March 9, 2016

One More Happy Ending Episode 13 - 2


Dong Mi sudah berpakaian ala anak muda usia 20-an. Kenapa dia memakai pakaian itu? Ternyata dia ingin bertemu dengan teman-temanya Jung Woo. Merasa pede dengan kakinya, Dong Mi pun sengaja memakai rok mini. Ia akan meluluhkan hati semua teman Jung Woo dengan kakinya. 

Tak ingin sahabatnya nanti merasa malu, Ae Ran menyarankan agar Dong Mi tidak datang. Namun Dong Mi tak mau, dia tak mau terus menghindar demi Jung Woo. 



Dong Mi sekarang sudah bersama Jung Woo dan teman-temannya. Dengan begitu perhatiannya, Jung Woo menyuapi Dong Mi. Tentu saja apa yang Jung Woo lakukan itu, membuat teman Jung Woo yang wanita merasa tak nyaman dan iri pada Dong Mi. 


Saking tak senangnya dengan Dong Mi, salah satu teman wanita Jung Woo yang masih berusia 21 tahun, berkata kalau 10 tahun kemudian dia  pasti juga akan seperti Dong Mi. Tentu saja Dong Mi tak terima dan hendak marah, namun amarahnya langsung reda saat Jung Woo membelanya.

“Jika kau merawat penampilanmu dengan baik, kau akan tetap imut seperti Dong Mi, bahkan setelah 10 tahun,” ucap Jung Woo dengan bangganya dan tanpa dia sadari semua temannya tak senang dengan pernyataan itu. Jung Woo bahkan menambahkan kalau dia baru pertama kalinya bertemu dengan wanita se-imut Dong Mi. 

“Oppa, apa kau ingin melihat wajah imut yang sesungguhnya? Wanita usia 31 tahun sedang menantang gadis usia 21 tahun,” ucap teman Jung Woo yang lain. 


Apa yang akan teman Jung Woo tunjukkan? Ternyata dia manantang Dong Mi untuk menunjukkan keimutannya dengan bernyanyi. Mereka semua sekarang sudah berada di sebuah ruang karoke. Teman-teman Jung Woo yang wanita bernyanyi terlebih dahulu. Ada yang berduet, satu bernyanyi dan satunya menari. Ada teman wanita Jung Woo yang satunya lagi bernyanyi sendirian. Dan mereka semua menyanyikan lagu girlband yang lagi nge-hits sekarang. 


Tiba giliran Dong Mi. Dia bingung menentukan lagu mana yang akan dia nyanyikan, karena dia tak tahu dengan lagu-lagu baru. Setelah mencari-cari, akhirnya Dong Mi bernyanyi lagu “Dear My Boyfriend” dari Fin. K. L. Melihat Dong Mi bernyanyi, semua teman Jung Woo merasa tak senang. Hanya Jung Woo sendirilah yang melihat Dong Mi dengan ekspresi wajah penuh senyum. 


Sampai di rumah, Dong Mi langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ae Ran pun berkomentar kalau Dong Mi sudah melakukan hal yang tidak perlu dilakukan. 

“Berhenti berkata seperti itu, seharusnya kau menyemangati aku. Apa kau belum mendengar tentang kekuatan positif?” tanya Dong Mi kesal.

“Kau ini sudah keterlaluan. Aku menentang hubungan ini,” jawab Ae Ran.

“Aissh.. Hei, apa kau sudah berkemas? Pulang sana ke rumahmu! Dong Bae sedang menunggumu.”

“Jangan khawatir, aku sedang berkemas,” jawab Ae Ran kesal dan langsung pergi.


Di kamar Ae Ran mendumel, “Aku hanya berharap dia tak terluka dan datang padaku dengan menangis.” 

Tepat disaat itu, Ae Ran mendapat pesan gambar dari Bo Kyung. “Direktur, aku ada di restoran bersama kekasihku dan aku mengirim sms ini karena aku melihat suamimu. Apa kau pikir dia sedang berselingkuh?”

Melihat foto suaminya di kelilingi banyak wanita tentu saja Ae Ran kesal dan langsung pergi ke tempat itu. Ternyata Dong Bae bukan sedang berselingkuh, melainkan sedang kumpul bersama semua rekan kerjanya. Disana juga ada bosnya Dong Bae. 


Terlanjur datang ke acara tersebut, Ae Ran pun jadinya ikut bergabung dengan rekan kerja Dong Bae. Di depan bos Dong Bae, Ae Ran beralasan datang untuk membantu Dong Bae. Ae Ran tidak ingin Dong Bae mabuk, jadi Ae Ran yang akan minum untuk Dong Bae malam ini. Mendengar itu, si bos pun berkomentar kalau Dong Bae sangat beruntung, karena istrinya mau datang ke acara makan malam kantor mereka hanya untuk menggantikan Dong Bae minum. 

Dong Bae berbisik, tanya siapa yang memberitahu Ae Ran tentang acara makan malam itu. Namun Ae Ran tak menjawab, dia malah balik bertanya kenapa banyak sekali wanita di departemen tempat Dong Bae bekerja. 

“Apa kau berharap lebih banyak karyawan pria di perusahaan produk kecantikan?” jawab Dong Bae membuat Ae Ran tak bisa lagi berkata-kata.


Mi Mo menutup kantornya dan saat dia hendak memasukkan password pintu, tiba-tiba seseorang membantunya memencet tombol dan orang itu adalah Soo Hyuk. Tentu saja Mi Mo terkejut sekaligus senang melihat Soo Hyuk. 

“Aku tidak bergurau saat aku mengatakan kalau aku akan mendekatimu,” ucap Soo Hyuk dan kemudian bertanya apa Mi Mo sudah makan. Mi Mo mengiyakan.

“Apa kau makan banyak?”

“Iya.”

“Sebanyak apa?” tanya Soo Hyuk lagi.

“Sebanyak ini,” jawab Mi Mo sambil membuat bentuk lingkaran besar dengan tangannya.


“Aigoo, perut ikan mas-ku pasti sudah ingin meledak,” ucap Soo Hyuk sambil memegangi wajah Mi Mo. Soo Hyuk kemudian mengajak Mi Mo pulang bersama. Hmmm.... mereka berdua memang cocok. 


Ketika jalan bareng, Mi Mo bertanya apa Soo Hyuk tidak suka jika ada wanita yang sering menghubungi dirinya, seperti mengirim sms dan menelpon Soo Hyuk setiap harinya. Soo Hyuk menjawab dia memang tidak menyukai hal seperti itu, tapi kalau Han Mi Mo yang melakukannya, Soo Hyuk akan menyukainya. 

“Baiklah, kalau begitu aku akan terus mengawasimu. Aku bisa menghubungi orang 100 kali dalam sehari,” ucap Mi Mo.

“Seratus kali terlalu sering. Aku akan menjawab setiap kali kau menelponku,” jawab Soo Hyuk dan Mi Mo kemudian meminta Soo Hyuk untuk tidak pernah mengabaikan atau menghilang darinya. 

“Bahkan jika kau bosan denganku dan ingin putus. Jangan pernah mengatakan 2 kata itu melalui sms,” pinta Mi Mo.

“Oke. Kalau begitu aku akan mengirimkan kata-kata yang panjang untuk menjelaskan mengapa aku ingin putus,” jawab Soo Hyuk dan tersenyum.

“Jangan putuskan aku melalui SMS,” sergah Mi Mo kesal.


“Baiklah... kenapa kau berpikir soal putus denganku? Jangan khawatir,” ucap Soo Hyuk dan merangkul Mi Mo. Baru beberapa langkah mereka berjalan, ada seseorang yang memanggil Soo Hyuk dengan sebutan, “Oppa”. Siapa dia? Dia adalah So Eun yang saat itu sedang bersama Min Woo. 

Melihat So Eun, Mi Mo langsung melihat ke arah Soo Hyuk meminta penjelasan. Namun Soo Hyuk sendiri bingung memperkenalkan mereka berdua, jadi dia hanya diam. Mi Mo dan So Eun saling tatap dengan tatapan sinis. 


Tatapan sinis mereka masih berlanjut ketika mereka berada di dalam lift. Mi Mo kembali bertanya dengan bahasa mata pada Soo Hyuk, tentang siapa So Eun. Namun Soo Hyuk tak berkata apa-apa, dia hanya merangkul Mi Mo untuk menyatakan secara implisit kalau Mi Mo adalah wanita yang istimewa untuknya. 


Mi Mo tentu saja merasa senang dirangkul seperti itu. Sebaliknya,  So Eun terlihat sangat kesal dan Min Woo sendiri hanya senyum-senyum melihat sikap ayahnya saat diperebutkan dua wanita. 


Keluar lift, So Eun ikut keluar dengan mereka dan itu membuat Soo Hyuk berkata, “Aku pikir kau tinggal di lantai atas.”

“Apa kau tidak lihat ini?” jawab So Eun menunjukkan barang-barang belanjaannya. “Kami sudah beli bahan makanan karena Min Woo merasa lapar,” tambah So Eun dan Min Woo membenarkan. Soo Hyuk kemudian hendak mengambil bahan makanan itu dan akan memasaknya sendiri.

“Aku kecewa. Kenapa kau jadi dingin seperti itu? Kau membuatku sedih,” ucap So Eun dengan nada manja. “Apa kau tidak ingat aku sudah mengasuh Min Woo?”

“Mengasuhnya?” gumam Mi Mo.

“Jadi, jangan kecewakan aku atau aku....! akan beritahu ibu. Dan aku disini, ingin masak untuk Min Woo, bukan untukmu. Jadi, jangan halangi aku,” ucap So Eun dan mengajak Min Woo masuk ke rumah. 


Saat hanya berdua, Mi Mo meminta penjelasan dari Soo Hyuk namun Soo Hyuk tak bisa menjelaskan apa-apa. Di dalam rumah, So Eun bertanya siapa Mi Mo pada Min Woo dan Min Woo hanya menjawab kalau Mi Mo adalah ahjumma yang tinggal di depan rumah mereka. Min Woo mengaku kalau dia tidak tahu apa yang sudah terjadi, Mi Mo dan ayahnya tidak seperti itu bulan lalu. 

“Seperti anak kecil saja, memandangiku seperti itu.. padahal sudah pasti dia lebih tua dariku,” ucap So Eun kesal.


Tepat disaat itu Soo Hyuk masuk dan bertanya kenapa So Eun pindah ke gedung yang sama dengan dia. So Eun yang tak kalah menjawab kalau dia tak mau ke tempat lain. 

“Apa kau benar-benar tinggal diatas?” tanya Soo Hyuk.

“Kau senang bukan?”

“Tidak mengerikan.”

“Jangan buat aku marah atau aku akan mengganggumu dengan suara bising dari atas. Aku akan membeli anjing pemburu dan berlari datas treadmill setiap malam,” ucap So Eun kesal.

“Kenapa dia berkata seperti itu?” bisik Soo Hyuk pada Min Woo. Min Woo menjawab tidak tahu. 


Di rumah, Mi Mo merasa gelisah memikirkan ada wanita lain di rumah Soo Hyuk. Dia kemudian mendapat ide jitu agar bisa masuk juga ke dalam rumah Soo Hyuk. Idenya adalah mengambil semua bahan makanan yang ada di dalam kulkas dan membawanya ke rumah Soo Hyuk untuk dimasak. Mi Mo juga ingin membuatkan makanan untuk Min Woo. 


Seperti kompetisi memasak, Mi Mo dan So Eun pun bersaing membuat makanan di dapur Soo Hyuk. Sedangkan Soo Hyuk dan Min Woo hanya menonton apa yang mereka lakukan. Dari cara memasaknya, So Eun jauh lebih unggul dari Mi Mo.

Setelah masakan jadi, Mi Mo juga sempat mencuri sepotong daging yang So Eun masak dan sepertinya enak, karena Mi Mo terlihat tak senang setelah mecicipinya. 


Hasil masakan dari kedua wanita cantik itu sekarang sudah di hidangkan dan Min Woo sebagai juri pencicipnya. Makanan yang pertama Min Woo coba adalah milik Mi Mo.

“Enak bukan?” tanya Soo Hyuk yang sepertinya sangat ingin Min Woo memuji masakan Mi Mo.


“Bagaimana mengatakannya ya... rasnaya... sehat. Tidak pedas atau asin. Bisa disajikan sebagai hidangan... tapi aku rasa aku tidak akan makan itu lagi,” jawab Min Woo dan Mi Mo terlihat lemas mendengarnya. Min Woo kemudian mencicipi masakan So Eun dan tanpa basa basi lagi, Min Woo langsung berkomentar enak. 


“Aku suka tekstur sayuran segarnya. Saus yang kental cocok dengan seleraku. Dengan kata lain, ini yang sebenarnya aku inginkan,” komen Min Woo dan dengan senang hati akan memakan masakan So Eun. Mendengar pujian Min Woo pada masakan So Eun tambah membuat Mi Mo tak enak hati dan Soo Hyuk terlihat tak nyaman melihat Mi Mo seperti itu. 


Da Jung membelai Tae Young yang sedang tertidur pulas. Setelah dari kamar Tae Young, Da Jung kemudian menemui Gun Hak dan mengatakan kalau dia bersedia pergi ke tempat itu, tempat yang bisa mengembalikan cinta mereka. Tapi dengan syarat, Gun Hak harus kembali pergi bekerja karena Gun Hak tak perlu sampai ambil cuti hanya untuk melakukan hal seperti itu. 


“Kau pikir aku tidak mampu membiayai kehidupanku jika cuti sebulan? Untuk dirimu, ini bukan apa-apa. Jangan khawatir, aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan,” jawab Gun Hak.


Ae Ran berpamitan pada Dong Mi karena dia harus tinggal bersama Dong Bae. Sambil pelukan, Dong Mi berpesan agar Ae Ran berbahagia dan jangan lari padanya lagi kalau mereka bertengka rkarena Dong Mi tidak akan membiarkan Ae Ran masuk ke rumahnya lagi.

“Aku tidak punya tempat lagi. Aku akan langsung kesini jika nanti aku bertengkar,” jawab Ae Ran. Dong Mi terus menyuruhnya untuk tidak bertengkar. Namun Ae Ran tetap tak bisa menjawab dia tidak. 

“Hei, tempat ini bukan hotel,” protes Dong Mi dan melepas pelukannya. “Berhenti bertengkar dan nikmati pernikahan kalian!” teriak Dong Mi.


Dong Bae menjawab kalau mereka memang akan menikmati pernikahan mereka, jadi Dong Mi tak perlu khawatir. Dong Mi mempercayakan semuanya pada Dong Bae dan dia juga meminta Dong Bae untuk tidak menyakiti hati Ae Ran. 

“Hatiku akan lebih tersakiti. Perjanjian pernikahannya penuh dengan ketentuan,” jawab Dong Bae dan Ae Ran hanya diam saja.


“Aku percaya denganmu, Dong Bae... semangat!!!!” ucap Dong Mi dan mempersilahkan mereka pergi.


Di rumah, Mi Mo kembali gelisah karena dia kalah dari So Eun. Dia bertanya-tanya kenapa Min Woo memperlakukannya seperti itu. Masih tak terima dengan kekalahannya, Mi Mo kembali ke rumah Soo Hyuk untuk bertanya kenapa makanan yang dia buat kurang enak. 

“Aku rasa kau harus pastikan menggunakan bahan masakan yang segar,” jawab Min Woo.

“Apa?” tanya Mi Mo dan tepat disaat itu, mereka mendengar suara Soo Hyuk muntah-muntah. 

“Ayah makan semua masakan ahjumma dan akhirnya sekarang perutnya jadi mual,” jelas Min Woo tentang apa yang terjadi pada ayahnya. Mendengar itu tentu saja Mi Mo shock dan langsung masuk ke dalam menemui Soo Hyuk. 


Mi Mo membawakan obat untuk Soo Hyuk dan bertanya apa makanan buatannya separah itu sampai membuat Soo Hyuk sakit, padahal bahan yang Mi Mo gunakan belum habis masa kadaluarsanya. Soo Hyuk menjawab kalau perutnya memang sensitif, jadi akan cepat bereaksi meskipun makanannya tidak basi. 


“Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa tidak enak,” ucap Mi Mo dengan perasaan bersalah dan Soo Hyuk menjawab tidak masalah karena dia juga sudah minum obat. Setelah minum obat, Soo Hyuk berbaring di tempat tidur dan Mi Mo pergi ke dapur membuat bubur untuk Soo Hyuk.


Dari kamar, Soo Hyuk bisa melihat Mi Mo yang sedang membuat bubur dan itu membuatnya tersenyum senang.


Mi Mo kembali ke kamar Soo Hyuk dan memeriksa apakah badan Soo Hyuk panas. “Jadi pengangguran dan sekarang sakit. Semuanya menjadi tertekan seperti ini kan? Kau membuatku sedih,” ucap Mi Mo sedih. 


“Aku tidak merasa tertekan. Aku memilikimu, jadi aku tidak merasa tertekan,” jawab Soo Hyuk dan merasa senang karena dia akhirnya merasakan rasanya memiliki seseorang yang mau merawatnya. “Mendekatlah, jangan jauh-jauh dariku,” ucap Soo Hyuk dan meminta Mi Mo berbaring di sampingnya.

Soo Hyuk ingin Mi Mi Menemaninya karena dia sedang sakit. Mi Mo pun melakukan apa yang diminta Soo Hyuk. Berbaring di tempat tidur yang sama, mereka saling tatap dan senyum bahagia. 


Pagi tiba dan mereka masih berada di posisi yang sama. Soo Hyuk berkata kalau dia ingin mengingat saat-saat seperti itu dengan Mi Mo. “Kau tidur disini... di atas tanganku seperti ini,” ucap Soo Hyuk dan mencium kening Mi Mo.


Di kantor, Da Jung mengungkapkan rasa leganya, karena beberapa bulan lalu, Mi Mo sering sekali menangis dan sekarang Mi Mo terus terlihat bahagia. Mi Mo kemudian mengaku kalau dia ingin lebih mesra lagi dengan Soo Hyuk, tapi setiap ingin melakukannya, dia selalu merasa takut. 

“Bagaimana jika ada yang salah lagi? Aku selalu takut dengan hal-hal seperti itu?” ucap Mi Mo.

“Aku rasa, kau sangat mencintainya. Kau tidak pernah takut dengan hal-hal seperti itu sebelumnya dan hanya menjalaninya, jawab Da Jung yang memang sangat mengenal karakter Mi Mo. Da Jung kemudian membahas tentang Min Woo. Dia bertanya apa Min Woo benar-benar sangat dewasa dan bijaksana untuk anak seusianya dan Mi Mo dengan yakin mengiyakan.

“Ahh, kalau begitu pasti akan baik-baik saja,” gumam Da Jung.

“Kenapa?”

“Kau tahu kalau mengasuh anak orang lain tidaklah mudah, kita sudah menghadapi persoalan dari klien kita... soal yang ada hububngannya dengan itu,” jawab Da Jung.

“Sekarang, aku jadi berpikir kalau aku akan mengalaminya,” ucap Mi Mo dengan sedikit ragu. 


Di ruangan kerjanya, Mi Mo teringat kembali pada pertemuan dirinya dan Min Woo untuk yang pertama kali setelah Min Woo kembali dari Amerika. Saat itu Min Woo terlihat dingin padanya. Lamunan Mi Mo langsung buyar saat mendengar pintu ruangannya terbuka. Sek. Gwak muncul untuk memberitahu Mi Mo kalau ada klien baru yang punya nilai 99 dari 100. 


“Siapa dia? Apa Gianna Jun atau Koo So Young bercerai atau apa?” gumam Mi Mo dan orang yang di maksud pun masuk ruangan Mi Mo. Ternyata orang yang punya nilai 99 itu adalah Yeon Soo. Ketika Mi Mo bertanya maksud kedatangannya, Yeon Soo menjawab kalau dia ingin menikah dengan pria yang baik, pria yang lebih baik dari Koo Hae Joon. 


Gun Hak dan Da Jung sudah berada di perkumpulan pasangan untuk mempelajari apa itu cinta. Namun berada di tempat itu membuat Da Jung tak nyaman karena semua mata terarah pada mereka gara-gara kaos couple yang mereka kenakan. Gun Hak pun memberitahunya untuk tidak perduli dengan tatapan semua orang, yang harus mereka lakukan hanya fokus pada hubungan mereka saja, karena mereka datang ke tempat itu bukan untuk mencari teman. 

Acara di mulai dan mereka semua diperlihatkan pada foto-foto yang menggambarkan perasaan cinta. Melihat semua foto yang rata-rata adalah foto kissing, membuat Gun Han dan Da Jung merasa sedikit canggung.  


Setelah semua foto di tampilan, MC acara tersebut muncul dan dia menyebut dirinya sebagai penasehat cinta dan nama orang tersebut adalah Park Bo Dae. Tapi dari cara Bo Dae mengatur acara tersebut, dia tak terlihat sebagai MC atau penasehat cinta, dia seperti komedian, karena berusaha membuat semua peserta tertawa.


Da Jung kemudian menceritakan semua hal yang dia alami di acara itu pada Dong Mi dan Mi Mo. Da Jung juga menunjukkan  stiker love yang diberikan oleh panitia acara tersebut dan Da Jung diminta menempelkannya setiap hari.

“Hei, muridku saja terlalu tua untuk permainan seperti ini. Anak SD akan menertawakannya,” komentar Dong Mi.

“Tae Young melakukan ini di TK. Sekarang, Gun Hak dan aku harus melakukannya. Ahh... jujur saja, ini sangat memalukan,” keluh Da Jung.

“Kenapa harus merasa malu? Lagipula cinta adalah hal yang kekanak-kanakkan. Semakin kekanak-kanakan, semakin bagus,” jawab Mi Mo.


Ternyata Mi Mo dan ketiga sahabatnya pergi ke rumah Ae Ran. Mereka semua tercengang dengan makanan yang Ae Ran siapkan untuk mereka, tak ada satupun yang Ae Ran sajikan di atas piring, semuanya masih dalam wadah tempat makanan itu di pesan. Saat di tanya kenapa Ae Ran tak meletakkannya di piring, Ae Ran menjawab tak masalah lagi pula piringnya tidak akan mereka makan juga.

Dong Mi lalu bertanya apa Ae Ran bisa memasak untu Dong Bae. Dengan santai Ae Ran menjawab kalau dia memang tak perlu memasak karena Dong Bae bisa mencari makanannya sendiri. Lagipula mereka berdua adalah orang yang sama-sama sibuk. 


Selesai makan, mereka minum teh sambil ngobrol. Dong Mi melihat foto pernikahan Ae Ran dan memuji kalau fotoya sangat bagus. Ae Ran terlihat anggun dan feminin. Ae Ran lalu menjawab kalau saat itu, dia sangat berusaha keras untuk terlihat anggun dan feminin. 

“Ach, aku jadi ingin punya foto pernikahan juga,” gumam Dong Mi dan mengambil foto itu.

“Jika begitu, putuskan hubungan dengan anak yang 9 tahun lebih muda darimu itu,” jawab Ae Ran. Mi Mo dan Da Jung terkejut mendengar Dong Mi pacaran dengan pria yang lebih muda 9 tahun. Ae Ran pun menjelaskan kalau ternyata pria yang sedang dekat dengan Dong Mi itu masih berusia 25 tahun dan yang lebih parahnya lagi, Dong Mi belum mengatakan berapa usia dia yang sebenarnya. 

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Da Jung. Dong Mi menjawab kalau dia akan memberitahu semuanya jika waktunya sudah tepat. Ae Ran lalu memberitahu dua sahabatnya lagi kalau Dong Mi sudah pergi ke tempat karoke bersama anak-anak usia 20 tahunan. 

“Kau berusaha keras untuk berkencan dengan anak muda itu. Ini makanlah dan tersenyumlah, oke?” ucap Ae Ran dan menyuapi Dong Mi kacang almond. 

“Kau... lihat saja nanti. Aku akan buktikan padamu kalau aku tidak menyia-nyiakan waktuku dengannya,” jawab Dong Mi yakin. 

“Aduh seperti artis Hollywood saja... apa kau akan menikah dengannya?” tanya Ae Ran.

Dong Mi langsung menjawab kenapa tidak. “Dimana seseorang, aku wanita yang sangat imut,” tambah Dong Mi dengan pedenya.


“Wuaah. Lalu apa itu artinya kalau Dong Mi..  akan menjadi Dong Mi Moore?” ucap Mi Mo dan yang lain tertawa. Dong Mi lalu berkata dengan yakin kalau dia nanti akan membuat foto pernikahan seperti Ae Ran meskipun  nantinya dia akan bercerai. 

“Ahh... akan mengganggu sekali jika kau bercerai. Aku juga punya... foto seperti itu,” ungkap Mi Mo.


Mi Mo sudah berada di kamarnya dan mengambil foto pernikahannya bersama Seung Jae di bawah tempat tidur. 

“Aku tidak bisa membuangnya... bukan hanya karena ada aku, tapi.... ini juga bisa menjadi alat yang efisien dalam tindak kejahatan kecil,” ucap Mi Mo.


Flashback

Foto pernikahan itu sengaja Mi Mo pasang agar pria yang masuk rumahnya tidak berani berbuat macam-macam setelah melihat foto pernikahan itu.


“Aku rasa sudah waktunya bagiku untuk membuangnya. Tapi bagaimana cara aku membuangnya?” tanya Mi Mo pada dirinya sendiri. Foto besar itu kemudian sudah dilahap api, ternyata Mi Mo membakarnya. “Ini cara yang terbaik. Tidak akan ada bekasnya,” ucap Mi Mo.


Shi A sedang berada di pinggir jalan, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian, seseorang keluar dari taksi dan orang itu adalah Seung Jae. Dia sepertinya baru pulang dari luar negeri, melakukan perjalanan bisnisnya. 


Foto sudah habis terbakar, Mi Mo pun hendak pergi. Saat dia berbalik tiba-tiba Soo Hyuk muncul dan mengagetkannya. Soo Hyuk bertanya kenapa Mi Mo bermain api malam-malam. 

“Ada yang harus aku bakar. Aku sudah membersihkan kekacauan yang sudah aku simpan selama lima tahun,” jawab Mi Mo.

“Bakar saja di siang hari. Berbahaya jika di malam hari. Aduh... ikan masku terlihat lebih cantik di malam hari. Dari belakang kau terlihat sangat seksi,” goda Soo Hyuk dan merangkul Mi Mo.

“Aku memiliki tubuh yang mempesona dari berbagai sudut. Tergantung dari sudut mana kau melihatku. Terkadang aku imut dan terkadang seksi. Terkadang aku polos dan terkadang...,” belum sempat Mi Mo membanggakan diri, Soo Hyuk langsung mengajaknya pulang.


Saat berada di dalam lift, Soo Hyuk dengan pengertiannya terus menggenggam tangan Mi Mo agar Mi Mo merasa hangat. Tiba-tiba lampu lift mati dan lift berhenti naik. Soo Hyuk langsung meminta bantuan dan penjaga berkata kalau dia akan segera mengatasinya. Mi Mo sendiri terlihat cemas dan ketakutan.


“Kau sungguh tidak apa-apa?” tanya Soo Hyuk khawatir.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Mi Mo, namun dia masih terlihat cemas.


Soo Hyuk dan Mi Mo sampai duduk di lantai, karena penjaga belum juga memperbaiki lift-nya. Mi Mo bertambah takut dan Soo Hyuk langsung memeluknya agar Mi Mo merasa tenang. 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Soo Hyuk lagi dan Mi Mo menjawab dengan anggukan. Soo Hyuk kembali memeluk Mi Mo. Dia menepuk-nepuk pundak dan juga membelai rambut Mi Mo.


Min Woo pulang dan dia melihat petugas lift lewat. Dia kemudian memencet tombol lift, namun lift tak mau terbuka, angka lift berhenti di angka 7. Tepat disaat itu, So Eun muncul dan ikut menunggu lift bersama Min Woo. Karena lift tak ada yang bisa digunakan, Min Woo mengajak So Eun naik tangga. Tapi So Eun tak mau naik tangga karena dia menggunakan high heels, jadi dia mengajak Min Woo menemui penjaga gedung. 


Di ruang CCTV, si penjaga sedang asik melihat video CCTV. So Eun bertanya tentang lift dan si penjaga menjawab kalau dia pikir tidak boleh mengacaukan suasana. Suasana apa yang penjaga itu maksud? Ternyata itu adalah adegan mesra yang sedang Soo Hyuk dan Mi Mo lakukan di dalam lift. 


“AHJUSSI! Kau harus segera memperbaikinya jika liftnya rusak. Apa yang kau lakukan sekarang ini?” teriak So Eun saat panik melihat apa yang terjadi di dalam lift. 

“Mereka terlihat manis. Mereka mengingatkan aku dan istriku. Sebenarnya aku ini juga pria yang romantis, loh,” jawab penjaga dan karena sudah lewat 10 menit jadi dia pun pergi untuk memperbaiki liftnya. 


Di dalam lift, Soo Hyuk masih memeluk Mi Mo, mereka langsung merasa lega saat lampu lift menyala dan mulai bergerak lagi. 


Soo Hyuk sudah berada di sebuah restoran, dia mendapat telepon dari Mi Mo. Saking senangnya mendapat telepon dari Mi Mo, Soo Hyuk menekan tombol OK dengan menggunakan bibirnya. Mi Mo bertanya apa Soo Hyuk sudah bertemu dengan adiknya dan Soo Hyuk menjawab belum, adiknya belum datang. 

“Kau pasti lapar,” ucap Mi Mo dan Soo Hyuk menjawab tidak lapar, yang sekarang dia rasakan adalah merindukan Mi Mo. 

“Kau punya acara di hotel yang sama kan?” tanya Soo Hyuk dan Mi Mo mengiyakan. “Aku akan menunggumu. Nanti kita pulang sama-sama.”


“Oke. Aku akan segera menyelesaikan, selamat bersenang-senang dengan adikmu,” jawab Mi Mo dan kemudian telepon di tutup. 


Mi Mo melintasi pintu depan. Tepat disaat itu, Shi A dan Seung Jae masuk, namun mereka bertiga sama-sama tidak saling melihat. Shi A dan Seung Jae menemui Soo Hyuk. Ternyata Shi A ingin memperkenalkan Soo Hyuk dengan Seung Jae. 


Mereka bertiga kemudian makan bersama. Saat makan Shi Ah bercerita kalau dulu Soo Hyuk sering menyelamatkan dirinya. 

“Setiap ada anak yang menggodaku karena aku terlihat aneh, dia berkelahi dengan mereka dan mengatakan kalau mereka terlihat lebih aneh. Sebenarnya dia sering kali berkelahi, tapi dia bukan pejuang hebat,” ucap Shi A.

“Tapi berkat semua itu, aku sudah bisa berkelahi dengan lebih baik,” jawab Soo Hyuk. Namun Shi A tidak percaya ucapan itu sebelum dia melihatnya langsung.

“Tolong jangan buat Shi A menangis,” pinta Soo Hyuk pada Seung Jae.

“Kau tidak akan menunjukkan kehebatan berkelahimu kan. Aku tidak akan membuatnya menangis,” janji Seung Jae dan mereka bertiga pun tersenyum.


Kita beralih pada Mi Mo yang masih bersama Sek. Gwak. Mereka membahas tentang harga tiket untuk acara kencan buta. Karena tak mau merugikan kliennya, Mi Mo menyuruh Sek. Gwak untuk memastikan dulu harga tempatnya baru setelah itu memutuskan harga tiket. Mi Mo kemudian menyuruh Sek. Gwak pulang duluan, karena dia harus menemui seseorang dulu. 


Mi Mo pergi ke restoran dan terlihat kaget. “Bagaimana bisa? Tidak mungkin...,” ucap Mi Mo.

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending episode 14

No comments :

Post a Comment