January 28, 2016

Six Flying Dragon Episode 18

Six Flying Dragon Episode 18


Keduanya saling menyerang, pedang mereka beradu hingga terpercik api. Setelah beberapa jurus, Gil Tae Mi berhasil menyabet tangan Bang Ji. Untung hanya tergores. Bang Ji kali ini lebih serius dan serangannya membuat Gil Tae Mi kewalahan hingga pedangnya terlepas.


Gil Tae Mi memuji serangan Bang Ji kali ini. Tapi ia pun sekarang lebih serius dengan mengeluarkan pedang kembarnya. Mereka kembali menyerang dengan benar-benar, saling meliukkan badan guna menyerang dan bertahan, menampilkan tarian indah yang sangat berbahaya.



Dan kali ini Bang Ji berhasil membalas dengan melukai lengan Gil Tae Mi. Gil Tae Mi terkejut melihat ia terluka. Salju turun saat mereka kembali bertempur. Tapi kelihatan Gil Tae Mi mulai terdesak dan Bang Ji pun tak memberi ampun, terus menyerang dan menyerang hingga Gil Tae Mi terlempar jauh.. Tanpa jeda, ia mengejar Gil Tae Mi dan membuat satu tebasan ke perut Gil Tae Mi.


Hanya beberapa detik Gil Tae Mi berdiri tegak, untuk kemudian terjatuh. Bang Ji menunggu Gil Tae Mi untuk bangkit. Tapi tak demikian dengan rakyat yang menonton pertempuran itu. Mereka mulai melempari Gil Tae Mi dengan batu, menyumpahinya.


Gil Tae Mi bertanya memang apa salahnya sampai dibenci seperti itu. Bang Gwa menjawab kalau Gil Tae Mi selalu menindas yang lemah. Gil Tae Mi tertawa mendengarnya. “Tentu saja aku menindas yang lemah. Apa aku menindas yang kuat? Tentu aku merampas dari yang lemah. Apa aku bisa merampas dari yang kuat?!”


Sekuat tenaga Gil Tae Mi berdiri dan berkata kalau dari dulu yang lemah selalu ditindas oleh yang kuat. “Seribu tahun yang lalu.. dan bahkan seribu tahun yang akan datang.. yang kuat pasti akan merampas yang lemah,” mata Gil Tae Mi berkaca-kaca saat berteriak, “Satu-satunya kebenaran di dunia ini adalah yang kuat selalu menghancurkan yang lemah! Yang kuat merampas mereka yang lemah!” Setitik air mata menetes dari mata Gil Tae Mi.


Bang Ji terpaku mendengar ucapan Gil Tae Mi yang berkata kalau ucapannya itu adalah kenyataan yang tak akan pernah berubah. Gil Tae Mi ingin segera mengakhiri pertempuran ini.


Gil Tae Mi bersiap, maka Bang Ji pun bersiap. Gil Tae Mi menyerang, Bang Ji pun menyerang. Tapi tenaga Gil Tae Mi sudah habis sehingga Bang Ji bisa menebasnya beberapa kali hingga Gil Tae Mi terjatuh saat lehernya ditebas hingga berlumuran darah. Bang Ji berkata, “Ini adalah bagaimana yang kuat menghancurkan yang lemah..”


Dengan nafas putus-putus, ia bertanya siapa nama Bang Ji. Ia harus tahu siapa yang pembunuhnya agar ia bisa tenang di alam baka. Bang Ji berkata, “Aku.. adalah ahli pedang terbaik di negeri ini! Lee Bang Ji.”


Gil Tae Mi menyebut nama Bang Ji sebelum akhirnya terjatuh dan tewas. Seluruh rakyat bersorak sorai karena akhirnya Gil Tae Mi mati. Gil Sun Mi yang menyaksikan kematian saudaranya merasa sedih. Tapi ia merasa Gil Tae Mi lebih baik mati seperti ini. Lebih baik mati sebagai pendekar daripada sebagai pejabat korup.


Dengan kematian Gil Tae Mi dan ditangkapnya Hong In Bang, tanah yang dirampas dengan semena-mena dikembalikan pada rakyat yang memilikinya. Orang yang pernah ditahan mereka juga dibebaskan.


Sebaliknya, semua anggota keluarga dan pengikut Hong In Bang dan Gil Tae Mi ikut ditangkap, termasuk Jukryeong yang merupakan antek Hong In Bang. Tanpa perlawanan, Jukryeong bersedia ditangkap.


Jung Do Jeon yang memperoleh jabatannya kembali bertanya pada Hong In Bang alasan Hong In Bang melakukan tindakan yang berlawanan dengan Mencius. Hong In Bang menjawab karena faham Mencius ternyata salah.

Menurut Mencius sebagai manusia, jika melihat bayi (yang lemah) yang berjalan menuju sumur, maka manusia itu harus menyelamatkan bayi itu. Tapi di sini ia melihat banyak manusia yang menjerumuskan bayi ke dalam sumur. Dari pejabat hingga rakyat, semua seperti itu. Baginya Goryeo sudah tak memiliki harapan lagi.


Ia tahu kalau Jung Do Jeon ingin membangun Goryeo kembali. “Tapi apakah itu bisa terlaksana?” tanya Hong In Bang sinis.


Keesokan harinya, Hong In Bang dan pengikutnya dihukum mati. Sebelum memberi perintah hukuman mati, Jung Do Jeon memberi jawaban atas pertanyaan Hong In Bang semalam. Ia memahami dan setuju dengan pendapat Hong In Bang.


Ia berlutut dan berkata pelan, “Sudah tak ada harapan lagi bagi Goryeo.” Hong In Bang kaget dan menoleh pada Jung Do Jeon yang melanjutkan, “Aku tak punya maksud untuk membangun Goryeo yang ini.”


Hong In Bang mencerna ucapan Jung Do Jeon, “Apa mungkin.. kau..”

“Jika memang ada kehidupan setelah kematian, lihatlah baik-baik dari sana. Selamat tinggal, Sayung,” kata Jung Do Jeon, berbalik pergi. Hukuman mati pun dijatuhkan. Satu per satu terhukum ditebas lehernya.


Rakyat bersorak sorai melihat semua penjahat mati. Daegeun tertawa melihat bekas majikannya yang dihukum mati. Boon Yi kaget melihat Daegeun masih bisa hidup. Ia pun membuntuti Daegeun dan melihat Daegeun sekarang bekerja pada Jenderal Jo.


Akibat semua kejadian ini, Moo Hyul merasa Bang Won sangat hebat. Ia percaya kalau Bang Won memang ditakdirkan untuk menjadi orang besar. Sejak kejadian Bang Won mengancam klan Haepdong dengan bubuk mesiu, hatinya selalu berdebar. Karena usaha Bang Won yang bisa mendapatkan tandatangan, maka muncul titah Raja untuk menghukum Gil Tae Mi dan Hong In Bang. Mungkin orang lain tak tahu, tapi ia tahu persis kejadiannya.


Seperti rakyat lainnya, ia terus tersenyum beberapa hari ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat begitu banyak orang tersenyum. “Dan Anda yang membuat semua ini terjadi. Karena itu, dari lubuh hati yang paling dalam, saya ingin melindungi Tuan Muda. Saya ingin berguna saat Tuan Muda membuat banyak orang tersenyum. Jadi resmikanlah saya menjadi pengawal Anda.”


Bang Won berkata kalau Moo Hyul adalah pengawalnya. Moo Hyul tahu kalau rangkin dua Bukdo itu hanya tipuan Bang Won. Tapi Bang Won mengatakan kalau ia sudah menjadikan Moo Hyul sebagai pengawalnya sejak ia memberikan pedang miliknya. “Pedang ini artinya adalah senjata. Jadi memberikan senjata ini pada seseorang berarti aku mempercayai orang itu.”

Aww…  Betapa senang dan bangganya Moo Hyul mendengar ucapan Bang Won.


Jung Do Jeon mengakui yang diucapkan Hong In Bang benar juga. Maka ia merancang sebuah sistem dimana terjadi check and balance antar tiap pihak, baik dari Raja maupun golongan Sadaebu, agar tak terjadi kecurigaan dan kecemburuan, mencegah terjadinya korupsi.


Bang Won mempelajari bagan yang baru saja digambar oleh Jung Do Jeon. Di bagan itu Raja bekerja sama dengan Dewan Penasihat, Dewan Inspeksi dan Dewan Sensor yang saling timbal balik dalam hak dan kewajiban. Ini adalah sistem dimana negara yang memonopoli semuanya Jung Do Jeon membenarkan, sehingga tak terjadi korupsi yang merugikan rakyat.


Ketika Moo Hyul tak mengerti ucapan Jung Do Jeon, Bang Ji meragukan terlaksananya system yang diciptakan Jung Do Jeon, dan Boon Yi memikirkan apakah rakyat juga bisa  ikut mengawasi,, hanya satu yang ada di pikiran  Bang Won. Aku menginginkannya. Aku ingin semuanya.


Moo Hyul dan Bang Won berjalan lesu. Bang Won merasa tak mampu menyaingi Jung Do Jeon yang jenius dan Moo Hyul merasa bego, tak mengerti apa yang Jung Do Jeon ucapkan. Keduanya menghela nafas panjang. Keduanya sama-sama menoleh, heran karena sama-sama melakukan tindakan yang sama.


Bang Won ragu untuk bercerita. Moo Hyul langsung menebak sok tau, “Ah.. Anda pasti juga tak mengerti sedikitpun kan?” Hahaha…. Bang Won menghela nafas pasrah.


Bang Won menemui istrinya untuk berterima kasih karena tanpa bantuan Da Kyung, ia tak bisa melakukan semuanya ini. Ia akan menemui mertuanya untuk minta maaf. Da Kyung memuji tindakan Bang Won dan berkata kalau ia tak memberitahu ayahnya tentang rahasia keluarga Bang Won dan bertanya bagaimana kemajuannya. Melihat suaminya hanya diam, Da Kyung menyadari kalau ia terlalu terburu-buru dan minta maaf.


Ternyata ada satu orang yang merasa sedih melihat kematian Gil Tae Mi. Dia adalah Guru Hong yang mengingat Gil Tae Mi kecil dulu sukanya bermain boneka. Ayah Gil Tae Mi cemas melihat perkembangan putranya dan meminta Guru Hong untuk mengajarinya beladiri sehingga menjadi lebih laki. Oalahh.. ternyata..


Bang Won akhirnya menebang pohon Hong In Bang. Boon Yi menemuinya, membawa makanan untuk merayakan kemenangan kecil ini. Bang Won menceritakan tentang ulat yang selalu ada di hati manusia dan minta Boon Yi berjanji untuk memberitahukannya jika ia berubah. “Jika ulat itu menelanku dan jika aku tak lagi menjadi diriku sekarang ini, kumohon..”


“Aku akan membunuhnya,” potong Boon Yi. Bang Won tersenyum lega dan minta Boon Yi untuk menegurnya dulu sebelum Boon Yi membunuh ulat itu. Boon Yi mengerti. Ia menyipitkan matanya dan berseru, “Kau ulat jahat! Muntahkan Bang Won sekarang juga!” Dan tersenyum. Begitu, kan?


Bang Won tersenyum semakin lebar, lega mendengar Boon Yi bisa memahaminya. Boon Yi meminta Bang Won untuk tak khawatir dan membicarakan/mengkritik sistem yang dibuat Jung Do Jeon tadi, dimana rakyat tak memiliki andil di dalamnya. Bang Won memahami maksud Boon Yi. Tapi bukannya ia memandang rendah rakyat, tapi rakyat memang belum siap.


Mereka tak menyadari Da Kyung yang juga membawa makanan, berniat merayakan hal yang sama dengan suaminya. Ia akhirnya berbalik pergi setelah sempat mendengar pembicaraan mereka.


Di depan Jung Do Jeon, Yeon Hee memarahi Bang Ji yang mengumumkan namanya sebagai ahli pedang terbaik, padahal Bang Ji adalah pengawal Jung Do Jeon. Bang Ji akan banyak ditantang oleh pendekar lain yang mengincar gelar ahli pedang terbaik.


Walau kesannya marah, sebenarnya Yeon Hee khawatir akan keselamatan Bang Ji. Ia melihat lengan bajunya yang sobek akibat pedang Gil Tae Mi. Di pasar, ia sempat terpikir untuk membeli kain untuk membuatkan baju untuk Bang Ji. Tapi ia segera menghapus pikiran gila itu.


Yi Seong Gye ingin menghukum Lee In Gyeom. Walau Jung Mung Jo berpihak padanya, tapi karena pengikut Lee In Gyeom di Dodang masih cukup kuat, keinginannya itu gagal.


Ia pun menemui Choi Young untuk mencari dukungan. Tapi bagi Choi Young, menghukum Lee In Gyeom bukan hal yang mendesak. Yang mendesak sekarang adalah hubungan mereka dengan Ming yang terus bermasalah karena tuntutan Ming yang semakin lama semakin keterlaluan, jauh lebih parah daripada Yuan.


Tentu saja hal ini membuat kubu Yi Seong Gye tak puas. Mereka khawatir jika Lee In Gyeom tak diasingkan, antek-antek Lee In Gyeom bisa membawa Lee In Gyeom kembali ke Dodang. Raja pun kelihatannya ingin mengembalikan Lee In Gyeom lagi. Jadi jalan satu-satunya adalah menghukum Lee In Gyeom seberat-beratnya.


Tapi Jung Do Jeon tak setuju dengan rencana itu. Ia malah meminta Yi Seong Gye untuk merangkul antek-antek Lee In Gyeom di Dodang. Yi Seong Gye tak sudi melakukan itu, karena bertahun-tahun para kroni menyiksa rakyat dengan cara menjilat Lee In Gyeom. “Mereka itu tak ada bedanya dengan Hong In Bang dan Gil Tae Mi! Apa untungnya aku bekerja sama dengan orang-orang itu?”


“Jenderal Choi Young! Mari kita gabungkan kekuatan dengan mereka dengan membidik Jenderal Choi Young,” kata Jung Do Jeon. Tentu saja Yi Seong Gye kaget mendengarnya.


Choi Young pergi ke Wisma Dohwa atas permintaan Lee In Gyeom. Lee In Gyeom mengingatkan Choi Young untuk waspada pada Yi Seong Gye yang akan menyerang. Choi Young tak percaya karena ia dan Yi Seong Gye adalah teman seperjuangan.


Tapi Lee In Gyeom mengatakan sekarang ada Jung Do Jeon di belakang Yi Seong Gye. “Bukankah dulu aku pernah memberitahumu tentang seorang bayangan? Bayangan itu adalah Jung Do Jeon. Pada akhirnya mereka akan menyerangmu, Jenderal.”


Jung Do Jeon berkata kalau negara yang akan mereka buat adalah tempat dimana Choi Young tak mungkin ada di sana. Dasar dari negara yang akan mereka bangun adalah reformasi tanah, dan jika rakyat tak memiliki tanah sendiri, tak akan ada bedanya dengan Goryeo yang sekarang.

Nantinya mereka harus mengambil tanah dari para pejabat tinggi. Walau Jenderal Choi Young orang yang sangat jujur, tapi Choi Young memiliki tanah yang sangat luas dan keluarganya yang menikmati paling banyak dari Goryeo. “Apa mungkin beliau setuju pengambilalihan tanah para pejabat tinggi? Apa beliau mampu meninggalkan Goryeo yang memiliki sistem seperti itu? Bagaimana mungkin..”


“Pergilah..,” ujar Yi Seong Gye lelah. Jung Do Jeon mencoba membujuk Yi Seong Gye. Tapi Yi Seong Gye menatap Jung Do Jeon tajam. “Siapa yang berkata ingin membuat negara baru? Siapa yang mengatakan akan menjadi Raja di negara baru itu? SUDAH KUBILANG, PERGIII!!”

Jung Do Jeon akhirnya pergi meninggalkan Yi Seong Gye.


Reaksi Choi Young sama seperti Yi Seong Gye. Ia marah saat diberitahu Lee In Gyeom yang menurutnya bicara tak masuk akal. Tapi Lee In Gyeom bersikeras kalau gabungan kekuatan Yi Seong Gye dan akal Jung Do Jeon merupakan ancaman besar bagi Goryeo. Choi Young pun pergi meninggalkan Lee In Gyeom.


Jukryeong kedatangan tamu, yaitu ibunya. Tapi sebenarnya itu bukan ibunya, karena wanita tua mengeluarkan surat dengan logo berstempel merah. Jukryeong langsung bersikap hormat dan menerima surat itu.


Jung Do Jeon menceritakan masalah penolakan Yi Seong Gye kepada kelompoknya. Boon Yi yang tidak update, tak tahu apa yang mereka bicarakan.


Bergantian, Bang Won, Yeon Hee dan Lee Shin Jeok menjelaskan rencana Jung Do Jeon untuk merangkul orang-orang Lee In Gyeom sehingga Choi Young kehilangan kekuatan sehingga mereka bisa mengambil kekuatan militer Goryeo. Kemudian menguasai Dodang dan menyingkirkan pejabat korup secara bertahap. Sistem mulai diperbaiki sehingga mendapat kepercayaan dari rakyat, dan menunggu saat yang tepat untuk menerima penunjukkan sebagai raja baru. Maka mereka dapat mendirikan negara baru dengan pengorbanan yang minimal.

Jika mereka tak merangkul orang-orang Lee In Gyeom, nanti Choi Younglah yang akan melakukannya. Hasilnya terjadi pertumpahan darah yang lebih besar. Dan jika itu terjadi, yang menderita adalah rakyat. Dan karena mereka menyerang Jenderal Choi Young yang dipercaya oleh rakyat, mereka juga akan kehilangan kepercayan dari rakyat pula.


Boon Yi menduga, Jung Do Jeon pasti belum menceritakan rencana ini, tentang negara baru ini pada Yi Seong Gye. Jung Do Jeon mengakui kalau ia tak sempat menceritakan hal ini karena Bang Won (yang memalsu stempel). Boon Yi mengusulkan agar Yi Seong Gye mendapat penjelasan itu, agar beliau bisa menilai dan memiliki motivasi sendiri.


Choi Young mendapat laporan kalau Jukryeong akan memberi pengakuan jika Choi Young mau menemuinya. Walau terkesan aneh, ia pun menemui Jukryeong. Di penjara, Jukryeong ingin menjual informasi yang ia miliki dengan kebebasannya. Ia mempunyai informasi sejak Rencana Otonomi Perbatasan lolos hingga kejatuhan Gil Tae Mi dan Hong In Bang. Ia mengaku tak bersalah kecuali menjual informasi pada Hong In Bang.


Bang Won menemui ayahnya, memintanya untuk mendengarkan penjelasan Jung Do Jeon tentang negara yang akan mereka dirikan. “Aku ingin Ayah mendengarkan apa yang membuat dadaku bergejolak sehingga membuatku nekad mencuri stempel Ayah. Kumohon dengarkanlah sekali ini saja.”


Jukryeong memberitahukan lokasi tempat ia menyimpan buku transaksi yang selama ini ia lakukan. Choi Young akhirnya mendapatkan buku itu dan terkejut saat membaca isinya. Apa yang dikatakan Lee In Gyeom ternyata memang benar?


Jung Do Jeon kaget melihat kehadiran Yi Seong Gye di goa yang minta dijelaskan semuanya. Ia pun menjelaskan rencana dan sistem yang akan berjalan di negara baru yang akan mereka bangun.


Malam-malam Choi Young meminta Yi Seong Gye menemuinya di Dodang. Tanpa basa-basi ia melempar buku Jukryeong dan bertanya apa yang ditulis Jukryeong itu benar? Yi Seong Gye kaget saat membaca isi buku itu.


Dengan sinis Choi Young berkata kalau Lee In Gyeom dulu pernah memintanya untuk menjadikan Yi Seong Gye sebagai pejabat Dodoang. Hong In Bang juga membujuknya untuk meloloskan Rencana Otonomi Perbatasan. Sebenarnya ia benci harus bekerja sama dengan para pencuri itu. Tapi ternyta Yi Seong Gye sendiri juga kongkalikong dengan mereka dan ia ditipu mentah-mentah oleh keroco macam Sambong yang merencanakan ini semua.


Yeon Hee yang memata-matai keadaan, melapor kalau sepertinya Choi Young mendapatkan buku transaksi Jukryeong yang mencatat tentang penangkapannya saat menjadi peramal palsu dan kepergian Jukryeong ke Hamju saat kisruh Rencana Otonomi Perbatasan.


Jung Do Jeon kaget dan bergegas mencari Yi Seong Gye. Jika Choi Young mencurigainya, ia tak masalah jika meninggalkan jabatan. Yang penting, jangan berseteru dengan Choi Young sekarang.


Yi Seong Gye akhirnya membenarkan semua yang tertulis di buku tapi bersikukuh kalau yang terjadi bukan seperti yang dipikirkan Choi Young. Ia akan menjelaskan semua.


Tapi Choi Young sudah tak mau mendengar. Jika Yi Seong Gye meninggalkan Jung Do Jeon, ia juga akan meninggalkan Lee In Gyeom. Yi Seong Gye membela kesalahan Jung Do Jeon yang tak bisa disamakan dengan kesalahan Lee In Gyeom yang korupsi dan membuat rakyat menderita. Tapi Choi Young pun juga tak tahan melihat Jung Do Jeon yang mempermainkan Yi Seong Gye, seorang jenderal besar dari Goryeo.

Yi Seong Gye membantah tuduhan itu. Permainan Jung Do Jeonlah yang membuat mereka bisa menjatuhkan Hong In Bang dan mengambil kembali harta yang bukan milik Lee In Gyeom, Hong In Bang dan Gil Tae Mi. Tapi bagi Choi Young, hasilnya tak hanya itu karena permainan Jung Do Jeon berhasil mengantar Yi Seong Gye ke Dodang dan daerah yang otonomi dengan lolosnya Rencana Stabilisasi Perbatasan.


Selama ini Choi Young selalu mendukung Yi Seong Gye dan ia akan terus mendukung jika Yi Seong Gye melepaskan Jung Do Jeon. “Jadi apa keputusanmu?”


Sejenak terdiam, Yi Seong Gye akhirnya menjawab, “Anda salah menilai Jung Do Jeon. Saya mohon tetaplah buat dia ada di dekat Anda agar Anda bisa menilai karakter dan kemampuannya.”


Choi Young terbelalak mendengar jawaban Yi Seong Gye. Sebenarnya tawaran itu adalah usulan dari Lee In Gyeom untuk melihat maksud Yi Seong Gye sebenarnya. Dan ia sekarang bisa melihatnya. Ia pun berkta, jika Yi Seong Gye memang tak mau meninggalkan Jung Do Jeon, maka ia pun tak akan meninggalkan Lee In Gyeom.


Choi Young beranjak pergi tapi tertahan karena Jung Do Jeon muncul di hadapannya.

Komentar :


Kira-kira apa yang akan dikatakan Jung Do Jeon, ya? Apa dia bisa membujuk Choi Young?


3 comments :

  1. dramanya bagus banget. walaupun saya sdh nonton sampai ep 34 tapi penasaran dengan versi sinopsisnya mbak dee. seruuuuu...

    ReplyDelete
  2. Makasich Mbak dee dah diterusin sinopsisnya...

    ReplyDelete
  3. makin seru aja nih. waaaahh... makin seneng berkunjung kesini karena makin banyak yang gabung, tapi bingung juga mau baca yang mana dulu. ditunggu kelanjutannya, semangat!

    ReplyDelete