November 1, 2015

Six Flying Dragon Episode 5

Six Flying Dragon Episode 5


Bang Won membaca rencana pemilik ruangan itu. Menciptakan negara baru tanpa perang atau agresi. Ia belum pernah mendengar rencana ini tapi ia sangat tertarik pada rencana itu




Berita kematian Baek Yoon sampai juga ke telinga Hong In Bang. Ia ingat rencana Jung Do Jeon, tapi ia mengesampingkan dugaan Jung Do Jeon pelakunya karena kondisi pemerintahan sekarang sangat berbeda. Tapi prediksi Jung Do Jeon juga tepat.  Lee In Gyeom dan Gyung Bok Heung akan saling mencurigai dan akan terjadi perselisihan yang hebat di antara mereka.



Walau sekarang ada Hong In Bang yang menawarkan diri untuk mengontrol perselisihan yang sekarang tak terkendali. Lee In Gyeom setuju, ia akan memberikan posisi Baek Yoon jika Hong In Bang berhasil menyelesaikan kekacauan ini.

Gil Tae Mi sekarang menjadi tersangka utama karena seringnya berselisih dengan Baek Yoon. Lee In Gyeom bertanya pada Cho Young, pemimpin Hwasadan yang juga merangkap sebagai intel paling yahud di negeri ini. Apakah pelakunya Gil Tae Mi atau Hong In Bang?


Cho Young menjawab bukan keduanya. Ia masih belum punya gambaran siapa pelakunya. Tapi ia menduga Jukryeong juga belum mengetahui siapa pembunuh Baek Yoon.



Hong In Bang menemui Jukryong, intel yang menyamar sebagai biksu, untuk mencari tahu siapa pembunuh Baek Yoon. Seperti yang Cho Young duga, Jukryong juga belum tahu siapa pelakunya. Tapi Jukryong memiliki firasat kalau pembunuhan ini tak berhubungan dengan politik.

Hong In Bang bertanya apakah Jukryong mengenal nama Jung Do Jeon. Jukryeong kenal nama itu, yang sekarang ada di pengasingan. Hong In Bang memberi tahu kalau Jung Do Jeon dicekal untuk bisa masuk di Gaegyong dan sekarang masa pengasingannya sudah selesai. Ia minta Jukryong untuk mencari tahu tentang keberadaan Jung Do Jeon.


Bang Won merasa bodoh tak pernah memikirkan rencana seperti yang sebelumnya ia lihat itu. Ia bertekad untuk mencari si pemilik ruangan itu. Petunjuknya adalah pesan yang tertempel di pintu. Orang berbaju hitam itu mengenalnya, berarti ia harus menemukan orang berbaju hitam itu.


Ia berpapasan dengan kerumunan Gil Tae Mi yang sedang menyelidiki kematian Baek Yoon dan mendengar salah satu siswa Sungkyunkwan yang mengatakan kalau pelakunya mungkin adalah si Murai Beracun. Kabarnya si Murai Beracun itu muncul saat perompak Jepang menyerang membunuhi mereka. Setelah itu ia menghilang tanpa jejak. Yang menyebarkan kabar itu adalah orang-orang di pasar.


Bang Won dan Young Kyu pergi ke pasar dan kebetulan ada pertunjukan seniman yang dibuka oleh nyanyian Gab Boon dan kemudian muncul pendongeng yang menceritakan tentang kawanan perompak Jepang yang menyerang kota. Moo Hyul yang mulanya tertarik karena melihat Gab Boon, malah kemudian penasaran dengan cerita itu. Begitu pula dengan orang lainnya.


Si pendongeng itu meneruskan kalau tiba-tiba ada penyelamat dengan berbaju hitam dengan kerah putih, seperti burung murai. Bang Won ingat kalau seperti itulah baju pembunuh Baek Yoon yang ia temui malam itu. Ia yakin kalau Murai Beracun adalah orang itu.


Dari penampilan itu, para seniman mendapat uang lelah seikhlasnya dari penonton. Bisa uang, beras, kacang atau yang lain yang mereka berikan ke kantong Gap Boon. Sayangnya, preman pasar memalak Gap Boon saat Gap Boon sendiri.


Moo Hyul yang kebetulan lewat, berusaha menahan diri. Tapi sat melihat Gap Boon memohon, ia tak sengaja mencabut pedang kayunya dan memukul preman itu hingga terjatuh. Teman-temannya mengeroyok Moo Hyul, tapi dengan mudah Moo Hyul kalahkan. Saking terkejutnya melihat kemampuan Moo Hyul, Gap Boon melarikan diri.

Muncul atasan preman itu, Oh Cheol dari kelompok Maehwangsa. Semua orang ketakutan melihatnya tapi preman itu tersenyum jumawa. Sebentar lagi Moo Hyul akan kalah.


Tapi tak disangka, malah Moo Hyul berhasil mengalahkan Oh Cheol. Moo Hyul mengambil lambang Maehwangsa yang dijatuhkan Oh Cheol dan memberitahukan keberhasilannya pada Guru Hong. Guru Hong menyembunyikan kekagetannya mendengar cerita Moo Hyul dan melarang Moo Hyul bangga karena Maehwangsa adalah kelompok yang masih bau kencur. Tak ada yang perlu dibanggakan.


Ia juga tetap melarang Moo Hyul untuk berkelahi lagi karena Moo Hyul baru belajar 12 jurus dari 24 jurus yang ia miliki. Moo Hyul belum mahir. Moo Hyul mengangguk patuh.



Bang Won dan Young Kyu menanyai si pendongeng yang akan cuci muka tentang keberadaan si Murai Beracun. Tapi si pendongeng itu tak tahu Murai Beracun itu ada dimana karena ia hanya cerita berdasarkan gosip yang beredar di masyarakat. Setelah Bang Won dan Young Kyu pergi, si pendongeng itu kembali cuci muka, dan ternyata ia adalah Lee Bang Ji sendiri.



Hong In Bang mendekati teman-temannya, para pengikut Baek Yoon dan menawarkan diri untuk menjadi pemimpin mereka dan berhenti menuduh Gil Tae Mi sebagai pembunuh. Sebagai imbalannya, ia akan mengijinkan kenaikan pajak tanah 10% dari pajak sebelumnya.


Jika sudah maksimal, 80%? Hong In Bang akan menaikkan menjadi 90%. Ia berkata kalau rakyat itu sangatlah hebat. Mereka punya daya tahan yang tinggi. Dengan menawarkan keserakahan, ia akhirnya berhasil menjadi pemimpin mereka menggantikan Baek Yoon. Ia senang, Lee In Gyeom senang, Gil Tae Mi senang, dan para tuan tanahpun juga senang. Yang tidak senang hanyalah rakyat.
Bang Won mendapat kabar kalau ada pasukan Jepang yang kabarnya akan menyerang daerah Yiseo. Ia dan Young Kyu pun berangkat ke sana.


Yiseo adalah tempat Boon Yi tinggal. Setelah kehilangan tanah, ia mengajak rakyat desanya untuk diam-diam menggarap lahan kosong yang tak bertuan. Ia bahkan mendapat panggilan sayang Daejang Mama dari rakyatnya. Bu Jenderal kalau bisa diterjemahkan. Dari kejauhan, Ddang Sae/Lee Bang Ji mengagumi keberanian dan kepintaran adiknya.


Ide menggarap lahan kosong itu sebenarnya didapat dari Jung Do Jeon yang datang menemuinya dan berseru, “Ini ayahmu!” Boon Yi senang sekali melihat Jung Do Jeon dan menceritakan masalah mereka, dan ia minta Jung Do Jeon untuk mengkoreksi surat petisi yang sudah ia buat dengan susah payah. Tapi Jung Do Jeon malah meminta Boon Yi untuk mengurungkan niatnya karena tahu kalau hal itu sia-sia.


Tapi Boon Yi tak mau. “Apa yang harus kulakukan? Hidup berarti melakukan sesuatu. Tapi tak ada yang bisa kulakukan. Aku sudah kehilangan arah. Aku harus melakukan sesuatu!”


Dan Jang Do Jeon menunjukkan sebuah lahan tak tergarap dan menyarankan Boon Yi dan penduduk desa untuk menggarap lahan itu diam-diam. Ia memberikan boneka kayu pada  Boon Yi. Boon Yi bisa menemuinya jika hal ini tak berhasil dan Boon Yi tersesat lagi.


Boon Yi memutuskan untuk memanen ladang mereka sehari lebih cepat karena ada pengumuman tentang kenaikan pajak hingga 90%. Sayangnya ladang mereka ketahuan oleh anak buah tuan tanah.


Hasil panen mereka dirampas dan banyak orang  dari mereka tewas mempertahankan hasil ladang. Bahkan anak tetangga Boon Yi juga terluka parah.


Boon Yi dan beberapa orang yang tersisa melarikan diri. Tapi mereka dihadang oleh perompak Jepang dan diringkus satu persatu, dimasukkan dalam karung.


Kebetulan Moo Hyul yang sedang mencari kayu melihat karung-karung yang digotong mengeluarkan suara. Ia curiga dan membuntuti gerombolan itu.

Bang Won dan Young Kyu kehilangan kuda mereka dan berhasil menemukan siapa pelakunya. Para perompak Jepang. Tapi mereka juga melihat Moo Hyul yang melompat-lompat. Young Kyu segera menangkap mereka.

Moo Hyul menjelaskan kalau ia curiga karena para perompak Jepang membawa karung yang berteriak. Bang Won segera sadar kalau perompak itu menangkap orang-orang Goryeo. Moo Hyul melaporkan ada 20 orang di sana.


Bang Won meminta Young Kyu untuk mengalahkan mereka semua. Tidak langsung semuanya, tapi bertahap. Dengan menjadikan Moo Hyul pengawal dan Young Kyu sebagai pegawainya, ia mendekati para perompak itu. Ternyata perompak itu sedang transaksi budak dengan pedagang dari Gaegyong.


Berpura-pura sebagai pedagang dan menawar budak dengan beras lebih banyak, Bang Won berhasil mengusir pedagang itu. Hilang 5, sisa 15. Bang Won kemudian berkata kalau beras yang ia bawa ada di bawah dan meminta perompak itu meminjamkan orang-orangnya untuk membawa karung beras yang ia janjikan. Young Kyu pun pergi dengan 5 orang perompak.


Sisa 10 dan Bang Won ingin melihat ‘barang dagangan’ itu. Sebuah karung diangkat keluar dan saat Bang Won membukanya, ternyata Boon Yi yang ada di karung itu dan segera menubruk Bang Won dan mencekiknya.


Moo Hyul yang panik melihat Bang Won yang mungkin akan mati langsung meneriakkan kalau mereka sebenarnya ingin menyelamatkan Boon Yi cs dari perompak itu. O oh..


Boon Yi langsung melepaskan cengkeramannya tapi para perompak itu mengepung mereka. Dan rupanya perompak itu bukan perompak Jepang, tapi orang Goryeo yang menyamar menjadi perompak Jepang. Lebih menjijikkan karena itu berarti mereka menjual bangsa sendiri.


Untung saja Bang Won meminjamkan pedangnya ke Moo Hyul. Mulanya Moo Hyul tak mau mengangkat pedang, walau berpura-pura. Tapi saat Boon Yi yang ditawan dan menyebutnya sebagai Pendekar, ia pun mencabut pedang dan membunuh beberapa perompak di sana.


Semua kaget, termasuk Moo Hyul sendiri. Sebelum kabur, salah satu perompak melihat tanda pengenal Muhwangsa dan ketakutan. Muhwangsa adalah kelompok pengawal yang terbaik di Gaegyong. Moo Hyul tahu kalau Guru Hong telah berbohong padanya. Ia pun pergi untuk mengkonfrontasi gurunya.

Walau mereka selamat, Un Nyeon, anak kecil yang sering Boon Yi gendong akhirnya meninggal karena lukanya tak sempat dirawat. Semua menangisi kepergian Un Nyeon yang tak adil. Bahkan Bang Won pun menitikkan air mata


Bang Won menemani Boon Yi menguburkan penduduk desa yang tewas demi mempertahankan hasil panen mereka. Boon Yi berniat pergi ke pemerintah setempat tapi dicegah oleh Bang Won karena khawatir pada keselamatan Boon Yi. Yang duduk di pemerintahan adalah kroni Hong In Bang yang juga adalah tuan tanah. Sia-sia saja jika Boon Yi melapor.


Boon Yi berterima kasih, tapi Bang Won tahu kalau gadis itu masih berniat ke pemerintah setempat. Ia mencekal Boon yi, menahannya. “Jikapun ada penilaian yang adil, yang kalian lakukan ini adalah melanggar hokum. Semua ini terjadi karena kalia menanami lahan tanpa melaporkan lebih dulu.”


Boon Yi menampar Bang Won keras-keras. “Apa yang diketahui bangsawan macam kau? Kami memanen 400 karung beras. Hukum? Menurut hukum kami hanya berhak 40 karung saja. Itu adalah hukum. Ketika aku lahir, katanya kami diwajibkan membayar 240 karung. Saat aku 6 tahun, kami membayar 320 karung. Dan sekarang..”

Boon Yi mengerjapkan matanya yang basah, “Kepada 6 bangsawan yang menyatakan hak milik atas tanah kami, kami harus membayar 360 karung. Ada 200 orang yang harus hidup dengan 40 sisa karung dalam setahun. Itu berarti kami harus bisa hidup dengan hanya dua sendok makan nasi dalam sehari.” Boon Yi menelan air matanya, “Tapi kami harus tetap hidup. Karena itulah kami mengolah tanah kosong ini. Dan ini adalah panen pertama kami setelah menunggu 3 tahun. Tapi banyak penduduk yang mati dan hasil panen kami dicuri.


“Karena itulah, walau demi Un Nyeon yang mati tanpa mendapatkan sebutir pun nasi setelah meladang selama 3 tahun, aku harus berbuat sesuatu. Karena selama aku hidup, aku harus melakukan sesuatu.”


Bang Won dan Young Kyu meninggalkan Boon Yi. Tapi baru sebentar Bang Won merasa ia harus mencari Boon Yi. Kenapa, tanya Young Kyu. Bang Won menjawab, “Aku mendengar suara dari hatiku.”


Ha.. Young Kyu kesal karena lagi-lagi tuannya berkata seperti itu. Pasti Bang Won sedang membohonginya. Tapi Bang Won serius dan melarikan kudanya kembali menuju kantor setempat, tempat yang mungkin Boon Yi tuju. Young Kyu hanya bisa mengomel, “Orang yang banyak belajar biasanya lambat berpikir dan bertindak. Dia pasti nggak belajar. Pasti nggak belajar. Uhh..” Tapi ia ikuti juga tuannya.


Mereka melihat ada asap di kantor setempat. Kebakaran! Tapi setelah dilihat-lihat, yang terbakar bukanlah kantor, tapi gudang penyimpanan makanan. 


Bang Won terpana melihat Boon Yi keluar dengan wajah penuh jelaga. Ia bertanya, “Apakah kau yang melakukannya?” Boon Yi menjawab datar kalau beras itu adalah milik mereka, dan Bang Won mengerti maksud Boon Yi tadi siang. “Jadi yang kau maksud melakukan sesuatu untuk Un Nyeong adalah ini?”


“Aku pergi kesana untuk melakukan penghormatan terakhir. Un Nyeon selalu kelaparan selama hidupnya. Ia harus makan sampai kenyang sebelum ia meninggalkan dunia ini,” jawab Boon Yi dan melangkah pergi.


Bang Won terus menatap Boon Yi yang meninggalkannya. Young Kyu menganggap Boon Yi sudah gila karena membakar gudang yang ada di samping kantor pemerintahan. Tapi Bang Won menjawab, “Ia.. sangat puitis.”


Hahaha… saya aja sampe ketawa liat mata Bang Won yang penuh kekaguman, apalagi Young Kyu. Pasti dalam hati komentarnya, Tuanku ini benar-benar gak belajar. Pasti nggak pernah belajar.

Boon Yi mengeluarkan boneka kayu dari Jung Do Jeon dan berkata dalam hati, “Paman, sekali lagi aku kehilangan arah. Ya, aku akan mencarimu. Sekarang.”


Naga kelima: Boon Yi, kekasih Yi Bang Won.


5 comments :

  1. salam kenal mbak Dee, aku pengagum rahasiamu, karena sudah lama aku mengikuti tulisan mbak Dee tapi baru komentar sekarang. kenapa baru sekarang? karena aku udah lama nyari sinopsis Six Flying dragons tapi belum juga ada yang memuaskan. terimakasih mbak Dee udah nulis sinopsis ini. dan semangat ya sampai episode 50. demi melihat aa' Ah In dengan mata yang penuh kekaguman terhadap Boon Yi

    ReplyDelete
  2. Mba dee.. kok blog nya skrg suka gk bisa di akses ya :-(

    ReplyDelete
  3. kapan drakor six flying dragon ini main di indo min?

    ReplyDelete
  4. makasih sinopsisnya min, keren banget

    ReplyDelete