December 24, 2015

Remember : War of The Son Episode 4 - 2

Remember : War of the Son Episode 4 – 2



In A menghadang Yeo Kyung dan menyuruh Yeo Kyung meminta kakaknya, Nam Gyu Man, untuk menyerahkan diri. Ia sudah melihat video itu dan melihat kakaknya mengaku sebagai pembunuh Jung Ah. Yeo Kyung tak menggubris dan masuk ke dalam mobil.




Berita tentang nama pewaris grup Ilho disebut dalam persidangan menjadi berita nasional. Yeo Kyung langsung menemui kakaknya untuk mengkonfirmasi berita itu. Mengapa nama Gyu Man bisa disebut-sebut?


Dengan kalem Gyu Man menjawab kalau mungkin saja anak itu hanya asal sebut karena terdakwa bekerja di vilanya. “Aku memang biang onar. Tapi apa kau pikir aku mampu membunuh seseorang?”

 
Jin Woo merasa pasti sesuatu terjadi dan ingin bertanya langsung pada Dong Hoo. Tapi kantor Dong Hoo terkunci. Telepon Dong Hoo pun tak aktif. Semua jalan buntu.


Ayah Jung Ah menonton rekaman saat Jung Ah kecil kecil ulang tahun sambil minum-minum dan terus menangis. Kesedihannya masih sangat nyata. Ia membuka-buka buku harian Jung Ah dan menemukan kartu nama So Bum di dalamnya.

Ayah Jung Ah pun menelepon Jaksa Hong untuk memberitahu tentang kemungkinan pernyataan Jin Woo itu benar dan minta Jaksa Hong untuk menyelidiki lebih lanjut. Ia menemukan kartu nama grup Ilho dan yakin kalau Jin Woo menyanyi di acara yang diadakan grup Ilho.


Ia mungkin tak pintar, tapi ia yakin kalau ini bukan kebetulan semata. “Saya benar-benar tak ingin melihat orang tak bersalah dipenjara karena pembunuhan Jung Ah. Begitu juga almarhum anak saya. Jadi saya mohon agar Pak Jaksa menangkap pelaku sebenarnya.”


Jaksa Hong mengiyakan. Ia menutup telepon dan meneruskan makan bersama Presdir Nam.


Keesokan harinya, muncul berita tentang kematian ayah Jung Ah yang bunuh diri dan meninggalkan surat wasiat.


Posisi Ayah Jin Woo semakin tidak menguntungkan karena pisau lipat yang ditemukan di vila tempat ayah Jin Woo bekerja. Tak disebutkan tentang siapa pemilik vila itu. Muncul satu saksi lagi yang memberatkan Ayah Jin Woo, rekan sekerja ayah Jin Woo.


Jin Woo ingat ahjumma itu yang menyapanya hangat saat teleponan dengan ayahnya. Tapi ahjumma itu malah bersaksi kalau ia melihat Ayah Jin Woo seperti menyembunyikan sesuatu di ruang istirahat.
Dong Hoo hanya diam dan tak berniat menanyai saksi. Jin Woo memandang marah pada pengacara itu.


Jaksa Hong memberi pernyataan terakhir dengan menyertakan bukti dan saksi yang menguatkan Ayah Jin Woo sebagai pembunuh. Apalagi satu orang meninggal pagi ini. Ia menutup pernyataannya dengan membacakan surat wasiat Ayah Jung Ah. “Kuharap Seo Jae Hyuk mendapat hukuman berat karena telah membunuh anakku.”


Dan ketika giliran Dong Hoo, ia hanya minta hakim untuk memberi hukuman yang ringan pada terdakwa. Sudah, begitu saja. Jin Woo menatap Dong Hoo marah, tapi lagi-lagi Dong Hoo tak menghiraukannya.


Hakim pun memutuskan terdakwa Seo Jae Hyuk bersalah telah membunuh korban dengan darah dingin dan tak memiliki itikad baik dalam persidangan. Hakim menjatuhkan hukuman mati.


Jin Woo tertunduk sedih. Tapi begitu melihat ayahnya digiring pergi, ia tak rela. Ia mencoba mendekati ayahnya, tapi para pengawal memisahkannya, tak mengijinkannya walau hanya untuk memegang tangan ayahnya saja.


Semua orang meninggalkan ruangan, tapi In A mendekati Dong Hoo yang katanya berjanji akan membuktikan Ayah Jin Woo tak bersalah dan menemukan pelaku sebenarnya. “Apa kau ini masih pengacara? Jawab aku, apa kau ini pengacara?!”


Dong Hoo tak menjawab dan malah ikut meninggalkan ruangan. Tapi langkahnya terasa semakin berat. Jaksa Hong memanggilnya dan mengambil tangannya untuk berjabat tangan. Dengan nada bersahabat ia mengajak Dong Hoo makan siang bersama karena Pak Presdir tahu Dong Hoo memegang peran besar dalam persidangan ini.


Jin Woo yang baru saja digiring keluar melihat jabat tangan itu. Ia sangat geram melihatnya, tapi Jaksa Hong malah senang. Bukannya melepaskan jabat tangan itu, ia malah terus memegang tangan Dong Hoo.


In A juga keluar dengan hati berat. Kali ini Yeo Kyung menghadangnya, menunggu In A minta maaf padanya. In A bertanya apa yang di persidangan itu benar? Yeo Kyung membalikkan ucapan In Ah kalau terdakwa harusnya diberi kesempatan yang sama untuk membela diri.


In A tak tahan dan berkata sambil menangis, “Kenapa semua orang gampang sekali dibodohi? Pasti sangat mudah untuk membenci orang lemah yang muncul di hadapanmu. Karena kau menganggap ini permainan, hidup seseorang telah hancur. Begitu pula dengan hidup anaknya.”

Yeo Kyung ditinggal sendirian dengan perasaan tak senang akan kemenangan ini.


Dong Hoo minum dengan Presdir Seok dan berkata kalau ini adalah hal terakhir yang ia lakukan untuk Presdir Seok. Presdir Seok terdiam. Ia tak menceritakan ancaman Presdir Nam yang mengatakan jika Dong Hoo menang, maka kasus ini adalah kasus terakhirnya Dong Hoo.


Rumah Jin Woo gelap seakan tak ada orang. Sebenarnya ada. Jin Woo duduk di kegelapan, menangis terisak-isak mengingat rumah yang biasanya penuh keceriaan karena suara Ayah, sekarang tak akan terdengar lagi.


Sementara Dong Hoo juga duduk di kantornya yang gelap. Ia memandangi uang 50 ribu won yang ditandatangani Jin Woo dan memasukkannya ke dalam dompet.


Nam Gyu Man muncul dan menyapanya dengan sok akrab. Ia dengar ayahnya telah memberi Dong Hoo pekerjaan di firma hukum perusahaan ayahnya. Dan jika Dong Hoo menolak, Presdir Seok yang akan menerima akibatnya. Ia juga minta rekaman asli pengakuannya di klub.


Dong Hoo memberikan aslinya dan dengan ceria Gyu Man bertanya Dong Ho pasti tidak membuat copy-nya, ka? Dong Hoo tak menjawab, hanya melempar semua berkas di meja setelah Gyu Man pergi. Ia marah pada dirinya sendiri.


Jin Woo, yang akan menemui Dong Hoo, melihat Gyu Man keluar dari gedung Dong Hoo. Ia mencoba mengejarnya tapi tak berhasil. Tapi ia melihat Dong Hoo keluar dan ia langsung memukulnya. Ia marah karena Dong Hoo menyerah. “Kau ini lebih buruk dari orang yang membunuh Oh Jung Ah!”


Dong Hoo mencoba menenangkan karena ayahnya masih hidup. Persidangan belum selesai hingga ayahnya meninggal. Tapi Jin Woo tak percaya lagi pada pengacara. “Aku akan menyelesaikan apayang kau mulai! Aku!” seru Jin Woo. Air matanya tak henti-hentinya keluar. “Aku yang akan menyelamatkan ayahku.”


Jin Woo menemui ayahnya di pengadilan. Sambil terus menahan air matanya untuk tak keluar, ia meminta ayahnya untuk tak terlalu mengkhawatirkannya. Ayah minta maaf karena sudah tak bisa lagi memasakkan telur gulung kesukaan Jin Woo. Jin Woo meminta ayahnya untuk makan teratur.


“Ah.. anakku sekarang sudah besar. Sekarang dia yang mengkhawatirkanku,” walau tersenyum, mata Ayah berkaca-kaca. Jin Woo tak tahan lagi dan menangis. Ayah meminta Jin Woo melakukan satu hal. Jika Jin Woo pulang nanti, keluarkanlah sepatunya dan taruh di depan pintu agar kelihatannya ada orang dewasa yang tinggal di rumah.”


Waktu bicara sudah selesai tapi Jin Woo belum selesai bicara. Ia berjanji akan menjadi pengacara dan sebelum Ayah dieksekusi, ia akan membuktikan kalau Ayah tak bersalah. “Jadi tunggu aku, ya?” Ayah tersenyum tapi petugas sudah membawanya pergi. Jin Woo berseru, “Ayah! Berjanjilah padaku untuk tak pernah menyerah!”


Jin Woo melakukan pesan ayahnya saat ia pergi. Namun kali ini ia pergi membawa koper. Ia pergi ke pemakaman Ayah Jung Ah. Ibu Jung Ah tak mengijinkannya untuk memasang dupa dan bahkan menamparnya. Tapi Jin Woo malah berlutut dan menangis. Ia minta maaf karena tak bisa memenuhi janjinya pada Ayah Jung Ah.


In A, yang kebetulan hadir untuk memberi penghormatan terakhir, tak kuasa menahan tangis. Ia juga melihat koper Jin Woo dan mencegah kepergiannya. Ia akan mencari pengacara lain untuk membela Ayah Jin Woo.


“Tidak. Tak ada pengacara yang seperti itu,” kata Jin Woo. “Ayahku sedang ada di pinggir jurang, dan pengacara yang malah mendorongnya. Apakah hukum yang membuat orang tak bersalah menerima ada di tiang gantungan? Bagaimana aku bisa jadi anak pembunuh? Aku ini hanya anak ayahku, jadi bagaimana aku bisa menjadi anak seorang pembunuh?”

In A tak bisa menjawab. Maka Jin Woo pergi meninggalkannya.


Dong Hoo menemui ayahnya. Biasanya ia selalu menyombongkan diri jika mengunjungi ayahnya. Tapi kali ini lain. Ia mengeluarkan uang Jin Woo dan berjanji, “Perjanjian ini belum berakhir. Aku tak akan meninggalkan klienku.”


Empat tahun kemudian, In Ah sudah menjadi seorang jaksa dan bersiap-siap untuk persidangan. Pengacara yang membela terdakwa belum datang walau Hakim sudah memasuki ruangan. Hakim Jung bertanya mengapa pengacara belum datang.


Pintu terbuka dan In A kaget melihat siapa pengacara itu. Jin Woo menoleh pada In A dan tersenyum padanya.

Komentar :

Bukan senyum senang bisa bertemu teman lama. Dan dapat dipastikan, remaja yang penuh amarah ini akan menjungkirbalikkan pengadilan Korea. 

4 comments :

  1. Salam kenal mba dee,.first time komen di blog ini.
    Iiihhh...gregetan bgt baca sinop. ep 4 ini gara2 presdir nam yg ternyata lebih gila dari anaknya dan dong ho yg berubah gitu,tadi jg sempet nangis waktu jin woo ngomong "Aku yang akan menyelamatkan ayahku" saking ga ada orang yg bisa dia percayai lagi:( Makin penasaran aja nih liat ep berikutnya pasti makin greget dan seru...
    Gumawo mba dee,ditunggu ep 5 nya :v

    ReplyDelete
  2. Sukaaaaa bangeeettt ma drama ini ^^ daebakk !!salam kenal mbk dee :*

    ReplyDelete
  3. Ntul......
    Jung kwang ryul ahjussi (bener gak yah?), aktingnya.....makin memukau
    Saya suka di semua dramanya, baik dia jd protagonis ato villain....
    Jadi makin mendekati yah tebakannya mbak Dee, kalo son disini selain jin woo bisa jadi dong ho juga...
    Kamsahamnida bak Dee....HIM!

    ReplyDelete