February 6, 2016

High End Crush Episode 3

High End Crush Episode 3


Episode 3 diawali dengan pertemuan antara Se Hoon dan Yi Ryung yang didampingi oleh CEO Jang dan pengacaranya, dengan agenda penuntutan Se Hon oleh Yi Ryung atas dakwaan penyalahgunaan UU tenaga kerja, penculikan, penyekapan dan pelecehan seksual. 

Ha? Kok bisa? Se Hoon juga mendelik mendengarnya, “Tunggu dulu.” Ia menarik si asisten dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.



Si asisten benar-benar tak tahu, karena yang Yi Ryung lakukan hanyalah pinjam teleponnya dan menelepon seseorang yang ternyata adalah CEO Jang. “Mendapat nomor telepon CEO Jang tentu lebih mudah daripada nomor telepon Anda. Kalian kan beda level,” pujinya, tapi malah dapat pelototan dari Se Hoon, membuatnya mengkeret.

Se Hoon kesal dan berbalik menatap Yi Ryung, yang malah balas mendelik padanya.


Yang menjadi korban pelampiasan emosinya tentu saja si asisten. Ia menyalahkan asistennya yang tak merekam Yi Ryung yang memukulnya dan melaporkan ke polisi. Dan lagi kenapa juga Yi Ryung dibawa-bawa ke lokasi syuting? Si asisten menjawab kalau mereka butuh pemeran pengganti saat Min Joo kabur. “Kami tak takut pada polisi, tapi takut pada Anda. Anda itu adalah hukum, yuridiksi, administrasi, rumah tangga yang gabung jadi satu.”

Hahaha… emang Se Hoon UUD 45? Se Hoon mendelik kesal, membuat si asisten menutup mulutnya.

Dan yang membuat Se Hoon kesal adalah karena tadi Yi Ryung terlihat jumawa sekali di pertemuan tadi. Si asisten mengeluarkan puja puji atas sosok Se Hoon yang baginya sangat charming, mengesankan, sexy  dan murni seperti anak-anak (hahaha… yang ini boong banget, ah!), tapi tetap tak menghilangkan kekesalan Se Hoon.


Seseorang datang dan membisikkan sesuatu pada si asisten. Aha.. si asisten akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi ceritanya CEO Kang itu hobi hiking. Se Hoon memotong ketus, “Aku saja tak tahu hobiku sendiri, kenapa aku harus tahu hobi orang?”


Asisten tak ambil hati ucapan CEO-nya dan melanjutkan cerita kalau pernah satu waktu ia hiking tengah malam dan tersesat. Dan kita kembali ke masa itu, saat CEO Kang berjalan tapi kembali ke tempat semula. Berjalan lagi, dan tetap kembali ke tempat semula.


Sudah malam, banyak bunyi-bunyian pulak, membuat suasana semakin seram dan mencekam. Kelelahan, CEO Kang terjatuh.


Samar-samar terdengar suara rumput diinjak, makin lama makin keras menandakan ada yang menghampirinya. CEO Kang mulai panik dan mengarahkan senternya ke segala arah dan berteriak..


“Ahhh.. apa itu? Apa itu?” tiru si Asisten dramatis. Tapi Se Hoon hanya menatapnya datar dan mengatakan kalau ia pernah memberitahu dua hal yang menghalangi kesuksesan si asisten, kan.


Sambil mengacungkan tiga jarinya, ia akan memberitahu hal ketiga yang membuat si Asisten tak bisa sukses. Yaitu cerita yang ga ada artinya dan membosankan pula.

Si Asisten bergumam kalau ceritanya itu ada artinya. Maka Se Hoon menyuruhnya untuk langsung ke bagian yang ada artinya.


Ternyata yang menyelamatkan CEO Kang adalah Yi Ryung yang tinggal sendirian di rumah terpencil di Odaesan, yang tak ada handphone, komputer bahkan televisi. CEO Kang langsung jatuh cinta pada Yi Ryung yang menyelamatkannya, memberinya tempat untuk tidur bahkan membuatkan masakan yang sangat lezat.


Sama seperti Se Hoon yang suka mengumbar uang (ha.. di sini si asisten jadi mengkeret karena Se Hoon memelototinya), CEO Kang juga ingin memberi Yi Ryung uang untuk membalas kebaikannya. Yi Ryung menolak dan menjawab dengan pepatah Cina.


Saat CEO Kang kembali ke Seoul dan meng-google kata-kata itu, ia baru tahu artinya. Menerima uang dari orang kaya akan memberikan keberuntungan besar atau kesialan besar.


Lampu ide Se Hoon langsung menyala. Gadis ini punya karakter! Mereka tak perlu membuatkan karakter untuknya dan melatihnya berakting karena gadis ini punya karakter.


Dan ternyataa.. ide itu diungkapkan Se Hoon ke psikiaternya. Tentu saja psikiaternya nggak mudeng, karena artis dengan karakter asli dan karakter yang dibuat itu sama saja baginya. Tapi Se Hoon kali ini tak marah atau menyindir karena psikiater tak memahami maksudnya. Ia hanya terus berbicara.

“Kupikir semua sudah kucapai,” ujar Se Hoon membuat si psikiater bingung. Se Hoon menjelaskan kalau walau muda ia benar-benar sukses dan tak tahu apa yang harus ia cari karena ia sudah mendapat semuanya.” Hahaha… jawaban itu membuat psikiater kesal dan mencorat-coret lembar diagnosa.


“Tapi tepat dihadapanku..” Se Hoon membayangkan Yi Ryung dengan gaun putih di pertemuan pertama mereka, “.. dia begitu organik!” Psikiater bingung. Ha.. saya juga. Beras kali ah organik.

“Jadi seperti aku bisa mengalahkan kesedapan dari MSG,” Se Hoon menjelaskan. Ia belum pernah melihat sosok seperti Yi Ryung. Pribadinya sangat berkarakter dan tak ada yang dibuat-buat dari gadis itu. Dan ia merasa tertantang dan penasaran. Ia akan menciptakan sesuatu dari Yi Ryung.

Se Hoon tertawa gembira. Ia puas karena akhirnya menemuan tujuan baru dalam hidupnya. Si Psikiater mengingatkan kalau Yi Ryung tak menyukai Se Hoon. Seperti anak kecil, Se Hoon polos menjawab kalau Yi Ryung pasti menyukainya karena ia akan menjadikannya artis.

Psikiater tertawa mendengar ucapan naif itu. Semewah apapun kehidupan artis, tak semua orang mau melakukannya dan jadi terkenal. Se Hoon berkata kalau semua pasti ingin jadi terkenal dan menawarkan untuk menjadikannya artis top. Haha.. si psikater tersenyum dan menolak. Nggak nggak, tapi ia membayangkan kalau ia jadi artis top dan dikerubutin para ciwi ciwi.


Gotcha.. Se Hoon melihat betapa senangnya si psikiater itu membayangkan jadi artis top. Ia memutuskan tak bisa mengunjungi si psikiater sementara waktu karena ia akan sibuk.


Psikiater itu kaget. “Apa? Kenapa? Duh.. sayang sekali,” kata si psikiater menyayangkan keputusan Se Hoon. Suaranya terdengar sedih seakan berat kehilangan Se Hoon. “Telepon aku jika terjadi sesuatu.”


Padahal bohong, ding. Si psikiater langsung jingkrak-jingkrak melihat Se Hoon keluar dari ruangannya. Ia mengambil confetti dari mejanya dan menari-nari. 


Mendadak Se Hoon muncul, membuat psikiater itu kaget setengah mati karena ia sudah mnembakkan confetti. Plopp!! Dan  kertas warna warni pun berterbangan. LOL.


Se Hoon sedang mendengarkan lagu yang akan dinyanyikan girlbandnya Min Joo yang akan debut. Menurut So Bum lagunya sangat kalem dan menenangkan. Tapi sayangnya menurut Se Hoon lagu itu sangat mendayu-dayu dan membuat depresi. “Hidup itu sudah sulit. Apa kau pikir orang mau mendengarkan lagu yang membuat depresi?”


Duo yang bertanggung jawab membuat dan mengaransemen itu mengiyakan. Tapi setelah Se Hoon pergi, mereka langsung mengomeli si asisten yang sebelumnya menyarankan mereka untuk menulis lagu balad. Padahal mereka sendiri sebenarnya penyanyi hip-hop.


Schedul Se Hoon selanjutnya adalah rapat dengan para section chief, salah satunya adala si asisten. Hei.. ternyata dia bukan asisten, tapi chief juga. Dan ia bermarga Heo. Mari kita panggil dengan Chief Heo.


Proyek besar mereka selanjutnya adala Yoo Yi Ryung, gadis berusia 24 tahun. Semua chief sudah melakukan penelitian mendalam tentang gadis itu dan Chief Heo yang mempresentasikan hasilnya. Ada kelompok yang mencari informasi di Seoul, ada pula di Odeasan.

Menurut pemilik toko yang alamatnya menjadi alamat surat Yi Ryung, Yi Ryung tinggal nun jauh di atas gunung, sendirian setelah kakeknya meninggal. Yi Ryung lahir dari keluarga pejuang kemerdekaan, dibesarkan di Odaesan dan mendapat pendidikan literatur Cina.


 Se Hoon kesal dan mengacungkan ketiga jarinya. Chief Heo paham kalau ia mulai bertele-tela dan membosankan maka ia mulai masuk ke inti presentasi. Yi Ryung turun gunung dua kali seminggu untuk menjual barang yang ia buat di rumah dan membeli kebutuhan hidupnya. Yi Ryung memiliki reputasi yang bagus karena sangat cantik dan ramah.


Se Hoon mulai mengerutkan kening saat melihat foto-foto dengan para tetanga (laki-laki) dengan keterangan Yi Ryung selalu baik pada tetangganya. Semua tetangganya khawatir akan Yi Ryung yang hidup sendirian. Dan saat kakeknya masih hidup, Yi Ryung pernah beberapa kali mengungkapkan kalau ia ingin tinggal di kota.

Itu artinya Yi Ryung ingin turun gunung. Se Hoon membanting kertas presentasinya dan dengan dramatis berkata, “Ini berarti tak ada alasan yang menghalangi kita untuk merekrutnya!”

Se Hoon teringat betapa Yi Ryung menolaknya mentah-mentah saat ia berkata akan mengorbitkannya.


Chief Heo semakin dramatis saat menutup presentasinya, “Saya percaya kalau kita mampu merekrunya! Yakin. Yakin sekali!!” seru Chief Heo sambil bertepuk tangan.


Para anggota rapat juga bertepuk tangan kecuali Se Hoon yang tak puas. Apa rencana Chief Heo untuk merekrut Yi Ryung? Chief Heo menunduk, membuat Se Hoon marah dan menyuruh anak buahnya pergi mencari cara terbaik.


Kayaknya ada yang ga sabar nih karena anak buahnya lelet ide. Ia akhirnya memutuskan akan turun tangan sendiri dengan naik gunung, lengkap dengan mobil sport merahnya.


Pemilik toko sudah mengingatkan Se Hoon kalau mobilnya tak akan bisa naik ke atas gunung karena tak ada jalan. Tapi Se Hoon tetap ngeyel membawa mobilnya naik gunung, menerobos hutan.


Se Hoon kaget saat masuk hutan, tak ada jalan yang cukup lebar untuk dilewatin mobilnya. Ha.. ya iyalah.. Akhirnya Se Hoon meninggalkan mobilnya dan berjalan kaki mendaki gunung. Untung sepatunya bukan sepatu pantofel walau saltum, mendaki dengan memakai jas.


Mulanya Se Hoon merasa senang bisa jalan-jalan dengan menghirup udara segar. Itung-itung jalan-jalan, deh. Sebentar saja jasnya sudah basah oleh keringat. Tapi ia tetap bersemangat, melompati bebatuan untuk melintasi sungai. Melewati semak di hutan yang lebat. Benar-benar melelahkan.


Se Hoon mulai berkeluh kesah, walau terus berjalan. Kenapa Yi Ryung tinggal di tempat yang jauh sekali? Dan walau tinggal sendirian, tak dapatkan mereka membuat jalan untuk para pengunjung? Apa Yi Ryung tak bisa mengutus orang untuk menyambutnya? Kenapa juga Odaesan? Depan gunung, belakang juga gunung.


Melihat perjalanan Se Hoon mirip sekali dengan lagu Naik Naik ke Puncak Gunung.
Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali

Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemaraa.. a a

Kiri kanan kulihat saja banyak ..


Se Hoon tertegun melihat pemandangan di depannya. Ia ada di pinggir tebing tepi jurang!


Hahahaha… Se Hoon menjerit kesal dan berteriak, “YOO YI RYUNG!!!”



Komentar :

Hahaha… ga nyangka terdampar di pinggir jurang. Haduhh… mau kemana coba? Dan ga ada lagi yang mau mendengarkan omelannya kecuali daun yang bergoyang kalau kata Ebiet. 

Aihh… jaduhnya saya..

Sebelumnya Se Hoon pernah berkata kalau ia tak punya hobi. Padahal ia jelas-jelas punya hobi tuh. Marah-marah. Kuat juga ya si Chief Heo jadi korban omelan. Mungkin menurut Chief Heo, ini mah gak seberapa dibanding kalau jadi sekretarisnya Gyun Man di Remember.


Hahaha… si Chief Heo ini yang jadi So Bum di Remember : War of the Son, ya? Kesian banget setelah menjadi asisten Se Hoon (High End Crush tayang di bulan November 2015), eh pindah jadi sekretaris Gyu Man yang haduh banget. Tadi pas saya belum tahu namanya siapa, saya selalu kan nyebut dia dengan hanya asisten asisten.. gitu, sampai pernah ga sadar beberapa kali nulis namanya dengan So Bum di recap drama ini. LOL. 

Abis pekerjaannya sama, karakternya sama. Eh..dua bosnya juga sama-sama nyelekit kalau ngomong, walau yang di drama sebelah itu bosnya gak cuman nyelekit tapi sadis.

Kalau se Hoon mah cincay.. gampang ditaklukkannya. Panggil aja Yi Ryung.

Wih.. pasti Chief Heo senang kalau Se Hoon berhasil membawa Yi Ryung turun gunung. Si Psikiater, yang saya belum tahu namanya itu, kayaknya juga deh. Dia pasti akan melepas confetti lagi setiap melihat Se Hoon tak berkutik di depan Yi Ryung. 

Selanjutnya : Sinopsis High End Crush Episode 4

1 comment :

  1. Iya mbak...
    Chief heo kayaknya nanti lbh sng jd bawahannya se hoon deh dibanding gyu nam, cm karakternya lbh berkembang kalo bareng gyu nam daripada se hoon hihihi *spoiler
    Mbak dee ya...nggak bisa bo.ong jg kalo liat playlistnya playlist ahjumma kece :p
    Thnak you mbak^^ lanjut remember ya?

    ReplyDelete