March 13, 2016

Six Flying Dragon Episode 24


Ha Ryun, yang ahli membaca wajah, juga penasaran saat melihat wajah Bang Won karena jika dilihat dari dekat wajah Bang Won memiliki garis yang menakutkan. Ia terus mengamati wajah Bang Won dan berkata, “Jika dilihat-lihat.. kau dan aku itu mirip.”


Bang Wong terdiam sejenak dan kemudian tertawa terbahak-bahak. “Duh.. rasanya mau gila. Kenapa sih dengan semua orang? Kau dan aku.. punya wajah yang sama?”



Ha Ryun berpikir sebentar dan mengangguk, “Iya! Kita berdua sama-sama memiliki wajah yang imut.”


Hahaha… tidaaakk.. masa iya sama. “Maaf, ya. Tapi apa Anda tak pernah melihat kaca akhir-akhir ini?” sindir Bang Won pedas.


Ha Ryun berkata kalau Bang Won memang sedikit lebih tampan darinya. Dan saat Bang Won mengatakan kalau Hong In Bang juga mengatakan mereka mirip, Ha Ryun malah mengatakan Bang Won dan Hong In Bang tak mirip, malah berlawanan. Energi Bang Won yang sedangkan Hong In Bang yin.

“Kau adalah orang yang ingin memerintah, sedangkan Hong In Bang butuh melayani orang lain. Seharusnya Hong In Bang terus melayani Lee In Gyeom hingga akhir. Tapi tidak denganmu. Jadi mulai sekarang, kau harus menjaga orang yang akan kau perintah, bukan orang yang kau layani.”


Sementara Bang Ji dan Moo Hyul hampir berhasil menumpas semua orang jika seseorang tak muncul dan menghadang mereka. Ilmu pedangnya sangat kuat bahkan membuat Moo Hyul terdorong ke belakang. Bang Ji berhasil menebas topi pendekar itu sehingga terlihat wajahnya.


Bang Ji dan Moo Hyul kaget melihat siapa si pendekar. Bang Ji segera mengenali orang yang dulu pernah menyelamatkannya, Gil Seon Mi. Tapi Moo Hyul mengenalinya sebagai Gil Tae Mi, membuat Gil Seon Mi kesal, “Aku bukan Gil Tae Mi!”


Bang Ji bertanya apa Gil Sun Mi tak tahu siapa dirinya? Mulanya Gil Sun Mi mengenali Bang Ji sebagai ahli pedang terbaik di Goryeo. Tapi Bang Ji mengingatkannya tentang Jang Sam Bong yang membuat Gil Sun Mi ingat pada anak remaja yang dulu pernah ia titipkan pada Jang Sambong, anak Yeon Yang.

Masih banyak yang ingin ditanyakan Bang Ji akan ibunya, tapi pembicaraan mereka terputus karena salah satu anak buah Gil Sun Mi melaporkan kalau si pembawa data terbunuh dan kotaknya hilang. Moo Hyul mengenali panah milik Bang Won dan diam-diam memberitahukan hal ini pada Bang Ji.


Boon Yi yang menyamar menjadi pendekar Hwasadan berhasil menangkap Ha Ryun dan membebaskan Bang Won. Dengan berpura-pura menyandera Boon Yi, Bang Won berhasil melarikan diri bersama kotak data itu. Para pendekar wanita itu mengejar Bang Won setelah teman mereka dilepaskan.


Mereka tak menyangka kalau teman mereka itu adalah Boon Yi yang langsung kembali ke gubuk untuk membungkus buku-buku Jo Joon.



Ternyata ini adalah taktik Bang Won untuk menyelamatkan data-data tersebut. Saat akan melarikan diri, Ha Ryun sempat melihat wajah Boon Yi dengan jelas dan terkejut. Dalam hati ia bertanya, bagaimana Boon Yi memiliki bentuk wajah seperti itu?


Para pendekar berhasil menangkap Bang Won tapi tentu saja mereka tertipu karena kotak itu memang kosong dan menyadari kalau teman yang disandera itu sebenarnya adalah kelompok Bang Won. Tapi mereka tak bisa menahan Bang Won lebih lama karena kedatangan Bang Ji, pendekar nomor satu di Goryeo. Mereka segera melarikan diri.


Di tengah jalan, Boon Yi dihadang oleh Gil Sun Mi yang kesal karena lagi-lagi dikenali sebagai Gil Tae Mi. Ia minta Boon Yi untuk menyerahkan data tersebut. Boon Yi tak mau, “Langkahi dulu mayatku”. Gil Sun Mi kaget melihat tatapan mata penuh tekad dari mata Boon Yi. Ia semakin terkejut saat Bang Ji datang dan Boon Yi memanggilnya kakak.


Berarti gadis di hadapannya ini adalah Boon Yi, putri Yeon Yang. Ia lega karena ternyata Boon Yi masih hidup. Tak disangka, ia melepaskan Boon Yi dan membiarkan mereka mengambil data milik Jo Joon.


Boon Yi mendapat pujian dari Jung Do Jeon karena berhasil menyelamatkan data-data itu. Sementara Ha Ryun menerima luapan kekesalan dari kelompok Jo Min Soo yang semakin panik, kalau –kalau mereka akan jatuh miskin jika tanah-tanah mereka diambil kembali. Ha Ryun meminta mereka tak khawatir karena ia akan minta pertolongan Lee Saek.


Ia pun menghadap Lee Saek dan membicarakan masalah rencana reformasi tanah yang akan diajukan Yi Seong Gye. Mulanya Lee Saek enggan karena yang dilakukan orang-orang itu adalah merampas tanah rakyat. Tapi setelah Ha Ryun mengatakan kalau Yi Seong Gye dan Sambong akan mereformasi kebijakan tanah dan mereka sudah memiliki datanya dari Jo Joon, Lee Saek mulai terlihat memikirkan permintaan Ha Ryun untuk melindungi Sadaebu dan Jo Min Soo.


Lee Saek pun mau menemui Jo Min Soo dan mendengarkan permintaan Jo Min Soo. Mencegah kekuasaan Yi Seong Gye semakin besar, itu adalah masalah mereka saat ini, karena lagu yang Ha Ryun sebarkan sekarang mulai menjadi kenyataan. Lee Saek merasa berat harus memihak pada kelompok Jo Min Soo. Ia berkata dalam hati, “Sambong, kenapa kau memaksaku untuk melindungi mereka? Apa aku harus bersama dengan serigala untuk menangkap harimau?”


Note : Serigala adalah kelompok Sadaebu dan Jo Min Soo yang korup, sedangkan Yi Seong Gye adalah harimaunya. Jung Do Jeon adalah murid Lee Saek, dan tanah yang dimilikinya adalah hasil yang dimiliki secara benar. Ia tahu kelompok Sadaebu dan Jo Min Soo mengambil tanah yang bukan haknya. Tapi Lee Saek juga khawatir jika jika reformasi tanah ini berhasil, semakin besar kekuasaan Yi Seong Gye dan bisa menjadi tiran.


Boon Yi merasa paling bahagia dengan reformasi kebijakan tanah yang baru ini karena ia  dan Bang Ji bisa pulang ke desanya. Moo Hyul mengingatkan kalau seharusnya tak hanya berdua, tapi bertiga karena Yeon Hee pun juga berasal dari desa yang sama. Dengan wajah murung, Yeon Hee meninggalkan mereka berdua.


Kabar tentang pertemuan pertemuan Lee Saek  dan Jo Min Soo sampai juga ke telinga Jung Do Jeon. Menyadari koalisi mereka tidak kuat dan bisa dipecahkan, maka ia pun membuat taktik.


Pada rapat Dodang, ia mengusulkan untuk mendata kembali tanah yang benar-benar dimiliki tiap orang dengan data yang di lapangan. Baru setelah itu reformasi tanah dilakukan.


Jo Min Soo menolak karena mendata kembali itu butuh waktu yang sangat lama dan harus dilakukan secara bertahap. Jung Do Jeon tersenyum karena memang itulah maksudnya. “Saya setuju kalau harus dilakukan secara bertahap. Jadi bagaimana jika kita mulai mendata kepemilikan tanah di atas 1000 gyeol?”


Usulan itu membuat kelompok Sadaebu tak menolak usulan Jung Do Jeon karena mereka tak memiliki tanah sebanyak itu. Kelompok Jo Min Soo-lah yang memilikinya. Lee Saek (yang juga tak punya tanah sebanyak itu) sadar kalau ini adalah cara Jung Do Jeon memecah mereka.


Ha Ryun membentur-benturkan kepalanya, sadar kalau ia di-skak oleh Jung Do Jeon. Guru Lee Saek jelas tak akan rugi dengan langkah ini. “Dasar kelas bangsawan sialan. Kenapa mereka mencuri tanah lebih dari 1000 gyeol?” Jelas-jelas ia tak akan dapat posisi di kerajaan. Tapi ia tak menyerah. “Seorang ahli strategi tak akan berhenti berpikir. Dia akan mati jika berhenti berpikir,” katanya dramatis.


Jung Mung Jo sedih melihat Sambong berhasil memecah belah Dodang dan berlawanan dengan guru mereka Lee Saek. Tapi Sambong merasa hal ini akibat Lee Saek juga yang telah menaikkan Raja Chang tanpa membicarakan lebih dulu pada mereka.


Bang Won heran melihat Jung Do Jeon yang dekat dengan Jung Mung Jo, tapi belum pernah sama sekali menjelaskan rencana besar mereka tentang pendirian kerajaan baru dengan Jung Mung Jo. Jung Do Jeon menjawab karena ia amat sangat ingin bekerja sama dengan Jung Mung Jo karena Poeun memiliki posisi yang paling penting di dalamnya. Dan selama ini ia ingin sekali memberitahukan hal ini tapi ia takut. Ia takut Poeun menolak rencananya yang nantinya akan membawa masalah.


Seperti yang dikatakan Yi Seong Gye sebelumnya, walau pengaruh Poeun di Dodang memang kecil, tapi pengaruhnya sangat besar di luar, di kalangan para terpelajar.


Boon Yi meminta Yeon Hee untuk ikut pulang bersamanya ke desa jika semua ini selesai. Yeon Hee terharu. Ia sebenarnya ingin pulang. Tapi bisakah? “Bisakah aku pulang bersama kalian?”


Boon Yi sangat senang dan lega mendengarnya, “Ayo kita pastikan untuk pulang ke rumah bersama.”


Ia segera menemui kakaknya yang sedang latihan pedang dan memberitahukan kabar baik ini. Bang Ji terkejut tapi sangat bahagia. Moo Hyul yang mendengarnya akhirnya paham. “Ahh.. ternyata kau dan Yeon Hee dulu saling suka, ya.”


Bang Ji sedikit tersipu dan untuk menutupi rasa malunya ia menyuruh Moo Hyul untuk membereskan tempat latihan. Moo Hyul bengong. Lah.. yang latihan sapa, yang ngeberesin sapa.


Rencana Jung Do Jeon ternyata berhasil. Lee Saek menemui Jo Min Soo. Ia tak mau bekerja sama menggagalkan reformasi tanah karena memiliki lahan lebih dari 1000 gyeol itu melanggar hukum. Ia dan golongan Sadaebu tak bisa membantunya. Ia mau membantu Jo Min Soo dan membicarakan hal ini pada Yi Seong Gye, asal Jo Min Soo mau melepaskan jabatannya.


Sepeninggal Lee Saek, Ha Ryun menemui Jo Min Soo dan mengusulkan agar Jo Min Soo mengumpulkan pasukan. Bukan untuk melakukan revolusi tapi hanya untuk berpura-pura saja. Kelompok Yi Seong Gye sangat memikirkan opini publik. Masyarakat sebenarnya sangat menghormati Choi Young tapi diam saja karena kejadian pulau Wihwa. Tapi jika terjadi pertempuran antar pejabat terjadi, rakyat pasti akan mengutuk Yi Seong Gye yang membuat kekacauan dalam pemerintahan.


Seumur hidupnya, Jo Min Soo tak pernah berpura-pura, tapi Ha Ryun memintanya sekali saja melakukan hal itu. Ia yakin setelah itu Yi Seong Gye pasti mau duduk bersama dan bernegosiasi. Jo Min Soo pun mau melakukannya.

Ia menyuruh anak buahnya untuk mengumpulkan pasukan pribadinya untuk datang ke Gaegyeong secara diam-diam.


Yeon Hee yang sedang memata-matai aktivitas di rumah Jo Min Soo mengikuti anak buah itu dari jauh. Ia melihat orang itu masuk ke sebuah tempat makan dan bicara dalam ruangan. Kebetulan Moo Hyul ada di sana untuk makan.


Saat orang itu pergi meninggalkan tempat makan, harusnya Yeon Hee bersembunyi. Tapi kakinya tak bisa bergerak. Ia terpaku karena melihat siapa orang itu. Orang itu, anak buah Jo Min Soo adalah orang yang pernah memperkosanya. Kejadian di padang rumput hari itu membanjiri pikirannya.


Orang itu tak mengenali Yeon Hee dan lewat begitu saja. Moo Hyul melihat Yeon Hee dan kaget saat Yeon Hee pingsan, ia segera membawa Yeon Hee pulang. Bang Ji terkejut melihat Yeon Hee pingsan, tapi untunglah Yeon Hee segera sadar kembali.


Bang Ji lega melihatnya dan memberitahu apa yang ia dengar dari Boon Yi. Dengan wajah pucat pasi, Yeon Hee berkata kalau Boon Yi telah salah, ia tak akan ikut pulang ke desa mereka. Dan ia langsung meninggalkan Bang Ji yang tercenung kecewa mendengarnya.


Yeon Hee melaporkan apa yang ia lihat pada Jung Do Jeon tentang kemungkinan penyerangan Jo Min Soo. Jung Do Jeon merasa negara mereka tak mampu jika ada perang lagi. Ia pun melaporkan hal ini pada Yi Seong Gye. Mereka sepakat kalau perang tak boleh terjadi dan memutuskan kalau mereka akan menunda reformasi itu.


Bang Ji mengajak Moo Hyul minum-minum. Ternyata Bang Ji sudah mabuk duluan dan minta dibawakan air. Moo Hyul pergi dan saat kembali, ia melihat Yeon Hee duduk di samping Bang Ji dan mencurahakan perasaan hatinya. Moo Hyul diam-diam mendengarkan dan akhirnya mengetahui cerita cinta Yeon Hee dan Bang Ji yang tragis.


Yi Seong Gye bicara empat mata dengan Jo Min Soo dan bersepakat. Reformasi tanah tak dilakukan dan Jo Min Soo tak akan menyerang. Untuk merayakan kesepakatan ini, Jo Min Soo mengundang Yi Seong Gye dan seluruh anak buahnya makan malam di Wisma Dohwa.


Yi Seong Gye menyampaikan undangan ini pada anak buahnya. Bang Won minta ijin untuk tak ikut karena ia harus menghibur rakyat yang pasti kecewa mendengar reformasi tak jadi. Yi Seong Gye mengatakan reformasi itu bukannya batal tapi ditunda. Jung Do Jeon juga tak akan datang tapi memerintahkan Bang Ji untuk ikut ke pesta itu untuk jaga-jaga.


Sesampainya di Wisma Dohwa, semua senjata harus disimpan karena mereka akan menghadiri makan malam.


Jo Min Soo menyambut kedatangan Yi Seong Gye dengan hangat. Sementara orang-orang yang segolongan dengan Bang Ji dan Moo Hyul duduk dan makan di halaman, Yi Seong Gye dan orang-orang kepercayaannya ditempatkan di dalam wisma.


Padahal di balik pintu, terdapat belasan pendekar bercadar hitam, yang sudah siap untuk menghabisi kelompok Yi Seong Gye.


Komentar :

Mengapa reformasi tanah sangat penting? 

Ingat, kan tentang kasus desa Boon Yi yang semena-mena dirampas oleh Hong In Bang, yang mengakibatkan tragedi cinta Ddang Sae dan Yeon Hee? Dodang yang mewakili pemerintahan, memberikan tanah untuk diberikan pada bangsawan yang mau berperang melawan perompak Jepang. 

Saat itu, sistem militer Goryeo adalah setiap bangsawan memiliki pasukan sendiri, yang bisa dikaryakan saat negara diserang atau ingin menyerang negara lain. Dan Goryeo sendiri hanya memiliki pasukan yang terbatas. Nah, saat itu tak ada bangsawan yang mau menyumbangkan pasukannya, maka Hong In Bang melakukan penjualan tanah. Siapa yang mau perang, akan diberikan sejumlah bidang tanah.

Tanah milik siapa? Tanah milik rakyat. Apa rakyat bisa menolak? Tidak, karena rakyat tak punya kekuatan juga kekuasaan. Oleh karena itulah Jung Do Jeon ingin mereformasi kebijakan tanah yang berlaku selama ini. 

Rencana asli Jung Do Jeon adalah menghitung jumlah tanah dan membagi rata pada semua yang bersedia mengurus tanah itu. Tanah diambil dari para orang kaya dan dikembalikan pada negara. Semua tanah menjadi milik negara. Setelah itu negara akan membagi rata pada setiap kepala dalam sebuah keluarga yang bersedia bekerja di tanah itu. Tidak seperti sekarang. Nantinya tak ada tuan tanah dan tak ada penyewa tanah lagi.

Sepertinya jumlah maksimal yang bisa dimiliki seorang keluarga bangsawan adalah 1000 gyeol. Mungkin yang mengusulkan hal ini adalah kalangan Sadaebu yang mematuhi aturan ini dengan memiliki 1000 gyeol. Tapi kalangan lain diam-diam mengambil tanah lebih banyak dari itu. Kalangan itu adalah golongan Jo Min Soo.

Maka wajar mereka menolak karena hal itu berarti mereka akan 'dimiskinkan'. Jo Min Soo pun mengancam dengan berpura-pura mengumpulkan pasukannya di Gaegyeon. Benar saja, Yi Seong Gye pun menarik usulannya. Jo Joon yang paling bersuara keras. Jika tak bisa reformasi, maka revolusilah yang harus dilakukan.

Tapi Yi Seong Gye tak setuju. Jung Do Jeon pun sependapat. Ia penganut Konfusius yang menghindari peperangan. Maka ia akan mundur tapi akan mencari jalan lain untuk maju lagi. 

Sayangnya Jo Min Soo memiliki pikiran lain. Dan terjadilan pertempuran di Wisma Dohwa nanti di episode 25. Pertempuran yang paling keren yang pernah saya lihat di drama Korea. Benar-benar dramatis, yang tak mungkin saya ceritakan hanya dalam sinopsis.

1 comment :

  1. Mbak dee, tanpa sadar saya bacanya sambil nahan nafas.
    Yi seong gye ini kayanya orang nya percayaan banget ya, kaya ga punya insting yg kuat dia.
    Malah yg punya insting bagus tu boon yi deh..
    Berarti dr awal aura wajah bang won itu udah mancarkan cahaya pemimpin besar ya, seperti yg dibaca Ha ryun, bang won itu orang yg ingin memerintah.
    Sudah hampir separo perjalanan kita...
    Semangat mbak dee....

    ReplyDelete