February 15, 2016

Remember : War of the Son Episode 17 - 2

Remember : War of the Son Episode 17 – 2


Jin Woo menemui Dong Ho dan tanpa basa basi langsung bertanya, “Kau yang membunuh Presdir Suk Joo Il, kan?” Dong Ho ingin menjelaskan pada Jin Woo, tapi sebenarnya Jin Woo ingin mengingatkan Dong Ho kalau pertanyaan penuh tuduhan itu pernah Dong Ho lontarkan saat pertemuan pertama mereka.



Dong Ho ingat. Dan ia pun berkata kalau jawabannya sama seperti jawaban ayahnya. Jika Jin Woo tak mempercayainya, Jin Woo tak perlu menjadi pengacaranya. Jin Woo berkata kalau ia masih tak mempercayai Dong Ho, jadi ia minta Dong Ho untuk menceritakan dengan sebenar-benarnya.

Dong Ho pun mengaku kalau ia tak pernah ingin membunuh Joo Il. Jin Woo pun menyanggupi untuk membela Dong Ho. Tapi ia membela bukan karena Dong Ho, melainkan karena ingin menghancurkan Nam Gyu Man dan Nam Il Ho.


Pengacara Song tak setuju mendengar keputusan Jin Woo yang akan membela Dong Ho. Manajer Yeon lebih lunak dan hanya bertanya apakah Jin Woo sendiri tak keberatan. Jin Woo menenangkan mereka kalau ia senang karena sebagai pengacara ia mendapat kasus baru. In Ah tersenyum memberi semangat pada Jin Woo.


Jin Woo menemui Detektif Bae untuk mencari informasi. Tapi informasi yang didapat sama seperti yang ada, tak ada yang mencurigakan dari penemuan mereka. Detektif Bae yang dulu berteman dengan Dong Ho tak menyangka Dong Ho ternyata adalah orang yang tega membunuh. Jin Woo heran melihat perilaku detektif Bae.


Sepeninggal Jin Woo, Detektif Bae melapor pada Moo Suk kalau Jin Woo adalah pengacara yang akan membela Dong Ho. Moo Suk memberitahu hal ini pada Gyu Man. 


Gyu Man bingung dan kesal karena perkembangan ini. Ia merasa tak bisa membaca pikiran Jin Woo. Ia akhirnya menyimpulkan kalau mereka berdua pasti sedang merencanakan sesuatu. “Dasar orang rendahan. Mereka semua adalah orang rendahan. Harusnya aku bunuh mereka semua.”


Moo Suk menemui Jaksa Tak untuk memastikan kalau Grup Ilho tak mengalami masalah dalam audit pajak. Jaksa Tak menenangkan. Berkat Moo Suk yang sudah membereskan semuanya sebelum mengundurkan diri, Grup Ilho aman.


Mereka bertemu dengan Jaksa Chae yang menyindir keduanya yang sekarang bisa rukun. Jaksa Tak menjawab kalem kalau tak ada hal di dunia ini yang langgeng. Jaksa Chae mengira ia bicara bukan dengan Jaksa Tak (yang biasanya jujur). Moo Suk mengatakan kalau Presdir Nam juga menyukai Jaksa Chae yang malah mengkhianati beliau.


“Sebagai jaksa, aku menuntut jika kejahatan terjadi dan mengabdikan diriku pada pengadilan, Pengacara Hong,” ujar Jaksa Chae. Moo Suk berkata mereka akan bertemu di pengadilan nanti. Jaksa Chae mengangguk dan melenggang pergi.


So Bum sedang membacakan jadwal kerja Gyu Man saat mendapat SMS dari Suk Kyu. Barang bukti sudah kuserahkan pada orang yang berhak. Tak disangka Gyu Man mengintip. Ia tak melihat siapa pengirimnya tapi membaca isi SMSnya. “Barang bukti?”


So Bum buru-buru menutup handphonenya dan berkata gugup kalau SMS itu dari pacarnya. Gyu Man mempercayainya.


Suk Kyu memberikan barang bukti itu pada Jin Woo dan In Ah beserta laporan resmi dari NFS. Ia menjelaskan kalau barang bukti yang dulu ditemukan adalah palsu yang menyebabkan tak ada sidik jari ayah Jin Woo. Sementara di barang bukti yang ini, ada sidik jari Gyu Man dan darah korban. “So Bum yang memberikannya padaku. Aku memberikan ini padamu karena kupikir kaulah yang paling membutuhkan barang ini.”


Jin Woo berterima kasih pada Suk Kyu karena tahu kalau Suk Kyu pasti juga berat melakukannya. Suk Kyu membenarkan. Gyu Man adalah temannya tapi ia memutuskan hal ini sebagai hakim. Ia bertanya apakah Jin Woo akan minta persidangan ulang.


“Ya, aku akan minta persidangan ulang dan menguak semua kejahatan yang dilakukan Nam Kyu Man. Awal dan akhir persidangan sudah pasti hasilnya jika Nam Gyu Man berhasil dibawa ke persidangan.”


Melanjutkan sidang Ha Young, Moo Suk memanggil saksi baru, yaitu Min Hee. Gyu Man memandang gadis itu dengan tenang. Moo Suk bertanya pada Min Hee yang mengetahui hubungan Ha Young dan Gyu Man, “Apakah Song Ha Young-ssi sering menceritakan pada Anda tentang betapa sukanya ia pada tertuduh?”

Jaksa Chae mengajukan keberatan, tapi jaksa menolak keberatan itu dan menyuruh Moo Suk melanjutkan pertanyaan. Moo Suk pun bertanya lagi. Kali ini Min Hee harus menjawab.


In Ah dan Ha Young menatap Min Hee khawatir. Min Hee menatap Gyu man sebelum menjawab, “Ha Young tak pernah mengatakan hal seperti itu.” Seluruh ruangan gempar mendengarnya. Tapi In Ah dan Ha Young tersenyum lega.


Ternyata In Ah sudah beberapa kali menemui Min Hee yang selalu ditolak. Tapi kali ini Min Hee tergeragap karena kedatangan In Ah bersama Ha Young. In Ah tahu kalau Gyu Man pasti sudah menemui Min Hee dan mengancamnya untuk memberi kesaksian palsu.Ia memahami posisi Min Hee yang sulit, tapi ia minta agar Min Hee tak menyerah pada Nam Gyu Man lagi.


Min Hee tak berani karena ia sudah menderita karena kejadian itu. Sekarang ia tak ingin menderita lagi dan hidup tenang. In Ah menjawab, “Kami mohon keberanianmu agar kejadian ini tak terulang lagi. Jika ada orang yang maju dan bicara sebelum kalian, pasti kalian tak akan mengalami hal seperti ini juga.”


Ha Young membujuk Min Hee karena iapun dulu juga merasakan hal yang sama. Tapi sejalan dengan persidangan, ia merasa semakin kuat dan berani. “Maukah kau berada di pihakku? Kita selalu melakukan semuanya bersama-sama saat menjadi trainee. Iya kan?”


Itulah yang dilakukan Min Hee sekarang. Dan ia menambahkan, “Saya juga seperti Min Hee, mengalami perkosaan oleh Nam Gyu Man. Saya coba menolaknya, tapi dia terlalu kuat untuk saya.” Ruang pengadilan gempar. Moo Suk mencoba menganulir kesaksian Min Hee tapi terlambat. Sesuai perintah haki, Min Hee melanjutkan, “Tak hanya itu, Nam Kyu Man juga mencoba menyuap saya dengan uang.”


Min Hee mengeluarkan amplop uang dan menatap Nam Gyu Man. “Aku tak butuh uang ini. Kau pikir uang bisa menyelesaikan segalanya?!”


Jaksa Chae minta hakim untuk menambah dakwaan karena telah menyuap saksi. Moo Suk menyadari semuanya sudah kacau sementara Gyu Man hanya bisa menahan emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun.


Ha Young berterima kasih pada Min Hee. Min Hee menyadari kalau semua ini pasti berat bagi Ha Young dan berjanji akan tetap berada di sisi Ha Young.


Jin Woo menyelidiki TKP dan menemukan jejak sepatu bekas menginjak bensin. Ia mulai menduga dan merekonstruksi jejak sepatu itu dalam pikirannya. Berdasar penyelidikan NFS dari luka tusukan yang muncul, korban ditusuk dan melakukan perlawanan.

Ada bekas darah di kuku Presdir Suk. Dan dari blackbox, nampak Dong Ho datang dan meninggalkan mobil. Setelah Dong Ho menghilang, layar black box terlihat goyang sebentar.


Presdir Nam marah mendengar berita persidangan itu dan memarahi Gyu Man. Gyu Man membela diri, “Ini bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku sudah percaya pada Pengacara Hong sepenuh hati tapi sepertinya ia tak sebaik sebelumnya.”


“Kau terlalu tua untuk menyalahkan orang lain atas kesalahanmu!” bentak Presdir Nam. “Apa kau pikir Pengacara Hong akan bertanggung jawab terus akan hidupmu?”


Nam Gyu Man minta maaf dan berjanji akan memenangkan persidangan ini. Presdir Nam memutuskan untuk tak mengijinkan Gyu Man mengurus perusahaannya. Gyu Man kaget mendengarnya. Tapi keputusan Presdir Nam sudah final, “Tetaplah merendah hingga persidanganmu selesai.” Gyu Man mencoba membela diri, tapi Presdir Nam tak ingin mendengar dan menyuruhnya keluar.

Haduhh… dari dulu kek kayak gini.


Jin Woo bicara di depan kamera, meminta maaf pada ayahnya karena akan membela Dong Ho. Ia merasa berat, tapi ia akan melakukannya.


Dong Ho muncul dan merasa sangat ironis. Ia yang dulu pengacara mentereng, sekarang duduk di kursi pesakitan dan dibela oleh Jin Woo, putra terdakwa yang kalah ia bela. But show must go on. Jin Woo berkata, “Harusnya kau berhenti menjadi pengacara 4 tahun yang lalu. Sedangkan aku akan tetap menjadi pengacara karena aku akan membelamu sampai akhir.”

Dong Ho tertunduk diam sementara Sang Ho diam-diam menghapus air matanya.


Persidangan dimulai dengan Suk Kyu yang menjadi hakim.  Jaksa memberikan bukti black box yang menunjukkan waktu kepergian Dong Ho persis dengan waktu penusukan sesuai investigasi. Jin Woo menganggap jaksa  menuduh kliennya hanya karena kliennya ada di TKP. Tapi Jaksa berkata kalau tak ada orang lain yang ada di TKP saat itu.


“Apa Anda yakin tak ada orang lain? Atau itu hanya asumsi Anda sendiri?” tanya Jin Woo. Jaksa berkata kalau yang ia katakan ini ada di BAP, yang dibalas oleh JIn Woo, “Bagaimana jika BAP tak dilakukan polisi dengan benar?”


Jin Woo mengajukan dalihnya. Ia memberikan foto yang ia ambil di TKP. Ada bukti jejak sepatu di TKP, tapi polisi menolak kemungkinan itu. Jaksa keberatan karena itu hanya asumsi Jin Woo karena mungkin saja itu adalah sepatu terdakwa.


Jin Woo berkata kalau itu bukan asumsinya karena jejak sepatu itu mengarah ke TKP. Di TKP ada dua jejak sepatu yang ditemukan di sisi pintu penumpang. Yang satu berukuran 290 cm dan satu lagi 275 cm. Jejak sepatu Dong Ho adalah 290 cm maka itu berarti ada orang lain yang ada di TKP.


Jaksa memberikan bukti kedua. Pisau ditemukan di kantor terdakwa dengan kulit dan darah menempel di pisau tersebut. Jin Woo bertanya apakah sidik jari terdakwa ada di pisau tersebut. Jaksa berkata tidak tapi hal itu bisa terjadi karena terdakwa memakai sarung tangan. Hasil forensik menyebutkan kalau ada bekas sarung tangan yang menempel di pisau.


Jin Woo berkata kalau itu adalah bukti yang kebetulan. “Sidik jari terdakwa..” Jin Woo terdiam, seakan menyadari sesuatu. Ia teringat ucapan Suk Kyu yang memberikan barang bukti asli yang digunakan untuk membunuh mahasiswi Seochon.

Astaga… jangan dong, jangan dong.. Please jangan sekarang…


Tapi ingatan Jin Woo memang kembali ke peristiwa di kantor Suk Kyu. Ia akhirnya mengumumkan, “Senjata itu palsu karena tak ada sidik jari terdakwa di senjata itu,” ujar Jin Woo menambahkan.


Jaksa marah karena Jin Woo menganggap senjata itu palsu padahal ada laporan resmi dari forensik. Suk Kyu pun membenarkan hal itu dan bertanya apakah Jin Woo memiliki bukti kalau pisau itu palsu?


Jin Woo terbata-bata karena bingung. Ucapan jaksa bergema di telinganya. Sekelebat ingatan lain muncul di pikirannya dan ia mengumumkan dengan mata berkaca-kaca, “Karena terdakwa mengidap penyakit Alzheimer, Yang Mulai.”


Dong Ho dan semua orang bingung mendengar ucapan Jin Woo. Hanya In Ah yang terkejut, tak percaya  karena penyakit Jin Woo kambuh di saat krusial sepert ini. Dengan hati-hati Suk Kyu bertanya apa maksud Jin Woo.


Jin Woo mengernyit, memejamkan mata. Tapi yang ia ingat adalah saat Moo Suk menyudutkan ayahnya yang berpura-pura alzeimer untuk menghindari tuduhan. Jin Woo hanya bisa membela kliennya, “Yang Mulia, terdakwa bukanlah pembunuh Oh Jung Ah.”


Jin Woo memandang sekeliling ruangan, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

Komentar:

Saat Jin Woo sejenak terdiam, saya berharap saat itu Jin Woo menyadari sesuatu yang bisa membebaskan Dong Ho dari dakwaan. Atau ide apalah yang membuatnya harus berpikir sejenak. Tapi setelah ia menyebutkan kalau senjata itu palsu, aduhhh… rasanya menggoncangkan tubuh Jin Woo. Wake up! Wake up, please.. !

Bukannya kata dokter penyakitnya masih 6 bulan lagi, ya?Kenapa sekarang? Kenapa penyakit itu muncul di saat semua orang bisa melihatnya? Kabar ini pasti akan sampai ke telinga Gyu Man.


Kasihan Jin Woo-ya..

2 comments :