November 1, 2015

Six Flying Dragon Episode 3

Six Flying Dragon Episode 3



Jung Do Jeon ditangkap dan mendapat siksaan keji dari Gil Tae Mi. Alih-alih ditempeli besi panas, waja Jung Do Jeon ditutupi kertas basah sehingga Jung Do Jeon sesak hampir kehabisan nafas. “Bagaimana… bagaimana rasanya? Aku sudah penasaran dengan ini sejak lama. Kenapa kau tak mengatakan sesuatu?,” tanya Gil Tae Mi kegirangan saat melihat Jung Du Jeon terengah-engah saat kertas- kertas itu dilepas.




Agak-agak gak waras saya kira si Gil Tae Mi ini. Pesolek yang tersohor kemampuan pedangnya, tapi menganggap penyiksaan seperti mainan anak kecil.

Bang Won minta ijin pada ayahnya untuk tetap tinggal di rumah kakak sulungnya, Bang Woo, untuk menuntut ilmu di Sungkyunkwan agar bisa menjadi seperti Jung Do Jeon.


Walau kelompok Jung Do Jeon berhasil membuat pasukan Yuan mundur, tapi berbekal restu dari Jenderal Choi Young yang ingin menstabilkan negara, Lee In Gyeom menahan semua menteri Sadaebu.


Satu per satu menteri dari golongan Sadaebu ditangkap dan siswa Sungkyunkwan yang menempelkan poster protes dipukuli di tempat.


Bang Won berangkat ke Sungkyunkwan dengan hati riang. Tapi di sana sedang terjadi penangkapan kelompok Sadaegu dan siswa Sungkyunkwan mencoba sekuat tenaga mencegah tentara itu menangkap guru-guru mereka. Tapi siswa-siswa itu tak diperbolehkan mendekat.


Sebelum pergi, Hong In Bang memberikan pesan pada anak-anak muda itu. Seperti Konfusius pernah berkata kalau kebajikan itu seperti sebuah biji dan pasti ada di hati setiap orang. “Walau biji itu nampak keras dan tak bernyawa, tapi biji itu akan pecah dan akan hidup.

“Karena itu, hiduplah dengan prinsip seperti itu dan sebarkanlah ke setiap tempat.  Hidup susah dengan semangat. Semakin mereka menjatuhkanmu, hiduplah lebih susah dan lebih susah lagi!”

Bang Won menatap kepergian Hong In Bang yang ditangisi oleh siswanya. Ia yakin kalau ia sudah berada di tempat yang tepat.


Jung Do Jeon dikerangkeng untuk dibawa ke tempat pengasingan. Saat rombongan Jung Do Jeon beristirahat, muncul dua anak dan si anak perempuan itu memohon agar diperbolehkan bicara dengan ayahnya yang akan diasingkan. Jung Do Jeon terkejut. Sejak kapan ia punya anak?


Haha.. ternyata ini adalah akal-akalannya Boon Yi saja. Kepala pasukan langsung jatuh iba melihat wajah Boon Yi yang memelas dan memperbolehkan mereka untuk bicara untuk terakhir kalinya.
Mereka segera mendekati Jung Do Jeon dan Ddang Sae bertanya tentang lagu yang dinyanyikan Jung Do Jeon. Lagu itu mirip dengan lagu yang ibu mereka nyanyikan. Jung Do Jeon menjawab kalau lagu itu diciptakan oleh almarhum Raja (Gong Min). Hanya Raja, Ratu No Gook dan beberapa orang saja yang mengetahui lagu itu.

Para tentara mendekat untuk memisahkan mereka, tapi Boon Yi langsung menangis keras-keras lagi. Tentu saja kepala pasukan yang ternyata berhati lembut itu langsung membatalkan niatnya.


Ddang Sae bertanya apakah Jung Do Jeon mengenal Gan Nan? Jung Do Jeon menggeleng. Kalau Yeon Hyang? Jung Do Jeon terbelalak, mendengar nama pelayan Ratu No Gook disebut-sebut. Tapi Yeon Hyang telah meninggal 18 tahun yang lalu.


Ddang Sae dan Boon Yi akhirnya berpisah dengan ‘ayah’ mereka, tapi mereka masih belum menemukan jawaban pertanyaan mereka. Dimana ibu mereka? Tapi Jung Do Jeon pun juga bertanya-tanya. Bagaimana mungkin Yeon Hyang yang sudah meninggal 18 tahun yang lalu bisa memiliki anak? Tapi mata anak perempuan itu persis dengan mata Yeon Hyang.

Tak mendapat jawaban yang dicari, Boon Yi mengajak kakaknya untuk pulang. Mungkin saja saat mereka sibuk mencari, Ibu sudah pulang ke rumah. Tapi Ddang Sae masih belum mau pulang. Ia menyuruh Boon Yi pulang lebih dulu dan ia akan tinggal di sini untuk mencari lagi. Jika Boon Yi takut sendirian di rumah, Boon Yi bisa menginap di rumah tetangga mereka, Yeon Hee.


Bang Won pergi ke markas pengemis dan mencari Boon Yi. Ia terkejut saat mendengar kalau Boon Yi sudah pergi 2 jam yang lalu. Ia mencoba mengejar Boon Yi, tapi tak ketemu. Bang Won menyesal ia datang kurang cepat karena ia ingin memberitahu gadis kecil itu kalau Boon Yi sekarang bisa bergantung padanya.

Ia sebenarnya ingin mengajak Boon Yi untuk menanam pohon Lee In Gyeom. Ia akan menjadi pria terkuat dan begitu ia menjatuhkan Lee In Gyeom, ia akan memotong pohon itu.


Hari berganti hari. Bang Won sekarang menjadi sangat pintar dan logatnya pun sekarang sudah seperti anak Gaegyeong. Ia bergabung dengan kelompok diskusi rahasia Heo Kang, anak Menteri Pertanahan Heo Ju, yang membicarakan tentang mensius.

Tapi kelompok rahasia itu makin lama makin menyusut. Bulan ini saja sudah ada 5 siswa meninggalkan Sungkyunkwan. Tapi Heo Kang ingin terus menyebarkan biji walau guru-guru Sungkyunkwan yang ditangkapi dan diasingkan.


Ini adalah ulah Gil Yoo, anak Gil Tae Mi. anak buahnya mereka menyiksa salah satu murid Sungkyunkwan yang ikut kelompok diskusi Heo Kang agar mau membakar kitab mensiusnya atau wajah murid itu akan ditato. Murid itu tak bersedia membakar kitab itu.


Keesokan harinya, Sungkyunkwan heboh melihat teman mereka gantung diri dengan tato di dahi. Salah satu teman yang mengundurkan diri,


Chan Sung, ikut menangis melihat kematian temannya. Ia juga ditangkap oleh kelompok Gil Yoo. Ancamannya pun sama. Tapi karena ia tak sanggup ditato seperti itu, maka ia membakar buku Mensius. Karena tindakan memalukan itu, ia akhirnya memilih keluar dari Sungkyunkwan.


Bang Won marah hingga menangis. Tak seharusnya seniornya gantung diri ataupun keluar dari Sunkyunkwan. Mereka tak bersalah. Yang bersalah adalah kelompok Gil Yoo yang telah berbuat keji. Heo Kang mengingatkan Bang Won agar tak gegabah karena Bang Won tak bisa mengalahkan semuanya sendirian.


Mereka mendapat kabar baik. Guru Hong In Bang telah kembali dari pengasingan. Heo Kang memperkenalkan Bang Won sebagai murid yang masuk ke Sungkyunkwan saat Guru Hong In Bang ditangkap dan selalu mengutip kata-kata Hong In Bang sebelum diasingkan.

Dengan kepulangan guru mereka, Heo Kang cs merencanakan untuk memasang poster yang menceritakan kejadian pemaksaan pembakaran buku yang didalangi Gil Yoo. Mumpung Guru Hong In Bang sudah pulang dan mereka punya saksi yaitu Chan Sung.


Malam itu, giliran Bang Won yang ditangkap oleh anak buah Gil Yoo.  Bang Won ketakutan, membayangkan apa yang akan terjadi padanya.

Keesokan harinya, poster terpasang di aula Sungkyunkwan, membuat heboh seluruh kampus.  Heo Kang heran melihat Bang Won yang tumben belum ada di sekolah.


Young Kyu membujuk Bang Won untuk sekolah. Tapi Bang Won bergeming, malah bertanya bagaimana rasanya jika seorang pria  hidup dengan rasa malu. Ia teringat pada ayahnya yang akhirnya tunduk pada Lee In Gyeom.


Poster tuduhan itu sampai juga ke istana. Baek Yoon memerintahkan Hong In Bang untuk menyelidiki kasus ini agar para siswa puas dengan hasilnya. Gil Tae Mi marah pada Baek Yoon, tapi Baek Yoon sudah memutuskan.

Kesal, akhirnya Gil Tae Mi menerima tantangan Lee Man Joo, pengawal Baek Yoon, yang tak percaya pada keahlian pedangnya. Walau pesolek, ternyata Gil Tae Mi memang hebat dan bisa mengalahkan Lee Man Joo.


Bang Won akhirnya berangkat sekolah. Saat itu Hong In Bang mulai menginvestigasi kasus itu. Heo Kang mengaku kalau ia yang menulis poster itu dan ia memiliki saksi. Kang Chan Sung yang keluar dari Sungkyunkwan beberapa waktu yang lalu.


Kang Chan Sung maju dan mengaku kalau ia tak membakar buku. Ia keluar dari Sungkyunkwan karena ia sakit dan butuh pengobatan. Chan Sung membantah semua tuduhan Heo Kang. Karena tak terbukti tuduhan itu, Hong In Bang menghukum Heo Kang dengan 10 kali pecutan.
Teman-teman Heo Kang yakin kalau Chan Sung pasti disuap atau malah diancam oleh kelompok Gil Yoo. Tapi Bang Won menduga kalau Chan Sung tak berani mengaku di hadapan teman-temannya kalau ia telah membakar buku Mensius. Heo Kang bertanya, bagaimana Bang Won bisa merasa yakin?
Bang Won diam. Tapi hatinya menjawab. Karena aku merasakan yang Senior Chan Sung rasakan.

Lee In Gyeom memarahi Gil Tae Mi yang mengusik Baek Yoon. Ia tak menggubris permintaan Gil Tae Mi yang minta tanah milik Heo Ju agar tak diremehkan Baek Yoon lagi. Ia malah mengancam akan menghajar Gil Tae Mi jika mengganggu Baek Yoon lagi.


Tentu saja Gil Tae Mi kesal. Tapi ada seseorang yang menunggunya di rumah. Hong In Bang.

Bang Won pulang dengan badan terciprat darah dan pingsan di halaman rumah.


Keesokan harinya, tentara datang ke rumah Heo Kang untuk menangkap Heo Kang. Heo Kang didakwa membunuh tiga anak buah Gil Yoo. Dan ada buktinya. Tali pakaian Heo Kang yang lepas ditemukan di TKP.


Heo Kang dipenjara. Gil Tae Mi memaksa Heo Ju untuk memberikan tanah yang dimilikinya sebagai ganti pembebasan putranya. Dengan berat hati Heo Ju setuju.


Gil Tae Mi menari-nari di Hwasadan dan memamerkan surat tanah itu pada para gisaeng. Cho Young, gisaeng senior Hwasadan, bertanya mengapa Gil Tae Mi terlihat senang sekali. Gil Tae Mi sedang merayakan kemenangannya di Hwasadan. Ia berterima kasih pada Hong In Bang yang memberinya ide ini.


Hong In Bang menagih janji Gil Tae Mi untuk menikahkan anak-anak mereka. Gil Tae Mi meyakinkan Hong In Bang kalau mereka pasti akan berbesan. Ia bertanya apakah pembunuhan tiga orang itu dengan tangannya sendiri? Hong In Bang menjawab kalau ia menggunakan pembunuh bayaran, membuat Gil Tae Mi lega.


Bang Won mencari Guru Hong In Bang yang katanya pergi ke Hwasadan. Ia kaget melihat gurunya begitu akrab dengan Gil Tae Mi yang menganggap Hong In Bang sebagai teman dekatnya. Gil Tae Mi yang separuh mabuk bahkan berterimakasih pada Hong In Bang yang membantunya menundukkan Heo Jo.


Sesampainya di rumah Gil Tae Mi dihadang oleh kakek tua yang menanyainya tentang seorang pria dalam gambar. Gil Tae Mi mengaku tak tahu, tapi kakek itu terus mengusik Gil Tae Mi membuatnya marah dan mencabut pedangnya.

Namun hanya satu jurus saja dan kakek itu tahu kalau Gil Tae Mi bukanlah orang yang terkuat. Dengan bahasa Cina yang tak dimengerti Gil Tae Mi, ia berkata bagaimana mungkin orang sembrono bisa menjadi orang terkuat. Dan ia pergi begitu saja.


Bang Won menunggui Hong In Bang di rumah. Ia bertanya apa yang dilakukan Hong In Bang di sana? Apakah Hong In Bang melakukan sesuatu yang ia duga?  Hong In Bang membenarkan, membuat Bang Won marah. Bagaimana mungkin Guru Hong In Bang melakukannya? “Mengapa Guru malah bekerja sama dengan orang jahat?”
“Jahat? Apa itu jahat? Dan apa itu baik?” tanya Hong In Bang.


Bang Won tak percaya gurunya berkata seperti itu. Guru yang berpidato saat ia masuk ke Sunkyunkwan dengan penuh prinsip. 


Hong In Bang mengingatnya. Ia ingat setelah itu ia masuk penjara dan disiksa, hingga akhirnya ia menyerah. “Kau tak tahu kau ini ayam atau burung sampai kau mencoba terbang. Aku juga tak tahu siapa aku sebenarnya. Aku tak tahu bagaimana bersikap di masa-masa seperti itu. Baik atau jahat?” Ia tertawa getir, “Apa gunanya itu?”

Bang Won tak tahu apa artinya baik atau jahat. Tapi setidaknya ia akan adil. Hong In Bang bertanya memang apa bedanya baik dan adil?


Dan kita melihat apa yang terjadi sebelum ini. Heo Kang dibebaskan. Pembunuh bayaran Hong In Bang tidak membunuh ketiganya. Ketiga orang itu sudah terbunuh saat ia tiba di TKP. Ia hanya menaruh tali baju Heo Kang.

Bang Won menanam satu pohon lagi. Pohon Hong In Bang. Ia akan menghancurkan pohon itu kelak. Ia menanyai Young Kyu yang mengkhawatirkan Bang Won yang terus-terusan menghilang, “Apa kau tahu bedanya baik dan adil?”


Hong In Bang bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang membunuh ketiga orang itu? Ia teringat ucapan Bang Won yang tak mencoba baik, tapi setidaknya berlaku adil.


Dan saat ditanya apa bedanya, Bang Won menjawab. Kebaikan berarti merengkuh semua, termasuk kejahatan dan bahkan menerima kejahatan itu. Sedangkan keadilan berarti tak pernah menerima kejahatan. “Keadilan berarti kau harus menyingkirkan kejahatan agar bisa disebut adil!”

Hong In Bang menyadari kata-kata Bang Won, “Apakah dia?” Ia berbalik dan berlari.


Young Kyu tak tahu jawabannya. Tapi Bang Won hanya diam. Ia masih ingat bagaimana ketiga orang itu menyiksanya dan bagaimana ia membakar buku Mensius di hadapan ketiganya yang tertawa terbahak-bahak. Ia sekarang tersenyum, apalagi saat Young Kyu bertanya tentang darah yang ada di badannya. Ia menjawab, “Darah itu bukan darahku.”


Young Kyu semakin bingung, apalagi saat Bang Won memilih pergi. Ia kaget saat menyadari ada tiga tanaman yang tumbang. Ini pertama kalinya ia melihat hal seperti ini.


Bang Won melangkah dan bertanya sendiri. Pertama? Langkahnya semakin ringan saat ia tersenyum dan penuh tekad, “Ini baru permulaan.”


Naga ketiga. Yi Bang Won, Raja Joseon berikutnya.

Selanjutnya : Six Flying Dragon Episode 4

No comments :

Post a Comment