January 9, 2016

Imaginary Cat Episode 7

Imaginary Cat Episode 7


Jong Hyun menyuruh Bok Gil membuka mata. Ia mau bilang sesuatu dan meminta kucingnya mendengarkan dengan baik. Sambil berkali-kali mengelus Bok Gil, Jong Hyun menjelaskan kalau Bok Gil adalah Haru.

“Ah, ngantuk...,” Bok Gil nggak peduli. Matanya jelas masih lengket.

Jong Hyun mengoceh lagi. Katanya, dia nggak bisa bilang dunia udah membaik atau belum, tapi fakta tentang Bok Gil bahkan dibuktikan secara ilmiah lewat tes DNA. Seekor kucing bisa dites DNA^^


Jong Hyun melanjutkan, ia maklum Bok Gil tidak bisa mengingat namanya dulu. Bok Gil kan masih kecil. Mendengarnya, Bok Gil malah meminta tuannya berhenti bicara omong kosong dan pergi saja. Namun cerita belum usai. Jong Hyun berkata, karena setelah kehilangan Haru Na Woo tidak bisa tidur nyenyak, maka gadis itu akan sering datang mengunjungi Bok Gil. Kangen atuh sama kucing yang udah 7 tahun dicariin. Ngerti, Bok Gil?

“Oke. Tapi kenapa kau terus memanggilku Haru? Apakah kau mengigau?” Haha, yang ngomong ngantuk tadi siapa?


Pembicaraan mereka terhenti oleh bunyi bel. Jong Hyun tahu Na Woo yang memencetnya. Ia membuka pintu dan melihat kepala Na Woo menyembul dari sisi kiri kardus yang dibawanya.

“Hai!”

Jong Hyun hanya tersenyum melihat Na Woo mengangkat 2 kardus masuk ke kamarnya. Sementara Bok Gil berseru, 


“Apa? Dia di sini lagi?” Bok Gil baru melek rupanya :P

Bab 13 Kau Satu-satunya Dalam Hatiku 


Bok Gil dimandikan oleh Jong Hyun dan Na Woo dengan shower yang dipasangkan ke kran wastafel kamar mandi. Keliatan sekali Bok Gil berontak ingin keluar, meski Na Woo sangat ingin memandikannya.


Jong Hyun pun menyarankan agar mereka melakukannya dengan cepat saja. Bok Gil nggak suka mandi.

Namun Na Woo tidak setuju. Namanya cewek, dia justru balik mengatakan pada Jong Hyun untuk memandikannya dengan benar.


Bok Gil yang tidak betah akhirnya keluar dari bak, menyenggol shower yang dipegang Na Woo sehingga jadi tidak terarah. Jong Hyun sigap mematikan kran. Na Woo yang melihat Jong Hyun tersiram juga sigap mengambilkan handuk. Tapi Jong Hyun menolaknya.


“Ya, kau yang keringkan dulu.”

Hehe, nggak cuma Jong Hyun yang tersiram dan basah bajunya. Na Woo juga. Jong Hyun membawakan baju ganti untuknya.

  
Acara memandikan Bok Gil selesai. Na Woo membuka kardusnya. Ia bawa hadiah untuk Bok Gil. Satu, dua, tiga...Jong Hyun melihat banyak barang yang masih ingin dikeluarkan Na Woo. “Cukup, cukup,” serunya. Walaupun Bok Gil menyukai barang-barang Na Woo itu, Jong Hyun berkata akan menerima 1 saja dari setiap kardus. Kenapa sisanya tidak diberikan ke tempat penampuangan?

 

Na Woo berujar dia ingin melakukan semua yang tidak bisa dilakukannya untuk Bok Gil selama 7 tahun. Makanya banyak yang dibawanya. Namun Jong Hyun mengatakan Na Woo tidak perlu melakukan itu sekali waktu. Masih ada besok kok. Lagipula walau kamar ini rumahnya Bok Gil, kamar ini kamarnya Jong Hyun pula. Dan ia memperingatkan Na Woo untuk tidak menyentuh apapun selama dia bekerja di mejanya.


Na Woo paham, ia tidak bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman. Ia tidak memikirkan hal tersebut sebelumnya. Na Woo meminta maaf.


Ia meneruskan bermain dengan Bok Gil dalam gendongannya. Bok Gil sih nerima-nerima aja karena luluh dengan mainan wkwkwkwk.


Hae Gong sudah tahu kalau Bok Gil dulu merupakan kucingnya Na Woo. Mengharukan sekali bagaimana Bok Gil punya misteri kelahiran begitu. Dipertemukan dengan majikan lama setelah 7 tahun.
  
“Jadi apa sekarang kau pacaran dengan Na Woo?” ledek Hae Gong.


Jong Hyun kesal. Selalu deh. Pikirkan semaumu, balasnya.


Hae Gong berkomentar, bagaimanapun Jong Hyun memang nggak punya waktu untuk kencan. Ini waktu paling penting dalam hidupnya karena menyangkut apakah Jong Hyun bisa debut atau tidak. Dan kayaknya Jong Hyun bisa. Jin Seung nggak cukup bagus untuk bisa melawan Jong Hyun.


Jong Hyun lantas nyeletuk, “Bukunya bestseller nomor 1 di toko buku kami.”


Hae Gong langsung mengajak Jong Hyun ke gereja. Yang diajak malah mengolok Hae Gong yang ke sana hanya waktu natal saja karena ada gadis-gadis cantik yang memberinya makan di sana.

Hae Gong berdalih, kali ini mereka harus berdoa. Perusahaan mengatakan akan membuat keputusan besok. Pacarnya, eh maksudnya PD Dokgo sudah bilang dia akan mendukung Jong Hyun, sehingga setidaknya Jong Hyun punya 1 pendukung. Sisanya mereka bisa memohon dalam doa...


Jong Hyun menyarankan agar mereka cukup hidup dengan baik saja setiap hari. Jangan membuat masalah dengan Tuhan karena hanya meminta di saat seperti ini.

Hae Gong gemas. Bukan waktunya Jong Hyun santai begini. Nggak mau nge’lobi’ dan berdoa, lalu apa yang akan dilakukan Jong Hyun?

Jong Hyun berdiri seraya menyampirkan tas di bahunya. Berangkat kerja, jawabnya singkat. Mendapat jawaban Jong Hyun, Hae Gong tidak bisa berhenti mengomel. 


Apalagi melihat punggung Jong Hyun yang menjauh. “Ya! Setiap kali aku berbicara padamu, apakah akulah yang harus selalu melihat punggungmu, ha?”


Jong Hyun sendiri tidak konsentrasi bekerja di toko buku. Ia menunggu telepon pemberitahuan dari perusahaan webtoon. Padahal ini sudah sangat terlambat gumamnya...

Sreeeet. Kepala Ma mengambil ponsel Jong Hyun, bertanya apa yang dilakukan Jong Hyun selama jam kerja sambil melihat ponsel terus. Jong Hyun memohon pada sang manager untuk mengembalikan ponselnya, ia ada telepon penting hari ini.


Lah. Kepala Ma balik menanyakan, apa yang paling penting bagimu, tuan pekerja paruh waktu?

Jong Hyun agak lemas menjawab: pelayanan pelanggan. Tapi Kepala Ma membantah, bukan. Melainkan perintah atasan. Maka sampai saatnya pulang nanti, ia yang akan memegang ponsel Jong Hyun.


Jong Hyun makin nggak bersemangat.  


Sepeninggal Jong Hyun, kepala Ma berusaha membuka kunci ponsel Jong Hyun. Nomernya Puteri Heo pasti ada di dalam, jadi dia akan mencoba 100.000 kali dan pasti menemukannya. Ini baru 7224...7225...


Na Woo mengajak Bok Gil bermain ketika Jong Hyun sedang gelisah menunggu telepon...dan Bok Gil udah bosen.


“Manusia, bawa dia pergi. Dia menyebalkan,” pinta Bok Gil.

Na Woo menangkap kode Bok Gil dan menawarkan kucing itu jajan. Namun karena tidak ada air, Jong Hyun pergi sebentar membelinya. 

Aih, Bok Gil nggak mau sendirian sama Na Woo. Ia menghindar dari Na Woo dan melompat ke meja gambar Jong Hyun. Tapi Na Woo segera menggendongnya turun, menghalaunya dari pekerjaan Jong Hyun.


Di saat itulah Na Woo terpaku melihat karya Jong Hyun. Ia tidak sadar sudah diperingatkan untuk tidak berada di dekat sana. Bok Gil memandangnya cemas.


Benar saja, Jong Hyun marah melihat Na Woo tak menghiraukan omongannya. Walau Na Woo sudah menyampaikan ceritanya pun, Jong Hyun tetap menyuruh Na Woo pergi. Gadis itu tidak ingin kalah, dia ingin membawa Bok Gil ke kafenya kalau Jong Hyun jadi sangat sensitif begini saat sedang bekerja.


Na Woo sudah membawa kariernya ketika Jong Hyun membentaknya kemudian. Belakangan, Bok Gil tidak selera makan dan tidak begitu baik, tapi Na Woo mau membawanya pergi? Kalau Na Woo terus seperti ini, Jong Hyun melarangnya kembali.

“Kau benar-benar jahat!” Na Woo akhirnya pergi dari rumah Jong Hyun dengan kesal. Brak!



Namun ada apa sebenarnya dengan Jong Hyun? Masih dengan perasaannya yang tertahan, ia mengangkat telepon PD Dokko malam itu. PD ingin menemui Jong Hyun besok...



Hae Gong merayakan berita gembira PD Dokko dengan meminum sekaleng bir di taman. Ia memuji Jong Hyun, “Aku tahu kau bisa melakukannya!”

Jong Hyun pikir sepertinya itu karena doa Hae Gong juga. Ya, ya, berdoa atau tidak, yang harus terjadi ya terjadi. Hae Gong sudah bilang bukan kalau Jong Hyun bisa melakukannya?

Si penulis Hyun Jong Hyun berterimakasih. Ia tidak dapat menutupi kebahagiaannya dipanggil: penulis. Berikutnya giliran Hae Gong, kata Jong Hyun. Namun Hae Gong membalas, dia memutuskan untuk membantu bisnis SPBU milik ayahnya.

Jong Hyun tentu terkejut. Maksudnya? Bagaimana dengan menggambar?


Dengan tenang, Hae Gong menjawab tidak semua mimpi itu jadi kenyataan. Meski Jong Hyun dan dirinya sendiri merasa belum lama mencobanya, Hae Gong tetap pada keputusan ini. Ia tahu ia tidak punya bakat. Masalah bakal menyesal atau tidak, siapakah yang bisa menjaminnya. Ia mengatakan tidak menyesalinya sekarang, tapi kadang-kadang kau bisa menyerah dan menyesal. Namanya juga hidup.


Jong Hyun menenggak minumannya sambil tetap mendengarkan Hae Gong bercerita. Ketika sekolah dulu, Hae Gong sangat suka pergi ke ruang seni. Ada Jong Hyun dan Soo In di sana. Dulu ia suka menggambar. Sangat...

Namun kini Soo In sudah tidak bersama mereka. Ia juga menyerah. Sehingga hanya Jong Hyun yang tersisa. Karenanya, Jong Hyun tahu kan, harus sukses demi dirinya dan Soo In?


Senyum Jong Hyun tersungging membalas Hae Gong. Sahabatnya tersebut tidak pernah lelah menyemangatinya, “Penulis Jong Hyun, semangat!”


Ditinggal sendiri, Bok Gil seperti biasa main di atas meja gambar Jong Hyun. Kali ini dia menjilati kalung bel yang berada ujung meja sampai terjatuh. “Haruskah aku turun?” tanyanya ragu.


Jong Hyun masih menatap pemandangan malam di depannya. Mendesah ia mengingat kala Hae Gong mengabari kematian Soo In. Padahal sebelumnya Soo In pernah memuji gambarnya dan bahkan mengaku suka padanya. Namun apa? Jong Hyun saja tidak tahu apapun tentang Soo In. Dan tidak bisa mengatakan suka pula pada gadis itu...

Iya, penyesalan selalu datang belakangan.


Sesampainya di rumah, ia langsung memeluk Bok Gil yang mengeluh kesakitan habis melompat tadi. Tapi bukannya prihatin, Jong Hyun malah curhat. Ia bingung mengapa dirinya seperti ini. Ia sudah akan debut,


lalu mengapa perasaannya...mengapa...tidak bisa seperti seharusnya?


Hari berganti pagi. Di luar rumah, Na Woo sedang melatih permintaan maafnya pada Jong Hyun. Dengan nada kesal? Jangan. Dengan memohon? Mmm...masuk dulu deh.


Dan ia masuk setelah dibukakan pintu oleh Jong Hyun yang lemas. Sebelum pingsan, Jong Hyun menjatuhkan kepalanya di bahu Na Woo. Melihatnya, Bok Gil lega.


Bok Gil memang sangat berharap ada yang menolong tuannya yang sedang sakit dan sendirian di rumah. Ia bisa menahan Jong Hyun untuk tidak memberinya makan. Ia sendiri mengaku tidak lapar. Baginya tidak apa Jong Hyun tetap tidur bila sakit. Ia hanya sangat cemas hingga tak sabar turun berjalan ke depan pintu ketika Na Woo memencet bel.  T.T

 

Malamnya, Jong Hyun dikompres Na Woo. Namun saat Na Woo hendak mengambilkan air, mata Jong Hyun terbuka dan memegang lemah tangan gadis perawatnya, “Soo In-ah.”


Bab 14 Selamat Tinggal dan Hai

 

Keesokan paginya Jong Hyun yang bangun dan melihat Na Woo di samping tempat tidurnya kaget. Bertanya kenapa.

Na Woo mengingatkan Jong Hyun kejadian kemarin selepas dia membuka pintu. Jong Hyun jadi sadar. Ternyata Na Woo yang datang kemarin.

Na Woo mengecek suhu Jong Hyun. Demamnya sudah turun. Na Woo kemudian memberitahu bagaimana semalam Jong Hyun demam, berkeringat, dan mengigau. Ia mengigau memanggil nama seseorang. Soo In. Siapa Soo In?


Jong Hyun tak menjawab. Ia justru meminta maaf pada Na Woo. Tidak seharusnya Na Woo merawatnya. Tapi karena ia sudah merasa baikan sekarang, jadi...

“Sebaiknya aku pergi?”


Bukan itu. Hanya... Jong Hyun merasa tidak enak saja. Anak cewek nginep di sana untuk merawatnya sampai pagi begini. So sweet heheeee.

Na Woo memutus perkataan Jong Hyun. Ia berkata sudah membuatkan Jong Hyun bubur, maka bisakah ia pergi usai melihatnya makan beberapa suap?

Jong Hyun tidak mau. Dia akan memakanannya nanti kok. Dia ada janji hari ini.


Na Woo akhirnya menyerah. Jong Hyun memang keras kepala. Namun tepat sebelum Na Woo keluar, Jong Hyun tidak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya. Na Woo membalasnya dengan senyum,


“Jika kau tahu, baguslah.”


Giliran Bok Gil. Jong Hyun tahu betapa paniknya Bok Gil kemarin. Ia lantas memeluk kucingnya itu.
“Jangan sakit lagi,” ujar Bok Gil lembut.

Jong Hyun mengiyakannya. Awww, kaliaaaaaaaaaan >.< 


Wan memergoki Na Woo yang baru kembali ke kafe. Ia memberitahu bagaimana Gong Ju (penulis Heo) tampak sangat marah. Na Woo jadi ingin ke rumah saja. Tapi, uhuk! Na Woo batuh. Wan pun cemas karena biasanya batuk Na Woo agak lama kalau sudah mulai.


Na Woo memohon pada Wan untuk tidak menceritakannya pada sepupunya. Kalau tahu, Gong Ju akan mengirimnya kembali ke pulau Jeju. Wan lalu bertanya memangnya ke mana Na Woo kemarin? Apakah bersama Bok Gil? Na Woo membenarkan. Jadi dengan orang itu juga?


Na Woo beralasan karena Jong Hyun sakit, tidak ada yang merawat Bok Gil. Mendengarnya Wan gemas, “Tapi kenapa kau yang harus merawatnya? Ayo pergi ke rumah sakit.” Ia memaksa Na Woo pergi walaupun Na Woo mengaku baik-baik saja. “Aku yang tidak baik-baik saja,” katanya.


PD Dokko menyelamati Jong Hyun. Ia memang percaya pada teman pacarnya itu. Namun mulai sekarang Jong Hyun akan membencinya. Dia akan sering menekan Jong Hyun haha.


Jong Hyun percaya diri bisa melakukannya dengan baik.


Keduanya masih bicara ketika Jin Seung datang memotong. Jin Seung tidak percaya ia kalah dari seorang amatir. Bagaimana bisa?

PD Dokko mengungkapkan bahwa Jong Hyun mendapat 8 suara sedangkan Jin Seung hanya 3.


“Mustahil.” Jin Seung yakin mereka akan menyesali keputusan mereka ini.


Tapi tak ambil pusing dengan omongan Jin Seung, (meski sempat terpana) Jong Hyun langsung menandatangi kontraknya. Dan Jin Seung pergi sesudah PD Dokko menyelamati Jong Hyun secara resmi.


Kepala Ma mendekati Jong Hyun, bahkan membawakan buku-buku yang akan ditata pekerja paruh waktu itu. Jong Hyun sampai kaget, “Apa ada yang ingin anda katakan padaku?”

Kepala Ma menjawab tidak ada. Ia hanya penasaran bagaimana pekerjaan Jong Hyun sebagai penulis webtoon. Oooooh, Jong Hyun sudah menandatangani kontrak hari ini.


Kepala Ma kagum. Jadi bukunya akan rilis sewaktu-waktu? Waktu webtoon penulis Park booming dulu, bukunya langsung terbit. Kepala Ma bertanya lagi, apakah Jong Hyun punya masalah selama bekerja di tempatnya? Jong Hyun tahu bukan mengapa ia selalu berbicara sopan? Saat ia minta cuti sebelumnya, harusnya Jong Hyun menjelaskannya lebih rinci. Dia akan mengizinkannya kok.


Wkwkwkwk. Mengingat itu, Jong Hyun yang dari tadi sinis memandang Kepala Ma, mengeluhkan lengan kanannya yang membawa buku sakit. Sang manager cekatan mengambil buku-buku tersebut. Ia menawarkan liburan pada Jong Hyun. Siapa yang nggak mau? Itu akan membantu Jong Hyun menulis lebih banyak.


Ngomong-ngomong, Kepala Ma katanya punya sesuatu yang keren. Cerita yang menghibur dengan seekor anjing sebagai tokoh utamanya. Anjing ini bisa mengungkapkan isi pikirannya lho. Wah, wah, jangan-jangan imaginary dog mau dibuat beneran^^”


Jong Hyun lagi santai bareng Bok Gil, melihat-lihat banyak buku bersama. Ada yang tentang kebersihan diri dengan mandi hihihi. “Tidak, aku benci mandi,” serunya.

Sementara di buku lain ada foto sebuah kafe kucing yang berkonsep perkemahan. Bok Gil mau ke sana? “Ya, tampaknya seru.”

Jong Hyun mau ntratktir Bok Gil nih ceritanya. Eh, nggak Cuma Bok Gil sih. Hae Gong menarik Jong Hyun pula untuk minta ditraktir di kafe Na Woo. Jong Hyun awalnya nggak mau, kan Hae Gong yang memaksanya. Yah dibayarin dong. Tapi mereka nggak berbasa-basi terlalu lama dan berseru memesan kopi di sana.


“Aku tidak melihat Na Woo hari ini,” celetuk Hae Gong.

Jong Hyun hanya bertanya-tanya dalam hati, apakah Na Woo sibuk mempersiapkan pamerannya. Ia akan memberitahukan Na Woo nanti.

Hae Gong terus saja mengoceh mengenai kemenangan Jong Hyun, jika Soo In tahu kau debut...Jin Seung pasti frustasi...ceritakan padaku lebih spesifik...


Jong Hyun menghentikan tingkah sahabatnya yang mengarang mimik Jin Seung waktu itu. Kopi mereka sudah datang. Penulis Heo yang mengantarkan pesanan mereka jadi tahu telah terjadi hal yang membahagiakan. Dia mulanya menahan agar tidak meledak, namun tidak bisa.


Ia memarahi Jong Hyun yang masih bisa bersenang-senang meski Na Woo yang sempat merawatnya malah masuk UGD setelah itu.

“Siapa? Na Woo merawatmu? Kau sakit, anak nakal?” Hae Gong baru tahu dan ikutan panik.


Penulis Heo sebal, Jong Hyun seolah tidak peduli dengan kesehatan Na Woo. Bagaimana bisa dia setega itu?

Jong Hyun meminta maaf dengan terbata. Apakah Na Woo ada di rumah sakit sekarang?

Penulis Heo bilang dia sudah keluar. Jong Hyun tahu bukan Na Woo sering sakit-sakitan sejak kecil.

Ya...jadi bisakah dia bertemu Na Woo sekarang?


“Lupakan. Aku seharusnya menghentikannya ketika dia mengikutimu seperti seekor anak anjing yang tersesat.”


Jong Hyun terdiam. Kegelapan malam nan sepi tak sadar menuntunnya ke taman yang biasa ia kunjungi. Ia menoleh ke sebuah ayunan yang masih bergerak. Ayunan yang juga biasa dinaiki Soo In itu seakan memanggilnya. Ia duduk di ayunan sebelah, memikirkan perkataan kasarnya pada Na Woo sebelum dia sakit.


Tampak kontak Oh Na Woo yang muncul di layar ponselnya kini. Membuat Soo In menegurnya, “Siapa yang kau pikrkan?”


Jong Hyun hanya menatap Soo In. Mendengarnya bicara. “Aku agak cemburu. Bukannya aku, kau memikirkan gadis lain.”


Jong Hyun berkilah, bukan seperti itu. Namun Soo In menyelanya. Ia dapat melihat betapa baiknya Jong Hyun sekarang. Tertawa lebih banyak, tahu caranya peduli pada orang lain. Soo In senang Jong Hyun tidak lagi sendiri sekarang.


Jong Hyun : Maaf, mengantarmu pergi seperti itu.

Soo In : Tidak. Aku yang minta maaf karena pergi seperti itu.


Jong Hyun tercenung mendengar Soo In mengatakan demikian. Soo In lalu mendorong Jong Hyun cepat menelpon Na Woo. Jong Hyun punya seseorang yang dikhawatirkan sekarang. Jong Hyun juga penasaran keadaannya dan ingin bertemu. “Cepat.”


Dan tepat ketika telepon terangkat, Jong Hyun malah menoleh. Soo In tidak ada. Cukup lama ia memandangi ayunan yang kawatnya masih berderak tersebut, membuat Na Woo di ujung telepon panik. “Ya, jika kau menelepon, bicaralah! Jong Hyun-ah, kau di mana?”

Jong Hyun diam menunduk. Baru mengangkat kepalanya saat Na Woo berlari untuk duduk di ayunan Soo In tadi.

“Aku bilang kita bisa bertemu besok.”

“Tidak, fluku sudah hilang. Sungguh hilang,” ujar Soo In meyakinkan.


Senyum Jong Hyun tersungging seperti sabit di atas sana. #lebay Ia memakaikan jaketnya untuk Na Woo. “Kalau kau sudah sembuh, ayo bersepeda.”


“Sebanyak apa kau berencana mengomeliku kali ini?”


“Lupakan kalau tidak mau.”

Eeeeeeee, tidak. Ajari aku, kata Na Woo. Mereka berdua manis sekali. Na Woo suka main ayunan di sana.


Adegan romantis yang kemudian berubah melo saat Jong Hyun menemukan Bok Gil terbujur lemah di lantai kamar mandi.


“Manusia, ada apa denganku?” tanya Bok Gil dalam pelukan Jong Hyun. Ia merasa sakit.

Komentar :

Di episode ini banyak yang sakit ya? Semoga yang lain juga nggak lupa jaga kesehatan :)

Selamat tinggal sepi, sedih juga duka, dan hai kebahagiaan serta teman baru! Kehidupan mungkin memang membawa yang lain pergi dan yang lainnya datang. Tapi semoga kebaikan hati dan rasa syukur terus mendiami diri, supaya kita tidak lupa untuk apa ini semua terjadi hehe.

Melihat Jong Hyun debut, sedangkan Hae Gong justru melepas mimpinya tidak lantas membuat saya menyayangkan keputusannya. Sama seperti Jong Hyun yang pernah terluka karena dikhianati temannya sampai didului debut, saya pikir suatu saat akan tiba waktu bagi Hae Gong menggenggam keinginannya pula. Dia anak baik...teman yang baik...

Untuk Bok Gil, cepat atau lambat kita memang akan berpisah dengannya entah dengan skenario seperti apa. Jadi ya, pasrah wkwkwk. Sama kasusnya dengan Reply 1988 yang menyusul tamat Sabtu minggu depan ._.

Inget Reply karena ada adegan Jong Hyun-Na Woo yang mirip Taek-Seok Sun ckck. Give me a happy ending please!

6 comments :

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. min six flying dragons nya kpan lanjut?

    ReplyDelete
  4. iya bener min di tunggu drama six flying dragons nya ya..tengku

    ReplyDelete
  5. @all : maaf, saya baru pulang liburan, liburnya nelat. nanti setelah omv 16 dan remember 8 ya..

    ReplyDelete
  6. Oke mimin, ditunggu six flying dragons nya ya :)

    ReplyDelete