February 10, 2016

Six Flying Dragon Episode 19

Six Flying Dragon Episode 19


Choi Young tak menggubris Jung Do Jeon. Ia malah menyuruh Jung Do Jeon untuk muncul menjadi anggota Dodang dan tak hanya menjadi dalang dari semua kejadian.



Jung Do Jeon berusaha mengejar Choi Young di rumahnya, tapi Boon Yi memberitahu kalau Choi Young sedang menuju ke Hwasadan. Di Hwasadan, Jung Do Jeon tak berhasil menemui Choi Young karena Hwasadan ditutup malam itu. Mereka malah berpapasan dengan tamu yang boleh masuk, pedagang yang berbahasa Yuan dan dikawal pendekar.


Boon Yi memberitahu Bang Won tentang kejadian malam ini antara Yi Seong Gye dan Bang Won. Setelah Bang Won pergi, datang Da Kyung yang tak suka melihat Boon Yi ada di ruang pribadi Bang Won. Boon Yi menjawab kalau ia dan Bang Won hanya berhubungan masalah pekerjaan, karena ia dan Bang Won mempunyai tujuan yang sama.


Da Kyung minta maaf tapi ia pun meminta Boon Yi untuk bicara formal pada Bang Won karena Bang Won berbeda derajatnya dengan Boon Yi. Lagi pula Bang Won adalah seorang pria dan juga sudah menikah. Boon Yi tercenung. Namun ia mengakui kesalahannya dan berjanji memperbaiki perilakunya.


Choi Young mengumumkan kalau Lee In Gyeom bersalah, tapi mengingat jasa-jasanya, Lee In Gyeom tak dihukum mati melainkan diasingkan di Gyeosanbu dan dalam masa percobaan.


Hukuman itu jelas tak memuaskan pihak Yi Seong Gye karena Gyeosanbu adalah kampung halaman Lee In Gyeom. Apalagi kerajaan tak menyita tanah Lee In Gyeom yang berasal dari rampasan tanah rakyat. Tapi Choi Young mengatakan semua ini adalah titah Raja dan yang melawan titah Raja akan dihukum.


Golongan Sadaebu yang merupakan antek Lee In Gyeom memuji langkah Choi Young dan mulai menjilatnya, mengatakan kalau Dodang sekarang milik Choi Young. Tapi Choi Young berkata ketus kalau ia tak berniat kongkalikong dengan para Sadaebu. “Dan Dodang itu bukan milikku, melainkan milik Yang Mulia Raja!”


Lee In Gyeom dibawa ke tempat pengasingan. Saat naik kereta pengangkut, ia terkejut melihat secarik kertas terselip di bawah tikarnya. Kertas berlogo sama yang diterima oleh Jukryeong di penjara. Simbol Segel Merah yang selama ini membantunya tapi juga sangat mencurigakan.


Ia mencari-cari wajah familiar di kerumunan orang. Dan ternyata ada! Ada sosok kasim yang dulu pernah memberitahukan kalau Hong Ryun baru saja membunuh Raja Gong Min.  Pria itu tersenyum dan memberi hormat padanya seakan memberikan ucapan selamat jalan.

Siapa dia? Siapa kelompok dengan simbol segel merah yang mengantarkannya hingga ke posisi tertinggi Dodang itu?


Kita akhirnya bertemu dengan Raja Goryeo ke-32, Raja Woo. Ia sedang menikmati alunan musik, namun tiba-tiba menghunus pedang (yang masih ada darah menempel) karena mendengar nada sumbang. Untung saja Choi Young datang dan mencegah Raja Woo untuk membunuh pelayan yang tak bersalah itu. Ia segera menyuruh semua pelayang untuk meninggalkan mereka berdua.


Choi Young yang sudah bertekad untuk membangun kembali Goryeo. Bajak laut Jepang, pasukan Sorban Merah dan Ming menyerang mereka hampir tiap hari. Ia memohon pada Raja Woo agar mulai kembali memerintah dan mengembalikan kekuasaan kerajaan.


Langkah Choi Young ini sudah diprediksi oleh Jung Do Jeon. Ia sudah memperkirakan Choi Young akan membujuk Raja untuk memperkuat kerajaan dan Choi Young akan menjadi pemimpin yang mengutamakan kerajaan daripada rakyat atau dirinya sendiri. Jenis pemimpin ini sangat berbahaya karena ia akan mempertaruhkan segalanya demi kerajaan.


Raja Woo bersedia memenuhi permohonan Choi Young dengan syarat harta pribadinya ditambah. Bukankah Choi Young sudah menyita aset Gil Tae Mi dan Hong In Bang? Melihat Choi Young terdiam, Raja Woo bertanya, “Apa aku sebagai keturunan Raja Gong Min tak boleh melakukan ini? Apa kau sekarang yakin kalau aku adalah anak Shin Don dan bukan Raja Gong Min? Itukah yang kau pikirkan?”


Choi Young berkata kalau ia tak peduli Raja Woo itu anak siapa. “Hal yang penting bagi hamba adalah Paduka adalah Raja kerajaan ini.”


Boon Yi menemukan hal aneh di lapangan. Ada kereta pengangkut yang  diam-diam keluar dari rumah Hong In Bang dua malam yang lalu yang diserahkan pada sekelompok orang. Padahal semua pasukan adalah dari Departemen Militer. Salah satu dari anak buah Boon Yi, Deok Chil, mengikuti jejak kereta itu. Namun sampai sekarang Deok Chil belum kembali .

Bang Won, Moo Hyul dan Boon Yi menyelidiki jejak kereta itu untuk menemuikan Deok Chil.


Nyonya Kang, istri kedua Yi Seong Gye (istri pertama/ibu Bang Won sudah meninggal) muncul. Bang Won dan Da Kyung menemui Nyonya Kang untuk memberi salam.


Guru Hong merasa semua orang yang ada di rumah Yi Seong Gye itu bukan wanita lemah. Tua, muda, yang berderajat tinggi maupun rendah, pria atau wanita, semuanya berkepribadian kuat. Bahkan Boon Yi juga. “Maka orang-orang seperti kita ini, harus diam seperti mayat.”


Jendera Jo membacakan surat tuntutan Ming yang dikirimkan pada Goryeo. Mereka meminta perbatasan utara Cheolryeong, yang selama 30 tahun dikelola Goryeo, untuk dikembalikan pada Liaodong (provinsi China). Seluruh anggota Dodang tak setuju dengan tuntutan itu, walau Jung Mung Jo meminta mereka berhati-hati dan menyelidiki apa sebenarnya maksud Ming mengirimkan tuntutan itu.


Anehnya, Choi Young tak menunjukkan emosi apapun atas tuntutan itu. Ia malah menugaskan Jung Mung Jo untuk memberi jawaban pada delegasi Ming, karena ia dan Yi Seong Gye akan menemani Raja Woo untuk berburu.


Jung Do Jeon curiga Choi Young merencanakan sesuatu. Apalagi ia pernah melihat Choi Young menemui pedagang Yuan di Hwasadan. Ia meminta Yeon Hee untuk menyelidiki hal ini.


Deok Chil ditemukan tapi sudah menjadi mayat. Sambil menahan air mata, Boon Yi menyebutkan nama banyak daerah, dan menyuruh salah ahjussi untuk mengumpulkan semua pemimpin daerah yang disebut untuk berkumpul di markas jam 8 malam.


Bang Won menatap Boon Yi, menyadari betapa Boon Yi benar-benar seorang komandan di lapangan.


Boon Yi dan Bang Won pergi ke goa untuk melaporkan hal ini pada Jung Do Jeon. Jung Do Jeon menduga semua ini atas sepengetahuan Choi Young karena departemen Militer ada di bawah kekuasaan Choi Young. 


Yeon Hee segera menyelidiki dan mendapat informasi kalau memang ada pedagang Yuan yang bertamu di Hwasadan. Tapi untuk mengetahui siapa pedagang itu, Yeon Hee harus melihatnya di buku tamu yang disimpan Cho Young.


Malam itu, Boon Yi membagikan sketsa wajah pembunuh Deok Chil (yang diingat oleh ayah Deok Chil) kepada seluruh pemimpin daerah untuk disebarkan pada yang lain. Mereka harus segera mencari siapa pembunuh Deok Chil.


Moo Hyul hanya memandangi Boon Yi dan tak beranjak pergi. Ia terkesima pada Boon Yi, menyadari kalau gadis itu benar-benar mirip seorang jenderal. Kekagumannnya tak berhenti sampai situ. Ia terus memuji-muji Boon Yi, membuat Bang Won bete dan pergi meninggalkan Moo Hyul. Hahaha..


Bang Won bertanya bagaimana semua orang bisa mengikuti perintah Boon Yi? Boon Yi berkata kalau mereka adalah tetangganya di Yiseo. Tapi Bang Won tak percaya karena ia tahu sebagian besar adalah pemimpin dari berbagai daerah, yang berarti Boon Yi memimpin ratusan orang Gaegyeong. Bang Won.


Boon Yi merendah dan berkata ia bukan memimpin tapi berkawan dengan mereka. Bang Won memujinya. Tapi ada satu yang mengganjal perasaan Boon Yi. Ia menceritakan kalau ia ketahuan bicara banmal pada Bang Won. “Apa aku harus mulai memperlakukanmu sebagai Tuan Muda mulai sekarang?”

Bang Won menggeleng. Ia tak ingin Boon Yi melakukannya. “Aku ingin bisa bicara pada seseorang dengan santai, dan orang itu juga berbicara padaku dengan santai. Bagiku, hanya kau yang bisa melakukannya. Dan sedih rasanya jika hal itu harus hilang.”


Boon Yi paham maksud Bang Won. Ia akan melakukannya jika hanya ada mereka berdua. Bang Won tersenyum lega. Boon Yi mengakui kalau Bang Won itu aneh. ia sering menggigit orang, tapi hanya Bang Won saja yang balas menggigitnya.

Bang Won tak mau kalah. “Hei, apa aku ini suka mengiggit orang? Yang pernah kugigit itu hanya kau saja.”


Rencana pun disusun untuk mencari informasi siapa tamu tamu Choi Young di Hwasadan. Yeon Hee menemui Cho Young seakan memberi informasi pada Cho Young di ruangannya. Jung 


Do Jeon datang bersama Bang Ji, membuat Cho Young harus menyembunyikan Yeon Hee karena Yeon Hee adalah mata-matanya di kelompok Jung Do Jeon. Ia menyuruh Yeon Hee untuk segera pergi setelah ia menemui Jung Do Jeon di ruangan lain.


Sepeninggal Cho Young, Yeon Hee tak pergi malah mencari buku tamu dengan dibantu oleh Bang Ji yang keluar mencarinya. Mereka menemukan buku tamu, tapi tak ada nama yang dicatat pada malam itu.


Mereka malah dalam bahaya karena Cho Young ternyata kembali ke ruangannya sebentar. Mereka bersembunyi di dalam sebuah ruang kecil. Cho Young mulanya lega tak melihat Yeon Hee lagi di dalam ruangan. Tapi ia merasa curiga pada ruang kecilnya dan ia membuka ruangan itu.


Dan terkejut karena Bang Ji menghunus pedang ke leher Ja Il Saek. Ia ketahuan telah menempatkan mata-mata di dalam organisasi Jung Do Jeon.


Jung Do Jeon muncul dan berpura-pura akan menghukum Yeon Hee jika Cho Young tak memberitahu informasi tentang tamu Choi Young malam itu. Cho Young akhirnya mengaku kalau ia tak bisa menguping apa yang dibicarakan oleh Cho Young dan pedangan Yuan itu karena mereka berbicara dengan menggunakan kertas dan arang sebaga penanya. Ia hanya menangkap Choi Young berkata Hari ketujuh pada pedagang itu.

Jung Do Jeon masih belum puas dengan segelintir informasi itu. Cho Young akhirnya minta Jung Do Jeon untuk mencari itahu informasi lebih banyak pada orang yang menghubungkan Choi Young dengan pedagan Yuan itu. Yaitu biksu Jukryeong.


Yi Seong Gye dan Choi Young menemani Raja Woo pergi berburu. Setelah berhasil mendapat buruan, mereka beristirahat.


Bang Won dan Moo Hyul menemui preman pasar, yang menurut informasi dari Boon Yi, yang membawa kereta pengangkut dari rumah Hong In Bang. Dengan mudah Moo Hyul mengalahkan mereka dan memaksa mereka buka mulut.

Ternyata mereka diperintahkan membawa emas milik Hong In Bang untuk diserahkan pada kelompok biksu yang pemimpinnya seperti memakai make up. Siapa lagi biksu yang bermake up kecuali Jukryeong?


Mereka pun menyamar menjadi biksu untuk menyelinap ke dalam biara milik Jukryeong. Tempat pertama yang mereka datangi adalah gudang tempat Boon Yi disekap. Ternyata ruangan itu sekarang penuh dengan peti berisi tanduk kerbau. Bang Won heran melihatnya karena sepengetahuannya tanduk kerbau digunakan untuk membuat busur.


Ternyata aksi mereka ketahuan dan mereka ditangkap. Tapi Jukryeon tak menangkapnya dan malah memperlakukan mereka sebagai tamu. Ia berkata kalau ia ingin berdagang dengan Bang Won karena setelah Hong In Bang, tak ada yang mau meminta jasanya. Choi Young memakai jasanya tapi tak mau bayar.


Bang Won menolak karena ia sudah memiliki informasi yang dilihatnya di gudang tadi. Tapi Jukryeong memiliki informasi tambahan dan ia memberikan informasi ini sebagai hadiah, bonus untuk Bang Won. Walau ia tak berhasil menguping pembicaraan Choi Young dan pedagang Yuan, ia berhasil mendapatkan sekelumit informasi.

Choi Young dan pedagang itu bicara dengan menggunakan kertas dan arang. Karena menulis dengan arang akan ada tekanan di kertas berikutnya, ia pun mengarsir kertas berikutnya dari kertas terakhir yang digunakan Choi Young. Dan ia menemukan sebuah informasi yang samar-samar tertulis di sana. Sungai Aprok.


Merasa aneh melihat Jukryeong dengan mudahnya memberi informasi? Ternyata hal itu adalah perintah dari nenek tua, si pembawa pesan Segel Merah. Segel Merah berniat memberi informasi itu pada Bang Won.


Bang Won memberi semua informasi yang didapat pada Jung Do Jeon. Jung Do Jeon menggabungkan semua informasi. Hari ketujuh, sungai Aprok, tanduk kerbau yang sangat banyak. Sambil lalu Moo Hyul berkomentar kalau melihat tanduk kerbau itu, sepertinya akan ada penyerangan.


Bang Won dan Jung Do Jeon terkejut mendengar celotehan itu. Apalagi Nam Eun muncul dan memberitahukan tentang kabar yang didapat dari kantor provinsi Yanggwang dan Gangneun. Sejak dua bulan yang lalu Choi Young menyuruh mereka untuk mempersiapkan pasukan.


Sikap pasif Choi Young mendengar tanah mereka diminta oleh Ming, padahal Choi Young adalah orang yang paling depan jika membela Goryeo. Tai kenapa sekarang ia malah terlihat santai dan berburu?


Mereka memperhatikan peta, mencari sungai Aprok dan terkejut melihat dimana sungai Aprok itu bermuara.

Liaodong.


Jung Do Jeon pun menyimpulkan kalau Choi Young tak bertemu dnegan pedagang dari Yuan, melainkan pejabat tinggi Yuan. Bang Won memahami maksud Jung Do Jeon, tapi berkata kalau ini gila. Ia tak bisa mempercayainya.


Raja Woo, Choi Young dan Yi Seong Gye duduk bersama. Di hadapan Raja, Choi Young berkata pada Yi Seong Gye kalau ia sudah mengirim pesan pada Yuan kalau tentara Goryeo akan melintasi Sungai Aprok. “Mari kita taklukkan Liaodong.”


Jung Do Jeon juga tak bisa mempercayai hal ini. “Jenderal Choi Young.. Ia berniat untuk menaklukkan Liaodong!”

Komentar :

Hong In Bang dan Gil Tae Mi mati. Lee In Gyeom diasingkan. Apakah itu berarti Goryeo akan menjadi sejahtera? Choi Young adalah pejabat yang jujur dan tegas. Ia tak mau kongkalikong dengan para Sadaebu karena tahu betapa busuknya mereka.

Yang diminta oleh rakyat adalah tanah garapan mereka yang sebagian sudah dikembalikan dari aset milik Hong Il Bang dan Gil Tae Mi. Tapi aset milik Lee In Gyeom tak dikembalikan padahal lebih banyak aset Lee In Gyeom yang merupakan hasil rampasan dari rakyat.

Ini yang membuat kelompok Jung Do Jeon tak puas. Ini yang membuat Choi Young tak bisa ada di dalam negara baru mereka. Choi Young menjadi musuh berikutnya. 


Sungguh sulit membuat karakter pahlawan menjadi musuh yang harus dibasmi. Jika menonton Faith yang diperankan Lee Min Ho, pasti tahu betapa jujur dan heroiknya Choi Young dalam membela Gong Min.

Tim penulis naskah Six Flying Dragon berhasil membuat Choi Young menjadi musuh tapi bukan orang jahat. Berbeda dengan Hong In Bang, Gil Tae Mi dan Lee In Gyeom. Choi Young adalah sosok yang dihormati. Karakater jelek yang dimiliki Choi Young hanyalah karakter yang pernah diungkapkan Jung Do Jeon.

Choi Young akan menjadi pemimpin yang mengutamakan kerajaan daripada rakyat atau dirinya sendiri. Jenis pemimpin ini sangat berbahaya karena ia akan mempertaruhkan segalanya demi kerajaan.


Apakah itu salah? Tentu saja tidak. Itulah karakter seorang pahlawan. Tapi hal itu berarti Choi Young tak mungkin berada di negara baru yang diakan diciptakan Jung Do Jeon, karena baginya negaranya adalah Goryeo. 

2 comments :

  1. Awww...namanya mbak dee ya,analisisnya beda^^
    Thank you mbak :)
    Minggu ini nungguin remember episode 17 tayang bukan? jadi masih bisa recap ini ma hce

    ReplyDelete
  2. Haaaa.....cuma mbak dee yg bisa bikin mubeng jadi mudeng (mubeng = bingung, mudeng = ngerti /paham )... :P gumawoo unnie... ^^

    ReplyDelete