November 8, 2015

Six Flying Dragon Episode 8

Six Flying Dragon Episode 8


Jung Do Jeon membuka topinya dan mengaku kalau ia  yang mengirim orang-orang seperti Boon Yi kemari. Ia membantah anggapan Lee Ji Ran kalau ia mengirim orang-orang kemari sebagai mata-mata. Ia mengirim mereka ke Hamju selain untuk memperkuat pasukan Yi Seong Gye di perbatasan. 



Itu alasan pertama. Alasan keduanya adalah Hamju merupakan tempat mereka bertahan hidup, karena ia yakin kalau Yi Seong Gye akan memahami penderitaan mereka. “Apakah saya salah? Jika memang saya salah, rencana ini sudah pasti gagal dan kami akan mati di sini karena telah melanggar ketertiban militer. Tapi apa kami punya cara untuk bertahan tanpa menjatuhkan ketiga menteri jahat itu? Saya yakin Anda pasti tahu jawabannya. Kami mohon korbankan kami, gunakanlah kami untuk melenyapkan ketiga menteri itu !”


Heo Kang maju dan berlutut. Ia mengaku kalau ayahnya bunuh diri, malu karena menuruti perintah ketiga menteri tiran itu. Dan alasannya ia tak ikut bunuh diri karena rencana Jung Do Jeon. “Jenderal, kumohon hukumlah ketiga menteri itu dan gunakan kami sebagai tumbalnya!” 


Boon Yi berkata ia melakukan ini bukan untuk rakyatnya yang telah meninggal. “Ini untuk penduduk desa saya yang masih hidup. Jika mereka bisa makan layak, mereka mau bekerja keras dan membayar pajak. Demi mereka, saya bersedia dijadikan tumbal.”

Satu persatu orang kemudian maju dan menyatakan kesediaan mereka menjadi tumbal. 


Young Kyu mengenali Jung Do Jeon sebagai orang hebat di gerbang Jangpyung dulu. Tapi kenapa Jung Do Jeon malah mendatangi Jenderal Yi? Bang Won berkata Sambong sedang mempersiapkan. “Ia akan membuat negara baru. Ia akan menjadi raja.”

“Raja?!” Young Kyu terbelalak. Bang Won menjelaskan kalau Sambong butuh kekuatan militer dan tak ada yang lebih baik daripada kekuatan militer ayahnya. Ayah akan menjabat di posisi tertinggi di bawah Sambong. Mata Young Kyu semakin melebar dan bertanya antusias, “Kalau negara baru itu sudah berdiri, apakah itu berarti Jenderal akan menjadi Perdana Menteri?”

Hahaha.. Bang Won mendelik mendengar pikiran Young Kyu. Ia berharap ayahnya akan membuat keputusan yang tepat. 


Jenderal Yi menemui Sambong dan bertanya mengapa Jung Do Jeon memilihnya? Jung Do Jeon mengaku kalau dulu ia adalah salah satu yang  menolak penunjukkan Yi Seong Gye sebagai menteri karena ia mengira Yi Seong Gye akan menyelesaikan permasalahan dengan perang, yang akibatnya membuat rakyat menderita.

Ia tahu kalau Yi Seong Gye orang baik. Ia tak hanya memberi komando saja dan memperhatikan semua tentara dan tak pernah merampas harta rakyat yang dibela. Jadi mengapa Yi Seong Gye menolak berpolitik? “ Karena politik artinya bertanggung jawab dan begitu Anda berpolitik, Anda tak bisa menjadi orang baik bagi semuanya.”


Tapi Jung Do Eon mengenal Yi Seong Gye lebih dalam saat ia diasingkan dan sering berpindah-pindah karena daerah pengasingannya diserang oleh Jepang. Saat itu Yi Seong Gye menangkap orang Jepang yang merampok sebuah desa dan saat akan dihukum mati, ternyata ketahuan kalau orang-orang itu adalah orang Gorye yang menyamar menjadi orang jepang.


Orang-orang itu berbuat jahat untuk menghidupi anak-anaknya yang kelaparan. Yi Seong Gye tahu kalau orang-orang itu merasa bersalah tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terjepit keadaan. Bukannya menghukum mati, saat itu Yi Seong Gye malah berkata, “Kematian adalah hukuman paling ringan untukmu. Hiduplah dalam penghukuman di sisa hidupmu. Jadilah salah satu kepala pasukanku untuk mengusir perompak Jepang dan walau sedikit, tebuslah demi anak dan penduduk desamu.”


Jung Do Jeon menyadari kalau ia telah salah menilai Yi Seong Gye. Yi Seong Gye menebus dosa dengan melindungi Goryeo dan rakyatnya untuk hidup lebih baik. Itu adalah satu-satunya cara Yi Seong Gye untuk memaafkan diri sendiri. Tapi selama tiga menteri Dodang masih duduk di pemerintahan, harapan Yi Seong Gye tak mungkin terwujud. Jatuhkan ketiga menteri itu dan dirikan kerajaan baru.


Yi Seong Gye terkejut mendengarnya. Apalagi saat Jung Do Jeon berkata penuh tekad, “Goryeo tak mungkin bisa diharapkan lagi. Dan sebagai Raja kerajaan baru itu, saya memilih Anda.” Tak hanya Yi Seong Gye, tapi Bang Won yang sedari tadi menguping pembicaraan itu juga terkejut. 


Bang Won kecewa mendengar ayahnya yang akan menjadi raja. Ia berharap Jung Do Jeon yang menjadi raja karena ia tahu ayahnya terlalu lemah. 


Moo Hyul seperti mendapat lotere saat mendengar Bang Won adalah putra kelima Jenderal Yi. Ia kan sudah menyelamatkan Bang Won dua kali. Ia langsung berdiri menatap langit dan berkata, “Nenek, aku berhasil!” Hahaha.. gayanya itu benar-benar girang banget, sampai Young Kyu saja heran. 


Young Kyu akhirnya melihat pedang yang dipeluk Moo Hyul. Itu kan pedang Bang Won dan mengambilnya. Tapi Moo Hyul mempertahankan pedang itu. Kan ia sudah menyelamatkan Tuan Muda dua kali. Mereka tarik-tarikkan pedang itu tapi Young Kyu yang menang. Moo Hyul langsung merengek, minta pedang itu karena ia adalah ahli pedang dan mengejar Young Kyu.










Jung Do Jeon mendengar kalau Heo Kang/Lee Shin Jeok ditangkap oleh bhiksu dari Kuil Biguk dan menduga kalau mereka adalah suruhan Hong In Bang. Saat ditanya tentang kelanjutan Zona Stabilisasi Daerah, ia hanya bisa menunggu takdir dari surga.


Yi Seong Gye memikirkan kembali rencana Jung Do Jeon. Jika ia menstempel dokumen itu, Jung Do Jeon yang akan membawa dokumen itu ke Gaegyong dan memperjuangkan agar usulan itu bisa diterima. Saat itu Bang Won muncul dan ia tahu kalau Bang Won tadi menguping pembicaraannya. Ia memberitahukan keputusannya. Ia tak akan menstempel usulan itu dan akan menghukum kelompok Jung Do Jeon.


Bang Won mencoba membujuk ayahnya dan berkata Jung Do Jeon bisa dipercaya dan orang yang dihormati di Sungkyunkwan, bahkan oleh Poeun. Tapi semakin Bang Won membujuk, ayahnya semakin keras menolak, membuat Bang Won keceplosan, “Jika seperti ini, lebih baik Ayah dulu tak membunuh Jo Sa Saeng! Harusnya saat itu Ayah berperang dengan Jo So Saeng dan mati secara ksatria!” 


Yi Seong Gye terkejut mendengarnya. Bang Won mengakui kalau ia hadir saat ayahnya tunduk pada Lee In Gyeom, saat ia berusia 10 tahun. “Di umur itu, Ayah tahu kan apa arti Ayah bagi anak seumurku? Semua pasti sama perasaannya. Tapi Ayah lebih dari itu. Ayah adalah Jenderal Yi Seong Gye!” Bang Won menangis, seperti saat ia berumur 10 tahun. “Anaknya melihat bagaimana Jenderal Yi Seong Gye yang hebat dibantai oleh Lee In Gyeom yang jahat!”


Bang Won menarik nafas, menenangkan dirinya. Saat itu, tangan dan kakinya lemas, susah baginya untuk berdiri setelah melihat hal itu. Ketiga menteri itu amat sangat jahat. “Apa Ayah lebih berdosa dari mereka? Tidak. Ayah lebih tahu dari siapapun. Bagiku, aku tak melihat orang yang lebih baik daripada Ayah untuk menjadi Raja Goryeo! Kuat, jujur, Ayah peduli pada rakyat, dan lebih dari itu, Ayah adalah orang yang paling merasa sakit daripada yang lain. Apakah ada orang lain? Tak ada kan, Yah? Jadi mengapa Ayah berkata kalau Ayah tak bisa melakukannya?”


Yi Seong Gye menatap putranya seolah mengerti apa yang dirasakan Bang Won. Tapi alasan Bang Won dan Jung Do Jeon menganggapnya layak menjadi raja adalah karena ia memiliki rasa sakit dan malu dalam dirinya. “Tapi jika aku maju, aku menjadi orang yang tak tahu malu. Jadi bagaimana aku bisa mengajukan diri? Aku.. ayahmu.. adalah orang itu. Karena itu aku tak akan melakukannya.”


Bang Won tertunduk kalah dan meninggalkan tenda ayahnya. Ia terus menyesali dirinya yang bodoh, bicara seperti itu pada ayahnya. 


Putus asa, ia berbaring di padang rumput, merasakan semilir angin yang tak terasa menyejukkan. Setelah beberapa lama berpikir, ia bangkit dan pergi.


Boon Yi yang masih di luar tenda, heran melihat Bang Won ada di perkemahan. Kenapa orang itu bisa ada di sini?


Bang Won menunggu ayahnya keluar untuk menyelinap masuk ke dalam tenda. Ia memandang dokumen yang terbuka di meja. Jika ayahnya tak melakukan, maka ayahnya tak akan pernah melakukannya. Ia mengambil stempel dan setelah ragu beberapa saat, ia menstempel dokumen itu.


“Siapa kau?” 


Bang Won terkejut mendengar suara wanita dan berbalik. Ia melihat Boon Yi yang menatapnya curiga dan berbalik pergi untuk melaporkannya. Ia tak bisa membiarkan hal itu dan minta maaf pada Boon Yi. 


Bang Won menemui Shin Jeok dan memberikan dokumen yang sudah distempel. Ia menyampaikan pesan ayahnya. Yi Seong Gye sudah setuju dan minta Jung Do Jeon pergi ke Gaegyong sebelum ia berubah pikiran. Sekarang Jung Do Jeon harus bisa melakukannya sendiri dan membuktikan semuanya. 


Bang Won menemui Boon Yi yang ia ikat tangan, kaki dan mulutnya. Seakan lelah seperti melakukan sesuatu yang berat, Bang Woon duduk di sampingnya dan berkata kalau ia telah melakukannya. Boon Yi terbelalak. Matanya semakin melebar saat Bang Won memperkenalkan dirinya sebagai putra Jenderal Yi.


Bang Won menceritakan alasannya melakukan itu. Semua orang pasti mengira ayahnya orang yang hebat, jujur dan kuat. Ia pun dulu berpikiran seperti itu hingga hari pertama ia menginjakkan kaki di Gaegyong. “Tempat yang mengerikan. Mayat tergeletak di jalan, pengemis mencuri baju, bangsawan bajingan makan anak babi yang lezat hasil susuan ibu menyusui yang baru saja melahirkan. Dan bayi-bayi wanita itu meninggal dunia.”


Boon Yi teringat pengalaman masa kecilnya yang melihat semua itu bersama kakak dan seorang anak laki-laki. Apakah ia…?





Saat itu Bang Won tak merasa takut karena sebentar lagi ayahnya akan datang dan pasti langsung menyingkirkan orang-orang jahat saat itu juga. Tapi ketika itu pulalah ia menyadari kalau ayahnya juga manusia yang lemah. Dan ia tumbuh dewasa lebih cepat saat ia remaja. 


Baginya yang dilakukan Jung Do Jeon itu sangat hebat, kecuali satu, memasrahkan rencana itu pada Jenderal Yi Seong Gye. Ayahnya tidak perkasa karena telah terperosok dalam pikirannya yang menyisa. Padahal ia benar-benar berharap rencana Jung Do Jeon itu bisa dilakukan sehingga ketiga menteri itu jatuh. Karena itulah ia menstempel dokumen usulan itu. “Jika aku memulainya.. jika sudah terjadi.. maka Ayah baru akan bergerak.”


Bang Won menghadap Boon Yi. “Kuharap kau ada di pihakku. Kau harus ada di pihakku. Walau kau pernah menggigitku, kau membuat kebakaran, dan kau melarikan diri setelah mengikatku di hutan; aku selalu ada di pihakmu.” Bang Won menimbang-nimbang untuk melepaskan Boon Yi. “Kau tak menjerit, kan?” Boon Yi menggeleng. “Kau juga tak menggigitku?” Boon Yi kembali menggeleng. Bang Won pun melepaskannya.


Dan Boon Yi menendang kaki Bang Won hingga pemuda itu mengaduh-aduh. “Aku tak menggigitmu,” kata Boon Yi kesal. Ia mengingatkan Bang Won untuk bertanggung jawab jika ada masalah. “Katamu kau cepat dewasa. Menjadi dewasa berarti mau bertanggung jawab.”

Boon Yi beranjak pergi namun berbalik untuk menatap Bang Won dan berkata, “Terima kasih. Jika aku bertemu lagi denganmu.. aku benar-benar ingin mengucapkan itu padamu. Kau sudah tiga kali menyelamatkanku.”


Bang Won heran mendengar ucapan Boon Yi. Seingatnya ia baru menyelamatkan Boon Yi sebanyak 2 kali. 


Boon Yi teringat semua ucapan Bang Won dewasa yang merefleksikan tindakan Bang Won kecil. Semua yang pernah Bang Won lakukan padanya sejak kecil hingga dewasa dan semua yang pernah ia lakukan pada Bang Won. 


Semua ingatan itu.. semua perasaan itu, membuatnya berbalik, lari mencari Bang Won. Namun saat ia menemukan Bang Won sedang terlentang di atas batu besar dan termenung, ia hanya bisa melihat pemuda itu dari kejauhan. 


Hong In Bang merasa di atas angin, yakin kalau Lee In Gyeom akan memenuhi tawarannya. Ia bersedia menurunkan pajak jika Lee In Gyeom bersedia membagi kekuasaan. Lee In Gyeom tak punya pilihan lain karena kelompoknya memiliki banyak tentara yang dibutuhkan Goryeo jika terjadi perang. 

Tapi benarkah tak ada pilihan lain? Ia teringat dengan Yi Seong Gye. 


Kelompok Hong In Bang kaget mendengar kabar dari Cho Young kalau Lee In Gyeom berencana untuk memanggil Yi Seong Gye. Jika Yi Seong Gye masuk ke pemerintahan, dengan gabungan militer Yi Seong Gye dan kekayaan Lee In Gyeom, maka kelompok mereka dipastikan tak akan berkutik dan pemerintah bisa berjalan walau tanpa dukungan kelompok mereka. 


Choi Young memaksanya untuk bertindak untuk menurunkan pajak. Jika tidak maka koalisi akan berakhir. Lee In Gyeom meminta waktu sedikit lagi. Ia akan mendatangkan Yi Seong Gye untuk mengingatkan Hong In Bang agar sadar diri. 


Choi Young menentang rencana itu. Ia tak mau mendatangkan jenderal paling kompeten ke pemerintahan, padahal ada musuh siap menyerang di perbatasan. 


Maka Lee In Gyeom pulang dengan tangan hampa. Ia marah pada peramal wanita itu yang telah membohonginya. Tapi di rumah ia bertemu dengan Gil Tae Mi, Hong In Bang dan kroninya, yang memasang wajah manis. Rupanya Hong In Bang bersedia menurunkan pajak tanpa ada syarat tambahan. 


Lee In Gyeom diam-diam tersenyum, akhirnya menyadari kalau inilah yang dimaksud peramal wanita itu. Ia menemui peramal wanita itu untuk memberikan sekotak perhiasan sebagai imbalan atas ramalannya dan meminta untuk bertemu lagi lain waktu.









Hong In Bang mendapat informasi dari Jukryeong kalau Lee In Gyeom mendapat bisikan dari seorang peramal wanita sehingga muncul nama Yi Seong Gye. Jukryeong pun menangkap peramal itu. Wanita dengan codet di pipi.


Wanita itu tak gentar karena ia dilindungi oleh bintang gemini yang ada di selatan. Jukryeong tahu kalau wanita itu peramal palsu karena gemini terletak di utara. Siapa yang menyuruh wanita itu untuk memberi ramalan palsu pada Lee In Gyeom? Wanita itu tersenyum dan mengaku kalau ia sebenarnya seniman yang disewa oleh seorang sarjana sebanyak 10 nyang emas. “Berapa yang bisa Anda bayar?”


Hong In Bang tersenyum puas dan berkata ia akan memberikan 50 nyang emas jika wanita itu memberi tahu siapa sarjana itu. Ia terkejut mendengar nama Sambong keluar dari mulut wanita itu. 


Hong In Bang diam, tapi sebenarnya ia sangat marah mendengar Sambong merusak rencananya. Apakah ini cara Sambong menghukumnya? Ia tak menggubris Jukryeong yang terus bicara ini itu tentang Jung Do Jeon. Tapi ia akhirnya tak tahan dengan suara Jukryeong. “Apa Hong In Bang tak pernah membayarmu? Apa aku tak punya uang?! Temukan ia!”


Jukryeong bengong melihatnya. Kenapa juga Hong In Bang marah padanya? Sabar.. sabar, ia harus bisa menahan diri. “Dia bukan manusia. Dia hanyalah pundi-pundi kekayaanku.” Dan ia pun bersujud, berdoa untuk menenangkan diri.


Di luar, Jukryeong mengantar kepergian Hong In Bang. Tak diduga, tandu yang baru saja diduduki Hong In Bang pecah dan ia terjatuh. Pelayan pembawa tandu buru-buru minta maaf dan ketakutan saat Hong In Bang mengambil kapak. 


Tapi kapak itu digunakan untuk mencacah tandu itu hingga hancur berkeping-keping. Jukryeong menggeleng, memberi tanda pada anak buahnya agar membiarkan Hong In Bang yang lagi stress. Pasti sekarang Hong In Bang sedang meluapkan perasaanya.

Hong In Bang terus berteriak sambil terus mencacah tandu itu. Ia tak mendengar suara orang memanggilnya dan baru berhenti setelah orang itu memanggil dengan separuh berteriak. 


Ia menoleh dan melihat Jung Do Jeon, orang yang membuatnya stress, berdiri di belakangnya, menyapanya kalem, “Lama tak bertemu denganmu, Sayung (kakak senior).”


Hong In Bang mengaku kalau ia mencari Jung Do Jeon karena ingin tahu kabarnya. Jung Do Jeon pun juga seperti itu. Ia ingin tahu kabar Hong In Bang dan heran mendengar reputasi Hong In Bang yang sangat buruk. Kenapa Hong In Bang bisa secacat itu? 

Hong In Bang tersenyum mendengar ia dikatai cacat. Ia menganalogikan dengan saat ia kecil ia senang dengan mainan krincingan. Tapi begitu dewasa, mainan itu menjadi tak ada gunanya. Begitu pula hal seperti impian, kemanusiaan dan keadilan. 

Tanpa basa-basi, ia bertanya mengapa Jung Do Jeon menyewa peramal untuk menghalangi jalannya? Ia tersenyum melihat ekspresi terkejut dari Jung Do Jeon. Apa Jung Do Jeon pikir ia tak tahu rencana itu? Ia juga tahu kalau ia sekelompok dengan Lee Eun Chang dan bertanya apa rencana organisasi itu sebenarnya?

Jung Do Jeon mengaku kalau ia menyewa peramal itu, tapi ia tak tahu tentang organisasi Lee Eun Chang karena ia tak pernah bertemu lagi dengan temannya itu sejak peristiwa di Gerbang Jangpyung. Ia melakukan hal itu agar Hong In Bang sadar diri akan kekuatannya yang belum seberapa dan ia sekarang hadir untuk membantu Hong In Bang.


Hong In Bang tertawa meremehkan Jung Do Jeon. Ia dan Jung Do Jeon sekarang sudah berbeda jauh, bagaimana bisa Jung Do Jeon membantunya? 


Jung Do Jeon menyadari perbedaan itu, tapi mereka memiliki kesamaan sejak peristiwa Gerbang Jangpyung. Saat disiksa dan diasingkan, mereka bersumpah untuk menjatuhkan Lee In Gyeom dan Choi Young. “Aku, Jung Do Jeon, juga sudah membuang krincingan itu. Dalam pikiranku hanya, Aku akan mendapatkan kekuatan, aku harus punya kekuasaan! Itu saja. Untuk mencapai itu semua, aku membutuhkanmu dan kau membutuhkanku!”

Kenapa Hong In Bang membutuhkannya? Karena Hong In Bang tak akan bisa mengalahkan Lee In Gyeom. Ia akan membesarkan Hong In Bang lebih dari Lee In Gyeom.

Hong In Bang tak percaya. Mana mungkin Jung Do Jeon mau bersekutu dengannya dan menjadi sepertinya? Jung Do Jeon menjawab, “Tentu saja aku tak bisa menjadi sepertimu. Aku tak mungkin jadi bajingan yang diperbincangkan seluruh dunia. Tapi aku bisa menemanimu untuk sementara wakut sampai kita menjatuhkan Lee In Gyeom dan Choi Young.”

“Setelah itu? Apa yang terjadi setelahnya?”


Jung Do Jeon menjawab, “Setelah itu.. jika kau dan aku memiliki kesempatan mendapatkan Goryeo, apakah hal itu tak menarik bagi seorang pria?”


Wanita peramal itu, Yeon He, berjalan sendirian di hutan. Ia membuka cadarnya, melepas codet di pipinya, dan berganti busana menjadi wanita kebanyakan. Ia menyapa pria di depannya dengan hormat. Menyapa Jung Do Jeon. Yeon Hee bukanlah seniman. Ia memang disuruh Jung Do Jeon menyamar dan memberi ramalan pada Lee In Gyeom. 

Jung Do Jeon sudah menduga walau Choi Young menyukai Yi Seong Gye, Choi Young tak mungkin menarik Yi Seong Gye ke dalam pemerintahan di waktu genting seperti ini.  Ia berencana untuk membawa Yi Seong Gye ke Gaegyong, tapi itu adalah rencana kedua. Rencana pertamanya adalah meloloskan Rencana Stabilisasi Perbatasan. Dan ia bertekad untuk membuat Hong In Bang berjuang meloloskan Rencana Stabilisasi Perbatasan.


Jung Do Jeon menatap jauh. Ia sekarang berjabat dengan tangan para bajingan yang membunuh Eun Chang. Dalam hati ia berkata, “Eun Chang-ah.. Ini hanyalah awal. Kumohon jagalah aku hingga akhir nanti.”

Komentar :

Jung Do Jeon benar-benar sosok yang menarik. Dia hebat dan bisa memperkirakan reaksi setiap lawannya. Saat di gerbang Jangpyung, ia sudah memprediksi kalau Lee In Gyeom tak pernah mengundang utusan Yuan dan menyuruh orang menyamar menjadi utusan Yuan. Ia malah mengirim surat, mengundang Yuan untuk datang sehingga membuat Yuan gentar. 

Ia pun juga bisa mengail kesempatan dalam perseteruan Hong In Bang dan Lee In Gyeom.Hanya dari bisikan pada Lee In Gyeom, Hong In Bang berhasil takluk dengan sekali gebrak. 

Jung Do Jeon : Naga kedua, perancang kerajaan baru, Joseon. 


Naga kedua yang sebenarnya bisa menjadi Raja, seperti keinginan Bang Won. Tapi Jung Do Jeon tahu kalau ia tak memiliki kekuatan militer maupun kekayaan. Ia hanya punya pengaruh. Ia bisa mempengaruhi pikiran orang, menyusup ke dalam pikiran orang, menanamkan idenya ke dalam pikiran orang lain. Menurut saya, sosok ini jauh lebih menakutkan karena bisa membuat orang menjadi baik atau menjadi jahat. Tergantung ide yang Jung Do Jeon tanamkan ke orang tersebut.

Untunglah Jung Do Jeon bukan orang jahat. Saya harap ucapan ia telah membuang krincingan (rattle) hanya bualan belaka. Tapi sejarah juga mencatat seperti itu. Ia memiliki ambisi untuk mendirikan negara baru. Ambisi yang jika kebablasan bisa menjadi serakah. Ia tak serakah, ingin menjadi Raja. Ia memilih orang yang ia anggap layak, sebagai Raja.

Yaitu Jenderal Yi Seong Gye: Naga pertama, kelak menjadi Raja pertama Joseon.


Sosok yang Bang Won anggap lemah. Yi Seong Gye memperlakukan semua orang dengan baik, membuat semua anggotanya tunduk hormat padanya. Seperti yang ia katakan pada Bang Won. Saat ini Yi Seong Gye menjadi hebat karena Yi Seong Gye memiliki luka dan malu dalam dirinya. 

Luka yang dimiliki setiap orang, sehingga membuat Yi Seong Gye memahami perasaan tiap-tiap orang itu. Dan malu karena bersalah telah mengkhianati saudara seperjuangannya, Jo So Saeng. Ia menebus rasa bersalah itu dengan terus menjaga orang-orang itu dengan kekuatan yang ia miliki. Ia menjaga perbatasan dari serangan musuh. Ia menjaga rakyat Goryeo yang demi mereka, ia mengkhianati saudara perjuangannya. Ia menjadi hebat karena berhasil mengendalikan ambisinya.

Dan sekarang jika ia menerima tawaran Jung Do Jeon, bukankah berarti ambisinya itu akan menjadi keserakahan? Ambisi seperti tombak dengan dua mata. Satu ujungnya adalah passion (gairah yang memotivasi seseorang melakukan sesuatu) dan ujung lainnya adalah keserakahan. Dan keserakahan membuat orang menjadi tak tahu malu. Maka ia bertanya pada Bang Won, “Tapi jika aku maju, aku menjadi orang yang tak tahu malu. Jadi bagaimana aku bisa mengajukan diri? Aku.. ayahmu.. adalah orang itu. Karena itu aku tak akan melakukannya.”

Karena itulah Bang Won, Naga ketiga: kelak juga menjadi Raja Joseon, menganggap ayahnya lemah. 


Hingga umur 10 tahun ia memuja ayahnya dan berhenti saat ia melihat ayahnya tunduk pada Lee In Gyeom yang jahat. Ia menghabiskan masa remaja dan hampir dewasanya di Sungkyunkwan, tempat yang seharusnya menggemblengnya menjadi pribadi yang baik dan adil. Tapi ia melihat orang-orang baik dihancurkan dan disingkirkan. Ayahnya, Heo Kang, seniornya di Sungkyunkwan. Dan ia melihat bagaimana orang jahat berkuasa. Lee In Gyeom dan sekarang Hong In Bang.

Jahat dan baik. Lee In Gyeom mengajarkan tentang jahat dan baik. Ia tak mau menjadi keduanya. Ia akan menjadi adil. “Aku tak akan menjadi orang baik sebelum aku menjadi kuat.”

Itu adalah janjinya setelah menghadapi Hong In Bang. Ia akan menjadi adil. 

Apakah sebuah keadilan yang ia lakukan saat menstempel Rencana Stabilisasi Perbatasan? 

Asal bertanggung jawab. Itu yang diucapkan Boon Yi : Naga kelima, yang kelak menjadi kekasih Bang Won. 


Boon Yi akhirnya memahami tindakan Bang Won. Penjelasan Bang Won masuk akal karena ia melihat sendiri bagaimana bangganya Bang Won pada ayahnya, bagaimana marahnya Bang Won, bagaimana frustasinya Bang Won, bagaimana Bang Won seperti menabrak jalan buntu saat ia masih kecil. Ia berada di pihak Bang Won karena ia tahu Bang Won melakukan itu bukan demi hal yang jahat. Bang Won melakukan hal yang licik tapi juga cerdik. Demi rakyat, demi orang-orang seperti dia. 

Bang Won sudah menyukai Boon Yi sejak Boon Yi membakar gudang. Tindakan yang paling keren, menurutnya. Puitis. Haha.. kata yang terus diulang-ulang oleh Young Kyu. Dan saat melihat betapa beraninya Boon Yi saaat ditangkap Heo Kang di hutan, betapa pintarnya Boon Yi mengetahui kalau penangkapan itu adalah taktik Heo Kang, penilaiannya pada Boon Yi meningkat berkali-kali lipat. Karena itulah Bang Won memintanya untuk berada di pihaknya. 


Saya rasa Boon Yi mungkin menjadi satu-satunya orang yang Bang Won dengar pendapatnya. Karena Boon Yi adalah satu-satunya orang yang pernah menggigitnya dan satu-satunya orang yang pernah ia gigit. Hahaha.. yang terakhir ini mah lebay. 

5 comments :

  1. mbak dee...terusin yak untuk ngerekap...drama ini...walaupun aku mantengin di youtub sampe episode selanjutnya tapi kalau sudah menyangkut intrik politik, aku kesulitan membahasakan kalimatnya...maju terus fighting....

    bumi

    ReplyDelete
  2. Fighting mbak dee....50 episode iniiihh.....hihihi
    Mbak....aku pencinta faith....fans nya choi young. ...tp didrama ini kok kesan nya si choi young jahat yaakk.....agak2 ga rela....wkkwkwwk...lebay....

    ReplyDelete
  3. Naga Terbang ini keren juga cerita nya..
    keberadaan Moo Hyul saat ini serasa angin segar.. kekonyolannya mencairkan kepelikan yg ada^^

    fighting mbak dee !

    ReplyDelete
  4. Yeh Thanks mba Dee, q penggemar mu loh suka baca blognya, ,
    Six flying Dragons q juga update nonton di youtube juga, tapi gk lengkap klau gk baca sinopnya

    ReplyDelete
  5. Yeh Thanks mba Dee, q penggemar mu loh suka baca blognya, ,
    Six flying Dragons q juga update nonton di youtube juga, tapi gk lengkap klau gk baca sinopnya

    ReplyDelete