February 28, 2016

One More Happy Ending Episode 11 - 1

One More Happy Ending Episode 11 - 1


Mi Mo tak tahan melihat perlakuan fans Seul Ah pada Soo Hyuk. Ia sudah akan menghampiri Soo Hyuk jika Hyun Ki tak mencegahnya. Mi Mo akan memperparah situasi jika Mi Mo muncul. Lagipula Soo Hyuk tetap akan diserang jikapun Mi Mo muncul dan yang ia lakukan ini adalah permintaan Soo Hyuk.

Mi Mo pun tetap di tempatnya walau frustasi pada apa yang terjadi.




Perawat di RS Sarang melihat video Soo Hyuk saat melindungi Mi Mo dan mereka menyebut kalau Soo Hyuk adalah pangerannya Mi Mo. Tepat disaat itu, Hae Joon muncul dan mendengar obrolan mereka. 


Penasaran dengan video yang diperbincangkan para perawat, Hae Joon pun menontonnya sendiri. Melihat Soo Hyuk memeluk Mi Mo dan melindungi Mi Mo dari lemparan para fans Seul Ah, tentu saja hati Hae Joon merasa sakit. Hae Joon kemudian teringat pada pertemuannya dengan A Ni.


Flashback

A Ni menemui Hae Joon sebelum dia pergi. Dia meminta maaf karena sudah bersikap kelewatan pada Hae Joon sebelumnya. Saat itu A Ni menyebut kalau dia dan Hae Joon sama saja.

“Sebenarnya aku ingin tahu. Apa kau berbeda dengan Soo Hyuk sunbae... yang akan mengorbankan diri demi wanita,” ucap A Ni. Ia memberitahu Hae Joon kalau Soo Hyuk sudah membuat artikel untuk membersihkan nama Mi Mo dan artikel itu membuat Soo Hyuk menderita sekarang.

Flashback End

Hae Joon terlihat kecewa mengetahui semuanya dan dia langsung beranjak dari tempat duduknya. Euum... karena profesinya sebagai dokter, jadi Hae Joon gak tahu dengan apa yang terjadi di luar sana.


Soo Hyuk muncul di tempat Mi Mo menangis, namun dia tak menghampirinya. Melihat kedatangan Soo Hyuk, Mi Mo langsung beranjak dari duduk dan nampak semakin sedih ketika melihat jaket Soo Hyuk kotor akibat lemparan telur oleh para fans Seul Ah.



Mata mereka saling pandang, Mi Mo perlahan melangkahkan kakinya dan Soo Hyuk melihat hal tersebut. Namun baru dua langkah, Mi Mo menghentikan langkahnya. Tepat disaat itu Hae Joon datang dan melihat mereka berdua, tapi dia tak menghampiri mereka, dia hanya melihat mereka dari jauh. 


Dengan mata yang berkaca-kaca, Mi Mo melangkah mundur. Melihat itu Soo Hyuk mengerti, dan ia pun perlahan melangkah mundur untuk kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Mi Mo.

Ditinggal Soo Hyuk, Mi Mo menangis sejadi-jadinya. Melihat semua itu, Hae Joon tambah kecewa dan memilih pergi tanpa bertemu dengan Mi Mo.  


Ia teringat kata-kata Yeon Soo yang penasaran dengan apa yang terjadi yang terjadi jika bukan Soo Hyuk yang merebut Mi Mo, tapi Mi Mo sendirilah yang berubah pikiran. Ia menyadari kalau yang diucapkan Yeon Soo benar-benar terjadi sekarang,

Hae Joon emosi dan menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil untuk menghirup udara segar., tapi ia malah menangis. 


Untuk menenangkan dirinya, Hae Joon minum wine di cafe. Tapi wine tak bisa meredakan sakita yang dirasakan Hae Joon karena yang mucul di ingatannya adalah tangisan Mi Mo.

Mi Mo sendiri terus berjalan dan akhirnya sampai ke RS Sarang. Bukan, bukan untuk menemui Hae Joon, melainkan pada sahabatnya, Da Jung. 


Pada Da Jung, Mi Mo mengaku kalau dia berharap hatinya mati rasa karena dia tak ingin merasakan perasaan seperti yang dirasakannya sekarang. Hatinya tahu apa yang ia inginkan, tapi semua itu sudah terlambat. “Aku harus bagaimana?” tangis Mi Mo. Da Jung pun langsung memeluknya yang terus menangis, "Aku benci hatiku yang seperti ini.”

“Jangan begitu. Hatimu pasti juga menderita,” hibur Da Jung.


Hae Joon sekarang sudah berada di depan gedung apartemen Mi Mo, dan dalam kondsi mabuk. Dia ingin menelpon Mi Mo namun tak jadi. Soo Hyuk yang ada di rumah, membuka jendela  dan melihat Hae Joon yang duduk sendirian.


Soo Hyuk menghampiri Hae Joon. Melihat Soo Hyuk, Hae Joon langsung berdiri dan mencengkram baju Soo Hyuk. 

“Song Soo Hyuk, berapa lama lagi aku harus seperti ini? Cepat katakan!” teriak Hae Joon. “Aku merasa aku selalu berada di antara kalian. Berapa banyak lagi penderitaan yang harus kurasakan?!” tanya Hae Joon.

Soo Hyuk hanya bisa minta maaf. Dia mengaku kalau dia tak bisa mengendalikan perasaannya. “Aku benci tak bisa mengendalikan perasaan seperti ini. Aku harus bagaimana? Maaf Hae Joon-a. Aku tak tahu harus kuapakan perasaan ini,” aku Soo Hyuk. Bogem mentah pun langsung diberikan oleh Hae Joon. 



“Kau bertanya padaku? Hanya satu yang harus kau lakukan. Pergi! Aku ingin kau menghilang,” tukas Hae Joon tajam dan ia berjalan pergi.


Mi Mo tak bisa tidur, dia batuk-batuk dan wajahnya berkeringat. Menyadari kalau tubuhnya sakit, Mi Mo langsung minum obat. Melihat obat-obatan yang dia miliki, Mi Mo kembali teringat pada Soo Hyuk, karena obat-obatan itu semua dari Soo Hyuk. 


Paginya, Soo Hyuk sarapan bersama Min Woo. Melihat sang ayah yang hanya diam saja, Min Woo dapat merasakan kalau ayahnya sedang menghadapi masalah. Dia juga melihat sang ayah tadi malam masuk ke kamar dengan jaket yang kotor. 

“Ayah, apa ada masalah?” tanya Min Woo dan Soo Hyuk menjawab tidak ada. Min Woo bertanya apa sang ayah sedang ditindas di kantornya. Kali ini Soo Hyuk mengiyakan, dia mengaku kalau semua orang membenci dirinya. 

“Kenapa melihatku seperti itu? Jangan khawatir. Ayah hanya perlu cintamu,” ucap Soo Hyuk menghibur. Min Woo meminta sang ayah untuk tidak lari, apapun yang terjadi. Soo Hyuk harus menghadapinya. Soo hyuk pun tersenyum dan mengiyakan.

Mi Mo keluar rumah dan melihat banyak kotak di depan rumah Soo Hyuk. Namun Mi Mo tak melakukan apa-apa, dia hanya berjalan pergi. Baru beberapa langkah dia berjalan, pintu rumah Soo Hyuk terbuka, dan Mi Mo reflek langsung berbalik. Ternyata Min Woo.

“Oooh... Min Woo, kau mau berangkat sekolah?” ucap Mi Mo yang salah mengira, dia kira yang keluar tadi adalah Soo Hyuk. Min Woo pun menyapa Mi Mo dan Mi Mo kembali melanjutkan jalannya.

Saat menunggu lift terbuka, dia mendengar Min Woo membuka kotak yang ada di depan rumahnya. Tak ingin Min Woo tahu isi kotak itu, Mi Mo langsung menghampiri Min Woo dan merebut kotak itu.


Mi Mo mengintip isi kotak itu. Ternyata itu adalah kertas yang berisi tulisan makian dan ancaman untuk Soo Hyuk dan juga foto Soo Hyuk yang dihancurkan. 


“Itu untuk kami kenapa ahjumma yang buka?” tanya Min Woo tak mengerti.

“Sebenarnya ini... apa kau tidak terlambat?” tanya Mi Mo, mengalihkan perhatian karena tak tahu bagaimana menjelaskan isi kotak itu.

“Aku masih ada waktu,” jawab Min Woo.

“Waktu berjalan lebih cepat saat pagi. Akan kusimpan ini, nanti kuberikan pada ayahmu. Jangan khawatir, berangkatlah,” ucap Mi Mo dan Min Woo masih berdiam di tempatnya. “Min Woo, tidak bisakah kau percaya padaku? Aku pikir kita dekat.”

“Kalau begitu, tolong berikan pada Ayah,” ucap Min Woo dan kemudian pamit pergi.


Soo Hyuk melakukan rapat bersama rekan kerjanya. Semua rekan kerjanya kecuali Hyun Ki dan si atasan mengeluh,  karena apa yang dilakukan Soo Hyuk membuat mereka jadi kesulitan bekerja. Pegawai yang menggantikan A Ni, mengaku kalau agensi Seul Ah tak mau kerja sama dengan Masspunch, bahkan 5 wawancara yang harus mereka lakukan hari ini, dibatalkan.

Pegawai di sebelahnya juga  mengaku kalau kemarin dia diusir saat melakukan pemotretan. Dia bahkan menyindir Soo Hyuk yang melakukan hal buruk dengan menolong artis tak terkenal.


“Satu yang salah, semuanya menderita,” ucap pegawai pria itu dan pegawai yang duduk di samping pria itu menambahkan kalau mereka tidak punya sponsor lagi sehingga mereka tidak akan mendapatkan bonus akhir tahun ini. 

Disindir terus membuat Soo Hyuk kesal dan hendak melempar pegawai pria dengan kertas yang dia remas. Pegawai itu langsung beringsut mundur.


“Aku kira aku tak kelihatan. Kenapa tak bicara dibelakangku saja? Aku akan pura-pura tidak dengar,” ucap Soo Hyuk dan kemudian dia berkata pada si bos kalau teman kerjanya menginginkan dia berhenti jadi si bos bisa menuruti permintaan mereka. Setelah mengatakan itu, Soo Hyuk keluar ruangan. 


“Ah dasar, dia itu kenapa? Dia tambah menarik. Aku semakin menyukainya. Hai, dia keren kan? Wartawan harus berani seperti dia,” puji si bos yang kemudian hendak bercerita tentang masa mudanya. Namun semua pegawainya langsung beranjak pergi, karena mereka tak mau mendengar cerita si bos.  Wkwkkwk... liat ini scene jadi ingat drama “Angel Eyes” disana juga karakter bosnya selalu di jauhi oleh bawahannya, kalau dia hendak bercerita tentang kisahnya. 

( aku jadi geregetan sama pegawai pengganti A Ni, dia bersikap sok gak bersalah. Padahal yang menyulut semua kejadian itu adalah dirinya. Kalau dia tak memberitahu tentang berita Mi Mo pada si bos dan menerbitkannya, maka dia tidak akan mengalami masalah susah mewawancarai artis dari agensi Seul Ah seperti sekarang ini. 


Soo Hyuk dan Hyun Ki sudah berada di luar kantor. Hyun Ki meminta agar Soo Hyuk tidak mengambil hati atas semua perkataan rekan kerja mereka. Soo Hyuk lalu bertanya kenapa Hyun Ki ingin menjadi wartawan dan Hyun Ki menjawab kalau dulu memang karena senang dengan pekerjaan itu, tapi sekarang karena dia harus mencari uang.

Soo Hyuk mengaku kalau sekarang dia sudah tidak tertarik lagi pada pekerjaan itu. Mendengar itu, Hyun Ki meminta agar Soo Hyuk bertahan sedikit lagi untuk menghadapi semuanya. 


Si Bos langsung mengungkapkan apa saja kerugian yang Masspunch alami gara-gara Soo Hyuk. Yang pertama mereka di tuntut atas tuduhan pencemaran nama baik. Yang kedua pihak Seul Ah meminta ganti rugi agar Masspunch terlilit hutang seumur hidup. 

“Sudah berapa kali kau kucegah?” tanya si bos dengan nada kesal.

“Jadi kita harus menulis cerita yang bagus-bagus saja?” tanya Soo Hyuk.

“Kau tahu siapa Pak Kim itu? kau pikir dia akan berhenti? Dia sudah memperingatkanku. Dia bilang kau menghancurkan harga dirinya, dia ingin kau ditahan,” ucap si bos yang bertambah kesal karena Soo Hyuk tak mau mendengarkannya. 


Mi Mo melihat semua kertas yang berisi makian untuk Soo Hyuk. Dia membeber kertas makian di meja kerja. Sek. Gwak masuk dan terkejut melihat kertas-kertas itu. Dia kemudian mengambil foto Soo Hyuk yang sudah dicoret-coret.

“Ah! Peggemar ini pasti hatinya lemah, dilihat dari kecilnya lubang di foto,” ucap Sek. Gwak dengan tanpa rasa prihatin sedikitpun.

“Nona Gwak, tolong bawa fotomu kemari,” pinta Mi Mo.

“Apa?”

“Aku ingin lihat apa kau masih bisa bicara begini kalau kulubangi fotomu,”  ucap Mi Mo dan Sek. Gwak langsung minta maaf lalu keluar ruangan Mi Mo.


Malam tiba, Mi Mo pulang dan saat keluar dari kantornya, dia melihat Hae Joon sudah menunggu. Mi Mo hanya sedikit senyum melihat Hae Joon. Hae Joon datang karena ingin menjemput Mi Mo dan mengantarkannya pulang. 


Soo Hyuk dan Hyun Ki masih bersama, mereka minum bir kaleng sambil menikmati pemandangan sungai Han di malam hari. Lagi-lagi, Soo Hyuk berkata kalau dia ingin berhenti menjadi wartawan. Karena setelah melihat Mi Mo menderita, dia jadi sadar kalau tanggung jawab sebagai wartawan sangat besar. Soo Hyuk kemudian teringat saat dia melindungi Mi Mo dari lemparan telur dan juga saat Mi Mo tak sadarkan diri di rumahnya.

Soo Hyuk kembali minum dan Hyun Ki melihat luka di bibir Soo Hyuk. Dia kemudian bertanya siapa yang sudah memukul Soo Hyuk. 


“Teman yang aku khianati. Aku Cuma memikirkan perasaanku, aku melukai hati temanku. Lalu temanku itu memukulku. Dia Cuma memukulku sekali. Harusnya dia memukulku lagi,” ungkap Soo Hyuk dan meletakkan kaleng minumannya ke bawah. “Wanita itu tinggal di dekatku, jadi aku merindukannya. Aku ingin berlari padanya. Rasanya aku mau gila, selalu ingin tahu dia sedang apa. Beritahu aku... bagaimana... bagaimana caranya menghapus perasaan ini?” tanya Soo Hyuk dan Hyun Ki menjawab tidak akan bisa kecuali hilang dengan sendirnya. 


Soo Hyuk pulang dan menjatuhkan dirinya di tempat tidur. 


Mi Mo sendiri sedang bersama Hae Joon, mereka jalan bersama. Mereka hanya diam selama bersama. Hae Joon menggenggam tangan Mi Mo, namun Mi Mo terlihat tak nyaman. Di depan apartemen Mi Mo, Hae Joon meminta Mi Mo agar langsung istirahat.


“Hae Joon-shi..,” panggil Mi Mo yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, namun yang keluar dari mulutnya hanya, “Hati-hati di jalan.”

Hae Joon pulang dan saat berjalan kaki, Hae Joon kembali teringat pada kata-kata Yeon Soo yang bertanya apa yang akan Hae Joon lakukan jika Mi Mo sendiri yang berubah pikiran. Hae Joon berhenti tepat di depan toko perhiasan dan setelah berpikir sejenak, Hae Joon masuk ke sana.


Dong Mi sedang tertidur nyenyak. Di dalam mimpinya, dia kembali di datangi cupid. Cupid yang sama seperti sebelumnya. Dong Mi pun memanggil cupid itu dengan sebutan cupid yang masih magang. 

“Aku sudah tidak magang. Sekarang jabatanku, penanggung jawab umum,” aku si cupid namun Dong Mi tak percaya. Cupid pun mengaku lagi kalau anak muda yang sekarang dekat dengan Dong Mi adalah kiriman darinya. Tentu saja Dong Mi terkejut mendengarnya. 

“Jadi, Jung Woo bukan penipu?” tanya Dong Mi namun Cupid tak bisa menjawabnya karena itu adalah rahasia. 

“Entah dia orang baik atau jahat, kau harus cari tahu sendiri,” ucap cupid dan Dong Mi kemudian bertanya apa tujuan cupid datang menemuinya. Si cupid menjawab kalau dia punya permintaan pada Dong Mi.

“Jika nanti.. ada telepon yang bertanya tentang pelayananku, tolong beri nilai 10 dari 10,” pinta cupid namun Dong Mi enggan melakukannya. “Hal itu sangat pentig, kenapa kau seperti ini? Aku harus dapat nilai tinggi supaya cepat naik jabatan. Kau tahu maksudku kan?”

“10 dari 10?”


“Ini juga demi pria itu,” ucap Cupid dan setelah mendengar itu Dong Mi langsung menyanggupi permintaan si Cupid. Karena permintaannya sudah di sanggupi, Cupid pun hendak terbang pulang ke langit, namun tidak bisa, jadi Dong Mi membukakan pintu agar cupid bisa pergi lewat pintu.


Paginya, Dong Mi masuk ke ruang kerja guru dengan wajah ceria dan make up yang mencolok. Pada rekan kerja  yang duduk di sebelah mejanya, Dong Mi menunjukkan switer merah dan bertanya apakah dia cocok menggunakan switer itu untuk kencannya sore ini. 

“Kencan sungguhan? Bukannya mau naik panggung?” tanya rekan kerjanya. 

“Apa? Ya ampun,” ucap Dong Mi dan memegang wajahnya. “Aku sudah bilang ingin kelihatan alami. Aku sudah bayar 30.000 won.”


“Kalau bayar segitu, tentu saja kau ingin orang melihatmu. Mereka sudah benar. Kau sangat mencolok,” jawab rekan kerja Dong Mi yang mendukung make-up Dong Mi. 


Rekan kerja Dong Mi yang lain berkata kalau Dong Mi seperti balerina yang pulang pakai jaket dan lupa membersihkan riasan. Mendengar itu, Dong Mi sadar kalau dandanannya tidak bagus. Tapi karena rekan kerja yang ada disampingnya, bilang bagus, jadi kepercayaan Dong Mi naik lagi.

“Kau seperti mempelai wanita... yang pergi ke bandara memakai baju kembaran dengan suamimu,” ejek rekan kerja Dong Mi yang duduk di sampingnya. Dia akhirnya jujur kalau dandanan Dong Mi tidak bagus. 


Ae Ran marah besar pada semua pegawainya, karena mereka semua sudah membuat taruhan tentang dirinya. 

“Kalian 30.000 won, aku akan tinggal dengannya atau tidak? Tidak bisa kupercaya,” ucap Ae Ran dan para pegawainya mulai mengumpulkan uang taruhan. “Jadi apa hasilnya?” tanya Ae Ran.

“4 banding 1, 4 tidak, 1 iya,” jawab salah satu pegawainya dan itu membuat Ae Ran frustasi mendengarnya. 

“Siapa yang bertaruh aku akan tinggal dengannya?” tanya Ae Ra dan pegawai yang memakai baju hitam mengangkat tangannya. Dia berkata kalau dia percaya pada Ae Ran, lagi pula apa salahnya punya mantan, apalagi Dong Bae juga sudah memutuskan mereka. 

“Kau salah sangka. Aku ini pendendam,” jawab Ae Ran kesal.

“Jadi anda akan berpisah?” tanya pegawai yang lain.

“Kenapa? Kau senang menang taruhan?” tanya Ae Ran.

“Bukan karena uang. Tapi dia sudah suka padanya,” jawab pegawai itu dan menyenggol teman yang ada di sebelahnya. Tentu saja mendengar itu Ae Ran tambah murka.

“Lalu? Kau ingin menjodohkan mereka?” teriak Ae Ran.


Ae Ran sekarang sudah bersama Dong Bae yang sedang membujuknya agar mau tinggal bersama. Ae ran meminta Dong Bae menunjukkan ketulusannya dan membuat Ae Ran percaya akan ketulusannya itu. 

“Aku senang kau mau mempertimbangkan. Baiklah, akan kupikirkan. Akan kupikirkan bagaimana cara menyentuh hatimu,” janji Dong Bae.


Kita beralih pada Dong Mi yang sekarang sudah mengajar di kelas Tae Yong. Melihat Tae Yong yang begitu fokus menggambar, Dong Mi pun menghampirinya dan melihat hasil gambaran Tae Yong. 


“Tae Yong-a, mata ibumu sebesar itu?” tanya Dong Mi dan Tae Yong mengiyakan. “Iya, mata ibumu memang besar. Apa ini di dalam mata ibumu?” tanya Dong Mi dan menunjuk gambar yang ada di mata Da Jung.

“Tae Yong-i.”

“Tae Yong-i?” tanya Dong Mi tak mengerti.

“Ada Tae Yong di mata ibu,” jawa Tae Yong yang teringat saat Da Jung tersenyum dan membelai dirinya yang tertidur. 

“Kau benar, dimata ibunya selalu ada dirimu. Saat kau makan, saat kau belajar, saat kau sekolah dan saat tidur,” tambah Dong Mi dan Tae yong berjanji akan memberikan gambar itu pada sang ibu ketika ibunya pulang dari rumah sakit. 

Dong Mi berjalan sendiri dan kemudian dia berhenti tepat di depan toko kaca mata. Di depan toko itu, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. 


Dong Mi kemudian menemui Jung Won di restoran dengan tanpa menggunakan kaca mata. Tapi sebenarnya Dong Mi belum merasa pede, apalagi Jung Won menatapnya lekat-lekat. "Apa aku terlihat aneh?" Jung Won mengiyakan. Aduh.. Dong Mi semakin tak pede.

"Anehnya..," ujar Jung Won masih terus memandangi wajah Dong Mi. ".. kenapa semua bagian wajahmu jadi terlihat cantik?"

Kyaaa... Dong Mi tersipu-sipu mendengarnya.

Komentar :

Aww... so sweet banget ni cowok. Wajahnya pum mirip Sung Joon ga sih? Duh.. mata Jung Won penuh cinta ini karena memang suka atau panah cupid? Jangan sampai setelah panahnya dicabut, Jung Won jadi tak suka lagi.

Perlu digetok tuh si cupid kalau gitu.

Bersambung ke sinopsis One More Happy Ending ep 11 - 2

No comments :

Post a Comment