January 26, 2016

Sinopsis One More Happy Ending Episode 2 - 2

One More Happy Ending Episode 2 - 2


Mi Mo dan Da Jung sudah berada di acara pernikahan klien mereka. Mi Mo menceritakan apa yang dia alami kemarin pada Da Jung; mulai dari dikhianati oleh Jung Hoon sampaii menikah dengan teman kecilnya.

Menyadari mabuk yang parah mengakibatkan melakukan hal-hal yang diluar batas, Mi Mo tak mau minum minuman yang disediakan di mejanya. Dia lebih memilih air putihnya saja. Dia bahkan menyetop Da Jung untuk minum minuman alkoholnya dan memberi nasehat kalau kemampuan minum seseorang bisa turun seiring bertambahnya usia. 

Tepat disaat itu kedua mempelai muncul dan disambut dengan tepuk tangan meriah dari para undangan yang datang. 



Waktunya makan. Dan saat Mi Mo mengambil makanan di meja prasmanan, dia melihat Seung Jae, mantan suaminya.


Pria itu... dulunya milikku,” batin Mi Mo. Ia memutuskan untuk menghampiri Seung Jae. Dalam perjalanan menuju Seung Jae, Mi Mo terus mencari kata-kata yang akan dia katakan saat berhadapan lagi dengan Seung Jae.


Namun langkah Mi Mo langsung terhenti saat melihat seorang wanita muda muncul dan menggandeng tangan Seung Jae. Hati Mi Mo semakin sakit saat mendengar Seung Jae memperkenalkan wanita itu sebagai pacar pada temannya. Pacar Seung Jae bernama Song Si Ah. 

Ketika Seung Jae melihat ke arah Mi Mo berdiri, Mi Mo dengan cepat membalikkan badannya. Namun sepertinya Seung Jae bisa tahu kalau wanita yang memakai baju merah adalah Mi Mo, walau hanya melihatnya dari belakang. 


Mi Mo yang  tak mau ketahuan, langsung menggandeng pria yang melewatinya. Dengan alasan kalau dia sedang tak enak badan karena panik, dia meminta si pria mengantarkannya pergi dari tempat itu. Setelah mendapat tempat yang tak terlihat oleh Seung Jae, Mi Mo pun meminta si pria meninggalkannya. 


Dari tempat persembunyiannya, Mi Mo melihat Seung Jae dan pacarnya. Dia teringat pada kata-kata Seung Jae yang berkata kalau dia tidak merasa bahagia bersama Mi Mo. 

“Aku melihatnya, tersenyum.... dan dia bersama wanita yang punya tubuh model,” ucap Mi Mo dalam hati.


Sekarang Mi Mo sudah bersama teman-temannya dan dia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Namun, teman-temannya tidak terlalu mendengarkannya, karena teman-temannya juga punya masalah masing-masing. Walaupun begitu Mi Mo tetap fokus pada ceritanya, dia menuduh Seung Jae membohonginya. Seung Jae mengajak cerai hanya untuk mendapatan wanita yang lebih muda dan punya tubuh yang bagus. 

“Kenapa pada diem begini?” tanya Mi Mo saat menyadari kalau teman-temannya tak merespon curhatannya. 

“Suamiku ingin bercerai di pengadilan,” jawab Da Jung.

“Satu minggu lagi, genap 3000 hari sejak ciuman terakhirku,” keluh Dong Mi sambil memakai pelembab bibir. “Lihat wajahku baik-baik.  Mungkin saja aku mati saat masih perawan,” tambah Dong Mi dan menghela nafas.

Mi Mo pun bertanya kenapa dengan mereka semua? Kenapa tak ada yang mendengarkan ceritanya tadi. Da Jung mengangkat tangannya dan berkata kalau dia dengar. 

“Kenapa kau menyebutnya brutal?” tanya Da Jung dan Mi Mo menjawab kalau semua itu karena mantan suaminya itu sudah menipunya untuk bercerai. Da Jung lalu berkata kalau Mi Mo tidak tahu kapan Seung Jae punya wanita, apa itu sebelum atau sesudah bercerai.  Dan sekarang sudah terlambat untuk mempermasalahkan semuanya. 

“Sudah lima tahun. Dia sedang terbang dengan Super Woman ataupun sedang gulat dengan Wonder Woman, aku tidak akan kaget,” jelas Da Jung. 


Ae Ran yang sedari tadi diam, membuka suaranya dan berkata kalau hari ini dia akan menemui Dong Bae (calon suaminya) dan membatalkan pernikahannya. Semuanya terkejut dengan keputusan Ae Ran, namun karena Ae Ran sudah merasa yakin pada keputusannya maka mereka pun tak bisa memberi nasehat apa-apa.


Seorang klien sedang berkonsultasi dengan Mi Mo, dia meminta pada Mi Mo untuk dicarikan pendamping yang alami dan bahenol. Pria itu ingin mendapatkan wanita yang alami sebelum menikah agar tidak tertipu. Mendengar agar tidak tertipu, Mi Mo pun teringat pada ucapan Seung Jae yang berkata, “Aku tidak bahagia denganmu.”

Dan karena kliennya itu begitu ingin wanita yang bahenol, Mi Mo pun jadi merasa tak senang dan langsung meminta agar kliennya itu tidak membanding-bandingkan wanita dengan artis porno. Tentu saja kliennya berkata kalau dia tidak membanding-bandingkan, dia hanya ingin hidup bahagia dengan wanita seperti itu. Pria itu juga berkata kalau rata-rata pria juga menginginkan wanita seperti itu. 

Mendengar kalimat itu, Mi Mo pun teringat pada kekasih Seung Jae yang juga punya tubuh yang bagus. Dan hal itu membuat Mi Mo terpancing emosi dan mengatai kliennya itu dengan sebutan “Kunyuk cabul.”

“Kau ingin mencari istri atau pasangan tidur? Tubuh bahenol yang alami? Kau kira disini  klub malam? Begitu?” ucap Mi Mo dengan emosi.

“Kenapa kau?” tanya klien bingung.


Bukannya meredakan amarahnya, Mi Mo malah semakin emosi dan berkata kalau dia tak bisa mengetahui mana wanita alami atau tidak. Selain itu dia menyuruh kliennya untuk menghilangkan “tas pinggul” nya dulu sebelum memikirkan wanita yang sempurna. 

Keluar ruangan Mi Mo, pria itu terus mengeluh dan bertanya-tanya apa menginginkan tubuh bahenol itu dosa, sampai Mi Mo seperti itu. Da Jung yang mengetahui semua itu langsung menemui Mi Mo di ruangannya. 

Dengan nada kesal Da Jung meyuruh Mi Mo untuk menemui Seung Jae dan menanyakan sendiri tentang semuanya, kalau tidak Mi Mo akan bersikap seperti itu terus dan mereka akan kehilangan banyak klien mereka. 


Karena usul dari Da Jung, sekarang Mi Mo sudah berada di restoran dan menunggu Seung Jae.  Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Seung Jae datang. Setelah berbasa basi di depan, Mi Mo kemudian membahas tentang pacar baru Seung Jae, dia juga mengaku kalau dia melihat Seung Jae dan pacarnya di acara pernikahan. Tak mau menutupi apa-apa, Seung Jae pun berkata kalau wanita itu memang tunangannya dan tak akan lama lagi Seung Jae  akan kembali ke Amerika untuk menyelesaikan kontraknya. Setelah itu baru dia aka menikahi tunangannya itu. 

Mendengar berita itu Mi Mo terlihat kecewa dan menyebut Seung Jae sudah melupakan pernikahan mereka. Dengan santai Seung Jae berkata kalau  tak masalah, karena pernikahan mereka sudah lama  berakhir. 


Mi Mo terlihat sedang menahan emosinya, sampai-sampai dia minum minumannya bersama batu es-nya. Dia kemudian membahas tentang Popo dan mengaku kalau dia merindukan popo. Seung Jae menjawab kalau popo akan diadopsikannya, karena tunangannya itu tidak menyukai anjing. Mendengar itu, Mi Mo pun mulai memperlihatkan emosinya. Dia membahas tentang Seung Jae yang dulu bersikeras membeli dan memelihara Popo, tapi sekarang Popo mau diadopsikannya karena tunangannya tidak suka.

“Jangan berlebihan. Dia hanya anjing,” ucap Seung Jae.

“Dia anakku!” teriak Mi Mo emosi dan Seung Jae langsung menyuruhnya mengadopsi Popo kalau Mi Mo berpikiran seperti itu. Tentu saja Mi Mo tak langsung menerima, dia malah menyindir Seung Jae yang menganggap Popo sebagai penghalang hubungannya dengan pacarnya, jadi dia membuang Popo pada Mi Mo. Seung Jae yang masih santai berkata kalau tak masalah jika Mi Mo tak mau menerimanya karena dia sudah menemukan orang yang mau mengadopsi Popo. 

“Kim Seung Jae!”

“Kau menelponku setelah 5 tahun hanya untuk Popo? Hal ini bisa dibicarakan lewat telepon,” jawab Seung Jae yang mulai terpancing emosi. “Aku sibuk, aku harus menyiapkan kontrak baruku. Kenapa kau ingin menemuiku?”

Mi Mo terdiam sejenak dan kemudian bertanya tentang alasan sebenarnya mereka bercerai. Mendengar pertanyaan itu, Seung Jae menghela nafas dan berkata kalau semua itu karena dia merasa tak bahagia bersama Mi Mo. 

“Aku merasa tidak ada tempat untukku dihidupmu,” jawab Seung Jae karena Mi Mo ingin jawaban yang lebih spesifik.

“Apa?”

“Kau  mandiri dan terlihat baik-baik saja sendirian. Kau membuatku merasa tidak penting. Jadi aku tidak bahagia, aku merasa tidak dibutuhkan,” tambah Seung Jae dan Mi Mo langsung bertanya apa pacar Seung Jae yang sekarang tidak mandiri. Seung Jae menjawab kalau pacarnya sangat menghargainya.

Mendengar itu Mi Mo tertawa, “Dia menghargaimu..... sebagai pria?” tanya Mi Mo dengan nada mengejek.

“Apa?”

“Dengar mantanku... kau sudah mengenalku? Kau sudah mengerti aku sebagai wanita? Aku punya banyak kekurangan. Kekuranganku sangat jelas, sampai semua pria disekelilingku menusukku dari belakang. Sudah akui saja kalau kau ingin bersama wanita yang lebih seksi dan hubungan yang lebih bernafsu. Setelah itu aku akan memaafkanmu. Aku minta maaf sudah menjadi tipe 75A!” teriak Mi Mo dan tepat disaat itu pentir menyambar lalu hujan turun dengan deras.

“Kau menjadi lebih egois begini?” tanya Seung Jae yang merasa kalau Mi Mo sudah membuat kesimpulan sendiri dan seharusnya dia mempercayai kesimpulannya itu. Jadi kenapa Mi Mo harus membuang-buang waktunya untuk bertanya pada Seung Jae seperti sekarang ini. 

“Ah, aku baru ingat. Inilah kenapa kita bercerai. Kau harus selalu benar. Kau hanya percaya apa yang ingin kau percayai, itulah alasan yang sebenarnya,” jawab Seung Jae dengan yakin.

“Seharusnya aku tidak menemuinya. Semua kenangan indah telah sirna dan yang tertinggal hanyalah amarah,” ucap Mi Mo dalam hati dan dia tak sanggup lagi menjawab perkataan Seung Jae.


Ditengah hujan yang lebat, kita melihat Ae Ran sedang berlutut di depan Dong Bae. Ae Ran sepertinya sudah mengungkapkan isi hatinya pada Dong Bae mengenai keinginannya untuk membatalkan pernikahan.


Dong Bae marah, dia berkata kalau memang itu isi hatinya Ae Ran, seharusnya dia mengatakannya sebelum tanggal pernikahan mereka di tentukan dan undangan di sebar. Ae Ran beralasan kalau dia butuh waktu untuk menyadarinya dan alasan Ae Ran itu tambah membuat Dong Bae marah, karena selama dia mempersiapkan pernikahan mereka, Ae Ran malah sibuk menelaah perasaannya. Dong Bae pun berkata kalau semua itu sudah terlambat, sudah terlambat bagi Ae Ran mengatakan semua itu.


Mi Mo pulang dengan membawa Popo. Saat menuju ke lantai apartemennya, dia melihat ada orang-orang yang membicarakan tentang seseorang yang tinggal sendirian. Penasaran, Mi Mo pun keluar dari dalam lift untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari orang-orang yang berkumpul disana, Mi Mo pun diberitahu kalau Kyeong Yeon sudah meninggal karena tersedak tulang ayam. 

Mendengar berita itu, Mi Mo pun teringat pada pertemuan terakhirnya dengan Kyeong Yeon. Wanita yang bernama Kyeong Yeon adalah wanita yang dia temui tadi pagi, wanita yang baru selesai joging dan menyuruh Mi Mo untuk berolahraga juga. 


Flashback
Kyeong Yeon sedang asik menikmati ayam gorengnya sambil berbaring dan menonton TV. Tiba-tiba dia tersedak tulang ayam. Dia mencoba menghubungi 119 dan berhasil, namun dia tak bisa berbicara karena tenggorokannya ada tulang ayam. 

Dalam hati Mi Mo berkata kalau seandainya saja Kyeong Yeon tidak hidup sendiri, maka dia tidak akan meniggal gara-gara tersedak tulang ayam. Karena jika ada orang lain, paling tidak orang itu bisa membantu menelpon 119 atau membantu dia mengeluarkan tulang ayamnya. 

Menyadari kalau dia juga hidup sendirian, membuat Mi Mo jadi lemas sampai-sampai dia berjalan gontai. Dia takut bernasip sama dengan Kyeong Yeon. 


Mi Mo kemudian membayangkan dirinya meninggal dan disana ada Seung Jae bersama pacarnya. Seung Jae lalu berkata pada pacarnya kalau dia akan selalu berada di sisi pacarnya  itu untuk selamanya, sehingga pacarnya itu tidak akan mengalami kejadian seperti Mi Mo.


Tentu saja pacar Seung Jae merasa senang dan kemudian bertanya apa mulai sekarang rumah Mi Mo menjadi milik mereka. Seung Jae pun menjawab dengan senyuman.

Mi Mo dengan cepat kembali ke rumahnya. Dia masih mendapati rumahnya dalam keadaan berantakan dan juga sepi

“Karena inilah wanita butuh suami. Paling tidak ada anak yang bersamanya,”ucap Mi Mo dalam hati.

Mi Mo kemudian melihat sisa ayam goreng di ruang tamunya, melihat itu dia pun memberitahu popo untuk tidak boleh makan ayam goreng lagi dan jangan makan sendirian di rumah, agar mereka tidak bernasip sama seperti Kyeong Yeon. 


Sahabat Mi Mo yang juga hidup sendirian adalah Dong Mi, sekarang dia sedang menonton film romantis sambil menikmati soju dan cemilan. Saat dia melihat adegan kissing, Dong Mi pun jadi mupeng. Dia kemudian menelpon Da Jung dan mengaku kalau dia ingin ciuman. Mendapat pengakuan seperti itu, Da Jung pun berkata, “bukan denganku.”

Dong Mi pun berkata kalau memang bukan dengan Da Jung, dia ingin ciuman. Dia mengatakan keinginannya pada Da Jung  karena dia tahu, Da Jung dan dia punya nasip yang sama, tidak pernah bersentuhan dengan pria. Tak mau disamakan, Da Jung pun menjawab kalau sampai sekarang dia masih serumah dengan pria walau pisah ranjang. Tentu saja Dong Mi kesal mendengarnya dan menutup teleponnya setelah mengucapkan selamat pada Da Jung karena masih hidup serumah dengan pria. 


Setelah menutup telepon dari Dong Mi, ekspresi wajah Da Jung berubah sedih. Ya, sepertinya dia merasa kesepian, namun dia tak mau mengatakannya pada Dong Mi. Da Jung sendiri tidur di kamarnya dan suaminya tidur di sofa. 

“Sudah tujuh tahun ya,” gumam Da Jung.

Kita kemudian beralih pada Ae Ran yang sedang minum soju sendirian. Dia teringat kembali pada kemarahan Dong Bae. 


Dan Mi Mo sendiri sedang merendam tubuhnya ditumpukan busa. Dia teringat pada Jung Hoon yang membela Seul Ah dan berkata kalau dia sangat mencintai Seul Ah. Mi Mo juga teringat pada Soo Hyuk yang mengajaknya menikah, namun setelah itu mengakhiri hubungan pernikahan mereka karena mereka menikah akibat pengaruh alkohol. Setelah itu, Mi Mo teringat perkataan Seung jae yang memberitahunya kalau alasan mereka bercerai karena Mi Mo selalau merasa dirinyalah yang paling benar. 

Mengingat semua kejadian yang berturut-turut terjadi, membuat Mi Mo pusing dan hendak menenggelamkan dirinya di tumpukan busa, namun tiba-tiba pandangannya jadi kabur sehingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk menenggelamkan diri. 

Mi Mo lalu menelpon Dong Mi dan meminta Dong Mi untuk membangunkannya besok pagi. Namun Dong Mi tak mau melakukannya, karena dia merasa tak ada kerjaan menelpon seorang wanita pagi-pagi. Waktunya tidur dan Mi Mo memilih gaun tidur yang seksi dan berwarna merah marun. 


Di rumahnya, Soo Hyuk menyiapkan makan malam untuk dirinnya dan juga putra kesayangannya. Dia kemudian memberitahu Min Woo untuk melakukan apapun yang menjadi cita-citanya karena sebagai ayah, Soo Hyuk akan selalu mendukungnya. Min Woo lalu menjawab kalau dia ingin masuk ke SMP Internasional. Mendengar itu Soo Hyuk bingung kenapa Min Woo berkata pada gurunya kalau dia tak mau dan membuat Soo Hyuk  harus bertemu dengan gurunya itu. 

Dan ternyata, Min Woo memang sengaja melakukan hal tersebut agar ayahnya bisa bertemu dengan gurunya. Min Woo berkata kalau semua itu adalah kencan buta yang dia persiapkan untuk sang ayah. 

“Bagaimana guruku?” tanya Min Woo penasaran dengan pendapat ayahnya. “Cantik kan? Tidak muda, sih... dia belum menikah karena dia mencari pria yang tampan. Setauku, ayah orang yang tampan. Mungkin dia tidak suka karena ayah sudah punya anak, tapi dia tahu aku murid yang baik. Dia sangat menyukaiku, jadi tidak ada masalah,” ucap Min Woo yang sangat menginginkan ayahnya punya pacar, karena pria umur 34 tahun itu masih terbilang muda, jadi tidak ada salahnya jika Soo Hyuk punya pacar. 

“Ayah hanya butuh dirimu,” jawab Soo Hyuk dan Min Woo mengeluh karena dia takut ayahnya nanti akan terobsesi padanya sebab terlalu mencurahkan semua perhatiannya pada dirinya. Mendengar itu Soo Hyuk bertanya kenapa sekarang Min Woo berpikiran seperti itu, padahal dulu Min Woo selalu menyebut Soo Hyuk keren. Min Woo pun menjawab kalau itu dulu, dia mengatakan hal itu saat masih duduk di bangku TK. 

“Itulah yang membuat ayah bertahan saat ini,” ucap Soo Hyuk.

“Dulu aku bilang keren karena, ayah masih mencintai ibu. Tapi lama-lama menakutkan. Rasanya nanti ayah akan kepo dan mengikutiku saat aku mulai pacaran,” keluh Min Woo dan Soo Hyuk meminta anaknya untuk tidak khawatir. Soo Hyuk beralasan kalau dia belum pacaran dengan siapapun karena merasa belum menemukan yang tepat.  Dan jika dia nanti sudah menemukan yang tepat, maka akan ada kemungkinan Min Woo yang ditelantarkannya. 


Selesai makan, Soo Hyuk masuk ke kamarnya dan melihat foto-foto masa lalunya. Dia melihat foto masa SDnya, yang tentu saja disana juga ada foto Mi Mo. Melihat foto itu, Soo Hyuk pun teringat saat dia mencium Mi Mo. 


Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Mi Mo tiba-tiba terbangun dan tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia berusaha meraih ponselnya, tapi malah dia terjatuh dari tempat tidur. Untungnya ponselnya juga ikut terjatuh, sehingga dia bisa menelpon 119. 


Di dalam ambulans, petugas 119 yang wanita memarahi teman-temannya karena membawa Mi Mo tanpa memberinya jaket terlebih dahulu. Mi Mo sendiri hanya bisa menutup matanya karena memang merasa malu dengan keadaannya sendiri. 

Tiba di rumah sakit, Mi Mo di tangani oleh Hae Joon.  Tentu saja saat melihat Hae Joon, Mi Mo langsung teringat pada malam dia menikah dengan Soo Hyuk. 

“Kakak ipar?” panggil Hae Joon. 

Mendengar panggilan itu, Mi Mo menghela nafas dan berkata kalau dia bukanlah istri Soo Hyuk. Mi Mo hendak pindah sendiri ke ranjang rumah sakit, namun dia tak bisa bangun karena merasa sakit. Jadi Mi Mo dipindahkan dengan cara diangkat. 


Semua petugas 119 pergi dan hanya tinggal Mi Mo dan Hae Joon. Setelah memeriksa mata Mi Mo, Hae Joon menyuruh Mi Mo duduk. Saat duduk selimut yang menutupi tubuh Mi Mo turun dan Hae Joon  langsung terkejut melihat Mi Mo hanya mengenakan baju tidur yang terbuka, sedangkan Mi Mo hanya bisa meringis karena dia susah menggerakkan tangannya untuk menarik kembali selimutnya. Dengan cepat Hae Joon langsung menyelimuti tubuh Mi Mo lagi.


“Dokter.... tolong selamatkan aku,” mohon Mi Mo.

“Tentu saja. Manusia tidak meninggal semudah itu,”jawab Hae Joon dan kemudian memasangkan alat pemeriksa mata pada Mi Mo. Setelah melakukan pemeriksaan, Hae Joon berkata kalau ada otolihiasis di telinga kiri, jadi Mi Mo tidak akan mati karena hal tersebut. 

“Ah... terima kasih,” ucap Mi Mo lega. 


Hae Joon melihat Mi Mo yang tak nyaman dengan pakaian yang dia pakai dan selimut yang dia pegang juga tak sepenuhnya menutupi tubuhnya, jadi Hae Joon pun memakaikan jas dokternya pada Mi Mo. Dari kejauhan Yeon Soo melihat apa yang Hae Joon lakukan.


Mi Mo langsung terpesona pada Hae Joon karena sikap Hae Joon yang sangat baik. Sampai-sampai dia melihat cahaya disekeliling Hae Joon, saat Hae Joon membuka alat pemeriksa mata pada Mi Mo. 


“Mulai saat ini, lihat saja aku, jangan lihat yang lain,” ucap Hae Joon langsung memegang wajah Mi Mo. Sama seperti yang Hae Joon lakukan saat menggunakan alat tadi, dia mengarahkan kepala Mi Mo ke kiri dan ke kanan, di tidurkan dan dibangunkan lagi. Setelah melakukan itu, Hae Joon berkata kalau Mi Mo sudah baik-baik saja sekarang. 


Soo Hyuk sedang tertidur pulas saat menerima telepon dari Hae Joon yang memberitahunya kalau istrinya ada di rumah sakit. Mengetahui hal tersebut, Soo Hyuk pun mau tak mau harus bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui Mi Mo. Karena Hae Joon tahu, kalau Mi Mo adalah istrinya di catatan sipil.


Mi Mo sendiri sudah berada di bangku tunggu dengan infus disampingnya dan masih mengenakan jas dokter milik Hae Joon. 

34 tahun...  11 kali pacaran, bukan angka yang kecil dan sekali menikah. Tapi saat ini... Tak ada seorang pun disampingku," ucap Mi Mo dalam hati saat menyadari kalau dia hanya sendiri disaat situasi seperti ini.


Kita beralih pada Hae Joon yang ditanya Yeon Soo, kenapa dia memberikan jas dokternya pada Mi Mo, karena hanya ada satu alasan untuk dokter melepas jasnya yaitu saat mereka melakukan kesalahan. 

“Aku memberikan jasku, karena pakaiannya memalukan,” jawab Hae Joon dan Yeon Soo berpendapat kalau hal itu bukanlah urusan Hae Joon. 

“Kau tak melihatnya sebagai pasien, tapi sebagai wanita?” tanya Yeon Soo sambil sibuk mengetik sesuatu di komputernya.

“Kau sendiri, saat ada pasien pria datang cuma pakai celana dalam, kau tidak curiga dan tetap merawatnya?” tanya Hae Joon balik dan Yeon Soo dengan yakin mengiyakan karena dia tak menganggap orang itu sebagai pria melainkan sebagai pasien. 

“Aku kalah. Kelihatannya butuh waktu lama mengalahkanmu,” ucap Hae Joon dan berjalan pergi.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Soo Hyuk terus mendumel kalau Mi Mo sangat merepotkannya. 


Hae Joon membeli dua minuman dan menghampiri Mi Mo. Dia membeirkan satu minuman pada Mi Mo sambil berkata kalau dia sudah menghubungi Soo Hyuk dan sebentar lagi dia akan sampai. Bukannya langsung mengambil minuman yang diberikan Hae Joon, Mi Mo malah terdiam sambil melihat wajah Hae Joon. Sampai Hae Joon memberi kode pada Mi Mo untuk mengambil minumannya.


Mi Mo mengambil minumannya, namun dia masih terdiam sambil menggenggam kaleng minumannya. Hae Joon lalu duduk dibangku yang tak jauh dari Mi Mo duduk. Dia membuka kaleng minumannya dan meminumnya. 


Mi Mo kemudian menoleh kearah Hae Joon dan terus melihatnya. Dia teringat kembali saat Hae Joon memegang wajahnya. Dilihat seperti itu oleh Mi Mo, membuat Hae Joon merasa tak nyaman dan langsung menyudahi minumnya. Dia pun berusaha bersikap ramah dan menyapa Mi Mo, namun Mi Mo masih melihatinya terus tanpa berkata apa-apa. Merasa tak nyaman, Hae Joon melanjutkan minumnya  dengan arah yang berlawanan dengan Mi Mo. 


“Jantungku berdegup kencang... karena dirimu,” ucap Mi Mo dan tentu saja membuat Hae Joon terkejut. “Jika aku jatuh cinta padamu, apa aku sudah gila?”


“Apa?” tanya Hae Joon tak mengerti.

Aku harus menikah lagi.... dengan pria ini,” ucap Mi Mo dalam hati.


No comments :

Post a Comment