February 11, 2016

The Magician / Joseon Magician (2015) Bagian 1

Joseon Magician dibuka dengan sebuah cerita.


Joseon yang kalah perang, tak berdaya menolak permintaan Dinasti Qing. Untuk memenuhi tuntutnan pernikahan putri Joseon dan Pangeran Dinasti Qing, putri bangsawan miskin diharuskan menyamar sebagai Putri Joseon untuk dinikahkan dengan Pangeran Dinasti Qing. Dan sebagai imbalannya, jabatan pemerintahan dihadiahkan kepada saudara-saudaranya.


Masoolsa (pesulap) Hwan Hee yang berstatus sebagai seniman rakyat tinggal di Uiju dan mendirikan sebuah panggung besar. Sekalipun status mereka rendah, tapi dengan menggunakan talenta mereka yang unik, mereka menghibur orang-orang yang lelah berperang

Rakyat menyebut mereka dengan nama Kawanan Hwan Hee dan menamai tempat itu sebagai Moorangro."Tiada" (Moo), "Terang Benderang" (Rang).

The Joseon Magician Bagian 1



Penonton bertepuk tangan saat Masoolsa Hwan Hee (Yoo Seung Ho) muncul dari layar kosong. Pertunjukkan pun dimulai. Burung origami bisa terbang dan menjadi burung beneran. Seorang gadis muncul dan menghilang di balik layar. Kemana gadis itu? Gadis itu muncul dari tengah penonton.


Semua itu bukan sekedar ilusi, karena banyak pekerja Moorangroo yang bekerja di balik layar, membuat panggung sedemikian rupa hingga sulap bisa dilakukan. Tapi penonton tak tahu rahasia itu dan terus bersorak sorai.


Di balkon, seorang gisaeng, Bo Eun (Jo Yoon Hee) menemani donatur utama mereka, Kim Gab Soo. Hwan Hee memandang mereka dengan tatapan tak suka.


Sepertinya Kim Gab Soo adalah penguasa Uiju karena ia mendapat laporan kalau akan ada rombongan kerajaan yang membawa mempelai wanita untuk berhenti sejenak di Uiju.


Saat si gadis dan Hwan Hee sedang bercanda, ada seorang bertopeng yang menyerang Hwan Hee. Hwan Hee kalah dan bersembunyi ke dalam kain hitam. Orang bertopeng itu mengangkat kain hitam, dan ternyata Hwan Hee sudah tak ada. Kemana Hwan Hee?


Pria bertopeng itu menangkap si gadis yang jatuh pingsan dan membuka topengnya. Ternyata pria bertopeng itu sekarang adalah Hwan Hee! Penonton bertepuk tangan semakin riuh.


Malamnya Hwan Hee di tempat tidur bersama dengan wanita yang menjadi teman panggungnya. Hilang semua keceriaan Hwan Hee yang ditunjukkan di panggung. Yang ada sekarang adalah Hwan Hee yang merintih, sangat sakau dan menyambut pil yang diulurkan wanita itu dengan suka cita.


Tapi belum sempat pil itu masuk ke dalam mulutnya, ada dua orang kekar muncul untuk menyeret Hwan Hee. Seorang wanita yang Hwan Hee panggil dengan Bo Eun, menyuruh kedua orang itu untuk membawa Hwan Hee pergi walau Hwan Hee terus menolak.

\
Bo Eun menghardik Hwan Hee, memintanya untuk berpikir sehat. Hwan Hee bertanya sinis, “Kenapa? Sekarang kau mau sok menjadi Nui (=noona) lagi? Lepaskan aku!”


Tapi Bo Eun tak menggubris. Ia malah menghampiri gadis di ranjang dan memeluknya. Sambil mengeluarkan jarum panjang, ia berkata, “Tenanglah. Sebentar lagi kau tak merasakan apapun.”


Rombongan kerajaan yang membawa mempelai wanita mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanan karena hujan lebat. Mereka sementara berhenti untuk melanjutkan ke Uiju. Para pelayan mulai bergosip karena Putri tak mau makan. Mereka sinis, menganggap si Putri sok padahal bukan bangsawan kelas tinggi.


Putri Lee (Go Ara) mendengarkan pelayannya bergosip dan semakin murung. Tuan Ahn Dong Hwi, bangsawan yang menjadi pemimpin perjalanan, meminta Putri Lee untuk makan. Putri Lee bertanya sinis, “Kenapa? Takut aku mati kelaparan?”


Tuan Ahn menjawab karena perjalanan mereka masih panjang.” Anda masih muda. Jangan merasa putus asa.”


Putri Lee teringat ucapan Ratu saat menunjuknya sebagai pengantin. Walau kau terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, tapi saat meninggal, kau akan meninggal sebagai seorang selir kerajaan besar. Kau harus tahu jika ini adalah sebuah kebanggaan bagi keluarga kalian.

Kakak laki-lakimu, Lee Jang Soon akan diberikan posisi Jongpalpum (pejabat peringkat junior 8) dan adik laki-lakimu Lee Jeong Eun akan mendapat posisi Jonggupum (pejabat peringkat junior 9).


Putri menatap belati kecil dari giok dengan murung. Belati itu adalah tanda ia seorang mempelai wanita.


Pejabat Uijo menyambut kedatangan rombongan Putri dengan gembira. Ia menyombongkan kotanya sebagai kota yang sangat makmur hingga membuat penduduk berdatangan untuk tinggal di kotanya.


Putri tak bisa melihat luar dengan leluasa. Ia hanya bisa mengintip dari dalam tandunya. Ia terpesona melihat gedung Moorangroo yang terang benderang.


Pemimpin pertunjukkan menyampaikan pesan dari tuan mereka, Kim Gab Soo, untuk membuat orang-orang Hanyang (rombongan kerajaan) membelanjakan uang mereka di sini. Para pegawai mengeluh karena berapapun uang masuk, tak ada untungnya bagi mereka, toh mereka hanya budak. Si bos membenarkan jadi seharusnya mereka berterima kasih, karena sebagai budak (termasuk dia) sudah untung mereka bisa bekerja di tempat ini. Di luar sana banyak sekali orang yang kelaparan.


Terdengar suara botol pecah. Si bos menghela nafas dan menghampiri Hwan Hee yang mabuk. Ia minta Hwan Hee untuk memikirkan posisi Bo Eum. Jika bukan karena Bo Eum, mereka semua tak mungkin diampuni oleh si Kim. “Sudah dari dulu kita ini dijual olehnya.”


Hwan Hee bertanya bagaimana nasib wanita yang bersamanya malam itu. Bo Eum yang menjawab kalau hal itu sudah tak penting lagi karena obat yang diberikan pada Hwan Hee bukan sekedar opium karena dicampur oleh tanaman beracun. Awalnya ramuan itu memang bisa menghilangkan kecemasan Hwan Hee sehingga gampang tidur. Tapi 3 bulan kemudian Hwan Hee akan mulai berhalusinasi.


Hwan Hee sudah mengetahui hal ini. Ia bertanya mengapa sekarang mereka berdua menjadi seperti sekarang ini. “Kau terlalu lama bergaul dengan si Kim Gab Soo. Kau juaga berubah menjadi makhluk aneh?”

Bo Eum mengingatkan kalau Hwan Hee-lah yang mengusulkan tinggal di sini dan bekerja seperti ini. Tapi Hwan Hee merasa sudah tak bahagia lagi saat bermain sulap. “Tak bisakah kita kembali seperti kita yang dulu?” Berkelana bebas. Kau bernyanyi dan aku main sulap.”


“Sekarang masih bukan saatnya,” jawab Bo Eum dingin. “Gwi Mol masih berusaha mencari kita. Jika bukan karena Kim Gab Soo, kita berdua sudah pasti tak akan hidup seperti sekarang.”


Hwan Hee menyibak tirai, “Apa ini yang kau namakan hidup?” Ia meninggalkan Bo Eum sendiri.


Ternyata Bo Eum adalah wanita buta. Ia dan Hwan Hee adalah teman sejak kecil. Keduanya adalah budak Gwi Mol, pesulap dari China. Walau buta, Bo Eum ahli akupunktur dan sekarang ia melakukannya pada Hwan Hee.

Hwan Hee berjanji ia akan menjadi hwansulsa (pesulap) jika besar nanti, sehingga tak ada orang yang berani memandang rendah dirinya dan memperoleh banyak uang. Dengan uang itu, ia akan menyembuhkan mata Bo Eum dan mencari orang tua Bo Eum. Bo Eum menjawab kalau matanya tak perlu disembuhkan. Toh tak ada juga yang bisa dilihat.


Hwan Hee memegang tangan Bo Eum dan mendekatkan ke pipinya. “Apa kau tak ingin melihatku?” Bo Eum tersenyum. Ia ingin melihat Hwan Hee.


Mereka mendengar langkah kaki Gwi Mol dan Hwan Hee buru-buru bersembunyi. Sepertinya pertemanan mereka merupakan rahasia mereka.


Gwi Mol melakukan pertunjukan sulap di hadapan para pejabat. Kali ini ia membuat pertunjukkan, menusuk peti berisi seorang anak hingga darah muncrat, tapi anak itu ternyata masih hidup.


Padahal yang terjadi adalah beberapa ada roda dengan beberapa peti di bawah panggung, yang diputar setiap Gwi Mol selesai menusuk peti tersebut. Dan setiap peti yang ditusuk memang berisi anak yang dibunuh oleh Gwi Mol. Para pejabat juga dipersilakan menusuk peti tersebut dengan memberi sekantung keping emas. Nyawa sangatlah tak berarti di panggung Gwi Mol.


Hwan Hee yang bertugas menarik tuas roda itu hingga peti terus berganti di atas panggung. Saat giliran Bo Eum, Bo Eum menangis ketakutan karena nyawanya sudah diujung tanduk. 


Hwan Hee pun memutuskan untuk membalik roda itu hingga terlihat peti yang berisi gadis terakhir yang sekarat ditusuk.


Para penonton kaget dan buyar. Pertunjukan Gwi Mol ditinggalkan dan Gwi Mol ditangkap. Hwan Hee dan Bo Eum mengendap-endap keluar. Tapi ternyata Gwi Mol berhasil melepaskan diri dan sekarang menangkap Bo Eum.


Hwan Hee mencoba membebaskan Bo Eum, namun sekarang ganti lehernya yang dicekik. Bo Eum melihat ada sekop di tanah dan memukul Gwi Mol dengan sekop itu. Meleset, tapi Bo Eum berhasil melukai pipi Gwi Mol hingga berdarah. Mereka berdua berhasil melepaskan diri karena Gwi Mol berhasil ditangkap lagi oleh pasukan Cina.


Dan sekarang, kita melihat sosok seperti Gwi Mol masuk ke dalam Moorangroo dan menyaksikan pertandingan Hwan Hee.


Sementara itu Kim Gab Soo sedang menjamu rombongan Tuan Ahn. Ia memperkenalkan Bo Eum sebagai gisaeng, yang walau buta tapi mahir membaca garis tangan dan wajah lebih daripada peramal ahli. Bo Eum juga mahir akupunktur.


Pejabat Uijo langsung mengajukan diri untuk diramal garis tangannya. Bo Eum berhasil membuat pejabat itu tersenyum gembira. Tapi Tuan Ahn tak suka ramah tamah dengan gisaeng dan memilih pergi, membuat Pejabat Uijo itu jengkel.


Pertunjukan sulap selesai. Terjadi kecelakaan kecil yang tak diketahui penonton, tapi membuat lengan Hwan Hee cedera. Pemuda yang menjadi murid Hwan Hee yang melakukan kesalahan. Bo Eum akhirnya mendengar tentang kecelakaan itu dan melihat pemuda itu yang mengaku salah.


Hwan Hee tahu kalau Bo Eum mungkin akan membunuh pemuda itu (seperti yang dilakukan pada wanitanya malam itu). Ia pun bergerak cepat, pura-pura marah dan memukuli pemuda itu hingga berdarah-darah sambil mengomelinya yang tak becus.


Kim Gab Soo mendengar keributan itu dan menyuruh Hwan Hee mendekat. Kepada para tamunya, ia minta Hwan Hee untuk main sulap. Hwan Hee berkata kalau ia belum mempersiapkan diri, membuat Kim Gab Soo kesal. Ia pun menarik Hwan Hee dan memberikan pertunjukan pada tamunya.


Ia menyibak rambut Hwan Hee dan memperlihatkan kedua mata Hwan Hee. Ternyata bola mata kanan Hwan Hee berwarna biru. Hwan Hee hanya dapat menahan emosi diperlakukan seperti itu.


Hwan Hee mabuk-mabukkan di pinggir tebing. Ia mengambil beberapa pil dan menanggaknya. Ia berjalan ke pinggir tebing. Seekor burung terbang saat Hwan Hee mendorong tubuhnya agar terjatuh.


Tapi anehnya, tubuh Hwan Hee hanya doyong, miring tapi tak jatuh sama sekali, seperti ada lem yang mengikat kakinya.


Mengetahui Tuan Ahn dan para pengawal sedang ke gibang (rumah bordil), Putri menyelinap keluar dengan ditemani bibi dayang. Ia menyamar dengan memakai baju dayang. Bibi Dayang cemas karena Putri sudah berjalan 100 langkah dari penginapan dan minta Putri untuk kembali. Tapi Putri menenangkan si bibi karena para pria itu pasti pulang larut malam.


Tak disangka Tuan Ahn, yang memang pulang duluan, muncul dari arah berlawanan. Buru-buru keduanya berpencar. Putri mengisyaratkan ia jalan duluan, membuat bibi dayang panik. Tapi bibi dayang tak bisa melakukan apa-apa karena Tuan Ahn lewat di depannya.


Putri melewati sebuah lorong yang ramai orang. Tapi orang-orang itu ternyata para gelandangan yang kelaparan. Salah satu gelandangan wanita meminta bantuan Putri karena ia dan ketiga anaknya kelaparan. Putri tak memiliki uang dan akhirnya membiarkan gelandangan itu mengambil sepatunya.


Tapi hal itu membuat gelandangan lain mengejarnya, meminta barang sekedarnya yang bisa ia berikan. Putri berlari ketakutan karena yang mengejarnya semakin banyak. Ia lari dan terus berlari, hingga masuk ke dalam hutan dan sampai di pinggir tebing.


Hwan Hee mendengar tangisan seorang gadis yang sekarang ada di pinggir tebing, tempatnya berdiri tadi.


Putri diam cukup lama hingga ia memejamkan mata dan mendorong tubuhnya. Tapi belum sempat badannya bergerak, terdengar suara, “Sedang apa kau berada di wilayah orang? Di dunia yang serba kacau balau ini, hanya tempat ini satu-satunya tempat dimana aku bisa tenang.”


Putri berbalik dan melihat seorang pria yang menyuruhnya mencari tempat lain jika mau bunuh diri. Putri panik dan mengeluarkan pisau giok kecilnya, melarang pria itu untuk mendekat.


Hwan Hee hanya bisa menghela nafas kesal melihat hal itu karena ia tak mendekat sama sekali. Tapi Putri tak percaya. Ia terus menggerak-gerakkan pisaunya, semakin ganas mencabik-cabik udara, membuat Hwan Hee geli.


Tapi saking ganasnya gerakan Putri, ia kehilangan keseimbangan. Putri berteriak ketakutan. Hwan Hee terbelalak dan langsung bergerak cepat menarik Putri agar tak terjatuh ke jurang. 


Putri lega tapi kaget melihat badannya dipeluk pria itu. Ia segera menggigit tangan Hwan Hee kuat-kuat hingga Hwan Hee menjerit kesakitan.


Hwan Hee langsung melepaskan gadis itu dan mendelik marah. Tapi Putri lebih marah lagi dan menghunus belati kecilnya ke arah Hwan Hee. Dengan mudah Hwan Hee menangkap tangan Putri dan mengambil belati itu untuk ia buang ke semak-semak. Putri memukul dengan tangan satunya, tapi Hwan Hee juga bisa menangkapnya.


Putri kalap dan menggunakan kepalanya untuk menanduk Hwan Hee. Hwan Hee yang tak menyangka, tak bisa menghindar dan kehilangan keseimbangan.


Keduanya terjatuh dan berguling-guling masuk ke hutan. Keduanya terhenti saat kaki Hwan Hee terjepit di akar pohon. Putri tak memperhatikan jerit kesakitan Hwan Hee karena ia merasakan sesuatu di dadanya. Tangan pria itu menyentuh dadanya! Dasar mesum!


Putri menjedotkan kepalanya ke belakang, mengenai wajah Hwan Hee. Hwan Hee yang terperangkap, meminta gadis itu untuk tenang karena ia harus melepaskan kakinya dulu agar bisa bangkit. Tapi Putri tak bisa tenang. Ia terus menjedotkan kepalanya terus menerus, menyuruh Hwan Hee untuk menyingkirkan tangannya. Sekali, dua kali, tiga kali.


Hahaha.. entah berapa kali hidung Hwan Hee kena benturan. Yang pasti hidung Hwan Hee sudah berdarah-darah. Hwan Hee hanya bisa ngomel-ngomel. Ia sudah menyelamatkan gadis itu, tapi ucapan terima kasih pun tak terucap.


“Aku tak pernah memintamu untuk menolongku,” bentak Putri ketus.


Hwan Hee melongo mendengar jawaban itu. Ia menyerah. “Ya sudah! Terserah kau. Aku pergi saja. Aku tak berniat menjadi santapan beruang,” ujarnya dan berlalu pergi.


Namun gadis itu tak menyusulnya. Maka Hwan Hee kembali lagi “Hei, di sini benar-benar ada beruang. Tahukah kau nama tebing ini adalah Tebing Batu Beruang? Kalau kau takut, ikut saja aku turun gunung.” Tapi gadis itu tak menghiraukannya dan tetap membongkar semak-semak. Ternyata gadis itu sedang mencari pisau yang tadi dibuangnya, membuatnya heran. “Cuma sebilah pisau. Pisau sebesar itu apa pentingnya?”

“Tidak. Harus kutemukan. Barang itu jauh lebih penting dari nyawaku.”

“Orang yang nyawanya tak lebih berharga dari sebilah pisau, kenapa pula tadi ingin mati?” sindir Hwan Hee, membuat gadis itu berhenti.


“Siapa bilang aku mau mati?” Putri berdiri dengan marah. “Aku tidak akan mati! Tidak akan!” Matanya berkaca-kaca dan sekejap Putri menangis.


Hwan Hee kaget melihat gadis itu tiba-tiba menangis. Ia semakin bingung karena tangis Putri semakin keras. Ia berjongkok menghadap gadis dan menggosokkan kedua tangannya dan meniup ke dalamnya.


Seekor kunang-kunang muncul dari dalam tangan Hwan Hee. Tapi Putri tak memperhatikan tangan Hwan Hee dan terus menangis. Hwan Hee bingung dan meraba sakunya, mencari sesuatu. Tak menemukan apapun, ia pun mencoba lagi.

Kali ini Putri melihatnya menggosok-gosokkan tangan dan meniupnya. Hwan Hee membuka genggamannya…


..dan tak ada sesuatu pun yang muncul dari tangan itu. Hahaha… Putri menangis semakin keras.


Hwan Hee tak menyerah. Ia mengambil ancang-ancang dan kembali menggosok-gosokkan tangannya. Ia meniup kedua tangannya dan saat kedua tangannya terbuka..


.. kunang-kunang tak terhitung jumlahnya keluar dari tangannya. Putri berhenti menangis dan terpesona melihat kunang-kunang itu menerangi hutan.


Dan Hwan Hee terpesona melihat Putri.


Komentar :


Aww… siapa yang tak terpesona disuguhi pertunjukkan magis seperti itu?

Menurut saya chemistry Yoo Seung Ho lebih ngena dengan Go Ah Ra di sini daripada dengan Park Min Young di Remember War of the Son. Tapi ini cuman pendapat pribadi loh, ya.

Dari pengantar cerita yang mengatakan Joseon kalah perang dari Dinasti Qing, berarti cerita ini ada di akhir abad 16 hingga awal abad 17 dimana terjadi invasi Manchu (Dinasti Qing) ke Joseon. Saat itu pula mulai banyak opium yang beredar, yang membuat Hwan Hee sempat kecanduan.

Abad 16 adalah abad dimana banyak orang Barat masuk ke Asia. Mengingat Hwan Hee adalah anak yatim piatu dan bermata biru, bisa disimpulkan kalau salah satu orang tua Hwan Hee adalah orang Barat (kemungkinan besar ayahnya). Dan setelah Hwan Hee lahir, Hwan Hee dicampakkan oleh ibunya.

Keinginan Hwan Hee sederhana. Ia ingin hidup bersama Bo Eum tanpa beban seperti sekarang. Tapi Bo Eum sekarang sudah menjadi gisaeng, yang tentu sulit untuk melepaskan diri dari sponsornya, Kim Gab Soo. Apalagi mereka masih harus menyembunyikan diri dari Gwi Mol.

Tapi sebenarnya Gwi Mol pasti bisa menemukan mereka kan kalau Hwan Hee jadi pesulap top? Dan melihat sosok misterius yang mendatangi Moorangroo, sepertinya pertemuan naas itu tak bisa terelakkan.


Nggak nyangka, semua karya Yoo Seung Ho tahun 2015 ini saya tonton semua. Haduh.. saya aja yang nge-fans Yoo Chun ga nonton filmnya. Eh, yang saya full cover up adalah Yoo Seung Ho. Hahaha.. padahal saya nggak ngefans-ngefans banget loh ama dia. Tapi kok ya ternyataa… 

The Joseon Magician ini adalah proyek pertama Yoo Seung Ho setelah selesai wamil tahun 2015, bersamaan dengan Imaginary Cat dan Remember : War of the Son. Ditayangkan pertama kali di bioskop bulan Desember 2015. Film ini meraup $3,21 juta dalam 2 hari tayang. Film ini akan saya bagi menjadi 4 bagian, ya..

10 comments :

  1. yoo seung ho aja keluar wamil udah langsung banyak main drama plus film. song joongki 1 drama aja belom mulai tayang TT______________TT
    padahal beritanya udah dari bln juni 2015. T^T

    ReplyDelete
  2. duh kapan ya lanjutannya nih??? :)

    ReplyDelete
  3. Kpan nih lnjutn nya mba ,,udah gk sabar

    ReplyDelete
  4. Mba Dee yang cantik, Mba Dee yang baek, Mba Dee yang wokeh...ditunggu ya part 2 nya... (ngerayunya itu loh...mudah2an bikin Mba Dee kita luluh hatinya dan ngeluangin waktu buat lanjutin) ngomong2 Mba, ini udah sepuluh hari lebih lo...

    ReplyDelete
  5. lanjut dong mbak hihih udah nggasabar nungguinnya, semangaatt!>.<9

    ReplyDelete
  6. Aku nnton gx lanjut, baru inget mau baca aja, eh ternyata ynk nulis jg gx lanjut

    ReplyDelete
  7. mba ditunggu lanjutannya dengan setia T_T

    ReplyDelete
  8. dilanjut dong say sinopnya. semangat...

    ReplyDelete