December 11, 2015

Imaginary Cat Episode 2

Imaginary Cat Episode 2

Sinopsis Imaginary Cat Episode 2

Bok Gil mengomentari tuannya yang sekarang doyan begadang. Dari malam hingga berganti pagi, Jong Hyun terus ada di meja gambar. Ia akhirnya naik ke meja gambar, mengajak Jong Hyun main. Tapi Jong Hyun yang lagi suntuk karena PD Dokko terus menagih komiknya, malah menyuruhnya turun.

“Uh, aku sedang bisa menemanimu main. Seharushnya kau merasa sangat bersyukur. Dasar!”



Jong Hyun berdiri, membuat Bok Gil senang. Tapi ternyata tuannya itu hanya pergi ke kamar mandi, membuat Bok Gil kecewa. Saat Jong Hyun keluar, ia terkejut karena meja gambarnya berantakan. Ha, kayaknya itu tanda Bok Gil pengen ngajak main. Tapi Jong Hyun yang masih suntuk malah ngomel dan pergi keluar rumah, membuat Bok Gil kecewa.

Bab 3 : Sumber ilhamku


Karena begadang semalaman, Jong Hyun ngantuk di toko buku hingga membuat bosnya menghukumnya. Jong Hyun harus mencari 100 buku yang direkomendasikan Universitas Seoul dalam waktu 10 menit kalau tidak mau potong gaji.


Dari percakapan Na Woo (bukan Han Woo seperti yang saya tulis di episode sebelumnya) dengan sepupunya, ternyata Na Woo adalah blogger yang tak mau meneruskan kuliah. Karena dianggap nganggur, ibu Na Woo berencana untuk datang ke Seoul untuk memaksa Na Woo untuk pulang. Mendengar hal itu, Na Woo buru-buru pergi dari rumah.


Saat akan memberi makan kucing liar, Na Woo melihat kucing itu sepertinya sakit. Ia pun ke toko buku untuk mencari Jong Hyun. Tapi saat itu Jong Hyun sibuk di telepon, menjelaskan pada PD Dokko yang terus menagih cerita hingga tak melihatnya. Jong Hyun masuk ke ruang pegawai, membuat Na Woo tak bisa mengejarnya. Ia hanya bisa memungut nametag Jong Hyun yang terjatuh.


Na Woo pun menunggui Jong Hyun keluar. Tapi sampai toko tutup, Jong Hyun pun tetap belum keluar. Dan Na Woo baru tersadar saat lampu toko dimatikan kalau ia akan ikut terkunci. Ia pun berteriak memberitahukan keberadaannya.


Tapi belum sempat suaranya menggema, ia ditarik masuk ke ruang pegawai. Ternyata ia ditarik oleh Jong Hyun yang memang ingin stay di toko untuk membaca-baca komik untuk mencari inspirasi. Dan sekarang mereka berdua terkunci.



Bukannya panik, Na Woo malah senang karena bisa berlari-larian dengan troli belanja di toko buku yang kosong. Jong Hyun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulahnya. Ia akhirnya mencari buku yang didapat dan mulai menggambar.



Na Woo akhirnya tahu kalau Jong Hyun adalah kartunis. Setelah menukar nametag dan informasi tahun lahir mereka (mereka sebaya), Na Woo pun bicara banmal pada Jong Hyun. Ia mengomentari pilihan buku Jong Hyun dan menebak kalau Jong Hyun pasti sedang cari ide.


“Kau ini pendiam sekali, ya?” sindir Jong Hyun.

“Kau juga,” jawab Na Woo cuek. “Pepatah mengatakan, semut di seberang lautan tampak gajah di pelupuk mata tak tampak. Ternyata mencari inspirasi juga begitu, kan?” Jong Hyun menahan sabar. Yang ia lakukan ini bukan memaksakan diri, tapi konsentrasi. Na Woo tak setuju, “Jika terasa sulit, itu namanya memaksakan diri. Kalau senang, namanya konsentrasi. Iya, kan? Gambar saja apa yang kau suka. Untuk apa capek-capek memeras otak seperti itu?”

Jong Hyun menarik nafas panjang dan menunjuk toko yang sepi, “Mendingan kau kesana main-main dengan troli belanja saja.”


Tapi Na Woo terus berfilsafat. “Bagiku apa yang sungguh berharga sekarang? Akankah ada jawaban di antara ini semua?” Jong Hyun akhirnya menyuruhnya diam, membuat Na Woo menggerutu kalau Jong Hyun tak sopan.


Ternyata PD Dokko naksir Jong Hyun. Separuh mabuk, ia curhat pada Hae Gong. Dulu ia pernah mengajak Jong Hyun makan malam, tapi ditolak. Ia mengira Jong Hyun sudah punya pacar. Ternyata Jong Hyun memilih pulang untuk menemui kucingnya. Ia kalah telak dengan kucing!

Hae Gong mengatakan kalau bagi Jong Hyun, Bok Gil itu tak ada duanya. Setelah kematian temannya, Jong Hyun sempat berhenti menggambar dan hidupnya bagai zombie. Tapi setelah bertemu Bok Gil, semangat menggambarnya kembali lagi. “Jadi bisa dikatakan kalau Bok Gillah yang telah menyelamatkan Jong Hyun.”

“Karena itu kau.. suka pada Bok Gil atau padaku?” tanya PD Dokko. Hae Gong salah tingkah, tapi belum sempat menjawab, PD Dokko sudah tertidur karena mabuk.


Malam itu hujan lebat turun disertai petir. Sendirian, Bok Gil meringkuk ketakutan di bawah meja. 


Sementara Na Woo yang bosan menunggu, akhirnya ketiduran. Jong Hyun melepas jaketnya untuk dijadikan bantal. Nametag-nya terjatuh lagi dan ia baru melihat kalau ada cap kaki kucing di balik nametagnya itu. Jong Hyun tersenyum dan tahu kalau ini pasti ulah Na Woo.


Hari berganti pagi dan si bos muncul. Panik, ia membangunkan Na Woo. Untung mereka berhasil keluar toko tanpa ketahuan. Di luar, Jong Hyun baru menyadari kalau tadi malam hujan. Ia buru-buru pulang karena khawatir pada Bok Gil. Dan ia melihat Bok Gil ada di bawah mejanya.


Dan kita mendengar suara Bok Gil yang sedih, “Aku pernah dibuang.”


Dan kita melihat pertemuan pertama mereka. Saat itu Jong Hyun baru saja pulang dari rumah abu dengan penuh kesedihan. Saat itu hujan lebat dan ia mmenemukan sebuah kucing kecil yang basah kuyup, kesepian dan lelah. Dan begitulah mereka bertemu. Bagi Jong Hyun, ia dan Bok Gil memiliki kesamaan.


Jong Hyun segera memeluk Bok Gil dan minta maaf karena marah-marah dan membiarkan Bok Gil sendirian. Ia ingat kalau hari ini adalah hari pertemuan mereka 10 tahun yang lalu dan memutuskan kalau hari ini adalah hari ulang tahun Bok Gil, seperti ucapan Na Woo.


Dan jadilah kue ulang tahun dari tumpukan kaleng makanan kucing. Tak hanya itu saja, Jong Hyun membuat karikatur kucing di setiap ujung buku dan membukanya hingga seperti film kartun. Bok Gil terkesima melihatnya dan senang saat Jong Hyun mengulanginya lagi.


Jong Hyun akhirnya melihat semua hasil kekacauan yang ditimbulkan Bok Gil kemarin. Nampak jejak kaki Bok Gil di kertas-kertasnya. Ia mulanya kesal. Tapi melihat jejak kaki dan ingat ucapan sok bijak Na Woo malam tadi, membuat idenya muncul. Ia segera menggambar di kertas bergambar jejak kaki itu.


Bok Gil memandanginya dari balik selimut dan berkata bangga kalau memang harusnya seperti itu. “Aku adalah sumber ilhammu Oke?”

Bab 4 : Biarkan Aku Masuk


Na Woo memotret pemandangan dan melihat Bok Gil yang nangkring di jendela. Ia memotret Bok Gil, membuat Bok Gil menggerutu. “Sok kenal. Huh, setidaknya seleramu oke juga.” Jong Hyun keluar kamar dan mengajaknya untuk melompat. Maksudnya sih olah raga.


Tapi Bok Gil terus nangkring di tempatnya. Andai dia setahun lebih muda, tentu dia mau melakukannya.  Jong Hyun mengambil Bok Gil dan mengancamnya akan memanggilnya nenek jika tak mau bergerak.  Namun tetap saja Jong Hyun memberinya makan sekaleng salmon. Jong Hyun berkata kalau ia akan pergi untuk menemui teman lamanya dan berjanji untuk tak pulang terlalu malam.


Di pinggri jalan, Jong Hyun melihat seorang gadis melambai kepadanya. Ia tersenyum membalas lambaian itu dan berniat menghampirinya. Sebuah mobil lewat di depannya dan saat mobil itu pergi, gadis itu juga pergi. Hilang.


Kita kembali ke masa lalu, 10 tahun yang lalu saat Jong Hyun masih 17 tahun dan bisa melihat gadis itu, Soo In, sepanjang hari. Hari itu ia menggambar Soo In yang sedang main ayunan. Setelah selesai, Soo In berniat untuk melompat. Jong Hyun mengingatkannya kalau tindakan itu bahaya. Tapi Soo In tetap melakukannya.


Jong Hyun bergegas untuk menangkapnya. Tapi ia terlambat. Walau Soo In juga cukup lincah dan bisa melompat dengan mulus dan berkata kalau ia hanya bercanda. Tapi Jong Hyun tetap merasa kesal, hingga Soo In mencium pipinya dan mengaku kalau ia menyukai Jong Hyun. Jong Hyun terdiam, membuat Soo In menagih balasan jawabannya.


Jong Hyun membalasnya dengan bercanda ia akan menjawabnya nanti. Soo In membujuknya untuk menjawab, tapi Jong Hyun tetap tak mau. 


Hingga keesokan harinya ia mendapat kabar dari polisi kalau Soo In meninggal dunia karena bunuh diri, terjun dari kamar apartemennya di lantai 13. Jong Hyun lemas , shock mendengar kabar itu.


Jong Hyun melipat kertas yang ada gambar Soo In sedang bermain ayunan yang dulu pernah ia buat sehingga menjadi kapal. Kapal itu dilarungnya ke sungai. Ia menyesal dulu tak pernah menyatakan suka pada Soo In. Hari itu adalah hari kematian Soo In.


Hae Gong mengatai Soo In kejam karena tak meninggalkan surat wasiat sehingga mereka tak tahu alasan Soo In bunuh diri. Ia meminta Jong Hyun untuk melepaskan Soo In karena Soo In juga dengan mudah melepaskan Jong Hyun  (dengan bunuh diri). Hae Gong meminta pada arwah Soo In agar Jong Hyun bisa bertemu dengan seorang gadis hingga Jong Hyun tak perlu kemari lagi tahun depan. Begitu pula dengan dirinya. Jong Hyun menggoda kalau permintaan terakhir itu butuh keajaiban. Haha..


Sepintas lalu, Hae Gong memberitahu kalau PD Dokko sudah menanti-nanti karya baru Jong Hyun. Mendengar nama itu dari mulut Hae Gong membuat Jong Hyun heran kok sering sekali  Hae Gong bertemu dengan PD Dokko. Hae Gong tak menjawab malah kabur.


Ketika Jong Hyun pulang ke rumah, Jong Hyun mendengar jeritan Na Woo. Na Woo histeris dan menuduh Paman (yang dulu memarahinya) membunuh kucing yang sering ia kasih makan. Paman itu tak terima dan mendorong Na Woo.


Untung Jong Hyun berhasil menangkapnya. Ia juga buru-buru memeluk Na Woo hingga gadis itu tak kena siraman air yang dilemparkan Paman itu. Saat melihat paman itu mengambil sapu untuk menyapu kucing itu, ia meminta agar Paman itu membiarkan mereka untuk mengurus kucing itu.

Na Woo masih menuduh paman itu sebagai pembunuh walau Jong Hyun mengatakan kalau kucing liar pasti akan mati seperti ini. Tapi Na Woo yang histeris, memanggil kucing itu dengan nama Haru dan mengatakan kalau Haru pasti dibunuh oleh paman itu.


Jong Hyun buru-buru memeluk gadis itu kembali dan berkata kucing itu bukanlah Haru dan Haru pasti masih hidup.


Akhirnya mereka pergi untuk mengubur kucing kecil itu. Na Woo berharap kalau kucing kecil itu memiliki saat-saat bahagia. Ia pun bercerita kalau ia pernah kehilangan Haru 7 tahun yang lalu saat ia akan operasi dan menitipkan Haru ke keluarganya. Tapi kemudian keluarganya menghilangkan Haru.


Jong Hyun menghibur Na Woo kalau Haru pasti masih baik-baik saja. Na Woo berterima kasih dan mengambil kemeja Jong Hyun yang kotor karena tersiram air untuk dicuici. Dan Na Woo sekarang kelaparan dan ingin makan jjajangmyun.


Akhirnya mereka makan jjajangmyun, tapi setelah kenyang Na Woo malah menyesal makan banyak, membuat Jong Hyun menggodanya. Na Woo kesal dan berkata kalau ia membenci Jong Hyun.  Jong Hyun malah tambah menggoda, “Jangan membenciku berlebihan. Nanti jadinya malah suka, loh.”


Na Woo menyindir, mengasihani Bok Gil yang harus tahan hidup dengan Jong Hyun dan tak percaya mendengar Jong Hyun tak tahu Bok Gil itu menyayanginya atau membencinya. Bukankah mereka sudah bersama selama 7 tahun. “Jadi kalau Bok Gil tiba-tiba mati, tak masalah buatmu?”


Na Woo minta maaf karena salah bicara. Tapi Jong Hyun berkata kalau ia sudah mempersiapkan diri untuk masalah itu. Ia  merasa Bok Gil itu tambah tua. Dulu melompat ke kursi itu hal yang mudah, tapi sekarang Bok Gil kesusahan melakukannya. Menangkap serangga terbang saja sudah tak bisa dan sekarang Bok Gil agak kurusan.


Padahal di rumah Bok Gil sedang main dengan kumbang. Na Woo berkata memang menyedihkan menyayangi hewan yang umurnya jauh lebih pendek dari mereka. Tapi karena binatang peliharaan itu membuah mereka bahagia, maka yang bisa mereka lakukan hanya menyayangi binatang itu sepenuh hati. Dan Na Woo minta ijin untuk diperbolehkan melihat Bok Gil karena ia penasaran dengan kucing Jong Hyun. Jong Hyun mengangguk.


Sudah malam dan Jong Hyun baru sampai di rumah. Bok Gil mengacuhkan Jong Hyun yang menyapanya dengan gembira. “Sana. Katanya kau akan pulang cepat. Tukang tipu,” Bok Gil menggerutu. Jong Hyun bercerita kalau harinya terasa menyenangkan karena seseorang. Bok Gil menimpali, “Kumbang sialan itu malah bikin aku kesal seharian.”


Karena senang, Jong Hyun pun ingin membuat Bok Gil senang juga dengan memijatnya. Baru juga sebentar dipijat, bel pintu berbunyi, membuat Bok Gil menggerutu lagi, “Siapa itu, dasar tukang ganggu. Selalu saja merusak suasana.”


Jong Hyun kaget melihat Na Woo ada di depan pintunya. Na Woo ternyata melihat Jong Hyun pulang ke apartemen ini saat mabuk dan membawa makanan kucing. Ia juga sempat melihat kucing di jendela. Na Woo ingin menagih janji melihat kucing Jong Hyun.


Bok Gil muncul dan berkata selama 7 tahun tinggal di sini, ia tak pernah melihat satu gadis pun. Saat Na Woo minta masuk, Bok Gil melarang Jong Hyun memasukkan Na Woo. Tapi Na Woo sudah melihatnya. Bok Gil berkata “Jangan-jangan..”


Komentar :

Jangan-jangan apa, ya?

Jangan-jangan dia adalah gadis yang membuangku atau jangan-jangan dia ini mau mengambil manusiaku? 

Lucu liat Bok Gil yang memanggil tuannya dengan manusianya, bukan Jong Hyun. Eh.. apa jangan-jangan dia ga tau nama tuannya, ya?

Banyak yang bilang kalau akting Na Woo ga bagus. Tapi menurut saya yang paling buat ganggu untuk saya di drama ini adalah, kenapa Bok Gil jarang mengeong. Kita mendengar suara Bok Gil yang menarasikan pikirannya, tapi kok ya nggak mengeong ya? Apa jangan-jangan Bok Gil itu kucing bisu, ya?

Padahal kayaknya lebih hidup kalau Bok Gil mengeong. Misalnya pas ulang tahun, kan seru tuh mendengar Bok Gil mengeong-ngeong kegirangan. Kayak manusia ngomong aja. Intonasi ngeong kan juga macam-macam.


3 comments :

  1. Kasihan Bok Gil waktu di bawah meja :(
    Lho, jadi Bok Gil gak mengeong sama sekali? Aku pikir waktu narasiin pikirannya dia sambil mengeong (efek gak lihat dramanya, cuma baca sinopsisnya)
    Aku kurang sreg sama Na Woo, gak tau kenapa padahal belum lihat dramanya. Tapi berhubung yang main Yoo Seung Ho sama si kucing, tetep suka aja deh hehehe...

    ReplyDelete
  2. lucu banget kucingnya, jadi gak sabar liat episode 3 nya

    ReplyDelete
  3. mbak, ost.nya dong. nyari2 susah nih.

    ReplyDelete