January 23, 2016

High End Crush Episode 1

High End Crush Episode 1


Mobil diparkir di depan sebuah gedung. Terlihat seorang pria turun dan menyiapkan diri dengan kaca mata hitam, tas, dan segelas kopi. Mmm...sebenarnya semua itu dipersiapkan asistennya sih. Bahkan asisten juga yang mempersilahkan sang pria untuk berjalan masuk sambil terlebih dulu menyeruput kopinya. Mau ke mana mereka? Dan ngapain?



Sepertinya mau ikutan nimbrung pembicaraan 2 orang PD yang meributkan Ji Won dan Nam Hyuk.
“Memakai Ji Won dan Nam Hyuk? Memangnya siapa dia melakukan itu padaku? Percayalah padaku dan lakukan saja apa yang kukatakan, ya?”

“Tapi kemarin nggak cuma keributan...”  


Pria yang ternyata Direktur Choi Se Hoon menerobos masuk ke dalam ruangan meski sudah coba dihentikan petugas. “Apa anda sudah membuat janji?” Tapi pria itu tak menggubrisnya dan terus masuk.


Setibanya mereka di sebuah lorong yang dipajangi foto beberapa artis, Se Hoon menjentikkan jarinya. Memberi tanda sehingga asistennya bergegas melepas salah satu foto artis dengan punggung seksinya.


“Aku lebih memilih Nam Hyuk daripada Ji Won. Aku sutradara filmnya, jadi dia tidak akan bisa berbicara lagi kan?”


Se Hoon masuk membuat ruangan membuat semua terkejut dan mulai membela diri. Tanpa basa basi Se Hoon berkata kalau proyek mereka tak berjalan seperti yag direncanakan. Padahal ia sudah meng-inves 40% dari biaya dan ia berhasil mencari sponsor untuk membiayai 30%-nya lagi. “Dan sepertinya ada yang lupa dengan hal itu, ya?” sindir Se Hoon.


Pak sutradara tidak gentar. Ia melakukan hal ini bukan demi kepentingannya sendiri. Feeling Se Hoon yang tiap hari bermain dengan uang, berbeda dengannya yang bergerak di bidang senin. Dan menurut pendapatnya, Yoon Ji Woon tak cocok dengan peran di filmnya. Ia tak merasakan getaran saat melihat Ji Woon dari kameranya, dan ia merasa Nam Hyuk lebih cocok.



Se Hoon pun menyuruh anak buahnya mengeluarkan foto yang tadi dilepas dari dinding. Pak Sutradara mengenali foto Nam Hyuk yang dicopot dan malah memuji tindakan Se Hoon yang bisa mengenali Nam Hyuk yang lebih greget sebagai aktor. “Ia sempurna.”


“Jadi keputusanmu bukan karena pengeluaranmu yang besar –biaya pindah rumah, punya mobil baru, liburan keluarga-. Begitu maksudmu? Kudengar ayah Nam Hyuk mau mengeluarkan uang berapapun agar anaknya bisa menjadi selebritis,” kata Se Hoon.

Sutradra tersinggung dengan ucapan Se Hoon. Tapi Se Hoon hanya ingin mengungkapkan fakta yang membuat Sutradara memilih Nam Hyuk sebagai pemeran utama daripada Ji Won. Sutradara menjelaskan kenapa ia memilih Nam Hyuk. Dari foto itu saja kelihatan kalau ada ‘feeling’ kan dalam foto tersebut? Ada aura tertentu yang muncul dari foto itu, yang tak mungkin orang sepertinya atau Direktur Jang bisa

Se Hoon membenarkan. Dia punya feeling ayah Kim Nam Hyuk bisa melakukan apapun agar sang putera menjadi artis. Tentu saja sutradara kesal dicurigai begitu. Ia lantas memperlihatkan punggungnya, apakah punggungnya terlihat sama? Tidak. Itu benar-benar hot, beda dengannya dan Direktur Jang sekalipun. “Dia akan menjadi besar. Percayalah padaku.”


Se Hoon tersenyum. “Terima kasih. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Ji Won kami pasti akan menjadi besar.”


Eh? LOL Ternyata foto itu adalah foto Ji Won bukan Nam Hyuk. Asisten direktur tlah menggantinya dengan foto Ji Won yang persis seperti pose Nam Hyuk. “Jadi bagaimana? Apakah kau butuh waktu untuk menatapnya lebih lama?” tanya Se Hoon sambil berdiri menatap kedua orang di hadapannya yang langsung mengkerut.


Se Hoon keluar gedung, tapi ditahan oleh asistennya. Kenapa Se Hoon langsung pergi? Seharusnya Se Hoon harus benar-benar memastikan mereka akan memakai Yoon Ji Won. Se Hoon pun bertanya mengapa si asisten tak pernah bisa mengunggulinya? “Karena Anda selalu menekanku.”


Jawaban itu membuat Se Hoon memukul belakang kepala si asisten. Jawaban yang benar adalah karena si asisten tak sabaran dan tak pintar menilai. Ia meminta handphone si asisten. Dalam hitungan 5 detik, orang yang di dalam gedung itu pasti akan meneleponnya.


Lima.. empat.. tiga.. dua.. satu..


Tak ada telepon masuk dan si asisten mulai menyalahkannya yang terlalu meremehkan. Se Hoon terlalu pede, sih.


Tapi ternyata butuh waktu lebih dari 5 detik, karena beberapa saat kemudian handphone itu menyala dengan foto Direktur Jang di layarnya. Si asisten terperangah, speechless sekaligus kesal karena bosnya-lah yang benar.

Se Hoon melempar handphone yang segera ditangkap si asisten. Ia masuk mobil sementara si asisten mengangkat telepon dari Direktur Jang.


Seorang gadis melihat pengemis tak berkaki di pinggir jalan dan memberinya uang. Tapi ternyata kaki buntung pengemis hanya kaki palsu karena pengemis itu bisa lari saat dikejar polisi.


Seperti itulah dunia menurut Se Hoon. Seperti yang ia ceritakan pada psikiaternya, baginya dunia ini seperti Serengeti. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Jika mereka tak waspada, maka mereka akan diserang.


Psikiaternya menguap dan menulis diagnosa Kau pikir kau sehebat itu? Ini warna b.a.b mu lengkap dengan gambarnya. Se Hoon marah melihat psikiaternya menguap. Ia sudah bayar mahal seharusnya ia didengarkan. Psikiater itu berkilah kalau ia tak pernah menyuruh Se Hoon untuk datang menemuinya.


Se Hoon menunjukkan brosur praktek si Psikiater yang jelas-jelas mengatakan Saya selalu ada untuk memahami perasaan Anda. Psikiater mencoba membela diri kalau itu hanya promosi biasa dibuat para dokter. Ia pun memberi analisa tentang Se Hoon. Se Hoon memang hebat, tapi sangat pesimis.


Se Hoon berkata kalau psikiater tentu orang yang optimis, yang ia akui tak mampu ia lakukan. Psikiater itu sangat optimis walau investasinya anjlok di bursa saham. Tetap optimis walau punya pacar yang hanya memperalatnya. Meminjamkan uang pada teman yang tak pernah bayar, malah diperlakukan seperti orang yang berhutang.


Psikiater itu kesal dikatai seperti itu. Apa Se Hoon datang hanya untuk mengganggunya? Senang jika ia menjadi gila? Se Hoon menepuk bahu si psikater. Apa untungnya ia membuat gila padahal ia bayar banyak? Tugas dokter adalah mencari jawaban atas penyakitnya.

Si Psikiater menjawab dalam hati kalau Se Hoon mengidap keangkuhan akut. Tapi ia tak mengatakannya malah menjawab kalau diagnosanya itu sulit diterjemahkan dengan bahasa awam. Ada telepon masuk, tapi Se Hoon malah mematikan handphonenya.


Si asisten yang meneleponnya karena artis mereka, Kang Min Joo, melarikan diri. Min joo berhasil membuat jarak dengan mereka setelah makan tteokboki tanpa bayar, ambil topi tanpa bayar (yang keduanya harus dibayar oleh asisten) dan melompati gerobak buah.


Mereka berhasil memojokkan Min Joo di sebuah gang buntu. Tapi Min Joo tak hilang akal. Ia berteriak keras-keras kalau ia akan diculik. Orang-orang yang lewat segera mendekat, membuat si asisten membela diri kalau mereka bukanlah orang jahat. Mereka bekerja di sebuah agency yang sama.


Tungg! Si asisten terjatuh karena dipukul oleh seseorang. Gadis, yang tadi memberi uang pada pengemis, sudah membawa besi panjang, bersiap membela Min Joo.


Dan tindakan itu adalah contoh salah satu tindakan orang lemah yang tak dimengerti Se Hoon.  Masih di ruang psikiater, ia berkata kalau banyak contoh bodoh yang terjadi di luar sana, seperti misalnya pacaran. Cinta yang tak berbalas. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kalau sudah cinta harusnya diungkapkan saja.  Banyak naskah drama yang ia terima berkutat dengan masalah itu.


Psikiater itu menjelaskan dengan bijak kalau jatuh cinta secara tulus akan membuat orang bodoh. Bodoh dalam artian baik tentunya. Tapi Se Hoon malah membalik ucapan itu pada psikiater yang gagal move on dari mantan pacarnya, membuat si psikiater kesal. Sepertinya Se Hoon ingin berkata kalau di dunia serengeti ini semua orang lebih tolol jika dibandingkan Se Hoon. “Walau itu membuatmu kesal, tapi juga membuatmu bangga karena kau tak seperti itu. Iya kan?”


“Apa maksudmu? Apa kau tahu betapa susahnya hidup sepertiku? Aku adalah satu-satunya orang yang benar. Aku selalu benar. Kenapa aku selalu benar? Kenapa semuanya tak pernah benar kalau aku tak ada di sana?” tanya Se Hoon jumawa, membuat si psikiater tertawa kesal. Se Hoon menantang si psikiater menunjukkan di mana kesalahannya.


Si Psikiater hendak menjawab. Tapi ia tak bisa bersuara. Se Hoon mendelik menantang, tapi tetap tak sepatah katapun muncul dari mulutnya.


Hal itu membuat si psikiater curhat kepada psikiater lain, mengungkapkan kalau kata-kata Se Hoon terdengar masuk akal semua. Tapi jika ia pikirkan kembali di rumah, semua yang diucapkan Se Hoon itu tak masuk akal. “Aku ini dokter, tapi dihadapannya aku tak bisa berkata-kata. Seperti tikus di depan kucing. Ia seperti raja hutan dan aku harus tunduk di hadapannya berkata iya, iya, iya.”


Koleganya menuliskan diagnosa stress karena pekerjaan. Psikiater itu menangis karena Se Hoon selalu kembali padanya dan bertanya apa yang harus ia lakukan?


Akhirnya Se Hoon menelepon si asisten dan bertanya ada masalah apa. Mendengar nada si asisten yang aneh, ia merasa ada yang tak beres. Setelah berputar-putar, si asisten menjelaskan kalau Min Joo kabur. Se Hoon langsung berteriak, “Kenapa kau tak segera memberitahukanku?!!” Ia langsung memutar mobilnya dan pergi.


Si asisten mencoba membela diri, tapi Se Hoon keburu menutup telepon. Akhirnya si asisten meradang dan marah-marah di telepon yang sudah mati. “Kau tanya kenapa tak langsung memberitahukanmu?!! Gimana aku bisa memberitahukanmu kalau telepon aja gak diangkat, hahh?!!”


Teriakannya ini membuat orang menoleh padanya. Tapi ia tak peduli dan bertanya pada temannya, “Kau dengar kan?  Ia yang memutuskan kapan ia angkat telepon dan ia memutuskan jawabanku. Padahal Min Joo sendiri yang kabur dari mobilnya. Bagaimana aku bisa mencari penggantinya dalam waktu sesempit ini?!!”


Tak sadar pandangannya tertubruk pada gadis yang memukulnya tadi. Sebuah ide melintas di kepalanya dan langsung berlutut minta tolong. Gadis itu jadi risih dan hal itu membuat si asisten sadar. Sudah kebiasaan berlutut jika salah, ia jadi refleks melakukannya.


Ia pun mulai berpura-pura sebagai korban yang dipukul. Ia tak akan mengadukan kepada polisi jika gadis itu mau menggantikan Min Joo. Mulanya gadis itu enggan, tapi begitu dia berteriak-teriak memanggil ambulans, gadis itu buru-buru mengiyakan.


Gadis itu akhirnya dibawa ke lokasi syuting, didandani dan memakai kostum yang dipilih. Gaun putih panjang bak seorang pengantin.


Sementara Se Hoon akhirnya menemukan Min Joo dan berhasil membawanya ke lokasi, kita mendengar diagnosa psikiater (yang satunya mungkin).

Penyakit yang diderita Se Hoon adalah Sindrome Faust. Hal ini belum terbukti secara medis, tapi banyak generasi muda yang mengalami masalah psikologis ini. Mereka lesu karena tak ada hal lain yang bisa memuaskan mereka. Mereka mudah hilang minat setelah menyadari kalau mereka bisa mendapatkan semua yang mereka mau. Dan solusinya sebenarnya mudah. Cari sesuatu yang tak mungkin bisa didapat.


Setelah Min Joo digiring masuk oleh pegawainya, Se Hoon berjalan masuk dengan rasa puas.

Kukatakan ini secara Serengeti disebut-sebut sebelumnya. Kadang sesuatu yang tak pernah terbayangkan memang terjadi. Adalah jika predator paling ganas terpaku di depan mangsa yang paling lemah.


Dan ia melihat seorang gadis dalam balutan gaun putih, penuh binar di matanya.


2 comments :

  1. Arrgghhh...
    Jung il woo oppa akhirnya dibuat juga sinopsisnya..
    Jeongmal thank u very very gamsa kak....
    Fighting..
    Ditunggu kelanjutannya...^^

    ReplyDelete
  2. FSOG versi Korea kah?? Se Hoon reminds me Christian Grey so much.. And so do with the "innocent" girl.

    ReplyDelete