Jika Dae Gil salah menebak maka dia akan kehilangan salah satu anggota tubuhnya. 

Apakah Dae Gil berhasil menebaknya? Apa Dae Gil akan berhasil membunuh In Jwa atau sebaliknya? Jangan kemana-mana tunggu kelanjutan ceritanya di part selanjutnya.

Jackpot ( Daebak ) Episode 5 - 2

4 comments :

  1. Huahaaaaa pakek tabahan jangan kemana kemnaa..
    Harus tanggung jawab unni updatenyaa iaaa qjuga nunggu sipnopnya MC 12 2 lohh

    ReplyDelete
  2. drama yg paling ak tunggu2, makasih udah buat sinopsisnya, semangat terus ya kaka.

    ReplyDelete