February 3, 2016

One More Happy Ending Episode 4 - 1

One More Happy Ending Episode 4 - 1


Kita kembali di waktu Soo Hyuk dan Mi Mo masih duduk di bangku SD. Soo Hyuk kecil sedang menghafal naskahnya sebagai Romeo, dan terlihat sangat senang karena akan melakukan adegan ciuman.

Di lantai bawah, ada 3 teman Mi Mo yang usil sedang melakukan rencana untuk menggagalkan adegan kissing. Mereka bahkan menyiapkan apel yang sudah dilapisi obat sakit perut. Mereka berencana memberikan apel itu kepada Soo Hyuk, agar Soo Hyuk tidak mencium Mi Mo karena sakit perut. Semua itu mereka lakukan karena salah satu dari mereka menyukai Soo Hyuk dan tak ingin melihat Soo Hyuk mencium Mi Mo. 



Siswi yang menyukai Soo Hyuk tadi langsung berjalan menghampiri Soo Hyuk. Ketika berjalan menuju Soo Hyuk, kita diperlihatkan pada wajah nenek sihirnya, sangat pas sekali dengan kostum yang dia kenakan. 


Saat ditawari apel, Soo Hyuk hendak menolaknya. Tapi karena siswi itu memaksanya, maka Soo Hyuk pun menggigit apel tersebut. Tentu saja siswi itu merasa senang melihat Soo Hyuk makan apelnya, karena rencana dia akan berhasil untuk menggagalkan adegan kissing. 


Soo Hyuk sudah berada di panggung bersama Mi Mo. Tepat disaat akan melakukan adegan kissing, perut Soo Hyuk sakit. Saking sakitnya, Soo Hyuk sampai mual dan langsung lari dari panggung. Melihat Juliet (Mi Mo) di tinggal seperti itu, para penonton langsung berkomentar kalau Romeo-ya tak sanggup mencium Juliet dan menertawainya. Tentu saja Mi Mo merasa malu diperlakukan seperti itu. 


Mi Mo terus menangis saat berjalan pulang. Perasaannya sangat terluka karena kejadian itu. Soo Hyuk yang merasa bersalah hanya bisa berjalan di belakang Mi Mo, tanpa berani menghampirinya. Sampai Mi Mo merasa gerah diikuti Soo Hyuk dan langsung berteriak padanya. 

“Jangan ikuti aku! Jangan dekati aku, tiap kali bersamamu, teman-teman mengejekku, katanya kau bakal muntah!” teriak Mi Mo dan langsung berlari pergi.

Soo Hyuk hanya bisa diam, padahal dia mengikuti Mi Mo karena dia ingin memberikan sapu tangan pada Mi Mo dan meminta maaf. 

Ia kemudian pergi ke rumah Mi Mo dengan membawa bunga. Namun dia tak berani memencet bel rumah Mi Mo. Setelah memberanikan diri untuk memencet bel, tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang hendak keluar, jadi diapun langsung kabur dan bersembunyi. 


Yang keluar adalah Mi Mo dan teman laki-lakinya. Sepertinya mereka berpacaran karena mereka berjalan pergi sambil bergandengan tangan. Soo Hyuk sendiri hanya bisa sedih melihat cewek  yang dia suka sedang berjalan dengan cowok lain.

Seperti dejavu, apa yang terjadi pada Soo Hyuk saat kecil, kini terjadi lagi. Soo Hyuk lagi-lagi melihat Mi Mo jadian dengan pria lain. 


Mi Mo bertanya apa Hae Joon menembaknya karena rasa kasihan dan Hae Joon menjawab dengan yakin kalau seorang pria tidak pernah mengajak pacaran karena merasa kasihan. Dia menembak Mi Mo karena dia tertarik pada Mi Mo.

Walaupun Hae Joon sudah mengatakan semuanya dengan jelas, Mi Mo masih merasa tak yakin dengan semuanya. Dia masih tak percaya Hae Joon menembaknya. Ingin memastikan kalau semua itu bukanlah sebuah mimpi, Mi Mo meminta Hae Joon mencubit pipinya. 


Hae Joon hendak mencubit pipi Mi Mo, namun dia mengurungkannya dan malah menarik Mi Mo ke dalam pelukannya sambil bertanya, “Apa sekarang sudah percaya?”

Soo Hyuk saat itu hendak menghampiri mereka berdua, namun langkahnya tertahan saat melihat Hae Joon memeluk Mi Mo. Mi Mo sendiri tersenyum senang dan lega dalam pelukan Hae Joon.  Kecewa dan patah hati, Soo Hyuk akhirnya berjalan pergi.


Dalam perjalanan pulang Soo Hyuk teringat kembali pada ucapan Hae Joon yang bertanya tentang perasaan Soo Hyuk pada Mi Mo, karena dia tak mau terjebak dalam cinta segitiga dengan Soo Hyuk. Saat itu, Soo Hyuk menjawab kalau dia tak punya perasaan apa-apa pada Mi Mo. Dia hanya menganggap Mi Mo sebagai teman SD. Dan sepertinya, sekarang Soo Hyuk menyesal sudah mengatakan hal itu pada Hae Joon. 


Mi Mo yang masih terus tersenyum mulai bertanya-tanya tentang sejak kapan Hae Joon menyukai dirinya. Hae Joon hanya menjawab kalau ceritanya panjang dan dia tak mau menceritakannya pada Mi Mo. Dia ingin hal itu hanya menjadi rahasianya. 

“Pokoknya semua itu terjadi begitu saja. Dengan sayap, kau datang dalam kehidupanku,” jawab Hae Joon dan kita kemudian dibawa ke masa lalu Hae Joon.


Flashback saat Hae Joon masih menjadi seorang mahasiswa.

Hae Joon diajak temannya untuk datang melihat penampilan Angels. Awalnya Hae Joon menolak karena dia tak terlalu suka berada di tempat ramai. Namun karena temannya terus memaksa, Hae Joon terpaksa ikut ke acara tersebut. 

Ternyata yang didatangi Hae Joon saat itu adalah aksi panggung Angels sebelum Mi Mo menyerang Seul Ah dan membuat Angels bubar. Saat melihat girlband itu, pandangan Hae Joon tak bisa lepas dari Mi Mo. Hae Joon mulai menyukai Mi Mo sejak saat itu. 

Flashback End

Mendengar pengakuan Hae Joon yang mulai menyukainya dari waktu Mi Mo masih bersama Angels dan mulai terganggu oleh bayangan Mi Mo. Mi Mo pun dengan bangga berkata kalau dia memang sering mengganggu orang seperti itu. 


Kita beralih pada Soo Hyuk yang sedang menatap bulan. Bayangan Hae Joon yang menarik Mi Mo ke dalam pelukannya terus terlihat di matanya. Dia juga teringat pada saat dia mencium Mi Mo dalam keadaan mabuk. Mengingat semua itu membuat Soo Hyuk kesal. 

“Dia memang ikan mas. Hari ini mencium pria ini, besoknya memeluk pria lain. Ikan mas gamang,” ucap Soo Hyuk kesal.


Besoknya, Soo Hyuk dan Mi Mo bertemu di lift. Mi Mo telihat sangat bahagia, karena punya pacar baru. Tapi mood Mi Mo berbeda jauh dengan Soo Hyuk yang terlihat jutek. Soo Hyuk yang memang sedang dibakar rasa cemburu, lalu mengejek Mi Mo yang berdandan berlebihan hanya karena ingin terlihat muda. Dikatai seperti itu tentu saja membuat Mi Mo kesal, sampai-sampai dia membentak Soo Hyuk.

Di parkiran, Mi Mo berkata pada Soo Hyuk kalau saja dia membuat Mi Mo kesal seperti itu di hari biasa, maka Mi Mo akan meninjunya. Tapi sekarang, semua itu ia maafkan karena Soo Hyuk sudah membantunya. Mendengar itu, tentu saja Soo Hyuk bertanya bantuan apa yang sudah dia berikan, Namun Mi Mo tak mau mengatakannya karena sebentar lagi Soo Hyuk juga pasti akan mengetahuinya.


Mi Mo masuk ke dalam mobilnya dan Soo Hyuk juga hendak ke mobilnya. Namun baru beberapa langkah, Soo Hyuk langsung membalikkan badannya dan masuk ke mobil Mi Mo. Dia beralasan pada Mi Mo kalau mobilnya rusak, jadi dia mau di antar oleh Mi Mo sebagai ganti karena Mi Mo merasa dia sudah menolong Mi Mo. 


Sepanjang perjalanan, Soo Hyuk merasa tak suka melihat Mi Mo terlihat begitu bahagia. Mi Mo yang melihat ekspresi Soo Hyuk langsung bertanya ada apa dan Soo Hyuk menjawab kalau semalam dia melihat sesuatu yang mengerikan. Soo Hyuk mengaku kalau dia baru menyadari dirinya punya sisi jahat.

Yang dimaksud sisi jahatnya adalah keinginan tak mau memiliki, namun dia juga tak rela orang lain memilikinya. Mendengar itu Mi Mo berkomentar kalau Soo Hyuk adalah pria pecundang, karena pria seperti itu pada akhirnya akan menyakiti hati banyak wanita. 

“Saranku, cepatlah sadar! Lepaskan dia kalau kau tak menginginkannya,” ucap Mi Mo dan saran itu tambah membuat Soo Hyuk semakin emosi. Dia menjawab keras kalau wanita itu sama sekali tak tersakiti, karena sejak pagi wanita itu bersenandung ria.

Merasa kalau Soo Hyuk membentaknya karena Soo Hyuk berkata dengan teriak-teriak, Mi Mi pun jadi kesal dan mengancam akan menurunkan Soo Hyuk di jalan. Soo Hyuk yang tak mau diturunkan, akhirnya memilih diam dan menahan emosinya.

Mi Mo berkata kalau ada sesuatu yang ingin dia beritahukan pada Soo Hyuk. Namun setelah Soo Hyuk mau menanggapi apa yang Mi Mo katakan dan merasa penasaran, Mi Mo malah mengurungkan niatnya untuk memberitahu Soo Hyuk.

Beralih pada Da Jung yang mengambil surat undangan pemeriksaan kanker untuk wanita di lokernya. 


Kembali lagi pada Mi Mo dan Soo Hyuk. Tiba-tiba Mi Mo ngerem mendadak dan membuat orang-orang yang menyebrang di lampu merah merasa kaget. Padahal Mi Mo ngerem mendadak karena kaget, gara-gara Soo Hyuk berteriak padanya. 

Soo Hyuk sudah tak tahan lagi menahan emosinya. Dia mulai meluapkannya pada Mi Mo. Dia mengungkapkan ketidaksukaannya pada Mi Mo yang dengan mudah berganti pria. Pertama Mi Mo dicampakkan pria, kemudian mabuk dan menikah. Setelah masalahnya selesai Mi Mo langsung menyatakan cinta pada pria lain. Saking kesalnya, Soo Hyuk menyebut Mi Mo “cabul”. Tentu saja Mi Mo tak terima di sebut seperti itu. 


“Aku diputus hanya melalui SMS. Karena aku sedih, aku ingin mabuk dan aku menikah karena kecelakaan karena kita mabuk. Lalu soal pernyataan cinta..,” Mi Mo terdiam sejenak dan kemudian melanjutkan kalau dia hanya berusaha jujur dengan perasaannya. Mi Mo sendiri sadar kalau semua itu terdengar gila, tapi dia memang berusaha jujur. Diapun akhirnya mengaku kalau dia sudah jatuh cinta pada teman Soo Hyuk. 


Soo Hyuk sudah berada di bangku taman dan dia terus mendumel tantang apa yang Mi Mo lakukan. Dia menyebut Mi Mo sudah menyukai temannya sekaligus saksi pernian mereka. Tepat disaat itu junior Soo Hyuk datang dengan wajah kusut dan meminta kopi yang sedang Soo Hyuk minum. Namun baru sekali teguk, dia langsung menyemburkan kopinya karena kopi milik Soo Hyuk terlalu manis.

Soo Hyuk pun menjawab kalau kadar gulanya turun karena stres pagi ini, jadi dia ingin minum yang manis-manis. Mendengar itu juniornya berkata kalau gula tidak baik untuk menghilangkan stres. 


Soo Hyuk akhirnya menanyakan apa yang terjadi pada juniornya itu sampai-sampai membuat wajahnya kusut dan lelah seperti itu. Si Junior menjawab kalau dia tak bisa tidur di klinik bersalin dan mengaku kalau sebenarnya dia ingin menunda punya anak, namun yang terjadi malah sebaliknya. Soo Hyuk dengan bijak menjawab kalau semua itu bukan kehendak manusia, semua itu adalah kehendak yang diatas. 


Dengan bangga Soo Hyuk lalu bertanya pada juniornya apa dia sudah terlihat punya anak umur 13 tahun. Di luar dugaan Soo Hyuk, si junior malah menjawab kalau Soo Hyuk memang sudah terlihat tua.

Hehe.. padahal Soo Hyuk mengira kalau si junior akan menjawab kalau Soo Hyuk masih terlihat muda. Si Junior bahkan menyarankan agar Soo Hyuk melakukan perawatan wajah untuk menunda penuaan karena sekarang wajah Soo Hyuk sudah rusak parah. Tak mau dinasehati seperti itu, Soo Hyuk menyuruh juniornya untuk memotong rambutya, karena rambutnya sudah terlalu tebal seperti wig. 

Soo Hyuk dan juniornya sudah berada di kantor untuk rapat. Atasan mereka mengatakan kalau A Ni izin sakit, namun yang membuat atasannya tak mengerti adalah kata-kata A Ni yang berkata kalau dia sepertinya akan sakit. Mana ada orang yang izin sebelum orang itu sakit. Mendengar itu, junior Soo Hyuk menjawab kalau hal itu untuk berjaga-jaga sebelum sakitnya tambah parah. 

“Jangan pernah berpikir untuk izin sakit... kecuali sakit SARS atau MERS,” ucap atasan mereka dengan tegas dan  menegur junior Soo Hyuk kalau akhir-akhir ini dia tak mendapatkan berita bagus. Si atasan menyuruh seluruh pegawainya untuk mencari 10 artikel yang menarik dari apa yang sudah berhasil mereka kumpulkan.

Beralih lagi pada Da Jung yang sedang berhenti di lampu merah. Dari dalam mobilnya dia melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan mesra. Melihat hal itu, Da Jung mendesah dan bergumam kalau mereka kelihatan sangat bahagia. 

Dong Mi sedang mengajar di kelasnya dan selagi semua siswanya sibuk menggambar, diapun sibuk menatap ponselnya. Dia menunggu jawaban sms dari si penjual oven. Dong Mi sengaja bertanya tentang buku panduan untuk oven-nya, namun jangankan di balas, sms yang Dong Mi kirim saja belum di baca. Tepat disaat itu, salah satu siswanya memanggil untuk meminta bantuan Dong Mi mendapatkan warna yang dia inginkan. 

Dong Mi lalu menghampiri siswa tersebut dan memberitahukan caranya. Setelah mengetahui cara untuk mendapatkan warnanya, si siswa tadi langsung memberitahukan pada siswi yang duduk di sebelahnya. Melihat hal itu, Dong Mi baru sadar kalau siswa dan siswinya sudah duduk berpasang-pasangan. 

Merasa tak terima, Dong Mi langsung memberi pengumuman agar mereka semua pindah tempat duduk. Dia sengaja memisahkan tempat duduk siswa dan sisiwi. Mendengar perintah Dong Mi, seorang siswa bertanya kenapa mereka harus pindah dan Dong Min menjawab kalau anak dibawah usia 7 tahun tidak boleh duduk bersama. 

“Bu Woo menyuruh kami menjaga hubungan kami,” jawab siswa tadi. Mengetahui kalau semua itu adalah ide Bu Woo, Dong Mi semakin kesal.

“Kalian ini sedang ada di kelasku atau di kelas Bu Woo?” bentak Dong Mi. “Kalian akan menikah dua kali kalau hidup seperti dia! Perkataanku yang benar. Berdiri sekarang juga!” perintah Dong Mi dan anak-anak mulai bergerak untuk mengganti tempat duduk mereka. 


Mi Mo muncul di kantor dengan terus tersenyum. Dia memberitahu Da Jung kalau Hae Joon sudah menembaknya dan mereka sekarang sudah jadian. Dengan bangganya, Mi Mo berkata kalau dia memang wanita yang mudah mendapat pria, semudah dia dicampakkan oleh mereka semua. Mendengar hal itu, Da Jung pun berkomentar kalau Mi Mo adalah wanita yang tidak normal, karena menurutnya Mi Mo punya hormon wanita dua kali lipat dibanding wanita pada umumnya. 

Da Jung kemudian memberikan undangan untuk pemeriksaan kanker serviks pada Mi Mo dan mengajak agar mereka pergi periksa bersama-sama. 

“Apa Ae Ran bisa ikut?” tanya Mi Mo dan Da Jung menjawab kalau dia dan Ae Ran ada janji siang ini. Karena mengira kalau Ae Ran tak akan mau ikut, jadi Da Jung mengajak Mi Mo dan Dong Mi saja untuk pergi periksa bersama. 


Mi Mo sekarang sudah memulai praktek kerjanya. Dia menghadapi klien yang menginginkan pasangan yang bisa memberinya anak, namun pria itu sudah terlihat tua. Walaupun begitu, si pria masih sangat yakin kalau dia masih sehat dan kuat. Dia bahkan mau menunjukkan tes kesehatannya pada Mi Mo, agar Mi Mo percaya. 

Mi Mo menyarankan agar pria itu menerima anak tiri saja dari wanita yang menikah dengannya. Tapi si pria tak mau, karena anak itu bukan darah dagingnya. 

Dia mulai lagi. Pria selalu seperti ini saat mereka pikir ini adalah kesempatan terakhir mereka. Terutama yang tak punya anak. Hanya satu alasan mereka ingin menikah lagi. Mereka merasa menderita. Mereka ingin punya anak. Mereka ingin main basket dengan anaknya. Mereka ingin mengajari anak mereka arti kerja keras. Mereka ingin mengajak anak ke sauna. Ada saja yang ingin mereka lakukan. Sebelum sperma mereka kering. Mereka ingin menghasilkan keturunan yang mengandung DNA mereka,” ucap Mi Mo dalam hati saat mendengar si klien sibuk menjelaskan tentang keinginannya. 


Mi Mo dan kedua sahabatnya sudah berada di rumah sakit untuk melakukan tes mereka. Sepertinya Mi Mo menceritakan tentang klien yang baru saja dia tangani, karena sekarang kita mendengar Dong Mi sedang berkata kalau pria memang harus bertemu dengan wanita yang lebih muda. Mi Mo lalu menambahkan kalau yang lebih tepat adalah wanita dalam usia subur.


Namun Dong Mi menjawab kalau seorang pria selalu berpikiran jika sperma mereka akan semakin lemah dan berkurang dengan bertambahnya umur mereka, jadi mereka selalu ingin mencari wanita yang lebih muda. Dan hal itu membuat Mi Mo bergumam kenapa pria selalu memikirkan tentang anak di awal pernikahan. Mi Mo kemudian melihat sepasang suami istri dimana sang istri sedang dalam kondisi hamil besar.

Apa cuma negara yang khawatir pada wanita lajang? Setelah umur 30, kita bisa check-up gratis. Kita harus memeriksa apa rahim kita masih sehat,” ucap Mi Mo dalam hati dan kemudian melanjutkan pengisian formulirmiliknya.

Saat melihat form tentang status pernikahan, Mi Mo berkata kalau dia selalu senang setiap melihatnya. Karena dia seperti merasa sudah keluar dari tempat yang teduh ke tempat yang lebih terang. Dengan bangga Mi Mo menconteng kolom bercerai. 

Melihat Mi Mo yang begitu senang dengan statusnya, membuat Da Jung berkomentar kalau pihak rumah sakit menambahkan kolom itu karena mereka tahu perceraian semakin banyak. Mi Mo pun mengaku kalau sebelum ada kolom bercerai, dia selalu merasa frustasi ketika pilihan dalam status pernikahan hanya ada menikah dan lajang. 

“Aku harap aku tahu, tapi tidak bisa,” gumam Da Jung dan kemudian dia memilih kolom menikah. Dan Dong Mi sendiri dengan kesal menconteng kolom lajang pada formulirnya. Dia kesal karena selama ini dia tak bisa memilih pilihan yang lain. 


Waktu pemeriksaan dimulai, pemeriksaan yang harus mereka jalani adalah, diambil sample darah dan di-USG. Untuk pemeriksaan Dong Mi dan Mi Mo sepertinya tidak ada masalah, namun saat dokter memeriksa Da Jung, dia bertanya apa Da Jung selama ini merasa ada benjolan di payudaranya

Da Jung menjawab tidak. Hmmm, sepertinya ada sesuatu di tubuh Da Jung, tapi kita tidak diperlihatkan pada percakapan Da Jung dan si dokter lagi. 


Mi Mo bersama dua sahabatnya mengintip Hae Joon yang sedang bekerja. Berbeda dengan Mi Mo dan Dong Mi yang terus melihat ke arah Hae Joon, Da Jung sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Dong Mi terpesona pada Hae Joon dan hendak melihatnya lebih dekat lagi, namun dihalangi oleh Mi Mo, karena Mi Mo dan Hae Joon baru saja jadian, jadi dia belum bisa mengenalkan teman-temannya pada Hae Joon. 


“Siapa yang ahjumma lihat?” tanya seorang anak SMA pada mereka bertiga. Anak SMA itu adalah Yeon Mi, gadis yang tergila-gila pada Hae Joon, sampai menyebut Hae Joon adalah miliknya. Mendengar Yeon Mi menyebut Hae Joon miliknya dan berkata kalau dia akan menjadi kekasih masa depan Hae Joon setelah dia mendapat KTP. Tentu saja Mi Mo kesal dan berkata kalau Hae Joon lebih cocok menjadi ayahnya daripada pacarnya. 

“Kolot sekali, di depan cinta, usia tak ada artinya,” jawab Yeon Mi.


“Kalau bicara tentang cinta, ada yang disebut pandangan masyarakat. Apa yang akan dipikirkan orang-orang saat mereka melihat kalian bersama?” tanya Mi Mo dan Dong Mi menambahkan kalau itu adalah hubungan yang tak pantas. 


“Seperti yang kalian lihat, aku cukup matang untuk seumuranku. Orang-orang tidak akan salah paham,” jawab Yeon Mi sambil menunjukkan tubuhnya yang seksi. Ya, dia punya dada yang lebih besar dari pada milik Mi Mo. Tentu saja mengetahui hal tersebut, Mi Mo langsung terdiam dan minder.

Saat berjalan keluar rumah sakit, Mi Mo terus mendumel kalau anak zaman sekarang tidak punya rasa takut. Dong Mi menambah-nambahi kalau Mi Mo tidak akan bisa mengalahkan Yeon Mi. Selain masih muda dan tidak ada masalah dengan kehamilan, gadis itu juga punya tubuh yang seksi. Berbeda dengan Mi Mo yang mungil.

“Aku lebih dewasa dan bijak,” jawab Mi Mo membela diri. 

“Apa gunanya itu? Pria tidak suka wanita tua yang berpikir kalau mereka dewasa dan bijak,” ucap Dong Mi. Namun Mi Mo tak mau kalah, dia berkata kalau dia punya senjata rahasia untuk mempertahankan hubungannya.


“Dua tahun. Saat ini, anak itu masih dibawah umur. Setelah dua tahun, Koo Hae Joon akan jadi milikku,” ucap Mi Mo dengan yakin dan kemudian berjalan pergi. Dong Mi lalu berkata pada Da Jung kalau dia merasa kasihan pada Mi Mo, karena Mi Mo hanya punya senjata itu saja. 


Gadis yang sedang Mi Mo dan sahabatnya bicarakan, sekarang sudah berada di ruangan Hae Joon untuk berkonsultas. Namun sepertinya konsultasi itu hanya alasan buat dia agar bisa bertemu dengan Hae Joon. Karena yang Yeon Mi tanyakan saat bertemu dengan Hae Joon adalah pendapat dia mengenai syair yang dia tulis untuk Hae Joon dan Hae Joon menilainya 98 dari 100, karena yeon Mi kreatif.

Hae Joon juga menambahkan kalau Yeon Mi mengambil jurusan sastra maka dia akan bisa mendapatkan berasiswa 4 tahun penuh. Mendapat pujian seperti itu, Yeon Mi langsung blak-blakan berkata kalau Hae Joon lah inspirasi kreatifitasnya itu. 

Yeon Mi lalu bercerita kalau di depan tadi dia bertemu ahjumma yang mengintip Hae Joon bekerja. Dia pun bertanya apa Hae Joon mengenal mereka. Hae Joon hanya menjawab kalau hal itu sering terjadi, jadi dia tak tahu siapa yang bertemu dengan Yeon Mi. Dia kemudian meminta Hae Joon untuk membuat pengumuman kalau dia tak tertarik pada wanita diatas 25 tahun. 

“Justru sebaliknya. Wanita dibawah 25 tahun, hanya kuanggap adik,” jawab Hae Joon dan kalimat itu langsung membuat Yeon Mi drop. 

“Mereka bisa dianggap adik kalau ada hubungan darah. Mana bisa Anda anggap mereka semua adik?” bantah Yeon Mi yang tak terima pada prinsip Hae Joon.

“Bagaimana sakit kepalamu?” tanya Hae Joon mengubah topik.

“Terasa lagi,” jawab Yeon Mi yang mengaku merasa sakit kepala lagi gara-gara mendengar standar aneh Hae Joon tetang wanita. Mendengar itu, Hae Joon langsung tersenyum. Euuum.. senyumnya memang manis bet, uups! Hehehe


Ae Ran memberikan alat tes kehamilannya pada Da Jung dan meminta pendapat Da Jung tentang apa yang harus dia lakukan. Da Jung bertanya apa Ae Ran sudah ke rumah sakit dan Ae Ran menjawab belum karena dia takut kalau sampai dia benar-benar hamil. 

Da Jung sepertinya tak suka dengan apa yang Ae Ran lakukan, Ae Ran terus berkata kalau dia tak mau menikah dengan Dong Bae, tapi pada kenyataannya dia sering tidur dengannya sampai membuat Ae Ran hamil.  

“Harusnya kau lebih hati-hati. Entah jadi menikah atau tidak, kau harus tanggung jawab pada bayi itu. Kalau kau memintaku mencarikan dokter yang bagus untuk aborsi. Aku tidak bisa membantumu. Kau tahu itu,” ucap Da Jung.

“Benar, anggap saja aku minta tolong pada orang yang salah. Tapi setidaknya aku ingin unni khawatir padaku. Tak kusangka akan sedingin ini,” jawab Ae Ran yang merasa kecewa pada sikap Da Jung dan Da Jung hanya bisa meminta maaf dan mengaku kalau dia tak bisa memihak pada Ae Ran untuk kondisi yang sekarang ini. 


Da Jung hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar Ae Ran membahas tentang dirinya yang tak bisa hamil. Ae Ran juga berkata pada Da Jung kalau tak semua orang beranggapan kehamilan itu berkah. 

“Hidup ini... adalah berkah. Sebuah berkah yang tak bisa kau ambil. Aku tak bisa jadi temanmu lagi kalau kau membuat keputusan yang salah,” jawab Da Jung dan berjalan pergi. 

Saat sendirian, Da Jung teringat lagi pada ucapan dokter yang bertanya apa Da Jung merasa ada benjolan di payudaranya. Sepertinya pertanyaan dokter saat pemeriksaan tadi, terus mengganggu pikirannya, namun dia baru bisa tahu apa yang terjadi pada tubuhnya ketika hasil pemeriksaannya sudah keluar. 

Flashback
Kita melihat Da Jung yang sedang membuka situs Wannabemom. Situs tersebut berisi wanita-wanita yang sudah menikah namun tak kunjung dikaruniai anak. 

Da Jung kemudian melakukan tes dengan alat testpack namun garis yang ditunjukkan hanya satu, itu berarti Da Jung belum hamil. Mendapati hal itu, Da Jung terlihat sedih dan frustasi, sampai-sampai dia menjatuhkan semua barang yang ada di meja dan menangis.

Mendengar tangisan istrinya dari luar, Gun Hak merasa khawatir dan terus memanggil-manggil Da Jung. Namun Da Jung tak mau membukakan pintunya. 


Da Jung menikah umur 22 tahun. Dia yang menikah pertama diantara kami. Suaminya dari keluarga kaya sampai membuatnya tak perlu bekerja. Justru karena itu, Da Jung malah merasa tertekan ingin segera memberinya anak. Setelah setahun masa bulan madu mereka, tahun kedua juga berlalu begitu saja. Mereka mulai gelisah dan tahun ketiga berlalu. Akhirnya mereka menyerah dan pergi ke dokter bersama,” ucap Mi Mo sebagai narator.


Dokter yang memeriksa mereka berkata kalau Da Jung sulit hamil. Dokter pun menyarankan agar mereka menggunakan bantuan medis untuk mendapatkan anak. Namun sang dokter masih tak bisa memastikan apakah Da Jung akan bisa hamil atau tidak. 

Dia sanggup menahan rasa sakit,” ucap Mi Mo sebagai narator dan kita diperlihatkan pada Da Jung yag sedang menyuntikkan obat ke dalam perutnya. “Dengan bantuan dokter, dia mengira akan dapat segera hamil. Dia melakukan inseminasi buatan dua bulan sekali selama lima kali. Tiga kali dia mencoba tes tabung kehamilan. Setelah itu, dia akhirnya meledak.


Karena usahanya tak juga membuahkan hasil, akhirnya Da Jung merasa tak kuat lagi. Dia meminta Gun Hak menceraikannya. Tentu saja Gun Hak tak mau. Dia meminta Da Jung untuk tidak memikirkan soal anak dan mereka bisa hidup bahagia berdua.

Karena keluarga Gun Hak yang sangat menginginkan anak dari mereka, Da Jung tentu saja tak bisa mengabaikan hal itu. Dia bahkan menyuruh Gun Hak untuk mendapatkan anak dari wanita lain dan berjanji akan membesarkan anak itu seperti anak sendri. 

“Hentikan omong kosongmu,” pinta Gun Hak dan Da Jung menjawab kalau hidupnya sangat menyedihkan. Kalau sampai sekali lagi dia melihat satu garis pada alat tes kehamilan, mungkin dia akan menjadi gila. 


“Selama lima tahun ini, kau tahu berapa banyak tes kehamilan yang kulakukan? Sudah 60 kali alat itu kubuang. Karena ingin melihat dua garis itu, aku sampai tak sempat memperhatikan bunga mekar ataupun daun berubah warna selama musim berganti 20 kali. Aku sudah tak sanggup lagi,” ungkap Da Jung atas semua yang dia lalui selama ini dan diapun menangis. Gun Hak langsung menghampirinya dan memeluknya.

Seperti itulah, pasangan itu akhirnya menyerah. Lalu bulan berikutnya, keajaiban terjadi.... dia hamil,” tambah Mi Mo sebagai narator.

Komentar :

Kejadian yang dialami Da Jung sering dialami oleh banyak pasangan. Mencoba bertahun-tahun dengan bantuan medis, -suntik hormon, inseminasi buatan, bayi tabung- tapi semua gagal. Setelah menyerah, mereka malah hamil.

Apakah bantuan medis itu memang tak ada gunanya? Entahlah. Tapi yang pasti, manusia harus terus berusaha walau Tuhan yang akhirnya menentukan.

Hae Joon sweet banget dengan Mi Mo. Kayaknya sudah jalan buntu bagi Soo Hyuk karena Mi Mo tak kelihatan naksir padanya. Ya iyalah, kan naksirnya sama Hae Joon. Berarti cinta Soo Hyuk bertepuk sebelah tangan, dong.

Entahlah.. tapi masih ada lebih dari 10 episode untuk merubah perasaan Mi Mo. Seperti kata orang tua jaman dulu, sebelum janur kuning melengkung, apapun bisa terjadi. Hahaha...

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 4 - 2

2 comments :

  1. Cingu, jangan lupa baca juga Sinopsis Cheese In The Trap Episode 9 (Terjebak Masa Lalu) >> http://www.dramehouse.com/2016/02/sinopsis-cheese-in-trap-episode-9.html

    ReplyDelete
  2. Ikutan mewek diakhir eps ini...bedanya kalo da jung di drama...klo aq dunia nyata..hikshikshiks...

    ReplyDelete