February 19, 2016

Six Flying Dragon Episode 21

Six Flying Dragon Episode 21


Menolak perintah Raja berarti pengkhianatan, yang  berarti Yi Seong Gye bisa dihukum mati. Para tentara baru menyadari apa dampak yang akan dihadapi pemimpin besarnya nanti. Tapi Yi Seong Gye tak pernah seyakin ini sebelumnya.



Pasukan Jo Min Soo pun juga ingin mundur. Kondisi cuaca buruk tak memungkinkan untuk bisa maju, tapi mereka tak berani melawan titah Raja. Saat Yi Seong Gye mengusulkan untuk mundur, Jo Min Soo menghunus pedang ke leher Yi Seong Gye yang berkhianat pada Raja. Tapi Yi Seong Gye bersedia dibunuh dan mempersilakan Jo Min Soo untuk maju perang di garis depan.


Jo Min Soo menyadari kalau Yi Seong Gye benar. Tapi masih ingin mendapat titah Raja untuk mundur. Mereka pun sepakat minta pada Raja untuk menarik pasukan untuk yang ketiga kalinya.


Boon Yi dan Da Kyung memiliki pikiran yang sama akan tujuan mereka diungsikan, yaitu karena Choi Young khawatir pada Yi Seong Gye, yang berarti pengungsian mereka menjadi beban bagi Yi Seong Gye dan mereka harus mencari cara agar bisa bebas.


Bang Seok, putra terkecil Yi Seong Gye memiliki penyakit asma dan butuh racikan dengan menggunakan kenari, buah yang masih langka di Goryeo. Hanya ada 5 toko obat yang memilikinya. Karena Bang Won mengetahui penyakit asma Bang Seok, mereka bisa memberitahu lokasi mereka jika bisa membeli obat itu di Gaegyeong.


Choi Young semakin curiga akan niat Yi Seong Gye dan Jo Min Soo yang tak berniat menyeberangi Sungai Amnok. Ia minta ijin Raja agar maju ke medan perang. Raja Woo menolak. Ia tak mau ditinggal sendirian di Seogyeong. Ia takut ia bernasib sama seperti ayahnya, Raja Gong Min, yang meninggal saat Choi Young pergi ke Pulau Jeju.


Raja tahu kalau Yi Seong Gye mengutamakan keluarganya. Maka ia akan menolak permintaan penarikan pasukan dan akan menganggap semua adalah pemberontak jika tak bersedia menyeberangi Sungai Amnok.


Ternyata Bang Won teringat obat asma adiknya hanya tersedia untuk 10 hari saja dan akan habis besok. Berarti mereka harus mencari toko obat yang menjual obat asma yang cukup langka itu.


Sementara Bang Woo dan Bang Gwa yang tersandera di Seogyeong juga mendengar tentang penolakan Raja yang ketiga dan menyadari kalau mereka sekarang hanya menjadi beban bagi ayah mereka. Mereka pun memutuskan untuk bersiap-siap.


Ji Ran adalah orang yang paling menentang keputusan Yi Seong Gye karena khawatir keluarga Yi Seong Gye akan dibunuh. “Apakah Hyung-nim bisa bertahan jika semua keluargamu tewas? Apakah Hyung-Nim tak apa-apa setelah membunuh keluargamu? Saudara yang selama ini kukenal tidaklah seperti itu! Kau tak akan baik-baik saja!”


“Lalu apa aku akan baik-baik saja setelah membunuh 50 ribu orang? Apa aku mampu melanjutkan hidup?” Yi Seong Gye balik bertanya. Ia sudah bertekad untuk menarik pasukan dan keputusannya itu tak bisa diganggu gugat.


Mengetahui permintaan ketiga ditolak, Jo Min Soo memutuskan untuk menarik pasukannya juga. Tapi ini bukan akhir segalanya, melainkan sebuah awal. Karena jika mereka membawa 50 ribu pasukan ke Gaegyeong, maka mereka mampu menguasai ibukota. Oleh karena itu kekuasaan ada di tangannya dan di tangan Yi Seong Gye.

Tapi sebelum ia menarik pasukan, ia dan Yi Seong Gye harus sepakat atas satu hal terlebih dahulu.


Pada Young Kyu, Moo Hyul menceritakan apa yang baru saja ia sadari. Ia sadar kalau nasib mereka ditentukan oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan, di Dodang. Karena itu ia memutuskan untuk hidup melindungi orang yang akan membuat keputusan yang benar di Dodang, yaitu Yi Bang Won.


Ji Ran meminta Young Gyu ke Gaegyeong untuk mencari Bang Won agar menyelamatkan seluruh anggota keluarga yang ada di Gaegyeong. Sedangkan Moo Hyul disuruh ke Seogyeong untuk membantu Bang Woo dan Bang Gwa melepaskan diri.  Di malam yang hujan lebat, mereka berdua pergi melaksanakan tugas.


Yi Seong Gye merencanakan untuk membawa pasukan ke dekat Gaegyeong dan menemui Raja untuk memakzulkan Choi Young. Tapi Jo Min Soo tak setuju. Karena Raja yang memerintahkan mereka untuk menyeberang Sungai Amnok, Raja pasti akan menghukum mereka yang tak mematuhi perintahnya. Karena itu ia berniat untuk menurunkan Raja Woo. Itu adalah kesepakatan yang ia minta dari Yi Seong Gye.


Yi Seong Gye menyetujuinya. Maka mereka pun kembali ke Gaegyeong. Kembalinya 50 ribu pasukan jelas diketahui oleh pasukan penjaga benteng. Mereka menyalakan api sebagai kode darurat, dan kode api itu menyala di tiap menara, mengarah menuju Seogyeong.


Pagi-pagi sekali Choi Young mendapat berita itu dan melapor pada Raja Woo. Tentu saja Raja Woo cemas dan takut. Tapi Choi Young menenangkan Raja. Ia meminta Raja kembali ke Gaegyeong dan mengumpulkan pasukan untuk menghentikan pengkhianat Yi Seong Gye dan Jo Min Soo.


Raja memerintahkan Choi Young untuk membunuh Bang Woo dan Bang Gwa dan memindahkan anggota keluarga Yi Seong Gye ke tempat yang lebih rahasia.


Pertempuran di Seogyeong tak bisa terelakkan. Pasukan kerajaan tentu tak bisa menandingin kemampuan Bang Woo dan Bang Gwa yang sekarang dibantu oleh Moo Hyul. Mereka berhasil melepaskan diri.


Tapi tidak mudah bagi anggota keluarga Yi yang lain. Setelah menggunakan nama suaminya, ia berhasil memaksa tentara untuk mencarikan obat untuk Bang Seok. Gap Boon yang standby di rumah tabib segera mendapat informasi ini dan melaporkan pada Bang Won dan Bang Ji.


Mereka berdua segera pergi ke lokasi, tapi mereka terlambat karena rumah itu sudah kosong. Kondisi semakin membahayakan setelah Jung Do Jeon muncul dan memberitahu kalau Jenderal Yi menahan utusan Raja, Kim Hwan untuk benegosiasi. Bang Won merasa kasihan pada ayahnya yang berada di tengah-tengah seperti makan buah simalakama.


Young Kyu muncul dan berkata kalau Jenderal Yi Seong Gye memilih untuk melindungi 50 ribu pasukannya. Dan itu berarti mereka harus segera menyelamatkan seluruh keluarganya agar ayahnya tidak terbebani. 


“Jenderal Yi dan Jenderal Jo sepakat untuk menarik pasukan dari Pulau Wihwa. Beliau telah memutuskan dan juga menyampaikan maaf kepada seluruh keluarganya.”

Semua terkejut mendengarnya. Mereka mendapat info kalau sekarang anggota keluarga Yi Seong Gye dibawa ke Wisma Dohwa sebagai tahanan. Bang Ji yang mengkhawatirkan Boon Yi hendak menyerbu Wisma Dohwa, tapi ia dicegah karena pasukan yang menjaga Wisma Dohwa berjumlah ratusan. Mereka harus mencari cara lain.


Jung Do Jeon ingat kalau ada jalan rahasia ke Wisma Dohwa. Dulu Nam Eun pernah melewati jalan itu. Tapi Nam Eun ikut ke medan perang dan tak ada waktu untuk mendapatkan info darinya. Namun saat itu ada satu orang lagi yang Nam Eun temui, yaitu Cho Young.


Di Wisma Dohwa, anggota keluarga Yi Seong Gye diperlakukan tak seperti keluarga terhormat melainkan seperti pesakitan. Si kecil Bang Seok yang belum pernah mendapat perlakuan kasar, terus menerus menangis, membuat yang lain cemas karena mereka bisa diperlakukan semakin kasar. Boon Yi pun menghibur Bang Seok, berkata kalau ayahnya sudah menuju perjalanan pulang dan kakaknya Bang Won akan datang menyelamatkan mereka. 


“Tapi jika Tuan Muda terus menangis, para pengawal akan menjaga kita semakin ketat, jadi semakin sulit bagi kita untuk keluar dari sini. Jadi saya mohon, Tuan Muda tidak menangis lagi,” hibur Boon Yi. Bang Seok akhirnya hanya terisak-isak kecil dan selanjutnya menjadi tenang kembali.


Yi Seong Gye sudah mendekati Gaegyeong saat utusan Choi Young muncul untuk memberi surat peringatan agar Yi Seong Gye untuk tak mendekati Gaegyeong jika tak mau semua keluarganya terbunuh.


Bang Won pergi menemui Cho Young untuk mencari tahu dimana letak jalan rahasia itu. Cho Young mengaku tak tahu tapi Bang Won tahu kalau Cho Young hanya pura-pura. Kedatangannya kemari bukan untuk membeli informasi, melainkan untuk menagih hutang. Cho Young menganggap ucapan Bang Won tak masuk akal. Maka Bang Won mengingatkannya.


“Saat aku disiksa di tahanan, aku sempat mendengar kalau ada orang yang menaruh surat palsu di kamarku,” ucap Bang Won, membuat Cho Young tersentak. “Kalau saat itu aku mati, kau tak akan punya hutang. Tapi karena aku masih hidup, kau berutang padaku, putra dari Jenderal Yi Seong Gye yang membawa 50 ribu pasukan. Tapi aku, Yi Bang Won, bersedia menghapus hutang itu dengan harga yang amat sangat murah.”


Cho Young mulai ragu dan Bang Won menyandarkan punggungnya, berkata, “Dan juga menurutku kau harus pintar-pintar memilih siapa musuhmu. Karena adik Lee Bang Ji sekarang ikut ditahan di Wisma Dohwa. Kau akan menjadikan ahli pedang terbaik di negara ini sebagai musuhmu.”


Malam tiba. Saat Boon Yi menyalakan lilin dan makanan dibawa masuk ke dalam ruangan, ia melihat kalau api bergerak menjauhi pintu. Ia terkejut karena hal itu berarti ada lubang angin di balik lemari, yang berarti ada jalan rahasia.


Nenek melihat ada kenop di sebuah laci. Tapi ternyata itu bukan laci, yang berarti kotak laci itu palsu, yang berarti mungkin tuas pintu rahasia di sana. Guru Hong pun menarik kenop itu tapi gagal. Mendorong lemari itu juga gagal. Lalu bagaimana lagi?


Terdengar bunyi langkah kaki. Mereka semua langsung duduk manis. Tapi Guru Hong langsung berpikir. Kalau tak bisa ditarik dan didorong, berarti harus diputar. Guru Hong dalam hati bangga akan kejeniusannya. Saat pengawal pergi, ia langsung berkata, “Kalau tak bisa ditarik atau didorong..”


“.. diputar!” seru Boon Yi, Da Kyung dan Nenek beruntun. Bahkan Nyonya Kang juga mengusulkan hal itu. Hahaha.. Guru Hong bengong menyadari kalau idenya itu tak jenius.


Dan ternyata benar. Kenop diputar, lemari mulai bergeser dan nampaklah sebuah jalan. Boon Yi meminta Guru Hong masuk lebih dulu untuk memeriksa apakah jalan rahasia itu aman.


Bang Won, Bang Ji dan Young Kyu berlari menuju jalan keluar rahasia yang ditunjukkan oleh Cho Young. Sementara itu muncul perintah dari Cho Young yang menyuruh pasukan membawa keluarga Yi Seong Gye ke atas benteng sebagai ancaman agar Yi Seong Gye tak mendekati Gaegyeong.


Guru Hong telah kembali dan memastikan kalau jalan itu aman. Tapi terdengar suara pengawal kerajaan yang menyuruh mereka keluar ruangan. Buru-buru, satu per satu dari mereka masuk ke dalam lorong rahasia. Tapi Boon Yi menolak masuk dan meminta Da Kyung pergi lebih dulu menemani yang lain, sementara ia akan tinggal di ruangan untuk mengulur waktu.


Mereka akhirnya sampai di gudang yang menjadi jalan keluar dari Wisma Dohwa. Bertepatan dengan itu, Bang Won cs tiba di gudang dan lega melihat mereka selamat. Tapi Bang Won dan Bang Ji panik saat menyadari kalau Boon Yi tak ada bersama mereka. Da Kyung menjelaskan kalau Boon Yi masih di Wisma Dohwa untuk mengulur waktu agar mereka bisa melarikan diri.


Dan benar. Para tentara marah melihat tak ada satupun anggota Yi Seong Gye ada di ruangan. Mereka memukuli Boon Yi hingga babak belur karena tak mau memberitahu kemana yang lain. Hilang kesabaran tentara itu dan ia mencabut pedang dan bertanya untuk yang terakhir kali kemana para pengkhianat itu pergi.


Boon Yi tetap menjawab tak tahu. Tentara itu mengangkat pedangnya, tapi ditahan oleh Bang Ji yang keluar dari pintu rahasia. Boon Yi lega melihat kakaknya dan Bang Won muncul. Tapi ia tak mampu bertahan lagi dan pingsan. Bang Won kaget melihat Boon Yi tak sadarkan diri. Bang Ji menyuruh Bang Won untuk membawa adiknya pergi.


Bang Won pun menggendong Boon Yi dan membawa masuk ke lorong rahasia. Bang Ji langsung menutup lemari dan menyerang semua tentara yang ada.


Sesampainya di gudang, Bang Won mencoba menyadarkan Boon Yi. Ia merasa sangat lega melihat Boon Yi membuka mata dan berterima kasih karena telah menyelamatkan keluarganya. Kenapa Boon Yi mau bersusah payah menyelamatkan keluarganya?


“Karena mereka adalah keluargamu,” jawab Boon Yi lemah dan tersenyum.


Mereka bertiga keluar dengan Boon Yi digendong oleh Bang Ji. Boon Yi meminta maaf pada kakaknya. Tapi Bang Ji minta Boon Yi untk tak perlu minta maaf. “Walau ratusan kali atau ribuan kali.. aku akan tetap menyelamatkanmu.”


Semua lega melihat Boon Yi selamat. Berarti sekarang mereka bisa menemui Yi Seong Gye. Tapi Bang Won dan Boon Yi memutuskan untuk tetap di Gaegyeong.


Bang Woo dan Bang Gwa sudah bergabung dengan ayahnya. Jenderal Jo akan menggerakkan pasukannya menuju Gaegyeong dan minta Yi Seong Gye untuk juga bersiap-siap. Dengan berat hati Yi Seong Gye menyanggupi.


Bang Gwa yang melihat ada yang muncul menghampiri mereka. Ia tersenyum dan berseru, “Ayah, lihatlah di belakang.”


Yi Seong Gye berbalik dan melihat istri dan anak-anaknya muncul dikawal oleh Young Kyu. Betapa leganya ia melihat mereka semua. Young Kyu memberikan surat dari Bang Won dan ia membacanya.


Aku akan melakukan sesuatu untuk mendukung usaha Ayah dalam mencegah tragedi yang berdarah ini. Jadi kumohon ciptakanlah kemenangan ini.


Yi Seong Gye terharu membaca surat itu dan berjanji kemenangan akan menjadi miliknya. “Aku akan menang.”

Selanjutnya : Six Flying Dragon Episode 22

4 comments :