March 19, 2016

Six Flying Dragon Episode 28

Six Flying Dragon Episode 28


Mereka segera mengejar nenek tua itu, tapi sudah menghilang. Dicari ke seluruh kamar di biara, tetap tak ada. Untungnya mereka berhasil menangkap satu anak buah Gil Sun Mi.




Di Dodang, kasus pembunuhan itu memicu penolakan dari golongan Lee Saek dan sisa pengikut Jo Min Soo. Jung Mong Joo yang sebelumnya sangat vokal mendukung reformasi tanah itu, sekarang hanya diam saja.



Saat Jung Do Jeon bertanya padanya, Jung Mung Jo menjawab, “Karena aku tahu apa kelanjutan dari reformasi tanah itu. Jadi, bagaimana aku bisa mendukungmu seperti sebuah tameng?”


Jung Do Jeon berkata kalau dua hal itu beda. Jika survey ini dihentikan, maka penolakan yang lebih besar akan terjadi di kemudian hari. “Apakah Sahyung tahu kalau pengirim surat tanpa nama itu adalah pihak yang membunuh ketiga pejabat pensurvey itu?”


Jung Mung Jo kaget, dan lebih kaget karena mendengar pelakunya adalah Moo Myeong, nama yang pernah disebut Raja Gong Min dulu. Jung Do Jeon berkata mereka telah dipermainkan oleh sebuah kekuatan yang tak ingin reformasi tanah berhasil.


Bang Ji memberitahu Boon Yi kalau ibu mereka masih hidup. Boon Yi merasa lemas mendengarnya. Bukan karena lega mendengar kabar ibunya, tapi karena ia tahu hal yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu. Ibu bukannya diculik, tapi memang benar-benar meninggalkan mereka.


Malam ketika Ibu mereka menghilang, ia melihatnya. Ia melihat seorang pria menemui ibu mereka dan berkata, ‘Dia yang tak pernah ada akan selalu ada’. Dan ibu menjawab, “Seorang tanpa nama, tak akan pernah hilang.’ Orang yang bertatoo Moo Myeong memperkenalkan diri kalau ia dari cabang Chunmyeongjo. Esok harinya, ia mendengar jawaban ibu, ‘Aku akan memutus hubungan dengan anak-anakku.’.


Keesokan harinya, ia mendapati ibu mereka telah menghilang. Ia tak cerita pada Bang Ji karena ia ingin percaya kalau yang dikatakan Bang Ji itu benar. Ibu mereka memang diculik dan bukannya meninggalkan mereka.


Bang Ji tak percaya dengan ucapan Boon Yi karena waktu itu Boon Yi hanya berumur 8 tahun dan mungkin banyak pikiran lain yang merasuki pikirannya. Boon Yi menangis, “Tidak. Kejadian itu terlalu jelas di ingatanku. Karena itulah aku sangat takut.”

Bang Ji semakin ingin mencari ibunya. Jika yang dikatakan Boon Yi benar, ia harus tahu alasan ibu mereka melakukan hal itu.


Sebagian anggota Dodang semakin menolak survey tanah dengan alasan tak ada yang mau menjadi petugas survey walau akan mendapat pengawalan ketat. Memang kelihatannya hanya alasan saja, tapi masuk akal. Pengawalan ketat pun tak berguna karena para pensurvey itu dibunuh di rumah sebelum mereka sempat bertugas.

Lee Saek memutuskan untuk menunda pendataan tanah hingga ketahuan siapa pelaku pembunuhan itu. Yang berarti mereka harus bisa mengorek keterangan dari anak buah Gil Sun Mi yang ditangkap.



Tapi mengorek informasi itu sangat sulit karena orang itu bertekad akan terus tutup mulut. Ia yakin ia akan diselamatkan oleh Moo Myeong.


Bang Ji kembali ke biara itu untuk mencari jejak ibunya. Tapi tak ada yang mengenal Yeon Hyang. Dia malah bertemu dengan Gil Sun Mi yang berjanji akan mempertemukannya dengan ibunya. “Datanglah ke Yeoamjeong pada tanggal 5 waktu mishi (jam 1 – 3 pagi). Datanglah sendiri dan jangan ceritakan hal ini pada orang lain jika kau masih ingin bertemu dengannya.”


Bang Won melaporkan kegiatan Jung Mong Joo yang pergi menemui Pangeran Wang Yo, yang berarti Jung Mung Jo punya pikiran lain. Hal ini membuat Jung Do Jeon marah besar karena Bang Won memata-matai temannya. Ia memperingatkan Bang Won untuk tak melakukannya lagi.


Saat Nam Eun melaporkan kalau tahanan mereka tutup mulut, Jung Do Jeon bertanya pada Bang Won apa ada cara untuk memperoleh informasi tentang Moo Myeong? Bang Won mengusulkan untuk memakai cara Yak San (tipuan di episode 12). Jung Do Jeon pun meminta Bang Won memimpin operasi Yak San untuk mengalihkan perhatian Bang Won dari Jung Do Jeon.


Rencana pun dilakukan. Orang itu diberi kesempatan untuk melarikan diri. Tak disangka, setelah orang itu dilepas, muncul teman Gil Sun Mi (yang di sebuah kesempatan diperkenalkan sebagai Pendekar Cheok dari Guk San) dan membunuh orang itu.


Tapi orang itu belum mati. Dengan bersimbah darah, ia mencari tempat untuk sembunyi dan kebetulan bertemu dengan Boon Yi. Orang itu berkata, “Mereka telah membuangku. Mereka malah mengirim pembunuh untuk membunuhku padahal aku tak berkata apapun, walau aku memegang sumpahku.”

Karena ia telah dibuang, maka ia memutuskan untuk membuka rahasia. “Tolong beritahu biro investigasi. Bunuh bunga pohon ash pada tanggal 5.



Orang itu kemudian mati. Belum sempat Boon Yi bergerak, sebuah pedang terhunus ke lehernya. Pendekar Cheok berniat membunuh Boon Yi. Tapi Boon Yi segera ingat kalimat sandi ibunya dulu dan ucapan Bang Ji yang mengatakan kalau orang di dalam organisasi itu tak saling mengenal tapi tahu siapa anggotanya dari sandi. Maka ia pun mengucapkan kalimat yang ia terus ingat. “Dia yang tak pernah ada akan selalu ada.”


Orang itu menurunkan pedangnya dan menjawab, “Seorang tanpa nama, tak akan pernah hilang.”

Komentar :

Untung Boon Yi berpikiran cepat dan menjawab ya.. Dan berarti kerahasiaan kelompok itu benar-benar rapat ya, sampai mereka tak khawatir ada orang yang menyusup. Masa 10 tahun kata sandi masih tetap? :)

Di episode ini friksi-friksi antara Jung Do Jeon dan Bang Won semakin terlihat jelas. Yang ditakutkan Jung Do Jeon mendekati kenyataan. Jika kerajaan baru tak ditengahi oleh seseorang yang dihormati golongan Sadaebu, maka akan muncul pertentangan di dalam negeri. Itu yang ingin dihindari oleh Jung Do Jeon. Maka ia benar-benar berusaha menarik Poeun di sisinya. Maka dari itu juga, ia sangat marah melihat Bang Won gegabah membuntuti Poeun. 

Padahal Bang Won yang orang luar, sadar kalau Poeun sulit untuk diyakinkan. Mendekati mustahil malahan. Sementara rakyat sudah tak bisa menunggu lama. Ia yang melihat orang-orang di sekitar Boon Yi yang terus menderita. Dia tak sabaran, sama seperti saat Jung Do Jeon mencoba membujuk Yi Seong Gye untuk menstempel Rencana Otonomi Perbatasan dan tak bisa menggoyahkan ayahnya. Apa yang ia lakukan? Menstempel rencana itu.

Apakah kali ini ia juga bertindak sama? Bertindak seperti kembang api yang tak tentu arah?


1 comment :

  1. Looovee mbk dee!muach muach ^^cerita yg rumit pun jd bs dimengerti klo mbk dee yg nulis mah..! :*

    ReplyDelete