January 31, 2016

High End Crush Episode 2

High End Crush Episode 2



“Ketika mereka menjadi lesu karena sudah tidak ada lagi yang diinginkan...ketika mereka pikir semuanya berjalan seperti yang mereka mau, mereka jadi kehilangan selera. Solusinya sebenarnya sangat mudah. Kau hanya perlu mencari apa yang tidak mereka punya.”



Demikianlah pemaparan psikiater Se Hoon pada Psikiater Jung Sang Hoon di hadapannya. Singkatnya ia berkata bagaimana punya segalanya dan hidup dalam kemewahan itu adalah suatu penyakit. Ya jadi seperti yang dialami Se Hoon: keangkuhan akut.

Membalas teori tersebut psikiater Jung berujar, justru karena rekan di depannya ini mengumpamakan dirinya dan Se Hoon bak mangsa dan pemangsanya, maka kenyataannya menjadi begini. Perkataan itu seperti doa yang diharapkan terjadi lho. Haha. Bisa tuh!

Tapi kok yang diajak ngobrol kayaknya nggak mudeng ya? Ia terus saja berceloteh mengenai Se Hoon yang harusnya belajar bahwa tidak semua bisa diraih. Coba deh kalau dia ketemu orang yang sama alias cocok dengannya. Saat itu dia akan menyadari jika dunia adalah tempat yang sulit dan menyesali hidup seperti sekarang.


“Serengeti? Apakah dia bercanda? Aku yakin dia seharusnya menderita seperti itu! Dia perlu dipukul dengan keras di belakang kepalanya! Sangat keras! Kemudian dia akan menangis sejadi-jadinya dan bisa belajar betapa sulitnya hidup! Hingga dia mengatakan padaku kalau dia sangat bersalah dan meminta maaf...”


LOL. Inilah cerita lengkapnya diagnosa ‘Stress pekerjaan tingkat sangat berbahaya’ dibuat psikiater Jung


Min Joo sedang berpose di depan kamera dengan baju yang sama seperti yang dikenakan Yi Ryung. Asisten yang jongkok di sebelah Se Hoon memujinya. Mmmm, minus kebiasaan makan Min Joo yang besar itu sih. Direktur Choi nggak bakal percaya pokoknya! Hahaha.


Lucunya, tawa Asisten terdengar dipaksakan karena dilirik tajam Se Hoon. Asisten lalu balik memuji Se Hoon yang bisa sukses di semua bidang yang dikerjakannya. Termasuk agensi detektif. Lihat saja Min Joo berhasil dibawanya ke sana. Ia mengacungkan jempolnya, tapi kembali diacuhkan Se Hoon dengan sinis. Asisten pun malah membuat gerakan menggorok leher dengan jempolnya itu.

Dan Hwak! Hampir saja Asisten dipukul karena bicara terus.


Ngomong-ngomong Se Hoon sedang memikirkan gadis yang dibawa Asisten tadi. Di mana dia?


Belum sempat terjawab karena Asisten masih loading siapa maksud Se Hoon, seorang staf datang tergesa mengabarkan masalah penting. “Saya pikir anda sebaiknya ke sana sekarang. Darurat!”


Whoa...banyak barang yang dilemparkan dari ruang ganti sehingga nggak ada yang berani mendekat. Sepatu dan tas...”Apa yang terjadi? Apa dia gila?” seru Asisten heran.


Asisten tentu menghalangi Se Hoon untuk masuk. “Dia hanya orang yang kasar. Seperti yang terjadi pada Min Joo sebelumnya...dia memukul saya dengan tongkat besi.”


Ya iyalah. Siapa juga yang mau masuk? Se Hoon malah menyuruh Asisten. Wkwk. Namun baru beberapa langkah, Asisten balik ke posisi semula di balik pintu setelah kena lemparan Yi Ryung. Nyerah.



Melihat Asistennya tidak bisa, Se Hoon berinisiatif maju sendiri walau banyak yang mencegahnya. Lemparan barang-barang Yi Ryung pun berhasil ia halau.


Sayang, ia lancang mendekati Yi Ryung. Memegang tangan dan memandangi gadis yang ada di balik sekat itu terlalu!!!


“AAAAAAAAAA...” Yi Ryung berteriak kencang usai memukul Se Hoon yang terbelalak menyadari apa yang dilihatnya.


Petir di siang bolong bergemuruh seolah menertawakan Se Hoon yang pingsan setelahnya.


“Di mana kita?” ucap Se Hoon kala terbangun.


Asisten yang selesai mengompres pipi Se Hoon menjawab kalau mereka sudah kembali ke kantor. Ini sudah yang ketiga kalinya Se Hoon bertanya. Ia kemudian menjelaskan bahwa Se Hoon adalah pemilik perusahaan hiburan terbesar di Korsel dan juga seorang atasan yang seperti ayah dan kakak laki-laki sungguhan. Jaga-jaga Se Hoon lupa jati dirinya. Hahaaa.

Asisten masih mau melanjutkan lagi jika tidak dibentak Se Hoon. Duh, sampe sakit dibuat ngomong aja...


Se Hoon kesal. Ia tidak butuh dokter yang bisa mengatasi sakitnya, tapi PENGACARA! Apa ia baru saja ditampar? Orang tuanya saja tidak pernah menghukumnya. Nggak tahu apa, betapa baiknya ia dibesarkan?  


Asisten membenarkan. Ia hanya ingin menceritakan hal kecil yang sangat penting sambil menunggu pengacara Park datang.

Gadis itu tidak tahu apapun (=bodoh). Ia menurut saja diajak ke sana kemari untuk make up atau ganti baju. Tapi tidak ada yang merasa perlu untuk menjelaskan padanya. Bahkan ketika gadis itu meminta pakaian gantinya di balik sekat, tidak ada yang menjawab. Ya, seperti yang dilihat Se Hoon tadi. Jadi kalau mau digugat...


Se Hoon memotong, heran kenapa nggak ada yang memperhatikan gadis itu. Asisten yang diliatin Se Hoon jadi sadar dan langsung berlutut memohon maaf. Ia beralasan ia lupa karena Yi Ryung bukan bagian perusahaan mereka. Lagipula kepalanya masih sakit efek pukulannya Yi Ryung.


Mendengar ini, Se Hoon tambah marah. Lupa itu yang bikin bosnya ini dipukul sampai pingsan barusan! Hey...   


Mereka lantas menemui Yi Ryung yang masih cantik dengan riasan dan baju baru. Yi Ryung sendiri masih kesal terus menerus diperintah mereka. Asisten lalu menjelaskan kesalahan Yi Ryung yang sudah memukul orang 2 kali, ia dan bosnya.

Yi Ryung nggak mau kalah, mengungkapkan lagi alasannya bertindak seperti itu. Ditambah, ia juga kehilangan pakaiannya. Se Hoon yang teringat rasa sakitnya kemudian ikut menyalahkan Yi Ryung. Tapi Yi Ryung berargumen kembali. Lihat situasinya dong, masa iya kelakuan Se Hoon mau dibiarkan.



Eits, Se Hoon kan nggak tahu, kenapa nggak ngomong?

Emang siapa yang bisa ngomong dalam keadaan begitu?

Mereka berdua sama-sama tidak mau mengalah. Menganggap diri paling benar. Mirip sebenarnya, kata Asisten yang menengahi.


Bosnya memang nggak bisa memahami perasaan orang biasa. Ia punya kemampuan hebat di mana hanya mendengar apa yang ingin ia dengar. Makanya kalau nggak menguntungkan ya nggak dihiraukan. Seperti apa yang disampaikan Yi Ryung dari tadi. 

Demi mencairkan suasana yang menegang di antara keduanya, Asisten lalu mencoba bercanda dengan memperagakan tamparan Yi Ryung di hadapan Se Hoon. Namun jelas gagal. Yang ada satu sama lain saling pandang-pandangan. Hehe, kesannya romantis ya?



Buat Se Hoon sih iya. Ia menganalisis rupa Yi Ryung yang menurutnya tergolong rata-rata tapi punya ‘ketajaman’. Perlu sedikit lebih kurus lagi harusnya. Cuma kok kalau udah diterangi cahaya...

Se Hoon tersepona ya?


Wkwkwkwk. Lamunan Se Hoon dibuyarkan sapaan Asisten. Ia menyuruh Asisten dan Yi Ryung tetap di sana sementara ia pergi. Padahal sepeninggal bosnya, Asisten malah melakukan high-five dengan tangan Yi Ryung yang sudah meng-olengkan Se Hoon itu. Sambil meroda dan lompat-lompat ia berselebrasi, “Kau memukulnya dengan tangan ini?”


Di tempat lain, Se Hoon diam-diam menelepon psikiaternya, curhat soal Yi Ryung yang menurutnya tak berkharisma, tapi kenapa terlihat manis di matanya. Namun sampai beberapa saat, ia tidak mendengar jawaban dari seberang. Se Hoon lantas menebak si psikiater sedang ‘membersihkan hidungnya’. Bisa nggak sih, fokus sama kliennya?


Psikiater tersebut jelas berkilah. Masa dokter seumurnya melakukan itu. Ah, yang bener -.-

Ia hanya merasa aneh kenapa tiba-tiba Se Hoon menanyakan ini. Dalam hati ia bergumam walau melihat gadisnya juga, dia nggak akan tahu kenapa Se Hoon begini.


“Kau benar. Mengapa aku menanyakan padamu? Apa yang orang bodoh pura-pura pintar ini tahu?”

Dan tut...tut...tut...telepon ditutup. Psikiater mendidih. Udah diejek, dia yang nutup duluan pula. Argh!

Se Hoon kembali dan melihat selebrasi Asisten. Agar tidak terlihat aneh, Asisten menyatakan kalau bahunya nggak enak karena salah tidur. Se Hoon nggak curiga dan melanjutkan pembicaraan dengan Yi Ryung.


Se Hoon mengakui ia melakukan kesalahan besar kemarin. Maka sebagai permintaan maaf, Se Hoon berkata akan ‘membesarkan’ Yi Ryung. Dari tampangnya, Se Hoon yakin sekali kalau Yi Ryung bakal sangat senang. Namun dengan sinisnya, Yi Ryung menjawab dia sudah besar.



Hahaaaa, Asisten menenangkan Se Hoon yang siap meledak. Ia menceritakan kepada Yi Ryung mengenai bosnya yang memiliki sentuhan Midas di dunia selebritis. Semua yang ditanganinya bisa menjadi sangat besar. Bos dari semua film, drama, musik, dan bisnis pertunjukan. Jadi yang dimaksud membesarkan bukan membuat Yi Ryung bertambah tinggi.

“Iya...(tapi) aku tidak tertarik. Bisakah aku hanya mendapatkan kembali pakaianku?” O.O


Walau sempat terkejut, balasan Yi Ryung yang tidak terduga justru membuat Se Hoon memberi applause. Ia suka Yi Ryung yang tidak seperti anak-anak sekarang yang sangat mudah didekati. Ia belum menyerah untuk promosi dan duduk berhadapan dengan lawan bicaranya, namun Yi Ryung keukeuh hanya mau pakaiannya.


Se Hoon bilang Yi Ryung nggak bakal bisa mencarinya di sana karena terlalu banyak pakaian. Sehingga Yi Ryung memutuskan untuk mengirimkan baju ini saja sesampainya di rumah. Yi Ryung minta alamat Se Hoon dan berlalu pergi.


Tidak rela diacuhkan, Se Hoon mencekal tangan Yi Ryung. Yi Ryung marah. Udah mau ngangkat tas juga. Untungnya Yi Ryung masih sabar dan melepas cekalan si Midas.


Sampai akhirnya kedua kali tangannya ditarik, Yi Ryung baru nggak bisa menahan kesabarannya. Ia menghempaskan tangan Se Hoon yang menatap sebal kepadanya sampai tersungkur pingsan. Wuih!


Asisten awalnya cemas, takut Se Hoon langsung K-O. Namun begitu tahu Se Hoon masih hidup, ia tampak ceria. Ini nih yang ditunggu Asisten. Asisten selalu ingin mendorong Se Hoon soalnya. Hihihi kesampaian juga.


Oh ya, sebelum Se Hoon sadar, Yi Ryung harus pergi. Terima kasih untuk hari ini dan Se Hoon nggak bakal bangkrut kok cuma karena satu bajunya diambil Yi Ryung. Dia bukan orang yang jahat walau kelihatannya seperti itu. Anggap saja sebagai pengalaman. Jadi pergi!


Masalah Yi Ryung beres, Asisten baru membangunkan Se Hoon. Tapi Se Hoon yang sekonyong-konyong berdiri malah mencari Yi Ryung. Berlari mengejar gadis itu sambil menahan sakit  kepala karena Asisten enggan menuruti perintahnya.


“Direktur Choi, kenapa Anda mengejarnya?” keluh Asisten tak paham. Se Hoon tak menggubris dan terus mencari jejak Yi Ryung.


Se Hoon berhasil mendapati Yi Ryung yang berniat menaiki bus. Ia langsung menarik Yi Ryung keras hingga tak sengaja jatuh ke pelukannya. Kali ini tatapan mata mereka bertemu dan keduanya tampak terkejut.  




Komentar:


Halahhh...sering kan tatap-tatapan di drama korea jadi awal kisah cinta? Namanya juga dari mata turun ke hati :P Tapi apakah Yi Ryung merasakan yang sama dengan Se Hoon dan nggak jadi pergi?

Drama ini panjangnya sampai 20 episode lho, jadi nggak semudah itu kayaknya. Meski mmmm durasinya hanya 15 menit hehe.

2 comments :