March 4, 2016

One More Happy Ending Episode 12 - 2


Mi Mo sudah di parkiran dan Shi A menghampirinya untuk bertanya dimana gedung 304. Mi Mo pun menunjukkannya. Saat Shi A hendak pergi, Mi Mo bertanya apa mereka berdua pernah bertemu dan Shi A menjawab tidak, dia pikir ini adalah pertemuan pertama mereka. Namun Mi Mo tetap yakin kalau dia pernah bertemu dengan Shi A, tapi dia lupa dimana.

“Apa kau pernah pergi ke Brave Wedding untuk konsultasi?” tanya Mi Mo.

“Brave Wedding?”




“Itu agensi perjodohan untuk orang yang ingin menikah lagi.”

“Aku mengerti. Aku belum menikah. Saat orang melihatku, mereka bilang aku mirip dengan seseorang yang mereka kenal. Aku rasa wajahku pasaran,” jawab Shi A dan Mi Mo jadi tidak enak. Mereka pun berpisah.

Euuum... penyakit lupa Mi Mo di epsiode ini benar-benar diperlihatkan. Pertama  dia lupa pada Yeon Mi dan kedua pada Shi A. Shi A adalah pacar Seung Jae yang juga merupakan mantan suami Mi Mo. Mi Mo pernah melihat Shi A bersama Seung Jae di sebuah acara pernikahan dan dia lupa akan hal itu. Shi A sendiri memang belum pernah bertemu dengan Mi Mo, jadi dia tidak tahu siapa Mi Mo. 


Shi A sekarang sudah bersama Soo Hyuk. Wah, ternyata mereka kenal. Melihat rumah Soo Hyuk, Shi A pun berkomentar kalau tempat itu terlihat sekali tidak pernah disentuh oleh wanita. 

“Kau menghilangkan tabu itu sekarang,” jawab Soo Hyuk.

“Memangnya aku wanita bagimu? Aku ini keluargamu,” ucap Shi A dan dia pun memberitahu Soo Hyuk kalau wanita yang bernama So Eun juga kembali ke Korea.  Karena kantor So Eun di pindahkan ke Korea maka So Eun akan tinggal di Korea selama dua tahun. “Bagaimana menurutmu tentang So Eun?” tanya Shi A.


“Memangnya dia kenapa?” ucap Soo Hyuk dan itu membuat ekspresi Shi A berubah tak senang lalu berkata tidak apa-apa.


Hae Joon sudah berada di ruangan Presdir Koo. Setelah mempersilahkan Hae Joon minum teh, Presdir Koo bertanya apa Hae Joon kenal dengan Koo Yeon Mi. Hae Joon mengiyakan, Yeon Mi adalah adalah cucu Presdir Koo.

“Dia bilang dia cucuku?” tanya Presdir Koo tak percaya.

“Bukan?” 

“Dia adalah putriku,” jawab Presdir Koo malu-malu dan Hae Joon juga terkejut mendengarnya. Presdir Koo lalu bertanya apa Hae Joon sudah mengatakan sesuatu pada Yeon Mi. “Aku bertanya pada bagian neurologi dan mereka mengatakan padaku kalau dia berlari keluar dari rumah sakit karena kau memarahinya tentang sesuatu... setelah itu, dia tidak makan ataupun pergi ke sekolah. Aku tidak memerlukan apapun, tolong buat dia makan. Dokter Koo Hae Joon.... euum, dipikir-pikir, kita punya nama keluarga yang sama,” ucap Presdir Koo.

Flashback
Yeon Mi mengeluh sakit kepala dan saat bertemu dengan Hae Joon, Yeon Mi langsung terpesona. Itu adalah pertama kalinya Yeon Mi bertemu dengan Hae Joon. Saat Yeon Mi melihat nama di jas dokter Hae Joon, ia langsung bertanya, "Dokter, kau dari keluara Koo yang mana?”

Flashback End

Hae Joon tersenyum kecil menyadari kalau nama belakangnya dan keluarga Yeon Mi sama. Euuum... di drama ini ada banyak yang menggunakan nama keluarga Koo. Selain Hae Joon dan Yeon Mi, masih ada Koo Dong Mi juga. Apa akan ada cerita di balik semua itu? kita lanjutin saja sinopsisnya buat mencari tahu.


Mi Mo sudah berada di kantornya, tapi dia tak konsen untuk bekerja, karena sepertinya ia ingin menelpon Soo Hyuk, namun tak berani. Mi Mo kemudian kedatangan klien yang menginginkan pria yang lebih tinggi darinya. Klien itu terus mengungkapkan keinginannya, namun Mi Mo ternyata tak terlalu mendengarkan. Mi Mo benar-benar tak bisa fokus dalam bekerja. Saat melakukan rapat juga Mi Mo tak terlalu mendengarkan apa yang dibicarakan. Pikirannya terus terbayang pada Soo Hyuk. Dia teringat pada kejadian tadi pagi, dimana Soo Hyuk menangkap dirinya.


Da Jung melihat Mi Mo sedang melamun dan diapun langsung menyadarkannya. Selesai rapat, Da Jung mengikuti Mi Mo ke ruangannya dan bertanya, “Apa terjadi sesuatu? Kau melamun seharian, ada apa denganmu?”



“Apa aku seperti itu?” tanya Mi Mo yang tak sadar akan hal itu. Da Jung kemudian minta izin untuk pergi sebentar, dia ingin ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan setelah operasi. 


Dong Mi sedang duduk bersama murid siswi kelas 3 di pinggir lapangan. Ekspresi mereka terlihat sama, sama-sama merasa gelisah. Dong Mi lalu bertanya pada si siswi tentang apa yang paling menyakitkan baginya. 

“Hanya kenyataan bahwa... dia dua tahun lebih muda daripada aku. Ini juga pertama kalinya bagiku. Tapi dia pikir aku tidak tahu apapun. Dia sangat bergantung padaku,” jawab si siswi.

“Apa yang dilakukan kelas satu untuk bergantung... pada kelas tiga?” tanya Dong Mi lagi.


“Mereka bertanya buku mana yang bagus. Guru mana yang mengajari paling baik... dan restoran mana yang enak. Minggu lalu, aku menulis buku laporan untuknya dan dia sangat senang,” jawab siswi itu dan kemudian dia berkata kalau gadis yang lebih tua sering berpura-pura tentang 4 hal. Dan 4 hal itu adalah, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura sendirian, berpura-pura keren dan berpura-pura menjadi dewasa. Bagi siswi itu, berpura-pura tidak tahu lah yang paling berat, sedangkan untuk Dong Mi, berpura-pura muda lah yang paling berat, karena perbedaan umur dia dan sang pacar yang terlampau jauh. 

“Kau harus mengatakan pada kekasihmu bagaimana perasaanmu. Katakan padanya kau tidak tahu apapun,” nasehat Dong Mi pada siswi itu.

“Ibu Koo, pesona wanita yang lebih tua... adalah kedewasaan. Kau tidak hanya bermain tanpa memikirkannya. Kau harus bersiap-siap untuk semester depan di sekolah. Kau harus menjernihkan pikirkanmu tentang masa depan. Kau harus menunjukkan itu pada mereka,” jawab siswi itu yang balik menasehati Dong Mi.


“Kau lebih baik daripada aku,” keluh Dong Mi sedih dan siswi itu bertanya berapa jarak perbedaan umur Dong Mi dan kekasihnya. Dong Mi menghela nafas dan kemudian menjawab 9 tahun. Mendengar itu siswi langsung terkejut.


“Jadi ini seperti sedang berkencan dengan anak-anak yang masih makan makanan bayi,” ucap siswi itu dan mendengar hal itu Dong Mi semakin frustasi. 


Soo Hyuk menemui Hae Joon di rumah sakit. Soo Hyuk mengaku kalau dia merindukan Hae Joon, karena Hae Joon lah tempatnya bergantung sejak umur 21 tahun. 

“Kau tidak ragu-ragu kalau mengenai wanita. Melihat bagaimana kau menusukku dari belakang,” sindir Hae Joon dan Soo Hyuk pun meminta maaf dan mengaku kalau dia sebenarnya tak ingin melakukan hal itu dari awal. Dia juga menyesal dengan apa yang dia katakan saat Hae Joon bertanya apa hubungan mereka akan jadi rumit. 

“Aku tidak pernah serius selama 10 tahun. Aku mengatakan dia hanya teman saja sebelum aku bisa menghentikan diriku sendiri,” aku Soo Hyuk dan Hae Joon meminta Soo Hyuk bertanggung jawab atas ucapannya sendiri. Melihat Hae Joon yang masih terlihat marah, Soo Hyuk pun merayu Hae Joon dengan memberikan kopi miliknya. Namun Hae Joon tak mau menerimanya, dia lebih memilih minum kopi miliknya sendiri. 


Karena Hae Joon masih belum ikhlas memaafkannya, Soo Hyuk pun terus mengikuti Hae Joon dan mengajaknya makan malam bersama. Namun Hae Joon menolak. Soon Hyuk lalu memilih pulang dan Hae Joon kembali membahas masalah Mi Mo sehingga membuat SOo Hyuk tak jadi berjalan pergi.


“Saat Mi Mo berada dalam bahaya, kau harusnya memanggilku. Aku seharusnya yang berada disana… bukan kau yang muncul seperti ksatria yang bersinar dalam baju zirahnya,” ucap Hae Joon dengan nada kesal.


“Itu tidak masuk akal, maksudmu aku harus memanggilmu? Maksudmu aku harus memanggilmu saat orang-orang itu melemparinya dengan telur? Atau harusnya aku mengirim pesan saja?” tanya Soo Hyuk dan perkataan itu membuat Hae Joon kesal. Hae Joon sampai reflek mencengkram baju Soo Hyuk. 

“Dasar kau! Itu sebabnya dia jatuh cinta padamu, aku tidak ada disana untuknya saat itu,” ungkap Hae Joon kesal dan Soo Hyuk berkata kalau sekarang Hae Joon punya kebiasaan menarik kerah baju Soo Hyuk. 

“Orang-orang melihat, mari kita pergi dan bicara,” ucap Soo Hyuk yang tak merasa nyaman, apalagi Hae Joon adalah dokter di rumah sakit itu. Hae Joon kemudian melihat ruang bermain anak-anak dan dia mengajak Soo Hyuk kesana. 


Mereka sekarang sudah berdiri di dalam kolam bola dan Hae Joon masih mengungkapkan kekesalannya pada Soo Hyuk yang menjadi ksatria di mata Mi Mo. Soo Hyuk menjawab kalau hal itu hanya moment yang pas. Dia juga mengungkapkan unek-uneknya selama ini, dia berkata kalau Hae Joon dan Mi Mo bergerak terlalu cepat di awal.

“Bagaimana bisa kalian berdua saling jatuh cinta tanpa memberikan aku waktu untuk berpikir? Saat aku menyadari kesalahanku, semua sudah terlambat. Apa kau tahu betapa itu membuat aku sangat menderita? Aku juga korban disini,” ungkap Soo Hyuk.

“Apa? Kau?”

“Maksudku bahwa  ada banyak yang ingin kukatakan,” ucap Soo Hyuk kesal dan menendang bola-bola yang ada di bawahnya. Soo Hyuk kemudian ingin mengakhiri pembicaraan mereka, dia berbalik dan berjalan pergi.

Hae Joon mengambil satu bola dan melemparkannya pada Soo Hyuk. Bola itu mengenai kepala Soo Hyuk.


“Apa kau suka itu? Rasanya tidak enak kan? Begitulah yang aku rasakan,” ucap Hae Joon dan berbalik untuk pergi. Kesal, Soo Hyuk mengambil bola juga dan melempar ke kepala Hae Joon. 


“Hei, beraninya kau melempariku saat aku berbalik? Kau pecundang,” ejek Soo Hyuk dan tentu saja Hae Joon tak terima. Dia menyebut kalau Soo Hyuk lah pecundang terbesar yang pernah ada. Mereka berdua kemudian lempar-lemparan bola seperti anak kecil. 


Da Jung baru selesai melakukan pemeriksaan dan dia menghampiri Mi Mo dan Tae Young. Mi Mo bertanya hasil pemeriksaan dan Da Jung menjawab baik-baik saja. Tae Young melihat tempat bermain anak-anak dan dia langsung mengajak ibunya untuk pergi kesana. 




Di ruang bermain anak-anak, Hae Joon dan Soo Hyuk masih bertarung. Tapi pertarungan mereka tidak seperti pria pada umumnya yang tonjok-tonjokkan. Mereka berdua hanya saling lempar bola, bermain kaki satu dan juga dorong-dorongan. Tanpa mereka sadari, beberapa pria dewasa melihat tingkah mereka dan para pria itu bisa menebak kalau Soo Hyuk dan Hae Joon sedang bertengkar karena masalah wanita. 


“Bayangkan kalau dia menikah. Dia akan melempar barang yang berbeda setelah tiga bulan menikah,” ucap seorang pria.

“Aku dipukuli karena memencet pasta gigi dari tengah,” ucap pria yang lain dan mereka kemudian penasaran tentang siapa yang akan kalah diantara Hae Joon dan Soo Hyuk. 



Balik lagi ke SOo Hyuk dan Hae Joon yang sekarang malah di serang oleh anak-anak kecil. Mereka di lempari bola dan disemprot air. Tepat disaat itu, Tae Young bersama Mi Mo dan Da Jung muncul. 

“Apa yang terjadi? Hei! Bukankah itu Hae Joon?” tanya Da Jung dan Mi Mo hanya diam. Dia tidak bisa memberitahu Da Jung kalau orang yang sedang bersama Hae Joon adalah Soo Hyuk. 


Hae Joon kemudian melindungi Soo Hyuk dengan menggunakan jas dokternya. Dia melakukan itu agar Soo Hyuk tak tersemprot air. 

Wkkwkw… scene ini lumayan lebay tapi seru juga. Hae Joon meniru cara Soo Hyuk melindungi Mi Mo dari lemparan telur  fans Seul Ah. Setelah anak-anak pergi, Soo Hyuk dan Hae Joon duduk bersama karena kelelahan.


“Mari kita jangan mempersulit keadaan. AKu harap tidak akan ada ketiga kalinyam,” harap Hae Joon.

“Ketiga kalinya?” tanya Soo Hyuk tak mengerti.

“Aku… dulu menyukai An Soon Soo. Aku menyukainya dan itu membuat hatiku terluka,” aku Hae Joon dan Soo Hyuk tiba-tiba melempar kepala Hae Joon dengan bola.


“Aigoo…. Kasihan sekali dirimu,” ucap Soo Hyuk yang baru mengetahui semuanya. “Baiklah, aku setuju denganmu. Jangan menambah masalah lagi.”



“Ya, itu kedengarannya bagus,” jawab Hae Joon dan membalas lemparan Soo Hyuk tadi. Merekapun akhirnya bisa tertawa lega. Tanpa mereka berdua sadari, Mi Mo mendengar percakapan mereka dan itu sepertinya membuat Mi Mo juga merasa lega. 


Yeon Soo masuk ke ruangan Hae Joon dan memberikan sebuah berkas. Dia kemudian berkata kalau Hae Joon sudah mulai mau bicara hari ini. 

“Aku dengar kau bermain di tempat permainan anak-anak,” ucap Yeon Soo dan tersenyum. “Maaf, tapi kau akan dipermalukan sementara ini.”

“Apa kau kesini untuk menertawakan aku?” tanya Hae Joon dan Yeon Soo menjawab tidak. Dia mengaku datang karena ingin tahu bagaimana Hae Joon mengatasi masalahnya. 

“Kau lebih baik dari yang aku kira,” puji Yeon Soo dengan senyum dan kemudian berjalan pergi. Hae Joon pun melanjutkan pengeringan rambutnya dengan handuk.


Ae Ran memberikan persyaratan pada Dong Bae, kalau Dong Bae ingin mereka tinggal bersama. Tanpa membaca terlebih dahulu, Dong Bae langsung menandatangi persyaratan dari Ae Ran.

“Apa kau tidak punya pertanyaan? Apa kau sudah selesai membacanya? Apa kau mengerti semuanya?” tanya Ae Ran bingung.

“Yah, aku melihatnya sangat klise,” jawab Dong Bae.

“APA?!”

“Kau tahu, aku pikir kau berbeda. Tapi aku rasa pernikahan membuat semua orang berpikiran sama. Kau akan memarahi dan mengomeliku, benarkan? Aku akan bersiap-siap. Hei, tapi apa kau tahu…”

“Apa?”

“Ini tidak ada efeknya, benarkan?”

“Apa?”

“Dan aku pikir kau cerdas. Pasti itu sebabnya aku sangat tertarik padamu. Kau sangat lucu,” ucap Dong Bae dan Ae Ran merasa bingung kenapa persyaratan yang dia buat tidak ada pengaruhnya. 

“Aku akan membawanya ke notaris,” ancam Ae Ran.

“Ya, lakukanlah itu. Itu membuat perbedaan,” jawab Dong Bae yang kemudian bertanya kapan Ae Ran akan pulang. 


Mi Mo sedang menunggu lift sambil senyum-senyum sendiri. Tepat di saat itu Soo Hyuk muncul dan mereka hanya saling senyum tanpa berkata sepatah katapun. Sampai mereka berada di dalam lift, baru Mi Mo mulai membuka obrolan.


“Apa kau melompat ke laut untuk menyelamatkan seseorang lagi? Kenapa kau terlihat kacau? Kau harus mengenal dirimu sendiri. Kau baru saja bisa mengapung,” ucap Mi Mo yang pura-pura tidak tahu penyebab baju Soo Hyuk basah.

“Berkat seseorang, bajuku tidak pernah bersih. Bajuku basah di laut dan terkena kuning telur setiap saat. Juga terkena tembakan senjata air,” jawab Soo Hyuk dan Mi Mo tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya melihat Soo Hyuk dengan tatapan bersalah. “Kenapa kau terlihat merasa bersalah?” tanya Soo Hyuk dan Mi Mo menyangkalnya. Dia mengaku kalau dia tak merasa bersalah karena dia tak pernah meminta Soo Hyuk melakukan semua itu. 

“Benar kau tidak memintaku, kau hanya membuat aku ingin melakukannya,” jawab Soo Hyuk dan Mi Mo tak bisa menjawab lagi. 


Saat akan masuk rumah, Soo Hyuk meminta Mi Mo membuatkan makanan untuk dirinya. Soo Hyuk lalu menghampiri Mi Mo dan berkata, “Aku berhak mendapatkannya kan? Aku menyelamatkanmu dari berbagai macam kesulitan… dan dilempari telur seperti itu. Itu belum semuanya, orang-orang melempari kaleng dan karton susu padaku. Benar, mereka juga melempari aku dengan batu. Kau setidaknya bisa membuatkan makanan untuk itu, benarkan?” 

Mi Mo kemudian menyediakan banyak makanan untuk Soo Hyuk. Saat Soo Hyuk menikmati makanannya, Mi Mo kemudian bertanya apa yang Soo Hyuk lakukan sekarang, karena dia sudah berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Mi Mo menyuruh agar Soo Hyuk mencari kerja untuk kehidupannya. 

“Apa kau khawatir? Apa kau khawatir aku akan meminta bantuanmu?” tanya Soo Hyuk.

“Bukan begitu, aku tidak akan khawatir kalau kau sendirian. Kau juga harus merawat Min Woo,” jawab Mi Mo dan Soo Hyuk memintanya untuk tidak khawatir akan hal itu. 

Soo Hyuk selesai makan dan sekarang mereka berdua minum the bersama. Mi Mo bertanya lagi, dia bertanya bagaimana bisa Soo Hyuk yang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Mi Mo. Kalau Soo Hyuk memikirkan Mi Mo sebagai tetangga, maka Soo Hyuk harusnya mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi. 

“Jadi aku kembali seperti ini. Aku kembali sekarang. Setelah aku kalah dan berputar-putar. Aku akan menjadi serius mulai sekarang tentang pekerjaan dan juga tentang cinta,” ucap Soo Hyuk dan itu membuat jantung Mi Mo berdebar. Mi Mo pun jadi teringat saat Soo Hyuk menciumnya. 

Ternyata Soo Hyuk juga mengingatnya. Karena berada di tempat yang sama dan hanya berdua, jantung mereka pun sama-sama berdebar. Mereka berdua saling tatap. Tiba-tiba ponsel Soo Hyuk berbunyi dan itu memecahkan suasana. 


Yang menelpon Soo Hyuk adalah hyun Ki. Dia  protes karena Soo Hyuk tak datang menemuinya duluan setelah sampai di Korea. Padahal ada banyak hal yang sudah dia lakukan untuk membantu Soo Hyuk. 



Soo Hyuk sekarang sudah berganti pakaian dan hendak pergi menemui Hyun  Ki. Sebelum pergi, Soo hyuk melihat lagi apartemen Mi Mo dan miliknya yang saling berhadapan. Melihat itu, dia pun teringat saat mereka berdua pulang dari kantor catatan sipil dalam keadaan mabuk. Mereka berdua sama-sama memanggil sayang dan berjanji akan bertemu lagi dalam mimpi. Soo Hyuk tersenyum mengingat semuanya.


Soo Hyuk dan Hyun Ki minum di pojangmacha. Hyun Ki menyesal dan merasa sudah dibodohi oleh Soo hyuk. Karena Hyun Ki sangat sedih saat Soo Hyuk pergi, dia kira Soo Hyuk tidak akan kembali lagi ke Korea, tapi ternyata… sekarang Soo Hyuk sudah berada di Korea lagi. 

“Aku tidak membodohimu,” ucap Soo Hyuk.

“Selama sebulan kau pergi. Aku harus mengerjakan semua pekerjaan sendirian. Jadi aku pada dasarnya… mengerjaan apa yang seharusnya menjadi pekerjaanmu saat kau pergi. Kau bahkan tidak membayarku. Apa kau tahu berapa biayanya kalau kau menyewa seseorang untuk pekerjaan ini?” tanya Hyun Ki.

“Itu sebabnya aku mentraktirmu minum,” jawab Soo Hyuk dan Hyun Ki tak terima karena harga soju tidak mahal. “Aku akan terus mentraktirmu minum, seumur hidupmu,” ralat Soo Hyuk dan Hyun Ki setuju. 


“Wellcome to Korea!” ucap Hyun Ki dan kemudian merangkul Soo Hyuk. 


Soo Hyuk kemudian mengaku kalau dia sudah terperangkap pada dirinya yang berusian 21 tahun. Kita dibawa kembali saat Soon Soo meminta pertanggungjawaban dari Soo Hyuk, tapi saat itu Soo Hyuk takut. 

“Aku membuat kesalahan karena aku terlalu serius,” aku Soo Hyuk 
Kemudian kita diperlihatkan kembali saat Hae Joon bertanya mengenai perasaan Soo Hyuk pada Mi Mo. Dan saat itu Soo Hyuk menjawab kalau Mi Mo hanyalah teman sekolahnya saja. 

“Lalu aku membuat kesalahan karena terlalu cepat mengambil keputusan,” ucapnya lagi dan Hyun Ki kemudian bertanya apa kesimpulan Soo Hyuk setelah melakukan keduanya. “Aku memutuskan akan melakukan dua-duanya. Aku akan bersungguh-sungguh, tapi aku akan cepat mengambil keputusan saat aku memerlukannya.” Jawab Soo Hyuk dan Hyuk Ki membenarkan keputusan itu. 

“Terlalu banyak bersandar pada satu orang bisa berbahaya. Saat kau pergi, aku mengikutinya… hampir seperti paparazzi.  Aku menyingkirkan barang-barang yang di kirimkan untuk mengancamnya. Aku menemukan pegawai paruh waktu yang mereka sewa dan memberinya pelajaran. Aku juga mengejar istri kliennya yang melarikan uang. Aku tidak pernah melakukan hal itu pada istriku sendiri. Tapi aku melakukannya untuk Mi Mo,” ucap Hyun Ki mengakui semua yang sudah dia lakukan untuk Soo Hyuk.


“Anak baik, kerja yang bagus,” puji SOo Hyuk sambil menggelitik dagu Hyun Ki. Dia juga berterima kasih atas semua bantuan Hyun Ki padanya. 


Hae Joon sedang bersama Yeon Soo di rumahnya. Mereka minum bir bersama. Yeon Soo mengaku kalau dia baru tahu Hae Joon punya sisi seperti itu. Meskipun dia merasa sedih karena Hae Joon seperti itu bukan karena dirinya. 


“Aku tidak tahu, aku tidak tahu kalau aku membuat kau merasa kesepian. Aku memikirkannya dan menyadari kalau kaulah orang yang seharusnya… membuat aku merasa sangat bersalah,” aku Hae Joon dan Yeon Soo terkejut mendengarnya. 

Hayooo pak dokter dan buk dokter jadian lagi. Mereka cocok…



 Di rumah Mi Mo tak bisa tidur. Dia teringat pada kata-kata Soo Hyuk yang berjanji akan berubah menjadi pria yang bersungguh-sungguh baik itu mengenai pekerjaan dan juga cinta. Karena tak bisa tidur, Mi Mo pun memutuskan untuk jalan-jalan ke luar. Sesampainya di perkiran, dia melihat Hyun Ki menggendong Soo Hyuk yang sudah mabuk berat.



“Kau penghuni unit 1501 kan?” tanya security dan kemudian menghampiri Mi Mo. Mi Mo membenarkan. Security itu kemudian bertanya apa Mi Mo kenal dengan pria yang memakai topi.

“Maksudmu Hyun Ki?” jawab Mi Mo. Pak security kemudian memberitahu Mi Mo kalau selama ini Hyun Ki mengikuti Mi Mo sehingga  dia mengira kalau Hyun Ki adalah seorang penguntit. Tentu saja Mi Mo terkejut mendengarnya dan bertanya-tanya kenapa Hyun Ki melakukan semua itu padanya. 

“Siapa yang tahu? Tapi sepertinya dia tidak punya maksud untuk menyakiti, jadi aku terus mengawasinya,” aku pak security dan menebak kalau Hyun Ki sepertinya sangat menyukai Mi Mo sampai-sampai dia melakukan semua itu. Mi Mo sendiri bingung menjawabnya dan pak security itu pun berjalan pergi.


Soo Hyuk kemudian pergi ke sebuah acara makan siang keluarga, dimana sudah ada Min Woo, orangtuanya dan juga seorang wanita. Soo Hyuk hendak duduk di samping ibunya, namun dengan cepat sang ibu menaruh tasnya di kursi itu sehingga membuat SOo Hyuk tak punya pilihan lain selain duduk di samping wanita muda itu. 

Pada Soo Hyuk, ibunya mengaku kalau dia yang mengudang wanita itu untuk makan siang bersama mereka. Namun Soo Hyuk tak terlalu menghiraukannya, dia malah berkata pada Min Woo untuk memesan makanan yang banyak karena resetoran tempat mereka makan adalah restoran mahal. 

Ayah Soo Hyuk lalu bertanya apa yang akan Soo Hyuk lakukan karena Soo hyuk sudah menganggur selama 1 bulan. Dengan santai Soo Hyuk menjawab kalau dia berencana akan nganggur selama 2 bulan sampai dia menemukan sesuatu yang benar-benar dia sukai. 

“Kau selalu melakukan apapun yang kau inginkan. Kau melanjutkan sekolah di Amerika, tapi kau kembali ke Korea dan membuat masalah. Lalu suatu hari, kau muncul dengan anak itu. Min Woo, maaf tapi benar kau terlahir tanpa rencana,” ucap ibu Soo Hyuk pada Min Woo dan kemudian berbalik lagi memarahi Soo Hyuk. “Setelah itu, kau bersikap seolah-olah akan tinggal di Amerika. Tapi kemudian kau pergi lagi. Siapa kau sebenarnya?”



“Aku anak ibu, itu pasti,” jawab Soo Hyuk.

“Aku anak ayah,” sambung Min Woo.

“Betul sekali,” balas Soo Hyuk.

“Jangan pernah lagi datang ke Amerika dengan terlihat sedih dan depresi. Setiap kali kau muncul seperti itu, kau hampir membuat ibu terkena serangan jantung,” pinta sang ibu dan sebelum Soo Hyuk menjawab, wanita yang ada di sampingnya langsung meminta ibu Soo Hyuk untuk tidak khawatir lagi karena mulai sekarang ada dia di samping Soo Hyuk. 


Wanita muda itu bernama So Eun dan dia berencana untuk tinggal di unit depan rumah Soo Hyuk. Saat ditanya apa penghuni di unit itu akan pindah, dengan yakin Soo Hyuk menjawab tidak.

“Dia tidak akan pernah… aku rasa dia tidak akan pindah secepatnya. Dia tidak suka perubahan,” jawab Soo Hyuk dan So Eun lalu berencana untuk menyewa unit di atas atau bawah rumah Soo Hyuk saja. Melihat sikap So Eun, ibu Soo Hyuk langsung menegurnya dan menyuruhnya untuk tidak terlalu mengejar Soo Hyuk, karena itu akan membuat Soo Hyuk melarikan diri. Bukannya mengerti, So Eun malah berkata kalau itulah pesona Soo hyuk. Soo Hyuk adalah pria yang sulit di dapatkan. 

Ibu Soo Hyuk lalu terang-terangan berkata kalau Min Woo perlu seorang ibu, jadi Soo Hyuk harus segera menikah. Soo Hyuk pun berpura-pura baru menyadari tujuan makan siang itu. Hehehe… padahal dia sudah bisa menebaknya dari awal.


“Oppa, kau harus berterima kasih. Dimana lagi kau bisa menemukan wanita seperti aku? Aku cantik, pekerjaan dan gajiku bagus. Aku cantik dan punya banyak uang. Aku juga tahu Min Woo dengan baik. Apa kau lupa, aku yang membesarkan Min Woo? Aku sudah sering mengasuhnya,” ucap So Eun dengan pedenya.

“Aku sangat berterima kasih. Tapi aku tidak berkencan dengan seorang wanita karena rasa terima kasih,” jawab Soo Hyuk dan mengajak semuanya makan. Orang tua Soo Hyuk hanya bisa menghela nafas mendengar hal itu.



Mi Mo menemui Hyun Ki untuk bertanya alasan dia mengikuti Mi Mo selama ini. Karena tak perlu di sembunyikan lagi, Hyun Ki pun menceritakan semuanya pada Mi Mo, kalau apa yang dia lakukan, semua itu permintaan Soo Hyuk. 

“Dia pasti merasa terluka. Dia menghilang seperti yang kau minta, tapi dia pasti sangat mengkhawatirkanmu. Karena skandalmu, fans tidak henti-hentinya mengganggumu dan juga perusahaanmu juga sedang mengalami krisis. Sepertinya dia tidak bisa begitu saja, jadi dia meminta bantuanku. Karena kami memiliki banyak informasi berkat pekerjaan kami, dia memintaku untuk membantunya supaya kau tidak terlalu menderita,” ungkap Hyun Ki dan sekarang Mi Mo sudah berada di depan gedung apartemennya.

Dia melihat Soo Hyuk sedang duduk di bangku taman dan meraba tempat duduk di sebelahnya. Euum… sama seperti yang Mi Mo lakukan saat dia merindukan Soo Hyuk. Soo Hyuk kemudian beranjak dan hendak pergi. Tiba-tiba sebuah sepatu melayang dan mengenai lehernya. 

“Song Soo Hyuk-a!” teriak Mi Mo dan Soo Hyuk berbalik. “Jangan tunjukkan punggungmu padaku. Aku tidak bisa mendekat. Aku terlalu takut. Jadi aku hanya bisa sampai sini. Aku khawatir sesuatu akan terjadi kalau aku berlari cepat. Aku terlalu takut untuk melangkah lebih jauh. Untuk sisanya, kau yang harusa datang padaku. Maksudku, kau yang harus datang. Aku ingin kau datang padaku meski kau lambat. Kau membuat lubang di hatiku, tapi aku masih tetap menunggumu. Dan jika… aku mengumpulkan keberaniaku dan berjalan kesini, kau yang seharusnya datang padaku sekarang. Tidak perduli betapa lambatnya dirimu, kau seharusnya datang padaku. Sadar kau bodoh!” teriak Mi Mo yang mengira Soo Hyuk tak mengerti apa yang dia katakana, tapi tiba-tiba Soo Hyuk mendekat dan menciumnya. 


Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending episode 13

6 comments :

  1. Rasanya legaaaaaaa
    Akhirnyaa
    Makasih sinopsisnya

    ReplyDelete
  2. Legaaaa rs nya liht psngn mimo sm soo hyuk d akhir cerita makasih mbak tetp semngt.

    ReplyDelete
  3. Legaaaa rs nya liht psngn mimo sm soo hyuk d akhir cerita makasih mbak tetp semngt.

    ReplyDelete