December 21, 2015

Imaginary Cat Episode 4

Imaginary Cat Episode 4

 

Jong Hyun masih sibuk menyelesaikan webtoonnya saat Bok Gil bosan dan merasa terpanggil ke dunia luar oleh pintu yang terbuka...


Bab 7 Meski Hidup Mempermainkanmu


Jong Hyun pun terlambat menyadari Bok Gil pergi dari rumah. Ia yang melihat pintu terbuka, langsung menyusuri tangga turun dari kamar kosnya mencari Bok Gil.


Na Woo yang melihat Jong Hyun mencari Bok Gil sambil berteriak memanggil si kucing, sampai menjatuhkan gelas yang dibersihkannya di kafe. Ia menghampiri Jong Hyun menanyakan ada apa. Jong Hyun balik bertanya apakah Na Woo melihat Bok Gil. Bok Gil menghilang. Ia menyalahkan diri sendiri yang tidak mengecek pintu yang ditinggalkan petugas pengecek gas.

Na Woo menenangkan Jong Hyun. Jika masih 2 jam yang lalu, berarti Bok Gil belum pergi terlalu jauh. Ia akan membantu Jong Hyun mencarinya. Mereka lantas berpencar. 

 

Jong Hyun mencari di sebuah gang, mengingatkannya ketika menemukan Bok Gil dahulu dalam hujan. Mengeong kedinginan dari sebuah kardus. Namun Bok Gil kali ini tidak di sana. Ia berlari ke arah lain.

Sementara Na Woo mencari di basement, di bawah mobil yang terparkir. Hasilnya nihil.


Mereka tidak menyerah mencari ke semua sudut. Na Woo bahkan meletakkan kaleng makanan kucing di suatu tempat. Berharap Bok Gil memakan pancingannya.

Di tengah kepanikan, Jong Hyun malah melihat sosok Soo In yang melambaikan tangan padanya di seberang jalan. Ingatannya di tempat abu muncul tiba-tiba. Ia tidak mau kehilangan lagi. Melihat seekor kucing yang juga ada di sana, ia lantas belari. “Bok Gil-ah!”

Padahal kucing itu jelas bukan Bok Gil. Dan ada motor yang siap menabraknya jika Na Woo tidak memperingatkannya.


Jong Hyun terkesiap. Ia jatuh terduduk dengan tangan yang sempat menyangga tubuhnya. Malang tangan itu kini lecet. Na Woo menanyakan keadaan Jong Hyun, namun Jong Hyun tidak menghiraukannya. Apalagi ketika Na Woo menyuruhnya mengobati lukanya dulu. Jong Hyun sungguh tidak ingin berhenti mencari Bok Gil sekarang. Ia harus menemukannya sebelum gelap.


Na Woo lantas mengusulkan, “Pertama, mari kirim fotonya ke penampungan kucing dan tempel beberapa selebaran.” Gadis itu juga meminta Jong Hyun membawa jajan yang disukai Bok Gil.


Jong Hyun berkata tidak bisa. Ia idak bisa masuk karena jika ia kembali ke rumah dan tidak menemukan Bok Gil, berarti Bok Gil benar-benar hilang. Ia cemas tidak bisa menemukannya selamanya. Jong Hyun lemas. Ia tak sanggup berdiri.


Na Woo kemudian berjongkok di hadapannya. Menguatkannya sambil berujar, “Aku belum menyerah. Aku percaya kita bisa menemukannya selama kita terus mencoba.” Na Woo tersenyum menatap Jong Hyun.


Di klinik Wan, Jong Hyun mencetak selebaran dan menelepon ke tempat penampungan kucing. Mereka sudah menempatkan foto Bok Gil di website sehingga Jong Hyun tinggal mengeceknya dengan teliti. Banyak orang yang mengaku-aku kucing itu milik mereka soalnya. Ckckck. Jong Hyun mengerti.


Wan menambahkan kalau kucing rumah tidak memiliki insting terhadap dunia luar, jadi kucing seperti Bok Gil mungkin ada di sekitar rumah. Apabila Jong Hyun meletakkan makanan di sekitar sana dan memanggilnya lembut di malam hari, Jong Hyun bisa menemukannya.

Jong Hyun mengerti. Ia bersama Na Woo bergegas menempelkan selebaran pencarian Bok Gil. Wan tidak lupa berpesan agar Na Woo hati-hati. Na Woo membalas mengucapkan terimakasih.


Bos menelepon Jong Hyun, “Apakah kau sudah gila? Jam berapa ini?”

Jong Hyun mengucapkan permintaan maafnya tidak bisa bekerja hari ini. Tapi Bos tidak setuju, ia mengancam jika Jong Hyun tidak berlari ke toko maka ia akan dipecat. Mendengar hal itu, Jong Hyun hanya mengiyakan dan menutup telpon.

Eeeeeeeh...bagaimanalah Bos tidak marah? Ia bicara sendiri karena Jong Hyun mengakhiri pembicaraan duluan. Gawat.


Malam tiba, waktunya mengakhiri pencarian hari ini. Jong Hyun menyuruh Na Woo pulang, tapi Na Woo berkata bisa mencarinya sedikit lagi. Tak lama Jong Hyun seperti mendengar sesuatu. Suara bel Bok Gil?! Mereka berdua memejamkan mata mendengar lebih seksama hingga akhirnya pergi ke rooftop, tempat asalnya suara. Hihihi benar kan, bel Na Woo memberi petunjuk.


Bok Gil yang ditemukan berada dalam salah satu kardus, bahagia melihat manusianya lagi. “Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi.”

Demikian pula halnya dengan Jong Hyun. Ia langsung memeluk Bok Gil, “Tidak apa. Tidak apa-apa sekarang. Kau sangat takut, ya?”Kucing berbulu cokelat itu membenarkan. 


Tapi hey, Na Woo justru jatuh terduduk lemas. Menangis histeris.

Sebenarnya dia juga lega Bok Gil ditemukan, hanya saja emosinya baru meledak sekarang heheee. Bisa aja nih Na Woo. Gantian sama Jong Hyun.

Seorang ahjussi sampai berteriak mengomelinya, “Yaaaaa pergi tidur sana! Aku lelah mendengar kucing menangis, sekarang gadis yang menangis?! Tidurlah!”

Mencoba menghentikan tangis Na Woo, Jong Hyun bertanya apakah Na Woo tidak mau memberi Bok Gil makan. Bok Gil tampaknya lapar. Dan tak butuh waktu lama, Na Woo lalu bangkit untuk membelikannya salmon :D


Kembali ke rumah, Jong Hyun yang selesai membereskan beberapa barang berbaring di samping Bok Gil seperti biasa. Membelainya sambil mengatakan maaf. Ia tidak akan melakukannya lagi (membiarkan pintu terbuka dan mengacuhkan Bok Gil).


Bok Gil bingung, apa yang perlu dimaafkan? Jong Hyun tidak menjawab. Ia justru membalas kalau Bok Gil akan memaafkannya, bukan? Ia berterimakasih karena Bok Gil kembali. Mereka kemudian tidur.

Pagi harinya, Jong Hyun dibuat panik oleh Bok Gil yang tidak lagi berada di sampingnya. Duh bahasanya. Padahal Bok Gil dengan santainya keluar dari kamar mandi.


“Ya, apakah kau mau terus menghilang?”

“Manusia, apakah kau terobsesi denganku? Melelahkan.” LOL bisa-bisanya Bok Gil bilang gitu.

Jong Hyun mengancam akan menghukum Bok Gil jika menghilang lagi. Ia mengelus gemas Bok Gil. Bok Gil mengeong. Cieeeee.


“Ah!” Keceriaan itu berhenti saat Jong Hyun mengaduh kesakitan, melihat tangannya yang masih memerah sedikit bengkak.


Bos menguliahi Jong Hyun, heran sebenarnya siapa yang pekerja paruh waktu. Apakah posisi mereka telah tertukar? Meski Jong Hyun meminta maaf pun, ia bersikeras memecat Jong Hyun.

Jong Hyun membalas, setidaknya sebagai pekerja paryuh waktu ia menerima pemberitahuan 15 hari sebelumnya. Namun Bos sudah terlanjur tersinggung. Jong Hyun duluan yang berani menutup teleponnya. Lupakan tentang aturan, Jong Hyun kan tidak mematuhinya. 


Mereka berdua sudah akan beradu argumen lagi tatkala sepupu Na Woo yang seorang penulis datang menyapa Bos. Pengalih perhatian nih.

Bos mengenalinya sebagai Heo Gong Ju. Mmmm mirip nama tempat :P

“Bagaimana aku bisa lupa. Sekitar 11 tahun lalu, ‘air mata yang cantik dapat menumbuhkan sebuah biji’...seketika aku membalik halaman puisi itu jantungku berdebar dan itu masih sama. Bagaikan bidadari dari surga yang menuliskannya.”

Haha bisa aja semua penulis dirayu kayak gitu. Apalagi penulis cewek. Jong Hyun aja risih. Ia lebih baik pergi dari sana.


Na Woo yang rupanya pergi bersama Gong Ju mengikuti Jong Hyun. Ia meminta maaf atas kelancangannya membayar tagihan perawatan Bok Gil waktu itu. Ia melakukannya tanpa seizin Jong Hyun pemilik Bok Gil.

Jong Hyun membenarkan. Tapi Na Woo juga telah mencari Bok Gil bersamanya. Jadi mereka impas.

Eh! Jong Hyun menjatuhkan buku yang ia coba bawa. Na Woo melihat tangannya, mengajaknya ke rumah sakit. Jong Hyun sendiri jadi teringat perkataan PD Dokko mengenai kesempatan terakhirnya. Jong Hyun menunduk. Walau ia mengatakan tidak apa-apa pada Na Woo, ia tidak bisa menutupi kekhawatirannya. 


Apalagi saat Gong Ju mengungkit pekerjaannya penulis webtoon. Ia pun pergi ke rumah sakit setelah Bos yang menyuruhnya.


Na Woo menemani Jong Hyun pulang, mewanti wantinya untuk ingat kata-kata doker tadi. “Ligamen yang robek tidak boleh menerima tekanan berlebihan, jadi kau tidak bisa menggunakan tanganmu.”

“Aku juga mendengarnya,” kata Jong Hyun berusaha menyadarkan Na Woo. Ia ada di sana tadi, jadi Na Woo tidak perlu mengulangnya. Mendengar Na Woo menyuruhnya untuk sangat, sangat berhati-hati, malah membuatnya agak kesal.

“Mengapa kau selalu mengikutiku? Aku berterimakasih kau membantuku mencari Bok Gil, tetapi kau mengikutiku ke toko buku dan rumah sakit. Apakah kau berencana mengikutiku sampai rumah sekarang?” Jong Hyun menyela Na Woo yang hendak memberi alasan. Ia meminta Na Woo pergi.

“Pastikan kau memakai pack penghangat (untuk tanganmu) ya.” Na Woo yang masih cemas memberinya saran. Setelahnya ia benar-benar akan pergi.


Jong Hyun melihat ke arah tangan kanannya yang sudah diperban.

Bab 8: Mengapa Musim Dingin itu Hangat

Bok Gil mengeluhkan rumah yang berantakan. Tuannya harusnya bersih-bersih. Namun apa yang ia terima saat mendekati tuannya, 


“Bok Gil, apakah kau lapar?”


Bok Gil tentu menjawab, “Tidak, kau pikir aku babi?”

Jong Hyun tetap ke dapur mengambilkan makanan walau Bok Gil mengatakan tidak. Bok Gil jadi heran melihat tuannya. Tempat makannya masih penuh lho.


Jong Hyun lantas berpikir Bok Gil mau ngemil. Ia mencoba membuka satu kaleng dengan satu tangannya. Ia frustasi. Tidak bisa.


Ia lalu kembali ke meja gambarnya, berusaha menggambar dengan tangan kanannya. Tepat saat PD Dokko mengirim pesan singkat padanya, mengingatkan mengenai pertemuan besok. Ia berhati-hati dengan gambarnya, namun gambar itu tidak sebaik saat ia bisa menggunakan tangan kanannya dengan baik. Ia kesal, kecewa pada dirinya sendiri.


Bok Gil prihatin melihat tuannya, “Manusia, ada apa? Kau membuatku sedih.”


Dalam pertemuan keesokan harinya, PD Dokko menegur Jong Hyun yang seharusnya memberitahu tangannya terluka. Meski ia ragu Jong Hyun tidak bisa menyelesaikan tepat waktu karena itu, ia mengatakan tidak bisa mengundur tanggal deadlinenya. Akan tidak adil bagi Jin Sung. Jong Hyun mengerti. Ia sudah berdiri setelah PD Dokko keluar ruangan.


Tapi Jin Sung menghentikan langkahnya. “Bagaimana kau merawat dirimu sendiri?”

Jong Hyun bisa membaca maksud pembicaraan Jin Sung. Ia menyindir Jin Sung, jika suka katakan saja. Ia tahu walaupun Jin Sung bertingkah sebaliknya.

Jin Sung jelas membantah. Ia mengatakan tidak suka lawan yang mudah. Bukan apa-apa baginya menang atas seorang pelajar yang debut saja belum. Walaupun memang menyenangkan melihat Jong Hyun bersikeras untuk menang. Sayang sekali.

“Kau mengatakan seakan aku menyerah.”

“Dengan tangan itu? Kalau bisa, teruskanlah.” Jin Sung membalas perkataan Jong Hyun yang yakin bisa melakukan apapun dengan memintanya untuk tidak menyerah. Jong Hyun harus sampai akhir agar dia bisa menikmati kemenangannya. Oooooow...

“Terimakasih. Aku mendadak penasaran, betapa menyenangkannya bagi seorang pelajar yang belum debut sepertiku mengalahkan penulis best selling.” Wooooo, panas. Anak muda berdarah panas :D


Padahal jujur Jong Hyun saja masih bingung. Ia bisa menggambar sketsa, tapi untuk menggambar garisnya, terlalu sulit. Hae Gong di sampingnya menimpali, “Itulah kenapa aku bilang padamu untuk mengambil asisten.”

Hae Gong menyebutkan nama Choi si buruk rupa asisten Jin Sung yang selalu mengelu-elukan Jong Hyun, sampai memintanya mengabari jika Jong Hyun butuh asisten. Apabila mereka jadi merekrut Choi, mereka bisa membunuh satu burung dengan satu batu kata Hae Gong. Haha maksudnya membunuh 2 burung, Jin Sung diambil asistennya dan dikalahkan dalam kompetisi. Tapi...

“Adakah asisten yang dapat memenuhi standarmu? Apalagi ini project debutmu...” pertanyaan Hae Gong menggantung.


Setidaknya hanya sampai Bok Gil mengecharge tuannya hihihi.

 

Karena keesokan harinya Jong Hyun ternyata meminta Hae Gong menebali garis sketsanya. Di waktu begini siapa lagi yang dapat ia percaya? Hae Gong juga tak pernah membayangkan Jong Hyun memintanya melakukan ini. Termasuk mengomelinya dengan detail ;)

Ngomong-ngomong mereka berdua mengerjakan di kafe milik sepupu Na Woo. Na Woo membawakan Jong Hyun sup sumsum api kelas A++ untuk membantu pemulihan tulang (dan ligamen). Hae Gong tersenyum melihatnya.

“Untuknya apa?” tanya Hae Gong penasaran. Dia kan asisten Jong Hyun yang berharga pula.

“Kau sebaiknya tetap terjaga dan konsentrasi, jadi secangkir espresso yang kuat,” kata Na Woo bangga.



Dan bener-bener kuat sampai terasa seperti racun menurut Hae Gong LOL

 

Eits! Sepupu Na Woo datang diundang bau yang kontras dengan kafe elegannya. Bau si sup sumsum itu maksudnya. Itu sup sum sum buatan ibunya, tapi kok bisa di sana? Ia menggambarkan situasi tersebut dengan sebuah puisi, namun Na Woo tidak ingin membalas puisinya. Na Woo langsung ngacrit ke belakang sambil meminta maaf sebelum unnienya meluapkan amarah.

Tak lupa unnie melarang Jong Hyun memakan supnya sebelum ia berlari mengejar Na Woo.


Kesempatan yang justru digunakan Hae Gong untuk menghasut Jong Hyun menghabiskan sup sumsum di hadapannya wkwkwkwk.


Hari berangsur gelap. Seperti biasa Bok Gil sendirian menatap keluar dari atas meja gambar Jong Hyun. Menunggu tuannya pulang.

Larut malam begitu, Na Woo membawakan Jong Hyun makanan. Ia tahu Jong Hyun lapar. Ia juga mengompres tangan Jong Hyun.


Jong Hyun tidak bisa tidak terganggu dengan hal itu, karenanya ia mengatakan kalau tangannya sudah sangat membaik. Dokter bilang dia sudah bisa melepas perbannya besok.

Namun Na Woo tidak lantas pergi. Ia merekatkan perban Jong Hyun yang merenggang dan menggambar telapak kaki kucing di atasnya. Sejenak mata Jong Hyun menatap lekat gadis di sampingnya kini. Begitu pula dengan Na Woo. Mata mereka benar-benar bertemu... hanya sejenak sebelum Hae Gong mengigau dan membuyarkan scene romantis itu.


Sebenarnya nggak sampai di situ. Saat hendak pergi dari kafe, Na Woo pun membentuk syal Jong Hyun sedemikian rupa supaya Jong Hyun tidak flu karena kedinginan. Jong Hyun kembali memandanginya.


“Ah, manusia! Kau datang,” sambut Bok Gil senang melihat tuannya membuka pintu rumah. “Kau tahu betapa bosannya aku sepanjang hari?”

Jong Hyun ikutan senang melihat Bok Gil yang setia menunggunya. Ia menuangkan makanan ke mangkok Bok Gil. Tapi Bok Gil sedang tidak mau makan. Ia ingin maiiiiiiiiiiiin.

Jong Hyun tidak menangkap keinginan Bok Gil. Ia menempatkan Bok Gil di tempat tidur. Bertelepati.

“Kau tidak menyukainya? Kalau begitu bukan. Lalu apa?”


“Aku sudah bilang. Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Mengapa kau tidak bisa mendengar?”


Bok Gil dan Jong Hyun melanjutkan dalam diam. Dengan pikiran yang seolah terpaut, percakapan mereka belum usai. Mengenang setiap kenangan mereka di masa lalu.

Jong Hyun: Ya, sebab kita tidak dapat melakukan apapun selain berbicara lewat perasaan. 

Bok Gil: Kita menatap mata satu sama lain dan membaca pikiran. 

Jong Hyun: Kita mungkin tidak cocok, 

Bok Gil: namun tak apa bila kita sedikit berbeda. 

Jong Hyun: Karena begitulah halnya dengan manusia. 

Komentar:


Melihat mereka memang menghangatkan hati di tengah musim dingin. Meski tak dipungkiri saya agak berat mengikuti drama ini, tapi hanya dengan melihat interaksi Bok Gil dan Jong Hyun membuat saya lupa keberatan itu.

Nggak nyangka drama Yoo Seung Ho dengan kucing yang pintar ini terasa seperti drama family hahahaha. Ayo dirangkul keluarganya biar ga kedinginan :)

2 comments :

  1. Beneran mengeong bak dee bok gil ssi.....?
    Kirain dia ngga mengeong sama sekali....
    Dan kirain juga bak dee gak bakalan melanjutkan nulis sinop ini.....
    Tapi Kamsahamnida bak dee...yg meski berat ttp lanjut.remembernya .....gimana mbak Dee.....jadi trio atau duo aja.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nulis imaginary cat dari episode 3 itu udah Sha kok, nur. Hehehe.. Dan akan tetep ngelanjutin remember. Masih trio. Tapi karena putri lagi keluar kota, putri dan aku akan posting ep 3 & 4 di hari yang sama. Kalau bisa sih sebelum episode 5nya tayang.

      Delete