February 7, 2016

One More Happy Ending Episode 5 - 1

One More Happy Ending Episode 5 - 1


One More Happy Ending episode 5 dibuka dengan scene zaman jadul. Mi Mo sedang melempari ikan di sungai dengan kesal dan berkata kalau dia akan memasak ikan-ikan itu. Tepat disaat itu, Soo Hyuk muncul. Melihat Soo Hyuk, Mi Mo langsung berubah sikap. Yang tadinya garang melempar batu, sekarang jadi lembut.

Namun Mi Mo langsung berubah kesal lagi saat melihat Soo Hyuk hanya duduk di pinggir sungai tanpa melakukan apa-apa. Saking kesalnya dia melempar batu pada Soo Hyuk. 

“Bodoh! Harusnya kau ikut melempar batu, lalu menyebrangi sungai ini. Naif sekali,” ucap Mi Mo kesal dan langsung berjalan pergi, meninggalkan Soo Hyuk dalam kebingungan.



Soo Hyuk lalu menceritakan apa yang baru saja dia alami pada Hyun Ki dan Hyun Ki menjelaskan kalau tadi Mi Mo sedang memberi kode pada Soo Hyuk, agar  Soo Hyuk mendekatinya. Soo Hyuk bertanya apa yang harus dia lakukan dan Hyun Ki memberitahunya kalau mendekati wanita itu gampang, mereka sangat menyukai batu yang besar dan berkilau.

Hyun Ki kemudian berusaha mengambil sebuah batu besar, tapi karena dia saja tak kuat mengangkatnya, dia pun berkata kalau bukan batu itu yang dimaksud. Dia juga berjanji akan mencarikan batu yang lain. 

Tak lama kemudian Hyun Ki sudah menemukan batu yang dimaksud dan memberikannya pada Soo Hyuk. Batu itu sudah diberi gambar ikan di salah satu sisinya. Selain batu, Hyun Ki juga memberikan mahkota bunga pada Soo Hyuk. Dia menyuruh Soo Hyuk memberikan semua itu pada Mi Mo, karena wanita sangat suka diberi banyak hadiah. 


Dalam perjalanan menemui Mi Mo, Soo Hyuk kehujanan. Dia berlari sambil melindungi mahkota bunga untuk Mi Mo. Namun sayang, saat tiba di tempat Mi Mo, Soo Hyuk merasa sakit hati karena dia melihat Mi Mo sedang bersama pria lain (Hae Joon). Lebih tepatnya Mi Mo sedang menggoda Hae Joon. 


 “Wanita jahat. Tadi memberi kode padaku, sekarang merayu pria lain,” ucap Soo Hyuk kesal dan menginjak mahkota bunga yang dia bawa. 

Kita kembali pada Soo Hyuk dan Mi Mo yang ada di lorong apartemen mereka. 


Soo Hyuk memegang kedua pipi Mi Mo dan berkata kalau Mi Mo adalah ikan mas labil. Perlahan Soo Hyuk mendekatkan wajahnya pada Mi Mo dan tiba-tiba “bruk”. Soo Hyuk pingsan di pundak Mi Mo. Mi Mo menyingkirkan kepala Soo Hyuk sehingga membuat Soo Hyuk terjatuh di lantai.


Tepat disaat itu Min Woo muncul dan meminta penjelasan kenapa Mi Mo dan ayahnya berada di posisi seperti itu. Mi Mo sendiri bingung menjelaskannya, jadi dia berusaha membangunkan Soo Hyuk. 

“Hei, kamar 1501. Bangun! Song Soo Hyuk! Romeo!” teriak Mi Mo sambil menampar-nampar wajah Soo Hyuk. “Aku jadi kelihatan jahat, bangun... bangun, cepat bangun. Anakmu sudah pulang sekolah itu.”

“Kursus,” potong Min Woo.


“Maksudku kursus,” ralat Mi Mo. “Song Soo Hyuk! Romeo! Bangun!” teriak Mi Mo.

“Sudahlah,” ucap Min Woo dan Mi Mo langsung melepaskan Soo Hyuk hingga membuat kepala Soo Hyuk terbentur ke lantai lagi. “Besok pagi juga bangun,” tambah Min Woo dan menghampiri mereka.

Dia minta Mi Mo minggir dari ayahnya agar dia bisa membawa ayahnya masuk. Karena tubuh Min Woo kalah besar dari Soo Hyuk, jadi diapun tak bisa mengangkat tubuh sang ayah. Setelah yakin kalau Mi Mo adalah orang yang baik, dia meminta bantuan Mi Mo untuk membawa ayahnya masuk ke dalam rumah. 


Mi Mo menggendong Soo Hyuk dengan bantuan Min Woo dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Min Woo langsung keluar dari kamar sang ayah, Mi Mo juga hendak keluar, namun saat melihat Soo Hyuk masih memakai jaket, Mi Mo pun melepaskannya terlebih dahulu. 

Keluar dari kamar Soo Hyuk, Mi Mo sempat terkejut saat melihat Min Woo menyiapkan minum untuknya. 

“Aku diajari untuk menjamu tamu,” ucap Min Woo saat melihat Mi Mo.

“Kalau dilihat-lihat. Kau tidak seperti anak kecil. Beda dengan...,” ucap Mi Mo sambil mengarah ke kamar Soo Hyuk. 


Mi Mo duduk untuk menikmati minuman yang Min Woo siapkan untuknya. Setelah minum, dia melihat dekorasi rumah Soo Hyuk yang dipenuhi tempelan foto Soo Hyuk dan Min Woo. Mulai dari Min Woo bayi sampai sekarang. 

Mi Mo lalu bertanya apa Min Woo sudah makan dan Min Woo menjawab iya karena banyak restoran di tempat kursusnya. 

“Apa kau selalu seperti itu? Makan diluar?” tanya Mi Mo lagi.

Min Woo meminta agar Mi Mo tidak memandang iba seperti itu. Karena dia tinggal di apartemen mewah dan makan makanan enak, selain itu dia juga sangat dimanja. Mi Mo pun minta maaf.

“Hanya satu orang yang kurang. Aku tak butuh seorang ibu, tapi seorang wanita. Bukan untukku, tapi wanita untuk ayah,” ungkap Min Woo dan Mi Mo mengerti maksudnya.

Mi Mo akhirnya kembali ke apartemennya. Namun sebelum dia masuk, ia kembali melihat ke arah rumah Soo Hyuk, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi kemudian dia pergi ke suatu tempat.


Da Jung dan Dong Mi masih berada di rumah Ae Ran. Sementara Dong Mi tertidur, Da Jung dan Ae Ran masih mengobrol. Ae Ran masih tak percaya kalau dia akan menikah besok. Ia pikir ia hanya akan pacaran selama hidupnya. Dia juga mengaku kalau dia menikah gara-gara tekanan dari orang di sekitarnya dan juga berlian 3 karat yang diberikan Dong Bae. Da Jung mencoba meyakinkan Ae Ran kalau kehidupan pernikahannya nanti pasti akan bahagia. 

“Kalau dipikir lagi, aku bersalah pada hatiku. Aku menjalani 5 tahun pernikahanku dalam kecemasan. 7 tahun berikutnya kujalani sebagai ibu. Lalu sekarang...,” ungkap Da Jung meratapi kehidupan pernikahannya.

“Aku juga bakal seperti itu. Begitu aku menikah, kami akan saling terbiasa,” ucap Ae Ran.


Tepat disaat itu sebuah pesan masuk ke ponsel Dong Mi. Pesan itu dari pria penjual oven yang berisi, “Maaf, tak bisa menepati janji hari ini. Kau pasti sangat kecewa.” Si pemilik handpone masih tertidur, jadi dia tidak tahu kalau ada pesan masuk.


Mi Mo datang lagi ke rumah Soo Hyuk untuk memberikan makanan yang baru dia beli. Dia juga berpesan pada Min Woo agar memberikan Soo Hyuk makan sup anti mabuk itu. 


“Pastikan kau kunci kamarmu, dia bisa berbahaya. Kalau perlu ikat kaki dan tangannya sebelum kau tidur,” saran Mi Mo. Ia juga memberikan sebotol obat untuk orang mabuk pada Min Woo. Min Woo berterima kasih atas semua pemberian Mi Mo. Ia terus berdiri di sana hingga membuat Mi Mo yang menutup pintunya. 


Pagi harinya, Soo Hyuk bangun dengan kondisi yang berantakan. Dia duduk di meja makan dan melihat sup anti mabuk yang baru Min Woo panaskan. 

“Apa ini?” tanya Soo Hyuk.

“Sup anti mabuk dari ahjumma depan,” jawab Min Woo dan memberikan obat anti mabuknya juga pada sang ayah. Melihat obat itu, Soo Hyuk jadi teringat pada apa yang sudah dia katakan pada Mi Mo tadi malam. Dia menyebut Mi Mo dengan sebutan “ikan mas gamang.”

“Oh iya, kenapa ahjumma itu memanggil ayah Romeo?” tanya Min Woo dan Soo Hyuk terkejut mendengarnya. 

“Apa?”

“Kalau ayah Romeo, apa ahjumma itu Juliet?” tanya Min Woo lagi, tapi tak dijawab oleh Soo Hyuk. Dia malah bertanya apa tadi malam Mi Mo  dalam kondisi mabuk juga dan Min Woo menjawab tidak. Mendengar hal itu, tambah membuat Soo Hyuk frustasi. 


Mi Mo keluar dari rumahnya bebarengan dengan  Soo Hyuk yang juga keluar dari rumahnya. Soo Hyuk terlihat malu saat bertemu dengan Mi Mo. Dia pun hanya melambaikan tangannya dan berkata “hai” pada Mi Mo dan Mi Mo menjawab dengan anggukan. 


Suasana diantara mereka tambah menjadi canggung saat mereka berada di dalam lift berdua. Mi Mo lalu membuka bicara dengan bertanya apa Soo Hyuk sedang merasa kesepian. Namun tak dijawab langsung oleh Soo Hyuk, karena dia tak mengerti maksud pertanyaan Mi Mo.


“Tak ingat kejadian semalam?” tanya Mi Mo dan Soo Hyuk pura-pura lupa. Mi Mo berkata kalau tadi malam Soo Hyuk sudah menggoda seorang wanita polos. Karena beranggapan kalau Soo Hyuk sedang kesepian, Mi Mo lalu  memberikan kartu namanya dan menyuruh Soo Hyuk mendaftar ke biro jodohnya. 


“Semalam saking kesepiannya kau sampai gemetaran. Aku takut kau menikahi wanita sembarangan. Jangan mabuk dan mangacau di catatan sipil lagi. Datang ke kantorku, anakmu khawatir padamu. Aku ahlinya mencarikan pasangan hidup,” ucap Mi Mo dan menyuruh Soo Hyuk untuk tidak malu padanya, jadi Soo Hyuk bisa datang saja ke kantornya. Mi Mo juga berjanji akan mencarikan wanita yang bisa menjadi istri sekaligus ibu. 


Soo Hyuk sudah berada di bangku taman, dia merasa geram pada dirinya sendiri. Karena apa yang dia lakukan semalam membuat Mi Mo berpikir kalau dia adalah pria kesepian. Saat memasukkan kartu nama Mi Mo ke dalam saku jaketnya, dia kembali menemukan formulir pernikahannya dengan Mi Mo. 


Saat dia tengah melihat formulir itu, tiba-tiba Hyun Ki merebutnya dan membacanya. Namun sebelum Hyun Ki dan A Ni sempat membaca nama wanita di dalam formulir tersebut, Soo Hyuk merebutnya kembali. Hyun Ki lalu bertanya apa Soo Hyuk sudah mendaftarkan pernikahannya diam-diam.

“Kalau sudah kudaftarkan, formulir ini takkan ada ditanganku. Aku dan temanku mengisinya untuk main-main saat mabuk,” jawab Soo Hyuk. Ooooh.... ternyata mereka belum menikah, mereka hanya hampir menikah. Karena Soo Hyuk belum memberikan formulirnya pada petugas catatan sipil. 

“Main-main? Itu bukan untuk main-main. Kalau mau main-main dengan pernikahan, kau harus kaitkan jari kelingkingmu,” ucap Hyun Ki dan meminta formulir itu karena ingin dia sobek agar tak menjadi masalah dikemudian hari. Namun Soo Hyuk tak mau memberikannya, dia tetap ingin menyimpan formulir itu. 


Soo Hyuk dan tim kembali melakukan rapat. Atasan Soo Hyuk bertanya pada Soo Hyuk apa ada wanita yang membuat keributan saat dia meliput Seul Ah. Soo Hyuk berpikir sejenak dan kemudian menjawab kalau memang benar ada keributan saat itu. Tapi bukan keributan yang berhubungan dengan lamaran Seul Ah. 

“Ada wanita yang mual setelah makan masakan Kim Jung Hoon... lalu wanita itu marah. Muncul ruam setelah dia makan pasta seafood... sehingga tak jadi wawancara kerja. Dia ingin kompensasi dan melempar steak ke wajah Kim Jung Hoon. Piringnya tumpah dan berantakan,” jelas Soo Hyuk dengan berapi-api agar semuanya percaya pada ceritanya. Dia meyakinkan atasannya kalau wanita itu tidak ada hubungannya dengan Seul Ah dan untungnya si atasan percaya.

Kita diperlihatkan kembali pada hotel tempat Jung Hoon melamar Seul Ah. Ternyata hotel itu sekarang digunakan untuk acara pernikahan Ae Ran dan Dong Bae. Mi Mo dan kedua temannya secara kompak memakai gaun berwarna pink. 


Dong Mi sepertinya sudah membaca sms dari pria penjual oven dan dia memaafkannya karena sekarang dia sedang sibuk bersms ria dengan pria itu. Da Jung lalu bertanya pada Mi Mo, apa dia baik-baik saja? (harus datang ke hotel dimana mantan pacarnya bekerja)

“Hatiku sangat kuat, hal ini takkan membuatku iri,” jawab Mi Mo.

Beralih lagi pada Dong Mi yang sedang asik dengan dunianya sendiri. Pria penjual oven itu, sepertinya adalah perayu yang handal. Dia bahkan mengatakan kalau Dong Mi lebih cantik dari pengantin wanitanya. Tentu saja mendapat pujian itu, membuat Dong Mi merasa senang. 


Ae Ran dan Dong Bae sudah mengucap janji. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan beberapa wanita dengan gaun hitam bermunculan. Euuum.... ternyata semua wanita itu adalah mantan Dong Bae. Melihat semua wanita itu, tentu saja Ae Ran merasa kesal pada Dong Bae. 


Setelah upacara selesai, Mi Mo bertanya pada Ae Ran, apa dia harus mengurus wanita-wanita itu untuk Ae Ran. 

“Jangan buat keributan, memalukan,” jawab Ae Ran dan Mi Mo mengerti.

Para wanita bergaun hitam itu, satu per satu memberi selamat pada Dong Bae. Dan saat itulah, Ae Ran memperlihatkan rasa kesalnya pada Dong Bae, dia mencengkram kencang lengan Dong Bae. Melihat apa yang terjadi pada pernikahan Ae Ran, Dong Mi pun mengaku pada Mi Mo kalau dia tak mau menangkap buket bunganya, dia mau Mi Mo saja yang menangkapnya. 

“Kemarin kau menginginkannya kan? Kau harus menangkapnya,”ucap Mi Mo yang merasa kalau setelah Ae Ran adalah giliran Dong Mi yang menikah. 

“Aku merasa, buket itu ada kutukannya. Kau pernah menikah jadi tidak apa-apa,” jawab Dong Mi. 


Sesi foto dilakukan, namun dalam semua jepretan kamera, tak ada satupun senyuman yang diberikan oleh Ae Ran. Setelah sesi foto, sekarang saatnya menangkap buket bunga, karena permintaan Dong Mi, akhirnya Mi Mo lah yang menangkap buket bunga dari Ae Ran. 

Para wanita itu... datang untuk merusak pernikahan. Dong Mi tak ingin menangkap buketnya, jadi kutangkap dengan satu tangan,” ucap Mi Mo dalam hati.


Soo Hyuk pergi ke restoran tempat Jung Hoon bekerja. Dia memesan pasta vongole dan jus anggur pada pelayan restoran. Saat pelayan bertanya apa ada yang lain yang ingin Soo Hyuk minta, Soo Hyuk dengan cepat menjawab, “Kalau ada, mau memberitahuku?”

“Apa?” tanya si pelayan tak mengerti.

Soo Hyuk lalu berbisik menanyakan apa ada reporter yang sering datang ke restoran ini. Awalnya si pelayan menjawab tidak, tapi setelah Soo Hyuk berkata kalau dia tidak akan bertanya tentang gosip, si pelayan itu pun jadi mau membuka mulutnya.


Si pelayan menunjuk ke arah seorang pria yang sedang duduk sendirian. “Sudah seminggu dia kemari. Dia menghujani kami dengan pertanyaan. Tapi kami tidak bodoh. Mana mungkin kami cerita, kalau yang digosipkan saja diam? Dia gigih sekali,” ucap pelayan itu.

“Kalau begitu, aku buang-buang waktu disini? Takkan ada yang mau cerita padaku,” ucap Soo Hyuk dan sipelayan membenarkan. Dia kemudian pergi meninggalkan Soo Hyuk sendiri.


Di kamar, Ae Ran marah besar pada Dong Bae. Dia melempari Dong Bae dengan barang-barang. Dia bahkan menutut kalau seharusnya Dong Bae berlutut padanya atas semua kesalahan yang sudah dia perbuat di hari pernikahan mereka. 

“Kenapa aku harus berlutut? Aku tak salah apa-apa,” jawab Dong Bae santai dan menambahkan kalau dia sudah putus dengan mereka semua, walau putusnya belum lama.

“Kapan itu?” tanya Ae Ran.

“Euum..... bulan lalu, minggu lalu dan dua hari yang lalu... dan kemarin,” jawab Dong Bae.

“Lalu kenapa ingin menikah denganku? Kenapa bersikeras? Ingin aku menderita?” tanya Ae Ran.

“Aku lelah mendengar keluargaku memaksaku menikah. Aku juga lelah dipandang sebagai playboy... atau seorang pria bermasalah. Aku menggunakanmu sebagai pelindung,”ungkap Dong Bae santai.

“Hei, Bang Dong Bae...”


“Orang seperti kita... bisa saling mengenali... Aku tahu kau takkan puas dengan satu suami. Kau bilang kau punya gairah yang besar di hatimu. Mari kita saling melindungi. Setelah pernikahan ini... mari kita bersenang-senang. Tak keberatan kan?” tanya Dong Bae.

“Tak keberatan? Kau ini benar-benar hina!” teriak Ae Ran kesal.


Mi Mo dan kedua sahabatnya menguping pertengkaran Ae Ran dan suami dari balik pintu.  Mendengar itu, Mi Mo jadi khawatir kalau sampai mereka berdua nanti jadi bunuh-bunuhan. Beda dengan Dong Mi yang menilai mereka berdua punya gairah sama-sama besar. Dong Mi pun jadi memuji suami Da Jung yang tahan tinggal bersama Da Jung selama 7 tahun tanpa tidur bersama. 

“Hei, dia yang selama ini selalu minta cerai,” ralat Mi Mo.

“Hmm....” Dong Mi menggelengkan kepalanya. “Aku yakin kesabarannya habis... menunggu istrinya selama ini,” tambah Dong Mi blak-blakan. Ia minta Da Jung untuk menang di persidangan dan tidak melepaskan suami seperti Kim Gun Hak, karena menurut Dong Mi, pria seperti dia pantas untuk dipertahankan. 

Dari dalam kamar, terdengar kembali suara guci pecah. Da Jung pun mengajak kedua temannya pergi karena Ae Ran sudah menikah dan dia pasti bisa mencari solusi sendiri atas masalahnya. 

“Saat Ae Ran datang sambil menangis, kita akan memeluknya. Cuma itu tugas kita,” ujar Da Jung dan berjalan pergi. Dong Mi berkata uang yang dikeluarkan untuk bulan madu di Maladewa akan sia-sia karena pernikahan mereka sudah hancur di awal pernikahan. 

Karena kedua temannya pergi, Mi Mo pun ikut pergi meninggalkan Ae Ran dan suaminya. Namun Mi Mo tak pulang bersama kedua temannya, karena dia mau menemui Chun Gi dulu. Dia adalah mata-mata Mi Mo saat Mi Mo masih pacaran Jung Hoon. Dong Mi menyarankan agar Mi Mo menemui Chun Gi nanti saja, karena sangat bahaya jika dia menemui Chun Gi di restoran Jung Hoon. 

“Aku tidak perduli, bagiku kunyuk itu bukan siapa-siapa,” ucap Mi Mo dan pergi. 

Soo Hyuk baru selesai makan dan tanpa dia sadari, Mi Mo datang ke restoran itu juga. Mi Mo mencari Chun Gi tapi staf restoran menjawab kalau Chun Gi sedang cuti hari ini.  


Karena Chun Gi tak ada, Mi Mo pun hendak pergi namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Orang yang menariknya adalah Jung Hoon. Dengan kasar dan ekspresi marah Jung Hoon membawa Mi Mo ke tempat yang lebih sepi. 

“Kau mau terus menggangguku? Kenapa kemari?” tanya Jung Hoon marah.

“Apa?”

“Wartawan itu sudah membuatku emosi. Kau kemari mau menambah masalah?”

“Bicara apa kau? Jelaskan padaku,” pinta Mi Mo yang tak mengerti dengan maksud ucapan Jung Hoon.


“Tak ada waktu menjelaskannya. Jangan pernah kemari lagi. Pergi dari hidupku!” teriak Mi Mo dan tepat disaat itu Soo Hyuk keluar restoran. Dia mendengar suara Mi Mo berteriak pada Jung Hoon.



“Hei, Kim Jung Hoon! Apa hotel ini punyamu?” teriak Mi Mo dan Jung Hoon langsung menutup mulut Mi Mo karena takut ada yang mendengar. Namun Mi Mo melepaskannya, “Apa hakmu melarangku kemari? Apa kau tak tahu kalau kau ini cuma koki?”

Jung Hoon terpancing emosi dan hampir menampar Mi Mo. Dia minta agar Mi Mo menuruti kata-katanya. Namun Mi Mo yang tak tahu dengan kondisi yang terjadi sekarang, hanya bisa mengungkapkan perasaannya yang semakin membenci Jung Hoon. Dia mengaku kalau dia sudah menyia-nyiakan hidupnya selama 2 tahun saat pacaran dengan Jung Hoon. 


“Aku juga menyesal, karena itu. Sebaiknya kita tidak bertemu lagi selama-lamanya, Pergi sana!" ucap Jung Hoon dan pergi.


Mi Mo yang sudah merasa dipuncak emosi langsung berteriak, “Hei, Kim Jung Hoon!” dan .. pletak! Mi Mo melempar sepatunya pada Jung Hoon. Dengan hanya mengenakan satu sepatu, Mi Mo berjalan menghampiri Jung Hoon dan hendak menendangnya. Namun dihalangi oleh Soo Hyuk yang tiba-tiba menarik dan memeluk Mi Mo. 


“Teman, tak kusangka akan bertemu disini!” teriak Soo Hyuk dan memberi kode pada Jung Hoon agar dia pergi, sebab ada wartawan yang melihat mereka. Soo Hyuk terus mendekap Mi Mo agar tak bergerak dan berkata apapun.

Mi Mo keluar hotel dengan perasaan marah dan malu. Soo Hyuk mengikutinya dan terus memanggil Mi Mo dengan sebutan teman.


“Kenapa paka malu segala? Kau suka kupeluk? Apa kelihatannya beda?” goda Soo Hyuk.

Mi Mo menghentikan langkahnya. “Iya! Kau kelihatan beda. Kau bipolar? Tadi pagi lupa minum obat? Kenapa kau seperti ini?” tanya Mi Mo kesal.

“Kau kira kenapa? Tentu saja karena aku menyukaimu,” jawab Soo Hyuk.

“Bicara sesukamu,” jawab Mi Mo dan berjalan menuju mobilnya di parkir. Soo Hyuk lalu melihat buket bunga yang Mi Mo bawa dan bertanya apa janda seperti Mi Mo diperbolehkan menangkap buket dari pernikahan seorang gadis, seorang janda seharusnya menangkap buket dari pernikahan janda juga. Mi MO menjawab tak masalah, toh dia juga akan menikah lagi nanti. 

“Oh iya! Aku lupa memberitahumu. Sebelum kau datang ke kantorku, periksa dulu tabunganmu. Kau butuh uang untuk menikah,” ucap Mi Mo mengingatkan Soo Hyuk. Soo Hyuk lalu menjawab kalau hanya orang tak berkompeten saja yang pergi ke biro jodoh. Mi Mo meralat kalau mereka hanya menghemat waktu mereka dan tenang mereka. 

“Apa yang tersisa dalam pernikahan kalau tanpa waktu dan usaha? Uang?” tanya Soo Hyuk dan Mi Mo meminta agar Soo Hyuk tidak menghina pekerjaannya. Karena mereka tak terlalu dekat sehingga bisa membicara hal seperti itu. 

Soo Hyuk lalu menjawab kenapa Mi Mo berkata seperti itu, “Kita sangat dekat kan?” ucap Soo Hyuk dan mengingatkan Mi Mo kalau mereka berdua sudah berciuman, berpelukan, mabuk bersama dan hampir mendaftarkan pernikahan mereka. 

“Selain itu, kau... adalah wanita pertana yang melihat ‘milikku’,” tambah Soo Hyuk dengan gaya manja.


“Apa?”

“Aku terus menolak, tapi kau melepas celanaku. Sejak saat itu, aku tak bisa tidur memikirkanmu. Tidakkah kau perlu bertanggung jawab?” tanya Soo Hyuk dan mereka kemudian mendengar suara orang tertawa.


Saat mereka menoleh, ternyata ada banyak orang yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Menyadari hal itu, tentu saja Soo Hyuk dan Mi Mo merasa malu. Soo Hyuk langsung memberikan buket bunganya pada Mi Mo dan berjalan pergi. Mi Mo sendiri langsung masuk ke dalam mobilnya. 


Dong Mi sudah ketemuan dengan pria penjual oven. Pria itu meminta maaf karena semalam sudah tak menepati janjinya. Dong Mi yang tak mau kehilangan pria seperti itu, langsung berkata kalau dia sudah memaafkannya. Pria itu kemudian memegang tangan Dong Mi dan berkata kalau hubungan mereka di mulai dari pertemuan mereka yang sekarang. 


Mi Mo sekarang sedang bersama Hae Joon dan dia menceritakan tentang Ae Ran. Setelah mendengar ceritanya, Hae Joon berkata kalau Mi Mo tidak perlu khawatir dengan Ae Ran. Hae Joon berpendapat kalau Ae Ran beruntung mengetahui belang suaminya dia awal pernikahan. 


“Peluk saja dia kalau dia datang sambil menangis,” tambah Hae Joon. Mi Mo mengakui kalau salah satu temannya juga berpendapat seperti Hae Joon. Temannya juga bersifat tenang seperti Hae Joon. Orang yang dimaksud Mi Mo adalah Da Jung.

Membahas tentang pelukan, Mi Mo bertanya kalau dia memeluk temannya, siapa yang akan memeluk dirinya. Hehhe itu kode agar dia nanti mendapat pelukan dari Hae Joon. 

Hae Joon menjawab kalau dia sudah melewatkan tahapan yang penting. Dia kemudian mengambil tas yang ada di tangan Mi Mo dan menggandeng tangan gadis itu.



Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 5 - 2

1 comment :

  1. Aduuuuhhh senyumnyaaa hae joon gak nahan...sumpah deeehh bikin melt aja....^^

    ReplyDelete