November 28, 2015

Six Flying Dragon Episode 10

Six Flying Dragon Episode 10



Boon Yi khawatir melihat Bang Won datang dengan wajah murung. Apa yang terjadi? Kenapa Bang Won minta maaf? Boon Yi semakin tak sabar saat Bang Won tampak ragu dan cemas.

“Rencana Stabilisasi Perbatasan,” Bang Won berhenti sejenak, kemudian memeluk pinggang Boon Yi dan mengangkatnya, “LOLOS!”


Sinopsis Six Flying Dragon Episode 10

Boon Yi malu karena Bang Won memeluknya di tengah pasar. Tapi Bang Won tak peduli karena ia benar-benar senang. Bang Won memastikan kalau usulan itu lolos dan yakin peta kekuasaan di Gaegyong akan berubah.

Saat Boon Yi mengingatkan tentang pemalsuan dokumen, Bang Won menyuruhnya untuk tak khawatir dulu karena sekarang saatnya menikmati kemenangan. “Saat seperti ini jarang terjadi dalam hidup. Jika kita tak menikmati saat-saat seperti ini, hidup akan menjadi suram. Aku tak mau hidup seperti itu. Tak bisa.”


“Aah.. kau tak bisa?” tanya Boon Yi mencemooh, tapi kemudian ia tersenyum. “Aku juga tak bisa melakukannya.”

Sinopsis Six Flying Dragon Episode 10
Lee In Gyeom marah karena Gil Tae Mi mengkhianatinya. Tapi Gil Tae Mi membela diri. Lee In Gyeom dululah yang mengkhianatinya dengan mengirim orang untuk membunuh Hong In Bang semalam. Lee In Gyeom bersikeras kalau ia tak pernah mengirim pembunuh itu.


Poeun bingung dengan keadaan yang berbalik 180 derajat dan bertanya pada Choi Young apa yang sedang terjadi. Ia menebak kalau Choi Young melepaskan anak buah Hong In Bang dan mengubur peristiwa desa di Yiseo. Choi Young mengutip Seni Perang Sun Tzu, kalau ada awal dan akhir dari sebuah masalah, dan ini adalah awalnya. Po Eun bertanya bagaimana akhirnya?

“Akhirnya adalah ia akan menghabisiku,” jawab Hong In Bang. Choi Young melengos pergi. Pada Poeun, Hong In Bang mengatakan kalau bagi Choi Young, mempertahankan negara adalah prioritas utama.

Po Eun mengerti jalan pikiran Choi Young, tapi apa yang sebenarnya direncanakan Hong In Bang dengan menyetujui usulan itu. Apa Hong In Bang merasa mampu untuk menarik Yi Seong Gye ke pihaknya? Hong In Bang menghela nafas dan menjawab, “Tunggu dan lihatlah.”


Yeon Hee melihat wajah Sambong yang tak gembira padahal rencana mereka berhasil. Jung Do Jeon masih penasaran pada ahli pedang yang menciptakan hujan langit. Baginya, ahli pedang itu adalah seperti jagung popcorn yang meletus tak tentu. Dan factor yang tak bisa dikendalikan ini malah paling berbahaya. Yeon Hee berjanji untuk mencari tahu tentang hal ini.

Jung Do Jeon berencana pergi ke Hamju untuk menemui Yi Seong Gye dan menyuruh Yeon Hee untuk ke goa mengambil dokumen di sana.


Lee In Gyeom memarahi Cho Young yang memberi informasi keliru. Cho Young yakin kalau informasinya benar tapi memberitahu kalau Hong In Bang diserang seseorang setelah pertemuan malam itu. Lee In Gyeom menyadari pendirian Hong In Bang cs berubah karenanya dan ada dalang yang bermain di balik Hong In Bang. Dan orang itu yang menyewa pembunuh itu. Ia menyuruh Cho Young menyelidikinya.



Yang paling penting, siapa orang yang paling diuntungkan dengan kejadian ini? Yi Seong Gye. Tapi Cho Young merasa hal itu tak mungkin karena orang seperti Yi Seong Gye tak akan mampu melakukannya. 

Sinopsis Six Flying Dragon Episode 10

Betapa sederhananya masalah Moo Hyul. Moo Hyul mempersoalkan jabatan Bukdoo yang kata Bang Gwa tak ada. Boon Yi meminta Moo Hyul untuk tak mempermasalahkan hal itu dulu. Moo Hyul mengerti dan pergi ke luar dengan beralasan mau cari makanan lagi.



Setelah berdua saja, Boon Yi bertanya apa langkah Bang Woon selanjutnya. Bang Won tersenyum dan berkata kalau ayahnya tak mungkin menarik usulan itu karena ayahnya adalah Jenderal Yi Seong Gye. Ayahnya pasti murka tapi ayahnya pasti akan menerimanya. Mungkin namanya akan dihapus dari silsilah keluarga, tapi ia akan menerimnya.



Padahal tidak. Setelah Yi Seong Gye mendengar kabar itu, ia menyuruh Bang Gwa untuk pergi ke Gaegyeong dan membatalkan usulan itu. Sebenarnya Bang Gwa  menyetujui usulan itu. Jika rencana itu berhasil dilakukan, mereka bisa menghidupi rakyat yang migrasi ke Hamju. Kekuatan militer mereka juga semakin kuat untuk mengusir Jurchen dan Hobaldo.


Ji Ran pun setuju karena menurutnya hanya Yi Seong Gye yang bisa melakukan rencana itu. Yi Seong Gye tak akan korupsi uang itu seperti para pencuri di Dodang. Tapi Yi Seong Gye sudah bulat tekadnya ia tak akan pernah mau menyetujuinya. Ia menyuruh Bang Gwa mematuhi perintahnya. Pada Shin Jeok, ia menyuruh untuk menyampaikan pesannya pada Jung Do Jeon. Ia menyuruh Young Kyu untuk memberitahu Bang Woo secara diam-diam untuk menangkap Bang Won.

Sinopsis Six Flying Dragon Episode 10

Setelah bertemu dengan Hong In Bang dan Gil Tae Mi, ia  menggali informasi dari mereka, Jung Dae Joon sadar kalau pembunuh itu bukanlah suruhan Lee In Gyeom dan Hong In Bang cs. Jadi pembunuh itu ada di pihak mana?


Yeon Hee yang baru saja kembali dari goa memberitahu kalau pembunuh itu bertindak atas ucapan Jung Do Jeon dan ia memberikan surat Ddang Sae yang ia temukan di atas meja. Jung Do Jeon semakin penasaran karena ia hanya menceritakan rencana itu hanya pada Yeon Hee dan Hong In Bang saja.






Bang Won membawa Boon Yi dan Moo Hwul ke rumah kakaknya, Bang Woo, yang belum mendengar kabar apapun dari Hamju. Moo Hyul memperkenalkan diri sebagai pengawal Bukdoo rangking dua. Lagi-lagi muncul komentar ‘Bukdoo apa?’ dari Bang Woo. Moo Hyul sekarang kayaknya udah kebal dengan pertanyaan itu dan melanjutkan kalau ia pernah menyelamatkan Bang Won. “Tak hanya sekali, tapi dua kali,” Moo Hyul mengacungkan dua jari tangannya.


Bang Won meyakinkan kakaknya kalau ucapan Moo Hyul benar. Ia menoleh pada Boon Yi dan berkata, “Gadis ini juga dua kali..”  Boon Yi mengangguk-angguk sambil juga mengacungkan dua jari tangannya. Bang Woo menebak kalau Boon Yi juga dua kali menyelamatkan Bang Won. Bang Won hanya tersenyum dan melanjutkan ucapannya, “Tidak. Dia menggigit tanganku dua kali.”

Hahaha… Boon Yi langsung cemberut. Bang Won meminta kakaknya untuk memberi pekerjaan pada dua orang itu. Moo Hyul kuat dan bisa dilatih beladiri. “Dan gadis ini..” ia menatap Boon Yi dari ujung rambut ke ujung kaki. “Ia terampil untuk segala macam perintah.”

Bang Woo tak keberatan dengan hal itu. Moo Hyul langsung meminta satu hal lagi. “Kalau boleh, bisakah keluarga saya juga?” Moo Hyu mengacungkan dua jari tangannya, “Saya sibuk, dua kali menyelamatkan Tuan Muda hingga saya tak mampu menjaga keluarga saya.”


Bang Won langsung menarik Boon Yi dan mengingatkannya kalau ia juga punya keluarga. “Keluarga di Yiseo?” Boon Yi terkejut melihat Bang Won meminta kakaknya untuk mengijinkan keluarga Boon Yi untuk tinggal di rumah mereka. “Mereka berkemauan kuat dan mereka layak mendapat tempat di sini.”


Moo Hyul tak henti-hentinya berseru gembira melihat kamp pelatihan dan rumah yang nantinya keluarganya akan tempati. Ia tak peduli saat Bang Won mengingatkan kalau ia akan menjalani latihan militer yang keras sekali. “Aku sudah terbiasa berlatih keras. Tapi kudengar aku juga dapat makan, kan?”

Moo Hyul tak percaya kalau ia mendapatkan semua koneksi, kesejahteraan, popularitas dan keluarga terpandang, “Dan semuanya itu aku dapaatkan dari yang terbaik!” Bang Won dan Boon Yi geli mendengarnya. Dan lagian, bagaimana bisa Moo Hyul membawa-bawa keluarganya tadi? Moo Hyul menjawab tanpa malu, “Begitulah nenekku mengajarkanku.”


Moo Hyul pun pamit untuk menjemput keluarganya. Boon Yi bererima kasih pada Bang Won yang memikirkan penduduk desanya. Malu-malu Bang Won berkilah kalau itu sebagai tanda terima kasihnya karena Boon Yi sudah menjaga rahasianya. Ia pun menarik tangan Boon Yi, mengajaknya pergi.


Ternyata Bang Won mengajaknya untuk membeli sepatu. Boon Yi malu melihat Bang Won mengetahui kalau sepatu jeraminya yang sudah berlobang.  Bang Won meminta si penjual untuk mencarikan sepatu yang cocok untuk Boon Yi. Tapi si penjual menjawab, “Kalau seorang pria membelikan sepatu untuk seorang wanita, pria itu harus memilih sendiri. Kau harus memilihkan dan membantu memakaikannya juga.”

Boon Yi membantah kalau hubungan mereka tak terlalu dekat untuk Bang Won memilihkan sepatu. Tapi Bang Won sudah mengambil satu sepatu dan melemparkannya ke Boon Yi. Sok cuek, Bang Won menyuruh Boon Yi memakainya sendiri. Tapi melihat gadis itu kesulitan memakai sepatu, Bang Won pun berjongkok dan memakaikannya ke kaki Boon Yi.


Boon Yi terpaku melihat Bang Won yang sekarang sekarang melepas sepatunya yang lain dan mulai memakaikan sepatu barunya. “Apa sepatu ini kekecilan?” tanya Bang Won sambil mendongak, menatap Boon Yi yang entah kenapa, wajah Bang Won berbeda dari biasanya. Reflek, ia mendorong Bang Won hingga terjatuh.


Bang Won hampir saja marah karena didorong Boon Yi, tapi berhenti karena Boon Yi tampak kebingungan dan berkata sendiri, “Aneh banget..,” ia menatap Bang Won dan beralasan, “Aku mudah geli.” Ia memungut sepatunya dan buru-buru lari dengan sepatu sebelah.


Aww… ada yang baru sadar dengan perasaannya sendiri..


Bang Won akhirnya menemukan Boon Yi yang tadi kabur, sedang duduk-duduk dan mengagumi sepatunya. Ia tersenyum dan beseru, “Senang? Kau menyukainya?”



Haha.. suka melihat keduanya sama-sama malu tapi mengekspresikannya dengan cara yang beda. Bang Won malu tapi tak ragu untuk menunjukkannya, sedangkan Boon Yi berusaha kalem dan tak memperlihatkan rasa malunya.

Boon Yi tak menjawab malah bertanya dimana Sambong sekarang karena ia akan melaporkan apa yang telah Bang Won lakukan. Bang Won berkata kalau ia sendiri yang akan menemui Sambong dan menjelaskan semuanya. Walau ia mensukseskan usulan itu, sebenarnya ia belum pernah bertemu dengan Sambong. Dan entah pujian atau hardikan, ia sudah siap menerima semuanya. Dan lagian Boon Yi tak tahu kemana harus mencari Sambong, kan?

Boon Yi mengerutkan kening. Memang Bang Won tahu? Bang Won hanya tersenyum rahasia dan berlalu pergi.


Bang Won pergi ke goa, bersamaan dengan Ddang Sae yang lebih dulu sudah memasuki goa. Ddang Sae tak menemukan suratnya dan menduga kalau Jung Do Jeon sudah membaca suratnya. Ia segera bersembunyi saat mendengar seseorang masuk dan terkejut melihat bukan Jung Do Jeon, tapi seorang pemuda yang berteriak kegirangan karena pertemuan bersejarah akan segera terjadi. Akhirnya ia memilih terus bersembunyi.


Dan kita melihat kembali awal episode 1, dimana Jung Do Jeon dikagetkan karena ada dua anak muda yagn menanti kehadirannya. Satu kegirangan dan memanggilnya Guru, satu lagi penuh amarah dan memanggilnya Sambong yang menyebutnya telah menipu. Tapi ia tak mengenal keduanya.


Bang Won memperkenalkan dirinya sebagai Yi Bang Won. Melihat Jung Do Jeon yang tak mengenal Ddang Sae, Bang Won menyadari kalau mereka mulai persekutuan ini melalui takdir dan kebetulan yang saling berhubungan. Ia  mengenali Ddang Sae sebagai si gagak beracun yang menyerang pembajak Jepang dan mengikuti Ddang Sae yang masuk ke dalam goa. Kapan itu? “Di malam itu setelah kau membunuh Baek Yoon.”

Jung Do Jeon kaget mendengar pembunuh Baek Yoon ada di hadapannya. Ia mengambil surat Ddang Sae yang dikeluarkan Bang Won dan membacanya. “Dari mana kau tahu tentang Rencana Stabilisasi Perbatasan?”


Ddang Sae berkata hal itu tak penting. Yang penting adalah Jung Do Jeon ternyata salah. Rencana membunuh Baek Yoon tak membawa hasil. Goryeo tak membaik, malah membawa Goryeo semakin busuk.


Bang Won membantahnya karena jika tujuan Ddang Sae adalah untuk menghancurkan Goryeo yang sudah rusak, maka rencana itu sudah dimulai dengan mulus. Dan berkat Ddang Sae yang mencoba membunuh Hong In Bang, maka Rencana Stabilisasi Perbatasan bisa lolos. “Kita bertiga telah menciptakan situasi itu. Sekarang Goryeo akan memasuki babak baru.”



Ddang Sae bertanya babak apa yang dimaksud Bang Won. Apakah babak dimana orang dihukum karena menanam di lahan terlantar? Atau merampok lahan orang lain demi alasan melindungi dari bajak laut Jepang? Bang Won berkata kalau itu adalah pengorbanan yang harus dilakukan. Dalam setiap usaha besar pasti diikuti dengan pengorbanan.


Ddang Sae miris mendengar kata-kata besar Bang Won. Gurunya benar. Semua politisi berpikiran sama. Lihatlah lebih luas. Lihatlah pada hutannya, jangan pada pohonnya. “Kau tak peduli pada bunga liar yang remuk karenanya. Mulus katamu? Kalau berjalan mulus, kenapa banyak orang harus mati?!” Ddang Sae tak kuasa menahan marahnya. “Berapa orang lagi harus mati untuk mewujudkan stabilisasi perbatasan sebelum Goryeo hancur?!!”

Jung Do Jeon dan Bang Won tak bisa menjawabnya. Ddang Sae berkata kalau semua ini adalah kesalahannya. Ia seharusnya tak melakukan semuanya. Jung Do Jeon meminta Ddang Sae mendengar alasannya, tapi Ddang Sae tak mau karena semua yang sudah terjadi tak bisa diulang kembali. Ia tak ingin melihat mereka lagi. Jung Do Jeon yakin kalau mereka akan bertemu lagi. Ddang Sae berbalik dan berkata, “Jika aku bertemu denganmu lagi, aku akan membunuhmu.”


Yeon Hee melihat Ddang Sae meninggalkan goa dan tahu kalau itu adalah ahli pedang yang ia cari. Ia mengikutinya hingga di kota dan terkejut melihat ahli pedang itu adalah Ddang Sae. Ia tak habis pikir, mengapa Ddang Sae membunuh Baek Yoon dan mencoba membunuh Hong In Bang.






Bang Won memperkenalkan diri lagi dan kali ini ia memberitahu kalau ia adalah putra kelima Jendera Yi Seong Gye. Ia mengaku menguping saat Jung Do Jeon memilih ayahnya sebagai raja baru. Tapi ia melihat Jung Do Jeon pertama kali saat di gerbang Jangpyung. Dan karena itulah ia masuk Sungkyunkwan, yang ternyata sudah cemar karena Dodang dan Sadaebu yang sudah ternoda.


Tapi ia berusaha namun gagal. Berusaha lagi namun gagal, berusaha lagi dan tetap gagal, membuatnya bertanya sendiri, apakah akhirnya ia harus berubah? Tapi ia menemukan goa ini dan membaca pemikirannya.

Semangatnya menjadi bangkit dan karena itulah ia mencari Jung Do Jeon hingga ke Hamju. Akhirnya ia menemukan Jung Do Jeon di sini. “Aku ingin bersamamu! Aku ingin melayanimu, Guru!” Ia meminta Jung Do Jeon untuk menerimanya.


Tapi Jung Do Jeon merasa Bang Won kurang ajar menjadi murid dengan cara seperti ini dan melarangnya masuk ke goanya lagi. Bang Won mengaku salah tapi mohon agar tak dilarang untuk masuk ke goa ini karena ia sudah bertindak sesuai rencana Jung Do Jeon. Ia telah menstempel usulan rencana itu dan bukan ayahnya. Ayahnya tak mungkin mau bergerak kecuali terdesak, jadi ia melakukannya dan sudah siap untuk bertanggungjawab.

Jung Do Jeon kaget mendengarnya. Ternyata Bang Won adalah faktor yang juga tak pernah ia duga. Ia marah karena memalsu dokumen rencana itu berarti menghancurkan rencana untuk membujuk Yi Seong Gye. Ia ingin Yi Seong Gye sendiri yang membuat keputusan itu dan bukannya orang lain.


Bukankah selalu ada cara untuk mengatasi keadaan genting? Bang Won membela diri dengan mengutip peribahasa Ada pedang lain yang digunakan dalam keadaan genting.



Jung Do Jeon menceritakan tentang penyerangan pasukan Sorban Merah tahun 1361. Saat itu Gaegyeong sudah hampir takluk, tapi untung ada 4 pahlawan yang menyelamatkan Goryeo.

Tapi setelah itu Jenderal Ahn Woo, Kim Deuk Bae dan Lee Bang Shil membunuh pemimpin mereka Jenderal Jung Se Won setelah 3 hari keberhasilan mereka. “Apa kau tahu kenapa? Karena sebuah surat. Kim Yong yang khawatir kekuasaannya direbut oleh keempat pahlawan itu memalsu surat perintah kerajaan memerintahkan tiga jenderal untuk membunuh Jenderal Jung Se Won.”


Bang Won tak terima ia disamakan dengan pengkhianat Kim Young. Tapi begitulah adanya. Setelah keempat pahlawan itu mati, politik di Goryeo juga ikut mati karena pejabat dan Raja tak bisa percaya satu sama lain. Jika perintah kerajaan saja bisa dipalsu, lalu di dunia ini apa ada yang asli? “Satu surat yang menciptakan negara seperti ini, seperti Goryeo yang kita lihat sekarang ini.”


Bang Won berdalih kalau ayahnya sudah tahu tentang pemalsuan dokumen itu. Tapi di mata Jung Do Jeon hal itu semakin memperburuk karena berarti Jenderal Yi tahu kalau Jung Do Jeon tertipu olehnya. “Kalau kau jadi beliau, apa kau akan mempercayai seseorang sepertiku dan bekerja denganku? Yang kubutuhkan adalah tekad dari dalam hatinya.  Tapi kau telah mencuri keputusan dan tekad ayahmu.”


Jung Do Jeon tertawa saat mengutip peribahasa yang diucapkan Bang Won. “Ada cara untuk mengatasi keadaan genting? Dengar, ada tiga macam orang saat terjadi keadaan genting. Korban dari keadaan genting, pejuang yang melawan keadaan genting, dan orang sepertimu yang menunggangi dalam saat-saat genting!” Jung Do Jeon menatap tajam Bang Won yang merasa semakin kerdil,

“Ada pedang lain yang digunakan pada saat genting? Tidak. Yang ada hanyalah cacing yang mulai menggerogoti hatimu. Setiap orang yang berkecimpung dalam politik akan memiliki cacing di dalam hatinya. Kau akan berkata pada dirimu sendiri kalau di saat-saat genting kau harus bertahan, kau tak punya pilihan. Pasti itu kata-kata manis yang berdengung di telingamu.

Tapi jika kau mendengarkan cacing itu dan mengikuti bisikannya, maka pada akhirnya kau akan menjadi cacing! Orang yang menunggangi keadaan gentinglah yang memperparah kondisi itu. Bahkan preman di pasar juga berkata kalau mereka harus bertahan di saat-saat genting! Maka mereka mencuri, membunuh, merampok. Begitulah hidup mereka! Bagaimana kau bisa berbeda dengan mereka?!”


Bang Won terperangah mendengar Jung Do Jeon menyamakannya dengan preman pasar. Tapi begitulah Jung Do Jeon menilainya, karena ia telah meremehkannya, ayahnya dan pemerintah Goryeo. Bang Won gemetar, menyadari dampak yang telah ia timbulkan. Ia memegang kepalanya, merasa bingung juga kacau. Dan terdengar suara Jung Do Jeon yang lirih tapi sinis, “Di ruangan ini, tak ada tempat untukmu.”


Jung Do Jeon memandangi goa ini dan berkata kalau ia tak punya pilihan lain selain memulai rencana besar dari goa ini.  Bukan untuk menunggangi saat-saat genting, tapi untuk berjuang melawan keadaan genting. Ia menyuruh Bang Won keluar, tak mau mendengar permohonan Bang Won yang berjanji untuk membereskan masalah ini.

 

Jung Do Jeon memandangi goa itu. Goa itu dulunya adalah tempat Jung Do Jeon muda menampung anak-anak saat penyerangan pasukan Sorban Merah tahun 1361. Boneka-boneka kayu itu dulunya ia buat untuk mainan anak-anak itu. Karena tak ada makanan lagi, Jung Do Jeon keluar dari goa untuk mencari makan. Ia melarang anak-anak itu untuk tak keluar dari goa, apapun yang terjadi, hingga ia kembali. Walau Goryeo sudah menang perang, tapi sisa pasukan Sorban Merah masih banyak yang bersembunyi di Gaegyeong.

Di Gaegyeong, Jung Do Jeon terkejut mendengar cerita gurunya, Jenderal Kim Deuk Bae, yang telah membunuh Jenderal Jung Se Woon berdasar perintah kerajaan. Bagi Jenderal Kim, perintah itu juga tak masuk akal, tapi mereka tak berani menentang perintah Raja.


Saat itu juga pasukan tentara muncul untuk menangkap Jenderal Kim Deuk Bae karena telah membunuh Jenderal Jung Se Woon. Jung Do Jeon yang mencoba membela gurunya, malah ikut dijebloskan ke penjara.


Berulang kali Jung Do Jeon memohon untuk dilepaskan karena ada anak-anak yang menunggu kedatangannya, tapi permintaan itu tak digubris. Akhirnya Jung Do Jeon dilepaskan setelah terbukti kalau Kim Young yang memalsu surat perintah kerajaan untuk membunuh Jenderal Jung Se Woon.


Jung Do Jeon pulang dan membawa sekantung makanan. Ia nampak linglung. Seperti merapal mantra, ia terus bergumam, “Tidak.. tidak.. tidak.. Anak sekarang sudah pintar. Anak-anak sekarang ini tak pernah mendengarkan omongan orang tua. Anak nakal! Anak bandel! Aku yakin mereka pasti sudah meninggakan goa sejak lama. Pasti!”


Bagai orang gila, Jung Do Jeon tertawa sendiri dan berkata kalau anak-anak itu selamat dari serangan Sorban Merah, pasti juga selamat sekarang.

Sedih melihat Jung Do Jeon hanya berdiri di depan goa, takut untuk masuk. Padahal ia membawa makanan yang ditunggu-tunggu. Tapi ia ragu.


Kekhawatirannya terbukti. Anak-anak itu masih ada di dalam goa, nampak tidur pulas. Jung Do Jeon gemetar, menatap anak-anak itu karena sebenarnya mereka tidak tidur. Tak ada nafas yang terhembus dari hidung mereka. Jung Do Jeon berteriak dan terus berteriak, menangis melihat anak-anak itu tak ada yang bergerak.


Yeon Hee yang masuk sedari tadi, meminta Jung Do Jeon untuk tak mengingat-ingat itu lagi. Selama ini Jung Do Jeon selalu membawa boneka kayu, agar tak melupakan kenangan itu. Mengira kalau Jung Do Jeon mengkhawatirkan Ddang Sae, ia berjanji akan membereskannya. 


Tapi Jung Do Jeon tak mengkhawatirkan itu lagi. “Oknum yang sebenarnya.. ada di tempat lain.” Jung Do Jeon menyebut Bang Won yang merupakan putra dari orang yang akan ia abdi sebagai oknum yang tak bisa dikendalikan.

Cho Young melaporkan setelah percobaan pembunuhan malam itu, Hong In Bang menemui Yi Bang Won. Lee In Gyeom merasa pernah mendengar nama itu. Cho Young menjelaskan kalau Bang Won adalah putra kelima Jenderal Yi. Dan ia teringat pada pemuda tanggung yang menantangnya beberapa tahun yang lalu.


Pelayan melapor kalau Hobaldo menyerang perbatasan. Lee In Gyeom tak panik, malah tersenyum karena ini berarti Yi Seong Gye tak bisa meninggalkan Hamju. Lee In Gyeom berkata untuk mengalahkan seorang jenderal, maka pukullah kudanya dulu. “Yi Bang Won.”


Bang Won berdiri di pinggir sungai dan melempar-lempar batu. Ia masih terpukul dengan ucapan Jung Do Jeon. Bang Won berniat pergi ke Hamju untuk membereskan masalah ini. Tapi Bang Won melihat kalau ditangannya masih ada satu batu lagi.


Bang Won teringat ucapan Jung Do Jeon yang menyebutnya menunggangi dan bukannya pejuang. Dan ia bertekad untuk berjuang melawan keadaan genting, “Guru Sambong, jagalah ruanganku di dalam gua. Aku pasti akan kembali.”

Komentar :

Haduhh…  drama ini keren banget. Banyak sekali kata-kata yang jika terlewat, maka akan hilang arti.

Btw, saya kembali memanggil Lee Bang Ji dengan Ddang Sae, ya. Ternyata Ddang Sae belum berubah nama hingga episode 16. Dan ternyata ada makna di balik nama itu. Hehehe..

Karena drama ini drama sejarah, banyak kejadian yang diambil dari kejadian sebenarnya. Rencana Stabilisasi Perbatasan itu memang ada. Penyerangan Sorban Merah tahun 1361 dan pemalsuan stempel raja hingga terjadi pembunuhan Jenderal Jung Se Won juga ada.

Yang tak ada adalah kejadian anak-anak meninggal di goa, yang menjadi pemicu Jung Do Jeon ingin menciptakan Joseon. Menurut Bodashiri, anak-anak meninggal di goa adalah cerita fiktif. Adegan yang mengerikan ini adalah semacam bentuk perumpamaan perasaan bersalah yang dirasakan rakyat Korea Selatan saat ini tentang anak-anak yang meninggal di kapal feri Sewol tahun 2014. Anak-anak itu meninggal karena mematuhi perintah orang dewasa yang menyuruh mereka tetap tinggal di kapal yang tenggelam sementara mereka sendiri melarikan diri.

Selanjutnya : Six Flying Dragon Episode 11

4 comments :

  1. setuju mba dee drama ini ternyata keren bgt.. awalny aku agk sangsi sm drama ini krn sebelumnya aku blm pernah mengikuti sageuk dgn eps panjang.. pernah sih cb nnton Hwajung tp malah bingung sendiri.. tapi SFD ini rasa nya jelas dan terarah aku smp penasara sm sejarah asli nya..

    mba dee pny artikel rekomen gk dmn aku bsa bca sejarah asli nya? klo bs yg bhs indo

    ReplyDelete
  2. bisa baca wikipedia aj mbak anggi, saya juga baca disitu lumayan ngerti.. ambisius juga bang won ini

    ReplyDelete
  3. @Indah : aah trims info nya, biasanya sy nnton sageuk gk pernah excited sm sejarah versi asli nya, tp SFD akhirnya menggerakkan keinginan sya^^

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete