February 20, 2016

One More Happy Ending Episode 9 - 1

One More Happy Ending Episode 9 - 1


Dokter datang dan memeriksa keadaan Mi Mo. Soo Hyuk bertanya apa Mi Mo baik-baik saja? Apa dia akan segera sadar? Si dokter mengiyakan dan meminta agar Soo Hyuk tidak perlu khawatir karena Mi Mo baik-baik saja. Namun Soo Hyuk masih merasa khawatir karena Mi Mo belum sadar sampai sekarang. 

“Dia sedang tidur,” jawab dokter.

“Dia sedang tidur?” tanya Soo Hyuk tak mengerti. "Dia tidak pingsan?


“Ketika seseorang merasa malu sekali, otak mereka akan lelah. Jadi sekarang hal itu yang terjadi padanya. Otaknya merasa malu sehingga dia ingin melupakan semuanya dan pergi tidur,” jelas dokter dan meminta Soo Hyuk untuk memberi Mi Mo air putih hangat saat Mi Mo bangun nanti.

Walaupun sudah mendengarkan penjelasan dari si dokter, Soo Hyuk terus merasa khawatir dan bertanya apa Mi Mo tak perlu diinfus. Dokter meyakinkan Soo Hyuk kalau Mi Mo baik-baik saja dan hanya perlu air putih hangat saja. 


Soo Hyuk mengantarkan dokter dan berterima kasih karena dokter itu sudah mau datang padahal salju sedang turun dengan derasnya. Si dokter memberitahu kalau Kim Yu Na, guru SD yang tadi ia temui, adalah istrinya. Mendengar itu, Soo Hyuk terkesima mendengar si dokter menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya. Tapi bagi dokter, hal itu bukan hal yang hebat.

“Aku akan memberikan nasehat. Hiduplah sendiri. Itu salah satu cara agar kau bisa tidur nyenyak sepanjang malam, bahkan jika kau tertidur di sofa sambil minum bir. Tak seorang pun akan menamparmu dari belakang. Hiduplah sendiri untuk malam yang indah,” nasehat si dokter dan pamit pergi. Hehheh… keluhan dokter ini hampir sama dengan Hyun Ki yang terlihat tak bahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka, sama-sama merasa tertekan. 

Soo Hyuk masuk lagi ke ruangan, mengira Mi Mo masih tidur dan duduk di sampingnya. Padahal Mi Mo pura-pura tertidur. Dia heran kenapa Mi Mo pergi ke ruang Sains. Tapi tentu saja tak ada jawaban dari Mi Mo. Soo Hyuk akhirnya membelai rambut Mi Mo dan merapikan selimutnya. 

Pandangan Soo Hyuk beralih ke luar jendela, melihat salju turun. Hal itu mengingatkannya pada ucapannya waktu kecil. Jika kau mengungkapkan cintamu pada saat turun salju… maka keinginanmu akan diwujudkan.


Flashback
Mi Mo dan Soo Hyuk bersama teman sekelasnya sedang belajar menggambar. Mereka memenuhi kertas gambar dengan satu atau beberapa warna, kemudian menimpa warna itu dengan crayon hitam. Setelah itu mereka menggambar di atas crayon hitam sehingga warna di bawahnya keluar.

Mi Mo menggambar boneka salju. Berbeda dengan boneka salju pada umumnya, boneka salju yang Mi Mo buat punya tubuh yang kurus. Dia beranggapan kalau boneka salju itu terlalu gemuk dan perutnya buncit, jadi seharusnya boneka salju itu punya tubuh yang ideal. 

Kita beralih pada Soo Hyuk yang membuat gambar bintang. Kertas hitam miliknya di penuhi dengan gambar bintang. 


Hari sudah malam, Mi Mo dan Soo Hyuk baru akan pulang ke rumah mereka karena latihan teater. Soo Hyuk mengeluh karena Mi Mo dia jadi pulang terlambat. Dia menyebut Mi Mo itu bukan Juliet, dan lebih cocok disebut ikan mas (karena tak hafal dialog). 

“Jangan panggil aku ikan mas. Karena kau menggangguku, jadi aku sering lupa,” jawab Mi Mo. Soo Hyuk mengaku kalau dia sudah lelah dan frustasi. Tak senang mendengar keluhan Soo Hyuk, Mi Mo pun menyuruh Soo Hyuk  untuk bilang pada Guru mereka kalau dia tak ingin menjadi Romeo. Mi Mo kesal, memilih berjalan pulang sendiri dan tak mau bicara dengan Soo Hyuk. 

Soo Hyuk menangkap lengan Mi Mo, mencegahnya pulang sendiri karena Mi Mo bukan gadis pemberani. Lebih baik mereka pulang bersama dan ia akan mengantarkan Mi Mo pulang. Mi Mo yang masih kesal menolak tawaran Soo Hyuk dan beralasan kalau punya kaki jadi dia bisa pergi sendiri. 

“Kau seorang gadis, berbahaya jalan sendirian di malam hari,” jawab Soo Hyuk dan mereka pun jalan bersama. Baru beberapa langkah berjalan, Mi Mo berhenti dan melihat kearah langit yang dipenuhi banyak bintang.

Membahas tentang bintang, Soo Hyuk berkata kalau di langit itu sebenarnya terdapat ribuan bintang hanya saja ditutupi oleh langit gelap. Ia mengeluarkan gambar yang tadi dia buat dan mengangkatnya. “Lihat! Ketika kau menyingkirkan krayon hitam. Hanya akan ada bintang yang tersisa,” ucap Soo Hyuk.

Mi Mo langsung membantah dan berkata kalau di langit bukan hanya ada bintang saja. Masih ada bulan, matahari, hujan dan salju. Ia lalu mengeluarkan gambarnya dan mengangkatnya, “Lihat! Ada salju juga,” ucapnya.

“Bintang datang bersama-sama dan menjadi matahari dan bulan. Hujan turun karena bintang sedih dan menangis. Salju turun ketika bintang menangis bahagia,” ungkap Soo Hyuk berdasarkan pemikirannya sendiri.

“Dia tidak tersenyum? Aku suka tersenyum,” tanya Mi Mo.

“Aku bilang, salju turun ketika bintang menangis bahagia. Ketika kau bahagia, kau tidak tersenyum, kau menangis,” jelas Soo Hyuk yang kemudian menambahkan kalau salju ada berkat bintang. 

“Mereka bilang jika kau mengungkapkan cintamu pada saat turun salju. Maka keinginanmu akan diwujudkan,” ucap Soo Hyuk dan Mi Mo berharap salju turun lebat saat mereka melakukan pertunjukan.

Flashback End

Soo Hyuk masih menatap ke arah jendela dan berkata kalau dia merasa apapun yang akan dia katakan akan dimaafkan karena sedang turun salju. Dia menatap Mi Mo yang masih tidur dan berkata kalau yang akan ia ucapkan ini adalah untuk yang pertama dan terakhir kalinya, karena dia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk memberitahu Mi Mo mengenai perasaannya. 


“Wanita yang tingginya 163 cm, memiliki kelopak mata ganda, tidak pernah melakukan operasi plastik.  Punya badan yang mungil dan pernah gagal dalam bercinta. Wanita itu adalah kau… kau ikan mas,” aku Soo Hyuk sedih. Ia pun keluar ruangan.


Mi Mo yang pura-pura tidur pun membuka mata. Dia terlihat kaget mendengar pengakuan Soo Hyuk. Sedangkan Soo Hyuk pergi ke luar gedung dan kemudian membuka kotak hadiahnya. 


Flashback

Soo Hyuk membawa tabungan babi merahnya yang sudah penuh. Dia menggunakan semua uang tabungannya untuk bermain permainan di depan toko. Setelah berusaha sekuat tenaga dan menghabiskan uangnya, akhirnya Soo Hyuk mendapatkan 100 koin. Soo Hyuk sangat senang dan berlompat kegirangan saat berhasil mendapatkan 100 koin karena itu artinya dia bisa mengambil hadiah kotak perhiasan. 

Ahjumma pemilik toko saja sampai terbelalak kaget saat melihat Soo Hyuk memberinya 100 koin. Si ahjumma seperti tak percaya Soo Hyuk mampu melakukan semua itu.

Flashback End



Soo Hyuk mengambil cincin bermata besar milik Mi Mo yang dulu pernah dia berikan sebagai cincin pernikahan mereka ketika mabuk bersama. 


Flashback

Mi Mo yang saat itu mabuk, meminta di belikan cincin kawin. Ketika sadar dari mabuknya, Mi Mo reflek melempar cincin pemberian Soo Hyuk ke bawah kursi. Dan ternyata saat Soo Hyuk mengganggu kencan Hae Joon dan Mi Mo di rumah, dia tanpa sengaja menemukan cincin itu.

Flashback End

Soo Hyuk memasukkan cincin bermata besar ke dalam kotak perhiasannya. Di ruangan istirahat, Mi Mo duduk dan terngiang kembali pada apa yang Soo Hyuk katakan padanya. 

Di rumah, Hae Joon terus kepikiran tentang Mi Mo dan Soo Hyuk yang saat ini sedang bersama. Tak tahan lagi, Hae Joon pun pergi menjemput Mi Mo. 


Mi Mo mendengar suara seseorang akan masuk, jadi dia cepat-cepat membaringkan tubuhnya lagi. Soo Hyuk masuk dengan membawa air hangat untuk Mi Mo. Dia kembali duduk di samping Mi Mo dan merapikan selimutnya. Ia memeriksa kening Mi Mo, untuk mengecek apakah demam atau tidak. Saat membelai rambut Mi Mo, ia melihat kalau kening Mi Mo luka dan diapun langsung menyari kotak P3K untuk mengobatinya. 

Mi Mo mengintip, membuka matanya sedikit untuk melihat apa yang Soo Hyuk lakukan. Ia buru-buru menutup matanya saat Soo Hyuk berbalik lagi. Soo Hyuk mengoleskan salep pada luka Mi Mo, juga tak lupa memasang plesternya. 

Karena Mi Mo berada di dekat jendela, Soo Hyuk merasakan bagian samping Mi Mo yang mengarah ke jendela. Karena merasa ada angin yang mengenai Mi Mo, Soo Hyuk pun mengambil selimut untuknya tidur dan memakaikannya pada Mi Mo.


Mi Mo membuka matanya, namun dia memalingkan wajahnya dari Soo Hyuk yang sekarang sudah berbaring tak jauh dari tempatnya. Soo Hyuk berbaring hanya mengenakan bantal dan berselimut jaket saja. 

Sementara itu, Hae Joon mengendarai mobilnya menuju SD Dalbit untuk menjemput Mi Mo. 

Soo Hyuk sudah tertidur dan saat bergerak, kotak yang berisi kapsul waktunya terjatuh dari jaket dan tertendang kakinya sendiri kotak itu terlempar masuk ke bawah laci. 


Pagi pun tiba, Soo Hyuk terbangun dan melihat Mi Mo yang sudah membuka mata terlebih dulu, nampak seperti berpikir.

“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Soo Hyuk. Mi Mo mengiyakannya. 

Soo Hyuk dan Mi Mo berpamitan pada Kim Yu Na. Soo Hyuk bertanya apa suami Yu Na tidur dengan nyanyak karena semalam kelihatannya sangat lelah. Yu Na mengiyakan dan berkata kalau semua itu karena suaminya sudah semakin tua. 

“Inilah sebabnya kenapa seharusnya aku menikah dengan pria seumuran denganku,” ujar Yu Na. Ia memberitahu Mi Mo dan Soo Hyuk kalau murid-muridnya akan memainkan drama Romeo dan Juliet pada akhir bulan ini. Dia meminta Mi Mo dan Soo Hyuk datang untuk menyaksikannya. 

“Itu akan menyenangkan, tapi tempat ini terlalu jauh,” jawab Soo Hyuk. Tapi Yu Na sangat mengharapkan kedatangan mereka sebab drama Romoe dan Juliet kali ini akan dibuat berbeda. Mereka tidak akan mati karena keracunan. 

Yu Na menyarankan agar mereka sarapan di restoran depan sekolah sebelum mereka kembali ke Seoul. Soo Hyuk dan Mi Mo pun setuju untuk makan dulu. Tepat disaat itu Hae Joon sampai, jadi merekapun sarapan bertiga. 


Saat makan, Hae Joon menyuruh Mi Mo makan dan bertanya makanan ini kesukaan Mi Mo. Belum sempat Mi Mo menjawab, Soo Hyuk menjawab kalau Mi Mo itu suka makanan yang seperti ini. Semakin berlemak, semakin suka, karena Mi Mo beranggapan makanan itu menyehatkan.

“Kalian kedengaran berteman akrab lama sekali, padahal kalian hanya teman saat di SD,” sindir Hae Joon. Sadar akan situasi, Mi Mo pun berusaha menetralkan suasana dengan bertanya tentang kondisi jalanan sekarang, karena sebelumnya banyak jalan ditutup karena salju.

Dengan nada datar Hae Joon menjawab kalau jalannya sudah dibersihkan, dan ia menunggu cukup lama hingga jalanan bersih. Hae Joon kedengaran kecewa karena terlalu lama sampai ke tempat Mi Mo. Mendengar itu, Mi Mo pun berkata kalau seharusnya Hae Joon tidak usah datang menjemputnya. 

“Ada acara apa kau datang kesini?” tanya Hae Joon yang sepertinya ingin membuat Soo Hyuk merasa tak ada di antara mereka karena tak diajak bicara. 

“Oh, ini adalah ulang tahun ke 50 dari yayasan sekolah. Soo Hyuk dan aku dipilih sebagai perwakilan kelas untuk membuka kapsul waktu. Kami datang untuk menggali dan memberikannya pada siswa dari kelas yang sama,” jawab Mi Mo. Hae Joon bertanya apa yang Mi Mo masukkan.

“Tinker Bell,” jawab Soo Hyuk tanpa berpikir.

“Milikmu?” tanya Hae Joon dengan ekspresi tak senang.

“Apakah kau pikir itu milikku?”

“Kenapa tidak? Aku tahu kau orangnya lembut,” tukas Hae Joon pedas. Hae Joon kembali, Tinker Bell seperti apa yang Mi Mo masukkan. “Pink atau hijau? Pink lebih cocok buatmu,” tebak Hae Joon dan Soo Hyuk hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Mi Mo tersenyum tak enak. Dia sepertinya tak enak jika memberitahu Hae Joon kalau tebakannya salah. 

“Kau terlihat cantik dengan warna pink ketika kau memakainya saat menjadi anggota Angels,” tambah Hae Joon.

“Aku bosan memakai warna putih, jadi aku terus mengeluh kepada stylist-ku. Dia kemudian memberi baju warna pink,” jawab Mi Mo dan Hae Joon langusng berkata kalau stylist Mi Mo-lah yang harus disalahkan untuk urusan itu.

“Seharusnya dia (stylist Mi Mo) memberikan pakaian warna pink dan merah. Kau terlihat cocok dengan pakaian yang cerah,” tambah Hae Joon dan Mi Mo hanya tersenyum mendengarnya. Namun senyuman itu terlihat di paksakan. Hae Joon lalu bertanya apa yang Mi Mo inginkan saat dia masih kecil. 

“Sesuatu yang berkilau,” jawab Soo Hyuk sambil makan. Soo Hyuk berhenti makan, menyadari kalau ia keceplosan lagi tanpa berpikir. Ia buru-buru menambahkan, “Kau tahu kan, itu yang anak perempuan sukai. Dari dulu, dia suka cincin, gelang dan anting-anting. Pada saat itu, dia tidak tahu apakah itu emas atau perak. Dia seperti ikan mas yang berpikir apapun yang berkilau itu adalah emas,” jelas Soo Hyuk.

“Aku tidak bertanya padamu,” ucap Hae Joon dengan sinis. Soo Hyuk pun jadi tak enak dan bergumam kalau apa yang dia katakan memang benar. 


“Ya, aku suka barang-barang seperti itu,” ucap Mi Mo dan melihat ke arah Soo Hyuk dengan pandangan tak enak.  Hae Joon lalu bertanya apa yang Soo Hyuk masukkan ke dalam kapsulnya. Belum sempat Soo Hyuk menjawab, Mi Mo langsung berkata kalau Soo Hyuk memasukkan barang-barang porno. Namun Soo Hyuk meralat, dia tidak memasukkan barang seperti itu. 

"Lalu apa yang kau masukkan?” tanya Hae Joon lagi.

“Ini hanya sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh orang dewasa. Tidak aku, tidak siapapun,” jawab Soo Hyuk dan mengajak mereka untuk melanjutkan makan.

Waktunya pulang, Hae Joon merangkul Mi Mo dan mengajaknya ke mobil. Soo Hyuk pun hanya bisa melihat Mi Mo di bawa pergi Hae Joon dengan tatapan sedih. 


Di mobil, Mi Mo merasa tak nyaman karena Hae Joon hanya diam saja. Tak seperti saat mereka di restoran dimana Hae Joon terus bertanya ini dan itu. Soo Hyuk harus pulang ke Seoul sendirian, dia melihat bangku disebelahnya kosong. 

Gun Hak datang lagi ke rumah sakit karena Yeon Soo memintanya datang jika ada waktu untuk mengamati pasien wanita yang berada di kamar yang sama dengan Da Jung. Gun Hak memang datang tapi dia tak menemui Da Jung.


Seorang ahjumma masuk ke kamar Da Jung dan mengantarkan makanan untuknya. Namun Da jung sedang tak berada di tempat tidurnya. Kemana Da Jung? Ternyata dia sedang berada di toilet. Dia menangis meratapi semua yang terjadi pada dirinya. 

Da Jung kembali ke tempat tidurnya dan makan makanan yang sudah disiapkan untuknya. Namun baru satu suap nasi dia makan, Da Jung kembali menangis. Hye Sun menghampir Da Jung dan memberikan lauk yang dia bawa dari rumah.

“Makanlah yang banyak. Badanmu yang lain bisa sakit juga,” ucap Hye Sun.

“Aku pikir akan baik-baik saja jika payudaraku dioperasi.”

“Kau bilang kau tidak harus melakukan kemoterapi. Kau tahu betapa beruntungnya dirimu?” tanya Hye Sun dan Da Jung menjawab kalau dia merasa bukan seperti wanita lagi. Hye Sun pun mengerti apa yang Da Jung rasakan. 


“Pantau terus perkembangannya dan jika tidak ada yang terjadi. Belilah 1 set yang baru. Beli bra ukuran C,” hibur Hye Sun. “Dan bahkan tanpa payudara, kau tetap seorang wanita. Siapa yang menyebutmu seorang pria kalau wajahmu sangat cantik?” tambah Hye Sun.


Tanpa sepengetahuan mereka, Gun Hak mendengar obrolan mereka. Gun Hak terlihat sedih melihat Da Jung seperti itu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. 

Dong Mi sedang mengajar di kelas Tae Yong dan dia memberi tugas agar semua anak membuat sajak tentang salju. Ada yang menulis puisi yang tentang salju yang putihnya seperti patbungsu (es kacang merah). Ada anak yang super higienis yang menulis puisi melarang makan salju karena kotor. 


Tugas itu juga membuat insipirasi bagi Dong Mi untuk menulis puisi dalam pikirannya. “Dia… pergi bersama angin yang dingin. Dia ... meninggalkanku oven yang garansinya sudah habis. Dia meninggalkan tagihan kartu kredit untuk jam tangan tak berguna yang kubeli di swalayan. Seperti itu… dia pergi tanpa jejak,” bunyi sajak yang Dong Mi buat di dalam pikirannya. Tepat disaat itu, ponselnya bergetar dan itu adalah SMS dari bank yang memberitahukan kalau ada uang masuk sebesar 6000 dollar ke rekening Dong Mid an orang yang mengirim uang itu adalah Lee Wook.

Aku mendapatkan kembali uang yang dia ambil dariku untuk tunjangan anaknya,” ucapnya dalam hati melanjutkan sajak yang dia buat tadi.


Mi Mo sudah sampai di rumah dan situasinya dengan Hae Joon masih sangat canggung, mereka sama-sama diam. Mi Mo pun membuka bicara dengan menguncapkan terima kasih karena Hae Joon sudah menjemputnya.

“Mi Mo-shi…. Kepercayaan bukan sesuatu yang berasal dari satu orang saja,” ucap Hae Joon dengan nada serius.

Mi Mo menjawab kalau acara itu hanya 1 hari, jadi dia tak terlalu memikirkannya. Dia juga tak tahu kalau akan terperangkap disana karena salju. 

Hae Joon lalu mengaku kalau dia adalah orang yang cepat tapi juga lambat, orang yang terbuka tapi juga tertutup. Mendengar itu Mi Mo berkata kalau Hae Joo adalah orang yang sulit di mengerti. Hae Joon pun memperjelas semuanya, dia mengaku kalau dia sudah sering melihat Mi Mo dan Soo Hyuk bersama.

Kita beralih pada Soo Hyuk yang menyadari kalau kotak hadiah-nya tak ada di dalam jaket. Tepat disaat itu, dia mendapat telepon dari Hyun Ki yang memintanya untuk cepat datang ke kantor karena A Ni mengundurkan diri. 

Kembali lagi pada Hae Joon dan Mi Mo, dimana Hae Joon meminta agar Mi Mo menjaga jarak dengan Soo Hyuk, karena Mi Mo sudah tahu kalau Hae Joon merasa tak nyaman jika melihat mereka berdua. 

“Apa maksudmu? Dia sahabatmu dan dia teman sekolahku?” tanya Mi Mo.


“Apa kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?” tanya Hae Joon balik dan Mi Mo mengaku kalau dia benar-benar tidak tahu alasannya. Dia juga berkata kalau dia adalah wanita sederhana yang tak suka bertele-tele jadi dia ingin Hae Joon mengatakan semuanya dengan jelas agar tak terjadi kesalahpahaman. 

“Apa tidak cukup menyedihkan kalau aku membicarakan hal ini? Jangan buat aku seperti pria menyedihkan. Jika kau melakukannya… itu membuatku takut untuk mencintaimu karena mungkin saja aku terluka,” aku Hae Joon.

“Jadi… apa itu artinya kau belum mencintaiku? Kau sangat berbeda. Kadang-kadang aku bingung. Tapi aku rasa aku benar,” ucap Mi Mo sedih.

“Mi Mo shi..”

“Aku tidak membuka hatiku sepenuhnya… karena aku takut terluka. Aku membuka hatiku seutuhnya bahkan saat aku tahu akan terluka. Sebaliknya...,” belum selesai Mi Mo berucap, Hae Joon memotong dan bertanya apa hanya dia satu-satunya orang yang ada di hati Mi Mo. Mendengar pertanyaan itu, Mi Mo tak bisa langsung menjawab.



Soo Hyuk keluar dan hendak pergi kerja, namun langkahnya terhenti karena penasaran dengan apa yang sedang Mi Mo lakukan sekarang. Dia terus memandang ke arah rumah Mi Mo dan teringat kembali saat Hae Joon merangkul Mi Mo dan mengajaknya pergi. Tepat disaat itu, Hae Joon keluar dari rumah Mi Mo dan Soo Hyuk langsung berusaha memberikan penjelasan pada Hae Joon, namun Hae Joon tak mau mendengarnya. 

“Yang paling penting bagiku adalah bagaimana perasaan Mi Mo,” ucap Hae Joon dan berjalan pergi.


Mi Mo masih duduk terdiam, dia teringat kembali pada pertanyaan Hae Joon yang bertanya apa hanya dialah satu-satunya orang yang ada di hati Mi Mo dan Hae Joon meminta Mi Mo agar tak membuka hatinya untuk orang lain.

Mengingat kata-kata Hae Joon, Mi Mo pun membuka plester yang ada di keningnya. Melihat plester itu, Mi Mo pun jadi teringat kembali pada pengakuan Soo Hyuk yang mengaku kalau Mi Mo lah wanita yang Soo Hyuk suka. 

Dalam perjalanan pulang, Hae Joon teringat kembali pada saat dia mengungkapkan rasa sukanya pada Soon Soo.


Flashback!
Saat itu Soon Soo meminta agar Hae Joon tidak menyatakan perasaannya karena Soon Soo menyukai Soo Hyuk. Hae Joon lalu mengaku kalau dia suka Soon Soo karena Soon Soo cantik dimatanya selain itu karena Soon Soo sangat baik padanya. 

“Karena kita teman. Kita berada di klub yang sama. Dengar, aku baik padamu sebagai teman. Ini sedikit canggung, aku akan berpura-pura tidak mendengar mengenai apa yang kau katakan,” ucap Soon Soo.

“Kau merasa canggung?” tanya Hae Joon yang seperti tak ikhlas karena Soon Soo hanya merasa canggung.


“Kenapa kau bertanya? Kau pikir aku akan memiliki perasaan untukmu? Apa itu yang kau inginkan?” tanya Soon Soo dan Hae Joon langsung membantahnya dengan terbata-bata. Soon Soo lalu memberitahu Hae Joon kalau Soo Hyuk sangat menyukai Hae Joon, dia sangat perhatian pada Hae Joon, jadi kalau sampai Soo Hyuk mendengar tentang perasaan Hae Joon, pasti Soo Hyuk akan merasa kecewa. Soon Soo lalu pergi meninggalkan Hae Joon sendiri.


Soo Hyuk bertanya kenapa A Ni mengundurkan diri. A Ni menjawab kalau dia bekerja di tempat itu karena Soo Hyuk dan sekarang dia merasa tak ada alasan lagi baginya untuk bertahan, karena sebenarnya dia tak menyukai pekerjaan itu. 


A Ni mengemasi barang-barangnya dan untuk file mengenai  Mi Mo dia buang ke “recycle bin”. Tepat disaat itu bos-nya datang dan reflek A Ni langsung menutup laptopnya. Si bos bertanya apa A Ni punya berita yang belum dia terbitkan, kalau iya dia ingin A Ni memberikannya. A Ni  menyebut bos-nya itu sebagai bos paling buruk yang pernah ia miliki karena si bos terus menekannya di hari terakhirnya dengan menagih berita. Si bos hanya tertawa menanggapi sindiran A Ni dan memintanya untuk menunjukkan apa yang harus di lakukan pada pengganti A Ni. 

Hyun Ki datang dan langsung menutup laptop Soo Hyuk. Dia memberitahu Soo Hyuk untuk berhenti menulis karena artis yang sedang mereka ikuti sudah putus. Tentu saja Soo Hyuk kesal mendengarnya.


“Apa mereka bercanda? Aku menunggu sampai kedinginan.. hanya untuk mendapatkan 1 foto mereka. Bagaimana mereka bisa putus seperti ini?” keluh Soo Hyuk dan Hyun Ki menjawab semua itu hak mereka, kapanpun mereka ingin putus. Soo Hyuk lalu mengumpat kedua artis itu karena menganggap cinta sebagai lelucon. Mereka jatuh cinta dengan mudah dan putus juga dengan mudah. 

“Hei, bilang pada mereka agar berkencan lagi,” ucap Soo Hyuk pada Hyun Ki. A Ni dan si bos hanya memandang bingung pada mereka berdua.

“Haruskah aku? Haruskan aku bilang pada mereka untuk kencan lagi  selama seminggu.. jadi kita bisa menerbitkan artikel kita?” tanya Hyun Ki.

“Katakan kepada mereka kalau cukup 3 hari saja,” jawab Soo Hyuk kesal. Wkwkkw koplak ne orang.

“Dia benar. Kau sudah kerja untuk artikel itu selama 1 bulan. Katakan pada mereka untuk memberi belas kasihan. Haruskah aku menghubungi mereka?” tanya si bos yang ikutan koplak. LOL

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending Episode 9 - 2

No comments :

Post a Comment