March 8, 2016

One More Happy Ending Episode 13 - 1


“Song Soo Hyuk-a!” teriak Mi Mo dan melempar sepatunya. Soo Hyuk berbalik dan melihat Mi Mo yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Jangan menghindar dariku. Aku tidak bisa bergerak lebih dekat. Aku sangat takut. Jadi, aku hanya bisa sampai sejauh ini saja. Aku takut terjadi sesuatu jika aku berlari ke arahmu. Aku terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Dengan jarak yang ada sekarang ini, seharusnya kau mendekatiku. Aku katakan, kau harus mendekatiku. Aku ingin kau datang meskipun kau lambat. Kau sudah membuat lubang di hatiku, tapi aku masih menunggumu.

Karena itu... aku mengumpulkan keberanianku untuk datang kesini, kaulah yang harus mendekatiku sekarang. Tidak peduli seberapa lambatnya kau ini, seharusnya kau tetap mendekatiku. Dasar kau bodoh!” teriak Mi Mo.




Soo Hyuk tiba-tiba menghampiri Mi Mo lalu menciumnya. 


Soo Hyuk kemudian menghangatkan kaki Mi Mo dan memakaikan sepatu yang dilempar padanya. "Aku kan bilang jangan memakai hak tinggi. Kau tidak pernah mendengarkanku,” ucap Soo Hyuk.


Mi Mo tersenyum senang melihat Soo Hyuk, dia kemudian membelai rambut Soo Hyuk. Mereka berdua sama-sama tersenyum.


Mereka berjalan pulang bersama. Tangan mereka bersentuhan, tapi sepertinya masih canggung untuk bergandengan. Mi Mo lalu mengatakan kalau dia mau masuk ke rumah jadi Soo Hyuk juga masuk ke rumahnya. 


“Ppoppo... (cium),” ucap Soo Hyuk dan menunduk ingin dicium. Tapi karena melihat ekspresi Mi Mo yang terkejut, Soo Hyuk langsung mengubah dari permintaan menjadi pertanyaan, “Bagaimana dengan Ppoppo?”


“Oh, Ppoppo anjingku? Dia baik-baik saja. Dia makan dengan baik, latihan dengan baik dan senang nonton TV. Aku tidak bermaksud sombong, tapi dia sangat pintar. Dia bahkan tidak butuh teks untuk film Hollywood,” jawab Mi Mo dengan semangat. Haduhh.. ada yang lemot nih.

Soo Hyuk lalu mengaku kalau dia sangat merindukan dua hal ketika dia berada di Amerika. Dua hal itu adalah Ikan mas dan Ppoppo. Mi Mo seperti tau maksud Soo Hyuk yang ingin dicium, tapi dia pura-pura tidak tahu. Mi Mo lalu bertanya kapan Soo Hyuk menjadi dekat dengan Ppoppo tanpa dia ketahui. 

“Terjadi begitu saja. Jadi, aku berpikir... mengapa kita tidak bergegass dan mencium..,” ucap Soo Hyuk dengan wajah mupeng, tapi dia segera meralat kata-katanya dengan berkata apa dia boleh melihat Ppoppo. “Aku bisa bahasa Inggris dengan baik. Aku akan lihat seberapa bagus bahasa inggrisnya. Dan mungkin dengan sedikit sentuhan,” tambah Soo Hyuk yang terus melangkah mendekati Mi Mo.

“Aku yakin dia akan malu jika langsung menanyainya. Dia tidak menggunakannya sementara ini,” jawab Mi Mo.

“Sekarang, Ppoppo-nya akan berbeda. Kau tidak akan kecewa,” ucap Soo Hyuk dan hendak mencium Mi Mo. Tepat disaat itu, Mi Mo mendengar pintu lift terbuka. Reflek Mi Mo langsung mendorong Soo Hyuk sampai terjatuh. Dan muncullah Min Woo.


“Hai, Min Woo...” sapa Mi Mo dan dibalas oleh Min Woo.

“Kau sudah datang pada saat yang tepat,” ucap Soo Hyuk pada Min Woo.

“Lama tak bertemu. Kapan kau kembali?” tanya Mi Mo dengan tersenyum.


“Aku kembali bersama ayah, tentunya,” jawab Min Woo dan kemudian masuk rumah. Di dalam rumah, Min Woo teringat saat dia melihat Mi Mo pergi bersama Hae Joon. Tak lama kemudian dia melihat ayahnya sangat sedih dan memutuskan pergi ke Amerika.


Min Woo terlihat bingung dengan apa yang terjadi dan sekarang ayahnya sudah begitu sangat dekat dengan Mi Mo. 

Di luar, Mi Mo terlihat sedih karena Min Woo bersikap dingin padanya. Soo Hyuk pun meminta Mi Mo tidak khawatir, Min Woo seperti itu karena baru saja melakukan perjalanan panjang. 

“Kau memang sudah membuatku sulit,” ucap Soo Hyuk  yang sepertinya tahu kenapa Min Woo bersikap seperti itu.


“Aku harus bagaimana? Haruskah aku membelikannya makanan ringan?” tanya Mi Mo dan Soo Hyuk kembali meminta Mi Mo untuk tidak khawatir karena dia yang akan mengurus Min Woo. Soo Hyuk lalu mengecup kening Mi Mo dan menyuruh Mi Mo masuk rumah.


“Soo Hyuk-a... pastikan kau datang ke mimpiku malam ini. Jangan kemana-mana,” ucap Mi Mo.


“Kau juga, ikan mas. Aku akan memelukmu erat... agar kau tidak bisa kemana-mana,” jawab Soo Hyuk dan Mi Mo langsung masuk ke rumahnya. Soo Hyuk membuka pintu dan dia menemukan kertas memo milik Mi Mo yang tertinggal di lantai. Kertas memo itu bertuliskan, “Kapan kau kembali, Soo Hyuk?” Soo Hyuk tersenyum mengetahui kalau Mi Mo juga merindukannya. 


Saat sarapan, Soo Hyuk memberitahu Min Woo kalau dia sudah pacaran dengan Mi Mo. “Apa kau akan mendukungku?” tanya Soo Hyuk.

“Aku sedikit bingung, tapi aku senang melihat Ayah tersenyum lagi,” jawab Min Woo dan kemudian pamit berangkat sekolah. 


Mi Mo keluar rumah dan dia terkejut melihat pintunya banyak di tempeli kertas memo. Kertas memo-nya di tempel membuat bentuk hati. Kertas-kertas itu berisi, “Apa yang ingin kau lakukan di akhir pekan?.... Americano atau vanilla latte? Kau sangat manis..... kita nonton film malam ini ya.... kau pasti lelah, kau baik-baik saja?..... Mi Mo, kita beli sepatu untuk lari ya.... kau mimpikan aku?....” Mi Mo terlihat senang membaca semua tulisan Soo Hyuk dan dia pun bisa menebak kalau Soo Hyuk pasti melihat kertas memo miliknya. 

“Kau tidur nyenyak? Aku akan menunggumu, Ikan mas,” isi memo Soo Hyuk yang terakhir. 


Di parkiran, Soo Hyuk menghampiri Mi Mo dan meminta Mi Mo naik mobilnya karena Soo Hyuk ingin mengajak Mi Mo ke suatu tempat. Tempat yang menurut Soo Hyuk penting. Kemana Soo Hyuk membawa Mi Mo? Ternyata dia membawa Mi Mo ke sebuah cafe untuk minum kopi bersama.


“Ini gaya Amerika. Aku ingin minum kopi pertamaku di pagi hari...bersamamu, ikan mas. Membuat kopinya jadi terasa beda... dan sinar matahari pagi terasa beda. Kau membuat seluruh duniaku terasa berbeda,” ucap Soo Hyuk dan kemudian bertanya apa Mi Mo sibuk. 


“Tidak... terima kasih kau sudah melakukan apa yang sudah aku lupakan,” jawab Mi Mo dan Soo Hyuk bertanya apa Mi Mo ingi dia yang melanjutkannya. Soo Hyuk kemudian memberikan bekal makan siang untuk Mi Mo, dia ingin Mi Mo mengingat dirinya saat Mi Mo makan siang nanti. 

“Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Kau bilang orang yang lebih banyak mencintai... akan sukses nantinya. Kau orang pertama yang mencoba hasil masakanku... selain Min Woo..,” ucap Soo Hyuk dan meminum kopinya. “Langsung pulang setelah bekerja. Mengerti? Aku akan menunggumu dan membuatkanmu makan malam. Aku ahli dalam hal-hal seperti itu.”


“Kau tau tidak. Kau sudah seperti istriku saja,” ucap Mi Mo dan Soo Hyuk bertanya apa dia harus mengenakan celemek. “Aku ras akau sudah terlalu jauh dengan gaya Amerika,” ungkap Mi Mo yang mulai tak nyaman.

“Ini bukan gaya Amerika, ini pilihanku. Sayang... pergi, cari uang yang banyak. Aku akan buat pasta kedelai malam ini,” ucap Soo Hyuk dan Mi Mo tersenyum. Euum... mereka berdua memang cocok.


Soo Hyuk menemui seseorang dan menunjukkan hasil jepretan kameranya. Setelah melihat semuanya, orang itu berkata kalau dia menyukai semua gambar Soo Hyuk. Dia juga bertanya kenapa Soo Hyuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Soo Hyuk menjawab kalau alasan dia berhenti karena dia tidak ingin mengambil foto yang bisa menyakiti orang lain. Dia ingin menggunakan kameranya untuk membuat orang tersenyum saat melihat hasil fotonya. 


 “Aku suka itu. Aku ingin bekerjasama denganmu,” ucap orang itu dan mereka kemudian berjabat tangan. 


Mi Mo sudah berada di ruangannya. Dia membuka bekal makanan yang Soo Hyuk buatkan. Tepat disaat itu, dia mendengar suara orang yang hendak masuk ke ruangannya, jadi Mi Mo dengan cepat mengemasi bekal makanan dan menyimpannya. Orang yang masuk ruangannya adalah Da Jung.


Da Jung menemui Mi Mo untuk menanyakan pendapat Mi Mo mengenai ajakan Gun Hak. “Dia bahkan ingin memakai kaos pasangan yang berwarna pink itu,” tambah Da Jung.

“Kaos pasangan?”

“Aku sudah lihat tempatnya dan itu sama sekali bukan tipeku. Pasti sangat aneh,” ucap Da Jung.

“Menurutku bisa jadi tipemu. Kau tahu betapa kekanak-kanakan kau dulu saat usiamu 22 tahun? Kau tidak ingat?” ucap Mi Mo dan menyuruh Da Jung mencoba pergi, lagipula Gun Hak tidak akan mau melakukannya jika Da Jung tak mau. Mi Mo kemudian mengubah topik dengan bertanya apa yang bisa seorang wartawan setelah mereka berhenti kerja.


“Song Soo Hyuk?” tebak Da Jung dan Mi Mo mengiyakan. Mi Mo  merasa bersalah karena Soo Hyuk jadi pengangguran karena dirinya.

“Entahlah, aku rasa kebanyakan dari mereka bekerja di surat kabar lain, kerja di kantor humas...atau mengajar kelas jurnalisme. Mengapa kau tidak tanya pada pencari tenaga kerja? Meskipun besar biayanya,” saran Da Jung.


Dong Mi berjalan pulang dan matanya langsung terbelalak kaget saat melihat Jung Woo sudah menunggunya di lobi sekolah. Dong Mi bingung harus pergi menghindar kemana, maka dia pun berbalik. Tapi dia merasa tak ada gunanya menghindar dari Jung Woo, jadi diapun berbalik lagi dan langsung kaget karena Jung Woo tiba-tiba sudah berada di depannya. 

“Mengapa kau menghindariku? Kau tidak menjawab teleponku atau membalas SMS-ku,” tanya Jung Woo, Dong Mi menjawab kalau dia punya alasan melakukan semua itu. Dong Mi juga mengingatkan Jung Woo lagi untuk tidak menggunakan bahasa yang tidak sopan padanya. 

“Apa seburuk itu kah diriku, karena 6 tahun lebih muda darimu?” tanya Jung Woo dan Dong Mi tak bisa menjawab, dia tak bisa memberitahu Jung Woo kalau perbedaan umur mereka bukan 6 tahun, melainkan 9 tahun. 


Rekan Dong Mi sesama guru melihat Dong Mi dan Jung Woo. Tentu saja mereka penasaran, bagaimana bisa Dong Mi pacaran dengan pria yang jauh lebih muda darinya. 

“Mengapa kau melakukan ini padaku? Jika kau melakukan ini untuk menjual barang seperti tikar pemanas, tempat tidur batu atau suplemen gizi...aku sudah pernah mengalaminya. Kau tidak bisa membodohiku,” ucap Dong Mi.

“Kau pikir itu yang aku lakukan? Kau pikir aku bajingan yang mendekati wanita untuk menjual barang?” tanya Jung Woo.

“Jadi mengapa kau melakukan ini?”


“Aku menyukaimu! Tidak ada wanita di Korea yang seimut dirimu di usia 31... aish!” teriak Jung Woo dan kemudian mencium Dong Mi. Semua orang yang ada disana terkejut melihatnya. Tak hanya rekan Dong Mi sesama guru saja. Ada murid-murid Dong Mi dan juga security.

Wuuaaah... ini scene yang tidak mendidik.. masa ciuman di sekolah dan masih ada anak kecil disana. Hehehe.



Mi Mo memberikan tugas pada Sek. Gwak dan setelah Sek. Gwak keluar dari ruangannya, Mi Mo langsung fokus untuk mencari pekerjaan apa saja yang cocok untuk Soo Hyuk. Setelah mendapatkan informasi dari berbagai macam sumber,


Mi Mo langsung membuat propsal dengan judul, “Pekerjaan baru yang direkomendasikan untuk masa depan Song Soo Hyuk”.


Beralih pada Hae Joon dan Yeon Soo yang sedang mengobrol sambil minum kopi. Yeon Soo berkata kalau sudah lama sekali mereka tak ngobrol santai seperti itu dan tanpa diawasi. 

“Kita diawasi?” 

“Kau punya pengawas saat kau ada di sekitarku,” jawab Yeon Soo dan kemudian mengaku kalau dia sangat membeci Hae Joon dulu karena menganggap Yeon Soo tak penting. 

“Bagaimana sekarang? Kau tidak membenciku, kan?” tanya Hae Joon.

“Sekarang? Perasaan benci... sedikit demi sedikit terganti dengan hal lain. Aku butuh waktu lebih banyak untuk bisa memahaminya,” jawab Yeon Soo.


“Aku rasa aku tahu apa itu,” jawab seseorang yang duduk di sebelah meja mereka. Orang itu ada Yeon Mi. Dia menghampiri meja Yeon Soo dan Hae Joon. “Apa yang ingin kau katakan terlihat sangat jelas. Kenapa kau bertele-tele? Lihatlah! Berapa ekor yang kau punya? Dasar rubah jahat!” ujar Yeon Mi pada Yeon Soo. 

“Hei, Koo Yeon Mi,” tegur Hae Joon.

“Dokter! Apa kau tidak berpikir kalau kau terlalu kasar padaku? Aku bahkan memanfaatkan ayahku agar kau tahu betapa hancurnya aku. Teganya kau tidak mengunjungiku sekali saja. Setidaknya kau menelponku meski kau sibuk?” ucap Yeon Mi kesal.

“Kau kelihatan banyak uang, jadi aku tidak khawatir,” jawab Hae Joon.

“Itu klise. Jadi akhirnya kau kembali ke mantan istrimu? Setelah melalui semuanya, kau memilih mantan istrimu?” sindir Yeon Mi dan kali ini membuat Yeon Soo beranjak dari tempat duduknya. 


“Dengar, anak 18 tahun.”

“Apa? Kau memanggilku anak 18 tahun?” jawab Yeon Mi tak terima dipanggil seperti itu oleh Yeon Soo.

“Apa bukan?”

“Namaku Koo Yeon Mi. Kau harus memanggil namaku.”

“Namaku Woo Yeon Soo. Mengapa kau terus menyebutku mantan istrinya?”

“Karena kau mantan istrinya.”


“Benar dan kau berusia 18 tahun,” jawab Yeon Soo tak mau kalah. Hae Joon hanya bisa menghela nafas mendengar perdebatan mereka berdua. Tak mau ambil pusing dengan drama di dekatnya, Hae Joon pun minum kopinya saja.


Dong Mi benar-benar sedang di mabuk asmara. Dia berkata kalau apa yang di katakan cupid padanya memang benar. Nilai untuk Jung Woo adalah 10 dari 10. Mendengar itu, Ae Ran bisa menebak kalau sahabatnya itu sudah sangat jatuh cinta pada Jung Woo. Dong Mi berkata kalau perbedaan 9 tahun bukanlah masalah karena di Hollywood, ada banyak wanita yang jauh lebih buruk daripada dia, mereka semua pacaran dengan pria yang lebih muda 16 atau 17 tahun. Bahkan Dong Mi pernah dengar ada yang wanitanya 29 tahun lebih tua. 

“Unni.... kau melupakan fakta penting disini. Wanita-wanita itu bintang hollywood. Mereka sangat terkenal. Wanita-wanita itu punya kelebihan,” ucap Ae Ran mengingatkan. Mendengar kata-kata Ae Ran, Dong Mi pun langsung membayangkan dirinya sedang meng-interview Jung Woo. Pertanyaan pertama yang Dong Mi ajukan adalah, apa Jung Woo punya rumah dan Jung Woo menjawab tidak. Mobil juga Jung Woo tidak punya, begitu juga pekerjaan. 


“Kau punya rekening bank?” tanya Dong Mi lagi.

“Rekening bank... apa itu?” jawab Jung Woo bingung.

“Kau bahkan tidak tahu rekening bank? Kau tidak punya? Kau tidak punya apa-apa?” ucap Dong Mi shock dan Jung Woo langsung berkata kalau Dong Mi lah yang harus menyiapkan semuanya, karena dia adalah pria muda seksi yang tidak punya apa-apa selan masa muda. 

Membayangkan hal itu, membuat Dong Mi shock dan lemas.


Soo Hyuk meminta Shi Ah untuk tidak menjodohkan dirinya dengan So Eun karena itu akan membuatnya tidak nyaman. Shi Ah menjawab kalau semua itu diluar kendalinya, karena So Eun memang menyukai Soo Hyuk.

“Kau harus menjauhinya. Kau kan ahli dalam hal itu,” saran Shi Ah.

“Aku tidak bisa melakukannya pada So Eun. Dia sudah jadi teman baik bagiku,” jawab Soo Hyuk dan Shi Ah mengingatkan Soo Hyuk kalau So Eun sudah ikut andil dalam proses membesarkan Min Woo, seperti yang Shi Ah lakukan juga. 

“Jadi kali ini, kau harus menerimanya dengan tangan terbuka,” pinta So Eun.

“Tanganku tidak terbuka untuk semua orang. Tanganku terkunci selama 13 tahun,” jawab Soo Hyuk.

“Hanya masalah waktu untuk membukanya. Laba-laba pasti membuka jaring disana karena sudah sangat lama.”

“Shi Ah... tolong bantu aku. Aku tidak ingin menyakiti perasaannya, tolong bicara padanya untukku. Kau sudah seperti kakaknya,” pinta Soo Hyuk.

Shi Ah masuk ke dalam lift dan sebelum pintu lift benar-benar tertutup, dia melihat Mi Mo keluar dari rumahnya dan menuju ke rumah Soo Hyuk.


Mi Mo ke rumah Soo Hyuk untuk menunjukkan rekomendasi pekerjaan yang cocok untuk Soo Hyuk. Tapi dasar Soo Hyuk, melihat Mi Mo membawa laptop dia malah berpikir yang aneh-aneh. 


Saat Mi Mo menjelaskan tentang daftar pekerjaan yang sudah dia buat, Soo Hyuk tak terlalu mendengarkannya. Dia malah bercanda dengan berkata kalau Mi Mo saja yang bekerja dan Soo Hyuk sendiri akan melakukan pekerjaan rumah. 

“Aku bisa mengunci kantormu tiap hari dan di malam hari... aku akan melakukannya...,” ucap Soo Hyuk dengan ekspresi nakal.

“Melakukan... apa? Jangan katakan,” pinta Mi Mo.

“Apa?”

“Apa yang ingin kau katakan,” jawab Mi Mo.

“Menurutmu apa?” tanya Soo Hyuk.

“Aku rasa aku bisa sedikit mengetahui apa yang ingin kau katakan,” ucap Mi Mo dan langsung menutup telinganya. 


Soo Hyuk menarik tangan Mi Mo dan berbisik, “Aku akan melakukan pekerjaan mencuci piring. Piring-piringnya akan bersih, mengkilap. Kau akan tergila-gila padaku saat kau lihat betapa bersihnya piring-piring itu.”

“Maafkan aku, tapi aku juga bisa mencuci piring,” jawab Mi Mo dan menyadari kalau ada sisi lain yang baru dia lihat dari Soo Hyuk. Kembali ke topik, Mi Mo meminta Soo Hyuk memilih satu dari daftar pekerjaan yang sudah dia kumpulkan. 

“Ini penyiksaan, murni penyiksaan,” ucap Soo Hyuk dan terus menatap Mi Mo.

“Apa?”

“Melihatmu seperti ini. Aku akan melakukannya dalam waktu 3 detik.”

“Apa? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Mi Mo tak mengerti.

“Satu...”

“Kau mau apa?”

“Dua...”

“Kau sudah gila?”

“Tiga...”


“Hei, pergi!” teriak Mi Mo dan reflek mendorong So Hyuk sampai Soo Hyuk terjatuh. “Ah, kau mengagetkanku,” ucap Mi Mo.

“Auw! Aku hampir terluka!” protes Soo Hyuk.

“Aku juga!”


“Apa yang sudah aku lakukan? Aku mau menciummu. Kenapa kau sangat kejam padaku? Apa ini langkah berikutnya dari hubungan kita?” tanya Soo Hyuk kesal.

Mi Mo membela diri, semua itu gara-gara Soo Hyuk melakukannya sangat tiba-tiba. “Seharusnya kau membuat suasananya berbeda dan.... aku sudah buat keputusan untuk memberi waktu, aku akan pelan-pelan,” tambah Mi Mo.

“Waktu? Di usia kita, ini semua sia-sia. Kita hanya mendapatkan ‘moxa kauter’,” ucap Soo Hyuk dan Mi Mo membenarkan. 

“Aku seharusnya singgah dan mengambilnya satu sekarang karena sudah aku ingat. Kalau begitu aku akan tinggalkan ini disini. Pelajari semuanya dengan teliti,” jawab Mi Mo dan pergi.


Saat sendirian, Soo Hyuk melihat daftar pekerjaan yang sudah disusun rapi oleh Mi Mo. Diapun tersenyum senang melihatnya.


Gun Hak menyiapkan sarapan. Da Jung keluar kamar dan bertanya apa Gun Hak berhenti kerja? Karena jam segitu, Gun Hak masih di rumah dan tidak pergi kerja. Gun Hak menjawab kalau pengusaha  tidak pernah berhenti kerja. Dia hanya cuti untuk beberapa hari, dia ingin istirahat. 

Gun Hak lalu mengajak Da Jung sarapan. Dia juga berkata kalau untuk urusan Tae Young, Da Jung tidak perlu khawatir karena dia yang akan mengantarkanya sekolah. Da Jung sudah duduk di meja makan, tapi dia terlihat enggan untuk sarapan.

“Kenapa? Kau pikir aku menaruh racun di makanannya?” tanya Gun Hak.


“Tentu saja kau tidak akan menaruhnya,” jawab Da Jung dan kemudian minum jus yang dituangkan Gun Hak. Tapi Da Jung menumpahkan jus dan mengenai bajunya. Reflek Gun Hak langsung membantu Da Jung dengan mengelap bekas tumpahan jus di baju Da Jung. Dibantu seperti itu, membuat Da Jung tak nyaman dan berkata kalau dia akan ganti pakaian lalu pergi kerja. 


Di kamar, Da Jung terlihat sedih. Dia masih merasa tak pede sebagai perempuan, walaupun itu di depan Gun Hak. Da Jung sudah berganti pakaian dan dia mendengar Gun Hak sedang berbicara di telpon dengan ayahnya. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, Da Jung pun menguping. 


Pada sang ayah, Gun Hak meminta waktu satu bulan, karena dia dan Da Jung benar-benar membutuhkan waktu tersebut. Mendengar itu, Da Jung pun teringat saat dia sudah merasa putus asa untuk hamil. 


Flashback

Da Jung mengaku pada Gun Hak kalau dia sudah tak kuat lagi, karena dia tak bisa hamil dan keluarga Gun Hak sangat menginginkan anak dari mereka. 


Gun Hak mendapat telepon dari ayahnya yang meminta agar Da Jung mencoba inseminasi buatan lagi. Namun Gun Hak tak mau karena hal itu bisa merusak kesehatan Da Jung.

Flashback End


Mendengar percakapan Gun Hak dan ayahnya, Da Jung pun sepertinya menyadari kalau Gun Gak benar-benar ingin hubungan mereka kembali seperti dulu. Di kantor, Da Jung membuka kotak berisi kaos pasangan dari Gun Hak. 


Mi Mo sedang memberi makan ikan mas-nya. Saking semangatnya, dia memberi banyak makanan pada mereka. Sek. Gwak muncul dan memberitahu Mi Mo kalau ikan mas tidak boleh di beri makan sebanyak itu, karena bisa membuat mereka mati. 

“Apa kau tidak tahu soal ikan mas? Mereka tidak bisa merasakan kenyang atau tidak. Jadi mereka akan terus makan. Jika kau memberi mereka makan banyak seperti itu, itu akan membunuhnya. ungkapan, ‘mati kekenyangan’ itu dari mereka,” jelas Sek. Gwak.

“Benarkah?” tanya Mi Mo tak tahu.

“Achh, Presdir ini aneh. Kau sangat plin plan,” ejek Sek. Gwak dan berjalan pergi. Setelah Sek. Gwak pergi, bukannya berhenti, Mi Mo malah terus memberi ikan mas makan dan dia menyebut kalau ikan mas itu mirip sekali dengan Soo Hyuk.


Mi Mo mendapat klien yang ingin dipertemukan dengan wanita  yang mengiriminya SMS 3 kali sehari dan harus menelponnya tepat sebelum pulang kerja. Tapi dia tak mau dengan wanita yang selalu mengirim sms, seperti “Mengapa kau tidak menjawab teleponku?” dan “Mengapa kau tidak memeriksa SMS-mu?”

“Aku ingin kembali ke masa saat kita bahkan tidak punya pager. Sekarang kita sudah bicara di telepon sambil bertatap muka. Tidak ada privasi,” tambah pria itu.

“Apa mungkin karena kau sendiri tidak peduli dengan profesinya atau kepribadiannya?” tanya Mi Mo.

“Kita harus lebih dalam membicarakan soal itu,” jawab pria itu dan Mi Mo hanya tersenyum mendengarnya, senyum yang dipaksakan lebih tepatnya.


Yeon Soo melihat Hae Joon sedang bicara dengan pasiennya dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.  Yeon Soo kemudian menemui Hae Joon di ruangannya. 

“Dokter Koo,” ucap Yeon Soo.

“Mengapa tiba-tiba saja kau panggil aku seperti itu?” tanya Hae Joon tak mengerti.


“Aku datang untuk minta kau bekerjasama dalam perawatan. Aku tidak bisa merawatnya sendirian. Saat aku bertemu dengan dokter 12 tahun yang lalu. Serotonin, suda menurunkan hipotalamus dibawah batas normal jadi kemampuan yang ada padaku hilang.

Sebuah unsur yang bernama Koo Hae Joon mempengaruhi sistem limbik-ku lalu aku menikah dengannya selama 5 tahun, tapi setelah tiga tahun kondisiku semakin membaik, jadi aku bercerai. Tapi dua bulan yang lalu, gejala itu mulai terasa lagi. Di dunia medis, itu disebut kambuhan. Umumnya, disebut rasa sayang yang tidak pernah pudar. Dokter, tolong beri aku resep,” ucap Yeon Soo.


“Aku rasa lebih baik menyingkirkannya melalui operasi. Sehingga, rasa kambuh yang membuatmu menderita berkurang,” jawab Hae Joon dan Yeon Soo terlihat sedih mendengar jawaban Hae Joon. Walaupun begitu, Yeon Soo tetap berterima kasih atas saran yang diberikan Hae Joon.

Komentar :

Yahh.. artinya Yeon Soo ditolak dong. Itu Hae Joon bercanda, gak mudeng atau memang serius, ya?

Bersambung ke sinopsis one more happy ending episode 13 part 2

No comments :

Post a Comment