March 11, 2016

One More Happy Ending Episode 14 - 1


Soo Hyuk bertanya pada Shi A apa dia akan kembali ke Amerika dan Shi A mengiyakan. Karena keluarga Seung Jae ada di Korea, maka mereka harus menikah di Korea tapi setelah itu mereka kembali ke Amerika.

Soo Hyuk bertanya pada Seung Jae, apa dia tidak sedih memulai hidup baru di Amerika. Seung Jae menjawab kalau mereka tidak akan tinggal di Amerika untuk selamanya dan mereka akan sering pulang ke Korea. 




Shi A menegur Soo Hyuk yang ia anggap jahat karena sudah mengusir So Eun. Soo Hyuk menjawab kalau dia sudah memberitahu So Eun dengan cara yang halus, tapi karena tak berhasil maka Soo Hyuk melakukannya dengan sedikit kasar dengan menarik garis jelas antara cinta dan persahabatan. 


Mi Mo sedang bersama Sek. Gwak yang memberitahu kalau harga sewa aula naik terlalu tinggi, jadi dia menyarankan untuk menaikan harga tiket. Namun Mi Mo tidak setuju. Ia meminta Sek. Gwak untuk mencari tempat lain terlebih dahulu baru nanti mereka putuskan lagi harus bagaimana. Mi Mo kemudian menyuruh Sek. Gwak pulang duluan, karena dia akan menemui seseorang dulu. 


Sebelum menemui Soo Hyuk, Mi Mo ke toilet terlebih dahulu untuk menata kembali make-up-nya. Di toilet, dia bertemu dengan Shi A. Untuk pertemuan kali ini, Mi Mo akhirnya ingat kalau Shi A adalah tunangan Seung Jae. Shi A sendiri,  mengingat Mi Mo karena pertemuan terakhir mereka di tempat parkiran. Saat itu, Mi Mo mengira Shi A pernah berkonsultasi di Brave Wedding. Mereka kemudian saling pandang dan itu membuat Mi Mo sedikit ragu untuk menyapanya.

“Konsultan pernikahan pasca bercerai?” ucap Shi A dan Mi Mo mengiyakan. Mi Mo tak memberitahu siapa dia sebenarnya. Namun dia selalu mencuri lihat Shi A sehingga membuat Shi A tak nyaman hingga ia keluar toilet lebih dulu.


“Masih muda dan cantik, 35, 24, 35,” gumam Mi Mo saat melihat Shi A keluar. Melihat Shi A, Mi Mo pun jadi bertanya-tanya apa Seung Jae juga ada di hotel itu atau tidak.

Saat berjalan menuju restoran, Mi Mo berpapasan dengan Shi A dan Seung Jae. Namun kali ini, Mi Mo tak mau menghindar. Dia dengan berani menemui Shi A dan Seung Jae. 

“Lama tak bertemu,” sapa Seung Jae dan Shi A langsung bertanya apa Seung Jae kenal dengan Mi Mo? Mendapat pertanyaan itu, Seung Jae bingung menjawabnya, jadi Mi Mo yang menjawab. Dia berkata kalau dia dan Seung Jae adalah teman. 

“Bukan teman dekat ataupun teman kuliah. Karena itulah aku tak terlalu terkejut,” jawab Mi Mo dan Shi A percaya. Shi A lalu berkata kalau dia dan Mi Mo selalu saja tak sengaja bertemu. Mi Mo membenarkan namun dia merasa aneh karena mereka berdua sering bertemu. 

“Kau pasti ada janji disini,” ucap Seung Jae dan Mi Mo membenarkan. Dengan pede Mi Mo berkata kalau dia akan ketemuan dengan pacarnya. 

“Selamat bersenang-senang dengan pacarmu,” ucap Shi A dan kemudian berjalan pergi bersama Seung Jae. Mi Mo terlihat tak marah lagi dengan Seung Jae, karena sekarang dia sudah punya Soo Hyuk.


Mi Mo masuk restoran dan langsung terkejut. Apa yang sebenarnya dia lihat?? Ternyata dia melihat Soo Hyuk yang di mejanya penuh dengan  bunga mawar. Selain itu, Soo Hyuk juga sudah memesan wine untuk mereka berdua.  

“Bagaimana... tidak mungkin,” ucap Mi Mo melihat Soo Hyuk dan kemudian dia tersenyum senang. Mi Mo duduk di depan Soo Hyuk dan berkata, “Kau sudah diam-diam mempersiapkan semua ini.”

“Aku ini diam-diam menghanyutkan,” jawab Soo Hyuk. “Kau belum makan siang kan?” tanya Soo Hyuk dan Mi Mo mengiyakan. Karena ingin menemani Mi Mo makan, Soo Hyuk pun rela makan dua kali. 

Saat makan, Soo Hyuk memberikan hadiah kalung untuk Mi Mo. “Aku teringat hadiah yang membuat kau dan aku bertemu, dan kejadian itu berkesan,” ucap Soo Hyuk.

“Berkesan?” tanya Mi Mo tak mengerti.

“Kau tidak ingat? Laut yang menelan kalungmu?” jawab Soo Hyuk dan Mi Mo pun ingat kejadian itu. Soo Hyuk saat itu mengira Mi Mo mau bunuh diri dan tanpa pikir panjang Soo Hyuk berusaha menyelamatkan Mi Mo padahal Soo Hyuk tidak bisa berenang.

“Itu yang mengaitkan takdir kita, jadi kita harus memperingatinya dengan kalung yang kubeli,” ucap Soo Hyuk dan Mi Mo menyukai kalungnya.


Yeon Soo sudah berada di sebuah restoran, dia akan melakukan kencan butanya yang pertama. Saat menunggu pasangannya, Yeon Soo teringat kembali ketika dia minta pada Mi Mo untuk dipertemukan dengan pria yang menyenangkan. Pria yang lebih baik dari Koo Hae Joon. 

“Kau tahu yang kumaksud kan?” tanya Yeon Soo dan Mi Mo malah terlihat bingung. Mi Mo mengaku kalau dia tak tahu maksud Yeon Soo. “Menurutmu kita punya pikiran yang sama? Aku kesini karena kupikir kau tahu betul... jadi aku tak perlu menjelaskan panjang lebar,” ucap Yeon Soo.


“Entah bertemu selama 1 atau 10 tahun, hal yang tak pernah kau pahami adalah manusia. Meskipun hanya singkat pacaran dengannya. Koo Hae Joon yang kulihat memiliki sisi lain yang tak kuketahui. Aku tak tahu pasti maksudmu apa dengan mengatakan berbeda dari Koo Hae Joon,” aku Mi Mo. 

Yeon Soo menghela nafas, mengingat apa yang Mi Mo katakan.


Hae Joon sedang berada di toilet dan tak sengaja mendengar pembicaraan seorang pria  di telephone. Pria itu membahas tentang dirinya yang akan melakukan kencan buta dengan seorang dokter. Karena dokter itu terlihat punya banyak uang, jadi pria itu berencana untuk menjadikannya rekan bisnis. 


Hae Joon pergi ke restoran untuk menemui temannya. Saat hendak menuju meja dimana temannya sudah menunggu, Hae Joon melihat Yeon Soo bersama seorang pria dan pria itu adalah orang yang ada di toilet tadi. 


Di restoran lain, Soo Hyuk dan Mi Mo sudah terlihat sangat mabuk. Mereka meminum semua wine yang sudah Soo Hyuk pesan. Selesai minum, mereka jalan bersama dan saat melewati sebuah butik, Mi Mo minta dibelikan tas. Dia berkata pada Soo Hyuk kalau tas itu berbicara padanya. Tas itu berkata, “Aku milikmu.”


“Tidak,” ucap Soo Hyuk.

“Kenapa?”

“Hanya aku milikmu,” ucap Soo Hyuk dan kemudian mengaku kalau dia adalah pria yang posesif. 

“Aku tidak tahu. Kau tak akan menyelidiki latar belakang dan mengikutku kan?” tanya Mi Mo dan dia terus merengek untuk dibelikan tas. Tanpa pikir panjang lagi, Soo Hyuk langsung menyanggupi,  bahkan dia berkata akan membelikan 100 tas untuk Mi Mo.

Pagi tiba dan Mi Mo terbangun gara-gara bunyi ponselnya. Mi Mo mengangkat telephon yang saat itu terletak di dapur. Orang yang menelpon adalah Da Jung. Da Jung bertanya kenapa Mi Mo belum juga berangkat kerja, apa Mi Mo mabuk lagi.

“Dari mana kau tahu? Dan selalu tepat,” ucap Mi Mo karena Da Jung selalu bisa menebak apa yang dia lakukan. Da Jung kemudian menyuruh Mi Mo untuk minum air dingin dan buruan berangkat ke kantor. 


Mi Mo berbalik dan langsung teriak kaget ketika melihat tumpukan tas di ruang tamunya. Tiba-tiba tumpukan tas itu buyar mendengar teriakan Mi Mo, ternyata Soo Hyuk berada di dalam tumpukan tas tersebut. Melihat ada banyak tas di sekitar mereka, Soo Hyuk dan Mi Mo sama-sama shock.


Ternyata tadi malam Soo Hyuk memborong semua tas untuk Mi Mo.  Hadooohh...



Soo Hyuk shock ketika melihat struck belanjanya, dia tak percaya sudah membayar semua tas itu. Karena tak mungkin menggunakan semua tas itu dan uangnya juga sayang untuk dibuang-buang. Jadi Mi Mo memutuskan agar mereka berdua meminta maaf dan mengembalikan semua tas itu. 


Mi Mo dan Soo Hyuk sudah berada di toko tas, mereka mengembalikan semua tas kecuali satu tas yang Mi Mo sukai. Dengan perasaan tak senang, pegawai butik itupun mengurus pengembalian tas dari Mi Mo. 

Mi Mo kemudian bertanya kenapa Soo Hyuk tidak menetapkan limit pada kartu kreditnya. Soo Hyuk membenarkan, kalau seharusnya dia memang menetapkan limitnya. 

“Harusnya kutetapkan limitnya. Berhubung kau Bungeo, menuang wine seperti minum air?” ucap Soo Hyuk. 

“Terus wine mahal itu dibiarkan saja?” tanya Mi Mo menyayangkan.


“Ah! Berisik sekali!” teriak pegawai butik dan mengaku kalau dia sedang merasa pusing. Setelah menyelesaikan semuanya, pegawai itu berpesan agar mereka berdua langsung pulang ke rumah disaat mabuk, jangan membuat orang lain repot. 


Soo Hyuk pulang dan bertemu dengan Min Woo yang hendak pergi ke rumah temannya. Mengetahui kalau Min Woo ingin bermain dengan temannya, Soo Hyuk pun mengeluh karena Min Woo tak mau lagi bermain dengan dirinya. 

“Ayah kan sudah ada yang menemani,” ucap Min Woo dan izin pergi. Mendengar pernyataan Min Woo tadi, Soo Hyuk pun jadi merasa tak enak. 


Di luar Min Woo bertemu dengan Mi Mo, mereka berdua sama-sama keluar rumah dengan waktu bersamaan. Mi Mo bertanya apa Min Woo mau berangkat sekolah dan Min Woo menjawab tidak, dia berkata kalau dia ingin pergi ke rumah temannya.  Mi Mo lalu merangkul Min Woo dan berjalan sama-sama. Namun usaha Mi Mo untuk lebih mengakrabkan diri lagi dengan Min Woo tak berhasil, Min Woo terlihat cuek saat mereka berada di dalam lift. 


Keluar dari lift, Mi Mo berkata selamat bersenang-senang pada Min Woo dan Min Woo hanya mengiyakan. Min Woo berjalan pergi dan tiba-tiba berbalik lagi.

“Ahjumma.”

“Ya.”

“Ayahku... jangan sampai Anda menyakitinya,” pinta Min Woo dan Mi Mo terdiam mendengarnya. 


Di kantor, Min Woo teringat kembali dengan apa yang Min Woo minta. Da Jung muncul dan memberikan undangan pada Mi Mo. Itu adalah undangan dari pasangan yang mereka pikir tidak cocok. 

“Si pria benar-benar jatuh cinta padanya, keluarga bisa apa selain mendukung mereka,” ucap Da Jung.

“Keluarganya mendukung. Kurasa malah awal masalah wanita itu,” jawab Mi Mo dan dia kemudian bertanya tentang couple camp yang Da Jung sedang jalani. Da Jung menjawab kalau masih belum ada yang spesial.

“Kemarin, 10 menit kami tak bicara apa-apa. Hanya pandang-pandangan,” aku Da Jung.


Flashback
Da Jung dan Gun Hak melakukan apa yang instruktur mereka katakan, dimana mereka harus saling pandang selama 10 menit tanpa bicara sepatah katapun. Saling pandang seperti itu, membuat Gun Hak dan Da Jung senyum-senyum.

Flashback End


Mi Mo menyarankan agar Da Jung meneruskan acara tersebut karena sangat postitif. Da Jung kemudian balik bertanya, karena hari ini Mi Mo terlihat khawatir ketika memandangi ikan mas. 

“Jauh jarak kutempuh dan akhirnya bertemu dengan pria ini. Tapi karena alasan aneh, belakangan ini aku seolah melihat banyak halangan. Seorang teman wanitanya yang di Amerika tiba-tiba mendekatinya. Putranya dulu akrab denganku...,” ucap Mi Mo.

“Anak yang kau bilang dewasa itu?”


“Sekarang, kurasa dia tak suka padaku. Itu artinya hubungan kalian makin serius. Seperti yang dialami klien kita. Kau akan menghadapi hal yang lebih buruk. Persiapkan dirimu. Kau tak pernah tahu. Entah mertua yang mungkin atau ipar yang membencimu tanpa sebab jelas. Duda satu anak berpacaran dengan seorang janda. Ya, tak sulit tapi juga tidak bisa dianggap mudah,” ucap Da Jung.

“Hei, kenapa kau malah menakutiku?’ tanya Mi Mo takut.


Di ruangannya, Mi Mo teringat dengan istilah, “Menikah lagi itu seperti menggabungkan 2 perusahaan.”


Mi Mo membayangkan dirinya sudah menikah dengan Soo Hyuk dan tinggal di rumah Soo Hyk. Mereka kemudian menandatangani sebuah surat dan sepertinya itu adalah perjanjian pranikah.

Mi Mo bernarasi, “Ada 2 katagori penggabungan. Pertama, penggabungan yang ramah, kedua belah pihak saling mengormati kehidupan masing-masing. Dengan komunikasi yang baik, keduanya akan bisa hidup bahagia. Masalah adalah sumber permusuhan dalam penggabungan tersebut.”


Mi Mo kini membayangkan ibu Soo Hyuk memberikan sebuah surat perjanjian padanya agar ia tidak mengambil sepeserpun uang Soo Hyuk. Namun Mi Mo tidak bisa menandatanginya. 

“Mungkin aku benar-benar tidak bisa mengambil sepeserpun,” ucap Mi Mo dan kemudian memanggil pengacaranya. “Aku bukannya mau bilang akan menggunakan pengacaraku, tapi di Korea sangatlah wajar bagi istri sah menuntut hak-haknya. Aku menginginkan hak-hak tersebut.”


“Perjanjian pra nikah ini mencakup pembagian aset sesuai dengan lamanya pernikahan. Tunjangan anak kalau memang memiliki anak dan bila ada perselingkuhan,” ucap pengacara Mi Mo dan dia juga mengatakan kalau masih ada ketentuan khusus. 

“Ketentuan khusus?” tanya ibu Soo Hyuk tak mengerti.

“Mereka harus berpelukan setidaknya sekali sehari atau akan didenda 100 won,” jawab pengacara Mi Mo.

“Aku sudah meremehkanmu,” ucap Ibu Soo Hyuk dengan pandangan tak senang pada Mi Mo dan Mi Mo hanya tersenyum senang padanya.


Di rumah, Soo Hyuk memberitahu Mi Mo kalau semua saudaranya akan datang hari ini ke rumah mereka. Tak lama kemudian orang yang mereka tunggu datang juga. Tak seperti yang Mi Mo kira, ternyata saudara Soo Hyuk sangat banyak dan semuanya wanita. Lima noona dan 3 adik. Setelah semuanya datang, Soo Hyuk pun memperkenalkan nama mereka satu per satu. 


Mereka semua berkumpul di meja makan, disana juga ada ibu Soo Hyuk. Soo Hyuk mendekatkan semua makanan pada Mi Mo dan Mi Mo memakannya dengan gaya sok cantik.  Melihat hal itu, membuat sang ibu kesal dan berkata kalau nafsu makannya hilang. 

“Makan seperti itu, kau menampik keberuntungan,” ucap ibu Soo Hyuk.

“Makan sedikit sedikit sok jaim, aku paling benci itu. Makan seperti biasanya sajalah!” ucap kakak Soo Hyuk. Melihat semua keluarganya tidak suka pada Mi Mo, Soo Hyuk kesal sampai-sampai dia memukul meja. 


“Jangan ganggu Mi Mo ku kalau kalian aku akan kembali ke Amerika,” ucap Soo Hyuk dengan nada marah dan dia kemudian berkata pada MI Mo kalau Soo Hyuk akan melindunginya. Soo Hyuk kemudian mengajak Mi Mo pergi.

Mi Mo bernarasi lagi, “Sesulit apapun kondisinya, selama pria yang kucintai disisiku, aku bisa tenang. Tapi... 

Kita kembali diperlihatkan saat Min Woo  meminta agar Mi Mo tidak menyakiti Soo Hyuk.

....Anaknya ceritanya beda.”


Akhirnya Mi Mo bangun dari lamunannya dan malah merasa sedih.


Dong Mi mengundang Jung Woo ke rumahnya dan dia memasakkan banyak makanan untuk sang kekasih. Dong Mi menyuruh Jung Woo makan yang banyak agar di ujian TOEIC nanti nilai Jung Woo bagus. Jung Woo setuju dan dia berjanji akan mendapatkan nilai 990.  Jung Woo kemudian bertanya apa yang akan Dong Mi lakukan hari ini. 

“Hari ini? Temanku ada yang mau kesini dengan bayinya,” jawab Dong Mi dan Jung Woo langsung berkata kalau dia sangat menyukai bayi.

Dong Mi lalu menceritakan kalau pacar temannya itu melamarnya setelah dia mendapat kerja dan setelah menikah, mereka cepat dapat momongan. Membahas tentang pernikahan, Dong Mi kemudian memberanikan diri untuk bertanya tentang rencana pernikahan Jung Woo.


“Aku... aku ingin menikah setelah 5  tahun bekerja,” jawab Jung Woo santai sambil makan.

“Dapat kerjaan saja susah harus menunggu 5 tahun segala?” tanya Dong Mi shock.


“Iya, butuh 5 tahun bekerja supaya uang terkumpul untuk modal menikah. Hingga saat itu, jagi (sayang) kau mau buatkan dosirak (bekal makan siang) begini kan? Kalau kita menikah, aku akan memberimu kehidupan yang enak,” ucap Jung Woo dan Dong Mi hanya bisa tersenyum dengan senyum yang dipaksakan.


Teman Dong Mi datang dengan anaknya. Dong Mi senang melihat bayi, dia juga mengaku iri pada temannya, karena hidup temannya seperti mulus-mulus saja. 

“Kau juga harus segera menikah. Kurasa hubunganmu dengan pria muda itu tidak akan sampai ke pelaminan. Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini. Karena aku mengkhawatirkanmu,” ucap teman Dong Mi.


Mi Mo dan Soo Hyuk makan malam romantis di rumah Mi Mo dan Mi Mo sengaja tidak menambahkan alkohol karena kalau sudah mabuk, mereka berdua selalu melakukan sesuatu yang aneh-aneh. 

“Aku menerima dosirak juga hadiah darimu, jadi tak mungkin aku diam saja. Aku berani jamin bahan-bahannya segar. Maha karya Han Mi Mo,” ucap Mi Mo dan menambahkan kalau meskipun Soo Hyuk makan semuanya sampai kenyang, dia tidak akan sakit perut lagi. Soo Hyuk kemudian mencoba kue tar-nya dan rasanya enak. 


Selesai makan, mereka pun menikmati teh bersama. Soo Hyuk lalu mengaku kalau berduaan seperti itu dengan Mi Mo tanpa minum alkohol malah sangat berbahaya. 

“Apa? Bahaya bagaimana?” tanya Mi Mo tak mengerti. 

“Dibawah temaram cahaya begini. Aku yang masih dalam kondisi sadar menatapmu. Wajah cantikmu membuatku gila,” ucap Soo Hyuk.

“Apaan sih... sebetulnya aku sudah memperhitungkan pencahayaannya, hal ini membuatku terlihat 1 – 2 tahun lebih muda. Menyembunyikan bintik-bintik dan pori-poriku. Jadi terlihat baby face,” jawab Mi Mo dan Soo Hyuk semakin memperhatikan wajah Mi Mo. 

“Matamu cantik, hidungmu cantik, bibirmu juga cantik. Aku selalu memikirkannya, bibirmu sangat cantik,” puji Soo Hyuk dan itu membuat Mi Mo senang. Mi Mo juga setuju kalau bibirnya itu memang cantik, bahkan dia berpikir kalau bibirnya itu selalu membuat orang berpikir untuk menciumnya.


“Kalau memanggilku, harus kurespon. Tak sopan kalau tak meresponnya,” ucap Soo Hyuk dan hendak mencium Mi Mo. Namun mereka harus menyetopnya karena Ppoppo melihat mereka. Soo Hyuk tak nyaman jika mencium Mi Mo di depan Ppoppo, jadi dia mengajak Mi Mo ke kamar. Saking senangnya, Soo Hyuk menggendong Mi Mo masuk ke kamar. 



Mereka berbaring dan saling berhadapan. Dengan lembut, Soo Hyuk mencium Mi Mo. Di luar Ppoppo menonton TV sendirian.  Pagi tiba, Soo Hyuk bangun dan memandangi Mi Mo juga membelai wajahnya.


Di rumah, Dong Bae menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Ae Ran. Namun Ae Ran terlambat jadi dia buru-buru pergi. 

“Mau kemana? Sarapan dulu,” panggil Dong Bae dan menghalangi Ae Ran pergi. 

“Aku terlambat,” jawab Ae Ran.

“Kalau aku mengantarmu, kau tak akan terlambat. 10 menit saja untuk sarapan. Ayo duduklah,” ajak Dong Bae dan Ae Ran tak bisa menolak.  Selain sudah mempersiapkan sarapan, Dong Bae juga sudah membuatkan dosirak untuk Ae Ran. 


“Pisang, tomat, paprika dan yang sangat kau suka.. (Dong Bae menunjukkan kacang almond yang sudah di packing di kotak kecil)... Ini enak, pegawaiku semuanya juga suka,” ucap Dong Bae dan Ae Ran memang menyukai kacang almond itu. 

“Dong Bae, kau gunakan ini untuk merayu para wanita? Beli ini beratus-ratus lalu kau berikan pada pegawai wanitamu,” tanya Ae Ran curiga.

“Tidak, bodo amat mereka lapar. Gizinya makanan mereka juga kurang. Aku tak ingin kau sampai kelaparan karena kau istriku,” jawab Dong Bae dan Ae Ran percaya. Diapun minta Dong Bae mengantarnya. 


Ji Ae menemui Dong Mi di kelasnya dan memberikan kumpulan tugas siswa-siswi yang lain. Dong Mi lalu bertanya tentang kelanjutan hubungan  Ji Ae dan pacarnya. Ji Ae menjawab kalau mereka sudah putus. 

“Susah ternyata pura-pura tahu segala hal,” jawab Ji Ae yang mengaku kalau sekarang dia sudah pacaran dengan oppa kelas 5. 

“Kau populer sekali ya,” puji Dong Mi.


“Tapi aku galau, harus putus dengannya atau fokus belajar?” ucap Ji Ae karena setelah berpacaran dengan dua pria yang berbeda usia, dia baru sadar kalau semua anak laki-laki itu sama dan kekanak-kanakan. Mau itu dia berumur 8 tahun atau 12 tahun. Ji Ae lalu bertanya tentang hubungan Dong Mi dan pacarnya yang masih brondong. 

“Ibu masih pacaran sih, tapi banyak permasalah yang tidak bisa dibicarakan,” jawab Dong Mi.

“Bu guru juga harus menyelesaikannya,” pesan Ji Ae dan Dong Mi memuji karena Ji Ae sangat pintar. Saat ditanya apa cita-cita Ji Ae, dengan bangga Ji Ae menjawab jadi guru. 

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 14 - 2

3 comments :