March 30, 2016

Jackpot (Daebak) Episode 1 -1

Jackpot atau bisa disebut dengan judul Daebak atau The Royal Gambler merupakan drama baru lagi yang akan saya tulis bersama Mbak Ima di Kutudrama. Drama ini bercerita tentang keluarga Raja yang ingin mempertahankan tahta dan kelompok yang ingin merebut tahta. Dan kisah drama ini lebih dikenal dengan peristiwa 1728 – Revolusi Lee In Jwa. 

Seperti biasa sebelum mulai nulis sinopsis kita kenalan dulu dengan pemainnya. Biar gak ribet nantinya waktu nulis drama ini.


Pemeran Utama:
  • Jang Keun Suk sebagai Baek Dae Gil
  • Yeo Jin Goo sebagai Raja  Yeongjo
  • Leon Kwang Leol sebagai Lee In Jwa
  • Choi Min Soo sebagai Raja  Sookjong
  • Lim Ji Yeon sebagai Dam Seo
  • Yeon Jin Seo sebagai Sookbin Choi/Choi Bok Soon
  • Lim Hyeon Shik sebagai Nam Dokkebi
  • Ahn Gil Kang sebagai Kim Che Gun 
  • Song Jong Ho sebagai Kim Yi Soo
  • Ji Il Joo sebagai Moo Myung
  • Han Jung Soo sebagai Hwang Jin Ki
  • Hyun Woo sebagai Raja Gyeongjong
  • Han Ki Woong sebagai Sa Woon
  • Han Ki Won sebagai Sa Mo
  • Oh Yeon A sebagai Jang Ok Jung
Tambahan:
  • Jeon Soo Jin sebagai Hwanggoo Yeomeom
  • Kim Yoo Chul sebagai Daegari
  • Jeon Jae Hyeong sebagai Gamooichi
  • Baek Seung Hyeon sebagai Jang Hee Jae
  • Heo Tae Hee sebagai Sang Gil
  • Lee Ka Hyeon sebagai Hwa Jin
  • Cha Soon Bae sebagai Jo Tae Goo
  • Na Jae Woong sebagai Choi Suk Hang
  • Yoon Ji Hye sebagai Hong Mae
  • Lee Moon Sik sebaga Baek Man Geum ( suami Bok Soon )
Sinopsis Jackpot Episode 1 – Drama ini fiksi berdasarkan sejarah.




Terdengar suara Dam Seo (Im Ji Yeon) yang berkata bahwa, “Puncak dari kekuasaan adalah tahta,” dan kita melihat Raja Sookjong (Choi Min Soo) duduk diatas singgasananya ditemani Ratu-nya. Tak lama kemudian Raja Sookjong hilang dan Raja Yeongjo yang menggantikan posisinya. Ratu pun perlahan-lahan menghilang juga dan tinggallah Raja Yeongjo sendiri.


Ada yang ingin mempertahankan tahta,” suara Dam Seo kembali terdengar.




Dan kita melihat Lee In Jwa saat Dam Seo berkata, “Ada yang ingin merebut tahta.” 

Lee In Jwa keluar melewati gerbang yang di sana sedang berlangsung sebuah peperangan dan terus berjalan lurus ke depan melewati mereka semua. Pertempuran itu berlangsung pada tahun 1728 dan dikenal dengan peristiwa “Revolusi Lee In Jwa”. 

(Dilihat dari sekilas pembukaan drama ini, sepertinya drama ini bercerita tentang Lee In Jwa yang ingin merebut tahta kerajaan dari Raja Sookjong dan Yeongjo )


Baek Dae Gil (Jang Geun Seok) menemui In Jwa disebuah gubuk dengan membawa papan catur. Dia memanggil In Jwa dengan sebutan “Guru.”

Dan ada yang ingin menghentikannya...

Dae Gil datang bersama Kim Cha Gun (Ahn Gil Kang) yang terus mengawasi dua anak buah In Jwa untuk berjaga-jaga kalau saja mereka akan melukai Dae Gil. Di tengah turunnya salju, Dae Gil dan In Jwa bermain catur.

Metode permainan yang mereka gunakan berbeda, kalau Dae Gil lebih mementingkan keselamatan prajuritnya, sedangkan In Jwa terus mengorbankan prajuritnya karena tujuan utama In Jwa adalah sang Raja.  Dae Gil berkomentar kalau tak ada gunanya mendapatkan Raja, jika pasukan In Jwa habis.

In Jwa yang punya pikiran berbeda menjawab kalau tak ada gunanya juga pasukan selamat. Dan tepat di saat itu raja Dae Gil kena ‘skak'. “Mana bisa mengalahkan raja tanpa mengorbankan pasukan? Pengorbanan seperti ini memang dibutuhkan,” ujar In Jwa dengan bangga karena berhasil mengalahkan Dae Gil.

“Lalu demi siapa semua pengorbanan ini?” tanya Dae Gil dan In Jwa menjawab demi Joseon dan rakyatnya. Dae Gil memukul papan catur, emosi mendengar jawaban itu karena yang baru saja  In Jwa katakan mengenai rakyat, tak seperti prakteknya. "Guru sudah membantai rakyat di delapan kota hanya demi mendapatkan tahta!"


“Hanya tahta itu yang bisa merubah Joseon,” jawab In Jwa yang tak merasa bersalah sedikitpun dan Dae Gil langsung menjawab kalau mereka tidak membutuhkan raja seperti In Jwa. Mendengar kata-kata itu, In Jwa langsung mengancam kalau Dae Gil akan terluka jika bersikeras menghalanginya.

Dae Gil sudah tak heran lagi mendengar ancaman itu, karena dia sudah sangat mengenal sifat In Jwa. In Jwa akan membunuh siapa saja yang tidak setuju dengan jalannya. Dae Gil lalu menantang In Jwa untuk membunuhnya. Tanpa dikomando, anak buah In Jwa langsung berjalan maju dan hendak menebas leher Dae Gil, untung saja ada Chae Gun yang menghalau pedang itu. 


Chae Gun pun bertarung melawan kedua anak buah In Jwa. Kedua anak buah In Jwa terus menghunuskan pedang mereka ke arah Dae Gil tapi semuanya berhasil dihalau oleh Chae Gun.

Dae Gil dan In Jwa sendiri, masih duduk di tempat  mereka dan saling tatap satu sama lain tak berkedip dan saling menantang. Mereka terlihat tak  perduli dengan pedang yang terus ditebaskan di samping mereka. 

Seorang anak buah In Jwa kembali berusaha menebas Dae Gil tapi pedangnya langsung ditebas oleh Che Gun sampai pedangnya patah jadi dua dan patahannya menancap di tengah papan catur. 


In Jwa mencabut patahan pedang itu dan menggenggam erat hingga tangannya berdarah. "Aku akan pergi ke ibukota. Kita bertemu di sana."


In Jwa pergi dan Dae Gil bergumam pantas saja kalau In Jwa pintar bicara karena ia adalah bangsawan. Dae Gil mengambil satu pion tentara, "Namun... di dunia ini, rakyatlah yang akan menang,” ucap Dae Gil dan meletakkan pion itu kembali di papan.

~Daebak~


In Jwa melihat kehidupan rakyat Joseon yang sebagian hidup menderita dan sebagian lagi sibuk dengan berjudi. 

~ Tahun 1693 di Hanyang ~



Bok Soon masak sampai terkantuk-kantuk dan setelah mengantarkan makanan ke orang yang memesannya, Bok Soon tak sengaja mendengar suara suaminya di sebuah ruangan.


Bok Soon masuk ruangan tersebut dan terkejut mendapati suaminya sedang bersenang-senang dengan beberapa gisaeng. Dengan penuh emosi, Bok Soon menjewer Man Geum dan menyeretnya keluar.


Man Geum masih tak sadar atas kesalahan yang sudah dia lakukan. Dia dengan sombongnya berkata kalau dia masih seorang bangsawan walau menggunakan sepatu lusuh, jadi Bok Soon harus merasa bangga punya suami seperti dia. 

“Kau hanyalah suami yang suka judi. Siapa yang harus menanggung semua ini? Aku! Aku” teriak Bok Soon kesal dan  Man Geum menyuruh Bok Soon untuk berhenti menangis karena hal itu sangat memalukan. 

Man Geum meraih tangan Bok Soon dan berkata kalau dia berjudi bukan karena dia menyukai hal tersebut, tapi karena hanya berjudi dan mencuri lah yang bisa dia lakukan untuk menghidupi keluarganya. Bok Soon menghempaskan tangan Man Geum dan mengaku kalau dia sangat takut, jika suatu hari nanti dia hamil. 


“Hamil saja kalau mau. Kau pikir Baek Man Geum tidak bisa menghidupi keluarganya?” ucap Man Geum dengan bangga dan kemudian memberikan beberapa uang pada Bok Soon untuk membeli ayam sebagai hidangan makan malam mereka. 


Man Geum pergi dan menyuruh Bok Soon pulang duluan. Bok Son menyadari ada orang yang memperhatikan mereka dan tak sengaja berpandangan dengan In Jwa yang sedari tadi duduk di luar, sepertinya mengikuti pembicaraan dirinya dan Man Geum. Malu, Bok Soon pun langsung berbalik dan pergi. 

In Jwa memandangi wanita itu dan mengangguk-anggukan kepalanya, terlihat berpikir.


Bok Soon berjalan sambil membawa ayam. Dia teringat kembali pada kata-kata Man Geum tentang membiarkannya hamil karena Man Geum sanggup menghidupi keluarganya. 

“Maaf... sejahat apapun, dia tetap suamiku. Aku tak bisa biarkan dia kelaparan,” ucap Bok Soon pada ayam yang dia bawa. Langkah Bok Soon terhenti karena dia merasa ada yang mengikutinya. Dia menoleh ke belakang dan bertanya apa ada orang, namun tak ada jawaban. Saat dia berbalik lagi untuk meneruskan langkahnya, tiba-tiba seorang pria menyekapnya.


Man Geum sedang bermain judi dengan para wanita penghibur dan dia kalah. Tak bisa menerima kekalahan, Man Geum pun kabur dan dia jatuh terjungkal di depan pintu keluar. Tepat disaat itu, Hong Mae muncul bersama beberapa anak buahnya. 


Hong Mae berkata kalau ada tiga jenis pria di matanya, pertama adalah keluarga, kedua pria yang bekerja untuk dirinya dan ketiga pria yang menghiburnya di malam hari. Namun ayah Hong Mae menghilangkan semua itu di meja judi dan suaminya sendiri dia bunuh saat berselingkuh. Mereka mati di tangan Hong Mae  karena mereka memanfaatkan uang Hong Mae. 

“Kau pikir aku tak bisa membunuhmu karena kita bukan keluarga?” ucap Hong Mae yang marah karena Man Geum sudah banyak berhutang padanya. Hong Mae lalu bertanya dengan apa Man Geum akan membayar hutang-hutangnya, apa Man Geum akan menjual istrinya. 

“Kalau memang tak ada uang, bisa saja istriku,” jawab Man Geum dan tak jauh dari tempat mereka, kita melihat In Jwa yang sedang mendengarkan obrolan mereka. Hong Mae terlihat senang dengan jawaban Man Geum dan dia kemudian memberikan Man Geum 100 Nyang dengan bunga pinjaman 20 Nyang. 


Mendapatkan uang sebanyak 100 Nyang, Man Geum pun langsung pergi ke tempat perjudian. Dia pergi ke sana karena diajak oleh Hong Mae. 


Bok Soon sadarkan diri dan dia melihat banyak hidanga lezat di atas meja. Karena memang sedang lapar, Bok Soon pun langsung memakannya. 


“Itu beracun,” ucap seseorang dan reflek Bok Soon hampir memuntahkan apa yang sudah dia makan. Ternyata orang yang datang adalah In Jwa. Dia menyebut Bok Soon sebagai wanita yang bisa diajak berunding. 


In Jwa duduk di kursi dan menyantap makanan yang ada di meja. Tak mengenal siapa In Jwa, Bok Soon pun berkata kalau sepertinya In Jwa sudah salah orang. In Jwa tak menanggapi ucapan Bok Soon, malah menyuruhnya makan saja karena besok dia punya tugas penting di istana untuk Bok Soon. 

Tentu saja Bok Soon terkejut, karena In Jwa tahu tentang dirinya yang bekerja sebagai pelayan di istana. In Jwa kemudian memberikan uang pada Bok Soon.

“Kau tak perlu kelaparan lagi. Kau tak perlu kedinginan lagi di rumah yang bobrok itu.  Kau tak perlu khawatir ditangkap karena hutang-hutang suamimu,” ucap In Jwa dan Bok Soon bertanya apa yang sebenarnya In Jwa inginkan. 

Man Geum keluar tempat perjudian dengan wajah lemas dan sedih. Dia tak membawa apa-apa di tangannya.


Di rumah, Bok Soon terus teringat tawaran In Jwa sambil memegang uang darinya. Sebelum uang itu terlihat oleh suaminya, Bok Soon menyelipkannya di antara baju-baju.



Keesokan harinya, Bok Soon sudah berada di istana dan dia melakukan apa yang In Jwa perintahkan padanya. 

Setelah hujan deras, raja selalu jalan-jalan di pagi hari. Dia berkeliling dua kali tanpa menggunakan tandu. Dia mengunjungi istana Tongmyungjeon kediaman mendiang permaisuri Inhyun. Letakkan sepatu permaisuri di depan istana Tongmyungjeon. Lalu letakkan daun teratai di atas sepatu itu,

Bok Soon melakukan semua perintahnya. Setelah meletakkan sepatu permaisuri Inhyun, Bok Soo pura-pura menyapu di depan istana. Tepat disaat itu, Raja lewat  namun dia sama sekali tak menoleh ke arah istana Tongmyungjeon dan itu membuat Bok Soon bingung lalu melihat ke arah sepatu. 



Tunggulah. Raja akan mendatangimu,” ucap In Jwa dan ternyata benar. Saat Bok Soon menoleh, Raja sudah berada di pintu gerbang. Tentu saja Bok Soon langsung menunduk dan bersujud karena Raja berjalan kearahnya.


Saat dia berjarak lima langkah, angkat kepalamu. Pandang matanya selama tiga tarikan nafas.”

Bok Sook melihat langkah kaki Raja yang semakin mendekat, namun Raja hanya melewatinya. Raja mengambil daun teratai yang diletakkan di atas sepatu permaisuri Inhyun dan kemudian menghampiri Bok Soon. Raja menyuruh Bok Soon berdiri dan mengangkat kepalanya. Mendengar perintah raja, Bok Soon pun teringat kembali pada kata-kata In Jwa.


Tiga tarikan nafas. Tatap matanya selama tiga tarikan nafas. Tarikan nafas pertama  hati raja akan goyah. Pada nafas kedua, hatinya akan terenggut. Pada nafas ketiga, jiwa raja akan jadi milikmu.

Bok Soon mempraktekkan apa yang In Jwa pesankan padanya dan setelah tarikan nafas ketiga, Bok Soon langsung menundukkan kepalanya. Raja kemudian bertanya apa Bok Soo yang sudah meletakkan daun teratai di atas sepatu dan Bok Soo mengiyakan. Raja pun bertanya alasan Bok Soo melakukan semua itu.

“Permaisuri... mendiang permaisuri selalu meletakkan sepatu disana. Beliau selalu meletakkan daun teratai diatas sepatu ketika hujan. Sudah jadi kebiasaan,” jawab Bok Soon dan raja terlihat menyunggingkan bibirnya ketika mendengar jawaban Bok Soon. 


“Siapa namamu?” tanya Raja dan Bok Soon menyebut namanya. 



Tepat disaat itu Jang Ok Jung muncul dan memanggil Raja. Tanpa menoleh ke arah Ok Jung, Raja bertanya apa yang membawa Ok Jung ke istana Tongmyungjeon. 


“Apa yang Paduka lakukan disini?” tanya Ok Jung balik. Tanpa melihat ke arah Ok Jung, Raja hanya berkata kalau dia sedang berjalan-jalan. Raja lalu berjalan pergi sambil membawa daun teratainya. Melihat sikap raja yang sangat dingin padanya, tentu saja Ok Jung terlihat kesal.

Terdengar kembali pada percakapan Bok Soon dan In Jwa. Bok Soon bertanya apa hanya seperti itu saja yang harus dia lakukan dan In Jwa mengiyakan.


Di ruangannya, Raja memanggil seorang pelukis dan minta di lukiskan wajah Bok Soon. Euuum... ternyata Raja sudah mulai menyukai Bok Soon. Rencana In Jwa pun berhasil. 


Paginya, Raja berlatih memanah dan panahan tepat sasaran. Semua mentri yang datang terus memuji kemahiran Raja dalam memanah. 

“Dengarkan kata-kata tak tulus itu. Aku agak muak mendengarnya,” keluh Raja pada Yi Soo dan Yi Soo pun menjawab kalau para menteri itu hanya ingin menyemangati Raja saja. Raja berkata kalau Yi Soo tak mengerti apa-apa, yang diinginkan para menteri itu bukanlah seorang raja, melainkan boneka.


‘Saat waktunya tepat nanti... akan kusingkirkan mereka,” gumam Raja dan kembali berhasil memanah tepat sasaran. Dia juga memberitahu Yi Soo kalau seperti itulah politik. Mendengar itu, Yi Soo terlihat tak senang namun dia tak berkata apa-apa. 


Flashback singkat!
Yi Soo melarikan diri bersama seorang wanita dari kejaran prajurit. Disebuah rumah, wanita yang bersamanya tadi melahirkan seorang anak, namun wanita itu meninggal dunia setelah berhasil melahirkan. 


Ingatan itu membuat Yi Soo mengangkat panahnya dan mengarahkannya ke arah Raja. “Kau lebih rendah dari binatang. Banyak nyawa berkorban untukmu. Apa benar kau tak tahu?!” teriak Yi Soo dengan penuh kemarahan dan Raja hanya menatapnya dengan tatapan tajam. 

“Kau... kenapa tidak kau tembakkan?” tanya Raja dan Yi Soo melepaskan anak panahnya. Namun sayang, anak panah Yi Soo tidak tepat sasaran. Rupanya saat Yi Soo marah tadi hanya ada di dalam pikiran Yi Soo saja. 

Melihat panah Yi Soo meleset, Raja menghampiri Yi Soo dan menepuk pundaknya lalu berjalan pergi tanpa berkata sepatah katapun. 

Di kepalanya, Yi Soo terngiang-ngiang pesan In Jwa sebelumnya, yang membuat ia tak melakukan apa yang ia bayangkan. “Tahan dulu... dunia hanya akan berubah ketika Raja mati.


Flashback!
Yi Soo berlatih memahan sampai tangannya terluka. In Jwa berada di sampingnya dan berkata kalau hal yang selalu berubah adalah Raja.“Hari pembalasan dendammu akan tiba. Hari dimana kau menancapkan anak panah ke jantung Raja akan tiba. Sampai saat itu tiba.."

Kembali pada Yi Soo yang sekarang, dimana dia berhasil memanah dengan tepat sasaran.

.... tahan dan bersabarlah,” pesan In Jwa.


Bok Soon sedang bekerja bersama dayang yang lainnya. Salah satu temannya berkata kalau tak ada yang peduli pada mereka, walau mereka sudah bekerja dengan keras, karena dia melihat Bok Soon begitu semangatnya bekerja.


Bok Soon menjawab kalau menurutnya sudah cukup menyenangkan disaat dia masih bisa bekerja sehingga membuatnya tidak kelaparan. Tepat disaat itu, Raja datang dan semua dayang langsung berdiri di pinggir jalan untuk menyambutnya.


Langkah Raja terhenti tepat di depan Bok Soon. “Kau bilang namamu Bok Soon?” tanya Raja tanpa menoleh dan Bok Soo mengiyakan. “Aku akan menemuimu lagi,” ucap Raja dan melanjutkan perjalanannya.



Man Geum sudah berada di rumahnya. Dia terlihat lemas karena di rumah sudah tak ada lagi uang yang bisa dia bawa berjudi. Dia kemudian teringat pada silsilah keluarganya dan langsung mencarinya. Dia hendak menjual silsilah bangsawannya walau hanya akan laku seharga 50 nyang.


Saat akan memasukkan lagi kain-kain yang dia keluarkan dari lemari, Man Geum melihat uang milik Bok Soon yang diberikan oleh In Jwa. Tanpa ragu sedikitpun, Man Geum langsung membawa uang itu.


In Jwa sedang memilihkan beberapa aksesoris untuk Bok Soon dan Bok Soon bertanya apakah rencana In Jwa adalah membuat Raja tertarik pada dirinya. In Jwa mengiyakan dan Bok Soon mengingatkan In Jwa kalau dirinya sudah bersuami. In Jwa tersenyum dan berkata kalau Bok Soon hanya hadiah yang dimenangkan oleh si maniak judi, Man Geum.


“Menikah atau tidak. Kami tinggal bersama artinya suami istri kan?” jawab Bok Soon. In Jwa lalu meminta Bok Soon memilih antara maniak judi Baek Man Geum dan Raja Joseon. Bok Soon menjawab walau Man Geum seorang penjudi, tapi dia merasa tak boleh mengkhianatinya. Diapun berjanji akan mengembalikan uang yang diberikan In Jwa. 

In Jwa tersenyum dan meminta Bok Soon tidak pergi terlalu jauh, karena dia sangat yakin kalau Bok Soon pasti akan kembali lagi padanya. 


Man Geum bermain judi dengan mempertaruhkan buku silsilah keluarganya dan uang milik Bok Soon. Seperti yang biasanya terjadi, lagi-lagi Man Geum kalah dan harus menyerahkan uang milik Bok Soon dan buku silsilahnya. Man Geum kalah dari Nam Dokkebi. 


Man Geum pulang disaat Bok Soon mencari-cari buku silsilah keluarga. Bok Soon benar-benar emosi saat mengetahui kalau Man Geum sudah mempertaruhkan buku silsilah dan kalah. Sambil menangis Bok Soon berkata kalau seharusnya Man Geum tidak melakukan hal tersebut, karena yang Man Geum punya hanyalah darah bangsawannya saja dan tanpa silsilah keluarga itu, tak ada bukti lagi yang membuktikan kalau dia adalah bangsawan. Tujuan Bok Soon memiliki silsilah itu juga agar kelak anak mereka bisa hidup layak. 

Belum reda emosi Bok Soon, Man Geum membahas tentang uang yang dia temukan di lemari. Bok Soon shock dan semakin marah pada suaminya. 


“Kau tahu uang apa itu?” tanya Bok Soon dengan tatapan benci pada suaminya. Man Geum sendiri tak bisa menjawab karena dia memang tak tahu. Kesal dan marah, Bok Soon keluar rumah.

Komentar :

Apa yang akan Bok Soon lakukan? Apakah dia akan menemui In Jwa dan menyanggupi permintaannya? Jangan kemana-mana.... tunggu kelanjutan sinopsisnya.

Jika melihat adanya Jang Ok Jung dan Ratu Inhyun, kita tentu bisa menebak bukan siapa Raja yang ada di sini? Iya, dia adalah Raja Sukjong yang diperankan oleh Ji Jin Hee di Dong Yi dan Yoo Ah In di Jang Ok Jung, Live in Love.

Jadi apakah Bok Son adalah karakter penting di kehidupan Raja Sukjong? Apa rencana In Jwa sebenarnya?

Bersambung sinopsis Jackpot Episode 1 -2

3 comments :

  1. Woah...udah ada raja sukjong lagi
    Hehe semangat semuanyaaaaa^^
    Ini 24 episode mbak?
    Pertama kali recap sageuk panjang? Hehe

    ReplyDelete
  2. Semangat terus ya nulisnya chingu. . ^.^
    Dah lama aku nunggu drama terbaru jang geun suk ini. . ^_^

    ReplyDelete
  3. Semangat lagi ni,,, ngak bisa nonton langsung, baca sinopsisnya aja udah bersyukur banget.... makasih min udah posting sinopsisnta...sll semangat <3 <3 <3

    ReplyDelete