January 29, 2016

Remember War of the Son Episode 11 - 2

Remember : War of the Son Episode 11 - 2


In Ah melaporkan tentang perkembangan penyelidikan akan Jaksa Hong, dimana surat yang katanya ditulis ayah Jung Ah ternyata palsu. Ia bahkan sudah memeriksa ke tiga tempat, dan hasilnya tetap sama, kedua tulisan itu memang berbeda. Dengan bukti yang diberikan oleh Jin Woo dan Jaksa Tak, ia merasa mereka dapat mengejar Jaksa Hong.



Seok Kyu mengajak Jaksa Hong untuk makan bersama. Tapi ternyata tujuan ajakan itu adalah untuk bertanya tentang kasus pembunuhan Jung Ah. Kenapa vila milik Nam Gyu Man tak diselidiki sama sekali padahal pembunuhan terjadi di dekat vila itu. Jaksa Hong menjawab kalau mereka menyelidiki vila itu dan hasilnya mereka menemukan senjata yang menjadi barang bukti. Seok Kyu mengejar, berkata kalau pada penyelidikan awal tak pernah dilakukan di vila itu. 


Jaksa Hong memotong Seok Kyu. Kasus itu sudah selesai bahkan pelakunya pun sudah mati. Jadi tak perlu mengungkit-ungkit kasus itu lagi. Tapi Seok Kyu tak setuju. Karena ada kemungkinan pelakunya adalah orang lain yang patut dihukum karena masih banyak hal yang mencurigakan. 


Manajer Byun memberikan dokumen tentang kasus perusahaan Smile Bulb. Tanpa membacanya, Jin Woo menolak karena ia sedang tak menerima kasus baru. Manajer Byun mencoba membujuknya, tapi Jin Woo tetap tak mau. 


Namun putra pemilik Smile Bulb, Min Soo, ternyata sudah datang untuk menemuinya untuk meminta bantuannya. Jin Woo kembali menolak permintaan itu dan beranjak pergi tapi berhenti saat Min Soo berseru, “Kumohon, tolonglah ayahku! Ayahku tak bersalah dan kaulah satu-satunya yang bisa menolongku.”


Jin Woo tetap berlalu pergi. Tapi sebenarnya ucapan Min Soo kembali mengingatkannya saat ia memohon pada Dong Ho untuk menolongnya. Akhirnya ia menelepon pengacara Song untuk menyelidiki kasus Smile Bulb.


Gyu Man memerintahkan Jaksa Hong untuk segera menyelesaikan kasus Smile Bulb dengan segera dan memerintahkan Direktur Seok untuk membawa beberapa orang ke pabrik Smile Bulb untuk menakut-nakuti mereka. Keduanya mengiyakan perintah itu. 

Jaksa Hong mengusulkan untuk menyuruh Detektif Gwak untuk melakukan pekerjaan kotor yang ditugaskan pada Direktur Seok. Gyu Man menjawab ia telah mengakhiri hubungan dengan Detektif Gwak. Ia juga meminta Presdir Seok untuk mencari orang untuk menggantikan Detektif Gwak. 


Min Soo mencoba minta dukungan pegawai Ilho untuk membantu kasus ayahnya dengan membagi kertas petisi. Tapi tak ada yang peduli. Kecuali satu orang. 


Jin Woo memungut kertas petisi yang dibuang dan mengembalikan pada Min Soo. “Aku akan mengambil kasus ini.” Min Soo tersenyum lega.


Ia memperkenalkan Jin Woo pada ayahnya. Jin Woo memperkenalkan diri dan menyadari kalau ayah Min Woo ragu karena ia masih muda. Tapi ia meyakinkan ayah Min Soo kalau ia akan mencari kebenaran yang membuat mereka menang. 


Gyu Man akhirnya mendengar kalau pengacara lawan adalah Jin Woo. Ini adalah kesempatan Dong Ho untuk membuktikan kesetiaan padanya. Dong Ho meminta Gyu Man untuk tak khawatir pada kemampuannya hanya karena lawannya adalah Jin Woo. 


Jin Woo dan Pengacara Song mulai mempelajari kasus Smile Bulb dengan mengunjungi pabriknya. Min Soo menjelaskan pabrik mereka telah menjadi subkontraktor microwave yang dibuat Ilho selama 12 tahun. Tapi tiba-tiba Ilho mengatakan kalau microwave mereka meledak karena kesalahan lampu mereka. Hal ini benar-benar tak adil.


Ketika Jin Woo pulang, ia bertemu dengan In Ah di tengah jalan. Bersama-sama mereka berjalan. Jin Woo belok kanan sehingga ditegur In Ah. Memang Jin Woo mau kemana? Jin Woo menjawab tentu saja kembali ke kantor. In Ah mengingatkan kalau jalan ke kantor kan lurus. 


Jin Woo tersadar kalau ia keliru. In Ah bertanya ada apa dengan Jin Woo akhir-akhir ini? Apa Jin Woo bekerja terlalu keras? Jin Woo menjawab kalau ia sedang memikirkan sesuatu yang lain dan mengajak In Ah untuk segera kembali. In Ah terlihat heran, walau tak bertanya lagi.


Aduh.. kenapa ya dengan Jin Woo? Sekarang dia terlihat meminum dua pil kecil dan kembali mempelajari kasus Smile Bulb lagi.


Dong Ho juga mempelajari kasus ini dan menyuruh Sang Ho untuk mencari pendapat ahli.


Karena Smile Bulb belum bayar pajak dan sekarang tak beroperasi, maka aset pabrik disita pengadilan. Min Soo dan ayahnya mengadukan hal ini pada Jin Woo. Jin Woo menenangkan mereka. Penyitaan itu tak dapat dicegah. Mereka harus memfokuskan pada persidangan saja karena mereka bisa membayar pajak jika menang dan mendapat kompensasi dari Ilho. Melihat ayah Min Soo tak berselera makan, ia dan Min Soo membujuknya untuk makan. 


Gyu Man mengajak Seok Kyu makan siang. Ia menceritakan masalah tuntutan yang ia dapat dari subkontraktornya yang pasti karena mengejar uangnya saja. Seok Kyu mengingatkan secara profesional tentang kemungkinan Ilho Grup bisa dituntut balik secara class action dan memintanya untuk membuat rencana lain jika hal itu terjadi. Gyu Man malah tersinggung mendengarnya.


Melihat situasi yang mulai panas, So Bum mulai menengahi dan meminta kedua temannya untuk makan. Tapi Gyu Man malah menyuruhnya untuk tak ikut campur. “Memang kau pikir kau ini siapa?” tegurnya sinis.


Melihat hal ini Seok Kyu pun balik menegur Gyu Man untuk tak melakukan itu (memarahi So Bum) di depan orang lain padahal mereka kan berteman. Hal itu membuatGyu Man jadi kelihatan tak bagus. Gyu Man diam sejenak dan tersenyum kecil, mengangguk mengerti.


Sama seperti Dong Ho, In ah dan Pengacara Song juga mencari pendapat ahli tentang penyebab microwave meledak. Ahli itu berpendapat, memang kerusakan lampu dapat membuat microwave meledak tapi hal itu jarang terjadi pada produk yang normal. Ada bagian-bagian lain dari lampu yang bisa menyebabkan ledakan. 


Penyitaan pabrik Smile Bulb dimanfaatkan oleh Presdir Seok untuk mengerahkan orang-orangnya. Para preman berjajar di depan pabrik, membuat pagar betis. 


Ayah Min Soo yang baru pulang sangat kaget dan marah. Ia mencoba menerobos pagar betis itu tapi malah dipukuli oleh preman-preman itu hingga terjatuh. Min Soo buru-buru memeluk ayahnya, melindungi badan ayahnya dari pukulan orang-orang itu. 


Jin Woo bergegas pergi ke pabrik setelah mendapat telepon dari Min Soo. Ternyata ayah Min Soo sangat down hingga ingin bunuh diri dari atap gedung. 


Jin Woo hampir tak bisa masuk karena dihadang oleh preman-preman itu. Tapi Jin Woo berhasil mengusir mereka pergi setelah mengancam akan menuntut mereka atas tindak pencurian, pemukulan dan masuk tanpa ijin karena sebentar lagi polisi akan tiba. Akhirnya para preman itu pergi. 


Ambulans dan polisi sudah menunggu di bawah, bersiap untuk yang terburuk. Ayah minta maaf pada Min Soo karena tak mampu bertahan lagi dan terpaksa menunjukkan sisi dirinya yang menyedihkan ini pada putranya. 


Jin Woo yang sudah tiba di atas memintanya untuk tak bunuh diri di depan Min Soo, yang berusaha menyelamatkan nyawa ayahnya dengan memintanya menjadi pengacara mereka. Jadi betapa kejamnya ayah Min Soo bunuh diri di depan putranya sendiri. “Sebulan yang lalu saya tak dapat menyelamatkan ayahnya sehingga beliau meninggal. Apakah Anda pernah memikirkan tentang putra Anda? Ia akan hidup sendiri tanpa keluarga!”


Ayah berbalik, menatap JIn Woo yang memohon, “Anda harus hidup, apapun yang terjadi, untuk memberitahukan pada seluruh dunia ‘Aku tak bersalah! Smile Bulbs adalah perusahaan yang baik yang mewarisi semangat!’ Saya berjanji akan membuktikannya.”


Ayah menangis tersedu-sedu. Ia tak kuat menahan emosinya dan terjatuh. Min Soo buru-buru memegang ayahnya yang menangis dan berkali-kali meminta maaf pada putranya.


Ayah Min Soo dirawat di rumah sakit. Melihat Min Soo berada di sisi ayahnya, Jin Woo teringat dirinya sendiri yang hanya bisa menangisi mayat ayahnya yang sudah terbujur kaku, tak bisa menyelamatkannya. 


Min Soo berterima kasih karena Jin Woo menyelamatkan ayahnya tapi juga merasa putus asa. Mungkin mereka seharusnya menyerah saja. Ia tak tahu kalau ternyata hukum sangat kejam bagi orang yang lemah tanpa kekuasaan. 


Jin Woo mengaku kalau ia sendiri kehilangan ayahnya karena hukum yang kejam itu. Oleh karena itu ia minta Min Soo untuk tetap kuat untuk melindungi ayahnya sedangkan ia akan berusaha keras di persidangan. “Kumohon jagalah ayahmu.” 


Jin Woo berpapasan dengan Dong Ho yang menanyakan kondisi ayah Min Soo dan akhirnya mereka bertemu juga di persidangan. Jin Woo menjawab sinis. Tentu saja mereka pasti akan bertemu sebagai pengacara karena Dong Ho adalah pengacara yang ingin melindungi Nam Gyu Man sedangkan ia adalah pengacara yang ingin menghancurkan Nam Gyu Man. 


Dong Ho meminta Jin Woo untuk tak setengah-setengah menghadapinya di depan hukum besok. Jin Woo kembali tertawa sinis mendengar Dong Ho mengucapkan kata hukum, karena arti hukum itu sendiri sudah sangat busuk. Baginya dan kliennya yang lemah, hukum itu kejam tiada banding. Sedangkan bagi tuannya Dong Ho, Nam Gyu Man, hukum itu adalah sebuah permainan. Dong Ho mengingatkan walau Jin Woo tak percaya pada hukum, tapi hanya itu satu-satunya tempat Jin Woo untuk bersandar. 


Sebelum persidangan, Jin Woo bertemu dengan Gyu Man yang menyapanya dengan manis. Akhirnya mereka bertemu juga. Tapi Jin Woo menjawab kalau ia akan puas jika mereka bertemu saat Gyu Man duduk di kursi terdakwa. Gyu Man pun beralih pada In Ah, menyindirnya yang keluar dari kejaksaan yang memberinya kehidupan yang enak. In Ah menjawab sindiran itu, “Tak usah ikut campur dalam kehidupan orang lain. Kenapa kau tak menjalani hidup yang lurus?”


Gyu Man kesal kalah bicara dengan kedua orang itu. Dong Ho menengahi dan mengajak Jin Woo untuk melakukan persidangan, bertempur dengan baik. Jin Woo mengiyakan ajakan Dong Ho, karena ia sudah kebal akan dibohongi dan tipuan yang melanggar hukum. Mereka berdua pergi meninggalkan Gyu Man yang semakin kesal. 


Persidangan pun dimulai. Dong Ho memanggil saksi ahli, Kim Hyung Sik, yang melakukan penyelidikan kasus ledakan microwave. Dalam laporan penyelidikan tertera penyebab ledakan adalah lampu di dalam microwave. Kim Hyung Sik membenarkan dan Dong Ho memasukkan laporan itu sebagai bukti persidangan.


In Ah maju dan menyatakan kalau microwave meledak saat beroperasi. Apakah tak ada kemungkinan bagian-bagian lain yang mungkin menyebabkan ledakan itu seperti transformer, papan elektrik, condenser tegangan tinggi atau kabel yang jelek yang menyebabkan korsluiting. Hyung Sik menjawab semua itu mungkin terjadi. Tapi berdasar penyelidikannya, penyebabnya adalah lampu.


In Ah pun bertanya tentang pekerjaan Kim Hyung Sik sebagai teknisi yang sudah bekerja di Ilho Electronics selama 20 tahun. “Jadi dimana tepatnya lokasi kantor penyelidikan Anda?” Hyung Sik tak menjawab, maka In Ah pun menjawabnya. Gongdeokdong, Mapo-gu, di lantai 3 Gedung Ilho Electronics. “Kantor Anda adalah subkontraktor dari Ilho Electronics, kan? Tolong jawab saya!”


Dong Ho mengajukan keberatan karena In Ah menanyakan hal yang tak ada hubungannya. Tapi In Ah menyatakan hal ini sangat berhubungan karena hubungan saksi dengan Ilho adalah hal yang penting dalam kesaksian ini.  Karena jika saksi adalah orang yang memiliki hubungan dengan Ilho, maka pernyataan saksi tak kredibel. Hakim menolak keberatan Dong Ho.


Hyung Sik terpaksa mengiyakan pertanyaan itu. Dong Ho mencoba mementahkan kebenaran pernyataan In Ah. Jika kesaksian Hyung Sik dianggap tak kredibel, berarti semua penyidikannya tak kredibel. 


Jin Woo berdiri dan menjawab, “Itulah masalahnya. Ia tak punya pilihan lain untuk melindungi Ilho Electronics karena ia juga adalah subkontraktor Ilho. Karena mereka tak memiliki penjelasan yang masuk akal, mereka akhirnya menyalahkan subkontroaktor yang harus menutup pabrik lampunya setelah berjalan lebih dari tiga generasi. Semua karyawan kehilangan pekerjaan.” 


Sambil memandang Gyu Man, Jin Woo berkata,  Presiden Nam Gyu Man dari Grup Iho pernah berkata begini ‘Semua subkontraktor yang bergabung bersama kami.. adalah keluarga kami.’ Jika Anda semua terus mengikuti persidangan ini, Anda akhirnya menyadari kalau yang dimaksud keluarga itu hanyalah mereka yang berhubungan darah.”


Gyu Man nampak kesal, sedangkan Dong Ho tak terlihat kesal, malah tersenyum samar mendengar pembelaan Jin Woo.


Setelah persidangan, kedua pihak keluar tapi dari pintu yang berbeda. Gyu Man berbalik dan menampar Dong Ho keras, membuat semuanya kaget. 


Gyu Man menatap tangannya dan berkata datar, “Ah, sori. Tanganku tiba-tiba melayang tanpa aku sadari. Jangan diambil hati. Kenapa? Apa kau marah?”

Komentar :

Dari tatapan Dong Ho, kayaknya ia pengen menjotos balik si Gyu Man ini. Kalau saja Dong Ho melakukan itu, Gyu Man pasti sudah babak belur. Jamin yakin, deh. Rasanya heran melihat orang-orang di sekitarnya, mau aja dihajar oleh Gyu Man padahal gampang sekali menahannya. Tapi memang ganjaran setelahnya yang mungkin berat. Ia bisa menyuruh orang untuk menghajar balik.

Jadi mungkin taktik Jin Woo akan berhasil. Dengan menghukum anak buahnya, walau yang mungkin memiliki dampak adalah Detektif Gwak. Harusnya Gyu Man menekan emosinya dan merangkul Detektif Gwak agar Detektif Gwak akan setia sampai mati. Tapi Gyu Man bukan ayahnya yang walau kejam tapi dingin dalam menghadapi masalah.

Tunggu saja setelah semua keroco-keroconya satu per satu menghilang, Gyu Man akan ditinggal sendirian dan saat itu ia bisa dihajar habis-habisan baik secara fisik maupun mental. 

Dan ada apa dengan ingatan Jin Woo? Kenapa kadang-kadang ia seperti pikun? Jangan-jangan ia menuruni penyakit ayahnya. Tapi kenapa cepat sekali?

1 comment :

  1. What.. Jin woo kehilangan ingatannya?? Apa alzaimer itu menurun ya.... Bukannya jin woo memiliki ingatan yg sangat bagus... Haduh gk asik klu jin woo ikutan sakit... Hiks...

    ReplyDelete