January 20, 2016

Imaginary Cat Episode 8 (End)

Imaginary Cat Episode 8 (End)

 

Sepulangnya Jong Hyun dari taman, ia mencari-cari Bok Gil. Kucingnya itu ia temukan lemas di lantai kamar mandi. “Ada apa denganmu, Bok Gil-ah?”


Bok Gil-i juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Jong Hyun panik memanggil-manggil Bok Gil agar tetap sadar. Ia langsung membawa Bok Gil ke klinik Wan, “Bertahanlah sebentar...”

 

Wan menyebut Bok Gil mengalami feline hypertropic carydiomyopathy (kelainan penebalan jantung di bilik kiri yang mengganggu pemompaan darah ke seluruh tubuh -petmd). Kelainan ini sulit dideteksi dengan x-ray yang mereka lakukan sebelumnya.

“Katakan padaku apa yang perlu kita lakukan untuk menanganinya.”

Wan menjelaskan lagi kalau Bok Gil akan mulai mengalami kelumpuhan di kakinya. Sampai platelet darah menghalangi aliran darah di paru-paru dan organnya yang lain.

 

Jong Hyun kesal Wan tidak menjawab seperti apa yang dia minta. Karena memang kata Wan (dengan sangat menyesal), tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Bok Gil tidak punya banyak waktu. Mungkin satu sampai dua hari saja, jadi Wan menyarankan Jong Hyun untuk mempersiapkan...

Belum selesai Wan bicara, Jong Hyun membantahnya. Kesedihannya meluap. Air mata yang tidak bisa ia tahan jatuh. Tidak, tidak mungkin! Bok Gil masih sangat baik tadi pagi. Ia menuntut Wan yang seorang dokter hewan melakukan sesuatu. Harusnya bisa kan.


Wan lantas berkata ia bisa melakukan operasi, tapi itu berarti ia harus mengamputasi kaki Bok Gil. Meski dengan operasi tersebut Bok Gil dapat tetap hidup, ia tidak tahu seberapa banyak platelet darah (yang menyumbat) sudah menyebar. Dengan kondisi jantung Bok Gil yang sekarang, Wan tidak yakin Bok Gil bisa bertahan selama pembiusan. Kemungkinan Bok Gil mati di meja operasi sangatlah tinggi. Ia bertanya kembali pada Jong Hyun, itukah yang diinginkannya? Kepergian Bok Gil yang seperti itu?

Jong Hyun berteriak, “Mengirim ke mana!”

Wan menenangkannya.


“Tolong lakukan operasinya,” ujar Jong Hyun akhirnya meski dengan isakan.


Bab 15 Perpisahan Terakhir


Melihat Bok Gil berbaring di meja operasi, diterpa cahaya lampu memanggilnya perlahan, Jong Hyun berusaha menghiburnya. “Bok Gil-ah, kau bisa melewatinya kan?”


Tapi Bok Gil mengaku takut. Ia bahkan tidak ingin Jong Hyun pergi. Jong Hyun yang seakan mendengar kata hati kucingnya, mengundur operasi tersebut. Ia ingat kebersamaan mereka.


“Aku ingin pulang,” pinta Bok Gil.

Wan yang dapat melihat isyarat Jong Hyun melepas peralatan dari tubuh Bok Gil. Seselesainya, Jong Hyun pun meraih Bok Gil, menggendong pulang. Awww T.T

 

Na Woo yang baru datang dan berhasil mencerna situasi ini justru memohon pada Jong Hyun untuk tetap melakukan operasi. Ia mungkin tidak mengerti banyak karena Wan mencegahnya mendesak Jong Hyun tanpa memberitahu cerita lengkap penyakit Bok Gil. Tapi bagaimana mungkin dia membiarkan Bok Gil pergi begitu saja padahal ia baru saja bertemu dengan kucingnya yang hilang itu.


Wan mengatakan kalau ini adalah yang terbaik untuk Bok Gil.


Dalam dinginnya malam perjalanan mereka, Bok Gil merasa hangat didekap Jong Hyun. Ia ditanyai tuannya apa yang akan mereka lakukan sesampainya di rumah. Memainkan ‘tangkap tikus’ atau berguling dan membaca majalah kucing? Ah, Bok Gil kan suka dipijat. Jong Hyun bilang akan melakukannya nanti.

Bok Gil yang entah bisa melihat mata Jong Hyun yang berkaca-kaca atau tidak, menyetujuinya. “Baiklah. Mari lakukan semuanya.”

“Sampai Bok Gilku baikan, aku akan tetap di sampingmu.”

Mereka berdua sampai di rumah. Seperti biasa di sanalah Bok Gil merasa nyaman. Apalagi diselimuti Jong Hyun.


“Bok Gil-ah, kau sangat kesakitan ya?”

“Manusia, aku tidak apa-apa.” Demikianlah Bok Gil berusaha tidak membuat Jong Hyun cemas. Ia sampai beralasan hanya lelah dan akan bermain lagi besok. Jong Hyun membalas dengan mengecup kening Bok Gil.


SMS Na Woo muncul. Ia sudah di depan pintu. Jong Hyun pun membukakannya. Mempersilahkan masuk.


Na Woo ingin sebentar saja memandangi Bok Gil. Ia memuji kucingnya yang tambah cantik vfan pasti sangat bahagia karena banyak yang mencintainya. “Jika saja dia bisa bersama kita lebih lama.”


Helaan nafas Jong Hyun terdengar berat. Ia menyalahkan diri sendiri yang tidak peka dengan keadaan Bok Gil sehingga bisa memburuk seperti sekarang. Ia meminta maaf pada Na Woo. Namun Na Woo menatapnya berkata bahwa itu bukan salah Jong Hyun. Bok Gil pasti juga tidak mau Jong Hyun seperti ini.


“Tetaplah tersenyum dan mendampinginya, ya?”

Na Woo mengucapkan ia sayang Haru. Ia mencoba menahan air matanya. Tidak seharusnya ia begini. Ia lantas pamit pergi. Meski Jong Hyun menahannya agar setidaknya pergi sampai Bok Gil bangun, Na Woo tidak mau. Ia belajar ketika sakit waktu kecil, hari demi hari sangatlah berharga. Karenanya ia tidak ingin mengambil waktu itu barang sedetik pun.

Pagi-pagi Bok Gil mengeong. Ia sudah bangun dan seakan memanggil Jong Hyun. Jong Hyun menyahut dengan senyum. Ia ingat pesan Na Woo semalam.


 

Jong Hyun menawari Bok Gil pijatan, serta membuatkannya sup ayam. Bok Gil memakannya dengan lahap karena Jong Hyun sudah membuatnya. Melihatnya, Jong Hyun menyesal. Jika saja ia tahu lebih awal kalau Bok Gil menyukainya, ia pasti akan membuatkannya.


Waktunya minum obat pun, Bok Gil berusaha menahan rasa pahitnya. Seperti bukan Bok Gil, komentar Jong Hyun sambil memeluk kucingnya.

Bok Gil membalas, “Kau bilang kita harus bersikap seperti biasa. Kau penipu.”


Lah, bagaimana Jong Hyun bisa seperti biasa lagi bila Bok Gil sakit dan bagaimana Bok Gil bisa menolak (seperti biasanya pula) bila itu justru membuat Jong Hyun cemas. Keduanya penipu yang manis.

Malam hari, Hae Gong datang membawakan perlengkapan perkemahan yang diminta Jong Hyun. Lampu dan tenda. Ia tak lupa menanyakan keadaan Bok Gil. Mendengar Bok Gil sudah menghabiskan semangkuk sup, ia lega dan menanyakan tentang barang yang ia bawakan. Untuk apa?
Jong Hyun bercerita Bok Gil agak bosan. Oh... “Kalau ada lagi yang dibutuhkan, bilang saja,” tawar Hae Gong kemudian. Dan “Jong Hyun-ah, kau juga makan kan?”

Jong Hyun yang sedang menaiki tangga kembali ke kamarnya berhenti, menoleh ke arah Hae Gong dan mengiyakannya. “Terimakasih.”

 

Begitulah malam itu dihabiskan Jong Hyun dan Bok Gil dengan berkemah dalam kamar. Bok Gil mengomentari tenda yang asing di depannya. Ia menjilati kakinya tidak tahu apa yang disebut tuannya hal yang menyenangkan.


Jong Hyun lalu menjelaskan bahwa dia akan membuatnya seperti di majalah. Ya, perkemahan kucing yang mereka lihat kemarin. Usai menata, Jong Hyun mengajak Bok Gil turun dari tempat tidur. Namun Bok Gil mengaku tidak merasa baikan hari ini. Jong Hyun yang melihat kucingnya tak beranjak, menggoda Bok Gil. “Kau melakukannya karena ingin kugendong ya?”

Dengan pelan, Bok Gil mengaku ia tidak punya tenaga. Maka Jong Hyun berakhir menggendongnya masuk.


Start. Dalam gelapnya tenda, lampu berhias bintang yang dibawakan Hae Gong tadi berpendar. Langit-langit tenda tampak seperti langit sungguhan dengan bintang-bintang kuning itu. Bok Gil kagum. Ini pertama kali baginya. Manusianya kereeen.


Jong Hyun tersenyum Bok Gil menyukainya. “Aku jadi penasaran, apakah ada bintang kucing?”

“Wah, manusia, kau tahu juga?” Bok Gil melanjutkan bagaimana ia tahu itu ada dari nenek kucing. Konon katanya saat tiba waktunya, kucing-kucing akan melintasi pelangi menuju bintang kucing.
Jong Hyun mengelus Bok Gil, bertanya bagaimana kalau mereka memohon pada bintang itu?

Tak perlu menunggu jawaban Bok Gil, Jong Hyun mengatupkan tangan, matanya terpejam. Yang ditanya berpikir sejenak dan mengutarakan keinginannya,


“Tolong, biarkan manusia ini tidak kesepian tanpaku.” :’)


Ngomong-ngomong apa permohonan si manusia? Jong Hyun tak mengatakannya. Ia beralasan lelah, padahal matanya yang terpejam rapat malah meneteskan air mata.


Jong Hyun membalikkan badan ke arah Bok Gil yang seolah menahan kantuk. Kucing Jong Hyun tersebut sebenarnya tidak mau menutup mata, tapi matanya tidak mau menurut. Mendengar Jong Hyun yang menyuruhnya tidur karena ia akan terus di sampingnya, membuat Bok Gil mengucapkan terima kasih atas semuanya. “Aku bahagia.”


Kemudian kita bisa melihat bagaimana Jong Hyun menemukan Bok Gil di dalam lemarinya keesokan paginya. Ia bergumam pernah mendengar kala seekor kucing akan mati, mereka pergi ke suatu tempat rahasia untuk bersembunyi dan mati sendirian. Terbukti.

 

Bayangan Bok Gil memenuhi kamar Jong Hyun. Ia yang dulu bisa berjalan ke setiap sudut, kini tinggal kenangan.  


Bab 16 Tetap di Sampingku





Tiga hari berlalu. Jong Hyun mengajukan pengunduran diri dari toko buku, tapi Kepala Ma tidak langsung menyetujuinya. Ketika Jong Hyun pergi lantaran terganggu memandangnya, baru dia akan dengan senang hati membiarkannya. Kepala Ma lantas menjatuhkan surat pekerja paruh waktunya itu ke lantai. Terserah mau dilangkahi atau diinjak...

Menanggapi sikap Kepala Ma ini, Jong Hyun malah bertanya. Bukannya kepala Ma senang? Setelah ia pergi, Kepala Ma bisa bekerja dengan Kim-ssi, wanita mirip Suzy dari bagian anak-anak. Walah...ada yang baru nih?

Kepala Ma takut-takut. Jong Hyun belum bercerita apapun tentang Kim-ssi ke Puteri Heo kan? Hehe ngapain kali.

 
Kepala Ma kembali ke topik, menyuruh Jong Hyun lembur sampai waktunya pergi nanti. Jong Hyun patuh, memancing keheranan Kepala Ma. Tumben. Itu karena Jong Hyun merasa tidak enak, membuat waktu sulit bagi Kepala Ma selama ini.


Ia berterima kasih kepada Kepala Ma yang bahkan mendukung webtoon barunya bisa terpajang di toko sebagai bestseller. Kepala Ma meminta Jong Hyun melakukan sesi tanda tangan pula kelak.
Jong Hyun membungkuk, menghaturkan terima kasih.

“Jika kau benar-benar berterimakasih, coba ‘kemas’ aku dengan baik seperti hadiah natal untuk sang dewi (Penulis Heo).”

 

Jong Hyun pikir ia tidak perlu melakukannya. Hubungan Kepala Ma dan Penulis Heo akan berjalan baik. Ia mendorong Kepala Ma menghampiri dewinya yang ada di dekat mereka. Hwaiting!


Di kafe, Hae Gong dan Na Woo tengah memperhatikan banyak foto Bok Gil. “Apakah Bok Gil benar-benar secantik ini?” puji Hae Gong.

Na Woo menambahkan, Bok Gil juga sangat lembut. Hae Gong pun mencium bau keharuan. Menangis saja jika Na Woo ingin. Bila ditahan, bisa sakit lho. Namun Na Woo menolak. Jong Hyun, pemilik Bok Gil mampu menahannya kok. Mereka lalu membereskan foto-foto Bok Gil sebelum Jong Hyun melihatnya.

 

Sayang, mereka terlambat. Jong Hyun yang tahu mereka menutupi foto Bok Gil justru menanyakan apakah persiapan ‘pameran foto kucing’ Na Woo berjalan lancar. Na Woo mengangguk, Ya. Dan dia ingin membuat poster menggunakan foto Bok Gil. Bolehkah?


Jong Hyun mengambil salah satu foto yang menurutnya bukan foto Bok Gil yang bagus. Tapi ia suka. Tak apa Na Woo memakainya.


Hhhh...sepertinya nggak oke deh. Jong Hyun tampak mengalihkan perhatian dengan menggarap webtoonnya sepanjang hari.


Jong Hyun baru pulang saat larut malam. Ia pegal sekali. Tapi lampu kamarnya yang dari luar terlihat padam, menariknya berhenti sejenak. Keinget Bok Gil yang biasanya nangkring T.T



Setibanya di kamar, ia berniat melanjutkan pekerjaannya. Setidaknya sampai ia menemukan kalung bel Bok Gil di bawah meja ketika ia memungut pensil yang berserakan akibat ia senggol sebelumnya.
Di sana rupanya. Ah...selama ini Jong Hyun tidak tahu di mana. Ia lantas menggoyangkan bel tersebut.


Dan suara Bok Gil mengeong terdengar. Jong Hyun seolah melihat Bok Gil di depannya. Tapi bukan. Hanya imajinasi ternyata.

Jong Hyun meratap. Kalung bel di tangannya memantik perasaan dan ingatannya bersama Bok Gil. Ia teringat banyak hal. Suka duka yang ia lalui dengan Bok Gil.



“Ayo hidup bersama seperti ini selamanya.” *Backsong: Sung Si Kyung – Two People.


Jong Hyun menyeka air matanya. Tersenyum getir. Ia sendiri lagi.


 

PD Dokko mengucapkan selamat kepada Jong Hyun karena webtoon kucingnya sudah populer dalam waktu seminggu. Jin Seung yang sangat sebal, sampai mengajukan proposal baru.


Jong Hyun bisa menebak itu adalah taktik PD. Berkompetisi dengan Jong Hyun rupanya dapat mendorong Jin Seung. Ia akan menggunakan sistem kompetisi kalau begini. Lihat saja bagaimana efeknya bagi perusahaan hihihi. Para penulis mau tidak mau harus mempersembahkan yang terbaik dari waktu ke waktu. Siapa yang dapat untung?^^


Jong Hyun tersenyum. Ia ikutan senang pula saat PD Dokko yang ia dengar bakal jadi pimpinan tim mengangkat telepon Hae Gong, memanggil temannya itu dengan panggilan Gongie, Gongie.

Masih di gedung PLUS, perusahaan webtoon, Jong Hyun berpapasan dengan Jin Seung. Jin Seung tidak menghiraukan Jong Hyun sampai Jong Hyun berbicara tentang project Jin Seung yang akan terbit.

 

Jin Seung mengira Jong Hyun mau meyulut emosinya, tapi Jong Hyun malah mengatakan Beautiful Mind menyenangkan. Jin Seung jelas tak percaya buku yang 100% idenya dipuji Jong Hyun begitu.


"Apa dia ingin mencari gara-gara denganku atau apa? Atau...dia ingin membuatku tersentuh?”



Beralih ke Hae Gong yang sedang makan siang bersama Jong Hyun. Hae Gong mengeluh bosan dengan kehidupannya yang selalu makan di minimarket seperti itu terus.

“Ya, kau anak pemilik SPBU. Tidakkah kau pikir kau hanya mengenakan kostum pria muda miskin?”


Hae Gong berkilah SPBU tersebut milik ayahnya. Meski suatu saat jadi miliknya, Hae Gong tetap tidak bisa ongkang-ongkang kaki di sana. Nggak ada bedanya sama bekerja paruh waktu pokoknya. Ia kadang sampai lupa pergi ke kamar mandi saking sibuknya.


Woah, Jong Hyun takjub melihat perubahan temannya. Hae Gong memang tidak ingin membuat pacarnya yang seorang wanita karir sukses malu terhadap dirinya. Jong Hyun jadi penasaran bagaimana mereka berdua bisa pacaran.

“Semua karenamu...atau, karena Bok Gil ya?”  Hae Gong bingung menjawab bagaimana. Ada-lah.


Tak lama, ia pamit pergi. Ia harus lembur malam ini sehingga nggak bisa main bareng Jong Hyun. Tenang, Jong Hyun punya temen lain kok.

Oh ya? Hae Gong nggak percaya. Menganggap temannya bercanda.



Duduk di pinggir sungai dengan sepeda, Jong Hyun bernarasi. Ia telah berpisah dengan orang yang ia sayangi. Namun di saat yang bersamaan dengan keadaannya yang penuh luka dan kesakitan, Bok Gil muncul. Ia senang ia dapat menemukan Bok Gil ketika Bok Gil sangat membutuhkan seseorang. Tapi  jika dipikir sekarang, bukan ia yang menemukan Bok Gil. Melainkan Bok Gil yang memanggilnya.

“Dia menjilat lukaku. Menenangkan hatiku. Anak yang membantunya membangkitkan mimpi lagi.”


Bok Gil atau Na Woo nih yang dimaksud? Kenapa Na Woo juga dipikirin? Na Woo datang tuh.


Jong Hyun kembali mengajari Na Woo bersepeda. Na Woo tidak langsung bisa mengayuh pedalnya. Ia berhenti begitu saja dan memilih duduk selonjor di dekat sana. Na Woo bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa. Tapi ia lalu mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Meminta Jong Hyun mengabadikan momen dirinya bisa naik sepeda pertama kali. Ia yakin ia bisa habis ini. Firasat sih.


Jong Hyun sebenarnya juga ragu Na Woo bisa sendiri. Namun Na Woo membuktikannya.


“Jong Hyun-ah, kau melihatnya? Oh Na Woo menyukai Hyun Jong Hyun! Aku menyukaimu, Jong Hyun,” seru Na Woo sambil terus bersepeda.

Jong Hyun yang mencoba memotret, tersenyum menatap Na Woo yang menjauh. Ia bergumam, “Aku tidak lagi takut dengan perpisahan. Aku janji.”

“Bok Gil-ah, apakah aku tampak baik-baik saja?”


Cahaya mentari menghangatkan kamar Jong Hyun. Ia menamatkan webtoon kucingnya. Entah itu cerita Bok Gil atau bukan, yang jelas kita dapat melihat senyum Jong Hyun melebar mendengar bunyi bel yang ia gantung di luar kamarnya digerakkan angin.



Tamat.

Komentar :


Aih! Episode terakhir ini emosional banget. Nulis aja bawaannya udah melo ckck. Setelah ditinggal Soo In, Jong Hyun bertemu dengan Bok Gil, dan kini ia kembali ditinggal oleh Bok Gil. Makanya waktu ditinggal Bok Gil, ia yang sudah mengenal Na Woo jadi berkata seperti itu. Ia berjanji tidak akan takut dengan perpisahan. Ia telah melewatinya selama ini dan di setiap perpisahan ia tidak sendiri. Seolah ada yang datang menggantikan mereka yang pergi.

Begitulah dunia. Datang dan pergi. Hilang dan berganti. Dengan ini harapannya bisa sadar diri.


Sad ending atau happy ending setiap orang punya jawaban berbeda mungkin. Tapi kalau saya, dengan melihat senyum Jong Hyun di ending saya merasa cukup puas. Soalnya nggak keterusan melonya haha. Sama kayak ngelepas drama 49 Days, My Daughter Seo Young, Two Weeks, Twenty Again, bahkan Splash Splash Love dan Rooftop Prince #eh.


Terima kasih untuk tim produksi Imaginary Cat. Karena saya jarang banget baca webtoon, saya sangat senang webtoon ini bisa di-drama-kan. Apalagi Yoo Seung Ho dan Beetle (as Bok Gil) yang main. Chemistry keduanya manis sekali nggak kalah sama lead female lain :P Nggak lupa pengisi suaranya Beetle. Yang karenanya saya makin gemes sama Bok Gil >.< Nggak nyangka drama kucing ini bener-bener heartwarming sampai lumayan banyak yang ngikutin.

Mmmm...Hye Jung-ah mungkin bisa nyoba karakter lain deh. Kemampuannya masih bisa diasah kok.


The last: THANK YOU READERS

4 comments :

  1. Ah, akhirnya tamat juga. Hiks, terharu dengan kisahnya. Terima kasih,sha_dew sudah menuliskannya. Keren! (Sayang, saya tidak menontonnya langsung.)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak^^
      semoga remember juga lebih sweet dari ini

      Delete
  2. Sedihnya....hikss,,,,jd bikin keinget kucing" ku yg tlah tiada,,,
    Btw,,sinopsisx keren,komplit,,

    ReplyDelete
  3. Jadi keinget sama kucingku yg udh mati.. Saat sakit parah tiba2 dia pergi dr rumah dan akhirnya gak kembali. Karena dia mencari tempat yg nyaman dan sendiri utk mati. TToTT sedih bgt...
    Tp sekarang sdh ada kucing baru yg sngat aq sayangin..

    ReplyDelete