March 4, 2016

High End Crush Episode 11

High End Crush Episode 11


Walau Direktur Jang berbusa-busa menjelaskan betapa buruk kepribadian Se Hoon dan betapa baiknya dia, Yi Ryung tetap menolak untuk diorbitkan oleh Direktur Jang.


Sia-sia Direktur Jang mengajak Yi Ryung keluar, apalagi ternyata Se Hoon muncul dengan tatapan mengancam, bahkan Joong Oh saja keder.



Ternyata Se Hoon sudah mengetahui tentang siapa tamu Yi Ryung malam itu dengan cara memeriksa CCTV depan apartemen Yi Ryung. Chief Jo juga memberi laporan kalau Direktur Jang menemui Joong Oh sebelumnya. Se Hoon bertanya apa niat Direktur Jang sebenarnya.


Direktur Jang, selicin ular, langsung berkelit dan kali ini berbusa-busa menjelaskan betapa kerennya Se Hoon yang sudah sukses semuda ini. Yi Ryung dan Joong Oh hanya bisa bengong menatap Direktur Jang.


Se Hon membawa Yi Ryung pergi, tapi hanya diam saja. Hal ini membuat Yi Ryung bertanya-tanya kenapa Se Hoon yang sepertinya ingin berkata banyak padanya tapi tak berkata sepatah katapun. Se Hoon juga tak tahu. Memang banyak yang ingin ia katakan, tapi setelah berhadapan dengan Yi Ryung, kata-kata itu menghilang begitu saja. Hal aneh ini terus menerus terjadi padanya. “Karena kau hidup di abad 18.”

Yi Ryung membantah hal itu, tapi Se Hoon berkata iya. Wanita abad 21 tahu punya rencana dengan hidupnya sendiri untuk 10 tahun ke depan. “Tapi kau tidak melakukannya. Kau ini seperti hidup di abad 18, jadi membuatku menderita. Lebih baik segera kau tanda tangan kontrak dengan kami.”


Yi Ryung kaget mendengar ucapan Se Hoon. Tapi Se Hoon tak bercanda. Dengan nada serius ia berkata kalau ia akan meminta Kabag untuk membuat kontrak dengan klausul terbaik, “Tapi mungkin kau tak mengerti apapun tentang semua yang ada di kontrak. Percayalah kontrak itu akan sangat menguntungkanmy sehingga kau tak rugi apa-apa. Jadi bergabunglah dengan kami.”


Yi Ryung menyindir Se Hoon yang kedengarannya sangat terpercaya sekali, tapi ia tak berminat bergabung. Ia memberikan berbagai alasan, tapi Se Hoon malah keluar dari mobil. Yi Ryung segera menyusulnya, bertanya ada apa.


Se Hoon kagum pada pendirian Yi Ryung dan bertanya apa yang diceritakan Kabag Heo padanya? Yi Ryung menjawab kalau Kabag berkata Se Hoon adalah orang yang hebat dan akan membuatnya kaya. “Dan kau akan menjaga milikmu sebaik mungkin.”


Se Hoon membenarkan. “Dan kau adalah milikku. Karena itulah kau harus menandatangani kontrak itu.” Ia mendekat dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Yi Ryung.


Yi Ryung tercenung melihat tangan Se Hoon yang terulur padanya. “Tunggu,” katanya dan tangan Se Hoon berhenti di udara. “Aku mencoba memahami semua ucapanmu ini. Jadi..”

“Jangan coba pahami,” pinta Se Hoon. “Terima saja.”

Yi Ryung semakin bingung, “Jadi.. maksudmu kau suka padaku?”


Aura romantis hilang begitu saja dan Se Hoon bertanya bingung, “Kau melakukannya lagi. Kenapa kau terus bertanya seperti itu padaku?”


Dan berikutnya, kita melihat Se Hoon sudah berada di kantor psikiater, berkata kalau ia paling benci dengan logika suka itu. “Coba pikirkan. Jika seorang yang tampan, kaya, tegas dan punya pengaruh berkata kalau ia menyukaimu, jadi seharusnya kau pasti berterima kasih dan berkata, ‘milikilah aku’. Begitu kan? Tapi kenapa dia selalu menanyakan hal itu? Bukankah seharusnya lebih penting saat aku berkata kalau dia adalah milikku?”

“Tentu saja itu penting. Dia kan penasaran akan jawabanmu.”

“Kenapa juga aku harus menjelaskan ini padanya? Aku kan tak segampang itu,” jawab Se Hoon.


 “Menjadi milik seseorang dan disukai seseorang itu adalah hal yang berbeda.”

“Tentu saja beda. Banyak yang menjadi milikku. Jika aku membayarnya, berarti itu milikku. Heo itu milikku. Min Joo, Yoon Gook dan waktu konsultasi yang kubayar ini juga milikku!”

“Iya, ini milikmu. Tapi kau suka dia, tidak?”

“Kenapa itu penting?!” tanya Se Hoon frustasi, apalagi saat teringat saat di gunung Yi Ryung menantangnya apakah ia menyukai Yi Ryung.


Si Psikiater langsung menebak, “Jangan-jangan kau tak mau menyatakan suka karena ia mungkin berkata tidak kalau kau bilang kau menyukainya?” Melihat ekspresi Se Hoon, si psikater tertawa terbahak-bahak, membuat Se Hoon semakin kesal.


Se Hoon berkata kalau ada hal kedua yang paling ia benci, yaitu menyimpan rahasia. “Kalau iya, bilang iya. Dan kalu tidak, harusnya bilang tidak! Tapi ini adalah iya tapi juga tidak. Aish benar-benar membuatku gila.” Se Hoon menatap garang pada si psikiater, sehingga si psikater ketakutan dan berdiri.


Se Hoon menghampirinya dan si psikater menjauh. Kalau dipikir-pikir, siapa yang paling rugi di kasus ini? “Dia yang rugi,” jawab si psikiater semakin menjauh. Jika kontrak itu tak ditandantangani, yang rugi dia atau Yi Ryung? “Yi Ryung.” Jika Yi Ryung tak jadi miliknya, yang rugi dia atau Yi Ryung?!


Si psikiater terbirit-birit lari menghindar dan berkata kalau Se Hoon perlu dirawat. Tapi tidak, Se Hoon sudah memutuskan kalau ia tak bisa dibeginikan lagi. “Lupakan saja jika memang tidak mau. Apapun itu.”


Se Hoon berniat melupakan. Tapi saat melihat Yi Ryung di ruang latihan, ia malah mengintip dan terpesona melihat senyum Yi Ryung yang bahkan tak ditujukan padanya. Setelah beberapa sadar ia segera sadar dan beranjak pergi.


Tapi ahjumma coreo menangkap basah dirinya dan bertanya apa yang sedang Se Hoon lakukan. Se Hoon buru-buru menjawab kalau ia hanya jalan-jalan di kantornya. Memang nggak boleh? Dan dengan sok kalem, ia pergi menjauhi tatapan ahjumma yang masih tetap curiga.


Yi Ryung menonton interview Se Hoon yang MC-nya bahkan terpesona pada Se Hoon. Temannya mengatakan kalau Se Hoon itu orang yang sangat terkenal sekali tapi misterius, sehingga semua wartawan ingin mewawancarainya. Jadi sangat mengherankan melihat direktur mereka jauh-jauh pergi ke Odaesan untuk menjemput Yi Ryung.


Yi Ryung menyadari ucapan Se Hoon tentang betapa pentingnya pria itu di Seoul ternyata benar. Ia pun bertanya tanpa menyebutkan nama Se Hoon, “Jika ada seorang pria yang kelihatan suka tapi berkata tak suka, apa artinya?”


Mereka menjawab kalau begitu pria itu memang tak suka. “Biasanya kalau pria itu menyukai seseorang, dia pasti bilang suka.”

“Di dunia selebritis yang kita diami ini, banyak yang kelihatannya pacaran padahal tidak. Jadi jangan terlalu polos memandang semua ini.”

Yi Ryung merasa kecewa mendengar ucapan teman-temannya.


Se Hoon tak konsen pada meeting malam itu. Akhirnya Chief Heo membubarkan meeting itu karena semua usulan mereka ditolak. 


Sendirian di depan jendela, Se Hoon memandangi anak-anak trainee-nya boys dan girils, yang pergi keluar bersama-sama. Ada Yi Ryung di sana dan salah satu cowok merangkul bahu Yi Ryung.


Yi Ryung tersenyum pada temannya. Tapi ia menyempatkan diri menengok ke atas, ke arah jendela kantor Se Hoon.



Komentar :

Mungkin ini saatnya Se Hoon menyadari dengan benar-benar bagaimana perasaannya. Aduhh.. yang nonton aja jadi gemes, kenapa Se Hoon lemot sekali sih?


No comments :

Post a Comment