November 1, 2015

Six Flying Dragon Episode 4

Six Flying Dragon Episode 4



Hong In Bang menemui Bang Won untuk membuktikan dugaannya. Bang Won telah membunuh ketiga orang itu. Tapi kali ini ia bertemu dengan Bang Won yang penuh senyum dan bertanya retoris, “Apakah Guru yang menaruh pita itu di sana?”



Setidaknya Bang Won menyebutnya guru dan berkata ia mempelajari sesuatu dari Hong In Bang. Malam itu Hong In Bang melakukan tindak kejahatan, sementara ia melakukan sebuah keadilan. Hong In Bang tersenyum, alangkah mengerikannya dunia ini jika semua orang menerima tindakan Bang Won sebagai suatu yang adil.


Tapi Bang Won menolak mendengar nasihat dari orang jahat. Ia masih muda dan ia sedang mempelajari bagaimana untuk adil. Tapi ia sepakat kalau mereka berdua bukanlah orang baik. Bang Won teringat ucapan mengejek Lee In Gyeom yang memintanya menjadi baik sama seperti ayahnya. Ia bertekad untuk tidak menjadi baik hingga ia kuat. Ia telah melihat apa jadinya orang baik yang tak memiliki kekuatan.


 

Ddang Sae mencari Gil Sun Mi, kembaran Gil Tae Mi, yang menurut tetangga Ddang Sae di kampung mengetahui keberadaan ibunya. Ia tak sadar kalau ia diikuti kurir mata-mata yang ingin membunuhnya karena mengetahui symbol rahasia mereka.



Saat ia sadar, sudah terlambat. Terbata-bata Ddang Sae berkata kalau ia ingin mencari ibunya yang ditangkap oleh orang yang bertato lambang itu. Ia menyebutkan nama ibunya, Yeon Hyang pelayan istan.


Hampir saja Ddang Sae terbunuh jika seseorang tak menyelamatkannya. Para penjahat itu langsung kabur saat mengetahui kalau orang itu adalah Gil Sun Mi. Gil Sun Mi kaget mendengar Ddang Sae menyebut Yeon Hyang sebagai ibunya.


Gil Sun Me meminta Ddang Sae untuk tidak menyebut-nyebut nama itu lagi. “Ibumu telah melakukan kejahatan besar terhadap Goryeo. Karena kesalahan ibumu, Ratu No Gook meninggal dunia. Jadi lupakanlah ia, kalau tidak kau dan keluargamu akan mati semua.” Gil Sun Mi semakin khawatir mendengar Ddang Sae telah menyebut nama ibunya di depan penjahat itu.


Gil Sun Mi merasakan kehadiran orang lain, dan langsung menyerang orang itu. Ternyata ia adalah kakek tua yang dulu pernah menemui Gil Tae Mid an saat ia membisikkan namanya, Gil Sun Mi langsung bersikap hormat. Ia mencari pembunuh muridnya. Bukan untuk balas dendam tapi penasaran.


Gil Sun Mi sepertinya tahu, tapi ia ingin kakek itu melakukan sesuatu sebagai gantinya. Kakek itu bersedia dan Gil Sun Mi menyebut satu nama, Cheok Sa Kwang, keturunan dari Jenderal yang melegenda kemampuan pedangnya, Cheok Joon Kyeong. Jawaban itu memuaskan kakek itu dan Gil Sun Mi meminta bantuannya. Ia minta agar kakek itu untuk melindungi Ddang Sae sampai anak itu aman hingga dewasa.


Gubrak. Terpaksalah kakek itu menepati janjinya. Tapi ia tak bisa tinggal lama di Goryeo, ia hanya bisa tinggal 3 tahun dan menawari Ddang Sae untuk belajar kungfu padanya. Tapi Ddang Sae tak tertarik dan malah meninggalkan kakek itu.


Sementara itu ada seseorang yang diminta oleh neneknya untuk menjadi ahli pedang yang hebat. Ia adalah Moo Hyul, pemuda yang bisa membunuh babi hutan dengan tangan kosong. Neneknya membawa Moo Hyul ke ahli pedang terkenal, Guru Hong, yang katanya adalah guru dari Hong Ryun, Gil Tae Mi dan Gil Sun Mi.


Melihat gaya guru itu, kayaknya gosip itu hanya gosip deh. Tapi Nenek tak mengetahuinya dan menganggap Guru Hong yang paling hebat. Ia bahkan menawarkan 10 cucunya yang lain sebagai pelayan agar Moo Hyul bisa belajar pada Guru Hong.  Walau awalnya jual mahal, Guru Hong akhirnya menerima Noo Hyul menjadi muridnya.


Ddang Sae pulang ke rumah dan disambut oleh Boon Yi yang menangis karena kanget. Ia juga bertemu dengan Yeon Hee, tetangganya yang juga senang sekali bertemu dengannya. Malam itu ia bermimpi akan ucapan Gil Sun Mi yang mengatakan ia akan terbunuh jika mencari ibunya lagi. Benar-benar mimpi buruk.


Ddang Sae berterima kasih pada Yeon Hee yang mengijinkan Boon Yi menginap. Yeon Hee malu-malu di hadapan Ddang Sae. Boon Yi menggoda Yeon Hee yang menaruh telur rebus khusus di mangkuk Ddang Sae dan bertanya, “Kira-kira siapa ya yang akan menjadi pasanganmu di festival nanti? Yeon Hee menggeleng malu. Belum ada.


Nampak sekali kalau Yeon Hee tertarik pada Ddang Sae. Ia menjahit baju pria yang akan dipakai pasangannya nanti sambil terus mencuri pandang pada Ddang Sae. Ia menjadi teman curhat Ddang Sae yang mengaku menjadi pengecut karena menyerah mencari ibunya. Yeon Hee menasehati Ddang Sae untuk tak berpikiran seperti itu.

Saat Ddang Sae sudah merasa tenang, ia meminta Ddang Sae untuk menjadi pasangannya di festival nanti. Ia tak mau menjadi bidadari jika Ddang Sae bukan pasangannya.








Ddang Sae kaget, tak menyangka Yeon Hee suka padanya. Sekarang ia dan Yeon Hee sering bersama, dan sepertinya ada suka di antara mereka.


Parlemen Goryeo (Dodang) tak ada bedanya dengan Taman Kanak-Kanak. Ribut sekali. Salah satu pejabat mengejek rekannya yang penterjemah rendahan yang bisa duduk di kursi Dodang. Tapi peringkat di Dodang ditetapkan oleh siapa yang memiliki tanah yang terbanyak. Pantas saja Gil Tae Mi ngebet untuk mendapatkan tanah dari Heo Ju.

Tapi semakin tinggi peringkat mereka, tanggung jawab juga semakin besar. Sekarang wilayah perbatasan pasukan Jepang sudah masuk ke Yangkwangdo. Para tuan tanah yang juga memiliki pasukan harus mengirimkan pasukannya. Tak ada yang mau dengan berbagai alasan. Bahkan Gil Tae Mi pun juga menolak. Karena tanahnya sekarang kebanjiran. Hahaha.. nyambung dimana coba alasannya itu.


Lee In Gyeom pening kepalanya. Bagaimana caranya agar para tuan tanah itu mau mengeluarkan pasukannya? Para tuan tanah itu sepakat kalau mereka tak punya uang lagi untuk perang. Hong In Bang menawarkan untuk mengadakan lelang. Lelang perang.

Biarkan rakyat yang menanggung biaya perang itu. Jika tuan tanah itu berhasil mengalahkan pasukan Jepang di suatu daerah, maka daerah itu akan menjadi milik tuan tanah yang membelanya. Rakyat harus berterima kasih karena telah dibela dari pasukan Jepang. “Jika Anda melakukannya, mereka akan berlomba-lomba memberi tentara untuk berperang.”


Lee In Gyeom tersenyum mendengar usul Hong In Bang yang menjual tanah rakyat demi perang. Ia meminta Hong In Bang untuk melakukannya.


Hong In Bang benar. Sekarang para tuan tanah berlomba-lomba untuk diberi kesempatan berperang, dengan memberi upeti pada Lee In Gyeom, bahkan padanya. Goryeo benar-benar sudah tak tertolong lagi.


Dan tanah-tanah penduduk sekarang mulai dipatok-patok. Desa Boon Yi dipatok oleh para pengawal Lee In Gyeom sebagai balas jasa mereka melindungi rakyat. Tentu saja mereka tak mau karena ini adalah tanah mereka, apalagi salah satu pengawal berbuat tak sopan pada Yeon Hee. Para penduduk pun menyerang pengawal-pengawal itu hingga kocar-kacir.

Gil Tae Mi mendengar kalau pengawalnya dipukur mundur dan menambah lagi jumlah pengawalnya.


Penduduk desa saat itu sedang mengadakan Festival Bintang dengan Yeon Hee dan Ddang Sae yang menjadi maskot festival itu. Mereka menaiki punggung yang diibaratkan seperti jembatan. Saat Ddang Sae akan menempelkan tanda merah di kening Yeon Hee, jembatan itu rubuh karena pengawal Gil Tae Mi menyerang mereka.


Suasana saat itu sangat mengenaskan. Para penduduk dipukul hingga terluka parah. Kakak Yeon Hee melarikan adiknya. Ddang Sae yang terjatuh hingga kakinya terkilir tapi tetap mengejar mereka. Tiba-tiba para pengawal itu menghadang mereka dan menusuk kakak Yeon Hee hingga tewas.


Salah satu pengawal yang dulu melecehkan Yeon Hee tersenyum keji pada Yeon Hee. Yeon Hee ketakutan, tapi ia ditarik oleh pengawal itu dan melemparnya ke tanah. Astaga.. saya gak bisa menceritakan apa yang terjadi.


Ddang Sae yang melihat kejadian itu terbelalak ketakutan. Ia bersembunyi menatap Yeon Hee yang menangis sambil menatapnya.


Malam harinya, Yeon Hee yang compang camping kembali ke rumah dengan Ddang Sae yang terus mengikutinya. Akhirnya Yeon Hee berbalik dan menyuruh Ddang Sae pergi. Tapi Ddang Sae tak kunjung pergi, hingga ia melempar batu dan berteriak, “Kusuruh kau pergi. Pergi!”



Sesampainya di rumah, Boon Yi menamparnya. Ddang Sae menangis dan berkata kalau ia tadi ikut campur, Yeon He dan ia akan mati. Kakak Yeon Hee yang mati itu adalah buktinya. “Kau tak tahu betapa kejamnya mereka!”

Boon Yi menamparnya lagi dan menangis. “Kau seharusnya juga mati. Tak tahukah betapa Yeon Hee sangat menyukaimu? Ia terus berdoa dan berdoa agar kau kembali dengan selamat. Tapi kau memakai baju yang ia buat dan tetap bersembunyi?”

Penduduk desa berduka, menangisi kemalangan mereka. Disiksa bukan oleh penjajah, tapi oleh bangsa sendiri.


Ddang Sae membalas dendam pada pengawal kejam itu. Tapi saat ia akan mengayunkan sabitnya, ia melihat ibu dan adik perempuan pengawal itu menangis melihatnya. Ia tak bisa berbuat kejam dengan membunuh orang satu-satunya yang menghidupi keluarga itu. Tak tahan dengan semua ini, ia pun pergi.


Putus asa dengan keadaannya sekarang, Ddang Sae berniat bunuh diri dengan terjun dari jurang. Kakek tua yang dulu pernah menemuinya muncul dan mencegahnya untuk bunuh diri. Tapi ia tetap ingin bunuh diri. Ia tak bisa melindungi ibunya, tak bisa melindungi Yeon Hee. Tak ada gunanya lagi ia hidup. Iapun terjun ke jurang.


Tapi secepat kilat kakek itu menariknya. Ddang Sae tak boleh mati dan mencemarkan nama baiknya (yang tak sanggup menjaga Ddang Sae sesuai pesan Gil Sun Mi). Ddang Sae bertanya siapakah kakek itu dan kakek itu menjawab. Jang Sam Bong. (atau yang sering nonton To Liong To pasti kenal dengan nama Thio Sam Hong, si kakek gurunya Thio Buki atau Zhang Wuci)

6 tahun kemudian


Bang Won duduk di atap sambil minum arak. Heo Kang dan temannya yang lain telah meninggalkan Sungkyunkwan. Semua orang baik yang lemah sekarang sudah pergi. Yang tersisa hanyalah orang-orang tak tahu malu seperti Gil Yoo yang sekarang sudah bekerja di pemerintahan tapi tetap memukuli siswa Sungkyunkwan yang membaca buku Mencius.



Bang Won merasa bosan. Apakah ini berarti ia harus kembali ke Hamju? Belum juga ia memutuskan, ia melihat sosok berbaju hitam berada di atap dan membuntuti Baek Yoon.


Ia terkejut melihat betapa mudahnya orang itu membunuh Lee Man Jo, pengawal Baek Yoon. Dan tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk membunuh Baek Yoon. Siapa dia?


Bang Won diam-diam mengikuti orang itu yang masuk ke hutan, menuju sebuah tebing berbatu. Ternyata orang itu menempelkan sesuatu di pintu.


Bang Won penasaran akan dinding yang ada di tebing itu, karena ternyata dinding itu adalah pintu. Pintu yang menuju sebuah ruangan penuh buku. Ia menyalakan api dan menemukan patung kayu kecil. Di salah satu dinding, ada sebuah gambar. Tapi karena ruangan gelap ia tak bisa melihat dengan jelas.


Ada sumber cahaya di dinding lain, dan saat ia membuka kain penutupnya, dinding itu adalah jendela yang mengarah ke Gaegyong. Bang Won terpesona melihat pemandangan itu.


Tapi itu berarti dia bisa melihat dengan jelas gambar yang ada di dinding satunya. Ia meneliti gambar itu dan terbelalak. Ini adalah sebuah peta. Ada Gaegyong, daerah perbatasan timur dan barat dengan Manchu. Ini sebuah peta. Tapi bukan peta Goryeo. “Ini adalah Shin.. Jo..seon (Joseon Baru). Siapa .. siapa pembuatnya?”


Naga ketiga: Yi Bang Won - Raja Taejo dari Joseon


Orang berbaju hitam itu adalah Lee Bang Ji, atau yang kita kenal dengan Ddang Sae. Ia teringat ucapan Jung Do Jeon malam itu saat ia bersembunyi dalam kereta. Membunuh Baek Yoon agar bisa mengakhiri Goryeo yang sudah busuk ini. Bang Ji sudah membunuh Baek Yoon. “Sambong, siapa lagi yang aku harus bunuh sekarang?”


Naga kelima. Lee Bang Ji, Ahli pedang terbaik di seluruh negeri.

Selanjutnya : Six Flying Dragon Episode 5

No comments :

Post a Comment