January 21, 2016

Oh My Venus Episode 16 (Final)

Oh My Venus Episode 16 (Final)


Mendapat kejutan cincin dan lamaran, membuat Joo Eun terperangah, tak bisa berkata-kata, kecual melarikan dirinya ke pelukan Young Ho. Young Ho berjanji untuk terus berada di sisi Joo Eun selamanya. Joo Eun mengangguk bahagia, apalagi saat Young Ho menyelipkan cincin ke jari manisnya dan berkata, “Kang Joo Eun adalah milikku.”



Joo Eun diantar pulang, tidak ke rumahnya tapi ke apartemen Hyun Woo. Young Ho meminta Joo Eun untuk tak terus-terusan memandangi cincin itu, “Nanti bisa pecah.” Hee.. Joo Eun bertanya bagaimana Young Ho bisa punya ide memberi scarf dan cincin? Saat dijawab kalau cincin itu ada di dalam scarf, Joo Eun mengkoreksi. Baginya scarf itu adalah hadiah utamanya karena Young Ho bisa beli cincin dimana saja.


Apa yang dilakukan Joo Eun setelah menerima lamaran Young Ho? Tentu saja menunjukkan pada sahabatnya, Hyun Woo. Ia berpura-pura pusing kepala sambil meletakkan tangan bercincinnya di kening. Hyun Woo terbelalak melihat cincin yang kentara banget itu dan ikut gembira mendengar kabar baik dari sahabatnya.


Tapi kegembiraan itu berubah menjadi kecemasan saat Joo Eun cerita kalau Nenek Young Ho ingin bertemu dengannya. “Astaga.. bagaimana kalau dia ingin menguburmu hidup-hidup?” Hahaha.. bukannya menghibur malah buat Joo Eun tambah panik.


Hyun Woo pun memberikan saran karena dia sudah pengalaman bertemu calon mertua. Ia mengusulkan agar Joo Eun memberikan uang saku pada Nenek, karena ibu mertuanya sangat senang saat ia memberikan uang. Joo Eun langsung menyambar, “Apa kau gila? Beliau itu Presdir Gahong dan punya uang segudang. Apa kau pikir ia akan senang mendapat uang dariku?”


Hyun Woo mengangguk-angguk. Ia akhirnya mengeluarkan rok jadul bunga-bunga yang katanya akan mampu membuat Nenek memuji Joo Eun. “Kesan pertama itu sangat penting! Ibu mertuaku suka dengan baju ini. Untung aku masih menyimpannya.”

“Apa aku tak terlihat tua memakai baju ini?”

“Presdir Gahong itu juga tua. Wanita seumurnya selalu mengutamakan kesopanan dan kerapian.”


Joo Eun mengembalikan baju itu, tak sreg dengan saran Hyun Woo. Ia minta lebih baik diberi obat penenang saja. Bahkan SMS dari Young Ho juga tak mempu meredakan kegugupannya. Bahkan ia sampai melamun di kantor.


Ibu Joon Sung menemui Joo Eun dan memberikan sarung tangan sebagai bentuk terima kasihnya pada Joo Eun dan memberi tahu kalau suaminya sekarang sudah mau masuk panti rehabilitasi untuk terapi. Joo Eun ikut senang mendengarnya karena Joon Sung sekarang sudah bahagia.


Ibu Joon Sung pun juga merasa bahagia karena ia memiliki seorang putra dan pacarnya juga sangat baik dan manis. Ia masih ragu apa ia layak mendapat kebahagiaan ini. Joo Eun meyakinkannya kalau ia layak mendapatkannya.


Woo Shik mendapat kejutan. Tak disangka Young Ho menemuinya dan bertanya-tanya tentang karir atlitnya. Ia menceritakan kalau ia pensiun menjadi perenang setelah cedera. Young Ho bertanya apakah ia mendapat terapi. Woo Shik mengiyakan. Ia mendapat terapi di Amerika, Jepang dan Prancis. Young tersenyum puas dan memberikan rencana pusat rehabilitasi yang akan Gahong bangun tahun depan.


Woo Shik terkejut. Apa Young Ho mempercayainya. Young Ho menjawab, “Boleh dikatakan, dibanding percaya padamu,  aku mempercayai pengalamanmu Orang yang pernah terluka akan mengerti kalau luka itu tidak dengan mudah menutup dan sembuh. Seperti pada kanker atau penyakit kronis, proses penyembuhan itu seperta pertempuran yang panjang dan melelahkan.”


Melihat senyum Woo Shik, sepertinya Young Ho mendapat teman yang berpihak padanya. Young Ho bertanya tentang keberadaan Direktur Choi. Ternyata Direktur Choi sedang main baduk dengan para manula. Mungkin itu caranya mengisi waktunya dan menebus dosa. Ia terkejut saat mendapat SMS dari Young Ho yang memintanya untuk kembali ke perusahaan.


Tiba hari pertemuan Joo Eun dengan Nenek. Joo Eun muncul dengan baju Hyun Woo dan langsung menyodorkan sebuah amplop saat Nenek mengambil tas untuk mengambil sesuatu. Sebelum Nenek sempat bicara, ia mengatakan kalau amplop itu isinya bukan uang, melainkan laporan medical check up-nya.


Ia buru-buru memberitahu kalau ia mengidap tiroid namun sudah dinyatakan sembuh bulan lalu. Melihat Nenek hanya menatapnya tanpa berkata apapun, ia semakin ciut dan berkata, “Jika misalanya Anda menawarkan uang yang bisa mencukupi saya untuk seumur hidup atau jika Anda ingin mempermalukan saya dan menginginkan hubungan kami putus, saya tetap tak dapat meninggalkan Young Ho. Saya tak akan pernah meninggalkannya.”


Nenek mengakui kalau semakin tua, orang akan semakin keras kepala. Joo Eun mengangguk dan menunduk. Nenek mengambil sesuatu dari tasnya, “Dan semakin tua, kau harus lebih sering mengelap mulutmu.” Dan Nenek mengelap mulutnya. Haha..”Selain bajumu, tak ada hal lain yang ingin kutentang.”

LOL. Nenek yang ini mah trendy, kukunya aja dicat silver..


Joo Eun tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung berdiri dan minta maaf karena ia berpakaian seperti ini untuk menjaga kesopanan. Nenek hanya minta satu syarat, “Aku ingin mendapatkan hadiah pernikahan yang wah.”


Di mobil, Nenek mengingat kejadian di malam Young Ho kecelakaan. Ia melihat Joo Eun bicara sambil menangis pada Young Ho dari luar kamar, menguatkannya untuk terus berjuang. Saat itu ia meninggalkan rumah sakit dengan hampir menangis saat mendengar Joo Eun mengungkapkan perasaan cintanya pada Young Ho.


Yi Jin mendapat penghargaan sebagai aktris paling populer dan menurut Ji Woong, Yi Jin mengatakan ‘I love you, JJS’. Tapi Joon Sung hanya menanggapi biasa-biasa saja. Bahkan ketika Yi Jin, yang menguntit Joon Sung hingga ke kamar ganti gym, menghadiahi jam tangan couple, ia malah bingung. Untuk apa jam ini?


Yi Jin menjawab manja sambil menggenggam tangan Joon Sung, “Ini borgol. Sekarang kau dan aku bersama-sama ada dalam penjara.” Joon Sung malah meminta Yi Jin untuk tak datang ke gym lagi karena mungkin ada orang yang melihat. Yi Jin kesal mendengar jawaban Joon Sung. Sampai kapan Joon Sung mengacuhkannya? “Mencintai seseorang itu bukan tindak kriminal. Sampai kapan kau memperlakukanku seperti ini?


Joon Sung melihat sekeliling, seakan meyakinkan tak ada CCTV sebelum berkata, “Yi Jin ah, aku biasanya selalu memanggil orang dengan nama lengkapnya dan selalu bicara sopan pada orang yang dekat denganmu. Jika seorang pria melakukan sesuatu di luar kebiasaan..”


Yi Jin langsung mengerti dan menyandarkan kepalanya di dada Joon Sung untuk menghentikan kalimat Joon Sung. Bisa pingsan dia jika ia mendengar lanjutan kalimat Joon Sung. Duh diomongin gitu aja udah kelepek-kelepek, apalagi kalau digombalin ama Joon Sung, ya?


Dan Yi Jin langsung terpana saat Joon Sung menciumnya. Tak hanya sekali, dua kali dan yang terakhir itu.. mmhh.. liat sendiri deh..


Young Ho datang ke rumah Joo Eun atas permintaan gadis itu. Di kamar ia melihat Joo Eun yang duduk di tempat tidur dengan wajah kusut. Joo Eun bercerita kalau ia baru saja bertemu neneknya. Young Ho yang mengira neneknya menentang hubungan mereka, berkata kalau ia akan mengurus Nenek agar tidak turut campur.Joo Eun mencegahnya karena bukan itu masalahnya.


“Nenekmu minta hadiah pernikahan yang wah,” jawab Joo Eun, membuat Young Ho mengerutkan kening bingung. Joo Eun mengambil dua boneka si Brengsek junior dan berbisik, “Seorang.. cicit.”


… Dan Joo Eun langsung menarik Young Ho, mengukungnya. Hahah.. kayaknya Joo Eun yang nafsu nih. Ia berkata kalau ia sudah sampai sabuk Jujitsu dengan strip tiga. Young Ho menjaga emosinya agar tidak ikut-ikutan Joo Eun dan mengatakan kalau ia akan menuruti permintaan Joo Eun jika strip-nya sudah empat.


Young Ho membalik posisi mereka dan dengan rayuan maut, Young Ho mengajak Joo Eun untuk melakukan yang ‘lain’. Wihh.. Young Ho memeluk Joo Eun dari belakang dengan mesra.. untuk menjepitnya.


Halah.. lain-nya mereka itu ternyata latihan jujitsu. Ji Woong dan Joon Sung yang mengintip mereka heran, apa kegiatan yang sedang mereka lihat itu adalah latihan atau pacaran? Entahlah..


Dan akhirnya Joo Eun menunjukkan sabuk strip empatnya. Ia menagih janji Young Ho untuk memberikan hadiah pernikahan untuk keluarga Young Ho karena mereka akan pergi ke rumah keluarga Young Ho besok. Young Ho pun menggendong Joo Eun dan masuk ke kamar tidur.

Ngapain? Entahlah.. Main kartu kali. Hahaha..


Keesokan harinya, Young Ho membawa Joo Eun yang memakai hanbok dan ingin memberikan sujud hormatnya. Young Ho kaget dengan salam tradisional Joo Eun, tapi ia ngikut saja. Tapi belum sempat mereka berdua membungkuk, Nenek menyela, “Keluarga kami mengikuti kalender matahari (modern). Mari kita langsung makan saja.”


Joo Eun bengong. Young Ho hanya bisa bertanya pasrah, “Kau ini apa sedang syuting drama sageuk?” dan pergi ke ruang makan. Joo Eun sedikit ngambek dan bertanya pada Chief Kim apa tindakannya ini berlebihan? Chief Kim menjawab, “Hanya sedikit. Masuk saja dan makanlah.”


Setelah makan, Joo Eun duduk di ruang tengah bersama Chief Kim dan Young Ho. Joo Eun heran melihat rumah sepi begini. Chief Kim menimpali kalau sekarang ini sudah lebih ramai karena kedatangan tamu a.k.a Joo Eun. Joo Eun heran, “Begini ini disebut ramai?” Joo Eun semakin heran mendengar Nenek dan Ayah Young Ho ada di kamar mereka masing-masing.


Joo Eun tak ingin membiarkan hal ini terjadi lebih lama lagi. Setelah mendapat kepastian dari Young Ho kalau ia sudah menjadi bagian dari keluarga Young Ho, ia berniat mengundang Nenek dan Ayah untuk duduk bersama. Young Ho sudah feeling tidak enak, tapi ia tetap menuruti permintaan Joo Eun.


Setelah kumpul semua, Joo Eun berkata kalau ia akan menyanyikan sebuah lagu untuk mereka. Ia tak menggubris bisikan Young Ho yang memikirkan tindakannya sekali lagi dan malah meminta Chief Kim untuk memutar lagu pengiringnya.


Sesaat musik (kalau di Indonesia mungkin keroncong kali ya) dari handphone  Chief Kim, ia pun mulai menari dan bernyanyi. “Saat aku 60 tahun, malaikan maut datang untuk membawaku ke alam baka. Katakan padanya aku tak bisa pergi karena aku ini masih muda.”


Nenek dan ayah mengerutkan kening mendengar nyanyian Joo Eun. Young Ho juga mulai panik karena Joo Eun terus menyanyi. “Saat aku 70 tahun, malaikan maut datang untuk membawaku ke alam baka. Katakan padanya aku tak bisa pergi karena aku ini masih muda.” Hahaha.. wajah Nenek dan Ayah itu loh.. priceless banget liatnya.


Young Ho mulai semakin was-was karena Joo Eun terus mengulang ke umur 80 tahun. Takut ayah dan nenek tersinggung, ia mematikan musik dan menarik Joo Eun duduk, sambil minta maaf. Tapi belum sempat ia meminta maaf, ia mendengar Nenek tertawa terbahak-bahak. Ia mengerti maksud nyanyian Joo Eun. “Kau ingin mendoakanku agar tetap panjang umur? Seperti itukah?”


“Iya benar-benar,” jawab Joo Eun bersemangat. “Sebenarnya lagu ini sampai 150 tahun,” dan mencibir pada Young Ho, “Tapi kau memotongnya di tengah-tengah”. Ayah akhirnya tertawa juga dan Young Ho senang melihat ulah Joo Eun yang membuat suasana menjadi ceria.


Tak hanya itu, Joo Eun ternyata membawa kamera dan mengajak semua untuk selfie. Tak lupa ia meminta Ayah Young Ho untuk tersenyum. Dan Ayah tersenyum dengan cara menarik pipinya ke atas. Hahaha… Jarang senyum jadi harus dibantu dengan tangan ya, Pak? Bunciiisss


Sesampainya di rumah, Young Hoo berterima kasih karena telah membuat ayah dan neneknya tertawa lepas. Joo Eun tahu alasan Young Ho yang tak mau buat anak dulu. Pasti karena Young Ho takut memiliki anak yang punya penyakit kanker (sama seperti Young Ho dan ayahnya). Ia meminta Young Ho untuk tak takut.


Mereka harus berbuat yang terbaik karena begitulah hidup. Tak ada yang pasti, daripada memilih tak bahagia, lebih baik memilih untuk berbahagia. “Aku ingin punya putri yang kulitnya seputih ayahnya dan putra yang badannya sesehat aku. Kita akan membesarkan mereka bersama-sama dan ingin mendengar mereka memanggilmu Ayah.” Young Ho memeluk Joo Eun dan berkata kalau ia tak pernah bisa menang berdebat dengan Joo Eun.


Saat ditanya mau punya anak laki, perempuan atau kembar, Young Ho tak menjawab. Ia malah memeluk Joo Eun semakin erat dan mengusulkan sebanyak tim bola. Haduh.. entah tim sepak bola atau futsal, pasti tetep banyaaakkk.


Soo Jin masih murung. Bubur yang ada di mejanya tetap belum tersentuh. Ucapan dokter obsgyn-nya yang mengatakan susah punya anak menghantuinya. Ia tak tahu kalau ada Woo Shik yang ada di luar apartemen, hendak membuka password pintu apartemennya.


Tapi Woo Shik mengurungkan niatnya dan kembali ke kantor. Ia sebenarnya juga sudah mengetahui penyakit Soo Jin dari dokter yang memeriksa Joo Eun. Joo Eun sulit punya anak. Jadi ucapan ketus yang tak ingin anak yang diucapkan Soo Jin padanya adalah bohong.


Ayah kembali menginap di rumah sakit untuk mendapat terapi. Ia terkejut melihat Young Ho muncul di kamarnya dan tanpa banyak bicara mengambil dokumen yang sedang ia pelajari dan mulai membaca. Ia bertanya bagaimana Young Ho bisa tahu tentang penyakitnya. Young Ho menajawab, “Tentu saja aku seharusnya tahu. Aku ini kan anak Ayah.”


Ayah tersenyum mendengar ucapan Young Ho. Setelah itu mereka jarang bicara lagi, tapi kali ini suasana diam yang ada terasa damai. Young Ho akhirnya pamit pulang. 


Kebetulan Nyonya Choi dan adik tirinya muncul. Young Joon menyapanya dengan sopan, memanggilnya Direktur Kim. Young Ho menatap adiknya dan berkata. “Untukmu, aku ini bukan Direktur Kim.” Young Ho menepuk pundah Young Joon dan meneruskan. “Panggil aku Hyung.”


Young Joon tersenyum penuh haru mendengar ucapan kakaknya. Tak disangka ayahnya berkata, “Pergilah belajar kedokteran. Rasanya sangat senang jika kedua putraku terjun ke bidang kesehatan.” 

Untuk pertama kalinya mereka terasa seperti keluarga, saling melempar senyum walau masih terasa canggung.


Young Ho  mengobati tangan ibu Joo Eun. Ibu merasa bahagia dengan perlakuan calon menantunya. Ia tahu kalau Young Ho pernah sakit saat kecil dulu dan memberikan nasehat. “Lebih baik sakit di samping orang yang kau kenal. Kalau punya seseorang dalam hidup, pasti rasanya tak begitu sakit lagi.”


Young Ho menatap calon mertuanya dengan penuh syukur, “Bu, terima kasih telah melahirkan Joo Eun dan memberi ijin untuk menikahinya.”


Soo Jin dan Woo Shik sedang berpisah. Tapi mereka sama-sama tak bisa move on, selalu terbayang kebaikan masing-masing. Soo Jin pergi ke tempat dulu ia dan Woo Shik berkencan. Tak disangka ia bertemu dengan Woo Shik yang memakaikan jaket ke badannya dan bertanya apakah Soo Jin baik-baik saja.


Woo Shik kembali minta maaf atas perbuatannya dulu. “Aku menyadari kalau aku bukan pria baik. Tapi aku mencintaimu, Soo Jin ah. Menikahlah denganku.”


Soo Jin menangis dan Woo Shik memeluknya. Aww.. dan mereka berjalan di sebuah padang rumput yang indah. Hmm… bahkan tempat pertemuan Woo Shik-Soo Jin tadi juga cantik, pantas untuk menjadi tempat kunjungan wisata. Atau sudah?


Menjadi calon istri Young Ho, berarti harus siap olah raga terus karena menurut Young Ho olah raga akan membuat kulit Joo Eun kencan dan cerah. Tapi walau Joo Eun mengomel, ia terus berlari dan malah mengajak Young Ho balapan.


Young Ho cs ditambah Chief Kim sudah berpakaian rapi. Mereka menunggu kemunculan Joo Eun. Sepertinya mereka akan foto prewedding. Mungkinn… Joo Eun muncul dengan gaun merah, membuat Young Ho terpesona. Tapi bukankah gaun pengantin itu putih? Joo Eun berkilah kalau itak ada hukum yang mengharuskan pengantin bergaun putih. Ia pun mengajak semua foto, termasuk Chief Kim.


Dan rasanya saya seperti mendengar Almost Paradiseee…. saat mereka berlima difoto. Kayak ngeliat F4 dan Geum Jan Di versi dewasa. Dan saat mereka foto banyaaakk.. sekali, kilas balik semua pengalaman mereka berlima muncul. Begitu banyak kejadian dari saat Joo Eun berperut chubby hingga sekarang kurus, proses yang akhirnya mendekatkan mereka semua.


Musim panas, 2016. Seorang wanita berjalan dan handphonenya berbunyi dengan dering khas milik Joo Eun. Ternyata ia adalah Joo Eun yang menerima telepon dari Nenek dan mengatakan kalau ia sudah sampai di bandara.


Seseorang menghadangnya. Ia adalah Ji Woong yang berpakaian militer, memberi hormat padanya. Joo Eun terkejut dan memeluk Ji Woong gembira.

Dan kita mendengar suara Joo Eun yang bercerita. Young Ho selalu ingin menolong orang. Ia memiliki hati yang besar untuk menyelamatkan orang yang ada dalam bahaya. Ia adalah satu-satunya couch-nimku. Tiga bulan sebelum pernikahan kami, ia terbang ke daerah yang terkena bencana banjir untuk memberikan layanan kesehatan.


Joo Eun heran kenapa Young Ho belum keluar juga, ya. Terdengar suara seseorang memanggil Joo Eun dan Ji Woong. Ternyata Young Ho dan Joon Sung sudah keluar dan ingin memberi kejutan pada Joo Eun.


Tapi Young Ho-lah yang mendapat kejutan. Karena saat Joo Eun berbalik, Joo Eun yang dihadapinya adalah Joo Eun yang chubby seperti saat mereka pertama kali bertemu. Belum pulih rasa terkejutnya, Joo Eun membuka overcoat-nya, memperlihatkan perutnya yang dihias pita. “Surprise.. aku sekarang hamil 3 bulan.”


Ji Woong dan Joon Sung jingkrak-jingkrak kegirangan. Young Ho memeluk Joo Eun bahagia. Ia bertanya Joo Eun sudah hamil berapa bulan? Joo Eun mengacungkan tiga jarinya. Tiga bulan. Senyum Young Ho memudar saat bertanya, “Dan beratmu nambah berapa?”


“26 kilo.” Hahaha..  ROFL melihat paras Young Ho yang pucat pasi. Joo Eun berkilah kalau ia harus banyak makan dan banyak istirahat karena hamil. “Demi bayi-bayi kita,” katanya malu-malu sambil mengusap perutnya.

Young Ho mengerutkan kening. “Bayi-bayi?” Joo Eun berbisik, “Aku hamil kembar.” Wajah Young Ho bersinar bahagia. Ia senang mendengar berita itu, tapi..


Young Ho menatap badan Joo Eun dari atas sampai ke bawah, “Ayo kita latihan.” Young Ho menarik Joo Eun tapi Joo Eun tak mau. Ia kan makan demi anak mereka. Young Ho menjawab kalau bayi-bayi yang lapar pun beratnya tak sampai 1 ons. “Bagaimana gaun pengantinmu nanti muat? Aku tak mau menunda pernikahan kita.”

“Aku tak mau menunda,” balas Joo Eun. Biarkan saja seperti ini. “Apa kau tahu siapa Venus itu? Dia adalah dewi kecantikan dan kesuburan.” Melihat Young Ho masih bersikeras, ia pun merajuk manja, minta dicium.


Young Ho pun luluh melihat imutnya Joo Eun. Ia memegang pipi Joo Eun yang gembil. Dan ia lebih terkejut lagi melihat pipi chubby itu. Dibolak balik pipi Joo Eun dan bertanya panik, “Tapi dimana lesung pipitku?”


Joo Eun berkata kalau lesung pipitnya akan kembali lagi karena Young Ho sudah kembali. Ia melemparkan dimple kiss-nya, membuat Young Ho kelepek-kelepek sesaat. Sesaat doang, karena setelah itu ia menarik Joo Eun, “Ayo kita latihan.”


Hahaha… Young Ho terus berjalan walau Joo Eun terus merajuk. Kita mendengar penutup yang disampaikan Joo Eun dan Young Ho.


Joo Eun: Ada 500 ribu pria dengan nama keluarga Kim di Korea. Diantaranya, nama Young Ho juga sangat umum. Untuk setiap coach-nim yang pernah ada, terutama kau..

Young Ho : Untuk setiap venus yang licik dan suka mencari tantangan yang ada di dunia ini..
Joo Eun & Young Ho : Sekarang.. pergilah keluar dari duniamu. Boarding.. berangkat!

Epilog


Young Ho kecil duduk di kursi rodanya dengan sedih. Seorang gadis menghampirinya dan bertanya apakah kakinya sakit? Young Ho mengangguk.


Gadis itu, Joo Eun kecil, lalu mengambil pelester dari sakunya dan meletakkan plester itu di lutut Young Ho. “Sekarang tak akan terasa sakit lagi. Percayalah padaku.”

“Bagaimana kau tahu?”


“Kalau kau mempercayainya, kau bisa melakukannya,” Joo Eun memberitahu mantranya. Young Ho tersenyum memandangi lututnya dan tersenyum pada Joo Eun kecil.

The End.

Komentar :

Dan itulah pertemuan pertama mereka. Takdir membawa mereka kembali.

Tamat juga akhirnya. Maaf ya teman-teman, kalau saya telat postingnya. Pulang liburan, rasanya macet aja nih otak untuk tune in lagi ke dramaland. Terima kasih Ratna dan Fanny yang sabar dengan ahjumma yang ini. 

Drama ini mengingatkan saya pada Wish Upon a Star. Romance-nya oke, tapi konflik perusahaannya enggak banget. Tapi bedanya, di sini semua orang mendapat happy endingnya. Menurut saya, bahkan Ji Woong dan Chief Kim mendapat happy ending versi mereka. Chief Kim yang begitu setia pada keluarga Gahong, akhirnya bahagia melihat semua anggota keluarga bahagia. Ji Woong yang memang sudah bahagia, akhirnya dapat mencapai cita-citanya, diterima sebagai tentara.


Happy ending is for everyone. For him, for her. For them, for you and for me. Just look at the bright side, and you’ll  get your happy ending. As Joo Eun and Young Ho said : now.. boarding to outside of your world. Departure!

9 comments :

  1. welcome back to dramaland mba Dee ^^

    yaa tamat bakalan rindu nih sam dimple kiss nya .. hehe


    Terima kasih atas kerja keras nya ..

    ReplyDelete
  2. Mb Dee..akhirnya muncul jg ep 16nya..berasa berat berpisah sm pasangan ini best drama 2015 versiku..meski rating g tinggi..ditunggu next project y mb..smg dramanya Song kuadrat y..meski nunggu mpe 24 Feb

    ReplyDelete
  3. Aku juga mau boarding to outside of my world...sama young ho tapinyaaa XD berangkaaaaat

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Welcome back mba.....seneng bgt akhirnya sinop terakhirnya keluar juga,meski dah nonton berkali2 tapi rasanya krng afdol klo g baca sinop dr mba plus komen2 nya,it's just so interesting to know what's on your mind mba...
    Makasih banyak ya mba dah nulis sinop drama ni brg mba fanny and mba ratna,hope to see you again soon....(btw,mba bakal bikin sinop descendant of the sun nya abang joongki g?)

    ReplyDelete
  7. Thanks Mb Dee Mb Fan muah muah hapend pokonya buat semuanya. Ayukk kita pergi keluar dunia kita sama YH :)

    ReplyDelete
  8. Happy ending! Mbak Dee, terima kasih sudah menyelesaikannya dengan manisss! #muahmuah Film ini akan kurekomendasikan ke temanku yang katanya pengen menguruskan badan dengan cara sehat. Hihihi.

    ReplyDelete
  9. hiks ... sedih berpisah ama oppa young Ho
    kalo ama dia, di jamin badan kita kan langsing dan kencang terus ...

    makasih mbak Dee...


    ReplyDelete