December 11, 2015

Remember : War of the Son - Episode 1


Sinopsis Remember war of the son episode 1

Seorang pria masuk ke sebuah ruangan. Tali sudah berada di hadapan, siap menggantungnya. Ketakutan, ia akhirnya melihat salah satu orang dari balik kaca dan berteriak. “Jin Woo, katakana pada orang-orang ini kalau aku bukan penjahat! Jin Woo-ya. Katamu kau akan mengeluarkanku dari sini. Kumohon selamatkan aku, Jin Woo!”


Jin Woo menangis dan memohon pada orang di sisinya, beberapa pejabat tinggi, agar membebaskan ayahnya. Tapi hukuman mati tetap dilakukan. Jin Woo menjerit-jerit melihat ayahnya ditutup kepalanya dan dililit lehernya. Ia menggedor kaca, memohon agar mereka menghentikan semua ini. Tapi tombol tetap ditekan. Ayahnya mati dengan kepala tergantung.


Seo Jin Woo (Yoo Seung Ho) terbangun. Semua itu hanya mimpi walau rasanya sangat meyakinkan. Ia melihat kalender. Tanggal 9 Desember 2015 yang telah dilingkari.


Seo Jae Hyuk keluar menemui Jin Woo. Jae Hyuk adalah tahanan dengan penyakit jiwa. Jin Woo memperkenalkan diri sebagai pengacara yang akan mendampinginya untuk naik banding setelah 4 tahun kasusnya diputuskan dan sidang banding akan dimulai besok. Ia mulai menjelaskan apa yang sudah ia persiapkan.


Jae Hyuk berkata kalau ia dituduh membunuh mahasiswi yang belum genap berusia 20 tahun dan banyak orang yang mengatakan kalau ia jahat. Tapi ia tak memiliki sedikit ingatan apapun atas tindakan itu. Jadi ia memutuskan untuk tak melakukan sidang banding kasus empat tahun yang lalu.


Jin Woo menduga Jae Hyuk khawatir kalah karena ia masih muda dan belum pengalaman. Tapi Jae Hyuk tak ingin naik banding karena walau ia lupa dengan apa yang telah ia lakukan, bukan berarti kejahatan yang telah ia lakukan juga akan terhapus. Ia ikhlas dihukum karena telah membunuh seseorang.

Jin Woo nampak tak kaget dengan ucapannya dan Jae Hyuk merasa dejavu. Berapa kali ia seperti pernah melakukan percakapan seperti ini. Jin Woo menjawab, “Aku tak akan naik banding 7 kali. Aku ikhlas dihukum 9 kali. Aku tak pernah bertemu denganmu tapi sepertinya kau akan melakukannya dengan baik 10 kali.”


Jae Hyuk tertawa karena Jin Woo bisa mengingatnya. Jin Woo juga tertawa dan berkata ingatannya sangat bagus. Jin Woo berkata mungkin besok pembicaraan ini akan terulang lagi tapi ada satu yang pasti.


“Seo Jae Hyuk-ssi. Anda bersih. Anda telah dijebak dan dipenjara selama 4 tahun. Jangan pernah berkata Anda tak mau disidang lagi, Anda akan menyerah. Itu namanya tidak tanggung jawab. Bahkan kalau Anda tak dapat mengingat, coba ingatlah!

Saya membela Anda bukan untuk membuktikan Anda tak bersalah. Tapi ada orang lain yang harusnya berada di tempat anda. Dan saya akan membuat orang itu menerima hukumannya. Sebagai pengacara Anda, saya akan berbuat maksimal dan mengeluarkan Anda dari sini. Jadi berjanjilah agar Anda juga  tak menyerah.”


Ucapan dan tatapan Jin Woo membuat sebuah ingatan muncul di benak Jae Hyuk. Matanya berkaca-kaca saat mengingat itu dan bertanya pada Jin Woo apa ia memiliki anak. Jin Woo menatap ayahnya dan meminta ayahnya untuk terus mengingat. “Seperti kenangan yag hilang, dia mungkin sangat dekat.”


Saat Jin Woo melangkahkan kaki keluar dari gedung penjara, ia bertekad dalam hati akan mengeluarkan ayahnya.  

4 tahun yang lalu


Jin Woo dan ayahnya hidup bahagia walau hanya berdua. Pagi itu Jin Woo sarapan makanan yang dibuat ayahnya dan Jin Woo berjanji akan membuat makan malam setelah pulang dari stasiun TV. Ayah berkata ia akan pulang cepat agar mereka bisa makan malam bersama. Mereka memiliki tetangga yang baik, nooJung Ah Ah dan ayahnya yang pagi itu memberi mereka buah.


Park Dong Ho (Park Sung Woong) adalah seorang pengacara. Penampilannya tak meyakinkan, bahkan pasangan one night standnya juga tak percaya. Mana ada pengacara yang punya tato besar di punggung? Tapi wanita itu terbelalak melihat kartu nama Dong Ho yang membuktikan kalau ia memang pengacara.


Pagi itu Dong Ho menangani kasus kliennya yang ditangkap gara-gara berkelahi di klub. Temannya cerita kalau mulanya ia hanya mengelus kepala korban yang duduk di dekatnya dan bicara terlalu keras. Si korban tak terima dan minta ganti rugi 300 juta won.

Dong Ho berkata yang menjadi masalah, si korban adalah Nam Gyu Man, anak pemilik perusahaan asuransi Il Hyuk dan sebentar lagi akan menjadi CEO. Selain itu jaksa yang mengurusi kasus ini adalah Tak Young Jin, jaksa yang tak mempan suap uang maupun wanita.


Tapi jangan khawatir. “Pengacara yang baik akan membebaskan kliennya dari tuduhan. Tapi pengacara yang hebat tak akan membawa kliennya hingga maju ke pengadilan,” ujarnya percaya diri.

 
Ayah sedang bersih-bersih ruangan saat Jin Woo meneleponnya dari halte bis dengan handphone yang layarnya sudah retak. Kelihatan sekali kalau Ayah sayang dan bangga pada Jin Woo. Ia menyuruh Jin Woo untuk mengangkat handphone lebih tinggi sehingga ia bisa melihat betapa tampan anaknya itu. Walau malu, tapi Jin Woo melakukannya, tak menyadari seorang mahasiswi melihat tingkah konyolnya.


Seorang rekan kerja Ayah menyapa Jin Woo tapi juga mengingatkan Ayah yang lupa mengambil alat bersih-bersih dari ruangan.


Jin Woo naik bis dan bertabrakan dengan mahasiswi yang akan turun, hingga tas gadis itu jatuh. Gadis itu melihat tasnya robek dan menyadari kalau ia kecopetan. Ia langsung menyuruh bis berhenti dan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kasusnya.


Supir tak mau, tapi gadis itu, Lee In Ah (Park Min Young), berkata dengan lantang mengutip pasal prosedur penangkapan criminal dari buku yang ia pegang. “Bab 4 paragraf 5. Tempat kejadian perkara yang memiliki bukti penting harus dijaga untuk menyakinkan agar tak ada bukti penting yang hilang.”


Hahaha.. bisa juga ya In Ah memaksa semua penumpang ke kantor polisi. Sekarang kantor polisi penuh oleh penumpang bis yang bisa jadi adalah si pencopet. Polisi minta In Ah menunjuk orang yang ia curigai. In Ah ingat kalau Jin Woo menabraknya maka ia pun menunjuk Jin Woo. Menurutnya, menolong orang yang barangnya terjatuh itu tipuan lama dan ia minta Jin Woo segera mengembalikan dompetnya.


Jin Woo tak terima karena ia hanya menabrak In Ah. Tapi In Ah berkata ia ingat dengan jelas. Maka Jin Woo bertanya jika In Ah memang benar-benar ingat, jam berapa mereka bertabrakan dan siapa orang yang duduk di sebelahnya. In Ah menjawab 03.10, eh 03.20, ding dan siapa juga yang bisa ingat orang yang duduk di sebelahnya.


Jin Woo ingat karena ia bisa melihat jelas kejadian di bis itu. “Saat itu jam 03.08. Bis 5674 Seoul 21F7202. Penumpang di sampingmu berumur 2-an, tingginya 165 cm dengan rambut sebahu. Ia memakai headphone putih dengan tas hitam bermerek.” In Ah tersenyum sinis, meragukan ada penumpang dengan ciri itu.


Tapi Jin Woo menghampiri seorang gadis yang sedang duduk jauh dari kerumunan. Gadis itu membenarkan kalau ia duduk di sebelah In Ah. Jin Woo meminta In Ah lebih mengingat-ingat. Tapi In Ah berkelit bagaimana mungkin ia bisa mengetahui sampai hal sekecil ini.

Jin Woo pun menjawab, “Mengetahui secara detail itu adalah yang paling penting.” In Ah tak percaya pada Jin Woo, tapi Jin Woo tahu kalau In Ah akan segera mempercayainya. “Karena tak ada yang hilang dari ingatanku.”


Seperti menonton film, ia me-flashback kejadian di bis dan mem-pause saat tas In Ah jatuh. Ia melihat kalau tas itu sudah robek sebelum ia menabraknya. Jadi kejadian pencopetan itu tak terjadi di bis. Ia pun memutar ulang ingatannya saat menelpon ayahnya di halte. Ia melihat ada seorang pria yang menyilet tas In Ah, mengambil dompetnya dan masuk ke sebuah mobil dengan plat nomor 23 seo 9173. Pria itu menelpon seseorang berjanji untuk bertemu di depan kantor pajak.


In Ah tentu saja tak mempercayai semua omong kosong itu. Tapi salah satu polisi mengatakan nomor plat mobil itu adalah mobil curian. Ha, bahkan polisi pun kagum dengan kemampuan Jin Woo. Tapi Jin Woo belum selesai. Ia berkata kalau pelakunya ada di ruangan ini.


Semua panik dan menoleh kiri kanan, hingga Jin Woo menunjuk ke satu arah. Poster foto para pencopet yang dicari polisi. Oh Jong Soo, pencopet dengan 15 perkara. Ia menatap In Ah yang menatapnya masam dan berkata, “Ingatanku sangat tepat bahkan untuk hal-hal kecil.”


Dan kali ini semua orang bertepuk tangan sementara In Ah hanya bisa tertunduk malu.


Dong Ho ke kantor kejaksaan dan bertemu dengan Jaksa Hong, rivalnya, Mereka saling melempar sindiran. Sebenarnya ia pergi ke kejaksaan untuk menemui Jaksa Tak. Melihat Jaksa Tak masuk ke toilet, ia ikut masuk sambil menaruh tanda peringatan di depan pintu. 


Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara yang 100% kasusnya selalu menang. Jaksa Tak tertawa meremahkan. Korban adalah Direktur Eksekutif Nam Gyu Man. Jangan mimpi klien Dong Ho bisa bebas. Hukuman minimal adalah penjara selama 3 tahun.


Tapi Dong Ho punya sesuatu yang bisa melunakkan Jaksa Tak. Ia memiliki informasi transaksi narkoba berskala besar di Busan yang bisa mendongkrak karir Jaksa Tak. Ia tahu kalau bulan lalu Jaksa Tak gagal mendapatkan promosi padahal Jaksa Tak punya kemampuan yang hebat. “Tapi kekuranganmu adalah kejahatan yang terorganisir. Harusnya Jaksa Tak kita ini melebarkan sayapnya.”

Jin Woo keluar dari kantor polisi, masih ogah menerima permintaan maaf dari In Ah yang menyebut kesalahannya sebagai kesalahpahaman saja. Ia menjadi tersangka hanya karena membantu mengambilkan tas In Ah. Jika ia tak punya ingatan kuat, ia pasti masih diinterogasi oleh polisi.


“Mulai sekarang, jangan berspekulasi kalau kau tak tahu. Apalagi kau mahasiswa hukum!” Jin Woo tertawa sinis. “Apa tadi? Hukum Perkara Kejahatan Bab 4 Pasal 5? Bab 4 Hukum Perkara Kejahatan adalah tentang yurisdiksi territorial. Dan itu juga hanya sampai pasal 3.”


Hahaha.. ternyata In Ah ini ga pintar-pintar amat kuliahnya. Karena kasus itu, ia telat masuk kuliah dan langsung diminta dosennya untuk menganalisa kasus. Dan seperti tadi, analisanya salah. LOL.


Dong Ho ini cerdik juga. Akhirnya Jaksa Tak dan Dong Ho makan siang bersama. Dong Ho berjanji akan memberikan informasi seperti tadi dan menjadi tameng untuk Jaksa Tak. Jaksa Tak pun memberi informasi dengan alasan ia sebenarnya juga sebal dengan Nam Gyu Man.


Orang yang punya uang, kekuasaan dan semuanya, kecuali satu. Kemanusiaan. Biasanya orang yang punya kekuasaan dan uang itu punya tata karma, tapi sepertinya ada yang korslet dengan Nam Gyu Man karena ia sering mengamuk sesukanya. Bahkan perusahaan punya tim hukum khusus untuk kelakuannya.


Dan memang Nam Gyu Man selalu seperti itu. Ia tak segan menekan kepala pegawai yang jauh lebih tua agar mau membungkuk lebih rendah padanya.  Semua pegawai takut padanya. Bahkan temannya Ahn So Bum, yang menjadi asistennya juga menggunakan bahasa sopan, menjaga jarak padanya. Nam Gyu Man meminta So Bum untuk tak berlaku formal jika hanya berdua. So Bum pun mengangguk ragu.


So Bum mulai melaporkan tentang progress kasus perkelahian di klub. Ia sudah menemukan pengacara yang tepat dan meyakinkan kalau terdakwa tak akan lolos dengan mudah. Nam Gyu Man langsung marah dan menyuruh supir menghentikan mobil.


Gyu Man menyuruh So Bum turun dan menoyor kepala So Bum. Di klub ia telah dipermalukan di depan teman-temannya dan tak adil jika terdakwa hanya mendapat hukuman penjara. Ia memerintahkan untuk meneror anak terdakwa. Cari orang yang pintar memainkan pisau agar terasa impas.

Ia juga menyuruh So Bum menyiapkan gadis yang bisa menyanyi Pong Chak untuk pestanya nanti malam. Karena tinggal di Eropa terlalu lama, ia sudah lama tak mendengar alunan lagu ‘pong’. Setelah itu ia meninggalkan So Bum di pinggir jalan raya.


So Bum meludah kesal. Ia tak menyadari kalau Dong Ho dan anak buahnya memotretnya. Dong Ho melihat semua itu dan merasa kasusnya ini tak mudah.


In Ah pulang ke toko keluarganya, kedai pizza. Keluarganya sedang terkagum-kagum dengan kemampuan seorang murid sekolah yang mempunya Photographic memory. In Ah gondok karena melihat Jin Woo yang tadi ia tuduh di kantor polisi sekarang ada di televisi.


Ibunya berkomentar kalau Jin Woo pasti dengan mudah menghapal buku teks hukum yang tebal. In Ah menjawab kesal, “Apa belajar hukum itu hanya masalah mengingat?” Ia segera mengganti channel ke berita yang mengabarkan tentang penangkapan seorang pencopet ulung. Dan wajah Jin Woo muncul lagi sebagai narasumber yang mengungkap kejahatan itu. In Ah langsung mematikan TV.


Gadis yang dipilih So Bum untuk menyanyi adalah Jung Ah, tetangga yang tadi pagi memberikan buah pada Jin Woo. Jung Ah melihat ayah Jin Woo di sana dan berkata pada So Bum kalau pria itu adalah teman ayahnya. Jung Ah sedikit takut melihat tempat yang ia masuki ternyata bukan tempat yang biasa untuk menyanyi.


Ia ingin mengundurkan diri untuk menyanyi, tapi So Bum memberitahu kalau yang datang ke pesta itu adalah anak-anaknya petinggi Korea. Uang yang akan didapat Jung Ah bisa untuk membayar biaya kuliah satu semester. Jung Ah pun mengurungkan niatnya.


Gyu Man muncul dan melihat ayah Jin Woo yang masih bersih-bersih. Ia menyuruh So Bum untuk memulangkan semua pegawai harian. So Bum menjawab kalau tak ada pegawai, nanti tak ada yang melayani mereka. Gyu Man bertanya dengan lembut, “Kita kan punya kau. Apa aku saja yang harus melayani?”


So Bum buru-buru berkata kalau ia yang akan melakukannya dan memerintahkan ayah Jin Woo untuk pulang. Gyu Man dan So Bum pergi ke kamar ganti untuk melihat penyanyi yang disewa So Bum. Ia memandangi Jung Ah dan tersenyum padanya.


Jin Woo menunggui ayahnya yang tak kunjung pulang. Mereka telah berjanji untuk makan malam bersama. Ia menelepon ayahnya tapi tak diangkat.


Ayah ternyata pergi ke toko handphone untuk membeli handphone baru dan minta saran handphone yang bagus untuk anaknya yang masih sekolah. Gadis penjual itu mengingat ayah karena ayah sudah tiga kali beli handphone baru. Tapi Ayah merasa gadis itu salah orang.


Jung Ah naik panggung dan mulai menyanyi lagu barat. Tapi terhenti karena Gyu Man berteriak dan mulai memecahi gelas. Jung Ah ketakutan dan temannya hanya bisa menggeleng-geleng karena Gyu Man mulai aneh-aneh. Gyu Man menyuruh Jung Ah mengganti lagu. Ia sudah muak karena karena harus berbahasa Prancis dan sekarang ia ingin mendengar lagu Pong Chak.


Walau takut Jung Ah pun menyanyikan lagu itu dan Gyu Man pun minum dengan senang. Teman-temannya pun juga ikut bergoyang. Selesai nyanyi, Jung Ah kembali ke ruang ganti. Ia terkejut melihat Gyu Man masuk sambil minum anggur dari botol dan memandangnya dengan tatapan aneh. Gyu Man mengajaknya minum. Tapi Jung Ah diam saja.


Keesokan paginya, Jin Woo menerima telepon dari ayahnya. Ia mengomeli Ayah yang tak mengangkat telepon kemarin malam dan bertanya sekarang Ayah ada dimana. Ayah melihat sekeliling, juga bingung dia ada dimana. Ia hanya ingat kalau ia baru saja membelikan Jin Woo handphone. Jin Woo menenangkan ayahnya dan berjanji untuk menjemputnya.


Ayah melihat-lihat sekeliling dan terkejut saat melihat mayat seorang gadis. Ia panik dan mencoba menelepon. Tapi ia lupa password handphonenya, padahal ia baru saja memakai handphone itu. Ayah panik dan kepalanya seperti mau pecah karena berusaha mengingat-ingat. Saat itu Jin Woo datang dan terkejut melihat ayahnya di samping sebuah mayat. Jung Ah Noona!


Ayah pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dua polisi mendatangi mereka dan menanyai ayah sebagai saksi yang menemukan mayat. Mengapa Ayah ada di TKP padahal jarak dari rumahnya sejauh 20 km. Apa Ayah tak berhenti jalan sampai TKP? Ayah bingung dan menjawab tak tahu.


Tapi detektif itu terus menanyai Ayah. Jin Woo tak suka mendengar Ayah seperti diinterogasi. Dengan mengutip hukum kepolisian dengan tepat, ia mengatakan kalau polisi tak berhak menginterogasi saksi secara paksa. Detektif berkata kalau ia tak bermaksud seperti itu. Ia pun menanyai hal lain. Apa korban adalah orang yang dikenal Ayah?


Ayah menjawab tak mengenalnya. Hal itu mengagetkan Jin Woo karena korban adalah tetangga mereka. Ia melihat tas belanjaan yang dibawa Ayah. 


Ia pun kembali ke rumah dan menemukan belanjaan yang sama yang dibeli ayahnya. Tak hanya itu. Banyak barang sama yang dibeli Ayah berulang kali.


Jin Woo membawa Ayah pergi ke psikiater untuk menjalani serangkaian tes. Ayah diminta menyebut nama binatang yang ada di gambar. Menyebut namanya dan nama Jin Woo, kemudian menyebutkan terbalik. Ayah bisa menjawab semuanya.


Berita pembunuhan Jung Ah menjadi berita nasional yang bahkan membuat Presiden turun tangan meminta kepolisian menguak kasus ini segera. Yang menangani kasus ini adalah Jaksa Hong. Ia memanggil detektif yang bertanggung jawab atas kasus ini. Detektif memberitahu kalau tak ada CCTV di hutan dan bukti DNA juga sudah rusak. Mereka tak bisa menemukan tersangka.


Jawaban itu tak memuaskan Jaksa Hong karena Presiden secara pribadi juga ingin agar penjahatnya tertangkap. Jadi mereka harus menemukan atau banyak orang yang akan dipecat. Ia menyuruh detektif untuk melihat halaman terakhir. Ada foto ayah Jin Woo.


Jin Woo dan Ayah menghadiri pemakaman Jung Ah. Ayah Jung Ah berterima kasih karena Ayah menemukan Jung Ah hingga bisa memakamkan putrinya. Tak disangka polisi muncul di sana dan menangkap Ayah. Semua orang terkejut melihat hal ini. Jin Woo pun begitu. Ayahnya tak membunuh Jung Ah. Tapi polisi tetap memborgol Ayah dan membawanya pergi.


Tapi Ayah tak dibawa ke kantor polisi, melainkan ke sebuah gudang. Ayah bingung dan ketakutan. Sementara Jin Woo pulang ke rumah dan melihat rumahnya berantakan seperti habis digeledah.


Kabar penangkapan ini mencengangkan dan kembali menjadi berita di seluruh Korea Selatan. Apalagi Jaksa Hong mengumumkan kalau tersangka Seo Jae Hyuk sudah memberi pengakuan kalau telah membunuh korban. Ibu In Ah mengenali foto Jung Ah dan mengingatkan In Ah kalau korban adalah teman sekelas In Ah saat kelas 5 SD. In Ah kaget mendengarnya.


Ayah In Ah juga mengenali Seo Jae Hyuk karena beberapa kali pernah mengantarkan pesanan pizza. Ia tak percaya mendengar kabar ini karena ia tahu kalau Seo Jae Hyuk adalah pria baik-baik yang tinggal bersama putranya.


Jin Woo menemui ayahnya yang ditahan. Ia terkejut melihat ayahnya, apalagi ayahnya tak mengenalinya. Ayah seperti ketakutan melihat orang lain. Jin Woo menangis melihat kondisi ayah yang mengenaskan secara mental.

Melihat Jin Woo menangis, ayah perlahan mengenalinya dan menangis tersedu-sedu.  


In Ah pergi ke pengadilan. Di sana sedang ada demo yang menuntut pembunuh Jung Ah dihukum seberat-beratnya. In Ah melihat Jin Woo dan menyapanya. Tapi Jin Woo tak memandangnya sedikitpun. Ia hanya memandang gedung pengadilan dari kejauhan, seperti menunggu sesuatu.


Bis yang membawa ayahnya muncul dan ayah keluar dari bis untuk digiring masuk ke gedung pengadilan. Jin Woo hanya memandangi ayahnya pilu. Para pendemo itu akhirnya melihat Jin Woo dan mengenalinya sebagai anak pembunuh.


Salah satu mencengkeram jaket Jin Woo hingga kalung berbandul cincin miliknya lepas dari lehernya. Para polisi segera menjauhkan para pendemo dari Jin Woo yang memandangi ayahnya yang masuk ke dalam gedung pengadilan.


Para pendemo tak puas dan mulai melemparkan telur ke arahnya. In Ah terkejut dan melihat kalung Jin Woo tergenang di dalam pecahan telur. Sementara Jin Woo terlalu terkejut mengalami semua ini.

Komentar :

Nam Gong Min jadi penjahat lagi?


Haduhhh… melihat Nam Gong Min berulah lagi, saya jadi pinginmemanggil Oh Cho Rim dan Moo Gak n the gang untuk memecahkan kasus ini. Pasti kasus ini akan segera terpecahkan. Tapi gimana dong? Moo Gak kan lagi wamil dan Cho Rim lagi terlempar ke jaman Goryeo untuk mendirikan negara Joseon.

Jadi kasus ini harus diserahkan pada Jin Woo dan In Ah. Duh.. coba kalau Pengacara Park Dong Ho menyewa Healer. Pasti juga kelar, deh. Eh tapi jangan deh. Nanti In Ah digaet sama Healer. In Ah pasti langsung termehek-mehek kalau Healer muncul menyamar sebagai Bong Soo-ya..

Kesian ah Yoo Seung Ho. Masa keluar wamil ga jadian sih sama noona yang ini? Padahal sebelum wamil kan juga ga jadian sama noona yang itu. Masa ya harus jadian ama kucing?

Hahaha.. maaf ya karena komentarnya so messed up. Entah kenapa nonton drama ini jadi inget drama-drama sebelumnya. Rasanya bener-bener six degrees of separation. Udah ah ngomong ngaconya.


Ayah sepertinya terkena Alzheimer. Penyakit yang membuat penderita lupa semua, bahkan lupa pada anak istrinya. Pernah menonton A Thousand Days’ Promise? Cerita yang membuat nangis Bombay tentang seorang wanita yang perlahan-lahan kehilangan ingatannya karena Alzheimer.

Ayah baru ada di tahap awal Alzheimer. Penyakit ini susah dideteksi sejak awal karena biasanya orang mengira hanya pikun/demensia. Ayah lupa mengambil peralatan bersih-bersihnya. Lupa ini lupa itu. Hal yang kecil-kecil, sehingga kerabat dekatpun tak akan menyadarinya.

Sayangnya pada tahap awal Alzheimer, Ayah menemukan sebuah mayat. Shock yang beruntun membuat kondisi Ayah menurun drastis. Setelah ditahan (dan mungkin disiksa di gudang untuk mendapatkan pengakuan Ayah), Ayah bahkan sempat tak mengenali Jin Woo.

Empat tahun di penjara pasti membuat Alzheimer Ayah tambah parah. Padahal kita belum tahu apa yang terjadi di malam itu. Bagaimana Ayah bisa berjalan-jalan di tengah hutan padahal Ayah sebelumnya ada di toko handphone. Apa ada andil So Bum sehingga ayah bisa ada di dalam hutan?

Kita tak tahu karena ayah sudah tak ingat apapun empat tahun kemudian. 9 Desember sepertinya adalah sidang banding pertamanya Ayah. Dan hal itu membuat Jin Woo cemas hingga bermimpi buruk. Sidang banding yang bisa meringankan atau bahkan memperberat hukuman Ayah.

Note: drama ini saya recap bergantian dengan Putri - Kheartbeat dan Lilik - Dramapopuler. Tunggu episode 2 dan 3 di tempat mereka, ya..

7 comments :

  1. ЩĸЩĸЩĸِ

    *suweer
    *komentar mbak Dee ^)))))^
    Malah bikin ngakak^
    ЩĸЩĸЩĸِ

    ReplyDelete
  2. yoo seung hoo selalu ganteng. :v
    cuman style yg paling cocok buat dia tu yg high class macam di IMY jadi hery borrison ganteng+kerennya keluar semua. :D ,, ep pertama masih belum nemu tegang'nya dan banyak yg aku skip-skip. Haha,

    ReplyDelete
  3. mbak Dee, saya mau tanya, kalo mau nonton drakor yg lagi tayang di Korea pake apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo hardsub coba ke myasiantv.se disana cepet updatenya.
      kalo pake softsub, download drama raw-nya di forum idws terus ambil subnya di sana juga.

      Delete
  4. kalo menurut q, saat nonton ep. 1 serasa dejavu sama drama IHYV,
    karena sampai akhir penjahatnya kan cuma 1 aja,

    ReplyDelete
  5. iya...mirip yah dg ihvy, bedanya? entar pasti banyak lah...meski kayakya lovelinenya masih antara noona dongsaeng, tp pasti beda kan entar dengan ihvy, yg maen juga TOP bgt.yang jadi ayahnya jin woo juga pernah duet maen bareng di warior baek dong soo dengan yoo seung ho, (oh saya jadi sedih lagi kalo igat nasib UN, di drama itu), sekali lagi semoga disini tidak.
    kalo komennya mbak Dee mah mmg bener2x gak akan jauh jauh tuh yoo chun (hahaha) sama gebetan barunya tuh...healer ji chang wook hihihi...
    jadi meski kata mbak dee ngaco mah buat kita bikin ketiwi aja.....coz mbak Dee tuh gitu bgt.kan yg ditunggu komennya ituh yg top margotop (beuh)
    jadi project ini trio yah.....yeay.....finally ada project bareng bak lilik drama populer, chukkahamnida bak lilik, N kamsahamnida buat mbak Dee....Himniseyo buat mbak Poet....

    ReplyDelete
  6. baca sinopsi nya jadi penasaran mau download dramanya

    ReplyDelete