December 3, 2015

Oh My Venus Episode 6

Oh My Venus Episode 6

Sinopsis Oh My Venus Episode 6

Hari itu Joo Eun nge-gym dengan ngomel-ngomel. Ia memandangi foto Anne Sue di handphonenya. “Memang dia cantik apanya? Mataku besar dan mancung untuk ukuran orang Asia, tauk!” Joo Eun menaiki treadmill dan menarik kaosnya turun agar menutupi perutnya yang buncit. “Masih berapa lama lagi memang dia ada di Amerika? Tinggal saja di sana dan hidup dengan Anna Sue, terserah!"

Setelah treadmill, Joo Eun berlatih keseimbangan. Ia mengangkat satu kakinya ke belakang dan berhasil menyeimbangkan diri selama 12 hitungan. Bisa lebih jika tak ada suara yang mengagetkannya. “Kemana yang lain?” Young Ho datang!



Karena kaget, Joo Eun kehilangan keseimbangan dan Young Ho menangkapnya hingga mereka berdua sama-sama terjatuh. Joo Eun kembali ngomel, tapi Young Ho seperti tak mendengarnya dan malah menyentuh lesung pipitnya.


“Aku belum pernah melihat ini sebelumnya, Sejak kapan ini ada di pipi?” tanya Young Ho terkesima.
 

“Apa, kau pikir aku memungutnya di jalan?” Joo Eun salah tingkah karena dipandangi Young Ho terus seperti itu. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terlalu gendut untuk bisa bangun sendiri. Young Ho meraih Joo Eun dan memeluknya.

Joo Eun berteriak kaget. Tapi pelukan itu hanya beberapa saat karena setelah itu Young Ho menariknya berdiri. Ia kembali salah tingkah saat Young Ho melihat wajahnya memakai make up dan bertanya untuk siapa Joo Eun berdandan. “Ini hanya suncream.. untuk melindungiku dari lampu neonmu.”

Hahaha.. emang sekarang suncream juga jadi lampcream, ya?

Buru-buru Joo Eun memakai kacamata. Tapi badannya sekarang terasa pegal semau. Pasti karena latihan yang ia lakukan selama ini. Sedikit menyombong ia memegang pipinya. "Wajahku jadi mengecil.”


Young Ho berkata kalau mengurus itu mulai dari atas ke bawah. “Aku masih melihat perutmu sama seperti sebelumnya.” Ih.. Joo Eun gondok dikatai seperti itu. Tapi Young Ho malah tersenyum, “Mendengar suara cemprengmu lagi itu, rasanya menyenangkan.”


Joo Eun balas mengomentari wajah Young Ho yang juga semakin tirus dan menyindirnya pasti menikmati waktu di Amerika sana. Young Ho tak mengkoreksi kesalahpahaman itu, malah berkata, “Yaa.. memang sangat berharga. Ini adalah saat-saat yang telah lama aku tunggu.”


Joo Eun menatap Young Ho tajam dan berteriak, “Kau brengsek! Kemari kau!” Young Ho kaget Joo Eun memanggilnya seperti itu. Tapi ternyata Joo Eun mengambil boneka beruangnya. “Nama boneka ini adalah adalah Brengsek.” Ia kemudian membanting boneka itu dan kembali men-smackdown sambil menyumpahserapah.


Young Ho yang sudah tak kaget dengan keantikan Joo Eun, mempersilakan Joo Eun untuk meneruskan kegiatannya dan berlalu pergi. Joo Eun memukuli beruang itu, “Dasar Brengsek!” Ia terus memukul tapi matanya tak lepas dari punggung Young Ho. “Kau ngapain di sana? Tak bisa jawab?!”

Young Ho terus senyum-senyum mengingat Joo Eun tadi. Ia memandangi surat dokter yang ia keluarkan dari kopernya. Seperti kata dokter, sungguh mukjizat memang, penyakitnya bisa sembuh. Ia menyimpan surat itu sebagai pembatas buku yang sedang ia baca, Kekuatan Saat Kau Sendiri


*Note : osteosarcoma adalah jenis kanker tulang yang merupakan penyakit kanker ketiga yang biasa diidap oleh anak-anak hingga remaja setelah kanker darah dan kanker otak. Lihat foto rontgen ini. Tulang kaki Young Ho sudah dipotong di bagian lutut dan diganti dengan tulang palsu.


Joo Eun masih kesal dengan ucapan Young Ho. Sebenarnya yang Young Ho maksud tadi adalah tentang kesembuhan penyakitnya. Tapi Joo Eun sepertinya salah paham. Ia mengira Young Ho mengalami malam yang menyenangkan dalam tanda kutip di sana


Young Ho bingung melihat makanan yang ada di meja adalah makanan yang tidak biasanya. Joo Eun yang kebetulan lewat berkata kalau makanan itu adalah makanan rumahan untuk menyambut kepulangan Young Ho. “Walau sekarang aku sedikit menyesal,” gerutu Joo Eun pelan.


Tapi Young Ho memang tak berniat makan karena ia tak makan karbohidrat dan garam. Joo Eun berkomentar kalau makanan rumahan memang seperti itu, manis-asin-gurih-pedas-asam dan menyindir, “Apa juga gunanya tubuh seksi jika tak pernah menikmati hidup?


Young Ho tak menggubris sindiran itu, malah memandangi tudung saji dan bertanya barang apa itu. Hahaha.. mulanya saya pikir ia bercanda karena memang tudung saji pink itu tak matching dengan rumah maskulinnya. Tapi ternyata Young Ho memang belum pernah melihat tudung saji seumur hidupnya.

Joo Eun menjawab itu tudung saji, “Semua ibu menggunakannya. Itu barang yang digunakan para ibu agar tak perlu menyajikan makanan dua kali. Apa Ibumu tak pernah melakukannya untukmu? Pasti ibumu memanjakanmu.” Young Ho tak sengaja menekan tudung saji itu hingga tertutup. Lagi-lagi ia terkesima melihatnya. 


Joo Eun berlalu sambil berkata kalau ia butuh dipijat. Tanpa berpikir, Yong Ho berkata kalau pijatan paling enak itu adalah pijatan laki-laki. Ia tersentak mendengar ucapannya sendiri, karena ia membayangkan Joo Eun lari ke pria kekar yang sudah siap memijatnya.


Hahaha… Young Ho dan pikiran mesumnya. Ia langsung menghalangi Joo Eun untuk tak pergi ke panti pijat. Ia yang akan memijatnya. Duh, mati ketawa deh melihat wajah datar kaya Young Eun ini punya pikiran yang aneh-aneh. Ia tetap bersikeras yang akan memijat Joo Eun, walau Joo Eun sudah memperingatkan kalau ia capek dari kepala hingga kaki dan ia belum mencuci kaki.


Ternyata oh ternyata, yang dimaksud Young Ho akan memijat itu adalah, mesin pijatnya  yang akan memijat Joo Eun. Joo Eun sih keenakan dipijat, badannya naik turun karena pijatan kursi itu. Tapi ia bingung ketika Young Ho meletakkan bantal di atas badannya. Young Ho berkata kalau posenya menimbulkan pikiran yang menyesatkan.


Salah tingkat, Joo Eun menyuruh Young Ho untuk menyalakan TV. Ia ingin nonton berita. Maksudnya sih agar perhatian mereka teralih ke TV. Tapi ternyata berita sudah selesai. Ia pun menyuruh pelatihnya untuk mematikan kursi pijat itu. Young Ho tak suka mendengar nada perintah gadis itu.


Ia naik ke kursi pijat untuk mematikan mesin itu. Tapi ia tak segera turun dan malah menegakkan kursi gadis itu. “Bukan seperti itu caramu bicara dengan pelatih impianmu.” Joo Eun mengkeret karena kursi itu semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Young Ho. Terbata-bata ia mengusulkan agar hubungan mereka menjadi hubungan setara seperti teman, jangan seperti hubungan atasan bawahan.


Young Ho menatap Joo Eun tajam, “Teman? Oh.. seperti kata teman dari huruf Cina yang merupakan bagian dari kata ‘dekat’ dan ‘mulut’?”

Joo Eun terbelalak mendengarnya dan adegan dimana mulut mereka dekat satu sama lain hingga menempel saat latihan jujitsu terputar kembali dalam ingatannya. Dan kali ini ia tak bisa kemana-mana karena Young Ho terus menatapnya.


Nyonya Choi menyajikan teh untuk Nenek dan menawari untuk memijatnya. Nenek menolak sopan. Nenek tahu kalau banyak orang menggunjingkannya karena terus mengurusi perusahaan saat anak perempuannya meninggal. Dan orang menilainya kejam karena menikahkan menantunya dan terus mendompleng menantunya, apalagi memasukkan orang luar yang tak bersalah dalam keluarganya. Kata-kata itu sebenarnya melukainya.

Ia memuji putra Nyonya Choi, Young Joon, sebagai anak yang pintar dan sopan. “Didiklah Young Joon dengan baik dan jangan berpikir yang lain. Jangan masuki dia dengan pikiran-pikiran lain.”
Hmm.. peringatan Nenek sopan banget, ya..


Ji Woong pulang dan langsung memeluk dan mencium Young Ho. Kangen katanya. Hahaha.. kayaknya senang banget Ji Woong melihat Young Ho lagi. Apalagi ia mendengar dari Joon Sung kalau Young Ho sudah sembuh, ia langsung berterimakasih pada Tuhan. Saat Young Ho menanyakan keberadaan Joon Sung, Ji Woong berkata kalau juara juga butuh privacy.


Choi Soon Jang menolak untuk bertemu. Maaf. Kata-kata itu membuat Joon Sung hanya bisa memperhatikan seorang wanita dari dalam mobil. Setelah mendapat SMS dari Young Ho, ia pun pergi. Ia tak melihat bagaimana kondisi wanita itu setelah ada di depan pintu. Laki-laki di depan rumah memarahi wanita itu, menjambak dan memukulinya.

Joon Sung menemui Young Ho yang sudah tidur. Tanpa membuka mata, Young Ho berkata, “Tak usah merasa bersalah, kecuali kau mau kugunduli.” Joon Sung tersenyum dan berlalu pergi.


Pagi-pagi Young Ho dibangunkan oleh kehebohan trio kwek-kwek yang sudah ada di sisi tempat tidurnya dengan membawa timbangan. Mereka akan menimbang berat Joo Eun. Ji Woong menyuruhnya untuk pipis dulu (agar beratnya semakin turun). Joo Eun bilang sudah, bahkan ia tak minum apapun setelah itu. Joon Sung  mengepalkan tangannya, “Pengacara Kang, fighting!”


Joo Eun pun naik ke timbangan. 62.3. Waahhh!! Hebat! Trio kwek-kwek itu pun jingkrak-jingkrak kesenangan. Seperti mendapat penghargaan, Joo Eun mulai pidato mengucapkan terima kasih pada Joon Sung dan Ji Woong. Juga John Kim, trainer kelas dunia yang melatihnya meski dia jauh.

Young Ho memutar matanya melihat kelebay-an ketiganya. “Kalian ngapain, sih? Memangnya kalian akan bertanding di RFC? Kenapa menimbang badan sepagi ini?” Joo Eun melirik Ji Woong dan bertanya apa Ji Woong belum memberitahukan perjanjian itu pada Young Ho? Young Ho jadi penasaran, perjanjian apa yang sedang mereka bicarakan?


Takut-takut Ji Woong menjawab, “Umm.. kami berjanji akan mengabulkan permintaannya jika dia bisa turun 15 kg.” Young Ho mempersilakan Ji Woong untuk menyelesaikan janji itu dan ia akan tidur lagi. Joon Sung buru-buru melanjutkan, “Um.. itu.. kita bertigalah yang harus melakukan.”

Hahaha… jutek banget wajah Young Ho mendengarnya. Apalagi saat mendengar permintaan Joo Eun. “Hiduplah seperti Kang Joo Eun untuk satu hari saja. Tanpa sekalipun protes.” Ia meneriaki kedua temannya yang buru-buru kabur melihat wajah jutek Young Ho. Ia menatap Joo Eun kesal, “Jadi maksudmu kami semua harus jadi ‘gila’ seharian ini? Kau ini jahat juga ya ternyata?”


Yoo Eun tertawa kesal. Apa maksudnya gila? Ia hanya ingin mengajak mereka untuk menikmati hidup dan rasa manis. Young Ho menyela, “Jadi kau ingin makan makanan manis asin, tak berolahraga dan malas-malasan? Penyakit tiroid, lemak, minuman soda dan kolesterol!”


“Apa kau tak lihat wajahku ini?” Joo Eun memegang pipinya. “Wajahku sudah semakin tirus.”

“Kang Joo Eun-ssi, tubuhmu adalah milikku.  Wajahmu? Aku tak peduli sama sekali,”


Joo Eun tak merasa terpojok. Ia mengeluarkan hasil laboratorium yang memperlihatkan hasil tes darahnya sudah tidak merah lagi. Young Ho membaca hasil lab itu dan berkata kalau hasilnya juga tidak hijau. Joo Eun kesal mendengarnya. Menurut dokter ia boleh makan makanan manis satu hari saja. “Aku benar-benar mengingatnya! Apa kau masih mau lihat hasil lab yang lebih detail?”


Akhirnya Young Ho pun menyetujui permintaan Eun Joo, membuat Eun Joo tertawa terbahak-bahak. Young Ho menarik selimut lagi untuk tidur, tak lupa ia mendorong Eun Joo hingga jatuh dari tempat tidur. Hihihi.. balas dendamnya childish banget.


Joo Eun mentraktir kopi, dan untuknya macchiato dengan whipped cream yang banyak sekali. Melihat pesanan Young Ho hanya single Americano, Joo Eun memperingatkan untuk tak melakukannya lagi. Ini adalah Hari Kang Joo Eun dan semua harus menikmati hidup tanpa memikirkan tubuh mereka.

Wajah serius Joo Eun berubah menjadi cerah ceria saat memandang kopi dengan whipped cream yang tinggi. Sambil minum kopinya, Ia pun berangkat kantor dengan amat sangat gembira.

Setelah Joo Eun pergi, Joon Sung dan Ji Woong membujuk Young Ho untuk membiarkan Joo Eun hari ini saja, karena Joo Eun layak mendapatkannya. Young Ho berkata walau berat Joo Eun sudah turun, tapi hanya wajahnya saja yang tirus. “Kang Joo Eun’s Day? Yang benar saja.”


PD Go, mantan Hyun Woo, sudah kembali dengan berbagai rekaman yang ia dapat dari Amerika. Ia yakin bisa menguak jatidiri John Kim. Ia tak takut akan dituntut karena itu berarti ia akan bertemu dengan John Kim.


Orang-orang sudah mulai memperhatikan perubahan Joo Eun. Direkturnya juga melihatnya dan menyindir kalau Joo Eun pasti sangat konsentrasi pada dietnya hingga melupakan kasus anak CEO Myunghoon. Ia diminta untuk membantu Soo Jin yang sudah mengurusi kasus itu sendirian. Joo Eun sudah hampir membantah, jika Soo Jin tak menyela, mengingatkan si bos yang hampir telat rapat.

Hmm.. Soo Jin ini lumayan baik, karena ia malah memberikan kasus tentang pelanggaran hak cipta pada Joo Eun. Kasus yang membosankan.


Young Ho mulai terganggu dengan Joo Eun yang terus muncul dalam pikirannya. Saat ia olahraga, Joo Eun muncul untuk melarangnya. Ji Woong mendapat SMS dari Joo Eun yang memberitahukan misi berikutnya. Sederhana, kalian hanya perlu mengambil posisi yang nyaman dan tak melakukan apapun. Posisi ini disebut dengan ‘sekarat’.


Hahaha.. Untung Joon Sung yang habis potong rambut datang, dan mereka melakukkan pose sekarat kayak mayat.


Misi kedua adalah menonton film romantic dan menjadi seemosional mungkin. Mereka nonton filmnya Richard Gere. Young Ho bosan dan menoleh pada Joon Sung, juara beladiri, yang sekarang sedang terisak-isak menonton film itu. Ha, Young Ho beranjak dari sofa, tapi kaki Joo Eun menghalanginya. Young Ho merasa kalau ia sudah menjadi gila.

Dan Joo Eun kembali menghantuinya saat ia sedang angkat beban. Ia melihat Joo Eun ada di atasnya dan menunjuk, “Oho! Kan sudah kubilang, jangan dekat-dekat dengan peralatan olahraga!”


Misi ketiga: tidur siang. Walau Young Ho ogah-ogahan melakukannya, tapi akhirnya ia terlelap juga. Dan tidur dengan nyenyak hingga sore. Diam-diam Ji Woong memotretnya dan mengirimkan ke Joo Eun.


Woo Shik menyerahkan identitas Young Ho pada Manager Choi. Manager Choi memuji hasil kerjanya dan berniat mendekati CEO Choi Jin Ho dan membuatnya memihak mereka.


Woo Shik menelepon Soo Jin, tapi tak diangkat. Ternyata Soo Jin sedang menemui anak CEO Myunghoon yang sangat sombong walau terlibat kasus penganiayaan. Anak CEO itu hanya mau menemui Presiden firma Guntu, walau yang dihadapinya sudah Wakil Presiden.

Soo Jin meminta wanita itu menjaga sikap karena pelecehan seksual itu sudah diketahui publik dan tak bisa terbantahkan lagi. Wanita itu tak peduli. Firma Soo Jin harus memenangkannya karena ayahnya telah membayar banyak sekali. Soo Jin menjawab kalau begitu CEO Myunghoon harus memberi firmanya uang lebih banyak lagi dan berlalu pergi.


“Apa kau bisa seenaknya begitu karena kau cantik? Tapi ingat, kau cantic karena uang ayahku!” jerit wanita itu, yang sangat menohok Soo Jin.

Sebelum pulang, Joo Eun melihat-lihat foto yang dikirimkan Ji Woong dan itu membuatnya gembira. Asistennya meminta Joo Eun untuk tak diet lagi, khawatir Joo Eun bisa jatuh sakit. Joo Eun menjelaskan kalau ia harus diet karena penyakit tiroidnya.


Waktunya makan dan Joo Eun pergi ke restoran Hyun Woo untuk makan malam. Tapi sialnya, restoran Hyun Woo tutup sementara karena sedang renovasi. Sedangkan di rumah tak ada makanan sama sekali. Duh kesian.. tapi lucu banget liat Joo Eun dan Min Joon sama-sama mengelus perut endutnya karena sama-sama kelaparan.


Hyun Woo melihat kalau wajah Joo Eun sudah seperti dulu walau perutnya belum. Joo Eun berkata kalau perutnya akan mengecil sebentar lagi. Ia telah berusaha sekeras saat ia ujian menjadi pengacara. Hyun Woo tertawa karena Joo Eun gagal ribuan kali sebelum akhirnya lulus. Ia bertanya dimana Joo Eun tinggal sekarang.

Joo Eun menghela nafas dan berkata kalau ia tinggal di rumah orang. Bukan teman juga. Menyebut kata teman, ia langsung ingat ucapan Young Ho yang menggodanya. Teman yang dekat mulutnya. Melihat ekspresi Joo Eun, Hyun Woo menduga kalau terjadi sesuatu antara Joo Eun dan Young Ho. Joo Eun membantahnya karena temperamen Young Ho yang pemarah.


Ia memberitahu kalau ia tak hanya hidup berdua tapi dengan teman-teman pria Young Ho lainnya. Hyun Woo iri mendengar keberuntungan Joo Eun yang hidup dikelilingi oleh pria sementara dia sudah bersyukur jika mantan suaminya memberi uang tunjangan lebih.

Dari Hyun Woo, Joo Eun mendapat informasi kalau PD Go berhasil mendapatkan informasi tentang John Kim. Ia jadi panik mendengarnya. Joo Eun meng-google dan nama John Kim sangat terkenal sekali.


Karena Joo Eun tak mendapat makan di rumah Hyun Woo, misi berikutnya adalah makan malam di luar bersama. Ji Woong menduga Joo Eun pasti ingin makan seperti putri di restoran mewah maka mereka pun memakai jas. Betapa saltumnya mereka karena ternyata Joo Eun mengajak mereka makan di kedai ddeokboki.


Young Ho sudah balik badan, ogah masuk, tapi Ji Woong dan Joon Sung mendorongnya masuk ke dalam kedai.


Ji Woong dan Joon Sung ngeces melihat Joo Eun makan. Mereka mencicipi sesuap dan ternyat enak banget. Hanya Young Ho yang menatap Joo Eun makan dengan tangan terlipat. Joo Eun mengambil sepotong ddeokboki dan mengangsurkan ke hadapan Young Ho. Young Ho tetap tutup mulut. Joo Eun memberi isyarat, membuat Joon Sung dan Ji Wong memegangi tangan Young Ho.


Walau Young Ho keras kepala, tapi Joo Eun lebih keras kepala. Ia terus memegangi garpu isi ddeokboki hingga Young Ho membuka mulutnya. Dan ia bersorak gembira melihat Young Ho membuka mulut. Gol!

Tapi Young Ho mengunyah ddeokboki seperti anak kecil mengunyah brokoli. “Kau ini bukan putri tapi peri pemakan segala,” gerutunya. Dikatai seperti itu malah membuat Joo Eun tersenyum lebar, “Kau memanggilku peri?”

Hahaha.. Setelah itu Joo Eun mengajak mereka selfie. Akhirnya Young Ho mengeluarkan senyumnya juga ketika difoto.

Woo Shik mendapat telepon dari kepolisian. Manager Choi mengingatkan agar Woo Shik tak melakukan kesalahan yang bisa merusak rencana mereka. Woo Shik mengiyakan patuh.


Soo Jin menunggu Woo Jin di parkiran. Saat melihat Woo Shik masuk mobil, ia menelepon pacarnya. Niatnya sih memberi surprise, tapi ia yang terkejut saat Woo Shik mengatakan masih di kantor karena lembur.


Woo Shik pergi ke kantor polisi karena si penguntit itu membawa pengacara untuk menuntut Woo Shik yang telah menganiayanya hingga masuk rumah sakit selama 3 minggu. Bahkan si penguntit itu merekam ancaman yang dikatakan Woo Shik saat itu. Polisi bertanya apakah Woo Shik memiliki pengacara?


“Saya,” jawab Soo Jin yang masuk dengan percaya diri dan memberikan kartu namanya pada pengacara lawan.


 Joo Eun sedang sikat gigi sambil berkali-kali memberi salam lesung pipit di kaca (tangan mengerucut di lesung pipit dan jemari mengembang saat mulutnya meletuskan suara ‘pop’) ketika Soo Jin meneleponnya. Mulanya ia mengabaikan telepon itu, tapi ia menerima ketika Soo Jin meneleponnya lagi dan terkejut mendengar kata kantor polisi.


Mereka bertiga duduk bersama. Soo Jin sebagai pengacara, memberitahukan hubungan Woo Shik dan Joo Eun yang sudah pacaran 15 tahun dan walau sudah putus, keduanya tak mungkin tak saling peduli.

Joo Eun dan Woo Shik sama-sama menghela nafas. Joo Eun sendiri merasa sudah gila saat mendengar Soo Jin menyatakan Woo Shik berhak membela mantannya karena melihat penguntit itu mengancam Joo Eun. Pembelaan itu tak bisa dianggap sebagai tindak pidana dan Soo Jin juga menyangsikan laporan medis si penguntit.


Karena pihak Woo Shik tak punya bukti cukup untuk menyatakan pria itu sebagai penguntit, maka polisi akan meminta pihak lain untuk menjadi saksi yang muncul di rekaman CCTV. Joo Eun kaget mendengar Young Ho akan terlibat. Tapi terlambat. Young Ho sudah datang ke kantor polisi.


Pemeriksaan selesai. Woo Shik dan Soo Jin keluar. Soo Jin pulang dulu untuk membiarkan Woo Shik bicara dengan Joo Eun. Woo Shik menyadari kalau wajah Joo Eun jadi lebih kurusan. Ia minta maaf karena bereaksi terlalu berlebihan karena khawatir tak ada yang melindungi Joo Eun. Ia kasihan pada Joo Eun.

Joo Eun mendengus. Woo Shiklah alasan mengapa tak ada yang melindunginya. Jadi mengapa juga Woo Shik harus kasihan? Woo Shik berdalih kalau ia menolong semua orang yang ada di posisi Joo Eun, jadi Joo Eun tak perlu kege-eran. Ia juga mengingatkan agar tak terlalu dekat dengan Young Ho karena pria itu bukan seperti yang Joo Eun kira.

Joo Eun menuduh Woo Shik cemburu karena Young Ho lebih keren darinya. Woo Shik berkata kalau Young Ho mungkin saja hanya mempermainkan Joo Eun dan tak serius sementara Joo Eun sudah keburu jatuh cinta. Ucapan itu membuat Joo Eun bertambah kesal dan mengancam akan menendang pantat Woo Shik.
“Jaga ucapanmu! Anak gadis seperti kau ini kenapa jadi ancur?” sergah Woo Shik heran.
“Aku sudah bukan anak gadis lagi. Kau dan aku sudah 15 tahun lebih tua sekarang. Yang dulunya mahasiswa hukum sekarang sudah menjadi pengacara. Juara renang nasional sekarang menjadi eksekutif di perusahaan besar. Kau bertanya padaku kenapa aku jadi ancur? Apa ancur itu berarti bertambah gemuk?” tanya Joo Eun tajam.


“Aku masih sama dengan Kang Joo Eun yang dulu. Coba pikir, apa perubahanku sejak 15 tahun yang lalu.” Tak mendengar jawaban apapu dari Woo Shik, Joo Eun memberitahu kalau kasus Woo Shik akan baik-baik saja karena Soo Jin adalah pengacara yang lebih ahli daripada dirinya. Ia pun pergi.


Young Ho telah memberikan kesaksiannya. Sebenarnya ia sudah datang sejak Soo Jin memberi pembelaannya. Ia jadi tahu kalau Joo Eun dan Woo Shik telah pacaran 15 tahun. Ia menelepon Chief Min untuk minta bantuan menyelesaikan masalah pribadinya.


Di luar ia bertemu dengan Woo Shik yang memperkenalkan diri sebagai General Manager di grup Gahong. Young Ho tahu kalau Woo Shik mengenalinya sebagai cucu Presdir dan menjawab kalau ia masih mempertimbangkan (posisi itu). Ia pamit karena Joo Eun sudah menunggunya. “Ia tak kuat dengan cuaca dingin.”


Soo Jin pulang ke rumah dengan lesu. Ingat kejadian pria yang dicomblangkan Joo Eun menghinanya? Ternyata Woo Shik kembali dan menghajar pria itu. Woo Shik tak takut dituntut karena memiliki teman, Oh Soo Jin yang sudah lulus ujian pengacara dan pacarnya, Kang Joo Eun juga akan segera lulus. Saat itu ia menatap terpesona pada Woo Shik yang menggandeng tangannya dan mebawanya pergi.

Namun sekarang ia melihat betapa Woo Shik masih mengkhawatirkan Joo Eun walau mereka tidak pacaran lagi. Ia sempat mendengar rekaman itu sebelum memasuki ruang pemeriksaan. Ia menoleh ke cermin dan melihat bayangannya sendiri. Masih Soo Jin gendut yang tak percaya diri.


 Tiba-tiba Joo Eun menyuruh Young Ho menghentikan mobil. Ia masih punya 30 menit sebelum Kang Joo Eun’s Day berakhir dan ingin minum kopi dulu. Young Ho bertanya apa Joo Eun tak ingat kalau pola tidurnya sangat kacau dan semakin parah jika minum kopi selarut ini. Tapi Joo Eun meyakinkan kalau tanpa minum kopipun ia juga tak bisa tidur. “Hanya secangkir saja, oke?”

Tanpa menunggu jawaban, ia lari keluar. Young Ho tersenyum melihatnya.  Joo Eun memesan dua cangkir kopi yang rasanya paling manis dan membayarnya dengan rekening ponsel. Ia tak bawa dompet tapi tak mau minta uang pada Young Ho karena tahu Young Ho pasti akan menolaknya.


Chief Kim membawa setengah lusin pengacara ke kantor polisi untuk membereskan masalah Young Ho berkaitan dengan gugatan Woo Shik. Beberapa saat kemudian, ia sudah menyelesaikannya dan menelpon Young Ho. Ia meminta Young Ho berhati-hati karena masalah pribadi Young Ho bisa saja menjadi konsumsi publik.

Setelah menutup telepon, jendela mobilnya diketuk oleh seorang tukang derek. Sepertinya Young Ho yang memanggilnya. Joo Eun yang melihat dari dalam café heran, apakah mobil Young Ho rusak? Ia mengambil pesanannya dan keluar café. Tiba-tiba hujan turun dan ia berlari menuju mobil.


Young Ho terpana melihat Joo Eun melambai padanya dengan ceria sebelum masuk mobil. Ia tak menjawab pasti saat ditanya apakah mobilnya rusak. Joo Eun memberikan secangkir kopi untuknya karena Kang Joo Eun’s day masih tersisa 10 menit lagi. Tapi ia hanya menyecap kopinya sedikit saja.

Joo Eun menggelengkan kepala, tak suka melihat Young Ho terlalu banyak melewatkan saat-saat menyenangkan. Orang mungkin memuji tubuh kerennya Young Ho, tapi di sisi lain Young Ho sangat menyedihkan. Permintaan Kang Joo Eun’s Day sebenarnya adalah hadiahnya untuk Young Ho. Ia ingin hidup Young Ho lebih manis lagi.


“Dalam HAM, ada hak untuk mengejar kebahagiaan. Kita manusia mempunya hak dan kewajiban untuk mendapat kebahagiaan, siapapun orangnya.” Joo Eun mengangkat kopinya. Ia tahu kalau kopi itu tak baik untuk tubuhnya, tapi baginya kopi ini seperti hak untuk mengejar kebahagiaan. “Sebenarnya bukan hakku untuk mengatakan hal ini, tapi kadang kau terlihat sangat tertekan. Karena itulah..”

Joo Eun terlihat salah tingkah saat Young Hoo menoleh dan menatapnya. Buru-buru ia keluar untuk mencari udara segar sementara mobil diperbaiki. Tapi ternyata café sudah tutup, dan ia pun berteduh di depan café.


Young Ho memandangi Joo Eun. Ayahnya mengira ia hidup dengan bermanja-manja, tapi Joo Eun yang baru mengenalnya bisa melihat kalau ia sangat tertekan dan ingin memberikan sesuatu yang manis dalam hidupnya.


Joo Eun sedang menikmati kopi saat Young Ho mendatanginya dan berkata kalau kopinya manis sekali. Tapi walau begitu, Young Ho mengambil gelasnya dan menyesapnya. Dan kembali mengeluh kalau kopinya manis banget.


Young Ho memandangi pipi Joo Eun yang memperlihatkan lesung pipit. Joo Eun menegaskan kalau lesung pipitnya itu asli. Ia teringat peringatan Woo Shik yang mengatakan kalau Young Ho mungkin hanya mempermainkannya saja. “Jangan terus menggodaku, ah. Kapan mobilnya selesai diperbaiki?”

“Perbaiki apa?”

“Katamu mobilmu rusak.” Dan seperti dikode, mobil derek itu pergi tanpa menderek mobil Young Ho. Joo Eun melongo menyadari ia tertipu.

“Mobilku tidak rusak,” Young Ho polos menjawab.

Joo Eun mengerjapkan matanya. “Apa katamu? Kalau begitu kenapa juga kita berdiri di sini?”


“Karena menyenangkan. Aku bisa merasakan manisnya hidup ini,” jawab Young Ho. Joo Eun mengatupkan mulutnya kesal, membuat lesung pipitnya kembali muncul. Young Ho menatap kagum dan menyentuh pipinya, “Menakjubkan..”


Joo Eun menutup mata, dan memintanya untuk tak menggodanya lagi. Young Ho bertanya, “Kau benar-benar tak tahu, ya?” Joo Eun membuka mata dan Young Ho membuka payungnya lagi, menutupi tubuh mereka dari jalanan.

“Pria biasanya ingin sesuatu yang lain saat dia menggoda seorang wanita. Dan karena tubuhmu adalah milikku..”


Dan Young Ho mengambil kacamatanya. “.. jadi kau tak bisa berkata tidak.”


Dan ia menciumnya.

Komentar :

Aihh.. Young Ho ini juga world class trainer dalam gombalan, ya? Kok banyak banget idenya buat flirting dengan Joo Eun?

Dan mobil derek itu, sebenarnya Young Ho menelepon tukang derek untuk meyakinkan pura-puranya kalau mobilnya rusak atau nggak ya? Kok ya pas banget.


Bagaimanapun saya tak bisa membenci Soo Jin. Bukan karena solidaritas sesama gemuk, ya.. Tapi karena sebenarnya pas jaman dulu, Joo Eun juga sering menyakiti Soo Jin, entah sengaja atau tidak. Pertama kelihatan flirting dengan penyiar radio Ji Hoon. Mungkin Joo Eun memang begitu gaya becandaannya, tapi untuk Soo Jin yang melihatnya, pasti sangat menyakitkan.

Eh.. inget Lee Ji Hoon yang penyanyi itu, kan? Sadar kan kalau penyiar radio yang ditaksir Soo Jin adalah Lee Ji Hoon (Hello Agashi, Wonderful Life, terus apa ya? Saya ingatnya drama-drama jadul)
Kedua, Joo Eun mengenalkan dengan cowok pintar yang malah menghinanya. Joo Eun kayaknya ga sadar apa ya kalau yang dilakukannya malah melukai sahabatnya.

Jadi pantas saja Soo Jin kesel dengan Joo Eun yang menurutnya sok cantiklah, sok kerenlah dan sekarang ia ingin balas dendam.  Mungkin ia memang suka dengan Woo Shik yang bersikap baik padanya bahkan saat ia masih gendut. Tapi ia tak akan merebut Woo Shik jika ia tak ingin membalas Joo Eun.


Yang paling kasihan tuh ya Soo Jin. Walau ia sudah menjadi angsa yang cantik, tapi ia akan terus menjadi bebek buruk rupa jika tak berdamai dengan masa lalunya.

11 comments :

  1. keren dah .. ini alurnya wajib nonton :)

    ReplyDelete
  2. Eh....sudut pandang bak Dee ttg soo jin ngena bgt deh.saya jg gak bisa plek benci dia sih, meski yah, ttp aja yg dilakukan kan salah......
    Uh...kiss scene di episode 6?????wuah, bang ji sub sesuatu bgt yah.....(hihihi)
    Jd Jelas yah yong ho itu penerus asli gahong.ibunya yong ho yg anaknya nenek.sementara ayahnya justru menantu yg malah dinikahkan dan punya anak lg.anaknya sih ttp saudara yong ho , krn satu bapak.tp utk warisan Jelas dia orang luar.bener2 gak bisa ditawar.
    Kamsahamnida bak Dee.....HIM!

    ReplyDelete
  3. setuju...karakter in young dlm drama ini bisa membuat yg menonton gak bisa benci sama karakternya
    beda dYCFS dgn mask,
    dsini dia mau jahat, tapi jatuhnya jadi lucu

    bener sich kata mbak dee, soojin akan tetap jadi itik buruk rupa kalo dia gak bisa berdamai dgn masa lalunya,
    brubah atau tidaknya, hanya diri kita sendiri yang menentukannya,
    seperti soojin, yg luarnya modern, tapi dalamnya adalah masa lalu

    tapi woosik, knp mutusin joo eun kalo masih peduli tentang smuanya,
    apa cuma karena koneksi aja ya... uang,jabatan,nama besar,
    padahal kalo tua mah,yang tersisa hanyalah orang yg mencintai kita dan yg kita cintai..... waduh sok iye gua.....

    ReplyDelete
  4. young ho ssi.....
    kok romantis amat sich..
    yg nonton jadi pengen juga....

    pengen punya coach-nim yg ganteng maksud ane

    ReplyDelete
  5. Suka kata endingnya bunda dee...akan trus jd bebek buruk rupah klo tdk berdamai dgn masa lalunya... setujuuuuh ^^

    @helmiyr

    ReplyDelete
  6. Gyaaaaaa.....
    Ampun dijeeee.... young ho.... gile luuu.... ajib bener yak cara gombalin cewe.
    Ky nya emang dari awal young ho ud jatuh hati sama joo eun.
    Orang yg bisa bersikap biasa bahkan setelah tau young ho anak orang kaya.

    Lee ji hoon kan duet sama Kang Ta di grup "S". Kaya nya sering banget doi jd cameo :D

    ReplyDelete
  7. saya sudah nonton episode 6 engsub.. tapi ttp aja pengen baca... hehehe
    apalagi... yg ending nya ituu lho...;)


    saya suka setiap kali cara Young ho (sebenarnya sih SJS nya... kekeke) menatap Joo eun..


    dan sebenarnya saya sangat suka, gaya romantisme (duuh ini kosakatanya...) SJS... terlepas dari seperti apa karakternya di setiap drama... dia berhasil memikat hatiku yg menontonnya... di Master Sun + Oh My Venus... ;)... Sajangnim yg Romantis Elegant.. selalu Protect cewenya...


    _devi_

    ReplyDelete
  8. Saat lhat shin min ah dan so ji sub ak cma mkir, knpa ya shin min ah nggak pcaran sma so ji sub aja. Secra mreka jga udh knal lma sjak membintangi iklan bareng. Ak jdi ngebyangin, so ji sub yg cool dan membosankn( kta song seung hon) dan shin min ah yg mnis dan ceria. Dijmin deh, mreka bkal jdi psngan plg didukung di korea sna. Dan bruntungnya so ji sub pnya shbat sebaik song seung hon dan pcar secntik shin min ah. Tp yah syang sekali itu tdak terjdi

    ReplyDelete
  9. oh So Ji Sub, aktor idolaku, kpn ya doi ke Indonesia?

    ReplyDelete
  10. memang dah drama korea selalu bikin penasaran tiap episodenya.

    ReplyDelete