March 11, 2016

One More Happy Ending Episode 14 - 2


Yeon Soo menunjukkan profil pria yang mendaftar di Brave Wedding pada Hae Joon dan minta pendapatnya. Hanya memperhatikan sekilas, Hae Joon bertanya apa Yeon Soo tak pacaran dengan pria sebelumnya?

Melihat Yeon Soo bingung, Hae Joon akhirnya mengaku kalau dia melihat Yeon Soo dengan seorang pria di restoran hotel. Ia bertanya apa Yeon Soo tak merasa cocok dengan pria itu. Yeon Soo menjawab kalau pria itu baik, tapi Yeon Soo memang sengaja ingin bertemu dengan banyak orang terlebih dahulu.

“Kau jadi makin liar saja,” komentar Hae Joon pedas.

“Bukannya makin liar justru makin mempesona, ya? Aku terlalu bagus, hanya akan buang-buang waktu dan membuatku frustasi. Sekarang aku menjadi semakin liar. Aku ingin merasakan cinta yang liar dan penuh sensasi,” aku Yeon Soo.



“Kalau kau lakukan itu justru kau akan terluka nantinya,” nasehat Hae Joon.

“Sakitnya baru nanti kurasakan mungkin lebih baik dari sakit yang kau sebabkan,” jawab Yeon Soo blak-blakan, membuat Hae Joon terdiam.


Gun Hak dan Da Jung masih berada di camp pasangan. Gun Hak menelpon seseorang dan mengatakan kalau dia sudah meminta Sek. Kim untuk mengurus masalahnya, jadi orang itu tinggal mengikutinya saja. Gun Hak juga meminta orang itu untuk menunggu satu bulan dan biarkan dia istirahat. Setelah menutup telepon, Gun Hak melihat Da Jung yang sedari tadi mendengar percakapannya. 

Gun Hak langsung menghampiri Da Jung dan memberikan latte yang sudah dibuat sesuai kesukaan Da Jung, banyak gulanya, Saat Da Jung hendak mengambil gelas yang disodorkan padanya, Gun Hak menyerahkan gelas satunya. Sambil tersenyum lebar, Gun Hak berkata kalau gelas sebenarnya adalah yang ini. Da Jung hanya tersenyum melihat kejailan Gun Hak.


Acara camp pasangan dimulai dan instruktur menjelaskan kalau sekarang waktunya bagi pasangan untuk melakukan game “Begitu, ya..”. Permainan ini mengharuskan agar mereka mengungkapkan rasa kekecewaannya masing-masing, dengan menggunakan kalimat, “aku marah sekali kau lakukan ini” dan “aku benar-benar kecewa saat kau lakukan itu”. 

Namun yang harus diperhatikan setiap pasangan adalah jangan menggunakan nada marah saat mengucapkannya. Tujuan permainan ini adalah supaya mereka punya empati, jadi saat pasangan mereka mengatakan kalau tindakan mereka sudah membuatnya sedih, maka pihak satunya harus mengatakan “Oh, begitu ya” dan mereka jangan membantah karena itu akan menyulut pertengkaran.


Permainan di mulai dan setiap pasangan mulai mengungkapkan rasa ketidak sukaannya masing-masing. Sementara pasangan lain mengungkapkan rasa ketidaksukaannya masing-masing dan malah dijawab dengan bantahan, sehingga membuat membuat instruktur menegur mereka, berbeda degnan Gun Hak dan Da Jung.

Da Jung mengaku kalau ia melupakan kenyataan betapa keras usaha Gun Hak mengupayakan yang terbaik untuknya saat ia sakit. Ia hanya memikirkan rasa sakitnya dan betapa menderitanya dia dan lupa kalau Gun Hak selalu ada di sisinya. "Maafkan aku. Sampai sekarangpun, kau terus berusaha sekuat tenaga."

Gun Hak sedikit terkejut dengan pengakuan itu dan hanya menjawab “Oh begitu ya..”

“Kau begitu sabar saat kita masih pengantin baru, begitu pula saat kita berusaha mendapatkan anak. Kau pun selalu baik padahal aku menghindarimu. Karena kesalahpahaman itu, kita jadi jauh dan makin lama kita semakin saling menjauh. Maafkan aku, dan aku berterima kasih kau masih bersabar atas sikapku,” aku Da Jung lagi.


“Begitu ya,” jawab Gun Hak terharu dan memeluk Da Jung. Kali ini Da Jung tidak menolak dan diantara semua pasangan, sepertinya hanya mereka berdua yang berhasil dalam permainan “Oh begitu ya.”


Mi Mo membelikan makanan untuk Ppoppo di sebuah pet shop. Ada seorang pengunjung dan ternyata dia adalah Seung Jae. Seung Jae hendak menyentuh Ppoppo, namun tak diperbolehkan oleh Mi Mo. Ppoppo pun juga mendengking pelan, tak suka.

“Kau sudah membuangnya, jadi kau tidak berhak menyentuhnya. Dia juga punya perasaan,” ucap Mi Mo dan mengaku kalau mood-nya jadi jelek karena dia dan Seung Jae sering bertemu. Seung Jae membenarkan. Sebenarnya dia juga tidak merasa senang bertemu terus dengan Mi Mo. 


“Tunanganmu tidak alergi lagi? Aneh kau ke tempat yang banyak bulunya seperti ini,” tanya Mi Mo  heran.

Akhirnya Seung Jae mengaku kalau kemarin dia sudah berbohong. Sebenarnya Shi A tidak alergi, Seung Jae hanya tidak ingin merawat Ppoppo karena beranggapan kalau Shi A tidak akan mau merawat anjing mantan istrinya. Jadi sebelum Shi A complain, Seung Jae menyingirkan semua barang yang berhubungan dengan Mi Mo. Mendengar pengakuan itu tentu saja Mi Mo jadi kesal dan menyebut kalau Seung Jae bukan manusia. 

“Kalau kita punya anak, kau juga tak mau membesarkan mereka? Dengan keluarga baru?” tanya Mi Mo.

“Kenapa kau bandingkan dengan anak? Dia kan cuma anjing. Hanya anjing,” jawab Seung Jae.

“Kau, coba lihat matanya. Kau tidak lihat dia juga tak suka padamu?” ucap Mi Mo dan menunjukkan mata Ppoppo. “Cinta sejati itu mau menerima apapun masa lalu pasanganmu. Entah itu anjing atau anak.”

“Baiklah, akan kuperhatikan dirimu," tantang Seung Jae. "Akan kulihat apa kau masih bisa pede kalau pacaran dengan pria yang sudah punya anak.”


“Omo, mengenai hal itu, aku sangat pede. Kalau kau punya waktu melihatku, akan kuperlihatkan aku dibanjiri pede. Cintaku padanya tak seperti padamu,” ucap Mi Mo kesal. “Hari ini pertama kalinya aku kasihan padamu. Sepertinya kau sudah berada dalam kendali tunanganmu. Kim Seung Jae… cinta yang kumiliki sekarang berbeda dengan cintamu,” tambah Mi Mo dan berjalan pergi setelah mengambil makanan Ppoppo dari kasir.


Mi Mo berpapasan dengan Min Woo yang baru keluar rumah. Dia bertanya Min Woo mau kemana, tapi Min Woo hanya menjawab kalau dia mau ke suatu tempat. 


“Min Woo-a, ahjumma belakangan ini sedih. Kau tak bercanda dan senyum seperti dulu,” ucap Mi Mo, tapi karena Min Woo tak menjawab, jadinya Mi Mo mempersilahkan Min Woo pergi.


Di rumah, Mi Mo terus kepikiran pada perubahan sikap Min Woo. Mi Mo juga teringat pada apa yang sudah dia katakan pada Seung Jae, kalau dia tidak akan menelantarkan anak dari pasangannya. 


Mi Mo tidur dan dia bermimpi. Dalam mimpinya, Mi Mo berkata pada Soo Hyuk kalau Min Woo tidak suka pada hubungan mereka berdua. Soo Hyuk lalu berjanji akan meyakinkan Min Woo untuk menerima hubungan mereka berdua. 


Min Woo marah saat mengetahui kalau ayahnya mau dirayu oleh janda yang tinggal di apartemen 1501. Bagaimana pun caranya, dia harus menghentikan pernikahan sang ayah, karena dia tak ingin warisannya nanti dibagi-bagi. 

“Kenapa tak coba menunjuknya sebagai wanita suci dari Yongsan?” ucap teman Min Woo memberi ide.

“Wanita suci? Oke, ide bagus. Segera beri plakat janda apatemen #1501 Han Mi Mo sebagai wanita suci,” perintah Min Woo.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, teman Min Woo bersama So Eun langsung membawa plakat wanita suci ke apartemen Mi Mo. Mi Mo tentu saja menolak plakat itu, namun saat dia tahu Min Woo yang memberikan plakat tersebut, Mi Mo pun tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerimanya.

Setelah semuanya pergi, Mi Mo marah dan menghancurkan plakat tersebut. Dengan nada marah, Mi Mo berjanji akan membalas apa yang Min Woo lakukan padanya.

Mimpi Mi Mo berakhir… Duh, imajinasi Mi Mo kok serem-serem banget sih.. 


Min Woo sedang menunggu lift. Tepat disaat itu Mi Mo keluar rumah dan melihatnya.

“Kalau di pernikahan pertama kau membayangkan bertemu pengeran tampan, maka di pernikahan kedua kau bertemu anak orang lain yang akan kau perlakukan seperti anakmu sendiri,” ucap Mi Mo dalam hati.

Mi Mo mengikuti Min Woo yang ternyata pergi ke pemakaman ibunya. Di depan abu ibunya, Min Woo menangis dan Mi Mo kemudian menghampiri. 


Min Woo akhirnya mengaku, “Ibuku… ibu yang tidak bisa kupanggil ibu sejak aku dilahirkan. Aku sangat menginginkan Ayah punya pasangan, karena kalau hal itu terjadi mungkin aku akan memiliki ibu baru… tapi kalau aku memanggil dia dengan ibu.. aku kasihan pada ibuku Tak sekalipun aku pernah bisa memanggilnya Ibu, aku jadi makin kasihan dan hatiku semakin berat,” ungkap Min Woo.

Mi Mo jadi mengerti alasan perubahan sikap Min Woo akhir-akhir ini. Ia merangkul bahu Min Woo dan berkata, "Aku yakin ibumu sudah tahu kalau kau selalu memanggilnya Ibu,” ucap Mi Mo.

Min Woo kembali meminta Mi Mo berjanji untuk tidak menyakiti hati Soo Hyuk. 


“Min Woo-a, saat kau dewasa… kau akan mengerti perkataanku. Kalau pria dan wanita menjalin hubungan, tidak mungkin tak pernah tersakiti. Tapi aku akan berjanji satu hal. Aku akan membuatnya tersenyum setidaknya sekali setiap hari,” ucap Mi Mo sambil mengulurkan tangan. Min Woo tersenyum dan mengulurkan ibu jari dan kelingking, mengaitkan jari mereka sebagai tanda “janji”.


Mi Mo kemudian mengajak Min Woo makan di restoran yang langsung makan dengan lahap. Melihat Min Woo kembali seperti dulu terhadapnya, membuat senyum Mi Mo semakin melebar. 


Di rumah, Soo Hyuk sedang bersama Shi A dan Shi A bertanya tentang rencana Soo Hyuk untuk ulang tahun Min Woo. Soo Hyuk menjawab semua itu terserah Min Woo saja, dia mau apa. Shi A lalu mengajak untuk makan bersama dengan Seung Jae. Soo Hyuk setuju, dia lalu memberitahu Shi A kalau ada satu orang lagi yang akan dia ajak. Dia ingin memperkenalkan orang itu pada Shi A. 


Mi Mo menunjukkan stiker yang di gunakan Gun Hak dan Da Jung untuk mengembalikan cinta mereka. Mi Mo menjelaskan kalau stiker itu harus dipindahkan ke kertas satunya, setiap kali pasangan mereka melakukan hal yang baik. 

“Kubilang aku akan membuatmu tertawa setiap hari, jadi kalau aku berhasil melakukannya, kau menempel stiker disini. Kalau sudah penuh, maka kabulkan keinginanku,” ucap Mi Mo.

“Terus aku? Berikan juga padaku," protes Soo Hyuk. "Aku juga akan baik padamu, jadi kau juga harus mengabulkan keinginanku.”

Mi Mo pun memberikan satu kertas stiker pada Soo hyuk. “Kau gampangan dan aku norak. Menurutmu kita cocok tidak?” tanya Mi Mo dan Soo Hyuk langsung menempel stikernya untuk Mi Mo. Mi Mo heran betapa mudahnya ia mendapatkan stiker. “Hei, kalau aku melakukan sesuatu, baru kau tempelkan.”

“Kau kan bawa hal luar biasa ini untuk dikenang,” jawab Soo Hyuk dan meminta Mi Mo menempel stiker di kertasnya juga.

Namun Mi Mo menolak karena dia tak mau memberikan stikernya dengan cuma-cuma. Soo Hyuk lalu bertanya dia harus apa, agar Mi Mo memberikan stikernya. Mi Mo menjawab kalau dia ingin lagu cinta, dia ingin Soo Hyuk menyanyikan lagu pengakuan cinta untuknya. 


Soo Hyuk melakukan apa yang Mi Mo minta, namun dia bernyanyi dengan malu-malu. Walaupun begitu, Mi Mo tetap senang dan memberikan satu stiker pada kertas Soo Hyuk. 


Orang yang aslinya diberi tugas untuk menempel stiker sekarang sedang makan malam bersama anak mereka. Da Jung dan Gun Hak terlihat sama-sama canggung, karena teringat PR yang diberikan pada mereka. Mereka harus saling mengatakan ‘aku mencintaimu’ sebanyak 3 kali. Meskipun tidak saling cinta, mereka harus mengatakannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi ucapan aku mencintaimu  itu belum keluar dari mulut mereka. Keduanya sama-sama cemas karena PR belum selesai dikerjakan. Apalagi sekarang Tae Young sudah selesai makan dan ingin tidur. Da Jung pun menemaninya dan meninggalkan Gun Hak sendiri. 


Di kamar, Dong Mi sedang sangat galau karena pengakuan Jung Woo yang ingin menikah setelah 5 tahun bekerja. Dia juga teringat tentang nasehat temannya, yang menebak kalau hubungan Dong Mi dan Jung Woo tidak akan sampai ke pelaminan. Dong Mi kemudian mencoba menulis surat untuk Jung Woo, namun dia tak menemukan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan semua isi hatinya. 


Da Jung dan Gun Hak sudah berada di kamar mereka masing-masing. Mereka sama-sama cemas karena mereka belum melakukan tugas mereka. Akhirnya Gun Hak yang bergerak lebih dulu. Saat Da Jung mencuci piring dan tiba-tiba Gun Hak memeluknya dari belakang dan berkata, “Aku mencintaimu.” Tentu saja Da Jung shock mendapati perlakuan seperti itu. 


Gun Hak ternyata tak hanya melakukan itu. Saat Da Jung keluar dari kamar mandi, Gun Hak sudah berada di depan pintu dan memberikan shampo pada Da Jung sambil berkata, “Aku mencintaimu.” 

Aww..

Gun Hak sudah menyelesaikan tugasnya, namun Da Jung belum dan itu yang membuat Da Jung cemas. Di kamar, dia terus mondar-mandir. Da Jung kemudian memberanikan dirinya untuk menemui Gun Hak.


Da Jung membuka pintu kamar Gun Hak dan saat itu Gun Hak sedang membaca buku. Da Jung berjalan mendekati Gun Hak dan Gun Hak pun langsung beranjak dari duduknya.

“Aku mencintaimu... aku mencintaimu... aku mencintai.. mu,” ucap Da Jung dan langsung kembali ke kamar. 

“Dia bilang sekaligus. Membuatku sedih,” keluh Gun Hak, tapi tetap tersenyum.

Da Jung membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menutup wajahnya karena malu. Tapi ia tersenyum  lega karena sudah melakukan tugasnya.


Yeon Soo kembali bertemu dengan pria lain, tapi pria yang ini sangat jorok. Dia mengelap giginya dengan sapu tangan. Tentu saja melihat itu, membuat Yeon Soo tak nyaman. Bukan hanya mengelap gigi, pria itu juga berkumur dengan minuman yang dia minum. 

Yeon Soo lalu berkata kalau pria itu sangat  berbeda dengan yang di foto dan pria itu jujur menjawab kalau dia sudah menggunakan photoshop untuk mengubahnya. Pria itu tak mau kalah, dia juga mengatakan kalau Yeon Soo berbeda dengan yang ada di foto. 

“Kau dokter?” tanya pria itu.

“Iya, dan kau pengacara?” tanya Yeon Soo balik.

“Menurutmu apa kita cocok satu sama lain? Dokter dan pengacara sepertinya serasi. Pasangan fantasi. Kita tak perlu ke peramal segala,” jawab pria itu dan Yeon Soo hanya mengangguk ragu. Pernyataan pria itu membuat Yeon Soo teringat pada masa kuliahnya.


Flashback
Yeon Soo menghampiri Hae Joon yang sedang duduk di bangku taman. Dia memberikan minuman kaleng pada Hae Joon, tapi Hae Joon tak langsung menerimanya. Hae Joon malah bengong melihat Yeon Soo. 

“Kau tahu aku kan? Tak mungkin kau tak tahu, di departemen kita, aku cewek yang paling terkenal,” ucap Yeon Soo dan membukakan minuman kaleng itu. Kali ini Hae Joon menerima minumannya. “Kau tahu kan, aku yang paling cantik dan kau paling tampan di departemen kita? Kau setuju kita bakalan jadi pasangan serasi? Pasangan fantasi mahasiswa kedokteran,” ucap Yeon Soo.

Hae Joon hanya tersenyum mendengarnya. Melihat senyuman itu, Yeon Soo berangapan kalau Hae Joon setuju dengan ucapannya.

Flashback End


Hae Joon hendak pulang saat tiba-tiba Yeon Soo masuk dan langsung duduk di sofa. Melihat tingkah mantan istrinya itu, Hae Joon pun menebak kalau pria yang baru Yeon Soo temui pasti tak sesuai harapan. 

Yeon Soo menghela nafas dan menyebut dirinya sudah kena tipu. “Aku harus protes ke Han Mi Mo. Jelas-jelas aku minta dikenalkan dengan pria yang lebih 100 kali baik darimu. Kenapa susah sekali?” keluh Yeon Soo.

“Memang susah,” jawab Hae Joon datar.


Soo Hyuk dan Min Woo sekarang sedang makan es krim bersama. Soo Hyuk bertanya apa yang Min Woo inginkan di hari ulang tahunnnya dan Min Woo menjawab tidak ada.

“Ayah sudah susah payah membesarkanku malah harusnya ayah yang dapat hadiah,” ucap Min Woo. Duh, Min Woo ini anaknya so sweet banget sih. Ucapan Min Woo membuat perasaan Soo Hyuk penuh dengan kebahagiaan.

“Song Min Woo, kau anaknya siapa?” tanya Soo Hyuk.

“Song Soo Hyuk.”

“Terima kasih sudah jadi anak ayah. Ayah mencintaimu,” ucap Soo Hyuk dan Min Woo langsung menghempaskan tangan Soo Hyuk. Dia tak senang mendengar ucapan Soo Hyuk karena membuat telinganya geli. Dasar Soo Hyuk, disaat Min Woo menolak, dia malah terus mengatakannya. 


Soo Hyuk menemui Mi Mo dan memberitahu kalau besok adalah hari ulang tahun Min Woo. Karena ingin membelikan kado pada Min Woo, Mi Mo pun bertanya apa yang Min Woo sukai dan Soo Hyuk menjawab Min Woo sukai sesuatu yang mahal. 

“Benarkah?” tanya Mi Mo memastikan.

“Bercanda, datanglah kita makan malam bersama. Ada yang mau kuperkenalkan padamu juga,” ucap Soo Hyuk.

“Siapa?”

“Ada lah.... wanita yang disukai Min Woo.”

“Wanita?”

“Pacar wanita itu juga,” jawab Soo Hyuk dan itu membuat Mi Mo penasaran.


Besoknya, Mi Mo mencari kado untuk Mi Mo. Setelah melihat-lihat, akhirnya Mi Mo mendapatkan jaket yang cocok untuk Mi Mo. Namun disaat dia ingin mengambilnya, tiba-tiba ada orang yang merebutnya.

Diluar dugaan, orang yang merebut jaket itu adalah Seung Jae. Dasar gak pernah akur, mereka pun rebutan jaket yang sama. Mereka sama-sama tak mau mengalah saat pegawai toko mengatakan kalau jaket itu tinggal satu. Mereka bahkan membawa-bawa masalah cerai mereka.

“Kau tahu tidak? Aku melepaskanmu dengan cara sopan dan baik. Aku sopan tanpa ribut-ribut, mengabulkan permintaan ceraimu. Jadi kali ini giliranmu, merelakan ini,” ucap Mi Mo.


“Hal itu tidak sama. Kau selalu membalikkan kata untuk masalah yang tak berguna.”


“Benar, karena itulah kau dan aku tiap hari cek-cok. Dasar tak punya perasaan,” jawab Mi Mo dan menarik jaket tapi belum mau di lepaskan oleh Seung Jae. “Kau harusnya perlu dikasihani. Selalu bertengkar denganku tanpa alasan,” tambah Mi Mo dan itu membuat Seung Jae kesal.

Tepat disaat itu, pegawai toko datang lagi dan memberitahu kalau mereka masih punya satu stok jaket lagi. Masalah mereka pun selesai, dan masing-masing keluar toko dengan jaket yang sudah mereka beli.

Di depan toko, Mi Mo meminta Seung Jae untuk tidak bertemu lagi, karena setiap melihat Seung Jae, dia merasa tekanan darahnya naik. Mereka pun berpisah.


Tapi ternyata pertemuan Seung Jae dan Mi Mo tadi bukanlah pertemuan terakhir. Mereka kembali bertemu di depan hotel. Dasar gak pernah akur, keduanya kembali berselisih. Dari berebut masuk hotel dan bersaing untuk berjalan paling depan.

Mereka akhirnya tiba di restoran tempat mereka punya janji. 

“Janjianmu disini?” tanya Mi Mo.

“Kau juga?”

“Tolong duduk yang jauh dariku. Kalau kau duduk dekat-dekat denganku, selera makanku hilang,” ucap Mi Mo dan Seung Jae berkata hal yang sama. Dia juga merasa tak senang berada di dekat Mi Mo. 


Tepat disaat itu Min Woo muncul dan menyapa mereka berdua,” Sudah datang?”

“Iya,” jawab Mi Mo dan Seung Jae bersamaan. Sadar sama-sama mengenal Min Woo, Sung Jae dan Mi Mo sedikit merasa bingung. Mereka kemudian berjalan lagi untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah menunggu mereka. 


Mi Mo dan Seung Jae sudah berada di dalam restoran. Min Woo dan Soo Hyuk melambai pada Mi Mo dan Shi A melambai pada Seung Jae. 

“Kau jangan-jangan...,” ucap Mi Mo yang menyadari kalau Seung Jae juga ada hubungan dengan Soo Hyuk.

“Kau jangan-jangan...,” ucap Seung Jae.

“Kau?”  tanya Mi Mo dan Seung Jae bersamaan. 


Mi Mo dan Seung Jae menatap ke arah meja dengan tatapan shock sedangkan Shi A dan Soo Hyuk menatap ke arah pacar mereka dengan senyuman riang.

Komentar: 

Huwaaa.... apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah semua itu akan menghancurkan hubungan Mi Mo dan Soo Hyuk. Jadi kalau mereka semua menikah, si mantan jadi ipar dong? Duh.. pasti canggung banget tuh pas acara makan malam bersama.

Belum lagi kalau keluarga Seung Jae dan keluarga Mi Mo ikut makan malam bersama di sebuah meja.

Eh.. besan, ketemu lagi. Iyuhh... pasti banyak jangkrik yang lewat tuh saking awkwardnya.

Krik.. krik.. krik

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 15

3 comments :