February 22, 2016

Signal Episode 9 - 1

Signal Episode 9 - 1


Hae Young mendengar suara gemirisik radio dan menemukan walkie talkienya dia laci meja kerjanya Kapten Ahn, tepat saat Kapten Ahn masuk dan melihat Hae Young memegang walkie talkie itu. Hae Young langsung bertanya kenapa benda itu bisa ada di laci mejanya Kapten Ahn. (Errr... kayaknya walkie talkie itu mati saat Kapten Ahn datang... atau mungkin Kapten Ahn memang tidak mendengar apapun?)

"Memangnya kenapa? Apa itu milikmu?"




Hae Young heran mendengar nada bicara Kapten Ahn yang seolah tahu benda itu milik siapa. Kapten Ahn mengkonfirmasi kalau dia memang mengetahuinya, walkie talkie itu dulu milik Jae Han.

"Walkie talkie ini milik Detektif Lee Jae Han?"

"Iya. Dia membawanya kemana-mana seperti jimat keberuntungan" 


Kapten Ahn berkata bahwa tim investigasi menemukan walkie talkie itu saat Jae Han menghilang 15 tahun yang lalu. Benda itu ditemukan di dekat lokasi mobil Jae Han ditemukan. Benda itu disimpan sebagai barang bukti tapi baru-baru ini benda itu hendak buang, lalu kenapa Hae Young menyimpan benda itu?

 

Hae Young langsung curiga mendengarnya, bagaimana Kapten Ahn bisa tahu kalau dia menyimpan benda ini? Apa selama ini Kapten Ahn mengawasinya? Kapten Ahn mengacuhkan pertanyaannya dan menuntut jawaban Hae Young, apa sebenarnya hubungan Hae Young dengan Jae Han? Kenapa Hae Young mencari tahu latar belakang Jae Han?

"Kenapa? Apa ada alasan sampai aku tidak boleh mencari tahu latar belakang Detektif Lee Jae Han? Atau ada rahasia mengenai hilangnya Detektif Lee Jae Han yang tidak boleh kuketahui?"

Kapten Ahn menyangkalnya dan berkata tidak ada rahasia apapun dalam kasus menghilangnya Jae Han. Percakapan mereka terhenti dengan cepat saat beberapa polisi lain datang. Kapten Ahn memperingatkan Hae Young untuk tidak lagi menyentuh barang-barang di meja kerjanya. Tapi Hae Young mengklaim walkie talkie itu adalah miliknya dan karena itulah dia akan mengambilnya kembali.


Di rumah, Hae Young termenung memikirkan informasi yang baru didapatkannya. Walkie talkie itu ternyata milik Jae Han yang dulu selalu dibawanya kemana-mana. Tapi saat dia pertama kali menemukannya, benda itu tadinya akan dibuang. Lalu, apakah dia mendapatkan walkie talkie ini hanya karena kebetulan? Kenapa walkie talkie itu hanya menyala tiap jam 11:23 malam? Dan kenapa harus dia yang menerima transmisi ini? Kenapa transmisi ini terjadi?

Tapi jika benda ini ditemukan disekitar lokasi mobil yang ditinggalkan Jae Han sebelum dia menghilang, maka sudah pasti ada rahasia yang tersembunyi dibalik kasus ini. Hae Young lalu mulai meneliti kembali dokumen kasus korupsinya Jae Han. Hae Young yakin kalau Jae Han dijebak dan dikambinghitamkan sebagai polisi korup oleh seorang anggota kepolisian. Dia harus bisa menemukan siapa orang yang menjebak Jae Han, hanya dengan cara itulah dia akan tahu bagaimana dan kenapa Jae Han menghilang.


Saksi kasus korupsi Jae Han, Kim Sung Bum, tiba-tiba menerima sebuah amplop. Label dalam amplop itu menyatakan kalau pengirimnya adalah Kapten Ahn dan didalamnya berisi pesan yang meminta Sung Bum untuk menemuinya di parkiran karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan mengenai Jae Han.

Sung Bum langsung pergi ke tempat yang ditunjuk... tapi malah mendapati Hae Young lah yang menunggunya dan langsung bertanya apakah Kapten Ahn yang menjebak Jae Han dan mengkambinghitamkannya sebagai polisi korup? Tapi Sung Bum pura-pura tidak kenal  Kapten Ahn bahkan mengklaim tidak mengerti maksud Hae Young.

"Tentu saja dia pasti tidak bisa melakukannya seorang diri. Skala kasus ini cukup besar, siapa orang di belakangnya?"

Sung Bum tetap bersikeras tidak tahu apa-apa dan menyuruh Hae Young untuk membawa surat perintah kalau dia memang sangat ingin menyelidiki kasus itu.

Tahun 1997,


Jae Han juga tengah mengintai Kim Sung Bum. Dari atas jembatan, dia melihat Sung Bum dan anak-anak buahnya sedang sibuk memasukkan uang dalam jumlah sangat banyak kedalam sebuah kardus. Jae Han menyelidiki Sung Bum sebagai tersangka dalam kasus bisnis penipuan skema piramida. Tapi Sung Bum dianggap tidak bersalah dengan alasan tidak cukup bukti... Tapi Jae Han langsung mendengus saat dia melihat bahwa orang yang berwenang menyatakan Sung Bum tidak bersalah adalah Kim Bum Joo.


Soo Hyun sedang menghias pohon natal saat Jae Han kembali ke kantor polisi malam harinya. Soo Hyun langsung bertanya penasaran Jae Han dari mana saja seharian ini dan apa rencana Jae Han saat natal nanti? Tanpa menunggu jawaban Jae Han, Soo Hyun langsung memberikan dua buah tiket untuk Jae Han. Soo Hyun berkata bahwa dia memberikan tiket film itu sebagai ungkapan terima kasih.

Tapi tiket film mengingatkan Jae Han pada masa lalunya. Dan karena itulah, dia langsung menolak. Dia tidak menjelaskan alasannya dan hanya berkata kalau dia tidak nonton film. Soo Hyun langsung terdiam sedih dengan penolakannya.


Bum Joo mengumumkan pada anak-anak buahnya bahwa mereka akan bertugas melakukan kontrol ketat pada toko-toko di kota. Jae Han seperti biasanya, jadi satu-satunya orang yang membangkang perintahnya. Bersikeras meminta Bum Joo untuk mengizinkannya menyelidiki kasus perampokan yang dilakukan oleh seorang perampok bersepeda motor yang sudah banyak meresahkan warga.

"Ini memang bukan kasus besar yang bisa membawa banyak uang lewat jalur belakang. Sudah banyak orang yang menderita karena krisis IMF (krisis moneter yang melanda Asia tahun 1997), orang seperti ini yang harus disingkirkan," ujar Jae Han.


Kesal karena Jae Han melawan perintahnya dan berani bicara lancang padanya, Bum Joo langsung menendang kaki Jae Han sampai Jae Han kesakitan dan tak sengaja menjatuhkan foto-foto CCTV tersangka perampokan. Kalau Jae Han sangat ingin menangkap perampok itu, baiklah silahkan saja. Tapi Jae Han hanya boleh melakukan penyelidikan di siang hari. Malam hari Jae Han tetap harus ikut patrol keliling toko-toko di kota, dia tidak peduli walaupun Jae Han kecapekan. Jika Jae Han tidak muncul malam hari maka Jae Han akan dianggap mengabaikan perintah.


Setelah Bum Joo pergi, Soo Hyun membantu Jae Han mengambili foto-foto tersangka yang terjatuh. Saat dia memperhatikan salah satu foto yang memperlihatkan tersangka memakai helm gelap yang menutupi seluruh wajahnya, dia langsung bertanya pesimis apakah Jae Han akan bisa menangkapnya kalau dia bahkan tidak bisa melihat wajah si pelaku ini.

Kesal, Jae Han langsung merebut foto itu dari tangan Soo Hyun "Apa detektif divisi kejahatan berat hanya bisa menangkap pelaku kalau wajah penjahatnya kelihatan saja? Aku hanya butuh instingku."


Selama beberapa hari kemudian, Jae Han sangat amat sibuk. Siang hari dia berkeliling dari satu bengkel ke bengkel lainnya untuk mencari informasi tentang sepeda motor yang digunakan pelaku. Sementara malam harinya, dia harus keliling kota mengecek toko-toko. Saking sibuknya, dia sampai kecapekan dan ketiduran di meja kerjanya.


Soo Hyun kasihan melihatnya dan akhirnya berinisiatif membantu Jae Han secara diam-diam. Selama beberapa hari, dia akan meluangkan sedikit waktunya untuk meneliti foto-foto si perampok. Dia bahkan sampai membawa foto-foto perampok itu dalam tidurnya.


Suatu malam saat mereka patrol dan baru keluar dari salah satu toko, Soo Hyun melihat seorang pengendara sepeda motor berhenti di lampu merah. Dia melihat si pengendara motor itu menggoyang-goyangkan kakinya... sama persis seperti cara si pelaku perampokan menggoyang-goyangkan kakinya yang pernah dia lihat di salah satu rekaman CCTV.


Yakin kalau dialah si perampok itu, Soo Hyun berteriak mengumumkan dialah si perampok itu dan langsung berlari menyerang si pengendara motor itu tanpa mendengarkan teriakan Jae Han yang yakin kalau bukan dia perampoknya karena sepeda motornya beda.


Beberapa saat kemudian, Soo Hyun terdiam dengan tisu tersumpal di hidungnya yang berdarah sementara Jae Han menggerutu kesal dan mengatai Soo Hyun sudah gila. Tapi yang mengejutkan, pengendara motor yang Soo Hyun serang ternyata memang pelaku perampokan yang sebenarnya. Para polisi yang lain (kecuali Jae Han) langsung bertepuk tangan memuji keberhasilan Soo Hyun.

"Tapi, bagaimana kau bisa tahu padahal kau tidak bisa melihat wajahnya?"

"Aku melihatnya di mimpiku."

Soo Hyun senang dengan pujian semua orang padanya. Tapi saat Jae Han terus menggerutu kesal padanya, kebahagiaannya langsung sirna.

Tahun 2015,


Hae Young berusaha mencari informasi tentang Jae Han dari Soo Hyun. Dia beralasan kalau dia ingin tahu tentang Jae Han karena dia merasa sangat berterima kasih pada Jae Han, berkat Jae Han lah mereka bisa mendapat petunjuk dan menangkap Han Se Kyu.

"Kudengar dulu dia pernah bekerja bersama Kapten Ahn Chi Soo di kepolisian Jinyang. Apa dulu mereka berdua dekat?"

Soo Hyun menatap Hae Young curiga dan mulai sadar kalau semua kasus dingin yang berhasil mereka selesaikan, semuanya berhubungan dengan Jae Han. Mulai dari kasus penculikan Kim Yoon Jung, kasus pembunuhan berantai Gyeonggi Nambu dan juga kasus Han Se Kyu. Hae Young langsung terdiam canggung mendengarnya. Tapi kemudian dia cepat-cepat berkilah, pura-pura tidak tahu kalau semua kasus itu berhubungan dengan Jae Han.


Walaupun masih sangat curiga pada Hae Young, tapi Soo Hyun akhirnya mau menjawab pertanyaan Hae Young. Dia tidak tahu tentang bagaimana hubungan Jae Han dengan Kapten Ahn. Yang dia tahu bahwa Jae Han dipindahtugaskan ke Injoo saat terjadi sebuah kasus besar di sana. Di sanalah, Jae Han dan Kapten Ahn pertama kali bertemu.

Hae Young shock mendengarnya "Injoo?"

"Kenapa? Apa kau tahu?"

"Injoo adalah kampung halamanku."

"Kalau begitu kau pasti tahu kasus apa itu. Kasus geng pemerkosa siswi SMA di tahun 1999."

Hae Young makin shock mendengarnya, sama sekali tidak menyangka kalau Jae Han adalah salah satu tim detektif yang menangani kasus itu. Soo Hyun heran melihat reaksi Hae Young. Tapi Hae Young cepat-cepat menyudahi percakapan mereka dan pergi.


Soo Hyun lalu pergi menemui seseorang untuk mencari informasi tentang Hae Young. Dari orang itu, dia akhirnya mengetahui tentang sejarah keluarganya Hae Young. Hyung-nya Hae Young, Park Sun Woo, adalah mantan napi tersangka kasus geng pemerkosaan. Sun Woo dipenjara selama beberapa bulan sebelum akhirnya dia dibebaskan. Latar belakang keluarganya Hae Young ini sebenarnya bisa jadi kendala saat dia diwawancara masuk Universitas Kepolisian. Tapi pihak komite memutuskan untuk memberinya kesempatan dan seperti itulah bagaimana Hae Young bisa diterima di kepolisian.

"Hyung-nya... apa dia masih ada di Injoo?"

"Tidak. Tak lama setelah dia dibebaskan, dia bunuh diri."


Hae Young tengah merenungkan informasi barunya ini saat tiba-tiba saja telepon di meja kerjanya Soo Hyun berbunyi. Soo Hyun sedang keluar, maka Hae Young pun akhirnya mengangkatnya. Yang menelepon Ibunya Soo Hyun, ia terdengar sangat panik mencari Soo Hyun lalu berkata kalau rumahnya sepertinya baru saja kerampokan.


Cemas, Hae Young bergegas ke rumah Soo Hyun dan mendapati barang-barang di rumahnya Soo Hyun acak-acakan... diacak-acak kedua keponakan nakalnya Soo Hyun. Hahaha..!


Hae Young langsung melongo sementara Ibu beralasan kalau tadi dia mengira ada perampok makanya dia panik menelepon Soo Hyun. Ibu meminta maaf... tapi kemudian memuji-muji ketampanan Hae Young. Hae Young jadi semakin canggung mendengarnya. Dia berusaha pamit pergi tapi tiba-tiba Ibu berteriak mengeluh encoknya kumat.


Terpaksalah, Hae Young yang akhirnya memberesi rumahnya Soo Hyun sementara Ibu asyik berbaring di sofa sambil memberi berbagai perintah tentang dimana saja barang-barangnya harus diletakkan sambil mencari tahu berapa usia Hae Young dan memberitahu Hae Young tentang berbagai kelebihan Soo Hyun.


Ibu terus menerus membuat berbagai alasan untuk menahan kepergian Hae Young. Menyuruh Hae Young memindahkan pot tanaman yang berat, menyuruh Hae Young memperbaiki lampu kamarnya Soo Hyun, dll. Dan saat sudah tidak ada pekerjaan lagi, dia langsung memaksa Hae Young untuk makan.


Sementara Ibu keluar mencarikan makanan untuknya, Hae Young akhirnya menghabiskan waktu membereskan barang-barang di kamarnya Soo Hyun. Saat itu, tak sengaja dia menemukan buku jurnalnya Jae Han yang tergeletak di lantai. Hae Young membuka-buka buku itu dan menemukan sebuah kertas memo kecil terselip di bagian sampul buku.

Di memo itu, Jae Han menulis tentang 2 kasus yang pernah ditanganinya bersama Hae Young... dan bawahnya, tertulis 2 kasus lain: Kasus Hongwon-dong yang terjadi pada tahun 1997 dan Kasus Siswi SMA Injoo yang terjadi pada tahun 1999.


Tepat saat itu juga, Ibu masuk membawa burger. Hae Young pun cepat-cepat menyembunyikan memo itu di sakunya dan Ibu langsung mencekokinya burger.


Malam harinya di rumah, Hae Young mempelajari memo itu dan menyadari dua kasus awal adalah kasus-kasus yang pernah mereka tangani bersama. Dia lalu membrowsing tentang kasus Hongwon-dong yang terjadi pada tahun 1997.

17 Oktober 1997,


Seorang wanita sedang makan kimbab di sebuah mini market sambil melirik petugas kasir dengan malu-malu. Si petugas kasir (eh, aku kira dia Hae Young, mirip banget soalnya. Tapi setelah diperhatikan baik-baik, baru nyadar kalau dia Lee Sang Yeob) itu juga terus menerus menatapnya. Saking gugupnya ditatap Si kasir, wanita itu sampai tersedak. Si kasir menghampirinya dan berbaik hati memberinya sebotol air yang sudah dibukanya.


Beberapa saat kemudian, dia berjalan melewati gang gelap seorang diri sambil mendengarkan lagu di headphone-nya. Di tengah jalan, tiba-tiba dia bertabrakan dengan Kasir tadi. Wanita itu jadi sangat gugup. Dia hendak pergi, tapi Kasir itu tiba-tiba menahannya dan berkata kalau dia butuh bantuan.


Si kasir membawa wanita itu ke sebuah sudut gang yang sangat gelap dimana mereka mendapati seekor puppy kecil yang kakinya terluka dan diperban. Wanita itu langsung menggendong Si puppy dan bertanya-tanya kenapa dia bisa terluka seperti ini.

"Aku yang melakukannya" kata Si kasir. (OMO lariiiii!!!) Belum sempat bereaksi apapun, wanita itu tiba-tiba dibungkam dengan kresek.


Beberapa saat kemudian, wanita itu disekap di sebuah kamar mandi. Tangan dan kakinya diikat dan kepalanya ditutupi kresek. Dia berusaha meronta-ronta histeris sementara Si kasir hanya menatapnya dan berkat...

"Hidup itu berat kan? Kau tidak seharusnya hidup. Aku akan membantumu" dan setelah mengatakan itu, dia langsung mencekik wanita itu.


Seorang tunawisma berjalan melewati sebuah gang pembuangan sampah. Disana dia melihat sebuah selimut merah. Tunawisma itu langsung menarik-narik selimut itu... tapi malah mendapati selimut itu berisi mayat seorang wanita (wanita yang baru saja dibunuh Si kasir). Sontak Tunawisma itu langsung shock dan ketakutan.

Tahun 2015,


Hae Young bingung karena hasil browsingnya pada kasus Hongwon-dong ternyata nol. Aneh! Tidak ada informasi satupun tentang kasus itu seolah kasus itu tidak pernah ada. Tapi tepat saat itu juga, walkie talkienya menyala.

Di tahun 1997, 


Jae Han sedang patroli saat dia menyadari walkie talkienya menyala. Dia membuat-buat alasan mau ke kamar kecil padahal dia lari ke gang sepi untuk menjawab transmisinya Hae Young. Jae Han tidak menyangka akan mendengar kabar dari Hae Young lagi, dia kira Hae Young benar-benar sudah membuang walkie talkienya.

Hae Young bertanya apakah selama mereka tidak saling berkomunikasi, walkie talkienya Jae Han menyala dan apakah Jae Han pernah bicara pada orang lain selain dirinya. Jae Han membenarkan kalau walkie talkienya pernah beberapa kali menyala tapi tidak ada yang menjawab.

Hae Young lalu bertanya sekarang Jae Han berada di tahun berapa. Jae Han menjawab sekarang ini sudah dua tahun berlalu sejak mereka terakhir kali berkomunikasi jadi sekarang sudah tahun 1997. Hae Young berpikir berarti saat ini Jae Han masih belum bertemu dengan Kapten Ahn dan belum tahu tentang kasus Injoo.


"Di sana sudah tahun berapa?" tanya Jae Han

"Disini masih tahun 2015. Kalau disana tahun 1997, apa kau sedang menyelidiki kasus Hongwon-dong"

Jae Han malah bingung, apa ada kasus yang terjadi di Hongwon-dong? Kasus apa? Hae Young mengaku tidak tahu, dia sudah mencoba mencari informasi kasus itu di internet tapi tidak mendapatkan informasi apapun. Selama masih belajar dulu dia banyak mempelajari kasus tapi tidak pernah sekalipun mendengar tentang kasus Hongwon-dong ini.

Jae Han jadi cemas mendengarnya, apa mungkin kasus ini juga salah satu kasus dingin? Hae Young tidak tahu tapi dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi di Hongwon-dong "Itu yang tertulis dalam buku notesmu."


"Buku notesku? Apa yang kutulis?"

"Ada sebuah memo yang kau selipkan didalam buku notesmu. Disana tertulis tentang kasus Gyeonggi Nambu tahun 1989, kasus perampokan tahun 1995, kasus Hongwon-dong tahun 1997 dan... kasus siswi SMA Injoo tahun 1999"


Jae Han heran mendengarnya, dari mana pula Hae Young mendapatkan notesnya? Tapi pertanyaannya tidak terjawab karena tepat saat itu juga transmisi mereka terputus. Jae Han mengeluarkan buku notesnya dan membuka kertas memo yang sama persis dengan yang dipegang Hae Young, hanya saja dalam memonya yang ini hanya tertulis 2 kasus awal Gyeonggi Nambu dan kasus perampokan.

Berkat informasi dari Hae Young, Jae Han langsung pergi ke kantor polisi lain untuk mencari informasi tentang kasus ini. Dia beralasan kalau dia datang hanya untuk mengunjungi salah seorang Sunbae-nya. Tapi Sunbae tidak percaya, dan dugaannya terbukti benar saat Jae Han mulai bertanya-tanya tentang keluarga korban yang baru saja terlihat keluar. Ada apa itu? Apa ada pembunuhan? Apa kasusnya besar? cerocos Jae Han tertarik.


Sunbae tertawa mendengarnya, tapi kemudian dia mengaku kalau dia sedang menangani sebuah kasus pembunuhan. Korbannya seorang wanita, tapi ada yang aneh dengan kematiannya. Mendengar itu, Jae Han langsung merebut dokumen laporan yang Sunbae pegang dan melihat foto-foto korban yang tampak dibungkus dengan karung dan kepalanya dibungkus kresek.


Sunbae berkata kalau korban adalah seorang ibu rumah tangga bernama Joo In Hee yang tinggal di sekitar kawasan ini. (Hmm... korban yang ini beda tapi cara pembunuhannya sama. Apa ini kasus pembunuhan berantai?). 


Tapi anehnya, Sunbae berkata bahwa kemungkinan wanita itu dibunuh karena masalah asuransi dan kecurigaan polisi saat ini tertuju pada keluarga korban yang pastinya akan menerima uang asuransi jika korban meninggal. Saat masih mempelajari laporan itu, seorang saksi yang menemukan korban datang. Sunbae langsung merebut kembali laporan itu dan pergi meninggalkan Jae Han.

Bersambung ke episode 9 - 2

No comments :

Post a Comment