December 31, 2015

Imaginary Cat Episode 6

Imaginary Cat Episode 6

  
Jong Hyun mencicipi supnya, bingung karena rasanya aneh. Ia menoleh ke Bok Gil, “Seperti ada yang kurang.”

Lah, Bok Gil mana tahu. Ia jadi nggak yakin (supnya bisa dimakan atau nggak) wkwkwkwk.


Tuannya masih berusaha menebak-nebak apa yang kurang dengan mencicipinya lagi...

Sampai bel berbunyi.


“Siapa?”

“Jong Hyun-ah, Ini aku.”


Dan Jong Hyun pun tahu yang ada di balik pintu itu adalah Na Woo. “Ya, Bok Gil-ah, kau beruntung sekali kalau soal makan.”


Nggak tahu aja Jong Hyun kalau Na Woo ke sana mau meminta Bok Gil. Na Woo berkata dia sudah melihat foto masa kecil Bok Gil dan melihat bel yang dibuatnya terkalungkan di lehernya. Woah, apakah Na Woo suka berjalan kalau tidur?

Jong Hyun tidak percaya Na Woo bisa mengambil kesimpulan begitu. Bok Gil adalah Haru?


“Pulanglah dan lanjutkan mimpimu. Hingga Bok Gil datang dan bilang dia bukan Haru, tetaplah tidur dan jangan bangun,” kata Jong Hyun meminta Na Woo pergi.


Na Woo yang didorong keluar tentu saja membantah, “Tetapi aku melihatnya di foto...”


Jong Hyun seakan tak dengar, “Tidurlah...mimpi indah...”

Pintu pun tertutup. Ucapan Na Woo tak dihiraukan. Jong Hyun yang heran jadi bergumam, “Apa yang dipikirkannya?”




Eeeeeeh, supnya hangus! Jong Hyun langsung mematikan kompor dan membuka tutup panci yang masih panas. Benar saja, airnya habis nggak jadi sup karena tadi nggak dimatikan atau dikecilkan.

Bok Gil menyahuti perkataan Jong Hyun, “Dari sudut pandang kucing sendiri, aku juga berpikir dia gila.” LOL baru tahu... Tapi jika Bok Gil  memang Haru, apakah Bok Gil lupa ingatan atau memang tidak bisa mengingat kenangannya dulu ya?


Bab 11 Rahasia yang Tak Dapat Kuungkapkan


Jong Hyun pamit pada Bok Gil, “Bersenang-senanglah! Aku pergi.”

“Ya, ya...jangan khawatir!” balas Bok Gil. Ia tampak senang, sesekali mengintip ke arah pintu memastikan Jong Hyun pergi. Sekarang ini dunianya. 


Melihat bungkus makanan yang menggoda, Bok Gil mengintip dan bruk. Bungkusan itu terguling, memuntahkan isinya. Ups, ia nggak maksud gitu. Namun Jong Hyun yang datang terlanjur melihatnya.


Jong Hyun mengomel, “Bok Gil-ah, tidak bisakah kau makan dengan bersih?” Jong Hyun akan membersihkannya sekembalinya nanti, jadi makannya sedikit saja ya!


Ha. Bok Gil kaget Jong Hyun masih di sana ternyata. Tapi sekejap dia sudah ada di dekat kompor menjilati wajan. Aduuuuuuuh.


Ini yang Bok Gil sebut dengan bersenang-senang. Dan manusianya hanya tak mengenalnya dengan baik. Dari kompor, ia santai di bak cucian piring. Lalu berjalan pelan ke meja gambar Jong Hyun. Membuka dan menjilati buku (yang ada gambar makanan) di lantai lagi setelahnya.


Ia mengaku bisa membaca, tapi tidak memperlihatkannya. Bisa juga bercermin dan tahu betapa cantik dirinya. Cuma ini rahasia, katanya. Ckck.


Beralih ke Na Woo. Ia tengah membandingkan foto Bok Gil dulu dengan foto Haru. Keduanya memakai kalung bel yang sama. Mereka juga mirip.

Ah, tapi Na Woo sadar kalau dia seperti orang gila kemarin. Meminta kucingnya kembali pada seorang yang telah merawatnya selama 7 tahun rasanya sedikit...

Padahal harusnya dia malah bisa tidur tenang jika Haru adalah Bok Gil.

Wan nyeletuk, “Kau ingin mengonfirmasinya?”


Na Woo mengiyakan bila memang ada cara. Wan kemudian memberitahu ia bisa melakukannya. Tinggal mengetes DNA dari rambut Haru dan Bok Gil saja...


“Wah, kau benar-benar yang terbaik!” Na Woo memuji Wan sebelum langsung berlari membuka kotak yang berisi barang-barang Bok Gil.

Wan yang ditinggal speechless. Ia sudah membusungkan dada dan mau mengoceh macam-macam kayaknya.


Na Woo menemukan rambut Haru di atas sebuah kain. Begitu pula dengan rambut Bok Gil. Bok Gil kan sempat berfoto di kafenya. Tapi ia ragu untuk meneruskan niatnya mengingat betapa panik dan sedihnya Jong Hyun ketika Bok Gil menghilang. Ia mendesah pelan sambil menutup kedua kantong plastik berflip tempat sampel tes DNA di tangannya.


Pagi-pagi Jong Hyun sudah didekati Bos. Bos menyuruh Jong Hyun melakukan apa yang ia bilang. Bila ia diminta menawarkan bantuan di sudut baca anak-anak, Jong Hyun harus melakukannya. Tegakah Jong Hyun melihat Penyair Heo (sepupu Na Woo) menaruh buku-buku sendirian? Bos memperlakukan Jong Hyun sebagai pegawai tetap.

Jong Hyun gantian bicara. Ia minta dibayar penuh kalau begitu. Bos balik mengatainya tidak perhatian. Memang, seloroh Jong Hyun.


Bos berusaha semaksimal mungkin merayu Jong Hyun. Ia berkata bukan karena ia suka Penyair Heo. Hanya...apakah terlalu berlebihan minta tolong rekan kerja untuk saling membantu?

Jong Hyun menjawab pasti, “Tidak mau. Anda yang menerima semua pujian, sementara saya yang melakukan semua perintah anda.”

Bos pun kesal. Ia menyuruh Jong Hyun kerja lembur. Jong Hyun tak menyerah. Ia mengambil hpnya beralasan dia sepertinya punya nomernya penyair Heo. Wkwkwk. Bos akhirnya malah bertanya, apakah dia melakukan kesalahan?


Jong Hyun memanfaatkan kesempatan ini untuk membalik keadaan. “Aku tidak harus lembur kan?”
Bos membenarkan. Itu tugasnya pegawai tetap, bukan pekerja paruh waktu seperti Jong Hyun. Dengan wajah mupeng memandangi hp Jong Hyun, Bos bertanya berapa nomernya. 


Namun Jong Hyun ngeluyur, “Sepertinya aku lupa menyimpannya...” hihihi bisa deh!


Bos meminta agar buku-buku tidak menghentikannya. Menghentikan amarahnya maksudnya. Aneh -.-


Jong Hyun menempel daftar 50 buku terbaik dan ia melihat Beautiful Mind, buku karya Jin Seung menduduki posisi pertama. Ia mengingat masa lalu.


Flashback

“Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah,” kata Jong Hyun pada Jin Seung.

Namun Jin Seung menjawab tidak.

Jong Hyun lantas meninggikan suaranya. Mereka bertiga (bersama Hae Gong) mengerjakan project itu selama 6 bulan sampai tidak makan dan tidur, tetapi Jin Seung mengumpulkan project itu atas namanya dan kini ia tidak mengatakan apapun?

Jin Seung tidak terima, mengatakan bahwa ia juga menggunakan uangnya untuk membeli cat, kertas, dan bahkan makanan untuk mereka. Ia berinvestasi untuk itu maka itu miliknya, jadi apa salahnya?


Hae Gong naik darah, menarik kerah Jin Seung. Ia baru tahu bagaimana Jin Seung sebenarnya. Ia hendak memukul Jin Seung, dan Jin Seung menantangnya, “Kalau kau mau memukulku, pukul saja. Bila itu membuatmu merasa lebih baik, pukul saja.”

Tapi sebelum pukulan itu melayang, Jong Hyun mencegahnya. Ia ingin mendengar alasan Jin Seung dulu. Gemes banget Jin Seung baru mengungkapnya setelah dibentak.

“Semuanya karena dirimu. Kau bisa sukses tanpa itu. Kau bisa memenangkan kompetisi berikutnya. Kau sangat mampu melakukannya. Sedangkan aku tidak punya bakat...”


Hae Gong dan Jong Hyun terpaku. Apalagi ketika Jin Seung masih membela dirinya, bilang bahwa ide project itu bukan ide yang bisa muncul dari Jong Hyun seorang. Apakah Jong Hyun punya bukti kalau itu idenya?


Jong Hyun yang selesai mendengar alasan Jin Seung mengajak Hae Gong pergi. Yang diajak nggak mau. Masa mau diabiarin si Jin Seung ini? Ia masih mengamuk berusaha melepaskan tangan Jong Hyun yang menahannya, bagaimana bisa kau lakukan ini? Bagaimana bisa seorang teman melakukan ini?

“Karena kita teman, kau akan mengerti mengapa aku melakukannya. Ini juga sulit untukku!” Jin Seung masih belum berhenti. 


Sehingga Jong Hyun perlu membungkamnya dengan bogem, “Aku tidak butuh teman sepertimu.” YEAH!

Flashback end.


Malam ini pun Hae Gonglah yang menemani Jong yun makan malam. Menu: Ramen dan kimbap segitiga. Menu yang sama terus tiap hari sampai Hae Gong jengkel. Pokoknya setelah Jong Hyun memenangkan kompetisi webtoon itu atas Jin Seung, pertama-tama ia harus keluar dari toko buku. Ia bercerita bagaimana Jin Seung ditraktir Direktur Plus Webtoon di salah satu restoran Jepang terbaik. 

Jong Hyun berkomentar santai, dia hanya akan menunggu. Bukannya dia sibuk di toko buku sampai tidak bisa melakukan banyak hal seperti Jin Seung. Hanya saja itu menyebalkan.

 

“Bagaimanapun, keluarlah. Dengan begitu kau bisa punya waktu mengencani Na Woo,” ujar Hae Gong akhirnya.

Jong Hyun jadi inget perkataan ngelantur Na Woo tentang Haru dan Bok Gil. Tapi ia tidak membahasnya lebih lanjut pada Hae Gong. Cukup dengan Na Woo.


Tiba-tiba yang diomongin dateng. Na Woo yang arti namanya sama dengan ‘sekarang’ sudah duduk di hadapan mereka. Walah, dikirain Hae Gong ada hantu yang lompat ke kursi di sebelahnya tadi.

Na Woo nggak basa-basi menanyakan kesediaan Jong Hyun untuk ikut dengannya melihat kucing yang mereka temukan sebelumnya diadopsi. 


Jong Hyun menjawab, nggak masalah. Bukankah Na Woo bilang pemiliknya yang baru baik, jadi nggak apa-apa.

Hae Gong sontak berdiri membisiki Jong Hyun. Memberi isyarat itu bukan sekedar ajakan biasa kalau wanita berkata demikian. Haha Jong Hyun meringis mengatakan lagi pada Hae Gong, sudah kubilang bukan begiitu.


Jong Hyun tidak menganggap Na Woo menyukainya. Ia pikir Na Woo hanya menyukai Bok Gil karena mirip dengan Haru. Makanya, bukan begitu, bukan begitu, Hae Gong-ah...   


Yang keliatan suka sama Jong Hyun di depan pintu tuh. Nunggu penuh kesabaran, Bok Gil meratap. “Aku suka waktu menyendiriku. Tapi tidaklah menyenangkan jika aku sendiri terlalu lama.”


Sambil berjalan berdampingan dengan Jong Hyun, Na Woo bercerita kucing itu ia namai Doong Yi dengan harapan ke manapun si kucing pergi, ia akan mendapatkan banyak cinta. Jong Hyun menyukainya. Ia melanjutkan jalan hingga Na Woo mencegahnya.


Jong Hyun tahu ada yang ingin dikatakan Na Woo. Ia meminta Na Woo mengatakannya sekarang.


Dan Na Woo menyampaikan permintaan maafnya. Na Woo jujur mengutarakan keinginannya untuk meminta izin Jong Hyun. Ia memiliki rambut Bok Gil dan ia ingin melakukan tes DNA. Tidak pantas rasanya sebelum ia meminta izin pada pemilknya. Na Woo menekankan ia hanya ingin tahu apakah Bok Gil adalah haru atau bukan. Tidak ada yang lain.


Jong Hyun jelas tidak percaya setelah apa yang dikatakan Na Woo malam sebelumnya.

Na Woo menyesalinya juga. Ia terlalu emosi waktu itu. Tapi kalung belnya Haru hanya satu karena ia buat sendiri. Makanya aneh Bok Gil bisa memakainya.  “Izinkan aku melakukan tesnya,” pinta Na Woo.

Jong Hyun menyimpulkan ajakan ke kucing besok adalah alasan. Tapi Na Woo berkilah, itu benar.

 

“Ya, kau pasti sangat sibuk. Mencoba dengan bermacam rencana untuk mengambil Bok Gil di belakangku. Apakah Bok Gil Haru atau bukan, kau melakukan tes atau tidak, lakukanlah sesukamu. Tidak ada hubungannya denganku,” Jong Hyun kesal. Ia tidak ingin Na Woo muncul di depannya lagi.


Sepulangnya ke rumah, Jong Hyun disambut Bok Gil yang tidak bosan menanyainya mengapa pulang terlambat. Jong Hyun menggendong Bok Gil, balik bertanya keadaan kucingnya.

“Kau tidak tampak gembira melihatku,” tebak Bok Gil melihat wajah manusianya. Padahal ia ingin main. Kan Jong Hyun udah di rumah^^


Jong Hyun menerawang di tempat tidur. Ia menggelitik Bok Gil, lalu menanyainya kembali.


“Bok Gil-ah, kau ingat kalung bel?”

Bok Gil yang diangkat Jong Hyun nggak ngerti, “Apa itu? Sesuatu yang dapat kumakan?” :P


Jong Hyun lantas melepas kalung bel yang dikenakan Bok Gil sekarang. Ia bandingkan dengan kalung yang 7 tahun lalu juga dikenakan Bok Gil saat ditemukan. Mereka serupa. Beda ukuran. Jong Hyun yang terus merenung hingga pagi memutuskan menyimpannya lagi dalam laci.

Na Woo pun memutuskan untuk tidak melakukan tes. “Ah, aku tahu bagaimana Jong Hyun menyayangi Bok Gil. Aku pasti gila!”

“Kau seperti ini karena tidak dapat bertemu Bok Gil, atau...”


Ditanyai Wan begitu, Na Woo menjawab dia tidak tahu. “Aku merusak semuanya,” ujarnya seraya membuang sampelnya ke tempat sampah di klinik Wan.


Wan memandangi punggung Na Woo dan sampel yang dibuangnya.


Bab 12 Hari Kebenaran

Esoknya, Wan bertanya pada Na Woo mengenai apa yang ia lakukan jika tahu Bok Gil adalah Haru. Na Woo menjawab, karena orang baiklah yang membesarkannya (Jong Hyun), ia merasa lega.

“Hanya itu kan? Nggak ada hubungannya sama Jong Hyun?” tanya Wan memastikan.


Namun jawaban Na Woo berikutnya makin membuat Wan penasaran. Na Woo berkata kalau Jong Hyun tidak tertarik dengannya. Terus Na Woo gimana?

Yang ditanya berkata dia hanya terus berpikir kalau Bok Gil seperti Haru. Karena itu Jong Hyun prihatin padanya.  


Wan akhirnya menyimpulkan, ketika sudah mendapatkan konfirmasi Na Woo tidak akan memikirkan Jong Hyun lagi. Jadi dia yang meminta tes itu dilakukan. Emang deh Wan keliatan semangat 45 buat Na Woo.


Lalu kita bisa melihat Na Woo mendatangi Jong Hyun, memberitahukan hasil tes yang membuktikan Bok Gil bukanlah Haru.


Na Woo memeluk Jong Hyun untuk menutupi ekspresi sedihnya. Padahal Jong Hyun saja heran, bagaimana Na Woo bisa mengatakan ‘syukurlah’. Syukurlah kalau Bok Gil bukan Haru? Bukankah artinya Haru nggak tahu di mana?

Btw, Jong Hyun agak gimana gitu dipeluk Na Woo :)


Bok Gil menganggap tuannya udah tingkat serius. Mencurigakan tadi Jong Hyun pergi tiba-tiba. Ia mau tidak terlihat bertanya-tanya, tapi akhirnya tetep penasaran. “Apanya yang syukurlah?” Haha.


Jong Hyun tersenyum. Ia mengaku ia salah paham, jadi ia memakaikan lagi kalung bel dari Na Woo. Menganggapnya bukan satu-satunya dari Na Woo. Ia mengajak Bok Gil berbincang, “Kau ingat pemilik lamamu?”

Bok Gil mantap berseru, ia ingat sosis! Jong Hyun membalas, bagaimanapun itu tidak benar...


Jong Hyun sudah menganggap Bok Gil bukan Haru Ia mengangkat kucingnya tersebut ke tempat tidur menemaninya berbaring. Ia senang karena malam ini bisa tidur nyenyak setelah mendengar berita Na Woo.

Tapi Bok Gil belum ingin tidur, “Jangan hanya mengelusku, aku mau sosis!” :D


Bos mengambil salah satu buku penulis Heo berjudul ‘Kecantikan adalah benih air mata’^^” Jong Hyun menghampiri, bercerita dia ditegur Boss kemarin. Guling-guling saya selama ini salah sebut Bos, padahal senior.



“Boss ingin tahu kenapa buku itu ada di jejeran Best Seller,” tambahnya. Jong Hyun berniat memindahkannya dan membocorkan yang menyuruhnya meletakkan di sana adalah seniornya.

Si senior menghentikannya. Bilang saja kalau ada banyak pelanggan mereka yang mencarinya.


Jong Hyun tidak setuju. Nggak ada kok yang nyari.


Mereka berdua sudah mau berdebat panjang kala penulis Heo tiba. Ia terkejut ada bukunya di pojok Best Seller. Penulis Heo jadi memuji Kepala Ma Sang Do di hadapannya yang mengaku sedang membersihkan bukunya dari debu. Itu membuatnya tersentuh.


???

 

Dan Ma Sang Do pun bercengkrama dengan penulis Heo. Topik: buku baru yang akan ditulis penulis Heo.


Karena sudah tahu apa yang akan ditulisnya, Kepala Ma menunjukkan letak buku yang bisa memberi inspirasi.

Jong Hyun menghela nafas mendengar topik mereka, “Oh...ada banyak cara untuk menjual buku.”


Waktunya olahraga. Hae Gong dan Jong Hyun bermain basket di lapangan. Jong Hyun berkali-kali berhasil memasukkan bola ke ring. Hae Gong bosan. Apakah dia perlu mengajak Na Woo memainkan permainan lain?


Jong Hyun tidak suka Hae Gong seperti itu. Sikap Na Woo kepadanya adalah karena Bok Gil. Berkali-kali Jong Hyun mengatakannya Hae Gong tetap tidak percaya. Semakin Jong Hyun mengelak, Hae Gong tambah berniat menelisik. Ngomong-ngomong kenapa Na Woo tidak datang hari ini ya? Kapan terakhir Jong Hyun melihatnya?


Jong Hyun menjawab sekenanya, ia tidak tahu. Hae Gong berkomentar, mungkin Na Woo lelah pula. Harusnya dia menerima sesuatu, seperti senyum atau jepit untuk dipasangkan ke rambutnya. Dengan begitu dia akan tahu perasaan Jong Hyun.


Namun Jong Hyun mengaku tidak tertarik dengan Na Woo. Mendengarnya, Hae Gong gemas, “Kau seperti ini sebelumnya, dasar! Dengan Soo In kau selalu bilang ‘Kami tidak pacara, tidak pacaran’.”

Eits! Hae Gong segera memukul mulutnya. Sadar telah salah bicara. Baiklah, semua itu masa lalu. Fokuslah pada yang sekarang: Na Woo.


Apakah dia sakit? Biasanya nyariin Bok Gil, tapi hari ini nggak. Jong Hyun tampak berpikir...


Malam menjelang, Jong Hyun pergi ke kafe Na Woo. Tanpa sengaja ia mendengar penulis Heo bertanya alasan Na Woo sedih walau tahu Bok Gil adalah Haru.

 

Na Woo menyangkal. Ia bahagia kok tahu Haru punya pemilik yang hebat seperti Jong Hyun. Namun bila Jong Hyun tahu, dia mungkin akan dibenci. Sebelumnya ia sempat meminta Bok Gil dikembalikan padanya. Na Woo tidak tahu mengapa dia selalu gugup di depan Jong Hyun sampai sering membuat kesalahan begitu.

“Bok Gil, aku, dan Jong Hyun...apakah ada cara kami semua bisa bersama?”

“Mari cari caranya,” penulis Heo memeluk sepupunya. Ia lantas pamit pergi, “Kerja bagus.”

 

Jong Hyun tak ragu menemui Wan untuk mendesaknya mengungkapkan hasil tes DNA. Ia juga bertanya apakah Na Woo melakukannya meski tanpa izinnya?


“Demi kenyamanan pasien, sulit bagiku menjawabnya. Na Woo ragu, jadi aku yang melakukannya.”


Jong Hyun merasa dengan demikian ia punya hak untuk tahu. Tidak ada yang berhak selain dia, yang merawat Bok Gil.


Na Woo tengah membuka-buka foto waktu di kafe dulu. Ada Bok Gil dan Jong Hyun. Owwww, Na Woo tersenyum melihatnya.

Ia dikagetkan Jong Hyun yang langsung masuk dan duduk di hadapannya. Ada apa selarut ini?

 

Jong Hyun sudah tahu semuanya tentang Haru sehingga ia ingin bertemu Na Woo. Duh, jadi romantis dan mengharukan.


Jong Hyun lalu mengajak Na Woo bertemu Bok Gil. Bok Gil mulanya tidak suka melihat Na Woo. Apalagi Na Woo memanggilnya Haru. Bok Gil tidak mengingat Na Woo rupanya. Bok Gil berjalan menjauh, tetapi Na Woo menjulurkan sosis (ikan?) kesukaannya.

 

“Aku harusnya tidak melakukan ini,” kata Bok Gil menentang tubuhnya haha. Kau kan suka sosis...


Na Woo memeluk Bok Gil, berterimakasih kucing itu sudah tumbuh dengan baik hingga kini.

Bok Gil  sesumbar, “Apakah kau menyukaiku sebesar ini? Aku suka, aku suka.” >.<


Terbayang di pikiran mereka saat-saat bersama Bok Gil.


Jong Hyun memilih melanjutkan pekerjaannya. Membiarkan Na Woo membelai Bok Gil yang bersantai di depannya.


Jong Hyun : Bok Gil adalah Haru atau Haru adalah Bok Gil bukanlah masalah bagiku. Bisa bersama sudah cukup. Dulu aku percaya ini akan berakhir selamanya tanpa ragu sedikitpun.

Komentar:

Senengnya liat Jong Hyun bisa tersenyum bisa berbagi Bok Gil dengan orang lain. Semoga hubungan keduanya langgeng ya sampai akhir episode. Tapi kayaknya kurang sedep deh kalau cuma gitu aja.

Oh ya, lebih panjang nih recapan kali ini di bagian awal. Di bagian akhir sengaja dipersingkat takut kepanjangan (cuma 30 menit soalnya) hehe. Mian...

Ngomong-ngomong upload subnya drama ini tambah cepet. Padahal saya masih inget sebelum-sebelumnya nunggu sampai akhir minggu baru muncul subnya. Apalagi episode 1 :P

4 comments :

  1. Kamsahamnida sha udh post episode ini, blm smpet download di kantor karna keburu cuti akhir bulan kmaren hahahaha :D abis baca sinopsis ni drama, jd suka agak aneh klo ngajak ngobrol kucing jd nyaa haha takutnya aku ngomong apa jawab kucingnya apaa tau di dlm hati wakakakaka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak^^
      Haha dalam hati siapa tahu, kecuali bisa telepati beneran...

      Delete
  2. Setelah melihat interaksi bokgil sm jong hyun, jadi sering ngajak main kucing di rumah, terutama main "tembak2an". Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin tujuan dibikinnya jg karena itu wkwkwk
      Menyuarakan isi hati pecinta kucing :)

      Delete