December 16, 2015

Oh My Venus Episode 9

Oh My Venus Episode 9

Sinopsis Oh My Venus Episode 9

Kita kembali beberapa jam sebelumnya. Setelah rapat, Young Ho menemui Direktur Kim di ruangan. Ayah sudah mendengar berita kesembuhan Young Ho. Ini berarti posisi yang ia duduki sekarang akan menjadi milik Young Ho. “Ini adalah posisi yang dimana kau secara pribadi tak boleh punya cela. Akan banyak orang yang melihat dan lebih banyak lagi yang bergosip. Jadi kau harus berhati-hati dalam ucapan dan tindakan.”


Direktur Kim menandatangani dokumen penunjukan Young Ho dan berkata kalau ia sekarang bisa menemui ibu Young Ho dengan tenang. Young Ho menoleh melihat ayahnya, khawatir.



Ia sampai di rumah dan Chief Min merasa Young Ho tak begitu sehat. Young Ho menjawab dasinya terlalu ketat hingga ia merasa tak nyaman. Tapi sepeninggal anak buahnya, rasa sakitnya menyerangnya hingga ia terjatuh. Ia terseok-seok naik tangga dan berhasil masuk ke kamarnya. Ia tak menghiraukan suara teleponnya yang berbunyi. Ternyata Joo Eun.


Joo Eun kaget melihat Young Ho yang terduduk di lantai dengan obat berserakan dan celana sobek hingga lutut. Ia ingin membantu Young Ho tapi tak tahu harus bagaimana. Sambil menangis, Joo Eun mengajak Young Ho ke rumah sakit.


Tapi Young Ho tak mau dan malah meminta Joo Eun untuk keluar dulu. Joo Eun tak mau mendengar dan mencoba mengangkat Young Ho. Young Ho menepuk-nepuk lutut Joo Eun. Joo Eun ingat di pelajaran Jujitsu, itu artinya meminta lawan untuk melepaskan. Ia menangis tersedu-sedu apalagi saat melihat Young Ho mengerang kesakitan.


Akhirnya Joo Eun menunggu di luar wal. Walau air matanya tak bisa berhenti saat ingat cerita Young Ho tentang masa kecilnya yang penuh derita dan mendengar erangan Young Ho yang masih menderita di dalam kamar.


Joon Sung kembali menguntit wanita yang sama. Tapi kali ini ia membantu membawakan kotak yang sangat berat yang dibawa wanita itu. Wanita itu berterima kasih dan Joon Sung dapat melihat wajah lebam wanita itu. Joon Sung memandangi wanita itu sebelum akhirnya berjalan di sisinya.


Akhirnya Young Ho keluar kamar dengan keadaan lebih baik. Ia melihat Joo Eun yang berjongkok di depan kamarnya, masih menangis. Joo Eun bertanya apakah Young Ho benar-benar sudah baikan? Young Ho tersenyum kecil, “Jadi aku ketahuan, ya? Benar-benar tidak sexy sama sekali.”


Joo Eun tak tertawa malah menangis tersedu-sedu. Young Ho akhirnya memeluk Joo Eun untuk menenangkannya. Yang sakit itu dia, tapi kenapa Joo Eun yang menangis seperti hujan badai. Joo Eun menangis dan berkata kalau ia sangat terkejut. Ia memukul-mukul punggung Young Ho, membuat Young Ho memeluknya semakin erat, terus menenangkannya.


Nyonya Choi terkejut saat Nenek memberinya ultimatum. Karena Young Ho akan diangkat menjadi Direktur, maka ia dan suaminya diminta Nenek untuk keluar dari rumah. Ia mengatakan ia tak ingin apapun, tapi Nenek tak ingin lebih lama lagi membiarkan Young Ho ada di luar rumah.


Nenek tahu kalau keputusannya ini akan membuatnya kecewa, maka Nenek akan memberi kompensasi yang cukup untuk mengganti semua penderitaan yang dirasakannya selama ini, menghadapi sifatnya yang sangat sulit. Nyonya Choi benar-benar shock.


Joo Eun memandangi lutut Young Ho, membuat Young Ho risih sehingga menutupi lututnya. Joo Eun bertanya sesakit apa rasanya. Young Ho mengaku tak ingat. Tapi Joo Eun mengambil surat yang menjadi pembatas novel dan membuka isinya.


“Perjalananmu kemarin itu ternyata bukan untuk menemui Anna Sue di Amerika tapi ke rumah sakit di Daegu.” Young Ho tertangkap basah. Joo Eun melanjutkan, “Dan bukan yang mengasyikkan dan erotis,  dan taruhan malah malam yang sepi dan menyakitkan.”

Young Ho berkomentar kalau Joo Eun pasti membongkar ruangannya. Joo Eun membalas kalau tak hanya Young Ho saja yang bisa menggeledah dan mencari. Ia tak percaya kalau Young Ho masih berahasia padahal hubungan mereka sudah sampai pada tahap kissing.


“Aku mengidap kanker saat aku kecil.”

“Kanker?” Joo Eun kaget mendengarnya. “Tapi kenapa lututmu ada banyak luka?”

“Karena ada satu prosedur yang tak berhasil.” Young Ho mengambil hasil Medical Check Up dan berkata hasil itu adalah bukti kalau ia sudah sembuh total. Lalu kenapa Young Ho masih merasa kesakitan, tanya Joo Eun. Young Ho menjawab, “Karena psikologis. Tubuhku masih mengingat rasa sakitnya. Ternyata tubuh lebih pintar dari yang kita kira.”


Joo Eun tak siap mendengar cerita ini, apalagi saat tahu kalau Young Ho masih sering kesakitan saat ia di rumah. “Kukira kau selalu berkilau dengan ke-sexy-anmu, bahkan aku menjelek-jelekkanmu di belakangmu.”


Young Ho tersenyum mendengar pengakuan Joo Eun, “Karena itulah kau tak boleh menilai orang dari penampilannya saja. Duh, aku yang sakit kau yang nangis badai.” Masih terus berlinang air mata, Joo Eun berkata memang lebih susah bagi orang untuk melihat orang yang mereka sayangi kesakitan karena mereka tak bisa menggantikannya mereasa sakit. Young Ho bertanya, “Kau.. menyayangiku?”


Joo Eun menangis semakin keras, “Apa kau tak tahu? Aku menyayangimu. Sangat!”


Young Ho menarik Joo Eun untuk duduk di sampingnya. Joo Eun berkata ternyata penyakit hipotiroidnya tak ada apa-apanya dibanding penyakit Young Ho. Young Ho berkata kalau sejak kecil ia di rumah sakit. Tapi karena itulah ia tahu kalau sebenarnya di dunia ini banyak orang yang memiliki luka.


Dan kita melihat malam itu Soo Jin berlutut di depan ibu dan anak, menggantikan kliennya yang tak mau mengakui kesalahan. Joon Sung berlatih tinju untuk melepaskan amarah. Nenek Min Joo yang dianiaya suaminya, menidurkan Min Joo.


Nyonya Choi menangis sendiri di dalam kamar memikirkan ucapan Nenek yang mengusirnya. Sementara suaminya, ayah Young Ho, sendiri di rumah sakit untuk mendapatkan terapi. Ibu Joo Eun memandangi foto suaminya, merasa kangen pada almarhum.


Karena semua orang merasa sakit, entah sedikit atau banyak, dengan masalah mereka masing-masing, Young Ho menyuarakan pendapatnya.


Berbaring berhadapan di tempat tidurnya, Young Ho meminta Joo Eun untuk tak meninggalkannya karena ia sudah mengatakan semuanya. Dipandangi seperti itu, Joo Eun bercanda kalau bagi Young Ho, ia pasti terlihat cantik. Young Ho mengelus wajah Joo Eun dan menjawab, “Kurang sedikit. Kalau kau lebih sehat, kau akan lebih cantik. Dan lebih sexy,” bisik Young Ho. “Jadi kalau kau sakit, kau akan mendengar omelanku.”


“Ya, Couch-nim,” Joo Eun melihat Young Ho yang mulai ngantuk dan bertanya apakah Young Ho ingin ia tidur di sini. Young Ho mengiyakan dan beringsut mendekat. Joo Eun memeluknya dan Young Ho tertidur pulas.


Paginya, Young Ho bangun terakhir dan melihat Joo Eun sudah berlatih hula hoop dengan kedua temannya. Mereka berdua diam-diam melemparkan sapaan dan semangat. Ji Woong melihat hyung-nya sudah bangun dan mengajaknya main hula hoop.


Setelah dipaksa beberapa kali, akhirnya Young Ho mau melakukannya. Dan gagal. Haha.. Young Ho langsung berbalik pergi. Dih.. ngambek..


Joon Sung dan Ji Woong tak ikut sarapan karena sedang nge-gym. Mengetahui kalau Joo Eun pindah kamar jam empat tadi, Young Ho bertanya alasan Joo Eun pindah kamar. “Kenapa? Apa pergi sebelum jam empat menghapus fakta kalau kita tidur bersama?”

Haha.. Joo Eun panik dan menyuruh Young Ho tak keras-keras karena nanti orang lain bisa berpikir kalau mereka melakukan hal yang enggak-enggak.


“Ya aku sih tak tahu iya atau enggaknya karena aku tidur.” Hahaha… jawaban si muka datar ini ngeselin.


Young Ho membuka yoghurtnya dan Joo Eun mengambil yoghurt itu dan memberikan miliknya, membuat Young Ho bingung. Joo Eun menjelaskan kalau Oppa ini tak tahu apa-apa. Membukakan tutup milik pacarnya itu hal yang biasa. Young Ho hanya bisa geleng-geleng mendengar kebiasaan itu. Dan juga Oppa?

“Apa kau mau kuperlakukan sebagai Dongsaeng? Aku sih senang-senang saja,” jawab Joo Eun sambil mengedipkan mata.


Young Ho mendengus dan berkata kalau pacaran itu hal yang bodoh dan tidak ekonomis. Joo Eun ganti mendengus dan berkata kalau Young Ho hanya tahu tentang ‘malam menyenangkan dan erotis’ dan benar-benar bau kencur untuk urusan pacaran. “Apa kau mau memanggilku ‘Dating Couch-nim’?” Joo Eun mendekat dan berbisik, “Sepertinya banyak yang harus kuajarkan padamu.”


Hahaha.. Young Ho malah menyodorkan pipinya semakin dekat. Joo Eun gemas mau menggigit, tapi tak jadi. Joo Eun memberitahu kalau ia akan pindah enam hari lagi. Tempatnya dekat dari rumah Young Ho dan Hyun Woo dan aman. Jika Young Ho sudah sibuk di Gahong, akan banyak orang yang akan mengawasi. Tentu Young Ho harus berhati-hati dalam bersikap.


Young Ho memuji kepintaran Joo Eun. Bukannya tersipu dipuji, Joo Eun malah menyombongkan diri kalau ia adalah pengacara yang diberkahi kecantikan dan kepintaran. Young Ho gemas dan memegang kedua pipi Joo Eun, membuat bibirnya mengerucut seperti penguin dan berkata, “Hanya wajahnya yang mengurus.”


Joo Eun mengancam akan menambah berat badan lagi dan itu membuat Young Ho mundur teratur. Joo Eun mengusulkan untuk memberitahu Ji Woong dan Joon Sung. Young Ho tak tahu apa yang Joo Eun bicarakan. Joo Eun menjelaskan panjang lebar tentang kalau berhubungan dengan John Kim saja sudah membuatnya stress, apalagi dengan Direktur Gahong.

Young Ho tetap tak tahu apa yang dibicarakan Joo Eun, membuat Joo Eun kesal, “Tentu saja tentang kita pacaran! Apa aku harus mengejanya untukmu?!”


Bukannya menjawab, Young Ho malah memberitahu kalau masalah professional dan pribadi itu adalah kedua hal yang berbeda. Sekarang ia adalah Couch-nim yang akan menurunkan berat badan Joo Eun. Joo Eun hanya bisa menggerutu kesal.


Dan latihan pun dimulai. Joo Eun mulai ritme hariannya dengan minum obat. Young Ho masuk ke kamar dan melemparkan ciuman jauh. Haha.. Joo Eun melemparkan ciuman dimple-nya yang ditangkap oleh Young Ho sebelum pergi. Hahaha.. cheesy banget sih mereka berdua.


Apalagi saat Joon Sung dan Ji Woong muncul, Young Ho mundur dan malah melakukan gerakan memancing, membuat Ji Woong dan Joon Sung heran. Tapi Joo Eun malah kesenangan melihat kegombalan pacarnya itu.


Joo Eun mulai latihan. Joo Eun menahan tubuhnya hanya dengan ujung jari kaki dan sikut, tapi dengan Young Ho ada di bawahnya. Duh.. saya juga mau kalau latihannya seperti ini. Saat Joo Eun akhirnya tak kuat, ia terjatuh dan saat ia berguling, Young Ho berganti posisi. Untuk mencuri kecupan dari Joo Eun. Satu. Dua. Tiga kecupan.


Joo Eun pun mengejar Young Ho. Katanya Young Ho mau memisahkan antara kepentingan bisnis dan pribadi. Young Ho menjawab kalau semua ini murni bisnis.


Siapa bilang main pesawat-pesawatan hanya bisa dilakukan pada anak-anak? Atau Joo Eun masih kanak-kanak, ya? Kata Young Ho sih, latihan ini bagus untuk perut Joo Eun. Tapi kata saya sih modus.


Terdengar suara Ji Woong, membuat Joo Eun menjatuhkan diri ke samping. Ji Woon muncul dan bingung melihat Joo Eun telungkup di lantai. Young Ho pura-pura marah melihat Joo Eun yang mulai push up sambil menghitung. 1021, 1022, 1023… Hahaha.. seribu push up? Young Ho memandang Ji Woong dan menawari Ji Woong untuk ikut gabung. Mana maulah..


Young Ho mengigit timun di mulutnya dan mengisyaratkan Joo Eun untuk mengambil. Joo Eun tak malu untuk menggigit ujung satunya dan hampir saja mereka berciuman jika tak terdengar suara Ji Woong yang mau makan malam juga. Haha.. Ji Woong ganggu terus nih.


Tapi ada satu lagi yang mengganggu makan malam itu. Yi Jin yang ada di luar untuk menemui Joon Sung. Joo Eun terbelalak mendengar artis Jang Yi Jin yang terkenal itu mencari Joon Sung.


Joon Sung benar-benar kewalahan menghadapi Yi Jin. Yi Jin menagih jawaban Joon Sung dan memintanya memanggil Yi Jin-ah saja. Joon Sung yang merasa tak mengenal Yi Jin, menolak memanggil itu.


Tapi Yi Jin memaksa. “Anak SD saja memanggilku seperti itu saat melihatku. ‘Hei, itu Jang Yi Jin. Yi Jin-aaah..’” Yi Jin beralasan dengan penuh ekspresi.  Dan lagian ia mengenal Joon Sung. Ia menyebutkan biodata Joon Sung dan berkata kalau Joon Sung boleh menggooglenya. Ia ada di peringkat atas untuk nama Jang Yi Jin. “Tapi kau tak boleh mempercayai semuanya. Ada yang benar ada pula yang tidak.”


Joon Sung benar-benar tak tahu bagaimana menghadapi kecerewetan Yi Jin. Ia harus memusatkan perhatian pada kejuaraan mendatang, tapi Yi Jin malah meminta dengan wajah memelasnya, “Kalau kau memang tak mau menciumku, hidup denganku atau mati untukku.. paling tidak kau mau makanlah denganku.”


Soo Jin berjalan sendiri, murung melihat pasangan kekasih yang berjalan berpelukan. Menurut dokternya, gejala terlalu banyak makan dan kemudian tak nafsu makan itu karena Soo Jin banyak pikiran. Saat di depan gedung, ternyata Woo Shik sudah menunggunya. Ia tak gembira melihat kehadiran Woo Shik.


Woo Shik memberikan coklat handmade yang dulu pernah ia berikan pada Soo Jin sebagai permintaan maaf dan mulai menjelaskan tentang alasannya menghajar penguntit Joo Eun. Soo Jin memahami alasan Woo Shik, karena itulah ia menyukai Woo Shik. Joo Eun adalah cinta pertama Woo Shik dan sudah pacaran selama 15 tahun. Tentu Woo Shik tak bisa membiarkan saat tahu Joo Eun dalam bahaya.

Woo Shik kembali minta maaf karena tak menjawab telepon atau pesan Soo Jin. Soo Jin memberitahu kalau Joo Eun sepertinya sudah berhubungan dengan orang lain dan sepertinya Woo Shik mengetahui identitas pria itu. Dengan wajah murung Woo Shik membenarkan kalau pria itu adalah Direktur Gahong.


Soo Jin bisa melihat ekspresi Woo Shik dan menolak saat Woo Shik mengajaknya minum kopi atau jalan-jalan. Ia sangat lelah hari ini. Saat ia akan keluar mobil, Woo Shik minta maaf sekali lagi. Soo Jin berkata, “Kau minta maaf. Itu adalah hal terakhir yang wanita ingin dengar dari pria.”


Woo Shik termangu mendengar kata-kata Soo Jin. Ia mengambil hadiah terakhir yang dulu Joo Eun berikan padanya. Sebuah dasi. Ia ingat saat pacaran dulu, Joo Eun pernah menyusulnya ke kantor untuk mengganti dasinya. Saat itu Joo Eun berkata suatu hari ia akan memberikan dasi saat melamar Woo Shik.


Joo Eun meminta ketiga pria di depannya untuk mengosongkan jadwal malam ini karena mereka akan berkemah setelah saju pertama. Young Ho menagih 5 kilo yang Joo Eun janjikan hilang dari tubuhnya. Tentu saja Joo Eun tak bisa memberi. Ia berkelit kalau yang penting bukanlah berat badan tapi berapa lemak yang dihilangkan dan berapa otot yang ia dapat.


Ji Woong dan Joon Sung membenarkan, tapi Young Ho minta buktinya. Haha.. Joo Eun berteriak frustasi, minta Young Ho untuk mengabulkan permintaannya karena besok ia akan pindah rumah. Young Ho tersenyum dan mengedipkan mata, “Okay, call!” Ciee.. Joo Eun berteriak kesenangan.


Young Ho melakukan tugas sebagai pacar. Membelikan Joo Eun kopi. Tapi tentu saja Couchnim membelik kopi biasa bukan Americano yang manis dan favorit Joo Eun. Young Ho menyuruh Joo Eun menutup bibirnya atau kalau tidak.. Ia menunjuk teras kafe, membuat Joo Eun menutup mulutnya. Teras itu saksi saat mereka berciuman di bawah hujan.


Daripada sewa apartemen, Young Ho menawari Joo Eun untuk menyewa kamar di rumahnya saja. Ia akan memberikan harga pasaran, kok. Ih, Young Ho kok pelit banget padahal sudah kaya. Joo Eun berkata ia pindah karena tak ingin menyusahkan Young Ho. Sebelumnya ia hanya menyimpan rahasia John Kim tapi sekarang juga Direktur Gahong. Walau ia tak peduli dengan gosip karena ia sudah terbiasa sejak ia kecil.


Young Ho mengambil pesanan kopi dan saat itu Woo Shik muncul untuk menemui Joo Eun. Young Ho pun memberi kesempatan mereka untuk bicara berdua. Ia pergi menuju mobil dan saat itu Soo Jin masuk ke cafe.


Woo Shik mengembalikan hadiah Joo Eun. Joo Eun menyindir Woo Shik yang tak punya tempat sampah di rumah. Woo Shik berpikir kalau sebaiknya Joo Eun yang membuangnya. Tak ingin berpanjang-panjang, Joo Eun mengiyakan.


Woo Shik mengaku kalau ia tak menyesal putus dengan Joo Eun. Tapi ia merasa tak gembira menghadapi kenyataan kalau Joo Eun bahagia karena seorang pria dan pria itu bukanlah dirinya. Mungkin kedengarannya egois. Ia bukannya ingin balikan lagi, tapi ia merasa ada hal-hal yang berhubungan dengan Joo Eun yang tak bisa ia abaikan dan move on. Apalagi mereka akan kemungkinan besar akan bertemu di banyak kesempatan.


Joo Eun merasa permintaan itu tak masuk akal. Tapi ia mengenal Woo Shik dan memahaminya. Ia menarik kembali ucapannya yang tak menginginkan Woo Shik hidup bahagia. Woo Shik minta maaf dan berterima kasih.

Mereka berdua tersenyum. Ini adalah perpisahan mereka yang sebenarnya. Mereka pasti akan bisa move on dan terbiasa dengan kondisi mereka sekarang.


Soo Jin melihat mereka berdua sedang berbincang-bincang dengan hadiah di hadapan Joo Eun. Duh.. Soo Jin pasti mulai berpikiran macam-macam.


Saat Joo Eun mengetik, ia merasa pegal. Dan muncullah Young Ho imajiner yang duduk di pangkuannya. Hahaha.. ini yang mesum siapa, ya? Joo Eun mengusir Young Ho, membuat Young Ho pindah duduk di pinggir meja dan menceramahinya.


“Lehermu bermasalah karena kau melihat layar dan handphonemu terlalu lama. Bangkitlah sejenak dari kursimu dan seringlah stretching. Jaga pose duduk yang benar, seperti seseorang menekan keningmu. Okay?”

Tuh.. emak-emak yang sakit pinggang, dengerin ya.. Semua bisa sembuh kok kalau ada Young Ho yang duduk di pangkuan. Ehh… :p

Young Ho imajiner minta cium dari Joo Eun yang akan diberikan Joo Eun dengan senang hati. Tapi belum sampai mendarat di pipi Young Ho, terdengar ketukan pintu dan Young Ho lenyap dengan cemberut.


Ih..  Soo Jin ganggu, deh. Tapi Soo Jin memang niat ganggu Joo Eun untuk melampiaskan kekesalannya tadi. Ia menagih analisa penyelesaian kasus copyright yang dilimpahkan pada Joo Eun malam ini juga walau sebelumnya ia berkata kasus itu tak mendesak. Ia juga menyuruh Joo Eun untuk membereskan mejanya yang ia anggap berantakan.


Karena masih kesal, Soo Jin tak menjawab telepon Woo Shik. Walau tak diangkat, Woo Shik tak galau lama karena PD Go memberitahu kalau ada bukti kuat kalau Nenek Young Ho memiliki rumah yang ditempati John Kim di Amerika.


Manager Choi membodoh-bodohkan adiknya yang akhirnya diusir oleh Nenek. Ia juga kesal pada Direktur Kim yang tega membuat Nyonya Choi menangis dan anaknya ke Amerika. Ia meminta adiknya untuk tetap tinggal di sana, karena setelah yang ia lakukan selesai, nenek tua itu akan kehilangan segalanya.


Young Ho sedang mempelajari materi yang diberikan Chief Min saat Chief Min meneleponnya. Ia diingatkan agar terus menjaga sikap karena jika tidak orang terdekatnya akan terluka.


Ini bukan ancaman. Ini kenyataan karena ia sekarang sedang mengintai Manager Choi yang mendekati beberapa petinggi Gahong.


Selesai lembur, Joo Eun memanggil Hyun Woo untuk membantu persiapan camping. Hyun Woo sebenarnya malas, tapi Joo Eun mengingatkan kalau ketiga pria itu membantunya saat menggantikan Hyun Woo di TK Min Joon. Ia menjanjikan Hyun Woo akan bertemu pria sexy, pria berotot dan pria imut.


Hahaha..  Hyun Woo langsung histeris saat Joo Eun memperkenalkan pria sexy dan pria berotot. Saat pria imut diperkenalkan, keduanya sama-sama histeris dan antusias. Ji Woong memanggilnya ‘my second ma’am’. Dan begitu Hyun Woo tahu kalau Ji Woong lulusan Harvard, insting emaknya langsung mencuat. “Aku ingin dia menjadi tutornya Min Joon.”

Hahaha.. aku juga mau, mom. Bonus pelatih, ya..


Young Ho tak menyangka camping adalah seperti ini. Joo Eun menjelaskan kalau di Korea, camping adalah seperti field trip, retreat, kunjungan edukatif atau Daeseong-ri. Young Ho tak tahu apa arti Daesoeong-ri.


Joo Eun mengasihani Young Ho yang tak pernah mengalami itu semua. Apa gunanya wajah tampan dan punya rumah besar kalau tak punya kenangan yang indah. Maka ia akan mengajak Young Ho cs untuk melakukan sesuatu yang setiap orang di Korea pernah lakukan, walau ia mengingatkan Young Ho untuk tak memperlihatkan kemesraan mereka.

Ha, Young Ho malah memperingatkan Joo Eun agar tidak memperlihatkan kemesraan mereka.


Mereka pun camping ala Korea. Walau mulanya enggan, tapi akhirnya mereka menyanyi dengan riang di depan api unggun. Dan alih-alih membawa gitar, Ji Woong bawa biola. Ha.


Acara puncak adalah Pengakuan. Hyun Woo menyuruh semua menutup mata dan memulai. Saat mantan suaminya, PD Go sibuk mengejar berita dan gosip, ia minta tunjangan anak dua kali dalam sebulan. Ups. Hyun Woo menunjuk Young Ho untuk melanjutkan pengakuan.


Young Ho tak mau, tapi Joo Eun menyuruhnya aktif berpartisipasi. Maka Young Ho pun bicara, “Aku.. pacaran dengan Kang Joo Eun.” UPSS!! Hyun Woo berteriak, begitu pula Ji Woong. Young Ho menoleh pada Joo Eun dan dengan kalem bertanya, “Apa hanya aku saja yang ada dalam hubungan ini?”


Joo Eun tergagap dan menoleh Hyun Woo, “Aku pacaran dengan pria sexy ini.” Hyun Woo mendelik. YAA! Kang Joo Eun!!


Saat mereka tiba di rumah, Chief Min sudah menunggui Young Ho. Ia menyampaikan kalau Manager Choi sepertinya mendapat informasi tentang John Kim. Walau ia belum tahu informasi apa yang dipegang Dir. Choi, tapi Chief Min mengingatkan kalau Young Ho tak boleh ceroboh dalam kehidupan pribadinya.


Dengan dagunya, Chief Min menunjuk Joo Eun yang ada di dalam mobil. Young Ho bergumam, apa waktu pengakuannya belum berakhir? Joo Eun keluar dan berkata kalau ia akan masuk rumah dulu. Tapi Young Ho menariknya  untuk menemui Chief Min.


Ia memperkenalkan Chief Min sebagai tangan kanannya yang paling ia percaya. Dan ia merangkul Joo Eun dan berkata pada Chief Min, “Ini adalah kehidupan pribadiku yang sebenarnya. Dia adalah Kang Joo Eun, pacarku.”


Komentar :

Aww.. Young Ho ini tak mau muter-muter, ya. Lurus aja.. selurus wajahnya. Kalau suka bilang suka. Kalau gemuk bilang gemuk.

Sebel banget sama Neneknya Young Ho. Saya masih ga ngerti jalan pikirannya. Tapi ya sudahlah.. sepertinya kekurangan drama ini adalah masalah perusahaan yang tak masuk akal. Tak masuk akal Nenek bersikap seperti itu. Tak masuk akal juga Manager Choi mencoba merebut kekuasaan di Gahong. Nenek adalah pemegang saham terbesar. Mau posisinya diturunkan pun uangnya Nenek juga masih banyak. Saham tak mungkin bisa berpindah tangan jika Nenek tak mau.

Ah.. sudahlah, kalau tentang perusahaan, saya tutup mata aja deh.


Young Ho dan Joon Sung sama-sama lempeng. Untung dapet cewek yang naksir mereka sama ramenya kayak Joo Eun dan Yi Jin. Kalau Ji Woong sih kayaknya harus cewek pendiam deh.. Ayo.. siapa di sini cewek pendiam yang mau mengajukan diri?

Dan btw, wanita yang ditemui Joon Sung itu neneknya Min Joon, ya?


8 comments :

  1. Mbak dee salam kenal aku sering baca di blog mbak tapi baru pertama kali komen....
    Kayak nya bukan nenek nya min joon deh mbak dee... Oh ya ditunggu sinopsis ep 10 nya mbak dee...

    ReplyDelete
  2. trus..kalo yg ditemui junsung itu neneknya min jun berarti masak itu ibuna jun sung. ih jadi penasaran mbak dee. apa hubungannya dengan hyun woo donk?
    emang gak bakalan abis sih mbak dee uangnya neneknya yong ho, cuman kalau entar dir choi berhasil tuh yah ngerayu petinggi gahong, palingan mungkin neneknya bakalan gak bisa jadi chairman gitu, dan jalan yong ho utk jadi presdir jadi sulit coz kemungkinan saham neneknya kan gak sebesar saham gabungan para petinggi gahong gituh loh {kali yah?]
    emang gak masuk akal bgt kalo justru dir choi yg kebakaran jenggot. soalnya dia tottally orang luar banget, bahkan ny.choi jg orang luar kan, aneh aja dia segahar itu sama hartanya gahong.kalo dir kim sih masih mending dia bapaknya yong ho.
    tapi eh tapi. yong ho- joo eun itu sweet dan ngegemesin deh.luluh juga si muka datar kita sama cerewetnya joo eun.yi jin entar gimana yag sama jun sung?
    kamsahamnida sinopnya mbak Dee.....HIM! from NUR....

    ReplyDelete
  3. Di ep brp aku lupa..bukannya nenek min joon itu ibu mertua Hyun Woo y..aku mlh berpikir apakah Joon Sung sodaraan sm Produser Go?.abaikan..wkwk..
    Hm..Yong Hoo-Joo Eun aih camistry mereka mpe luber2..Ahjussi top bgt deh

    ReplyDelete
  4. Kirain cuma aku yang mikir^
    Ibu kandung sang Champion^
    Juga neneknyah Go Min Joon^
    (*jadi inget Do Min Joon^

    ReplyDelete
  5. Suka deh dengan drama yg love line nya jelas gini. Qt nda ikutan galau binti vaper :D
    Ah iya... jun sung sodaraan sm ayahnya min joon. Mungkin sodara tiri. Who khows?
    Jun sung-yi jin manis banget yak... tu cewe pede abiiissss pedekate nyaahhh... sy baca nya smpe geleng2 kepala. Manajernya aja smpe nyerah.
    Eiya, yg jadi jun sung itu yg jadi kang joon di noble my love yak?

    ReplyDelete
  6. untung Henry cma bwa biola sbg ganti nya gitar, bukan piano 😁

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete