February 11, 2016

One More Happy Ending Episode 6 - 1

One More Happy Ending Episode 6 - 1


One More Happy Ending Episode 6 dibuka kembali dengan scene zaman Joseon. Mi Mo tiduran disebuah box. Karena merasa lelah tiduran terus, Mi Mo pun akhirnya bangun dan keluar dari kotak kacanya. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang. Hmm.. seperti Snow White menunggu Prince Charming?



Sambil menunggu, Mi Mo melakukan peregangan dengan melakukan gerakan-gerakan yoga. Tepat di saat itu, dia mendengar ada seseorang yang datang. Mi Mo pun menyudahi olahraganya dan kembali ke tempat tidur kacanya. 


Mi Mo sedikit membuka matanya untuk mengintip pria yang datang untuk menciumnya. Dan pria yang datang adalah Hae Joon. Melihat ketampanan Hae Joon, Mi Mo pun berkata dalam hati kalau Hae Joon lulus. Hae Joon lalu berjalan menghampiri Mi Mo dan kemudian mengecup bibirnya.

“Dia mendapat nilai 99,9 karena penyayang. Dia lulus lagi,” ucap Mi Mo dalam hati dan langsung bagun dari tidurnya.


Hae Joon meminta maaf karena sudah datang terlambat dan Mi Mo menjawab kalau Hae Joon memang sangat  terlambat, sampai Mi Mo tadi singgah ke beberapa tempat dulu. Tapi jika Hae Joon mau memegang tangannya, maka Mi Mo mau menghabiskan sisa hidupnya bersama Hae Joon.


“Tidak apa-apa. Aku juga singgah sebentar tadi di jalan,” jawab Hae Joon dan dari kalimat itu, Mi Mo pun tahu kalau Hae Joon juga seorang duda dan hal itu membuat Mi Mo berpikir kalau mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


Hae Joon mengajak Mi Mo untuk pergi bersamanya. Tapi saat melihat kuda yang ditunggangi Hae Joon, Mi Mo terlihat mulai ragu.

“Itu bukan kuda putih,” ucap Mi Mo dan Hae Joon menjawab kalau kuda yang dia bawa itu adalah kuda yang banyak disukai orang. Mi Mo meralat dengan mengatakan kalau kuda dari Jermanlah yang dianggap terbaik. Namun Hae Joon berpendapat kalau kuda dari Jerman itu sangat mahal biaya perawatannya, 1.500 dolar hanya untuk mengganti pelananya. Jadi menurutnya kuda Korealah yang terbaik.


Sebelum pergi, Mi Mo ingin menanyakan beberapa hal terlebih dulu pada Hae Joon. Pertanyaan pertamanya adalah, “Apa kau punya rumah di Hanyang?”

“Ah kau ini. Hanyang? Aku berusaha semampuku untuk mendapatkan rumah di Provinsi Gyeonggi,” jawab Hae Joon dengan bangga. Mendengar hal itu, Mi Mo bergumam kalau Hae Joon hanya terlihat seperti bangsawan kaya dari luarnya saja.

Tapi Mi Mo tetap setuju saat Hae Joon mengulurkan tangan untuk membawanya pergi. Saat Mi Mo hendak meraih tangan Hae Joon, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak, “Tunggu”. 


Siapa yang berteriak? Orang itu adalah Soo Hyuk. Dia datang dengan mengendarai kuda hitam yang kuat dan bertanya Mi Mo mau pergi kemana. Ditanya seperti itu, Mi Mo pun balik bertanya apa mereka berdua saling mengenal.


“Kita sudah menghabiskan malam yang “hot” bersama. Kau mau kemana?” tanya Soo Hyuk dan Mi Mo jadi kebingungan karena dia tak ingat sama sekali dengan apa yang Soo Hyuk katakan. Sebagai bukti kalau mereka berdua benar-benar sudah bersama, Soo Hyuk mengeluarkan kertas berwarna pink dengan tulisan Kau milikku lengkap denngan gambar ikan di bawahnya. 


Mengetahui semua itu membuat Hae Joon marah dan menyindirnya, “Ternyata kau adalah tipe gadis yang bersikap adil pada dua pria yang berbeda!”

“Apa? Bersikap adil di antara pria?” ucap Mi Mo yang tak terima dengan tuduhan berselingkuh.

“Benar! Kau tipe gadis yang paling aku benci!” teriak Hae Joon.


Kita kembali pada Mi Mo dan Soo Hyuk yang sekarang, mereka ada di dalam mobil yang sama dan dalam perjalanan pulang. Di mobil, Mi Mo bersin-bersin karena kedinginan. Melihat itu, Soo Hyuk pun langsung menaikkan volume pemanas di mobilnya.

Di tengah rasa dingin yang dirasakannya, Mi Mo teringat kembali pada ucapan Yeon Soo yang mengaku kalau alasan dia menceraikan Hae Joon karena hanya dialah yang selalu merasa cemas dan Hae Joon tak pernah sedikitpun merasakan hal tersebut padanya. Yeon Soo juga berkata kalau akan sulit bagi Mi Mo juga, sebab Mi Mo lah yang mengaku suka duluan. 


Hae Joon juga sedang berada di mobilnya, dia mengendarai mobil sambil mendengarkan radio. Dan saat itu penyiar radio sedang membahas tentang rasa suka seorang teman pada temannya, dimana mereka sudah berteman selama 10 tahun.

Si penyiar berkata kalau sulit bagi lawan jenis menjalin hubungan pertemanan, karena pasti akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Bahkan ada lagu yang menceritakan tentang kisah seperti itu, kisah dimana mereka merasa bingung antara persahabatan dan cinta. Dan lagu itu berjudul “Broken Friendship” dari Hong Kyung Min.


Mendengar judul lagu itu, Hae Joon pun teringat saat Soo Hyuk mengatakan kalau dia sangat menyukai lagu berjudul “Broken Friendship” karena musiknya enak. Hae Joon menggelengkan kepalanya dan berusaha membuang pikiran tentang Soo Hyuk yang akan menghancurkan hubungannya dengan Mi Mo. 


Soo Hyuk dan Mi Mo sampai ke tempat parkiran. Melihat Mi Mo masih kedinginan, Soo Hyuk pun memakaikan jas miliknya pada Mi Mo dan sedikit menasehati Mi Mo agar tidak melawan musim dingin, karena tubuh Mi Mo sendiri yang akan kalah.

Mereka kemudian berjalan masuk ke gedung dan Soo Hyuk dengan penuh perhatian mengusap-usap lengan Mi Mo. 


Tepat disaat itu Hae Joon muncul. Melihat Mi Mo dan Soo Hyuk bersama, Hae Joon pun bergumam kalau semua itu akan menjadi rumit. Soo Hyuk langsung melepaskan tangannya dari Mi Mo saat mereka bertiga bertemu.

Mi Mo bertanya apa Hae Joon datang langsung dari rumah sakit dan mengapa tak memberitahu terlebih dahulu. Dengan ekspresi datar Hae Joon menjawab kalau dia sudah menelpon Mi Mo tapi ponsel Mi Mo tak aktif. Mendengar hal itu Mi Mo langsung mengambil ponselnya dan ternyata ponselnya mati. 

“Kalian pulang bersama?” tanya Hae Joon pada Soo Hyuk.


“Ya, kebetulan kami bertemu,” jawabnya. Hae Joon menyindir kalau mereka berdua selalu saja kebetulan bertemu. Soo Hyuk menjelaskan kalau memang seperti itulah kejadiannya. Dia juga menyuruh Hae Joon membawa Mi Mo masuk ke rumah karena sepertinya Mi Mo sudah kedinginan. 


Hae Joon menghampiri Mi Mo dan melepaskan jas milik Soo Hyuk, lalu dia memakaikan jas miliknya sendiri. Terlihat jelas kalau Hae Joon cemburu. 


Mi Mo menuangkan teh hangat ke cangkir Hae Joon dan juga untuknya sendiri. Namun ekspresi Hae Joon masih terlihat tak senang. Saat melihat sebuah paper bag dan Hae Joon bertanya apa isinya. Mi Mo menjawab kalau itu bukan apa-apa dan langsung menyembunyikannya di bawah meja. 

“Sepertinya ada banyak barang di dalamnya,” ucap Hae Joon masih dengan tatapan dingin. Mi Mo menjawab kalau itu hanya barang-barang yang menyimpan kenangan lama. Namun Hae Joon masih ingin tahu apa isi tas itu walau Mi Mo berkata kalau dia tak ingin membahasnya, sebab bukan kenangan yang bagus.


“Apa cuma itu yang kau ingin ketahui? Aku sudah seperti ini, kau tak memperhatikanku?” tanya Mi Mo dan akhirnya Hae Joon sadar kalau Mi Mo dalam kondisi kedinginan. Mi Mo berterima kasih atas jas Hae Joon, tapi dia merasa sedih karena Hae Joon tak memperhatikannya.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Hae Joon akhirnya.


“Mengapa sulit sekali mendapatkan perhatian darimu?” ucap Mi Mo.

“Apa terjadi sesuatu?”

“Aku tidak ingin lagi membicarakannya. Aku sudah terluka,” jawab Mi Mo dan kemudian meminta Hae Joon pulang karena dia ingin mandi dan istirahat.


Hae Joon terdiam sejenak dan kemudian beranjak dari duduknya. “Kalau begitu, mandi dan beristirahatlah,” ucap Hae Joon dan pergi.

Melihat Hae Joon langsung pergi, Mi Mo mengeluh kecewa. “Aku kan sudah bilang aku kedinginan. Dia tidak tahu apa-apa tentang wanita.” 

Hmmm... Mi Mo dan Hae Joon sedang salah paham aja nih. Mi Mo ingin dimengerti karena dia sedang kedinginan, tanpa tahu rasa cemburu yang sedang dirasakan Hae Joon. Sedangkan Hae Joon, gara-gara rasa cemburunya pada Soo Hyuk, jadi tak memperhatikan Mi Mo. 


Saat akan masuk ke dalam lift, Hae Joon berbalik dan melihat apartemen Mi Mi dan Soo Hyuk yang berhadapan. 


Soo Hyuk baru selesai mandi dan dia teringat ketika Hae Joon melepaskan jasnya. Sepertinya Soo Hyuk bisa merasa kalau Hae Joon cemburu padanya. Diapun membaringkan badannya saat tiba-tiba muncul banyak peri Mi Mo.


Semua peri Mi Mo terus menggoda Soo Hyuk, ada peri yang membawa alkohol, ada yang membawa cemilan dan banyak lagi yang lain. Soo Hyuk lalu bertanya dari mana mereka semua berasal dan salah satu peri tercentil menjawab, “Gunakan instingmu, kau mau memilih cinta dari pada persahabatan. Kau sudah tergila-gila padaku.”

.
Soo Hyuk merasa kepanasan dan langsung mengambil air minum di kulkas. Setelah minum dia teringat pada Mi Mo yang bersin-bersin saat di mobil tadi. 

Hae Joon sudah dalam perjalanan pulang dan terlihat dari ekspresi wajahnya, dia masih terlihat kesal. 


Mi Mo baru selesai mandi dan menghela nafas saat melihat  ponselnya masih sepi. Tak ada SMS dari Hae Joon. Tepat di saat itu, bel pintu berbunyi dan saat dibuka ternyata Soo Hyuk yang datang membawakan Mi Mo obat. 


“Aku lihat tadi kau bersin-bersin,” ucap Soo Hyun dan memberikan kantong obatnya. Dia kemudan menyentuh kening Mi Mo. “Pakai baju hangat untuk tidur. Baju tembus pandang tidak cocok untukmu,”tambah Soo Hyuk.


Mi Mo kembali ke meja makannya. Melihat barang-barang yang dibelikan oleh Soo Hyuk untuknya, membuatnya tersenyum geli. Banyak sekali macam obat yang dibelikan Soo Hyuk. Akhirnya Mi Mo meminum salah satunya.

Tapi saat melihat ke ponselnya yang masih sepi, ia kembali merasa sedih.


Paginya, Mi Mo dan Soo Hyuk kembali bertemu di lift. Mi Mo berterima kasih atas obat yang Soo Hyuk belikan.

“Aku sangat bersyukur atas semuanya... terutama kemarin,” ucap Mi Mo dengan ekspresi sedih dan Soo Hyuk tak bisa berkata apa-apa.


Mi Mo baru sampai di kantornya dan dia terus melihat ke ponselnya yang sampai sekarang masih sepi. Mi Mo hendak menelpon Hae Joon, tapi tak jadi.

“Mengapa aku yang harus menelponnya? Dia kan yang sudah melukai perasaanku. Mengapa harus aku?” ucap Mi Mo gengsi dan dia mengaku kalau kemarin dia memang sedikit sensitif.

Tapi Mi Mo mengambil kembali ponselnya dan bertanya-tanya apa Hae Joon juga berpikir untuk menelpon dirinya, seperti yang dipikirkan Mi Mo sekarang.


Yuk kita beralih pada Hae Joon yang sekarang sedang berada di ruangan kerjanya bersama Yeon Mi. Dengan bangganya, Yeon Mi berkata kalau hanya Hae Joon yang dia beritahu tentang rahasia tentang fakta kalau pemilik rumah sakit tempat Hae Joon kerja adalah kakek Yeon Mi. Semua itu Yeon Mi lakukan, agar Hae Joon bergantung padanya.

Namun Hae Joon tak terlalu perduli akan hal itu, dia malah berkata kalau sebentar lagi akan ada pasien yang datang, jadi Yeon Mi tak seharusnya masih ada di ruangannya.


“Dia akan menelpon atau tidak.... dia akan menelpon atau tidak.... dia akan menelpon, dia menelpon,” ucap Mi Mo dengan lemas. Tepat disaat itu, ponsel Mi Mo berdering dan dia langsung bergegas mengangkatnya. Namun semangatnya langsung kendor saat melihat nomor yang menelpon bukan nomor Hae Joon.


Di tempat kerjanya, Soo Hyuk juga mendapat telepon dari nomor yang sama dengan nomor telpon yang menelpon Mi Mo tadi. Ternyata yang menelpon Mi Mo dan Soo Hyuk adalah orang dari SD Dalbit.

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Woo Hyo Min. Hyo Min menelpon untuk menanyakan apakah mereka sudah mendapatkan undangan dari SD Dalbit. Mi Mo menjawab kalau dia belum menerimanya karena dia tidak sering memeriksa kotak suratnya. Berbeda dengan Mi Mo, Soo Hyuk menjawab kalau dia sudah menerima undangannya, jadi Soo Hyuk tahu kalau udangan itu untuk pembukaan kapsul waktu.


“Saat upacara, kami ingin kalian memberi benda di kapsul waktu dari 20 tahun yang lalu ke siswa kami yang sekarang. Soo Hyuk dan Mi Mo, kalian berdua akan menjadi perwakilan siswa alumni. Tolong hadiri upacaranya. Jika bisa datang akan sangat berarti,” ucap Hyo Min. Permintaan itu di sanggupi oleh Mi Mo dan Soo Hyuk. Mereka berjanji akan datang ke acara itu. 


Yeon Mi lalu bertanya pada Hae Joon, apa yang membuat Hae Joon suka pada Mi Mo. Padahal kalau di lihat dari dekat, banyak kerutan di bawah mata Mi Mo. Yeon Mi berusaha meyakinkan Hae Joon, kalau dia lebih cantik dan lebih muda dari Mi Mo, selain itu Yeon Mi adalah cucu dari pemilik Rumah Sakit. 

“Apa lagi yang kau butuhkan? Kenapa kau ragu? Tolong pegang tanganku,” ucap Yeon Mi.


“Ada satu yang kurang darimu. Masuk akal dan realistis. Dan kau akan mempelajari hal itu di sekolah. Kau harus belajar banyak hal dan membangun pengalaman agar bisa mengembangkan kualitas itu,” jawab Hae Joon.


“Kalau begitu tunggu aku,” ucap Yeon Mi dan beranjak dari tempat duduknya. “Aku akan belajar sebanyak mungkin dan kembali untukmu,” tambahnya dan langsung pergi.


Yeon Mi membuka pintu dan tepat di saat itu Yeon Soo juga hendak masuk ke ruangan Hae Joon, sehingga membuat mereka berpapasan. Tanpa berkata sepatah katapun, Yeon Mi langsung nyelonong pergi. 

“Kenapa dia seperti itu? kelihatannya dia kesal,” tanya Yeon Soo dan berjalan masuk ke ruangan Hae Joon. 

“Aku bilang padanya apa yang paling dibenci semua siswa. Aku bilang untuk belajar,” jawab Hae Joon dan Yeon Soo bisa mengerti kenapa yeon Mi bisa sekesal itu. 


Yeon Soo menemui Hae Joon untuk menanyakan tentang Mi Mo Apa Mi Mo mengatakan sesuatu pada Hae Joon. Yeon Soo pun akhirnya mengaku pada Hae Joon kalau Mi Mo sudah menemuinya dan dia juga sudah memberitahu alasan mereka bercerai pada Mi Mo. Mendengar hal itu, Hae Joon terlihat kaget.


Masspunch mengadakan meeting mingguan. Soo Hyuk memberitahu sang atasan kalau tak ada informasi apapun yang dia dapat di restoran tempat Jung Hoon bekerja. A Ni tiba-tiba memotong dengan mengatakan kalau apa yang Soo Hyuk katakan, berbeda dengan apa yang dia periksa. 

“Aku menemukan ada cerita menarik di belakangnya,” aku A Ni.

“Apa? Kenapa kalian berdua mengatakan opini yang berbeda?” tanya atasan mereka. 

“Sunbae mungkin benar. Tapi aku mendengar rumor. Aku akan mengatakannya padamu saat aku memiliki bukti yang kuat,” jawab A Ni dan si bos langsung menyuruhnya untuk menyelidiki berita itu. Karena apa yang A Ni katakan, Soo Hyuk terus melihat ke arahnya dengan tatapan marah. Si atasan lalu mengalihkan topik rapat dengan membahas tentang pesenam Kang Na Rae. 


Mi Mo mendapat klien yang ingin menikah dengan pria yang kaya agar ia bisa menjadi ibu rumah tangga biasa. Di ruangannya, Da Jung juga sedang menghadapi klien yang meminta dicarikan wanita yang punya penghasilan tinggi. Kedua klien itu sama-sama menginginkan untuk dijodohkan dengan orang yang mapan.


Dong Mi berlari dengan sekuat tenaga untuk menghampiri pria penjual oven, yang datang ke sekolah tempat dia mengajar. Si penjual oven mengatakan kalau dia sangat merindukan Dong Mi, jadi dia datang menemui ke sekolah. Tentu saja hal itu membuat Dong Mi sangat senang. 


Si penjual oven itu juga datang membawa sebuah hadiah untuk Dong Mi. Dia memberikan sebuah syal berwarna pink untuk Dong Mi. Dong Mi terlihat tak nyaman menggunakan syal itu, tapi karena pria penjual oven memintanya untuk selalu memakainya, jadi Dong Mi pun berjanji akan menggunakannya. 

Barang bekas mewah sangat berusaha keras untuk mendapatkan hati Dong Mi. Setelah Dong Mi pensiun, uang pensiunnya akan dideposito ketabungannya setiap bulan. Aku rasa pria ini menganggap hal itu menarik, ucap Mi Mo sebagai narator yang menarik kesimpulan.


Soo Hyuk mengajak A Ni bicara empat mata di luar kantor. A Ni bertanya kenapa Soo Hyuk menyembunyikan fakta kalau ada wanita  yang menghancurkan acara lamaran Jung Hoon dan Seul Ah. Soo Hyuk tanya balik, kenapa A Ni sangat tertarik dengan cerita tentang itu. 

“Aku hanya merasa itu menarik. Aku akan cari tahu apa yang ada di cerita itu. Aku mau lihat sendiri. Kau hanya menyia-nyiakan waktu saja,” ucap A Ni.

“Pegawainya tidak akan mengatakan apa-apa.”

“Ada saksi lain yang aku punya.”

“Apa yang kau dengar?” tanya Soo Hyuk penasaran.

“Kau mau tahu? Sabar dan tunggulah lebih lama lagi. Aku saja sudah menunggu lama sekali,” jawab A Ni.


Kita beralih pada Mi Mo yang menerima klien seorang duda beranak satu. Anak pria itu sudah berusia 10 tahun dan pria itu menganggap anaknya seperti teman. Dia juga mengaku kalau sang anak adalah sesuatu yang paling penting baginya di dunia ini. Karena dari kecil, dia sendirilah yang mengurusnya. Mendengar itu, Mi Mo bisa mengerti dan menebak kalau pria itu pasti sudah mengalami masa sulit. 

“Apa mungkin, ada ayah tunggal yang dekat denganmu?” tanya pria itu dan Mi Mo menjawab ada. Mi Mo menyebut kalau ayah tunggal yang dia kenal sangat tidak dewasa. 

“Apa anda pikir, dia tidak dewasa?” tanya pria itu.

“Apa?”


“Saat aku menjaga putraku sejak bayi, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan,” jawab pria itu dan kita melihat ilustrasi ceritanya dengan model Soo Hyuk yang sedang mengurus Min Woo kecil. 

“Sekarang, banyak blogger yang menulis pengalaman mereka, dan orang dengan keadaan yang sama bertemu untuk membagi informasi dan juga pengalaman mereka. Tapi dulu, sulit mendapat informasi. Aku harus belajar dari kesalahanku. Bayiku menangis sepanjang waktu dan aku juga,” cerita pria itu dan kita melihat Soo Hyuk pun sama, kerepotan dan tak bisa membuat susu untuk Min Woo. 


“Aku membutuhkan bantuan, jadi aku melakukan riset. Ada banyak organisasi dan kelompok bantuan untuk ibu tunggal. Tapi yang kucari tidak ada untuk ayah tunggal,”ucap pria itu lagi dan kita melihat Min Woo yang sedang kebingungan dengan cara memandikan bayi.


Soo Hyuk juga terlihat panik saat membawa Min Woo ke rumah sakit karena Min Woo demam. Setelah Min Woo mendapatkan perawatan, Soo Hyuk tidur disampingnya.


“Tapi yang paling sulit adalah cara orang melihatku. Rasanya seolah-olah mereka, jari mereka menggantikan mata untuk  menunjuk padaku."

Kita melihat Soo Hyuk yang dipandang sebelah mata saat membawa Min Woo bayi ke kampus. “Tapi yang membuatku tertarik adalah.... bayi mungil itu...tersenyum saat dia melihatku... senyum itu benar-benar menghiburku. Ini bermanfaat tapi membebani... pengalaman fisik dan mental,”tambah pria itu. 


“Aku rasa itu tidak mungkin, bagi seseorang untuk melaluinya agar menjadi tidak dewasa,” jelas pria itu lagi dan Mi Mo akhirnya tahu apa saja yang sudah dialami oleh Soo Hyuk sebagai ayah tunggal. 


Da Jung sedang berada di kamar anaknya dan anaknya sekarang sudah tertidur pulas. Keluar dari kamar Tae Yong, Da Jung melihat suaminya baru pulang kerja dan langsung masuk ke ruang kerjanya. Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, Da Jung masuk ke ruangan suaminya. 

“Aku..... aku.... apa kau bisa memelukku?” tanya Da Jung ragu.


Gun Hak tertawa kecil mendengar permintaan Da Jung. “Apa kau berharap aku, melonjak-lonjak seperti hewan, saat kau minta aku memelukmu? Kau merusak harga diriku. Aku menghabiskan tujuh tahun seperti itu. Kau menolakku selama tujuh tahun. Aku tidak mau memeluk wanita sepertimu,” ucap Gun Hak dengan sinis. Dia juga minta agar Da Jung tidak berbicara padanya dengan nada seperti itu lagi karena Gun Hak merasa seperti sampah. 

“Maafkan aku. Aku rasa aku sudah gila,” ucap Da Jung dan keluar dari ruangan Gun Hak. Gun Hak terlihat sedih sudah mengatakan semua itu, di kamarnya Da Jung pun menangis.


Kita beralih pada Soo Hyuk yang sedang membaca-baca berita tentang Angels. Mulai dari berita tentang bubanya Angels juga berita tentang Mi Mo yang diracun oleh penggemar Koo Seul Ah.

Mi Mo sendiri sekarang sedang  minum bir campur sambil telponan dengan Dong Mi. Mi Mo masih curhat tentang Hae Joon yang belum menciumnya dan yang lebih membuatnya sedih adalah Hae Joon sampai sekarang belum menghubunginya. Mendengar itu, Dong Mi pun memberitahu Mi Mo untuk terima saja, karena Mi Mo yang lebih merasa suka pada Hae Joon.


“Tapi sejak kapan kau mulai mengajariku? Ini melukai perasaanku. Aku tutup!” ucap Mi Mo kesal dan langsung menutup telepon. Tepat disaat itu, ponsel Mi Mo mendapat SMS pemberitahuan kalau tadi Mi Mo mendapat telepon dari Hae Joon.

Mi Mo pun langsung kebingungan karena tadi telepon dari Hae Joon tak diangkatnya. Di tengah kebingungannya, Hae Joon menelponnya lagi dan tentu saja langsung diangkat oleh Mi Mo.

Hae Joon mengajak  Mi Mo ketemuan di depan gedung apartemen Mi Mo. Di bangku taman yang bisa Mi Mo tempati.  Saat menunggu Mi Mo, Hae Joon teringat kembali pada apa yang Yeon Soo katakan. Setelah mendengar pengakuan Yeon Soo, Hae Joon berkata kalau Yeon Soo sudah melakukan hal yang salah, karena sudah membuat Mi Mo salah paham padanya. 

“Aku rasa, dia beda denganmu,” ucap Yeon Soo saat itu dan Hae Joon menjawab kalau hal itu bukanlah urusan Yeon Soo. 


Orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Hae Joon mengaku kalau dia merasa senang bisa bertemu lagi dengan Mi Mo, karena dia pikir sudah tak bisa bertemu lagi. Dia juga berkata kalau dia sudah menunggu di tempat itu selama 3 jam.


“3 jam? Kau tak kedinginan?” tanya Mi Mo dan langsung memegang tangan Hae Joon. Merasakan tangan Hae Joon yang hangat, dan senyum Hae Joon, Mi Mo pun bisa menebak kalau Hae Joon tadi berbohong tentang menunggu selama 3 jam. 

“Saat wanita mengakui perasaannya lebih dulu. Dia merasa harga dirinya rendah. Aku tidak pernah bisa terima dengan apa yang mereka katakan. Aku selalu memberi penjelasan. Ini sangat melelahkan,” ucap Mi Mo dengan sedih.

“Penjelasan apa yang kau berikan untuk kata-kataku itu?” tanya Hae Joon dan Mi Mo menjawab kalau keinginannya adalah Hae Joon menginginkan dirinya. Mendengar itu, Hae Joon lalu memberikan sebuah kotak pada Mi Mo yang berisi penutup telinga.


“Jangan dengarkan kata-kata yang tidak perlu kau dengar. Mari kita tidak salah paham untuk hal-hal yang tidak berguna,” ucap Hae Joon dan kemudian memasukkan tangan Mi Mo ke dalam kantung jasnya. Mi Menemukan sesuatu di dalam saku jas Hae Joon, maka Mi Mo mengambil barang itu.


Ternyata di dalam saku jas Hae Joon ada stiker Mi Mo saat masih menjadi anggota Angels. Mi Mo pun bertanya, Hae Joon mendapatkan semua itu dari mana. 

“Aku mendapatkannya 13 tahun lalu di dalam bungkus roti. Aku.... fans berat Han Mi Mo,” ucap  Hae Joon dan dia  juga mengaku kalau dia lebih memilih Mi Mo daripada Seul Ah. Bahkan untuk mendapatkan semua stiker itu, Hae joon sampai membeli 100 bungkus roti. 


“Berkat kau, untuk pertama kalinya aku datang ke stasiun TV. Untuk pertama kalinya, aku menangisi berita bubarnya Angels,” ucap Hae Joon dan mengaku kalau dia pikir tak bisa melihat Mi Mo lagi. "Tapi takdir berkata lain, ternyata aku bertemu lagi denganmu di UGD, namun tak lagi menggunakan sayap, melainkan sesuatu yang lain."

Mi Mo pun tersenyum mendengarnya.


Hae Joon berterima kasih karena Mi Mo sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan suka padanya, "Bagiku, kau adalah orang yang sangat berharga."

Secara  perlahan-lahan Hae Joon mendekatkan wajahnya ke wajah Mi Mo.

Komentar: 

Apa Hae joon benar-benar akan mencium Mi Mo? Tunggu jawabannya part selanjtnya ya....

Bersambung One More Happy Ending Episode 6-2

1 comment :