February 19, 2016

Six Flying Dragon Episode 20

Six Flying Dragon Episode 20 


Yi Seong Gye terkejut mendengar keputusan Choi Young yang ingin menaklukkan Liaodong. Senada dengan pikiran Jung Do Jeon dan Bang Won di goa, Yi Seong Gye menganggap keputusan itu tak masuk akal.


Jika negara memutuskan untuk perang, maka akan banyak pria yang direkrut untuk menjadi tentara sedangkan tenaga mereka dibutuhkan di ladang karena di Goryeo sekarang sedang musim tanam. Sementara pasukan yang maju perang harus terus mendapat suplai makanan. Bahkan Moo Hyul yang berpikiran sederhana saja bisa memikirkan hal itu.



Yi Seong Gye memohon agar penyerangan diadakan setelah masa panen dimana banyak persediaan makanan untuk pasukan perang. Tapi Choi Young dengan didukung oleh Raja telah memutuskan perang saat ini juga karena sekarang Ming sedang mengirim 150 ribu tentara ke Yuan sehingga pertahanan mereka akan melemah. Berbagai alasan dikemukakan Yi Seong Gye, tapi semuanya tak mempan karena Raja sudah bertitah.


Yi Seong Gye berlutut dan menolak terjadinya perang karena tak masuk akal jika negara kecil menyerang negara besar. Ucapan itu malah membuat Choi Young marah dan membuat Raja menghunus pedangnya.


Tapi Yi Seong Gye tak gentar. Ia berkata dari pengalaman. Tahun 1370, ia berhasil menaklukkan Liaodong tapi yang terjadi kemudian adalah muncul wabah penyakit, dan kelaparan. “Hanya 60 tentara yang meninggal di peperangan, tapi lebih dari 4000 tentara mati kelaparan saat pasukan ditarik mundur. Apakah ini disebut kemenangan?”


“Kita harus melakukan pengorbanan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Pikirkan keturunan kita yang akan menikmati Liaodong yang kita taklukkan,” bujuk Choi Young.


Di saat Jung Do Jeon berpikir ini adalah akhir dari mimpinya dan Yi Seong Gye berpikir kalau ini adalah awal dari tragedi nasional yang mengerikan, Bang Won berpikir, “Apakah ini adalah awal dari revolusi?”


Di Dodang, Choi Young mengumumkan titah Raja yang akan menganggap Ming sebagai musuh Goryeo dan untuk menegakkan kewibawaan Goryeo serta menghukum Ming, maka mereka akan berperang untuk menaklukkan Liaodong. Tentu saja keputusan ini mengejutkan semua pihak tak terkecuali. Kekhawatiran mereka semua sama seperti yang diungkapkan Yi Seong Gye sebelumnya. .

 
Tapi keputusan itu sudah bulat. Walau berat, Yi Seong Gye memutuskan untuk mematuhi titah tersebut karena mereka semua adalah tentara kerajaan. Di saat genting seperti ini Yi Seong Gye ingin bertukar pikiran dengan Sambong. Tapi Sambong tak ada di tempatnya.


Jung Do Jeon ternyata sedang memancing. Setelah lima hari, Jung Do jeon kembali dan mengumumkan kalau mereka akan melakukan revolusi. Ia meminta Nam Eun untuk mempersiapkan aparat kerajaan, meminta Boon Yi untuk menggerakkan massa dan meminta Bang Won untuk melibatkan Bang Gwa dan Ji Ran untuk memobilisasi pasukan dari Hamju.


“Tapi yang terpenting adalah sikap Jenderal Yi Seong Gye. Beliau harus yakin pada revolusi ini apapun yang terjadi,” ujar Jung Do Jeon. “Bersiap dan bersiagalah. Tapi tanpa keputusan dari Jenderal Yi, kita tak akan bergerak satu langkah pun.”


Pada Ji Ran dan Bang Gwa, Bang Won membicarakan rencana revolusi Jung Do Jeon. Yaitu menahan Choi Young, menerima titah Raja dan menghentikan perang. Karena jika perang terjadi maka pasukan ayahnya akan tamat. Menurut Ji Ran, yang tamat riwayatnya tak hanya Jenderal Yi, melainkan seluruh negeri ini.


Bang Won membenarkan. Karena itulah ia meminta mereka mempersiapkan pasukan di Hamju dan pura-pura pergi ke Seogyeong untuk persiapan perang. Tapi yang sebenarnya mereka menunggu aba-aba pergi ke Gaegyeong untuk menyerang Manwoldae. Aba-aba itu muncul setelah ayah mereka memberi restu.”Tanpa ijin Ayah, maka kita tak akan bergerak. Itu adalah keputusan Guru Sambong.”


Yi Seong Gye merasa prediksi Jung Do Jeon akan Choi Young sesuai dengan yang terjadi sekarang ini. Ia minta saran Jung Do Jeon yang pasti memiliki strategi untuk mengatasi masalah pelik ini. Jung Do Jeon menjawab masalah ini bisa diselesaikan dengan mudah bahkan tanpa strategi. Tapi semua itu kembali kepada kesanggupan Yi Seong Gye.  “Bersediakan Anda menjadi Raja di negara ini?”


Yi Seong Gye terkejut mendengarnya apalagi strategi yang diusulkan jika Yi Seong Gye bersedia adalah revolusi. Mereka akan menyerang Choi Young dan meminta Raja menurunkan titah untuk menghukum Choi Young. Jika Choi Young dihukum, maka ide untuk perang otomatis akan hilang. Mungkin akan ada pertumpahan darah saat menyerang Choi Young, tapi pertumpahan darah itu lebih sedikit dibanding jika terjadi peperangan. Yi Seong Gye minta waktu untuk berpikir.


Jung Mung Jo adalah orang yang paling keras menentang penyerangan ke Liaodong dan minta Choi Young untuk menghentikan niatnya. Tapi Choi Young berkata kalau hal itu sudah terlambat karena ia sudah membunuh 21 utusan Ming dan sekarang Ming pasti sudah mendengar kabar ini. Ia, Yi Seong Gye dan Jenderal Jo akan memimpin 50 ribu pasukan yang akan berkumpul di Saegyeong.


Negara mulai mengumpulkan 50 ribu pasukan dengan merekrut paksa penduduk laki-laki yang cukup umur. Tangis dan jeritan mewarnai perekrutan itu. Begitu pula dengan Moo Hyul dan kedua adiknya yang ikut maju perang.


Nenek menangis, memohon agar Moo Hyul membawa kabur kedua adiknya agar tidak ikut perang. Suami dan anaknya (ayah Moo Hyul) juga mati karena ikut perang. Ia tak rela kalau anggota keluarganya mati lagi di medan perang.


Yi Seong Gye memperhatikan semua kejadian ini dan merasa hatinya semakin berat.


Choi Young memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap untuk mengkarantina anggota keluarga Yi Seong Gye. Bukannya ia tak percaya pada kesetiaan Yi Seong Gye, tapi ia hanya ingin berjaga-jaga.


Malam itu, Jung Do Jeon rapat dengan kelompoknya. Semua sudah mendapat tugas dan akan siaga di tempatnya masing-masing menunggu kode dari Jung Do Jeon yang akan bertemu dengan Yi Seong Gye. Jika Yi Seong Gye menyetujui revolusi, maka ia akan memerintahkan Lee Shin Jeok untuk melepaskan kuda hitam. Tapi jika Yi Seong Gye tak menyetujui, maka kuda putih yang akan lari mengelilingi kota.


Semua tampak bergairah dengan rencana ini. Revolusi akan dimulai malam ini. Tapi Yi Seong Gye masih tetap belum memutuskan menjawab pertanyaan Jung Do Jeon. Apakah ia bersedia mendirikan sebuah negara baru atau akan menaklukkan Liaodong?


Saat bersiaga, Bang Won berharap ayahnya menyetujui revolusi ini dan tak menaklukkan Liaodong. Moo Hyul merasakan derap kuda mendekat dan memberitahu Bang Won. Semua bersiap-siap dan harap-harap cemas menanti kuda warna apa yang akan lewat..


.. dan mereka melihat Lee Shin Jeok menaiki kuda putih berlari melewati mereka. Semua mendesah kecewa. Yi Seong Gye tak bersedia melakukan revolusi.


Yi Seong Gye memberikan keputusannya dalam sebuah surat. Kita mendengar pikiran Yi Seong Gye yang tertulis dalam surat itu.


Sambong, saat kau membicarakan negara yang ingin kau ciptakan, dadaku pun juga berdegup kencang.Tapi yang kupikirkan adalah betapa bahagianya jika aku menjadi jenderal yang akan melindungi negara itu. Itulah aku.

Daripada cita-cita besar ataupun rakyat, yang paling penting bagiku adalah keluargaku, orang-orang yang ada dalam lindunganku.Aku hanyalah pria biasa. Seorang Raja seharusnya menjaga rakyatnya dulu. Tapi pilihanku selalu adalah keluargaku. Katamu semua raja adalah sama. Tapi jika semuanya sama bagaimana itu disebut revolusi jika aku menjadi Raja?


Jung Do Jeon memejamkan mata, berharap yang terbaik. Maka pasukan pun berangkat ke Seogyeong diiringi isak tangis keluarga yang ditinggalkan. Tak hanya pasukan rendahan, hampir semua anggota Do Dang juga ikut berperang dipimpin oleh Choi Young.


Choi Young mengumumkan di hari ini, 15 April 1938, mereka akan menuliskan sejarah baru Goryeo dan mengobarkan semangat perang yang menular pada seluruh pasukan. Tapi keadaan di lapangan tak semudah yang dikira. Banyak tentara yang melarikan diri.


Ji Ran menyatakan keraguannya. Tapi Yi Seong Gye masih tetap bersikeras untuk terus maju. Ia yakin bisa memenangkan perang ini jika persediaan makanan datang tepat waktu.


Sesuai perintah Choi Young, anggota keluarga Yi Seong Gye dipindahkan ke sebuah tempat untuk dijaga keselamatannya. Mereka hanya ditemani beberapa pelayan yaitu Boon Yi, nenek Moo Hyul dan Guru Hong. Tapi Semua tahu kalau perlindungan hanyalah kata-kata manis karena tepatnya mereka adalah tawanan Choi Young untuk memaksa Yi Seong Gye untuk maju perang.


Tak hanya para wanita dan anak-anak, Bang Won dan Bang Gwa juga tak bisa kembali ke Gaegyeong. Mereka dikepung dan ditahan oleh  tentara kerajaan.


Untung saat itu Bang Won sedang bersama Jung Do Jeon, sehingga lolos dari pemindahan itu. Bang Won menemukan sepatu Boon Yi yang dulu pernah ia belikan dan merasa semakin khawatir.


Pasukan sudah sampai di Pulau Wihwa, tapi banyak yang tewas karena cuaca sangat buruk dan banyak yang jatuh sakit karena terkena hujan terus menerus. Moo Hyul sangat khawatir karena salah satu yang jatuh sakit adalah adiknya. Ia tak mengerti kenapa mereka harus terus maju.


Young Kyu juga frustasi karena Yi Seong Gye sudah dua kali mengirimkan pesan kalau mustahil bagi mereka untuk terus maju. Tapi pusat tetap memaksa mereka untuk terus maju. Baru kali ini Moo Hyul marah karena sudah lebih dari 100 tentara mati dan mayatnya akhirnya dibiarkan mengambang di air.


Choi Young kaget mendengar pasukan belum bisa menyebarangi Sungai Amnok karena hujan lebat berkepanjangan. Choi Young khawatir jika mereka menunda menyeberangi sungai, mereka akan mendapat masalah akan persediaan makanan. Jadi mereka harus menyeberangi sungai, apapun yang terjadi. Memang akan banyak tentara yang tewas, tapi jika tertunda lebih lama lagi, akan jauh lebih banyak lagi tentara yang tewas.


Choi Young malah merasa penundaan ini terjadi karena Yi Seong Gye punya pikiran lain. Ia pun menemui Raja agar mengeluarkan perintah untuk terus maju.


Ji Ran dan Young Kyu melaporkan kalau pasukan belum berhasil melewati sungai bahkan korban sudah tak terhitung jumlahnya akibat terseret arus. Ji Ran juga khawatir karena persediaan makan mereka semakin menipis. Jika mereka berhasil menyeberang pun, persediaan makanan sudah habis sehingga mereka harus mencari supplai dari daerah sekitar.


Lee Shin Jeok pun mengabarkan kalau sekarang muncul wabah penyakit. Walau tentara yang sakit sudah dipisah, tapi jika berlarut-larut, akan semakin berbahaya. Nam Eun berlutut dan memohon Yi Seong Gye untuk menarik pasukan. Walau mereka berhasil menyebrang sungai, pasukan mereka akan kalah duluan sebelum perang karena jiwa dan raga mereka sudah ambruk.


Yi Seong Gye terdiam, maka Ji Ran yang angkat bicara.  Yi Seong Gye tak bisa melakukan hal itu karena keluarganya sekarang menjadi tawanan Choi Young. Semua terkejut mendengar kabar itu.


Tapi pasukan semakin banyak yang berjatuhan. Salah satunya adalah adik Moo Hyul. Ia panik karena adiknya adalah salah satu korban wabah yang dipisahkan. Dipisahkan di jaman itu artinya tinggal menunggu kematian saja. Dan Moo Hyul menemukan adiknya dibawa pergi. Ia tak rela dan ingin ikut adiknya.


Tapi salah satu komandan mencegahnya. Semua orang merasakan apa yang dirasakan Moo Hyul. Moo Hyul sudah hampir menyerang si komandan jika adiknya tak menyela, “Kakak, aku tak apa-apa. Jika aku minum obat, aku akan segera sembuh. Jangan khawatir.”


Moo Hyul melepas adiknya dengan berat hati. “Bagaimana mungkin ini disebut.. perang?” Young Kyu menjawabnya, “Ini adalah perang yang sesungguhnya.”


Utusan Raja, Kim Hwan, datang membawa perintah agar pasukan Yi Seong Gye sesegera mungkin menyeberang Sungai Amnok. “Kenapa kau mengulur waktu sampai 7 hari? Kecuali kau punya rencana lain, Jenderal..”


Yi Seong Gye marah dan menyuruh Kim Hwan untuk melihat sendiri kondisi di luar. Tapi Kim Hwan malah menyampaikan pesan Choi Young. Tak ada pertempuran tanpa kesulitan.

Ughh.. rasanya pengen nampar wajah sinis Kim Hwan ini.


Ada kabar dari Lee Shin Jeok kalau mereka berhasil menangkap para tentara yang melarikan diri. Yi Seong Gye muncul untuk menghukum para tentara itu Dengan berat hati ia memerintahkan komandan untuk memenggal mereka agar menjadi contoh bagi yang lain.


Para komandan; Young Kyu, Moo Hyul dan komandan yang tadi bersama Moo Hyul, menghunus pedang mereka. Tapi mereka tak tega karena tentara  itu adalah rakyat sipil yang dipaksa untuk berperang.


Si Komandan berbalik, tak mematuhi perintah. Kim Hwan marah dan turun tangan sendiri untuk membunuh si komandan. Tak disangka komandan itu malah mengarahkan pedang ke leher Kim Hwan. Yi Seong Gye ingat komandan itu, Choong Gil, adalah perompak Jepang palsu yang dulu pernah ia ampuni. Beraninya Choong Gil mengkhianatinya?!


“Berkhianat?” seru Choong Gil. Ia pun membuang pedangnya dan berkata, “Andalah yang mengkhianati kami, Jenderal! Anda mengampuni saya saat saya berpura-pura menjadi perompak Jepang untuk memberi makan anak-anak saya. Tapi apa yang terjadi sekarang? Di sini ada 50 ribu anak-anak dari para orang tua. Mereka memiliki 100 ribu ayah dan ibu.Jika kita tetap meneruskan perang, kita akan merampas 50 ribu anak dari 100 ribu orang tua! Sanggupkah Anda menghadapi air mata darah mereka?!”


Choong Gil berlutut dan meminta Jenderal Yi membunuhnya karena ia tak akan sanggup memenggal para tentara itu. Moo Hyul ikut berlutut dan berkata kalau ia sebenarnya tak tahu apa maksud malam itu. “Tapi sekarang saya tahu. Malam itu harusnya kuda yang melintasi Gaegyeong bukanlah kuda putih. Harusnya kuda hitam.”


Mereka yang berharap pada revolusi malam itu, Nam Eun, Ji Ran, Lee Shin Jeok dan You Kyung, memandang Yi Seong Gye. Moo Hyul memohon dengan suara tercekat, “Adik-adikku… Saya mohon.. selamatkanlah mereka. Untuk saudara-saudara kami yang ikut berperang, saya mohon bebaskanlah mereka, Jenderal!”


Yi Seong Gye menatap Moo Hyul yang menangis dan para tentara yang tertunduk di belakangnya. Tak ada yang bergerak kecuali Kim Hwan yang marah mendengar hal ini dan mengancam akan membunuh mereka semua.


Ia teringat ucapan Jung Do Jeon yang menyebutkan makna huruf Negara adalah melindungi tanah dan rakyat dengan perisai. Tapi jika ditambah satu huruf lagi, maka arti negara adalah melindungi tanah, rakyat dan keluarga dengan perisai.


Kim Hwan terus berteriak menyuruhnya segera memenggal para pengkhianat ini. Yi Seong Gye memejamkan mata dan teringat pada suratnya malam itu, ia menulis kalau ia memilih keluarga dibanding negara. Ia minta maaf pada istri dan anak-anaknya, “Karena aku akan melakukannya..”


Kim Hwan tak sabar dan berniat membunuh mereka semua. Tapi Yi Seong Gye mencabut pedangnya dan berseru, “Tahan dia sekarang juga!” Semua terkejut, tapi Young Kyu dan Moo Hyul segera melaksanakan perintah itu.


Dan kita mendengar ucapan Jung Do Jeon. Jika pagar Anda sekarang mengelilingi seluruh negeri, maka itu adalah sebuah negara. Dan Anda adalah Raja.


“Aku, Yi Seong Gye, tak akan menyeberangi Sungai Amnok!”



Raja Pertama Joseon, Raja Taejo, Yi Seong Gye.

Selanjutnya : Six Flying Dragon episode 21

1 comment :