April 8, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 3 - 2


Setelah memeriksa dengan teliti, kedua bidan menjawab kalau bayi tersebut bukanlah anak Selir Choi. Tentu saja Permaisuri Jang langsung protes dan meminta bidan memeriksanya lagi. Namun salah satu bidan menjawab kalau mereka sangat yakin dengan jawaban mereka, karena wajah bayi berbeda dan tidak punya tanda lahir di dada. 



Panik, Permaisuri Jang pun langsung mengambil bayi dan menunjukkannya pada Raja. Dia ingin Raja sendiri yang memastikan apa bayi itu anak Selir Jang atau bukan. 


“Anak ini.... bukanlah pangeran,” jawab Raja setelah melihat wajah si bayi. Rajapun terlihat marah dan Permaisuri Jang langsung berlutut  ketakutan. Namun Permaisuri Jang  masih tak percaya dengan semua yang terjadi, dia masih sangat yakin kalau anak Selir Choi masih hidup. 


“Jangan bilang kau mempermainkanku lagi?” tanya Permaisuri Jang dan kembali berdiri. “Beraninya kau..,”teriak Permaisuri Jang dan hendak menyerang Selir Choi.  Namun sebelum Permaisuri Jang sampai pada Selir Choi, Raja langsung menahannya dengan menarik rambut Permaisuri Jang.


Semua orang terkejut dan langsung menunduk. Terkecuali Man Geum, dia terlihat tenang melihat pertunjukan itu. 



Raja benar-benar murka, dia sampai menyeret Permaisuri Jang dan mendorongnya keluar. Dengan emosi, Raja meminta agar Permaisuri Jang menghentikan semuanya. Raja lalu pergi dan pintu ditutup.


Man Geum dibebaskan bersama bayinya. Di depan istana, Man Geum teringat kembali kata-kata Selir Choi yang berkata, “Aku tak punya pilihan lain. Aku pikir dia akan mati. Aku pikir kita akan mati.”


Di sudut kamar, Selir Choi menangis tersedu-sedu. Dia menangisi apa yang baru saja terjadi padanya. 


Kita beralih ke rumah Nam Dokkebi , dimana istrinya marah-marah karena Man Geum salah membawa anak. Anak yang dibawa Man Geum ternyata anak Nam Dokkebi dan anak Selir Choi ada bersama Nam Dokkebi. Tepat disaat itu, Man Geum datang dan mengembalikan anak Nam Dokkebi

Istri Nam Dokkebi langsung mengambil anaknya dan menampar Man Geum, “Kau tak bisa membedakan yang mana anakmu? Padahal aku sudah mau menyusuinya. Kenapa kau ambil anakku? Kenapa?!” teriak istri Nam Dokkebi dan Man Geum hanya diam saja. 


Man Geum pun mengambil anaknya dan pulang. Baru beberapa langkah keluar dari rumah Nam Dokkebi, Man Geum berhenti dan menoleh ke belakang.

“Jaga dirimu... kita takkan bertemu lagi,” ucap Man Geum dan melanjutkan jalannya. 


Nam Dokkebi keluar dan berkata kalau dia pikir Man Geum akan dipukuli sampai mati, karena itu dia tadi berniat ingin pergi ke istana. Ternyata mereka berdua yang merencanakan penukaran anak itu. 



Akibat perbuatan Permaisuri Jang terhadap Selir Choi, para menteri pun melakukan protes agar Raja menghukum Permaisuri Jang dengan hukuman yang lebih berat. Mereka menuduh Permaisuri Jang sudah memanipulasi tahta. Bukan hanya menghukum Permaisuri Jang, para menteri juga meminta Raja untuk menghukum keluarga Jang. 

Raja pun melakukan permintaan para menteri. Semua keluarga Jang di hukum dan Jang Hee Jae ditangkap. 


Dam Seo bernarasi, “Tahun 1694. Tahun anjing, Yeoning lahir. Pemerintahan Sukjong mulai runtuh karena menyalahgunakan kekuasaan. Karena kejahatannya, Jang Ok Jung diasingkan.


Ok Jung dibawa paksa oleh prajurit dari istananya. Putra Mahkota Yoon muncul dan memanggil sang ibu. Ok Jung pun menghampiri Putra Mahkota Yoon dan memintanya untuk jangan takut.


“Jangan khawatirkan Ibunda. Dengarkan baik-baik yang kukatakan. Hancurkan mereka. Siapapun yang menyulitkanmu, siapapun yang mengkritik dan menghalangimu, jangan maafkan mereka. Mengerti? Jangan lakukan kesalahan yang sama sepertiku. Kau harus ingat itu,” pesan Ok Jung.


“Ibunda...”

“Begitu kau akan duduk di tahta, begitulah kau akan jadi raja negeri ini. Raja dari Joseon, Kau mengerti?” tambah Ok Jung dan Putra Mahkota Yoon berjanji akan mengingat ucapan sang ibu. 


Raja muncul dan Ok Jung memberikan salam penghormatan terakhirnya dengan menangis. Tanpa berkata sepatah katapun, Raja langsung pergi.


Lee In Jwa menemui Putra Mahkota Yoon yang terlihat sangat ketakutan, dia bahkan menyembunyikan dirinya di dalam selimut. In Jwa memberitahu Putra Mahkota Yoon kalau dia akan menentukan nasib Putra Mahkota Yoon melalui kantung berisi buah catur hitam dan putih.

In Jwa kemudian menyuruh Putra Mahkota Yoon mengambil satu. Jika dia mendapat hitam maka dia akan ditolak orang-orang dan tidak bisa menghindari kematian, tapi jika Putra Mahkota Yoon mendapat buah warna putih, dia akan selamat dan di masa depan dia akan menduduki tahta. 


Putra Mahkota Yoon kemudian mengambil satu buah catur dan itu adalah buah catur berwarna putih. Tentu saja hal itu membuat Putra Mahkota Yoon bernafas lega dan Lee In Jwa berkata kalau dia akan melindungi Putra Mahkota. 

“Tapi, jika aku membantumu, apa yang bisa Pangeran berikan?” tanya In Jwa. Putra Mahkota menjawab kalau dia akan memberikan semuanya pada In Jwa termasuk tahtanya. Namun In Jwa menjawab kalau Putra Mahkota Yoonlah yang harus duduk di tahta, yang ingin In Jwa terima hanya hati Putra Mahkota Yoon saja. 


Kita beralih pada pertemuan yang diadakan oleh para dewan menteri kerajaan yang dipimpin Jo Il Soo. Choi Yi Seok kemudian memberi ide agar mereka meyakinkan pangeran agar mau berada di pihak mereka. Tak lama kemudian para gisaeng muncul dan memberikan sebuah kotak pada masing-masing menteri. 

“Apa ini?” tanya Jo Il Soo pada gisaeng itu, namun mereka tak menjawab, malah berjalan keluar ruangan.


“Silahkan dibuka,” ucap seseorang yang muncul di balik tabir. Mereka semua kemudian membuka kotak itu dan ternyata isinya emas batangan. 

“Itu adalah harga untuk nyawa pangeran,” ucap Pria di balik tabir dan Il Soo bertanya siapa dia. Namun pria itu tak menjawab, dia hanya berkata kalau hal yang paling bahaya adalah pisau yang tajam dan jika mereka semua tidak mengganggu Putra Mahkota, maka pria itu akan memberikan pisau tajam itu pada mereka.

Pria dibalik tabir itu adalah Lee In Jwa, namun dia tak mau menampakkan diri di hadapan mereka semua. 


Keluar ruangan, Hwanggoo Yeomeom mengaku terkejut dengan semua rencana In Jwa. Pertama dia menyingkirkan Permaisuri Jang, lalu dia nanti akan membunuh putra mahkota dan memanipulasi Selir Choi. 


“Menurutmu cuma sampai sejauh ini?” tanya In Jwa dan melempar buah catur yang ada di dalam kantung. Itu adalah buah catur yang dia bawa pada Putra Mahkota Yoon dan ternyata isinya bukan berwarna hitam dan putih, melainkan semua berwarna putih. Ternyata In Jwa memang sengaja membuat Putra Mahkota Yoon berada di pihaknya.

~Sangju, 20 tahun kemudian~


Gae Ddong sekarang sudah besar, bersama Man Geum, dia ikut permainan adu ayam. Agar ayam mereka menang, Man Geum sengaja memberi si ayam makan cabai. Nam Dokkebi tak setuju, karena ayam bisa sakit perut jika makan cabai, namun Man Geum tetap melakukannya, karena dia ingin menang. 


Adu ayam dimulai dan diluar dugaan, ayam Man Geum kalah. Awalnya, si ayam dengan semangatnya bertarung namun tiba-tiba dia diam dan tak mau bertarung. Sepertinya ayam itu sakit karena makan cabai dan tak perlu menunggu lama, sekarang ayam itu sudah dijadikan menu makan mereka bertiga. 


Man Geum terlihat lesu karena penghasilan mereka dengan ikut adu ayam hilang. Gae Ddong menjawab kalau sang ayah tidak perlu khawatir, mereka bisa bermain kartu untuk penggantinya, lagi pula bermain kartu adalah keahlian Man Geum. 

“Pemain kartu terhebat Joseon, Baek Man Geum, harus main kartu,” ucap Gae Ddong dengan optimisnya. 


Mendengar nama Baek Man Geum disebut, salah satu pengunjung kedai memanggilnya dan memberikan pengumuman turnamen besar yang akan diadakan di Hanyang. Itu adalah turnamen untuk semua pejudi dan acara itu akan diadakan sebulan lagi. 



In Jwa sedang menikmati keindahan sakura putih, tiba-tiba seorang wanita hendak menyerangnya, namun serangan itu dengan cepat di halau oleh seorang pria. Wanita itu adalah Dam Seo, dia anak Yi Soo dan pria yang menghalaunya tadi adalah Moo Myung. Dam Seo dan Moo Myung pun bertarung, mereka terlihat mempunyai kemampuan yang seimbang dalam bertarung. 


“Hentikan,” ucap In Jwa dan merekapun berhenti bertarung.


In Jwa memanggil Hong Mae dan bertanya tentang turnamen besar yang akan mereka lakukan. Hmmm…. Ternyata turnamen itu adalah ide In Jwa dan dia ingin semua penjudi Joseon datang ke Hanyang.  Sepertinya In Jwa ingin memancing Man Geum agar kembali ke Hanyang. 


Gae Ddong melihat selebaran turnamen itu dan dengan yakin dia mengajak ayah dan juga Nam Dokkebi pergi ke Hanyang. Namun Man Geum tidak mau, dia tak mau pergi ke Hanyang.

“Aku ini lahir sebagai pria. Apa tidak boleh aku ke Hanyang sebelum aku mati?” tanya Gae Ddong ngotot.


“Kau kira Hanyang itu dekat?” tanya Man Geum dan memukul kepala Gae Ddong. “Berhenti bicara tentang Hanyang.”

Apa yang Man Geum katakan didukung oleh Nam Dokkebi. Dia bahkan berkata kalau Man Geum tidak mau bermain kartu lagi. Gae Ddong kesal dan mengingatkan sang ayah kalau dulu dia pernah berjanji akan menikahkan Gae Ddong dengan wanita bangsawan, jadi dia ingin sang ayah menepati janjinya itu. Dengan rasa bersalah, Man Geum pun menjawab kalau dia akan menikahkan Gae Ddong. Namun untuk sekarang mereka tak punya uang untuk pergi ke Hanyang. 


“Kalau uangnya ada, mau pergi?” tanya Gae Ddon serius. Tak bisa mengatakan tidak, Man Geum pun menjawab kalau uang yang mereka butuhkan untuk pergi ke Hanyang adalah 100 nyang. Mendengar jumlah uang yang sangat besar, Gae Ddong mulai berpikir dan kemudian berkata kalau dia bisa mendapatkang uang sebanyak 100 nyang. Jadi, dia meminta Man Geum untuk tidak mengingkari janjinya, jika dia mendapatkan uang sebanyak 100 nyang. 


Gae Ddong pergi ke sarang penyamun dan memberitahu sang bos perampok kalau ada penyusup di daerah mereka. Setelah mendengar kabar dari Gae Ddong, si bos langsung mengajak semua anak buahnya untuk menyerang si penyusup. Disaat semuanya sudah pergi, Gae Ddong langsung masuk ke tempat penyimpanan dan mengambil uang disana. 



Tepat disaat itu, bos perampok datang dan menyuruh anak buahnya untuk menangkap Gae Ddong. Si bos perampok tahu kalau tadi Gae Ddong berbohong, karena dia hafal betul dengan semua anak buahnya.


Melihat semua perampok menghampirinya, Gae Ddong pun bergumam kalau Man Geum sudah melarangnya untuk berkelahi. Karena larangan dari Man Geum itu, Gae Ddong pun hanya lari dan menghindari para perampok, tanpa memukul mereka. 


Man Geum dan Nam Dokkebi menunggu kedatangan Gae Ddong. Sambil makan bunga, Man Geum bertanya-tanya apa pergi ke Hanyang bersama GaeDdong adalah ide yang bagus. Tepat disaat itu Gae Ddong muncul dan memberikan 100 nyang pada Man Geum. 


“Dari mana kau dapat ini?” tanya Man Geum panik dan tepat disaat itu rombongan perampok muncul untuk mengambil uang mereka. Menyadari Gae Ddong mengambil uang dari kelompok perampok, Nam Dokkebi dan Man Geum langsung ikut lari.



Mereka bertiga sekarang sudah berada di tempat yang aman, mereka terbebas dari kejaran perampok. Gae Ddong mengeluh sakit kaki, karena terlalu banyak berlari dan dia tak bisa pergi ke Hanyang dengan berjalan kaki. Man Geum kemudian hendak membeli kuda, namun karena harga kuda terlalu mahal, jadi mereka pun pergi ke Hanyang dengan sebuah perahu. 


Man Geum dan Nam Dokkebi menikmati perjalanan mereka. Berbeda dengan mereka, Gae Ddong merasa kesal karena perahunya berlayar terlalu lambat.

“Kapan sampai Hanyang kalau begini?” ucap Gae Ddong dan hendak mengambil alih dayung di pemilik perahu. Karena pemilik perahu tak mau memberikannya, jadi mereka pun rebutan sampai akhirnya mereka terjebur ke sungai. 


Selir Choi sedang berjalan-jalan mengelilingi istana, tepat disaat itu mereka melihat burung layang-layang hinggap di atap gedung. Melihat burung itu, Selir Choi terlihat senang.

“Sepertinya tamuku sedang menuju kemari,” ucap Selir Choi dan melihat burung layang-layang itu terbang lagi. Selir Choi sekarang sudah berganti kedudukan, dari Sukwon menjadi Sukbin. 

“Gae Ddong, pemain kartu terhebat di Joseon akhirnya tiba di Hanyang!” teriak Gae Ddong senang sambil melihat kota Hanyang.


Hong Mae sedang tertidur, tiba-tiba Gamoolchi  masuk dan mengagetkannya. Tentu saja Hong Mae marah karena dia sudah terbangun dari tidur siangnya, namun amarahnya langsung reda saat mendengar Gamoolchi mengatakan kalau pria yang mengambil uang mereka bulan lalu datang kembali. 


Hong Mae pun menghampiri meja yang banyak dikerumuni orang. Disana dia melihat seorang pria sedang bermain judi dengan menggunakan dadu. Karena terus-terusan menang, diapun dikerumuni banyak Gisaeng. 


Kita kembali mendengar Dam Seo bernarasi, “Para gisaeng tidak tahu asal usulnya. Dia playboy sejati. Dia orang paling tamak di Joseon.”

Pria itu ternyata Pangeran Yeoning, anak dari Selir Choi dan Raja Sukjong. 


Di luar, ada pertunjukkan dua bocah cilik bernyanyi. Penasaran, Gae Ddong pun ikut bergabung dengan kerumunan orang dan menonton. Dia bahkan larut dengan nyanyian dua bocah cilik itu, sampai-sampai ikut bergoyang. Man Geum muncul dan mengajaknya pergi. Tapi karena Gae Ddong masih tak mau jalan, Nam Dokkebi pun menjewer dan menyeretnya jalan. 


Mereka pergi ke kedai untuk makan dan Gae Ddong makan dengan sangat lahapnya. Terus dipanggil dengan nama “Gae Ddong”, Gae Ddong pun merasa kesal.

“Gae Ddong… Gae Ddong.. nanti orang kira aku tahu (Ddong) beneran! Selain itu, kita bisa makan nyaman begini. Karena aku mencuri uang itu, iya kan?” ucap Gae Ddong kesal.

“Apanya yang nyaman? Memangnya kau pantas bicara begitu? Uang yang kau curi itu milik perampok. Apanya yang nyaman?” jawab Man Geum. Gae Ddong bergumam kalau sang ayah merasa tak nyaman, ya sudah.

“Jangan keliaran cari masalah terus,” kata Nam Dokkebi dan memukul kepala Gae Ddong. 


Gae Ddong lalu berkata dengan pede-nya kalau dia akan membelikan rumah dan tanah untuk ayahnya di Hanyang. Dan untuk mewujudkan semuanya, dia minta uang pada sang ayah untuk berjudi. Man Geum kemudian memberikan Dae Ddong 1 nyang.


“1 nyang sudah cukup untuk penjudi terhebat di Hanyang kan?” tanya Man Geum dan dengan sedikit kesal Gae Ddong mengiyakan, dia pun berjanji akan membuat 1 nyang itu menjadi 100 nyang bahkan 1000 nyang. 



Gae Ddong hendak pergi, namun Nam Dokkebi mencegahnya. Dia menjewer telinga Gae Ddong dan menyeretnya sampai ke rumah Man Geum yang lama. Melihat rumah yang sudah kumuh dan hancur, Gae Ddong pun bertanya-tanya itu tempat apa, rumah atau kandang kuda.


“Dulu aku dan ibumu tingggal disini,” ucap Man Geum. Dia kemudian teringat disaat Bok Soon mengepel lantai dan mencuci baju. Membayangkan senyuman manis Bok Soon saat menyambutnya pulang, Man Geum pun tanpa sadar ikut tersenyum dan bertanya apa Bok Soon baik-baik saja. 


Ia melihat Bok Soon menghampirinya dan memberikan sapu. “Yeobo… yeobo?” panggil Bok Soon. 


Gae Ddong membangunkannya Man Geum dari lamunannya. “Sedang apa? Sudah dirumah saatnya bersih-bersih,” ucap Gae Doong dengan lembut dan itu membuat Man Geum merasa Gae Ddong sudah dewasa.


Disaat Man Geum mulai menyapu, Gae Ddong diam-diam melarikan diri. Nam Dokkebi melihat dan langsung berteriak memanggilnya. Yaelah.. baru saja dipuji. 


Gae Ddong sudah berada di depan rumah judi sambil memegangi uang 1 nyang miliknya. Tepat disaat itu muncul seorang wanita bercadar mengendarai seekor kuda. Melihat kecantikan wanita itu dari balik cadar yang transparan,


Gae Ddong langsung terpesona. Wanita itu adalah Dam Seo.

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 4

1 comment :

  1. Pangeranku. .jang geun suk oppa. .^.^
    tetep ganteng walaupun dengan pakaian rakyat jelata. .

    ReplyDelete