February 4, 2016

One More Happy Ending Episode 4 - 2

One More Happy Ending Episode 4 - 2


Da Jung menjemput anaknya, Tae Yong, di sekolah. Tae Yong terlihat tak terlalu suka dijemput oleh sang ibu. Dia bahkan tak menjawab sedikitpun pertanyaan yang ibunya lontarkan. Melihat Tae Yong tak menjawab semua pertanyaannya, tentu saja membuat Da Jung sedih. 



Dong Mi masih berada di dalam kelasnya dan dia masih berusaha menghubungi pria penjual oven. Karena sms pertamanya yang menanyakan buku panduan oven tidak dibalas, Dong Mi pun mengiriminya sms lagi yang berisi, “Sepertinya kau sibuk. Kemarin aku coba ovennya untuk pertama kali. Sepertinya aku salah pencet, ovennya mengeluarkan bunyi aneh. Kira-kira bunyi apa itu?”

Setelah mengirim pesan itu, tiba-tiba Dong Mi histeris dan langsung keluar dari chat. Tak lama kemudian muncul sms balasan dari si pria penjual oven. 

“Oven itu kadang tak bekerja. Aku harus mengatakan yang sesungguhnya. Maaf, bagamana kalau kita makan malam?” begitu isi sms dari si pria penjual oven dan Dong Mi langsung berteriak senang setelah membacanya. 


Kita beralih pada Mi Mo yang sedang berada di supermarket. Dia hendak membeli bahan makanan untuk membuat makanan kesukaan Hae Joon. Tapi karena tidak tahu apa makanan kesukaan Hae Joon, maka Mi Mo menanyakan langsung padanya. Di tanya seperti itu, Hae Joon langsung menyebut nama makanan yang terlintas di pikirannya. 


Pulang dari belanja, Mi Mo melihat Min Woo sedang duduk di depan pintu rumahnya. Karena baru kali itu dia bertemu dengan Min Woo, Mi Mo pun menghampirinya dan bertanya dia siapa. Min Woo hanya menjawab kalau dia adalah penghuni kamar nomor 1502. 

“Kenapa duduk disini?” tanya Mi Mo dan Min Woo menjawab kalau baterai kunci pintunya habis jadi dia tak bisa membuka pintu rumahnya. Mendengar itu Mi Mo langsung menyuruh Min Woo mengganti baterainya, namun baterainya tidak bisa diganti kalau tidak dari dalam rumah. 

Mi Mo kemudian memberikan uang dan menyuruh Min Woo membeli baterai di mini market terdekat, karena masalah tidak akan selesai kalau Min Woo hanya duduk saja. Min Woo pun menerima uang dari Mi Mi.

Karena sudah terbiasa hidup sendiri dan menghadapi masalah sendiri, Mi Mo kemudian mengajarkan cara membuka pintu saat baterai habis, yaitu dengan cara menekan tombolnya lama-lama. Mengetahui cara itu, Min Woo pun beralasan kalau selama ini ayahnya selalu memanjakannya, jadi dia tak pernah melakukan hal seperti itu. 

“Ayah? Jadi pria yang tinggal disini... “

“Iya, pria tampan yang tinggal disini adalah ayahku,” jawab Min Woo dengan bangga dan Mi Mo akhirnya tahu kalau Soo Hyuk sudah punya anak berusia 13 tahun. Mendengar cara bicara Min Woo, Mi Mo pun berkomentar kalau cara bicaranya sangat mirip dengan Soo Hyuk. 

“Lalu ibumu? Tidak tinggal disini?” tanya Mi Mo penasaran.

“Baru bertemu sudah banyak tanya,” jawab Min Woo.

“Oh maaf. Aku tahu kita baru bertemu, tapi... noona ini dulu teman sekolah ayahmu.”

“Noona?” tanya Min Woo tak percaya.

“Panggil aku noona.”

“Eiiih.... mana mungkin aku boleh melakukannya? Ahjumma, kalau kau kupanggil noona, apa ayahku harus kupanggil hyung?” ucap Min Woo dan pernyataannya itu berhasil membuat Mi Mo kesal di hari pertama mereka bertemu. Dan Mi Mo bergumam kalau lagi-lagi Min Woo sangat mirip dengan Soo Hyuk, sama-sama ngeselin.

Setelah beberapa menit tombol pintu di tekan, akhirnya pintu mau terbuka. Dengan bangga Mi Mo berkata kalau dia sudah hidup sendiri selama 5 tahun, jadi semuanya bisa dia lakukan sendiri, termasuk menyedot toilet mampet. 

“Boleh aku minta bantuan jika hal seperti itu terjadi, ahjumma?” tanya Min Woo.

“Jangan panggil aku ahjumma,” tukas Mi Mo kesal dan tepat disaat itu A Ni muncul. Dengan spontan Min Woo langsung memanggil A Ni dengan panggilan “Noona”.  


Melihat A Ni, Mi Mo langsung ingat kalau A Ni adalah reporter dari Masspunch yang sudah mewawancarainya. Dia pun bisa menebak kalau kedatangan A Ni ke gedung apartemennya, karena ingin ke rumah Soo Hyuk. A Ni dan Soo Hyuk adalah teman di tempat kerja.

Membahas tentang artikel yang A Ni tulis tentang dirinya, dia berterima kasih pada A Ni karena A Ni sudah memasang foto yang bagus. Sebelum pergi, Mi Mo mengajak A Ni makan bersama kapan-kapan.

Mi Mo masuk rumah dan ketika di dalam rumah, Mi Mo mulai mendumel karena Min Woo tidak mau memanggilnya noona, padahal umur antara Mi Mo dan A Ni tidak terlalu jauh. Ia menyebut kalau Min Woo anak yang aneh.


A Ni datang ke rumah Soo Hyuk dengan membawa bahan makanan. Setelah meletakkan semua bahan itu di meja, A Ni langsung mengaku pada Min Woo kalau Soo Hyuk sudah menolaknya. Walaupun dia sudah mengikuti saran Min Woo, yang menyuruhnya untuk mengenakan celana pendek, A Ni tetap ditolak. 

Min Woo meminta A Ni memberikan waktu lagi pada ayahnya. Dia menduga ayahnya pasti merasa kaget dengan pengakuan A Ni setelah 13 tahun menjomblo. Min Woo minta agar A Ni terus mendekati ayahnya dan membuat ayahnya berpikir kalau A Ni selalu ada untuknya. 

A Ni terlihat lemas dan duduk. Dia mengaku kalau dia sudah merasa lelah. Min Woo hanya bisa menyemangatinya dan berjanji akan menjadi anak yang baik jika A Ni nanti menjadi ibunya.


Orang yang sedang A Ni dan Min Woo bicarakan, sekarang sedang melakukan pekerjaannya sebagai reporter gosip selebriti bersama Na Hyun Ki. Kali ini dia sedang menguntit pasangan selebriti yang diam-diam sedang berkencan. Namun tak seperti biasanya, Soo Hyuk tak bisa fokus pada pekerjaannya. Dia terus teringat saat Hae Joon memeluk Mi Mo. 

Karena mereka ingin mendapatkan gambar yang lebih banyak, Soo Hyuk pun menyuruh Hyun Ki untuk mengambil gambar mobil si selebriti. Saat mengambil gambar, Hyun Ki memuji mobil sport milik selebriti itu, yang memang sangat bagus. Mendengar hal itu, Soo Hyuk menjawab kalau selebriti pasti mendapat diskon untuk membeli mobil sport seperti itu. 


Hyun Ki berkata saat dia seumuran si selebriti itu, dia sedang giat-giatnya belajar di perpus untuk mendapatkan nilai 900 di TOEIC. Sedangkan kalau Soo Hyik pasti sedang sibuk mengurus anak.  Mendengar pengakuan Soo Hyuk, Hyun Ki langsung mengacunginya jempol dan berkata kalau dia sangat menghormati Soo Hyuk, karena Soo Hyuk merawat anaknya seorang diri. 

“Sekarang ini aku lebih senang bekerja. Aku benci kalau pulang cepat. Anak menangis, istri menangis, akhirnya aku ikutan. Kuharap aku bisa melewati bagian ini dan langsung lompat saat anakku sudah besar. Paling tidak, saat dia lahir umurnya sudah 20 tahun,” aku Hyun Ki yang berharap pada pengharapan yang tidak masuk akal.

“Kuharap juga begitu,” jawab Soo Hyuk dan mengajak Hyun Ki pergi. Hyun Ki mengaku kalau kehidupannya tiba-tiba berubah setelah istrinya dulu mengajaknya kencan. Hyun Ki menjelaskan kalau dulu istrinya menembak dia dalam keadaan mabuk. Dan pada saat itu, Hyun Ki tak menerima sang istri, dia malah menyuruhnya pulang ke rumah.

Tapi setelah kejadian itu, pandangan Hyun Ki pada istrinya mulai berubah, dia jadi merasa suka pada wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Hyun Ki juga menambahkan pendapatnya tentang sebuah hubungan. Dia berpendapat bahwa pernyataan cinta bisa meninggalkan bekas di hati seseorang. Karena orang yang berani mengungkapkan perasaan mereka dan jika mereka berhasil maka hal itu akan menjadi sebuah hubungan. Namun Soo Hyuk tak bisa langsung percaya pada apa yang Hyun Ki katakan.

“Kekuatan dari menyatakan cinta lebih hebat dari pada yang kau pikirkan,” ucap Hyun Ki dan berjalan pergi.


Soo Hyuk pulang, namun dia tak langsung masuk ke dalam rumah. Dia malah mampir terlebih dahulu ke rumah Mi Mo, karena teringat pada kata-kata Mi Mo yang berkata kalau dia jatuh cinta pada teman Soo Hyuk.

Mi Mo membukakan pintu dengan masih menggunakan celemek. Saat melihat Soo Hyuk, Mi Mo membolehkannya masuk kalau dia mau minta maaf atas ucapannya tadi pagi, tapi kalau Soo Hyuk tak mau minta maaf, Mi Mo menyuruhnya pergi saja.

“Kaulah yang harus minta maaf. Kau yang menurunkanku di tengah jalan,” jawab Soo Hyuk dan langsung nyelonong masuk ke rumah Mi Mo. Mendengar penolakan Soo Hyuk untuk minta maaf dan malah menyalahkan dirinya, Mi Mo pun menjawab kalau dia tak bisa menyetir kalau anjingnya (Soo Hyuk) terus menggonggong.

Saat melihat bahan-bahan makanan di dapur Mi Mo yang begitu banyaknya, Soo Hyuk bertanya apa ada yang ulang tahun. Dengan bangga Mi Mo menjawab kalau dia sedang membuat “gujolpan” untuk Hae Joon. Tentu saja mendengar hal itu Soo Hyuk langsung merasa tak senang, apalagi Mi Mo menyebut Hae Joon dengan sebutan “sayangku”. 

Melihat bahan makanan yang Mi Mo beli adalah bahan makanan khusus yang punya harga mahal, Soo Hyuk pun menyindir, apa Mi Mo mau memasakkan seorang raja?

“Raja apanya? Dia pangeran tampan,” jawab Mi Mo berbunga-bunga.

“Kenapa kau gampangan sekali? Dia bilang akan mencoba hubungan ini, kau langsung memasakkannya,” tanya Soo Hyuk kesal.

“Ommo, ommo… dia tidak bilang mencoba. Dia memutuskan untuk jadian denganku,” jawab Mi Mo. Soo Hyuk mencoba menasehati Mi Mo untuk tidak terlalu baik pada Hae Joon, karena bisa membuat Hae Joon cepat bosan. Dia juga menambahkan kalau Hae Joon selalu menerima banyak perhatian dari perempuan, jadi hal-hal seperti yang Mi Mo lakukan sekarang, tidak akan menggetarkan hati Hae Joon. 


“Ini untuk kepuasanku,” jawab Mi Mo dan memberitahu Soo Hyuk kalau seperti itulah dirinya. “Ketika menyukai seseorang aku akan mengungkapkannya. Ketika mencintai seseorang, akan kuberikan segalanya. Aku pernah berpikir jatuh cinta itu suatu kekalahan. Tapi itu tidak benar. Sekarang mencintai seseorang itu adalah kemenangan. Dengan begitu kau tak akan menyesal, saat hubunganmu berakhir. Entah akan jadi akhir menyedihkan atau bahagia. Kita lihat saja nanti dan…,” Mi Mo diam sejenak dan Soo Hyuk menunggu kelanjutan ucapan Mi Mo. “Cicipilah setelah ini selesai, dia pasti menyukainya kan,” pinta Mi Mo.

“Ogah! Kau kira aku pembantunya?!” teriak Soo Hyuk dan mengacaukan masakan Mi Mo kemudian dia keluar dari rumah Mi Mo. 

Di rumah, Soo Hyuk langsung disambut oleh Min Woo dan A Ni. Melihat A Ni, Soo Hyuk pun bertanya kenapa dia ada dirumahnya, padahal A Ni bilang sedang sakit. 

“Jadi kau tahu. Harusnya jenguklah aku,” ucap A Ni saat mengetahui kalau Soo Hyuk tau tentang izin sakitnya. Karena Soo Hyuk sudah pulang, A Ni mengajaknya untuk makan bersama dengan Min Woo. Selesai makan Min Woo sengaja meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol. 


A Ni bertanya apa tak ada tempat lagi untuk dirinya di hati Soo Hyuk dan Soo Hyuk mengaku kalau ada tempat untuk A Ni, namun dia tak mau memberi harapan palsu pada A Ni.


“Saat aku bertemu wanita lain yang menempati hatiku. Aku akan meninggalkanmu,” jawab Soo Hyuk dengan jujur. Ia merasa kalau hubungan seperti sekarang inilah yang terbaik untuk mereka.

A Ni tiba-tiba bertanya apa Soo Hyuk menyukai seorang pria. Mendengar itu, Soo Hyuk reflek menyemburkan minumannya.

“Bagaimana kau bisa tetap sendiri selama 13 tahun? Aku tidak bisa mengerti,” tanya A Ni dan Soo Hyuk menjawab kalau semua itu karena dia belum menemukan wanita yang tepat. Mendengar hal itu, A Ni bergumam kalau sangat melelahkan sekali perasaan bersalah itu.

Euuum, masih belum tahu apa maksud dari perasaan bersalah, apa hal itu ada hubungannya dengan istri Soo Hyuk? Lanjut aja dah sinopsisnya untuk cari jawaban.


Tiga sahabat kembali berkumpul. Kali ini Mi Mo dan Dong Mi sedang merasa gugup karena sebentar lagi mereka akan mengetahui hasil pemeriksaan mereka. Mereka membuka hasil pemeriksaan milik mereka masing-masing secara bersamaan. Ternyata yang membuat mereka penasaran adalah hasil tes usia rahim mereka. Milik Mi Mo dideteksi berusia 29 tahun sedangkan milik Dong Mi 35 tahun. 

“Rahimku masih 20-an,” ucap Mi Mo girang. “Inikah rasanya jadi orang terpintar sedunia? Tidak, aku lebih bahagia dari itu,” tambah Mi Mo.

“Jadi tua saja sudah menyedihkan, kenapa memberi usia rahim segala? Lalu kenapa usianya lebih tua setahun?” keluh Dong Mi dan memakan kertas hasil pemeriksaan. Mi Mo kemudian menyarankan pada sahabatnya itu untuk merawat rahimnya dengan cara makan gingseng merah dan ikut yoga. 

Mi Mo beralih pada Da Jung dan bertanya apa hasil pemeriksaan miliknya belum keluar. Da Jung menjawab sudah dan dia juga sudah melihatnya. Karena Da Jung tak membawa hasil pemeriksaannya untuk diperlihatkan pada mereka, Dong Mi pun bertanya apa usia rahim Da Jung lebih tua dari milik Dong Mi, sehingga membuat Da Jung malu membawanya. 

“Kau takjub karena punyamu masih 20-an dan kau marah karena punyamu lebih tua. Aku hanya tak ingin seperti kalian,” jawab Da Jung dan kemudian pergi karena dia punya janji dengan orang lain. Mendengar ucapan Da Jung, Mi Mo pun bergumam kalau Da Jung sudah membuatnya jadi malu. 

“Kau memang harusnya malu. Kau senang? Kau pasti senang,” tukas Dong Mi kesal, Mi Mo menjawab memang dia sangat senang sambil meledek Dong Mi. Tentu saja hal itu tambah membuat Dong Mi kesal.  Wkwkkw mereka berdua ini memang jarang akurnya.

Da Jung pergi ke rumah sakit dan disana secara tak sengaja dia bertemu dengan Ae Ran. Ae Ran kemudian mengajak Da Jung untuk bicara berdua. 


Setelah duduk bersama di sebuah cafeteria, Ae Ran mengaku kalau hasil pemeriksaannya mengatakan kalau dia tak hamil selain itu Ae Ran juga baru saja datang bulan. Da Jung langsung bertanya tentang hasil dari alat kehamilan kemarin dan Ae Ran menjawab tidak tahu, semua itu masih menjadi sebuah misteri untuknya. Ada dua kemungkinan hal itu terjadi, pertama tester-nya rusak dan kedua karena dia terlalu stress sehingga mempengaruhi hormonnya. 

“Aku, berencana untuk menikah. Kupikir-pikir, selama ini aku egois. Aku membatalkan pernikahan dengan pria normal yang sempurna. Saat mengira aku hamil, aku jadi lebih kepikiran. Aku terlalu banyak memikirkan tentang hatiku,”ungkap Ae Ran.

Da Jung meraih tangan Ae Ran dan meminta maaf, karena kemarin dia tak menghibur Ae Ran dengan baik. Ae Ran tak mempermasalahkannya dan dia juga mengaku salah. Dia menceritakan kalau dia dan Dong Bae akan hidup bersama selama setahun, untuk memberikan kesempatan untuk mereka berdua saling mengenal. Mendengar pemikiran Ae Ran itu, Da Jung mendukungnya dan berharap agar mereka bisa menjadi keluarga yang selalu mesra.


Ae Ran kemudian bertanya kenapa Da Jung datang ke rumah sakit. Kita tak mendengar jawaban Da Jung dan malah dialihkan pada Da Jung yang berada di ruangan Yeon Soo. Yeon Soo menjelaskan kalau mereka harus melakukan biopsi untuk mengetahui dengan jelas akan sesuatu yang tumbuh di tubuh Da Jung. Saat Da Jung bertanya  kenapa penyakit itu bisa timbul tiba-tiba, Yeon Soo hanya menjawab kalau penyakit memang bisa timbul kapan saja dan yang harus Da Jung lakukan sekarang hanyalah pengobatan. 

Mendengar kata pengobatan, Da Jung terlihat sedih. Saat berjalan kaki, Da Jung terus teringat pada apa yang Yeon Soo katakan padanya. Yeon Soo mengatakan kalau ada kemungkinan payudara Da Jung harus diangkat. 



Kita beralih pada Soo Hyuk yang mendatangi makan Ahn Soon Soo. Ahn Soon Soo adalah istri Soo Hyuk dan juga ibu Min Woo. Ternyata Soo Hyuk bukan duda cerai tapi duda yang ditinggal mati istrinya. Saat Soo Hyuk melihat foto Soon Soo, dia teringat kembali pada ucapan A Ni yang berkata, “Melelahkan, rasa bersalah itu.”



Flashback

Hae Joon sedang  berada di bangku taman kampus dan dia membaca surat dari Soo Hyuk, yang saat itu masih tinggal di Amerika. Dan isi surat Soo Hyuk adalah:

Dia sudah baikan. Bayi dengan mata, hidung dan mulut kecil ini…. tertawa saat melihatku. Syukurlah aku mendengarkanmu dan datang kemari. Tapi aku akan kembali ke Korea. Aku ingin membesarkan anak dimana Soon Soo berada. Tunggu aku, aku segera tiba.

Selain surat, Soo Hyuk juga mengirim foto dirinya bersama Min Woo kecil. Dan Hae Joon tersenyum senang melihatnya. 

Tepat disaat itu, teman Hae Joon datang dan membawa roti angels. Saat membuka bungkus rotinya, dia terus berharap akan mendapat stiker Koo Seul Ah, namun sayang yang didapatnya malah stiker Mi Mo. Dengan penuh rasa kecewa, teman Hae Joon langsung membuang stiker bergambar Mi Mo tersebut. Dia mengaku pada Hae Joon kalau dia sangat ingin belum mendapatkan stiker Seul Ah dengan pose kissing, dia baru punya pose kedipan, hati, tembakan cinta dan puing-puing.

“Apa bisa dapat roti gratis kalau punya kelima posenya?” tanya Hae Joon.

“Beraninya kau samakan kelima stiker itu dengan sebuah roti?”

“Lalu?”


“Tentu untuk disimpan. Kau harus beli sekitar 100 roti supanya koleksimu lengkap. Mereka ini edisi khusus,” jawab teman Hae Joon. Hae Joon pun langsung menyarankan agar temannya itu membeli gambarnya saja. Temannya menjawab kalau rasanya tak akan sama lagi. Dia pergi meninggalkan Hae Joon sendirian karena dia ingin menelpon seseorang.  Saat sendirian, Hae Joon diam-diam mengambil stiker dengan gambar Mi Mo dan menyimpannya.

Flashback End


Mi Mo membawa makanan yang berhasil dia masak ke rumah sakit agar Hae Joon bisa menikmatinya. Melihat Mi Mo benar-benar membuat “gujolpan” Hae Joon langsung terkejut dan mengaku kalau kemarin dia hanya asal bicara. Mi Mo lalu mengaku kalau dia sudah dibutakan oleh cinta sehingga apapun yang Hae Joon katakan akan dia anggap serius. 

Mi Mo juga mengeluh kalau dia merasa lelah setelah memasak untuk Hae Joon, mendengar itu Hae Joon tahu maksud Mi Mo dan diapun langsung bertanya apa Mi Mo ingin sesuatu dari dirinya. 

“Sudah kuduga, kau sangat tegas dalam hal memberi dan menerima. Ummm….. aku ingin… kau memelukku erat seperti waktu itu,” jawab Mi Mo blak-blakan.

“Sebanyak yang kau mau,” jawab Hae Joon dan mulai memakan masakan Mi Mo. Baru satu suap dia memakan makananya dan dia langsung hampir tesedak gara-gara Mi Mo membahas tentang anak. Dengan bangga Mi Mo memberitahu Hae Joon kalau dia masih bisa punya anak. 

Melihat ekspresi Hae Joon yang terlihat kaget, Mi Mo pun bertanya apa selama ini Hae Joon tak pernah kepikiran untuk mempunyai anak. 

“Meski tidak mungkin, keajaiban bisa terjadi…. Jika kau sangat menginginkannya, dan meski kau yakin… belum tentu keinginanmu akan terwujud. Hal itu diluar control kita. Yang terpenting adalah… Jangan hanya fokuskan kebahagiaanmu pada hal itu,” jawab Hae Joon dan melanjutkan makannya.

“Bahkan pemikiran pria ini sangat seksi,” ucap Mi Mo dalam hati dan bertanya apa Hae Joon punya kelemahan, karena di matanya Hae Joon sangat sempurna. 

Dong Mi sudah berada di restoran mewah untuk menunggu pria penjual oven. Dia terlihat begitu bahagia, sampai-sampai dia memakai make-up. Dia mengirim sms yang memberitahukan kalau dia sudah ada di tempat janjian dan si pria menjawab kalau dia masih di jalan dan sebentar lagi sampai. 30 menit kemudian, Dong Mi mengirim sms lagi dan bertanya apa si pria masih di jalan dan si pria menjawab kalau dia sudah di parkiran. 

Dua  jam kemudian dan si pria masih belum sampai, padahal tadi dia bilang sudah di parkiran. Dong Mi akhirnya memutuskan untuk menelpon, namun teleponnya di-reject. Tentu saja hal itu membuat Dong Mi kesal.

Da Jung pergi ke sebuah apartemen dengan nomor 304 dan setelah dia memencet bel, Mi Mo keluar dengan kostum sapinya. Mi Mo juga sudah menyiapkan kostum untuk Da Jung, karena malam ini mereka akan mengadakan pesta lajang. Da Jung protes karena harus menggunakan kostum kekanak-kanakkan. Mendengar itu Mi Mo langsung menawari Da Jung untuk menggunakan kostum sapi miliknya yang punya gambar seksi di dalamnya. Tentu saja Da Jung tak mau.


Tepat disaat itu Dong Mi muncul dengan wajah yang hancur. Make-up yang Dong Mi pakai semua luntur gara-gara air matanya. 


Setelah memakai kostum jerapah dan wajah yang sudah bersih, Dong Mi ikut bergabung dengan teman-temannya. Namun emosinya sudah tak bisa dibendung lagi. Dia terus mengumpat pria penjual oven.

“Apa dia sedang memperingatkanku untuk tidak mendekatinya? Harusnya dia bicara yang jelas. Tinggal bilang, ‘jangan hubungi aku, berhenti menggangguku’ kenapa mengajak makan malam segala? Dia tak perlu membuatku seperti ini,” ucap Dong Mi dengan kesal.


Mi Mo meracik minuman dan memberikannya pada Dong Mi, namun langsung di tolak oleh Dong Mi karena dia tak suka dengan minuman yang dicampur. Di tolak dengan teriakan seperti itu membuat Mi Mo terkejut dan secara reflek langsung meminumnya sendiri. Dong Mi mengaku kalau dia adalah wanita yang rajin, bahkan diantara mereka berempat tak ada yang serajin dia. 

“Meski saat kita masih di Angels, kalian cuma mengandalkan wajah cantik… sementara aku latihan menyanyi hingga ternggorokkanku berdarah. Tapi apa sekarang? Olivia Hussy dari Daegwallyeong (menunjuk Mi Mo), satu dari tiga wanita seksi dari Gumi (menunjuk Ae Ran) dan wanita cantik di Sekolah (menunjuk Da Jung). Sementara aku?” ungkap Dong Mi dan iapun menangis. Da Jung langsung menghiburnya dengan mengatakan kalau di antara mereka berempat, pekerjaan Dong Mi-lah yang paling bagus. Profesi guru SD adalah yang paling keren dan pendapat Da Jung itu langsung diiyakan oleh Mi Mo dan Ae Ran. 

“Aku tak butuh yang lain! Aku akan jadi nakal mulai sekarang. Aku akan menyia-nyiakan hidupku,” ucap Dong Mi. Dia lalu menjatuhkan kepalanya ke sofa dan menangis.

“Setelah kau baikan, sekarang Dong Mi yang gila,” kata Mi Mo pada Ae Ran.


Kita kemudian beralih pada Soo Hyuk yang minum bersama Hae Joon. Sambil terus melihat ke arah Hae Joon, Soo Hyuk bertanya apa sekarang lagi musim pacaran karena semua orang pacaran. Hae Joon menjawab kalau semua itu bukan karena musim, tapi karena orang jatuh cinta disaat ada kesempatan.

Soo Hyuk bergumam kalau dia juga sudah merasa lelah, jadi dia penasaran dengan siapa dia nanti akan pacaran. Mendengar hal itu, Hae Joon langsung berkata kalau sebentar lagi Soo Hyuk akan pacaran juga. 

“Menurutmu begitu? Orang lain begitu gampangnya pacaran. Tapi sangat sulit bagiku. Sulit sekali…. untuk melangkah maju,” ungkap Soo Hyuk dan Hae Joon menjawab kalau untuk orang lain semua itu juga susah, tapi mereka bisa mengumpulkan keberaniannya.


Mi Mo pulang dan saat keluar dari lift, dia terkejut melihat Soo Hyuk tertidur di depan rumahnya. Sebenarnya Soo Hyuk tidak tidur, dia hanya terlalu banyak minum hingga jadi seperti itu. Mi Mo langsung menghampirinya dan berusaha membangunkannya.

Soo Hyuk membuka matanya dan menyebut Mi Mo dengan sebutan “Ikan mas labil”. Tentu saja Mi Mo tak terima dengan sebutan itu.

“Kau itu labil. Satu hari, kau mencium pria dan besoknya kau memeluk pria lain. Kau sangat labil," ungkap Soo Hyuk.

“Bicara apa kau? Kau tahu, mencium dan memeluk bukanlah suatu yang labil. Keluargaku sering berciuman,” jawab Mi Mo membela diri, Ia memaksa Soo Hyuk berdiri agar bisa dibawa masuk ke dalam rumah. Tapi karena Soo Hyuk terlalu berat, maka Mi Mo terduduk lagi dan kali ini dia duduk di pangkuan Soo Hyuk.

Mi Mo hendak berdiri lagi namun ditahan oleh Soo Hyuk. 


Soo Hyuk memegang kedua pipi Mi Mo dan mendekatkan wajah mereka. 

“Aku selalu kesal tiap melihatmu,” ucap Soo Hyuk.

“Kau melihatku terlalu dekat. Jelas saja kesal. Aku kelihatan cantik kalau dilihat dari jauh,” jawab Mi Mo yang merasa tak nyaman berada di posisi seperti itu. Mi Mo hendak berdiri namun ditahan lagi oleh Soo Hyuk.

“Tak ada wanita yang membuatku kesal selama 13 tahun ini, tapi… kau terus membuatku kesal. Aku tak tahan,”

“Apa?” tanya Mi Mo tak mengerti.


“Aku tak tahan lagi,” bisik Soo Hyuk yang langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Mi Mo.

Komentar :

Akkhh... apa mereka akan kissing? 

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 5

4 comments :

  1. ending di episode ini bnr2 bikin penasaran kissing/g, mksh mba utk sinopsisnya ah pokonya ngebantu bgt buat saya krn kuota terbatas

    ReplyDelete
  2. ending di episode ini bnr2 bikin penasaran kissing/g, mksh mba utk sinopsisnya ah pokonya ngebantu bgt buat saya krn kuota terbatas

    ReplyDelete
  3. kok kayanya ada yg aneh dg hae joon saat mi mo membahas anak ya,,, apa hae joon gk mau punya anak???

    ahhhhggg... ending yg bikin penasaran.... gk ada previewnya kah???

    ReplyDelete
  4. Saiya gak sanggup nonton dramanya karena dokternya ganteng banget. Sekarang baca sinopsis ngeliat dokter sama soo hyuk masih teriak teriak :"")

    ReplyDelete