December 26, 2015

Imaginary Cat Episode 5

Imaginary Cat Episode 5

Sinopsis Imaginary Cat Episode 5

Sepertinya Jong Hyun masih mengantuk saat gosok gigi karena dia menggunakan tangan kanannya tanpa sadar. Tapi...tangannya sudah tidak sakit!


Selesai gosok gigi, Jong Hyun segera melepas perbannya. Ia berseru riang pada Bok Gil. “Bok Gil-ah, tanganku sembuh sepenuhnya!”


Bok Gil yang mendengarnya tidak terlalu senang. Ribut banget. Hahahaha. Jong Hyun langsung mengajak Bok Gil latihan tangan dengan mengangkat-angkat badannya menggunakan satu tangan saja. Ya, dengan tangan kanannya yang baru sembuh itu.

Dan Bok Gil tambah sebal, “Pusiiiiiiing!” :P

Jong Hyun nggak peduli, “Bagaimana? Tangannya sudah baikan kan? Cuma kayaknya Bok Gil tambah berat ya?”

Begitulah Jong Hyun bertanya-tanya sendiri. Ia lalu mengajak Bok Gil latihan lagi. Main tembak-tembakan dengan tangan Bok Gil sebagai senapannya. Dor dor dor dor dor. Ampun deh -.-


Lelah bermain, Jong Hyun kembali ke pekerjaannya. Bok Gil menggerutu, udah? Baru juga mulai. Hhhh, tuannya selalu seperti itu.


Beberapa saat kemudian, Jong Hyun yang serius menyelesaikan garapannya merenggangkan otot-ototnya. Senyum bahagianya mengembang, “Bok Gil-ah, aku sudah selesai!” 


Ia kembali mengangkat Bok Gil sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur, bilang kalau dia akan bermain apapun dengan Bok Gil.

Setidaknya sampai dia sadar deadlinenya tiba. Ia buru-buru pamit dan meralat kata-katanya tadi, “Aku akan pulang cepat dan bermain denganmu, jadi tunggu ya.”

Bagian lucunya adalah tanggapan Bok Gil sambil mendesah, “Kalau aku percaya pada kata-katamu, aku tidak jadi kucing, tapi anjing.” LOL. Ada yang terinspirasi bikin Imaginary Dog?


Bab 9 Arti Dirimu

Air muka PD Dokko membuat Jong Hyun tegang. Tapi ketika melihat air muka itu mencair dan wanita di hadapannya memuji karyanya, ia sumringah.


“Tidak bisa terus menghubungimu, dan kau berkata tanganmu sakit. Project ini sangat dramatis, bukan?” Saya setuju. Nah ini buktinya, jadi drama.


Jong Hyun minta maaf sudah membuat mbak PD khawatir. Tapi PD Dokko malah balik mengucapkan terimakasih karena Jong Hyun telah memberinya bukti bahwa penilaiannya tentang Jong Hyun tidak salah. Jong Hyun juga berterimakasih PD Dokko telah percaya padanya. Jujur, kalau bukan karena Hae Gong, tidak mungkin rasanya.

“Benar, Hae Gong kita bisa diandalkan ternyata,” ujar PD Dokko memuji Hae Gong.

Eh? Jong Hyun nggak salah dengar? Ia bertanya, “Hae Gong kita?”


PD Dokko ngeles, ia mendadak lupa marga Hae Gong tadi. Harusnya bukan ‘urri’, tapi Yoo Hae Gong. Ia mengalihkan topik, mengajak Jong Hyun minum-minum. Jong Hyun sudah berusaha menolak pelan (ada janji sama Bok Gil^^), sayang PD Dokko tidak mau terima. Kali ini tidak.


Di tempat yang dituju sudah ada Hae Gong yang booking tempat. Mbak PD yang mengundangnya. Membantu penulis Hyun, sama saja dengan membantu dirinya, jadi dia hendak mentraktir.

Hae Gong tersanjung mendapat undangan dewi cantik dari industri webtoon.

Tapi Jong Hyun mengernyit mendengarnya, “Dewi?”

Haha, pokoknya mari bersulang atas debut Jong Hyun!


Namun lagi-lagi Jong Hyun dibuat bingung melihat Hae Gong yang mau menyuapi PD Dokko. Hae Gong pun nggak tahan, akhirnya merangkul bahu sang PD dan mengungkapkan status mereka yang sedang pacaran.

 

Reaksi Jong Hyun biasa saja malah menuangkan minuman ke gelas PD Dokko. PD Dokko tertawa agak terpaksa, bagaimana Jong Hyun tahu padahal mereka sudah berhati-hati selama ini? Ia menyalahkan pacarnya. Tapi Hae Gong memang tidak mau merahasiakannya. Ia meraih tangan PD Dokko dan menggenggamnya untuk diperlihatkan pada Jong Hyun. 


Jong Hyun hanya tersenyum manis.


Acara mereka belum usai meski malam semakin larut. PD Dokko yang agak mabuk jadi meracau. Ia mengevaluasi karya Jong Hyun yang tidak punya sisi romantis. Sama sekali tidak ada. Berbeda dengan PD Dokko dan Hae Gong.

Jong Hyun mengakuinya. Namanya juga orang pacaran. Karena itu, Hae Gong menyarankan Jong Hyun pacaran. Na Woo kan baik? Suka sama Jong Hyun pula.


PD Dokko nggak mau kalah, dia menganalisa lewat karya Jong Hyun yang menurutnya mencerminkan penulisnya. Jong Hyun seperti punya kegelapan dalam hatinya. “Apa itu?”


Jong Hyun memilih tidak menjawab, menghabiskan minumannya. Sebelum pulang, ia merenung sendiri di ayunan taman. Soo In yang tiba-tiba ada di sebelahnya, bertanya apa yang dipikirkan Jong Hyun. Jong Hyun menoleh.

“Gambar-gambarmu sangat bagus,” puji Soo In.

Ia mengaku sudah melihatnya... Gambar-gambar yang dilarungkan Jong Hyun di setiap peringatan hari kematiannya. Bagaimana ia tak tahu, ia kan tahu semua tentang Jong Hyun.


Jong Hyun membalas lemah, Ia tidak tahu apapun tentang Soo In. Soo In lantas membalas, toh Jong Hyun tetap menyukainya. Dan Jong Hyun mengangguk. Jong Hyun-ah T.T

“Kau juga telah bekerja keras hari ini,”


Demikianlah Soo In mengakhiri percakapannya. Jong Hyun sebenarnya hendak berbicara lebih lama, namun bayangan Soo In telah menghilang. Membawa pergi senyuman yang sempat tersungging ketika berbincang dengannya. Ketenangan malam merengkuh Jong Hyun dalam diam.  


Na Woo sedang melihat-lihat blognya (Ibu Kucing) yang ternyata diisi banyak foto kucing, ketika Lee Wan datang ke kafenya.

“Apakah kucingnya yang cantik atau fotografernya yang handal?” tanya Wan.

Na Woo tersenyum, “Bukankah keduanya?”


Ia kembali menghadap laptopnya, sementara Wan mengajaknya ngobrol terkait foto-fotonya yang banyak. Bisa dimasukkan galeri tuh.


Na Woo menanggapi memang ada orang-orang yang ingin membeli fotonya setelah mereka melihatnya di blog. Namun sulit merekrut orang untuk membantunya. Dia ingin mengabadikan gambar kucing jalanan yang hidup bahagia sesudah diadopsi.

Wan antusias menawarkan bantuan, “Apakah aku perlu menanyai pelangganku?”

Na Woo sangat senang. Beruntungnya dia punya teman seorang dokter hewan. Memori Wan terpantik, “Tidakkah kau ingat pernah berkata dokter hewan itu tipe idealmu?”

Lah, iya ya? Na Woo tampak tidak mengingatnya. Wan cemberut saudara-saudara. Sedetik kemudian Na Woo teralihkan panggilan telepon Hae Gong yang mengajaknya ke suatu tempat. Ia pamit pada Wan yang terpaku ditinggal olehnya. “Siapa (lagi) Hae Gong?” :D


Matahari terik tidak cukup ampuh membangunkan Jong Hyun. Bok Gil yang melihat rumah berantakan jadi mengomel tak beda seperti cewek umumnya.


Telepon Jong Hyun berbunyi, panggilan dari Hae Gong yang mengajaknya bersepeda. Namun Jong Hyun tidak mau beranjak. Bersepeda saja sendiri, katanya.

“Keluarlah, kataku! Aku juga butuh waktu untuk diriku. Benar-benar...” Bok Gil turut mengusir Jong Hyun wkwkwkwk.


Jong Hyun berakhir dengan balapan sepeda bersama Hae Gong. 


Hae Gong sih pake acara bikin keributan. Teriak-teriak di depan kamar ngungkit utangnya Jong Hyun yang makan ramen dengannya waktu itu.


Tetapi seperti yang kita lihat, balapan mereka malah mengantarkan Jong Hyun bertemu dengan Na Woo. Bagaimana Na Woo bisa di sini?


Na Woo menjawab polos dia di sini diajak Hae Gong bersepeda bersama. Jadi mana Hae Gong?

Jong Hyun melihat sekelilingnya. Tadi bareng kok. Ia lalu membaca sms Hae Gong untuk menjaga Na Woo dengan baik. Jong Hyun membalas langsung tanpa sms, “Kubilang tidak!” Hahahaha Na Woo heran, apanya?

Oke, karena Hae Gong yang katanya mau mengajarinya naik sepeda nggak datang, bagaimana kalau Jong Hyun yang menggantikan Hae Gong? Ia sangat ingin belajar dulu, tapi ia tidak bisa karena ayahnya menganggapnya berbahaya (untuk dirinya yang sakit waktu itu). Lagipula kenapa Hae Gong tidak datang?


Maksudnya supaya bisa bikin scene belajar-sepeda-romantis antara Jong Hyun-Na Woo. Saya nggak nyangka aja, meski Jong Hyun ngajarinya setengah hati, belajarnya bisa sampai malem juga ya?


Na Woo pulang dibonceng Jong Hyun. Namun Na Woo yang mengolok kemampuan Jong Hyun sebagai pelatih, membuat Jong Hyun kesal hingga mendesaknya turun dari sepeda. Na Woo yang ditakuti seperti itu, memeluk Jong Hyun erat. Jong Hyun terkejut dan menghentikan sepedanya. 


Mereka berdua pun jalan beriringan dengan Jong Hyun yang menuntun sepeda.

“Kau bilang, kau menemukan Bok Gil di jalan ya? Ketika kau melihatnya pertama kali, dia tidak terluka kan?”

Jong Hyun membenarkan. Bok Gil sangat sehat dan kuat. Na Woo lega mengetahuinya.

Ketika ditanya balik Jong Hyun apakah ia akan terus mencari Haru, Na Woo juga mengiyakan. Membuat Jong Hyun penasaran, apa yang akan dilakukan Na Woo kalau ketemu?

“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menemuinya sekali lagi.”


Perbincangan mereka belum berhenti sampai di kafe Na Woo. Na Woo yang sedang mempersiapkan pameran foto hewan terlantar yang hasilnya didonasikan ke penampungan hewan, meminta izin untuk memotret Bok Gil. Ia pemenang kontes foto lho.

Na Woo tidak melanjutkan omongannya sebab Jong Hyun menyelanya dengan isyarat. Jong Hyun mendengar suara kucing dekat sana.


Benar, ada anak kucing di sebuah gang. Na Woo akan mengambilkan makanan dari kafe,


sebelum seorang ahjussi setengah mabuk berseru akan menyingkirkan semua kucing di sana. Waduh! Jong Hyun dan Na Woo gesit bersembunyi. Tapi sampai kapan mereka menunggu?


Jong Hyun berinisiatif keluar dari persembunyian dan membujuk ahjussi untuk masuk. Ahjussi bisa terkena flu kalau di luar terus.

Yang dibujuk tidak langsung menurut, bukan masalah flu-nya, ia harus bekerja besok subuh tapi suara kucing itu menganggunya hingga tak bisa tidur. Bisa gila dia!


Jong Hyun dengan sabar merayu ahjussi sambil tak lupa diam diam menyuruh Na Woo membawa kucing malang mengungsi. Ia berkata, ahjussi pasti sangat kelelahan karena itu dia meminta ahjussi masuk saja. Dia tidak mendengar suara kucing kok. Kalaupun ada, dia sendiri yang akan mencarinya.

Mereka masih beradu mulut setelahnya. Tapi singkat cerita, ahjussi setuju. Dia harus tidur.  

Fiuh, Jong Hyun tersenyum tipis. Usahanya berhasil.

Wan selesai memeriksa si kucing. Selain dehidrasi ringan, tidak ada masalah lain. Syukurlah, kata Na Woo. Sayang, dia tidak dapat membawanya karena ada sepupunya di kafe. Na Woo meminta Wan mencarikan orang yang bersedia mengadopsi kucing itu. Wan tidak yakin bisa. Tidak mudah.


Jong Hyun nyeletuk, “Bagaimana kalau dikembalikan?”

Na Woo jelas tak setuju. Nggak lihat ahjussi tadi?

Jong Hyun beralasan mungkin induknya mencarinya. Tapi Na Woo kekeuh menolak. Terlalu berbahaya.

Wan menengahi, bila induknya tidak datang maka ia yang akan merawatnya. Jadi ia menitipkan kucingnya di sini dulu bersama Jong Hyun, sementara ia dan Na Woo pergi mencari induk kucing.

“Tidak. Aku yang akan pergi.” Gubrak! Tak dinyana Jong Hyun sukarela mengajukan diri mencari si induk. 



Bersama Na Woo, mereka berdua meninggalkan Wan bersama kucing di klinik. Wan yang malang...

Bab 10 Laki-laki, Perempuan, dan Kucing


Na Woo dan Jong Hyun menunggu cukup lama sampai akhirnya menyerah. Mereka bahkan sudah meletakkan makanan kucing di sana, tapi induk kucing yang dinanti tak kunjung menampakkan diri. Mungkin terjadi sesuatu, pikir Na Woo. Lebih baik dari ditelantarkan, bukan?


Bok Gil yang juga tidak terabaikan karena tuannya pulang, meminta Jong Hyun pulang lebih awal. Tidak bisakah? Jangan-jangan Jong Hyun punya dua rumah sampai dia sering pulang malam belakangan. Mendadak jadi manis tanya-tanya kabar. Mencurigakan.

Bisa-bisanya Bok Gil. Padahal Jong Hyun cuma keinget aja dulu waktu dia menemukan Bok Gil seperti halnya hari ini dia menemukan kucing kecil sendirian di gang. Jong Hyun ingin tahu bagaimana Bok Gil bisa sendiri. Bok Gil harusnya punya ibu.

Flashback


Kala itu hujan deras waktu Jong Hyun melihat seekor kucing kecil di kardus basah tanpa perlindungan. 


Esok paginya ia dan sang kucing bermain, “Bagaimana kau sangat berani? Apakah kau dibesarkan oleh manusia?”

Flashback end


Jong Hyun berkata jika sebelumnya Bok Gil punya pemilik, betapa sedihnya pemilik itu. 


Ia lantas teringat pada Na Woo yang pernah menceritakan bagaimana dia kehilangan kucingnya ketika sakit. Na Woo sampai menyalahkan diri sendiri tidak bisa melindungi kucingnya.


Jong Hyun menggendong Bok Gil yang sangat mengantuk. Bok Gil sebal Jong Hyun malah membangunkannya.

“Kita tidak boleh berpisah, oke?”ohhhh...

Suasana romantis yang tidak dirasakan Bok Gil. Ia mengeluh ke Jong Hyun, “Aigo! Yang lembut (ngelusnya)!”

  
Tak biasanya, Bos memperlakukan Jong Hyun dengan baik. Ia memijat-mijat lengan Jong Hyun, bertanya kapan teman wanitanya datang. Maksudnya sih tanya saudara sepupunya Na Woo, penyair Heo.

“Tolong perhatian dengan sekitarmu. Pikirkan bagaimana Bos bujang tua ini menghabiskan hari-hari kesepiannya. Dia bukan pacarnya, tapi kakak sepupu dari temannya (Jong Hyun berteman dengan Bos) dan betapa mempesonanya dia. Begitu cocoknya mereka satu sama lain. Sangat indah jika kau bisa menghubungkan dua orang ini bersama.”

Walah. Jong Hyun baru tahu Bos belum nikah. Kirain cerai.


Bos yang sedikit tersinggung mengungkit perhitungan gaji Jong Hyun yang terpotong karena kebiasaannya terlambat dan kepergiannya waktu itu ke rumah sakit. Jong Hyun merasa tidak adil. Bukankah Bos sendiri yang menyuruhnya pergi.


Bos memberi usul kalau ingin impas, dia meminta nomor telepon Penyair Heo.

“Anda bisa memintanya sendiri. Dia tadi di sini,” Jong Hyun menunjukkan di mana sepupu Na Woo berada. Tidak jauh dari tempat mereka.


Bos ambil langkah seribu mendekatinya. Melancarkan rayuannya. Sementara Jong Hyun melanjutkan pekerjaannya.    


Na Woo menanti Jong Hyun melewati kafenya. Ia menyampaikan kabar baik, kucing kemarin telah menemukan tuan barunya kata Wan. Mereka tidak perlu khawatir lagi. Jong Hyun senang. Ia berniat berjalan kembali, tapi Na Woo mencegahnya. Mengingatkan tentang tawaran kemarin.


Jong Hyun tidak mau. Kenapa harus Bok Gil?

Na Woo menjelaskan, “Katamu, Bok Gil itu kucing jalanan. Kau tidak tahu apakah dia ditelantarkan atau tersesat. Sedangkan aku memilih kucing yang bahagia setelah menemukan pemilik baru. Apakah kau pikir mudah menemukan seekor kucing yang lebih bahagia daripada Bok Gil?”


Na Woo bilang dia tahu Bok Gil bahagia karena Jong Hyunlah pemiliknya. Mendengarnya Jong Hyun merasa tersanjung. Sebelum pulang, ia diberi Na Woo makanan kucing yang ia buat sendiri. Na Woo minta Jong Hyun menerimanya sebab itu untuk Bok Gil bukan untuknya. Dan Na Woo mengingatkan agar Jong Hyun membawa Bok Gil besok dengan foto masa kecilnya jangan lupa.

Jong Hyun menolak, dia belum mengatakan iya. Namun Na Woo melangkah masuk ke kafe, “Aku akan menunggu.”


Melihat makanan Bok Gil yang masih utuh (Bok Gil tidak selera makan makanan berat, minta snack), 


Jong Hyun menawari makanan yang dibuat Na Woo. Ia menyuruh Bok Gil mencicipi, namun Bok Gil malah memakannya dengan lahap. Enak banget menurutnya.

Ha. Bok Gil tipe kucing gampangan rupanya. Dulu dibikinin burger nggak mau sama sekali. Lalu sekarang Bok Gil malah mau nambah?

  
Bok Gil minta maaf, dia hanya suka makanan enak. LOL Buatan Jong Hyun nggak enak to?



Jong Hyun ikutan senang melihat Bok Gil. Dia mengajak Bok Gil olahraga.



 Atau kita sebut saja main. Mereka berdua terus main sampai capek. Di akhir, Jong Hyun mengucapkan terimakasih. Bok Gil membuatnya lebih bahagia.  


Hari pemotretan Bok Gil. Na Woo memujinya cantik dan mampu berpose bak model. Namun Bok Gil tak luluh. Dia tetap tidak suka.


Usai menyerahkan foto lama Bok Gil, Jong Hyun mengutarakan keprihatianannya melihat Bok Gil tidak selera makan akhir-akhir ini. Tapi entah kenapa Bok Gil menikmati sup yang diberikan Na Woo kemarin.


Na Woo takjub selera Bok Gil pun sama dengan Haru. Bok Gil berkomentar, ia tidak tahu Na Woo yang membuatnya. Hihihi.


Jong Hyun minta resepnya. Dan Na Woo mengajaknya berbelanja sekalian. Mudah membuatnya, Cuma resepnya rahasia. Itung-itung sebagai bayaran Bok Gil sebagai modelnya.


Ups! Rencana mereka batal saat Wan bercerita ada kucing yang memiliki mata dwi warna di kliniknya. Na Woo pernah mengatakan ingin melihatnya. Ia menoleh ke Jong Hyun sebentar. Begitu tahu Jong Hyun tidak keberatan, Na Woo baru pergi. Ia akan mengirimkan resepnya nanti dan bila ada yang ditanyakan Jong Hyun, telepon saja. Jong Hyun lalu berbalik.


Malamnya, ia mencoba membuat sup ala Na Woo dan mencicipinya. Seperti kurang sesuatu. Ia melirik pada Bok Gil yang meragukan kemampuan masak tuannya.

Tiba-tiba bel berbunyi. Itu Na Woo. Jong Hyun senang karena Bok Gil beruntung banget soal makanan. Na Woo mungkin membantunya gitu? Atau membawakannya sup???


Tidak. Na Woo justru meminta kucingnya dikembalikan.

Jong Hyun memandangi Na Woo tak mengerti.

“Aku punya firasat buruk.”

Komentar:

Kenapa mendadak Na Woo begitu? Sebelumnya kan nggak...

Mana judul babnya kayak cinta segitiga. Masa iya ada yang ngomporin? (Sempet curiga sama Wan yang makin frontal aja keliatannya)

Mereka berdua tetep sayang Bok Gil kan terlepas Bok Gil adalah Haru atau bukan. Apa masalahnya Bok Gil milik siapa kalau begitu.

Tidak. Ada yang harus dipastikan. Dan nggak lama kok bisa tahu endingnya, tinggal 3 episode lagi :) 

No comments :

Post a Comment