January 28, 2016

Remember : War of the Son Episode 11 - 1


Sinopsis Remember War of the Son episode 11 - 2

Di depan abu ayahnya, Jin Woo berjanji kalau ia tak akan berhenti sampai di sini. Ia akan membuktikan kalau ayahnya tak bersalah. “Tolong awasi aku dari atas sana, Yah.”



Satu bulan kemudian, Jin Woo menemui dr. Lee untuk memberitahu kalau ia akan menjebloskan Gyu Man di penjara sama seperti dr. Lee. Dr. Lee menyarankan Jin Woo untuk membatalkan rencananya. Walau ratusan pengacara mencoba, Gyu Man akan lolos dari hukuman penjara.


Jin Woo tak menanggapi saran itu. Ia malah berkata kalau dr. Lee harus bersiap untuk mendapatkan hukuman yang lebih dari yang sudah ia dapatkan (2 tahun). Sudah banyak kasus yang menanti untuk ditambahkan ke hukuman penjaranya hingga 30 tahun. “Kau harusnya bersaksi di kasus ayahku. Tapi karena ayahku sudah meninggal, kau tak ada gunanya lagi. Jadi bersiaplah untuk menerima hukumanmu.”


Dr. Lee kaget mendengarnya tapi Jin Woo sudah keburu pergi dan tak menoleh lagi walau ia berteriak-teriak memanggilnya.


Jin Woo mencoret foto dr. Lee dan mulai melihat target berikutnya. Dr. Park Dong Jin, dokter ayahnya di penjara. Ia sudah menemukan bukti dr. Park mengijinkan narapidana kaya untuk keluar penjara dan menerima uang untuk membuat ruang penjara yang bagus untuk para narapidana kaya.


Bukti-bukti itu diserahkan pada Seok Kyu yang Jin Woo percaya memiliki penilaian yang adil.Walau ayahnya sudah meninggal, ia merasa sangat berterima kasih pada Seok Kyu yang memberi kesempatan ayahnya untuk naik banding.



Dan hasilnya, dr. Park ditahan karena penyalahgunaan kekuasaan. Jin Woo tak berhenti di situ. Ia mulai membidik target berikutnya. Detektif Gwak Han Soo. Ia mulai membuntuti Detektif Gwak yang sering pergi ke restoran Jepang yang mahal untuk makan dengan berbagai orang.


Sementara di pengadilan, Dong Ho dan Jaksa Hong berdebat sengit dalam sebuah kasus hingga harus dilerai oleh hakim. Mereka terlihat berseteru, tapi sebenarnya mereka hanya akting. Mereka adalah satu tim. Kadang sebuah kasus dimenangkan oleh Dong Ho, kadang dimenangkan oleh Jaksa Hong. 


“Karena kita menjadi tim yang baik, pengadilan hanya seperti sebuah permainan. Menjadi satu tim denganmu seperti memiliki seribu tentara,” puji Jaksa Hong.


Gyu Man melakukan wawancara sebagai Presdir Ilho dan ia mengakui kalau perusahaannya sukses karena naluri bisnisnya dan ia juga memperlakukan anggota perusahaan dan subkontraktor perusahaan mereka sebagai keluarga. Jawaban yang sangat mengesankan, tapi membuat So Bum hanya bisa menggerutu di pojokan mendengar ucapan yang baginya jauh dari kenyataan.


Dong Ho pergi ke kantor Gyu Man dan melihat sekelompok pendemo berdiri di depan gedung yang menuntut keadilan. Gyu Man heran melihat Dong Ho muncul di ruangannya padahal ia tak memanggilnya. Ternyata Dong Ho datang untuk memberitahu Gyu Man kalau kasus yang ia tangani berhasil dengan baik.


Gyu Man berterima kasih dan malah meminta update tentang Jin Woo. Dong Ho menjawab sejak Gyu Man menjadi Presdir Ilho, ia semakin sibuk mengurusi kasus-kasus grup Ilho. Dalam sebulan sudah 20 kasus yang ia tangani. “Selama saya masih di sini, Anda hanya perlu mengkhawatirkan hal-hal yang besar saja, Sajang-nim.”


So Bum merasa Dong Ho sudah benar-benar berubah. Gyu Man juga merasakannya. Tapi karena Dong Ho pernah mengkhianatinya, Dong Ho mungkin akan mengkhianatinya lagi dan menyuruh So Bum untuk mengawasi Dong Ho.


Ayah terus membujuk istrinya untuk menemui In Ah. Sampai berapa lama ia akan menghukum In Ah? Ibu menjawab kalau putri mereka keluar dari kejaksaan dan keluar rumah tanpa paksaan. Jadi kenapa ia yang harus menemui In Ah? Ia bersikap seperti ini demi kesuksesan In Ah. Orang tua mana yang bahagia saat anak mereka mengambil jalan yang salah?

Tapi ini sudah sebulan. Apa Ibu tak cemas? Ibu menjawab ketus, “Aku malah senang kalau dia pergi. Dia hanya tukang cari masalah.” Ibu pura-pura sibuk menggosok meja yang sudah bersih.


Para pendemo itu masih tetap berdiri di depan gedung Ilho. Gyu Man yang baru saja datang berniat mengacuhkan mereka. Tapi saat ayahnya muncul, salah satu pendemo menghalangi jalan mereka dan menuang sekeranjang kotak lampu.


Ternyata pendemo itu adalah pemilik perusahaan lampu yang dituntut Grup Ilho karena gara-gara lampu buatan mereka, katanya microwave buatan Ilho meledak sehingga merugikan konsumen. Dan karena Ilho menuntut mereka, perusahaan mereka terpaksa ditutup. “Hal ini tak adil karena saya tak pernah membuat lampu yang jelek. Saya mohon, cabut tuntutan Anda, Sajang-nim,” pinta pria itu sambil berlutut dan menangis.


Gyu Man mengisyaratkan agar para pengawal membawa pria itu pergi. Gyu Man melaporkan kalau mereka sudah melakukan gugatan resmi dan sedang menjalani proses hukum. Reaksi pihak terlapor saja yang terlalu berlebihan. Presdir Nam (eh bukan lagi, ya..) meminta Gyu Man untuk menyelesaikan kasus ini segera dan memilih subkontraktor lain. Gyu Man sekarang adalah wajah Ilho Group, jadi harus lebih berhati-hati.


Berbeda dengan ucapannya di restoran, ibu In Ah sekarang berdiri di depan kantor Jin Woo. Jin Woo yang baru saja pulang menyapa ibu dan memintanya untuk menunggu In Ah di dalam. Tapi ibu menolak, ia hanya menitipkan bungkusan makanan walau melarang Jin Woo memberitahukan kalau ia pernah datang kemari.


Jin Woo minta maaf dan berjanji untuk membujuk In Ah agar pulang ke rumah. Ibu tak menjawab dan pergi.


Malamnya, Jin Woo membuatkan ramen dengan kimchi. In Ah menyadari kimchi itu mirip dengan buatan ibunya dan bertanya apakah ibunya kemari. Jin Woo berkata kalau ibu In Ah sangat khawatir padanya dan bertanya mengapa In Ah tak segera kembali ke rumah?


In Ah berkata ia akan pulang ke rumah saat bisa memberikan kartu nama pada ibunya dengan bangga. “Sementara aku ini kan hanya pengacara baru,” ujar In Ah sambil tersenyum. Jin Woo bisa memahami pikiran In Ah dan tak memaksanya lagi.


Para pendemo sudah pergi, hanya menyisakan satu orang yang berdiri di tengah lalu lalang orang pulang kerja. Dong Ho yang juga hendak pulang, melihatnya juga. Ia diberitahu kalau pria itu adalah anak pemilik perusahaan lampu Smile Bulb. Dong Ho menghampiri pria itu untuk bersimpati pada ayahnya yang pasti kecewa karena perusahaannya terpaksa tutup. Ia mengambil sebuah kartu nama dan menyerahkan pada pria itu.


“Aku yakin kau akan membutuhkan bantuan orang ini. Hanya dia satu-satunya pengacara yang mau menangani kasus ini.” Ia menepuk bahu pria itu dan berlalu pergi sambil berseru, “Jagalah selalu ayahmu!”

Pria itu membaca nama di kartu nama. Seo Jin Woo.


Jaksa Hong memanggil Jaksa Tak, memintanya untuk menutup kasus penganiayaan yang dilakukan Direktur Kim dari Jinyoung Trading dengan alasan kurangnya barang bukti. Jaksa Tak menolak karena mereka sudah menemukan banyak bukti dan saksi. Semuanya sudah jelas bisa menyeret Direktur Kim ke meja hukum.

“Yang lebih jelas lagi adalah aku adalah atasanmu.”

“Apa Anda sekarang menjadi tameng Grup Ilho lagi?” tuduh Jaksa Tak.

“Berpikirlah lebih sederhana. Jangan suka ribut seperti Lee In Ah dan menggali kuburmu sendiri,” kata Jaksa Hong manis dan menyuruh Jaksa Tak pergi.


Detektif Bae menemui Dong Ho di kedai minum untuk membicarakan masalah kecelakaan ayah Dong Ho. Ia merasa janggal melihat Dong Ho bekerja di firma hukum milik Ilho Group karena sebelum ayah Dong Ho mengalami kecelakaan, ayah Dong Ho memberitahukan tentang Nam Il Ho padanya. Dan setelah kecelakaan terjadi, Nam Il Ho-lah yang memaksa untuk menutup kasus itu segera.

Dong Ho terkejut mendengar hal ini.


Anak pemilik Smile Bulb mendatangi kantor Jin Woo. Tapi Manajer Byun memberitahu kalau Jin Woo sedang tak ada di tempat dan sepertinya Jin Woo tak bisa menerima kasus lagi. Tapi pria itu bersikeras kalau hanya Jin Woo-lah yang bisa menangani kasusnya.


Jin Woo ternyata sedang ada di restoran Jepang, yang sering didatangi Detektif Gwak. Kali ini Detektif Gwk sedang bersama seorang pria, yang Jin Woo tebak ‘klien’ barunya. Setelah mempersilakan tamunya pergi dulu, Detektif Gwak menyindir Jin Woo, apa perlu ia memberikan kasus besar untuk Jin Woo.


Jin Woo hanya tersenyum, “Bukankah dulu sudah pernah kubilang, orang yang pernah kau khianati akan selalu kembali untuk menghantuimu.” Detektif Gwak berdecak sinis. Sudah dua kali ini galgal, Jin Woo tak akan mungkin bisa menyentuh Nam Gyu Man. Tapi senyum Jin Woo tak pernah hilang dan malah berkata, “Kau akan mendengar kabar baik sebentar lagi.”


Detektif Gwak akhirnya menemui tamunya. Tamu itu ternyata memang ‘klien’-nya. Mereka tak menyadari kalau ada kamera yang merekam pembicaraan mereka.


Jaksa Tak menemui In Ah untuk memberikan kasus bunuh diri ayah Jung Ah. Ternyata Jaksa Hong yang bertanggung jawab menangani kasus itu. In Ah langsug mempelajari kasus itu. Ia pergi ke kantor polisi untuk meminta bukti surat bunuh diri ayah Jung Ah.


Detektif Gwak sedang mempresentasikan kasus ‘klien’ Detektif Gwak yang ternyata adalah tersangka Ham Ji Seok. Dan dapat diduga, Detektif Gwak melaporkan penyelidikannya kalau ia tak memiliki bukti yang menunjuk kalau Ham Ji Seok bersalah.


Mendadak pintu terbuka dan muncul Jin Woo yang mengacungkan sebuah USB, yang katanya di dalam ada sebuah video yang merupakan bukti penting. Detektif Gwak mencoba mengusirnya, tapi atasannya tertarik dengan pernyataan Jin Woo.


Jin Woo tersenyum menang, sedangkan Detektif Gwak cemas melihat perkembangan yang tak terduga. Tentu saja bukti itu adalah hasil rekaman yang diambil Jin Woo dari boneka kucing. Di video itu nampak Detektif Gwak menerima segepok uang dari Ham Ji Seok. Itu hanya uang muka. Jika Detektif Gwak berhasil mencegah kasusnya, Ham Ji Seok akan memberi sisa uang yang dijanjikan.

Tak hanya itu, saat ngobrol santai dan menyinggung nama Nam Gyu Man, Detektif Gwak menyebut Nam Gyu Man sebagai orang kaya bodoh yang tak bisa mengontrol emosinya.


Detektif Gwak dalam masalah besar karena atasannya berniat untuk menyelidiki kasus ini dengan sebenar-benarnya. Setelah semua orang pergi, menyisakan Jin Woo dan Detektif Gwak di ruangan. 


Ada telepon masuk dan Jin Woo menyuruhnya untuk tak sungkan mengangkat telepon di hadapannya. Itu mungkin telepon dari bawahannya yang panik karena kantor mereka digeledah. “Aku tak hanya menyebar video. Aku juga melempar sedikit umpan dan sepertinya mereka langsung memakannya.”


Gemetar Detektif Gwak mengangkat telepon. Ternyata benar, manajemen sekarang sedang melakukan penggeledahan. Detektif Gwak pun menelepon Gyu Man.


In Ah berziarah ke kotak abu Jung Ah dan ayahnya. Ia melihat surat yang ditulis ayah Jung Ah di dalam kotak dan menyadari kalau tulisannya berbeda dengan surat yang tadi ia terima dari kepolisian. Ia pun membawa kedua surat itu untuk dianalisa dan mendapat hasilnya. Tulisan kedua surat itu tidak cocok sama sekali.


Detektif Gwak pergi ke kantor Ilho atas persetujuan Gyu Man. Detektif Gwak memohon Gyu Man menolongnya dan ia bersedia membayar kebaikan Gyu Man dengan seluruh sisa hidupnya. Gyu Man bertanya kenapa ia harus melakukannya? Ia kan hanya orang kaya bodoh yang tak bisa mengontrol emosi. Gyu Man memutar video yang baru ia tonton. Video di restoran Jepang.


Detektif Gwak terkejut dan langsung berlutut minta ampun. Tapi Gyu Man malah memegang kepala Detektif Gwak, memaksa kepala itu untuk menyentuh lantai sambil berkata, “Ada orang yang butuh merangkak agar bisa selamat, dan ada orang yang tak tahu bagaimana artinya merangkak itu.” Detektif Gwak masih memiliki harga diri untuk tak menyentuhkan kepalanya ke lantai.


Gyu Man melepaskan kepala Detektif Gwak dan berkata, “Kau termasuk orang yang tak tahu artinya.” Ia melihat tatapan marah Detektif Gwak dan menduga kalau Detektif Gwak pasti berencana untuk membongkar semua rahasianya tapi menyarankan untuk menutup mulut itu rapat-rapat dan ia berbisik, “Karena aku mungkin akan membunuhmu.” Dan dengan nada bersahabat, Gyu Man menepuk bahu Detektif Gwak. “Mengerti?”


Tapi hanya sesaat senyum bersahabat itu tersungging di bibir Gyu Man, karena senyum itu hilang dan wajah Gyu Man menjadi keji.


 Selanjutnya Remember : War of the Son Episode 11 - 2

2 comments :

  1. Jin woo mulai aksinya.. Setelah episode kemarin yg cukup menegangkan dan greget banget.. Jin woo tidak langsung menyerah....siip.. Semoga sdikit demi sdikit kebenaran akan teruungkap.. Kayanya presdir nam juga ada kaitannya dengan kecelakaan ayahnya dong ho... Hmmmm semakin penasaran.... Lanjut terus ya mb... Fighting... 😄😄

    ReplyDelete
  2. Kesian...NGM oppa hrs meranin karakter yg jahat dari awal ampe akhir?????
    Mana juahatnya gak ketulungan lagi.....hik hik hik.....
    Mana senyum psyco nya horor bgt.....pembunuh barkode kalah jahat yah dg pewaris I'll ho yg satu inih....hihihi.ngeeri......
    Tapi gak mampu lari.....habis .gantengnya tetep.....
    Kamsahamnida bak dee......

    ReplyDelete